• Admisi
  • UII Gateway
  • Email
  • Kontak
  • Bahasa Indonesia
  • English
Universitas Islam Indonesia
  • PENDIDIKAN
    • Program Pendidikan
    • Penerimaan Mahasiswa Baru
    • Merdeka Belajar Kampus Merdeka
    • Informasi Beasiswa
    • Fasilitas Kampus
    • Jelajahi Yogyakarta
  • PENELITIAN
    • Pusat Studi & Laboratorium
    • Riset & Pengajaran
    • Portal Jurnal
    • Konferensi & Seminar
  • PENGABDIAN
    • Pengabdian & Dakwah
    • Lingkungan & Keberlanjutan
    • Simpul Tumbuh
    • Donasi UIIPeduli
  • INTERNASIONAL
    • International Admission
    • Kantor Urusan Internasional
    • Mobilitas Internasional
    • Program Gelar Ganda
    • Erasmus+ CBHE di UII
  • LAYANAN
    • Mahasiswa
    • Alumni
    • Kemitraan
    • Publik & Rekan Media
    • Paten & Hak Cipta
  • PROFIL
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu
You are here: Home1 / Pojok Rektor2 / Kecendekiawanan yang Membabit
Pojok Rektor

Kecendekiawanan yang Membabit

Tanpa merasa mempunyai legitimasi, tulisan ini dibuat sebagai titipan pemimpin universitas kepada guru besar (profesor), baik yang baru diangkat maupun yang sudah lama menduduki jabatan tersebut. Guru besar adalah jabatan akademik tertinggi di dunia akademik. Jabatan ini memberikan kuasa baru: kewenangan akademik tertinggi. Tersemat di sana, tanggung jawab yang lebih besar.

Puluhan tahun lalu, Oscar Handlin, seorang guru besar dari Harvard University menantang warga universitas dengan ungkapan: “A troubled universe can no longer afford the luxury of pursuits confined to an ivory tower…. Scholarship has to prove its worth not on its own terms, but by service to the nation and the world.” Arti bebasnya: dunia sedang menghadapi masalah ini tidak sanggup lagi menanggung kemewahan pencarian yang terjebak di menara gading…. Kecendekiawanan harus membuktikan maknanya, tidak untuk dirinya, tetapi memberikan layanan kepada bangsa dan dunia. Inilah yang disebut dengan kecendekiawanan yang membabit (scholarship of engagement atau engaged scholarship), menurut Ernest Boyer, mantan presiden the Carnegie Academy for the Advancement of Teaching and Learning.

Universitas dengan kawalan para guru besarnya harus membabit aktif dalam meningkatkan kualitas hidup, dan tidak hanya berceramah dari menara gading. Kecendekiawanan yang membabit melibatkan ikhtiar untuk menghubungkan aktivitas akademik (riset dan pembelajaran) dengan manusia dan lokasi di luar kampus dengan tujuan utama mengarahkan kerja lembaga untuk mencapai manfaat terbesar. Hubungan timbal balik diharapkan untuk memproduksi pengetahuan secara bersama-sama (knowledge co-production). Sudah seharusnya, misi ini tertanam dalam benak setiap guru besar.

Beragam pendekatan kecendekiawanan yang membabit dapat dipilih oleh guru besar. Bisa selektif, dapat kumulatif. Pertama, para guru besar dapat mengembangkan kecendekiawanan publik (public scholarship) yang ditujukan untuk memecahkan masalah publik yang rumit dan membutuhkan rembukan. Guru besar dapat membabitkan diri di sini.

Kedua, mengembangkan pendekatan riset partisipatif (participatoty research), terutama dengan melibatkan kelompok khusus yang cenderung terpinggirkan dalam menemukan solusi atas masalah yang ada. Kata kunci dalam pendekatan ini adalah inklusivitas. Ketiga, para guru besar dalam mewujudkan kecendekiawanan yang membabit dapat mengembangkan kemitraan dengan komunitas (community partnership). Tujuannya adalah perubahan sosial dan transformasi struktural.

Keempat, pengembangan jejaring informasi publik (public information networks) dapat dipilih untuk meningkatkan akses publik terhadap basisdata sumber daya yang bermanfaat bagi publik. Sebagai contoh, para guru besar dapat mewakafkan data mentah yang dikumpulkan dari beragaman risetnya untuk diakses secara luas untuk membuka pintu interpretasi baru.

Kelima, para guru besar juga dapat memilih jalan kecendekiawanan literasi warga (civic literacy scholarship) dengan mengenalkan diskursus yang dapat mengajak publik terlibat untuk memikirkan. Media popular yang banyak diakses publik seperti koran dan majalah, dapat menjadi pilihan. Untuk meningkatkan keberhasilannya, para guru besar dituntut untuk cakap mengemas isu dalam bahasa yang mudah dicerna beragam kalangan. Ini membutuhkan keahlian tersendiri. Tidak mudah. Tetapi bukan berarti tidak mungkin.

Kelima pilihan jalan di atas, semuanya ditujukan untuk mendekatkan diskursus akademik dengan masalah riil dan aktor di lapangan. Ujungnya adalah meningkatkan relevansi kehadiran para guru besar (termasuk universitas) untuk berandil membawa perubahan. Semoga.

Elaborasi ringan dari sari sambutan rektor pada acara penyerahan SK Guru Besar Prof. Is fatimah pada 29 Mei 2019. 

17 Oktober 2019
Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Share on WhatsApp
  • Share on LinkedIn
  • Share by Mail
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2019/10/Engaged_scholarship2.jpeg 1500 2250 985230102 https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII-Kuning.png 9852301022019-10-17 22:59:422019-10-18 06:46:34Kecendekiawanan yang Membabit

Berita Terakhir

  • UII Luncurkan Fakultas Teknik Desain Inovasi, Perkuat Kolaborasi untuk Masa Depan Berkelanjutan
  • UII Sambut 22 Mahasiswa Internasional dalam Program P2A UIISAGE BRIDGE 2026
  • UII Gelar Studium Generale Ungkap Akar Perilaku Menyimpang dalam Masyarakat
  • Perkuat Kolaborasi Internasional dan Kebudayaan, Program Studi Farmasi UII Gelar Pembukaan G-PICE 2026
  • Universitas Mohammad Natsir Pelajari Sistem Pendidikan Pondok Pesantren UII melalui Kunjungan Studi Tiru

Gedung GBPH Prabuningrat (Rektorat)
Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia
Jl. Kaliurang km. 14,5 Sleman, Yogyakarta 55584 Indonesia

Telepon: +62 274 898444
Faks: +62 274 898459
Email: info[at]uii.ac.id

Akreditasi Institusi Unggul. Universitas Islam Indonesia telah mendapatkan Akreditasi Institusi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tahun 2022.

© Hak Cipta 2025 - Universitas Islam Indonesia - Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia | Pengelolaan Situs Web | Pernyataan Sangkalan | Tampilan Lama | Konten terakhir dimutakhirkan 25 Januari 2024
Link to: Mahasiswa FE UII Juarai Lomba Ide Bisnis Tingkat Nasional Link to: Mahasiswa FE UII Juarai Lomba Ide Bisnis Tingkat Nasional Mahasiswa FE UII Juarai Lomba Ide Bisnis Tingkat Nasional Link to: Hadapi Masa Depan Dengan Berpikir Induktif Link to: Hadapi Masa Depan Dengan Berpikir Induktif Hadapi Masa Depan Dengan Berpikir Induktif Scroll to top Scroll to top Scroll to top