Universitas Islam Indonesia menerima kunjungan kerja dari Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) pada Kamis (26/06) di Gedung Kuliah Umum Prof. Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII. Delegasi lawatan kerja ini yaitu Bramantyo Suwondo, M.IR dan Amelia Anggraini disambut langsung oleh Rektor UII, Fathul Wahid.
Mengambil tema “Peran Diplomasi Soft Power (P to P) melalui Pertukaran Mahasiswa antar Bangsa”, BKSAP DPR-RI ingin kunjungan kerja ini tidak hanya sebagai lawatan simbolis saja, tetapi bisa mengajak sivitas akademika perguruan tinggi untuk memberikan sumbangsih pikiran dan ide agar hubungan antar bangsa dalam terjalin dengan baik sehingga pendidikan antar bangsa menjadi lebih maju.
Dalam sambutannya, Fathul Wahid menyampaikan bahwa UII sejak berdirinya telah melakukan banyak ikhtiar dalam melakukan diplomasi soft power dengan mengundang duta besar maupun duta besar Indonesia untuk negara sahabat. Lebih dari itu, UII juga sering menjadi delegasi dalam dialog antar iman.
“Kebetulan kami (UII -red) juga punya tempat yang pas untuk itu karena kami adalah kampus Islam yang merawat candi Hindu dari abad ke-10. Kami temukan dan kami rawat pada 2010 ketika membangun gedung perpustakaan sampai saat ini. Itu merupakan bagian dari soft power diplomacy yang selama ini kami amalkan. Rektor pertama (Prof. Abdul Kahar Mudzakkir) juga melakukan banyak termasuk ke Palestina, Singapura, Pakistan untuk membangun kerjasama dan banyak alumni-alumni kami yang terlibat disana. Sehingga hari ini memperkuat apa yang selama ini kami lakukan,” ungkap Fathul Wahid.
Fathul Wahid menambahkan sejak awal UII punya nilai mondialitas , bahkan saat belum seumur jagung ada banyak kerjasama yang dibangun saat itu mulai dari Punjab University, Columbia University, Alexandria University, dan lain sebagainya.
“Alhamdulillah UII menjadi rumah bagi 200 mahasiswa dari 24 negara, tentu saja kami berharap mahasiswa UII setelah lulus menjadi duta-duta tidak hanya untuk UII tapi untuk Indonesia dengan mengabarkan hal yang baik, nilai-nilai yang diyakini bangsa Indonesia di tempat mereka berinteraksi hari ini,” harap Rektor UII ini.
Sementara itu, Bramantyo Suwondo, M.IR mengenalkan BKSAP DPR-RI sebagai salah satu alat kelengkapan dewan selain komisi-komisi yang ada di DPR. DPR dalam menjalankan tugasnya memiliki tiga fungsi pokok meliputi pengawasan, penganggaran, dan representasi ditambah dengan satu fungsi lainnya yaitu fungsi diplomasi.
“Ditambah satu poin dalam UU MD 3 yaitu tugas tambahan dari DPR adalah fungsi diplomasi karena parlemen RI tidak hanya berhubungan dengan masyarakat, tetapi juga berhubungan dengan parlemen yang ada di dunia yang tidak hanya dijalankan oleh komisi 1 tapi oleh BKSAP juga, jadi BKSAP ini adalah Kemlunya DPR,” terang Bram.

BKSAP DPR RI, dijelaskan oleh Bram begitu panggilan akrabnya, membawakan isu yang tentunya beragam tidak hanya isu parlemen tetapi juga mengangkat isu aktual dan faktual yang dekat dengan kehidupan masyarakat seperti kesehatan, pendidikan, hingga pariwisata.
“Salah satu poin yang kita (BKSAP DPR-RI) lakukan adalah melakukan dialog dan interaksi kepada masyarakat. BKSAP ini dalam melakukan tugas-tugas diplomasinya tidak lepas dari masukan-masukan masyarakat dan civitas akademika agar apa yang menjadi bahan diplomasi kita ini up to date dan menjawab apa yang menjadi kebutuhan bangsa,”
Di samping itu, Bram menjelaskan kondisi saat ini dimana dunia sedang tidak baik-baik saja dimulai dari Perang di Uni Eropa yaitu Ukraina – Rusia dan saat ini perang di Timur Tengah tidak dapat dihindari oleh warga dunia yang menggambarkan hubungan antar negara ada kalanya baik begitupun sebaliknya.
“Tapi disisi lain, hubungan masyarakat ke masyarakat (people to people) diharapkan bisa langgeng terus disaat kondisi dan politik tidak memungkinkan. Kita harapkan hubungan people to people ini menjadi jembatan untuk memperbaiki hubungan di kedua belah pihak negara ataupun multilateral. Salah satu poin untuk memperbaiki dan mempererat hubungan masyarakat yaitu melalui fungsi pendidikan,”
BKSAP DPR-RI menginginkan kuota pertukaran mahasiswa bisa lebih banyak yang artinya mahasiswa negara lain yang datang belajar ke Indonesia untu berbagai hal dari budaya, kuliner, maupun juga hubungan antar iman.
