Tanpa merasa mempunyai legitimasi, tulisan ini dibuat sebagai titipan pemimpin universitas kepada guru besar (profesor), baik yang baru diangkat maupun yang sudah lama menduduki jabatan tersebut. Guru besar adalah jabatan akademik tertinggi di dunia akademik. Jabatan ini memberikan kuasa baru: kewenangan akademik tertinggi. Tersemat di sana, tanggung jawab yang lebih besar.

Puluhan tahun lalu, Oscar Handlin, seorang guru besar dari Harvard University menantang warga universitas dengan ungkapan: “A troubled universe can no longer afford the luxury of pursuits confined to an ivory tower…. Scholarship has to prove its worth not on its own terms, but by service to the nation and the world.” Arti bebasnya: dunia sedang menghadapi masalah ini tidak sanggup lagi menanggung kemewahan pencarian yang terjebak di menara gading…. Kecendekiawanan harus membuktikan maknanya, tidak untuk dirinya, tetapi memberikan layanan kepada bangsa dan dunia. Inilah yang disebut dengan kecendekiawanan yang membabit (scholarship of engagement atau engaged scholarship), menurut Ernest Boyer, mantan presiden the Carnegie Academy for the Advancement of Teaching and Learning.

Universitas dengan kawalan para guru besarnya harus membabit aktif dalam meningkatkan kualitas hidup, dan tidak hanya berceramah dari menara gading. Kecendekiawanan yang membabit melibatkan ikhtiar untuk menghubungkan aktivitas akademik (riset dan pembelajaran) dengan manusia dan lokasi di luar kampus dengan tujuan utama mengarahkan kerja lembaga untuk mencapai manfaat terbesar. Hubungan timbal balik diharapkan untuk memproduksi pengetahuan secara bersama-sama (knowledge co-production). Sudah seharusnya, misi ini tertanam dalam benak setiap guru besar.

Beragam pendekatan kecendekiawanan yang membabit dapat dipilih oleh guru besar. Bisa selektif, dapat kumulatif. Pertama, para guru besar dapat mengembangkan kecendekiawanan publik (public scholarship) yang ditujukan untuk memecahkan masalah publik yang rumit dan membutuhkan rembukan. Guru besar dapat membabitkan diri di sini.

Kedua, mengembangkan pendekatan riset partisipatif (participatoty research), terutama dengan melibatkan kelompok khusus yang cenderung terpinggirkan dalam menemukan solusi atas masalah yang ada. Kata kunci dalam pendekatan ini adalah inklusivitas. Ketiga, para guru besar dalam mewujudkan kecendekiawanan yang membabit dapat mengembangkan kemitraan dengan komunitas (community partnership). Tujuannya adalah perubahan sosial dan transformasi struktural.

Keempat, pengembangan jejaring informasi publik (public information networks) dapat dipilih untuk meningkatkan akses publik terhadap basisdata sumber daya yang bermanfaat bagi publik. Sebagai contoh, para guru besar dapat mewakafkan data mentah yang dikumpulkan dari beragaman risetnya untuk diakses secara luas untuk membuka pintu interpretasi baru.

Kelima, para guru besar juga dapat memilih jalan kecendekiawanan literasi warga (civic literacy scholarship) dengan mengenalkan diskursus yang dapat mengajak publik terlibat untuk memikirkan. Media popular yang banyak diakses publik seperti koran dan majalah, dapat menjadi pilihan. Untuk meningkatkan keberhasilannya, para guru besar dituntut untuk cakap mengemas isu dalam bahasa yang mudah dicerna beragam kalangan. Ini membutuhkan keahlian tersendiri. Tidak mudah. Tetapi bukan berarti tidak mungkin.

Kelima pilihan jalan di atas, semuanya ditujukan untuk mendekatkan diskursus akademik dengan masalah riil dan aktor di lapangan. Ujungnya adalah meningkatkan relevansi kehadiran para guru besar (termasuk universitas) untuk berandil membawa perubahan. Semoga.

Elaborasi ringan dari sari sambutan rektor pada acara penyerahan SK Guru Besar Prof. Is fatimah pada 29 Mei 2019.