• Admisi
  • UII Gateway
  • Email
  • Kontak
  • Bahasa Indonesia
  • English
Universitas Islam Indonesia
  • PENDIDIKAN
    • Program Pendidikan
    • Penerimaan Mahasiswa Baru
    • Merdeka Belajar Kampus Merdeka
    • Informasi Beasiswa
    • Fasilitas Kampus
    • Jelajahi Yogyakarta
  • PENELITIAN
    • Pusat Studi & Laboratorium
    • Riset & Pengajaran
    • Portal Jurnal
    • Konferensi & Seminar
  • PENGABDIAN
    • Pengabdian & Dakwah
    • Lingkungan & Keberlanjutan
    • Simpul Tumbuh
    • Donasi UIIPeduli
  • INTERNASIONAL
    • International Admission
    • Kantor Urusan Internasional
    • Mobilitas Internasional
    • Program Gelar Ganda
    • Erasmus+ CBHE di UII
  • LAYANAN
    • Mahasiswa
    • Alumni
    • Kemitraan
    • Publik & Rekan Media
    • Paten & Hak Cipta
  • PROFIL
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu
You are here: Home1 / Berita Kegiatan2 / Irisan Islam dengan Dimensi Budaya
Berita Kegiatan

Irisan Islam dengan Dimensi Budaya

Hubungan Islam sebagai agama berdasar hukum fikih dengan budaya adalah sesuatu yang unik. Ada beberapa perspektif dalam melihatnya. Pandangan ekstrim menganggap bahwa budaya bukan bagian dari agama. Kelompok yang meyakininya mengambil konsep bid’ah sebagai sesuatu yang muncul dan datang tidak berdasarkan wahyu. Pandangan lain mengatakan bahwa agama juga melingkupi budaya. Sebab meskipun keduanya berbeda, namun saling beririsan dan tidak bisa dipisahkan.

Hal inilah yang dikaji oleh Program Doktor Hukum Islam, Magister Ilmu Agama Islam, dan Pusat Studi Islam UII dalam seminar bertajuk “Fikih Budaya”. Seminar Yang diselenggarakan pada Sabtu (2/11) di Ruang Audio Visual Perpustakaan Pusat UII ini diisi Drs. Suwarsono Muhammad, MA selaku Ketua Yayasan Badan Wakaf UII dan dibuka oleh Rektor UII Fathul Wahid , Ph.D.

Dalam sambutannya Fathul Wahid menjelaskan bahwa orang memiliki definisi beragam tentang budaya. Budaya sebagai mental programing dan budaya merupakan fenomena kolektif yang tidak mungkin terwujud hanya dengan satu orang dan terbentuk secara berulang-ulang. Budaya ada bukan karena diwariskan namun karena dipelajari sehingga budaya bukan genetik.

“Fikih budaya ini menjadi sangat menantang karena tidak ada fikih berbudaya. Fikih sendiri bisa jadi bahasan budaya contohnya perbedaan dalam madzhab-madzhab. Anjing di daerah Timur Tengah itu sangat digemari dan bersahabat karena mengikuti Madzhab Maliki berbeda dengan Madzhab Syafi’i. Itu artinya fikih juga bisa jadi produk budaya karena sangat kontekstual” Ujarnya.

Menurutnya, diskusi ini sangat menarik dan dibutuhkan di masa sekarang karena untuk memperluas perspektif dan melatih diri agar lebih menghargai orang lain.

Sementara, Suwarsono lebih menjelaskan betapa pentingnya berbudaya dalam beragama karena budaya merupakan warisan bangsa dan merupakan salah satu bagian dari peradaban yang harus tetap dijaga. Terlihat ketika peradaban mulai lemah itu memberikan efek negatif pada seluruh aspek kehidupan.

Contohnya ketika Amerika Serikat pernah mengalami resesi ekonomi lalu menyebar ke wilayah Eropa. Hal itu menandakan peradaban mereka saat itu sedang melemah. Sebaliknya, umat Islam, India, dan China sedang meniti masa keemasan karena peradabannya stabil.

“Namun saat ini Islam di permukaan umum terlihat sebagai Islam ekstrim, radikal, dan teroris. Untuk membangun kembali peradaban Islam di masa depan, itu bisa dengan Kapitalisme Religius (damai, bertahap, dan bekerjasama) dan tidak selalu tentang sosial saja. Saya mengartikan kapitalisme disini sebagai fenomena regional yang bisa tumbuh dan berkembang dimana saja, tidak hanya dari Barat” ungkapnya.

Pembicara terakhir, Elizabeth D. Inandiak berbicara tentang Kearifan Budaya dalam Serat Centhini. “Dari Serat Centhini ini saya menilai bahwa Islam sangat memperhatikan apa yang ada di sekitarnya. Ini terlihat pada saat Islam menjadi ajaran yang saat itu baru pertama kali datang ke Nusantara ini harus menyesuaikan bagaimana tetap menghormati adat budaya dan bagaimana mempertahankan Islam dengan segala prinsip-prinsip hukumnya”.

Acara ini dilanjutkan dengan sesi diskusi bagaimana budaya dan lingkungan juga budaya dalam perspektif maqasid hingga membahas kebijakan-kebijakan al-Quran tentang Kebudayaan. (CSN/ESP)

4 November 2019
Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Share on WhatsApp
  • Share on LinkedIn
  • Share by Mail
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2019/11/fikih-budaya-UII.jpg 2048 3648 humas https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII-Kuning.png humas2019-11-04 13:28:212019-11-08 13:38:20Irisan Islam dengan Dimensi Budaya

Berita Terakhir

  • UII Luncurkan Fakultas Teknik Desain Inovasi, Perkuat Kolaborasi untuk Masa Depan Berkelanjutan
  • FIAI UII Gelar Diskusi Kajian Turats Bahas Implementasi Epistemologi Ulil Albab dalam Ilmu Sosial
  • UII Sambut 22 Mahasiswa Internasional dalam Program P2A UIISAGE BRIDGE 2026
  • UII Gelar Studium Generale Ungkap Akar Perilaku Menyimpang dalam Masyarakat
  • Perkuat Kolaborasi Internasional dan Kebudayaan, Program Studi Farmasi UII Gelar Pembukaan G-PICE 2026

Gedung GBPH Prabuningrat (Rektorat)
Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia
Jl. Kaliurang km. 14,5 Sleman, Yogyakarta 55584 Indonesia

Telepon: +62 274 898444
Faks: +62 274 898459
Email: info[at]uii.ac.id

Akreditasi Institusi Unggul. Universitas Islam Indonesia telah mendapatkan Akreditasi Institusi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tahun 2022.

© Hak Cipta 2025 - Universitas Islam Indonesia - Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia | Pengelolaan Situs Web | Pernyataan Sangkalan | Tampilan Lama | Konten terakhir dimutakhirkan 25 Januari 2024
Link to: Program SAP Young Thinkers Prodi Akuntansi UII Link to: Program SAP Young Thinkers Prodi Akuntansi UII Program SAP Young Thinkers Prodi Akuntansi UII Link to: Diskusi Imaji UII, Kampus Masa Depan di Tahun 2050 Link to: Diskusi Imaji UII, Kampus Masa Depan di Tahun 2050 Diskusi Imaji UII, Kampus Masa Depan di Tahun 2050 Scroll to top Scroll to top Scroll to top