“Saya yakin Indonesia bisa menjadi model bahwa Indonesia yang sangat plural, sangat majemuk bisa memiliki hubungan masyarakat yang baik walaupun berbeda secara latar belakang seperti suku, agama, maupun ras. Sisi lain kita juga menginginkan mahasiswa kita bisa masuk ke beasiswa yang lain untuk tidak hanya mendapatkan ilmu di negara maju, tetapi juga membangun silaturahmi hubungan yang kuat dengan negara berkembang. Jadi itu yang ingin kita lakukan, tetapi kami juga butuh masukan dari masyarakat perihal poin-poin yang perlu diperkuat perihal beasiswa dan exchange student ini,” harap Bram
Lawatan kerja ini dilanjutkan dengan diskusi jajak pendapat dengan civitas akademika UII membahas tentang beberapa masukan terkait dengan kebijakan negara yang perlu ditingkatkan dan dikaji ulang khususnya bidang pendidikan dan pertukaran mahasiswa agar bisa lebih ramah terhadap perguruan tinggi swasta. (AHR/RS)
Menghidupkan Kembali Api Perjuangan
Suasana Selasar Auditorium Prof. Kahar Muzakkir, Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia (UII), mendadak berubah menjadi ruang dialektika yang hangat dan penuh semangat juang, Senin (30/6) sore. Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM) UII bersama Pusat Studi Demokrasi dan Agama (PSAD) UII menggelar diskusi publik bertajuk “Menghidupkan Kembali Api Perjuangan di Kampus Perjuangan” yang secara khusus membahas isu krusial: Brutalitas aparat terhadap mereka yang tidak sejalan dengan rezim.
Diskusi ini menghadirkan tiga tokoh penting, Shinta Maharani, Koresponden TEMPO wilayah Yogyakarta, Despan Heryansyah, Peneliti PSAD UII; dan Rektor UII, Fathul Wahid. Ketiganya mengajak mahasiswa untuk merenungkan situasi kebebasan sipil dan akademik yang kian terdesak dalam rezim yang tak ramah terhadap suara-suara kritis.
Sejak pukul 16.00 WIB, puluhan mahasiswa berkumpul di area selasar. Antusiasme tinggi terasa dari awal hingga akhir acara. Diskusi berlangsung hidup dengan interaksi aktif antara pembicara dan peserta. Spanduk-spanduk bertuliskan “UII Melawan Brutalitas Aparat”, “UII Melawan”, dan “Kematian Perjuangan” menghiasi lokasi diskusi, menjadi simbol perlawanan sekaligus ekspresi keresahan mahasiswa atas represi yang terus terjadi di berbagai wilayah tanah air.
Shinta Maharani mengawali diskusi dengan refleksi tajam tentang pentingnya menjaga ruang bebas di lingkungan kampus. Ia mengingatkan bahwa kampus adalah tempat merawat kebebasan berpikir. “Kalau kampus sudah dibelenggu, secara kebebasan akademiknya sudah direnggut, ya bagaimana kemerdekaan berpendapat, kemerdekaan bersuara itu bisa dipertahankan? Kan sulit,” tegas Shinta.
Ia juga menyinggung kasus intimidasi yang dialami oleh tiga mahasiswa UII baru-baru ini. “Teman-teman juga penting untuk mendukung terhadap tiga mahasiswa itu,” ujarnya, mengajak seluruh elemen kampus untuk bersolidaritas. Menurutnya, suara perlawanan tidak boleh padam. “Sikap tegas itu penting, salah satunya dengan diskusi seperti ini. Suara-suara seperti ini harus terus digaungkan.”
Despan Heryansyah turut memperkuat analisis dengan menyoroti lemahnya kepemimpinan sipil sebagai penyebab menguatnya dominasi militer dalam ruang publik. “Biasanya, di banyak negara, bahkan hampir di semua negara, menguatnya militer itu salah satu sebabnya adalah karena lemahnya kepemimpinan sipil. Dan itu sedang terjadi di kalangan kita sekarang,” ujarnya. Ia juga mengapresiasi keberanian UII yang tetap menyuarakan sikap kritis, berbeda dari banyak kampus lain yang justru memilih diam. “Kampus misalnya, hampir hanya UII yang berani lantang menyuarakan penolakan terhadap berbagai kebijakan,” tambah Despan.
Rektor UII, Fathul Wahid, tak tinggal diam. Dalam paparannya, ia menekankan pentingnya membangun kultur perjuangan di kalangan sivitas akademika. “Yang ingin saya ajak malah justru kulturnya, supaya kita sebagai warga negara, warga kampus, tahu haknya dan memperjuangkan haknya,” kata Fathul.
Ia menegaskan bahwa kebebasan akademik, mimbar kampus, dan ekspresi adalah hak yang harus diperjuangkan bersama. “Jadi, kebebasan akademik, kebebasan mimbar kampus, kemudian kebebasan berekspresi itu hak yang harus diperjuangkan.” Jelas Fathul Wahid
Diskusi ini bukan sekadar forum intelektual, tetapi juga perwujudan semangat keberpihakan kampus terhadap nilai-nilai demokrasi dan kemanusiaan. Keberanian mahasiswa dan sivitas akademika UII dalam menyuarakan kritik menjadi bukti bahwa api perjuangan belum padam. Acara ini menegaskan kembali identitas UII sebagai “Kampus Perjuangan” yang tidak gentar menyuarakan kebenaran di tengah gelombang tekanan rezim.
