Internet of Things atau yang biasa disingkat IoT saat ini semakin berperan dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai perangkat di sekitar kita telah terkoneksi dan saling ‘berkomunikasi’ satu sama lain. Pekerjaan kita pun menjadi lebih ringan dengan keberadaan IoT yang mengurangi intervensi manusia. Pada dasarnya, laptop dan telepon pintar yang ada di genggaman banyak orang pun termasuk perangkat IoT. Telepon pintar mampu ‘berkomunikasi’ dengan berbagai perangkat lain melalui bluetooth, atau terkoneksi dengan internet melalui WiFi, dan sebagainya.

Setelah sedikit mengenal IoT, mungkin kita akan bertanya-tanya dari mana frasa Internet of Thing berasal? Istilah IoT sendiri dikemukakan tahun 2009 lalu oleh Kevin Ashton, seorang profesor berkebangsaan Inggris. Ia menjadi pelopor IoT, bermula dari seringkali lambatnya pengisian stok barang pada rak kosmetik tempatnya bekerja dulu. Kemudian, ia memikirkan teknologi yang dapat melacak barang-barang, sehinga manajemen rantai pasokan dapat lebih efisien. Secara definisi, kamus Oxford mengartikan IoT sebagai pengembangan internet dimana objek (benda) sehari-hari memiliki konektivitas jaringan, sehingga memungkinkan mereka untuk mengirim dan menerima data.

Dengan semakin berkembangnya IoT, masalah keamanan dalam penggunaannya turut mendapat perhatian yang besar. Masalah keamanan IoT bukan perkara enteng karena dekatnya perangkat IoT dengan kehidupan kita. Oleh karenanya, Teknik Elektro Universitas Islam Indonesia (UII) mengangkat permasalahan ini dalam webinar (web seminar) bertajuk ‘IoT Security’ pada Jumat (7/8) sore. Pembahasan yang disampaikan Dr. Fal Sadikin, praktisi di bidang keamanan IoT yang menjadi pembicara pada webinar ini sedikit meluas pada keamanan di era Industri 4.0.

“Topik hari ini adalah Security untuk Industri 4.0. Jadi, saya bahas di sini bukan Cuma IoT, tapi juga Industri 4.0 karena memang sistem IoT itu interdisipliner, kombinasi antara beberapa disiplin ilmu,” jelasnya di awal.

Bisa dibilang, IoT merupakan jantung dari Revolusi Industri 4.0 kini. Karena, Industri 4.0 merupakan sebutan lain dari Industrial Internet of Things (IIoT) atau IoT yang biasa digunakan pada sistem industri. Tiga disiplin ilmu disebutnya menjadi pondasi bagi Industri 4.0, yakni IoT itu sendiri, sistem otomasi dengan kecerdasan buatan dan analisis datanya, serta sistem penyimpanan cloud.

Sebelum membahas lebih lanjut terkait keamanan, ia berbagi cerita suksesnya penerapan IoT bidang pertanian di Belanda, tempatnya berdomisili, kepada hampir 70 peserta yang hadir secara daring.

“Pertanian di Belanda itu tantangannya sangat besar, jauh lebih besar dan rumit daripada di Indonesia. Pertama, Belanda itu negara dengan empat musim. Artinya, matahari itu cuma ada di musim panas atau hanya seperempat waktu dari setahun. Nah, itu kan sangat sulit. Kemudian tantangan kedua, Belanda itu negara yang sangat kecil. Ada dua tantangan mereka, masalah cuaca atau musim, juga keterbatasan lahan. Tapi yang mengejutkan, mungkin Anda tidak banyak tahu, Belanda itu adalah pengekspor produk-produk pertanian terbesar kedua di dunia, setelah Amerika,” ceritanya

Keseriusan mereka menerapkan teknologi IoT dalam bidang pertanian menjadi kunci keberhasilan tersebut. Sehingga, keterbatasan yang ada dapat teratasi dengan produktivitas dan efisiensi yang tercipta dari penerapan IoT.

Sekadar informasi, Dr. Fal Sadikin merupakan ilmuwan salah satu korporasi yang bergerak di bidang lighting terbesar dunia, Philips (Signify) Belanda. Gelar doktornya didapat dari Freie Universitat Berlin, Jerman. Tak sedikit penemuan di bidang teknologi, khususnya IoT, yang telah ia patenkan. Sejumlah 8 paten telah dimiliki olehnya. (HR/RS)