Hadirnya era digital semakin tidak terelakkan. Peran manusia menjadi semakin tersisihkan jika kompetensi yang dimilikinya kelak harus tergantikan oleh teknologi. Diskusi mengenai pengembangan inovasi menjadi penting untuk menjawab tantangan masa depan ini yang kini semakin cepat berubah.

Hal inilah yang direspon oleh Program Studi Arsitektur UII dengan mengadakan Eduarchsia (Architectural Education in Asia) kedua bersama SENVAR (Sustainable Environmental Architecture) dengan mengangkat tema Innovation and Sustainability in AEC 4.0. Diselenggarakan di Gedung Moh Natsir FTSP UII pada Rabu (25/9) dan Kamis (26/9), acara ini diikuti oleh lebih dari 100 pemateri dan peserta.

Ketua Prodi Arsitektur UII, Noor Cholis Idham, S.T., M.Arch., Ph.D menyampaikan komitmen Arsitektur UII untuk terus berkontribusi dalam dunia arsitektur dan teknologi. “Peran sebagai institusi pendidikan menjadi tantangan ke depan untuk bisa menghasilkan lulusan arsitektur yang mumpuni dan dapat menjawab tantangan-tantangan masa depan”, ujarnya.

Konferensi intenasional ini menurutnya menjadi langkah awal untuk mengedukasi para calon arsitek, membentuk sudut pandang untuk melihat material yang berkelanjutan, dan merespon perubahan yang kian terjadi menjadi sebuah inovasi baru.

Berbicara mengenai disrupsi, ia menyebut Indonesia belum 100% siap karena banyak yang masih berpegang teguh pada cara-cara lama dengan beragam alasan. “Tentu cara-cara lama secara perlahan akan tergantikan oleh cara yang lebih modern. Kita harus mampu menjadikannya sebagai kekuatan untuk melakukan perubahan ke arah positif dan tolok ukur berinovasi”, imbuhnya.

Ia menambahkan bahwa perubahan harus bisa disikapi dengan baik, akan tetapi humanitis, rasa dan keindahan masih bisa dipertahankan di era teknologi. Di sisi lain nilai-nilai keislaman dalam mengedukasi para calon arsitek dalam menghadapai perubahan masa juga tidak luput menjadi perhatian.

Sementara itu, Dr.-Ing. Ilya Fadjar Maharika, MA menggarisbawahi, “Ada dua sikap dalam menghadapi perubahan, sikap mempertahankan diri atau kita merangkul inovasi untuk berubah dan hal demikian bisa menjadi positif tetapi bisa juga menjadi negatif karena ketidakinginan untuk berubah. Untuk itu kita jangan asal berubah atau tidak mau melakukan perubahan.”

Arsitektur Yang Berbasis Nilai

Rektor UII Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D mengajak setiap arsitek untuk berpegang pada nilai-nilai. “Saya merangkum adanya sembilan nilai yang tercermin dalam arsitektur yaitu nilai artistik, regionalisme, kolaborasi, harmonisasi, intelektual, temporal, lingkungan, kebersihan, dan transparansi”, katanya.

Fathul menerangkan pendapatnya bahwa salah satu aspek terpenting dalam pendidikan arsitektur berkaitan dengan nilai-nilai yang ditumbuhkan diantara para arsitek. Selain itu, penggambaran nilai tersebut ke dalam visualisasi arsitektur bangunan juga tidak kalah penting.

Pembicara utama yang turut dihadirkan dalam konferensi internasional ini adalah Prof. Dr. Nicole Uhrig (Anhalt University of Applied Science Germany); Prof. Dr. Yahaya Ahmad (University of Malaysia); Prof. Paramitha Atmodiwirjo PhD (Universitas Indonesia); Assoc. Prof. Dr. Eka Setiadi (American University of Ras Khaimah United Emirate Arab), dan Assoc. Prof. Dr. Sugini (Universitas Islam Indonesia).

Hari pertama diisi oleh tiga pembicara meliputi Prof. Dr. Nicole Uhrig yang membahas tentang Socio and Cross Cultural Aspect of Sustainability in Landscape Architecture, Prof. Dr. Yahaya Ahmad menyampaikan materi Sustainability of Historic Towns and Sites in Asean Countries dan Assoc. Prof. Dr. Sugini tentang Innovation Opportunities on Individual Thermal Comfort Standart in AEC 4.0.

Hari berikutnya menghadirkan dua pembicara Prof. Paramitha Atmodiwirjo PhD yang memberikan topik Interiority in Architectural Education dan Assoc. Prof. Dr. Eka Setiadi membahas BIM in Sustainable Architecture. Seminar ini juga diramaikan dengan agenda tambahan berupa workshop BIM (Building Information Modelling) dari BIM-Coe UII, Workshop Pendidikan Profesi Arsitek, dan workshop SENVAR. (NR/ESP)