Dengan berlangsungnya diskusi ini, LEM UII dan PSAD UII telah membuka ruang yang penting, ruang untuk berbicara, berpikir, dan berani bersikap. Di tengah situasi demokrasi yang kian sempit, suara-suara dari kampus seperti inilah yang menjadi titik terang harapan akan masa depan yang lebih adil dan bebas dari intimidasi. (MFPS/AHR/RS)
UII dan MPKK Komuniti India Malaysia Kolaborasi dalam Pengolahan Sampah Plastik di Arau, Perlis
Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menunjukkan komitmennya dalam penguatan pengabdian masyarakat bertaraf internasional. Kali ini, DPPM UII menggandeng Majlis Pengurusan Komuniti Kampung (MPKK) Komuniti India di Arau, Perlis, Malaysia dalam kegiatan pengabdian masyarakat bertema Peningkatan Kapasitas dan Kolaborasi Pengolahan Sampah Plastik Berbasis Komunitas, yang dilaksanakan di Arau, Perlis, pada 18-20 Juni 2025. Read more
UII Laksanakan Pengabdian Masyarakat Internasional di Malaysia, Kolaborasi Bersama UMPSA dan UKM
Universitas Islam Indonesia (UII) melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) bersama Fakultas Teknologi Industri (FTI) sukses melaksanakan kegiatan Pengabdian Masyarakat Internasional di Malaysia. Kegiatan ini merupakan kolaborasi strategis antara UII dengan Universiti Malaysia Pahang Al-Sultan Abdullah (UMPSA) dan Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), yang berlangsung dari tanggal 16 hingga 20 Juni 2025. Read more
Pentingnya Hijrah dan Dakwah Berbasis Lingkungan
Pondok Pesantren Universitas Islam Indonesia menyambut pergantian tahun baru Islam dengan mengadakan kajian khusus spesial Muharram 1447 H di Aula Pondok Pesantren UII, pada Ahad (29/06). Acara dengan tema “Menguatkan Spirit Hijrah, Menebar Damai untuk Bumi dan Sesama” tersebut dihadiri oleh Pengasuh, santri Putra dan Putri, serta Ikrom Mustofa, S.Si., M. Si., selaku narasumber yang merupakan Dosen Jurusan Teknik Lingkungan FTSP UII.
Dr. Suyanto, S.Ag., M.S.I., M.Pd, selaku pengasuh Pondok Pesantren UII Putra dalam sambutannya menekankan bahwa isu lingkungan tidak boleh hanya dipandang sebelah mata. Senada, Ikrom Mustofa, S.Si., M. Si., berangkat dari latar belakang akademiknya mengaku senang dapat diundang untuk berdiskusi dan menjadi pembicara dalam acara kajian ini.
“Islam yang rahmatan lil-alamin itu bukan hanya tentang manusia, bukan menetapkan manusia sebagai center of attention tetapi dengan sirkel yang sama seperti makhluk-makhluk lain. Jadi ini penting ya, memubat kita datang ke bumi bukan untuk menjadi raja dari segala-galanya, tetapi kita datang ke bumi sebagai pemimpin, dan kita menjadi pemimpin yang melayani untuk kemaslahatan semua entitas-entitas lain.” tegasnya.
“Isu lingkungan di masyarakat sekarang itu masih jauh dari perhatian masyarakat dibanding isu-isu lain yang hangat, seperti makan makanan bergizi, ketahanan, politik, ekonomi dan sebagainya.” Isu ini, menurut Ikrom perlu ditambahkan dalam hijrah/movement yang berasal dari dalam diri masyarakat. “Hijrah harus bertransformasi dari sejarah ke perubahan sosial, dari egoisme ke empati, dari individualisme ke kolaborasi, dan dari eksploitasi ke pelestarian.” ujarnya.
Tokoh agama, merujuk beberapa riset, berperan penting untuk mengampanyekan ide dan mensukseskan konsep pelestarian lingkungan dibanding dengan aktivis-aktivis lingkungan itu sendiri. Ikrom bercerita ia melakukan riset di Ternate dan Timor Tengah Utara dan bertemu dengan 2 tokoh agama, Suster katolik khusus di salah satu rumah sakit kusta di Timor Tengah Utara, dan seorang ustadz penyandang disabilitas di Ternate. Keduanya merupakan orang kepercayaan pemimpin daerahnya.
“Isu-isu lingkungan yang dibawakan baik di Ternate maupun di Timor Tengah Utara, itu diterima baik, karena apa? Karena ketokohan tadi. Informasi apapun yang disampaikan oleh suster, atau disabilitas tadi itu diamini dan dipercaya oleh masyarakat disana.” ujarnya. Dengan begitu, ia menambahkan bahwa Islam di UII, dan Mahasantri Pondok Pesantren UII punya peran lebih di masyarakat untuk membawa nilai-nilai dakwah islam yang lebih dekat dengan ekologi/lingkungan.
