Kemitraan luar negeri merupakan salah satu kanal penting bagi perguruan tinggi dalam mendukung internasionalisasi. Hal tersebut diperlukan guna membuka beragam kesempatan kolaborasi riset, pengabdian masyarakat, maupun program mobilitas untuk mahasiswa, tenaga kependidikan, dan dosen.

Demikian disampaikan Wakil Rektor Bidang Networking dan Kewirausahaan Universitas Islam Indonesia (UII), Ir. Wiryono Raharjo, M.Arch., Ph.D., dalam Pameran dan Konferensi Tahunan ke-31 European Association of International Education (EAIE), di Helsinki, Finlandia, Kamis (26/9).

Dalam kesempatan tersebut, UII menjadi salah satu universitas yang membuka stan pameran di antara lebih dari 240 peserta pameran dari kawasan Eropa, Asia, Afrika, dan Amerika yang mewakili perguruan tinggi, pemerintah, dan penyedia layanan pendidikan tinggi.

Wiryono menambahkan, keikutsertaan UII dalam pameran EAIE menjadi ajang untuk peningkatan jejaring kemitraan perguruan tinggi yang menjadi anggota EAIE, khususnya bagi perguruan tinggi Indonesia.

“Kegiatan semacam ini menjadi realisasi makna dari perluasan jejaring (extending network). Melalui pameran ini kita dapat bertemu langsung dengan para pimpinan universitas terkemuka, sehingga kebijakan bisa langsung dibuat dan diartikulasikan,” ungkap Wiryono.

Selama pameran berlangsung, UII telah melakukan diskusi intensif dengan berbagai calon institusi mitra baru, di antaranya termasuk The University of Oulu (Finlandia), Beijing Jiaotong University (Tiongkok), Tomsk State University (Rusia), Université de Lille (Prancis), dan SOAS University of London (Inggris). Diskusi tersebut berupa penjajakan kegiatan mobilitas mahasiswa yang mencakup pertukaran mahasiswa dan program gelar ganda.

Pada kesempatan yang sama, UII juga melakukan retensi kepada institusi mitra yang telah memiliki ikatan kerja sama aktif dengan UII. “Kami ingin memperluas bidang kerja sama yang selama ini telah dibangun kuat dan direalisasikan dengan para mitra,” tambah Wiryono. Mitra tersebut mencakup The University of Western Australia (Australia), Saxion University of Applied Sciences (Belanda), dan Fatih Sultan Mehmet Vakif University (Turki).

“Selain berbagai manfaat di atas, pameran ini pada akhirnya juga dapat menjadi wahana mengukur kapasitas kita sebagai universitas, dengan siapa kita berkolaborasi, dan bagaimana kita memilih mitra,” tambah Wiryono di akhir pameran.