“Egosentrisme harus diubah menjadi ekosentrisme. Hijrah ini tidak hanya fokus pada diri kita, tetapi juga pada lingkungan kita. Kalau kita kaitkan dengan krisis iklim, ini juga krisis etika. Karena apa, iklim hari ini yang kita percayai ada dan terasa sekali disekitar kita, panas yang semakin nyelekit, hujan yang tidak menentu, bencana dimana-mana semakin parah dan semakin masif terjadi, ternyata sebagian besar ini dilakukan atau disebabkan oleh kegiatan bersama,” ucapnya
Menurutnya, dibanding hanya berfokus pada narasi-narasi amaliyah di luar aksi nyata, seorang pendakwah harus bisa mengangkat isu yang ada di dalam masyarakat dan mengaitkannya dengan isu-isu lingkungan. Ikrom menegaskan bahwa keuntungan yang diinginkan seharusnya tidak hanya pada keuntungan ekonomi, tapi juga keuntungan sosial dan lingkungan, sehingga menjadi berkelanjutan.
Dalam penerapan terhadap dakwah seperti ini, ada beberapa inovasi unik, misalnya penerapan dakwah di masjid-masjid Indonesia. “Saya sampaikan ada beberapa masjid di Indonesia yang khutbahnya sudah membawa isu-isu lingkungan, itu sudah ada. Green Mosque, tidak hanya aspek fisiknya saja, seperti air wudhu dari hujan, lampunya LED yang lebih tahan lama, ventilasinya menggunakan ventilasi alami, menggunakan sedikit sekali kipas dan penggunaan panel surya untuk kelistrikan. Tapi disisi lain juga ada nilai-nilai seperti edukasi mengenai wudhu yang tidak membuang-buang air, edukasi anak-anak mengenai islam yang lebih berfokus pada lingkungan, dan khutbah tadi,” ungkap Iqrom. (MNDH/AHR/RS)
UII Wisuda 712 Lulusan, 300 Raih Cumlaude
Universitas Islam Indonesia (UII) mewisuda 712 lulusan dalam upacara wisuda yang diselenggarakan pada Sabtu dan Minggu, 28–29 Juni 2025, di Auditorium Prof. K.H. Abdul Kahar Mudzakkir UII. Dari total lulusan tersebut, sebanyak 300 wisudawan berhasil meraih predikat cumlaude. Peserta wisuda pada periode ini terdiri atas 3 ahli madya, 10 sarjana terapan, 581 sarjana, 108 magister, dan 10 doktor. Hingga kelulusan ini, UII telah melahirkan 132.318 alumni. Read more
Hindari Riba dengan SIPTARI
Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) Universitas Islam Indonesia (UII) bekerjasama dengan Majelis Taklim Al-Muttaqin Husnul Khatimah menyelenggarakan kegiatan “Pengajian Akbar Dalam Rangka Memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 H” pada Sabtu (28/06) yang disponsori oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) UII di Serambi Masjid Jami’ Al-Ikhlas, Dusun Pokak, Kabipaten Klaten, Jawa Tengah. Kegiatan ini merupakan puncak dari kegiatan pengabdian masyarakat yang diketuai oleh Dr. H. M. Joko Susilo, M.Pd selaku Dosen Program Studi Ilmu Agama Islam Program Magister dengan anggota Dr. Hj. Siti Achiria, SE. MM selaku Dosen Program Studi Ekonomi Islam Program Sarjana. Kegiatan ini juga dibersamai dengan kegiatan launching program SIPTARI (Simpan Pinjam Tanpa Riba) di Dusun Pokak, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
Acara diawali dengan penampilan tim hadroh serta dzikir dan tahlil yang dipimpin oleh perwakilan pihak masyarakat Dusun Pokak. Dilanjutkan dengan sambutan sekaligus penyampaian laporan pengabdian dari Ketua Tim Pengabdian Masyarakat FIAI UII di Dusun Pokak, Dr. H. M. Joko Susilo, M.Pd. Ia mengapresiasi program-program pengabdian yang berhasil terlaksana dengan baik dan penerimaan dari masyarakat yang positif sehingga gagasan program SIPTARI bisa terwujud.
Hj. Suciati, S.Pd selaku Kepala Desa yang hadir untuk membuka acara sekaligus melantik kepengurusan pengelola SIPTARI juga turut mengapresiasi digagasnya program ini yang diharapkan mampu mengedukasi masyarakat untuk rajin menabung dan terhindar dari riba yang diharamkan. Suciati juga berterimakasih kepada pihak DPPM UII yang telah turut mengabdi untuk pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat. Pada acara tersebut juga disampaikan secara simbolis dana stimulan SIPTARI dari tim pengabdian DPPM UII sebesar enam juta rupiah.
Selanjutnya dalam acara inti pengajian, Dr. H. Nur Kholis, S.Ag, S.E.I., M.Sh.Ec sebagai narasumber utama menyampaikan alasan-alasan utama mengapa perlu berhijrah ekonomi secara Islami. Ia menyampaikan ada tiga alasan utama untuk berhijrah ekonomi secara Islami, pertama perintah untuk berislam secara kaffah (menyeluruh) sesuai yang diperintahkan Allah Swt dalam Al-Quran Surah Al-Baqarah ayat 208. Menurutnya, berislam secara kaffah bermakna agama islam tidak hanya terkait ibadah tapi juga muamalah yang didalamnya termasuk aktivitas ekonomi umat Islam baik dari sektor riil maupun keuangan. Semuanya harus dilaksanakan dalam koridor tuntunan syariat Islam.
Kedua, bahwa tujuan manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah sebagamaimana tercantum dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 56. Ibadah yang dimaksud memiliki makna bahwa ibadah tidak hanya tentang shalat, zakat, dan membaca Al-Quran, tapi maknanya lebih luas yakni ibadah berarti segala aktivitas setiap muslim yang diniati karena Allah Swt. “Kalau ibadah hanya dianggap dzikir, shalat, maka itu hanya beberapa jam. Tadi kita diciptakan untuk beribadah, maka setiap aktivitas kita harus diniati karena Allah Swt yang hanya mengajarkan kebaikan, jadi jelas kita melakukan amalan minimal yang mubah, tidak mungkin melakukan yangmakruh apalagi yang haram”, jelasnya.
Aktivitas ekonomi adalah salah satu aktivitas manusia yang juga termasuk ibadah kepada Allah Swt. jika dilakukan dengan niat dan dilaksanakan sesuai syariat Islam. Aktivitas yang tidak sesuai Islam termasuk ribatentu tidak bisa bernilai ibadah. Nur Cholis juga menegaskan bahwa menerapkan prinsip ekonomi Islam kini tidak lagi dianggap sebagai teroris, radikal, atau terlalu idealis. “Ekonomi syariah sudah betul-betul legal dan didukung negara. Di Indonesia ada Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) yang ketuanya tidak main-main, yaitu Presiden Republik Indonesia. Maka umat Islam Indonesia penting untuk menerapkannya dan itu nasionalis,” tegasnya.
Nur Cholis juga mengapresiasi gagasan program SIPTARI dari tim pengabdian sebagai media hijrah ekonomi secara Islami. “Apapun model perekonomian yang berada di masyarakat selama tidak haram maka itu dibolehkan. Tapi penting bagi kita harus waspada, seperti pinjaman online (pinjol) dan lain sebagainya harus terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan sesuai syariah. InsyaAllah tidak terjebak dengan rentenir atau tagihan yang sulit terbayar. Dengan alasan tadi di-launching-nya SIPTARI perlu didukung untuk media hijrah ekonomi sesuai syariat dan mandiri agar terhindar dari pinjol ilegal dan riba yang diharamkan,” pungkasnya. (AAO/AHR/RS)
Perspektif Iran dalam Konflik Timur Tengah
Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, H.E. Dr. Mohammad Boroujerdi, menegaskan komitmen negaranya untuk menjaga perdamaian di kawasan Timur Tengah serta membantah tuduhan terkait pengembangan senjata nuklir. Pernyataan tersebut disampaikan dalam Ambassadorial Lecture bertema “A Vision for a Just, Peaceful, and Prosperous Middle East: An Iranian Perspective” yang diselenggarakan oleh Program Studi Hubungan Internasional Universitas Islam Indonesia (UII) di Gedung Kuliah Umum Prof. Dr. Sardjito pada Kamis (26/6).
Dr. Boroujerdi menyampaikan bahwa berdasarkan catatan sejarah selama dua abad terakhir Iran tidak pernah melakukan agresi ataupun invasi ke negara lain. Ia menekankan bahwa Iran hanya melakukan pembelaan diri terhadap negaranya, termasuk saat menghadapi serangan dari rezim Saddam Hussein yang didukung Amerika Serikat (AS) pada tahun 1980-an.
“Berbeda dengan rezim zionis Israel, sejak pendiriannya yang ilegal pada 75 tahun lalu, rezim ini selalu menjadi pencetus utama perang terutama di Kawasan Timur Tengah. Iran selalu mengedepankan perdamaian dan stabilitas. Kami sama seperti bangsa Indonesia yang cinta perdamaian.” ujar Dr. Boroujerdi. Ia juga menyoroti banyaknya korban sipil akibat agresi Israel di Palestina dalam dua tahun terakhir, serta menegaskan bahwa dukungan Iran kepada Palestina didasarkan pada amanat undang-undang Iran untuk membela bangsa yang tertindas.
Terkait dengan tuduhan bahwa Iran memiliki senjata nuklir, Dr. Boroujerdi menegaskan bahwa tuduhan tersebut tidaklah berdasar. Dari hasil verifikasi International Atomic Energy Agency (IAEA), menyatakan tidak ada pengalihan aktivitas nuklir di Iran. “Hanya IAEA yang berhak melakukan monitoring dan verifikasi aktivitas nuklir suatu negara, bukan AS maupun Israel.” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa Iran merupakan anggota Non-Proliferation Treaty (NPT) dan secara sukarela melaksanakan protokol tambahan. Seluruh aktivitas nuklir Iran ditujukan untuk perdamaian dan berada di bawah pengawasan ketat IAEA.
Lebih lanjut, ia mengkritik pendekatan negara-negara barat yang melarang Iran melakukan pengayaan uranium secara mandiri, sementara rezim zionis Israel yang tidak menandatangani NPT justru memiliki ratusan senjata nuklir tanpa pengawasan internasional. “Ini adalah standar ganda yang berbahaya, terutama bagi negara-negara berkembang yang ingin membangun keamanan energi nasional,” tambahnya.
Dalam kesempatan itu, Dubes Iran mengajak para mahasiswa untuk tidak mudah percaya pada narasi sepihak, baik dari Iran sendiri maupun dari Israel dan media mainstream lainnya. Ia mendorong mahasiswa melakukan penelitian mandiri dan menyuarakan kebenaran yang ditemukan dari kesimpulan hasil penelitian tersebut. Ia juga menyatakan siap untuk memberikan asistensi kepada mahasiswa yang ingin melakukan penelitian ilmiah atau tugas akhir mengenai isu dan perkembangan Iran.
“Kita harus speak up dan menyebarkan kebenaran berdasarkan penelitian yang telah dilakukan. Dunia Islam saat ini membutuhkan solidaritas dan persatuan.” pesan Dubes Iran kepada para mahasiswa yang hadir. (MANF/AHR/RS)
Program Studi Kimia UII bersama Wardah Gelar Acara Wardah Mini Skinverse
Program Studi Kimia (Teknologi Parfum dan Kosmetik) Program Sarjana Universitas Islam Indonesia (UII) bekerja sama dengan jenama kosmetik lokal, Wardah menggelar acara Wardah Mini Skinverse pada Rabu (25/6) di Gedung Laboratorium Riset Kimia. Rangkaian kegiatan mencakup pemaparan materi mengenai perawatan kulit (skincare) hingga praktik langsung penggunaan tata rias (makeup) dari tahap awal hingga proses setting akhir.
Hafizh Royhan, S.Si., selaku staf Pusat Studi Minyak Atsiri (PSMA) UII menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memberikan edukasi mendalam kepada mahasiswa mengenai pentingnya merawat kulit, terutama dalam konteks keilmuan kimia kosmetik.
“Tujuan kegiatan ini adalah untuk mengajarkan mahasiswa cara merawat kulit. Mungkin beberapa sudah tahu, tapi di sini penjelasannya lebih mendalam. Sebelumnya kami menghadirkan dokter kulit, dan kali ini kami mendatangkan alat berbasis kecerdasan buatan bernama Moji, yang digunakan untuk menganalisis kondisi kulit peserta. Harapannya, mahasiswa lulusan S1 Kimia ini bisa lebih percaya diri, baik dari segi penampilan maupun keilmuannya,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa acara ini mengusung konsep “Experience and Experiment”. Experience berarti kami memberikan pengalaman kepada mahasiswa, seperti kegiatan workshop parfum, dan lainnya yang mendukung dunia kerja. Sementara experiment merujuk pada praktik laboratorium yang memang menjadi bagian dari kurikulum Prodi S1 Kimia Teknologi Parfum dan Kosmetik,” lanjutnya
Sebagai pemandu praktik tata rias (makeup), Alvita Shelly Agesta menyampaikan tahapan penggunaan produk perawatan kulit (skincare) dan tata rias (makeup) secara rinci. Ia juga menjelaskan jenis produk wardah yang cocok digunakan untuk berbagai jenis kulit, seperti kering, normal, dan berminyak.
“Ketika menggunakan lipstik, jangan dikatupkan. Kebiasaan itu sebenarnya tidak dianjurkan karena dapat membuat garis bibir tampak lebih jelas,” tuturnya.
Salah satu peserta, Fadhila Anggraini, S.Si., mengungkapkan kesan positifnya setelah mengikuti kegiatan ini.“Kebetulan saya memang pengguna produk Wardah, jadi senang sekali bisa ikut acara ini. Kegiatannya seru, banyak informasi mengenai perawatan kulit. Selain dapat ilmu baru, juga ada voucher dan pengalaman berharga. Saya juga baru tahu bahwa cara membersihkan wajah itu dari bawah ke atas, sedangkan saat memakai moisturizer dan serum justru dari atas ke bawah,” ucapnya. (GRR/AHR/RS)
UII Terima Lawatan Kerja BKSAP DPR-RI
Universitas Islam Indonesia menerima kunjungan kerja dari Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) pada Kamis (26/06) di Gedung Kuliah Umum Prof. Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII. Delegasi lawatan kerja ini yaitu Bramantyo Suwondo, M.IR dan Amelia Anggraini disambut langsung oleh Rektor UII, Fathul Wahid.
Mengambil tema “Peran Diplomasi Soft Power (P to P) melalui Pertukaran Mahasiswa antar Bangsa”, BKSAP DPR-RI ingin kunjungan kerja ini tidak hanya sebagai lawatan simbolis saja, tetapi bisa mengajak sivitas akademika perguruan tinggi untuk memberikan sumbangsih pikiran dan ide agar hubungan antar bangsa dalam terjalin dengan baik sehingga pendidikan antar bangsa menjadi lebih maju.
Dalam sambutannya, Fathul Wahid menyampaikan bahwa UII sejak berdirinya telah melakukan banyak ikhtiar dalam melakukan diplomasi soft power dengan mengundang duta besar maupun duta besar Indonesia untuk negara sahabat. Lebih dari itu, UII juga sering menjadi delegasi dalam dialog antar iman.
“Kebetulan kami (UII -red) juga punya tempat yang pas untuk itu karena kami adalah kampus Islam yang merawat candi Hindu dari abad ke-10. Kami temukan dan kami rawat pada 2010 ketika membangun gedung perpustakaan sampai saat ini. Itu merupakan bagian dari soft power diplomacy yang selama ini kami amalkan. Rektor pertama (Prof. Abdul Kahar Mudzakkir) juga melakukan banyak termasuk ke Palestina, Singapura, Pakistan untuk membangun kerjasama dan banyak alumni-alumni kami yang terlibat disana. Sehingga hari ini memperkuat apa yang selama ini kami lakukan,” ungkap Fathul Wahid.
Fathul Wahid menambahkan sejak awal UII punya nilai mondialitas , bahkan saat belum seumur jagung ada banyak kerjasama yang dibangun saat itu mulai dari Punjab University, Columbia University, Alexandria University, dan lain sebagainya.
“Alhamdulillah UII menjadi rumah bagi 200 mahasiswa dari 24 negara, tentu saja kami berharap mahasiswa UII setelah lulus menjadi duta-duta tidak hanya untuk UII tapi untuk Indonesia dengan mengabarkan hal yang baik, nilai-nilai yang diyakini bangsa Indonesia di tempat mereka berinteraksi hari ini,” harap Rektor UII ini.
Sementara itu, Bramantyo Suwondo, M.IR mengenalkan BKSAP DPR-RI sebagai salah satu alat kelengkapan dewan selain komisi-komisi yang ada di DPR. DPR dalam menjalankan tugasnya memiliki tiga fungsi pokok meliputi pengawasan, penganggaran, dan representasi ditambah dengan satu fungsi lainnya yaitu fungsi diplomasi.
“Ditambah satu poin dalam UU MD 3 yaitu tugas tambahan dari DPR adalah fungsi diplomasi karena parlemen RI tidak hanya berhubungan dengan masyarakat, tetapi juga berhubungan dengan parlemen yang ada di dunia yang tidak hanya dijalankan oleh komisi 1 tapi oleh BKSAP juga, jadi BKSAP ini adalah Kemlunya DPR,” terang Bram.
BKSAP DPR RI, dijelaskan oleh Bram begitu panggilan akrabnya, membawakan isu yang tentunya beragam tidak hanya isu parlemen tetapi juga mengangkat isu aktual dan faktual yang dekat dengan kehidupan masyarakat seperti kesehatan, pendidikan, hingga pariwisata.
“Salah satu poin yang kita (BKSAP DPR-RI) lakukan adalah melakukan dialog dan interaksi kepada masyarakat. BKSAP ini dalam melakukan tugas-tugas diplomasinya tidak lepas dari masukan-masukan masyarakat dan civitas akademika agar apa yang menjadi bahan diplomasi kita ini up to date dan menjawab apa yang menjadi kebutuhan bangsa,”
Di samping itu, Bram menjelaskan kondisi saat ini dimana dunia sedang tidak baik-baik saja dimulai dari Perang di Uni Eropa yaitu Ukraina – Rusia dan saat ini perang di Timur Tengah tidak dapat dihindari oleh warga dunia yang menggambarkan hubungan antar negara ada kalanya baik begitupun sebaliknya.
“Tapi disisi lain, hubungan masyarakat ke masyarakat (people to people) diharapkan bisa langgeng terus disaat kondisi dan politik tidak memungkinkan. Kita harapkan hubungan people to people ini menjadi jembatan untuk memperbaiki hubungan di kedua belah pihak negara ataupun multilateral. Salah satu poin untuk memperbaiki dan mempererat hubungan masyarakat yaitu melalui fungsi pendidikan,”
BKSAP DPR-RI menginginkan kuota pertukaran mahasiswa bisa lebih banyak yang artinya mahasiswa negara lain yang datang belajar ke Indonesia untu berbagai hal dari budaya, kuliner, maupun juga hubungan antar iman.
“Saya yakin Indonesia bisa menjadi model bahwa Indonesia yang sangat plural, sangat majemuk bisa memiliki hubungan masyarakat yang baik walaupun berbeda secara latar belakang seperti suku, agama, maupun ras. Sisi lain kita juga menginginkan mahasiswa kita bisa masuk ke beasiswa yang lain untuk tidak hanya mendapatkan ilmu di negara maju, tetapi juga membangun silaturahmi hubungan yang kuat dengan negara berkembang. Jadi itu yang ingin kita lakukan, tetapi kami juga butuh masukan dari masyarakat perihal poin-poin yang perlu diperkuat perihal beasiswa dan exchange student ini,” harap Bram
Lawatan kerja ini dilanjutkan dengan diskusi jajak pendapat dengan civitas akademika UII membahas tentang beberapa masukan terkait dengan kebijakan negara yang perlu ditingkatkan dan dikaji ulang khususnya bidang pendidikan dan pertukaran mahasiswa agar bisa lebih ramah terhadap perguruan tinggi swasta. (AHR/RS)
UII dan Link Women Dorong Perempuan Lebih Percaya Diri Hadapi Dunia Kerja
Dalam upaya menumbuhkan kepercayaan diri perempuan di tempat kerja, Link Women Campus Roadshow menyambangi Universitas Islam Indonesia (UII) dalam sebuah talkshow bertajuk “Bersuara dan Berdaya: Menumbuhkan Kepercayaan Diri Perempuan di Tempat Kerja”. Acara yang diselenggarakan secara daring melalui Zoom dan YouTube ini menghadirkan dua narasumber utama, yakni Dr. Dra. Trias Setiawati, M.Si., Kepala Pusat Studi Gender UII, serta Ida Ayu Prasasti, Program Manager ICT Watch pada Senin (23/06).
Roadshow ini merupakan kolaborasi antara Markoding, LinkedIn, UN Women, dan UII, sebagai bagian dari kampanye mendukung kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan di ruang kerja digital maupun konvensional.
Acara ini dimulai dengan sambutan dari Irianto Almuna selaku Programme Manager Women’s Economic Empowerment, UN Women Indonesia. Ia menyampaikan bahwa UII mendapatkan kehormatan untuk menjadi kampus pertama dalam Link Women. Sebelumnya program ini telah berhasil dilaksanakan di India pada 2022, yang telah melatih lebih dari 2.500 perempuan muda, dan sekarang program ini diperluas ke Indonesia.
Dalam sambutannya, Direktur Kemitraan dan Kantor Urusan Internasional UII, Dr.rer.nat Dian Sari Utami, S.Psi., MA., menyatakan bahwa edukasi perempuan sangat penting tidak hanya dalam konteks nasional, tetapi juga global. “Kami sangat mengapresiasi semangat belajar para mahasiswa internasional perempuan di UII. Ini mencerminkan pentingnya keterlibatan perempuan dalam membangun bangsa,” ujar Dian. Ia menekankan pentingnya edukasi yang tidak hanya menekankan pada keterampilan, tetapi juga pada pengetahuan gender, hak perempuan, dan keberanian mengambil keputusan.
Narasumber pertama, Dr. Trias Setiawati, memaparkan berbagai tantangan yang dihadapi perempuan di tempat kerja, mulai dari kesenjangan posisi manajerial, mikro-agresi, hingga pelecehan seksual. Berdasarkan data yang disampaikan, hanya 24% perempuan yang menduduki posisi senior manajerial, dan 79% perempuan merasa tidak percaya diri di tempat kerja.
“Stigma budaya patriarkis masih dominan. Banyak perempuan merasa dikerdilkan hanya karena menjadi ibu atau karena dianggap emosional,” jelas Trias. Ia menekankan pentingnya pelatihan inklusivitas, sistem pelaporan aman, mentoring, serta kebijakan kerja fleksibel sebagai langkah strategis memperkuat posisi perempuan.
Sesi kedua menyoroti perspektif lapangan dari Ida Ayu Prasasti, yang membagikan pengalaman ICT Watch dalam mengedukasi dan memberdayakan perempuan, khususnya di daerah rural. Ia menyoroti kesenjangan akses perempuan terhadap teknologi dan literasi digital, termasuk rendahnya keterlibatan perempuan dalam penggunaan kecerdasan buatan (AI).
“Data dari World Economic Forum menunjukkan hanya 20% perempuan yang menggunakan AI. Padahal, teknologi bisa jadi jalan pembuka bagi perempuan untuk bekerja secara fleksibel dan aman,” ujar Prasasti. Prasasti menegaskan pentingnya ruang digital yang aman dan mentor yang suportif agar perempuan dapat mengembangkan diri.
“Mentoring sangat krusial. Tapi hati-hati, karena tidak semua mentor sehat. Kita perlu membangun ekosistem yang benar-benar mendukung, termasuk dari pasangan dan keluarga,” tegasnya.
Talkshow ini ditutup dengan ajakan kepada peserta perempuan, khususnya mahasiswa, untuk percaya pada kemampuan diri dan berani bersuara. “Jangan biarkan dirimu sendiri menjadi penghambat. Kadang yang paling membatasi perempuan adalah pikirannya sendiri,” ujar Prasasti, mengutip buku The Mountain Is You sebagai rekomendasi bacaan inspiratif.
Kegiatan ini menjadi bagian dari serial UII Talk Series dan juga peluncuran program mentoring dan pelatihan Link Women yang menyasar perempuan muda untuk pengembangan karier dan peningkatan keterampilan digital. Acara ini diharapkan akan memicu lebih banyak inisiatif strategis dalam mendorong partisipasi perempuan di dunia kerja dan ruang digital secara lebih inklusif. (ELKN/AHR/RS)