Masa pandemi Covid-19 sampai saat ini belum juga berakhir. Di sektor pendidikan, kegiatan belajar mengajar masih dilakukan dengan cara daring. Hal ini mengharuskan lembaga pendidikan mengevaluasi dan meningkatkan sistem pembelajaran daring, tak terkecuali pada tingkat Perguruan Tinggi.

Menyikapi hal ini Ikatan Keluarga Alumni Universitas Islam Indonesia (IKA UII) meggelar Muhibah Webinar #12 mengangkat tema Kesiapan Perguruan Tinggi Memasuki Pembelajaran Online, pada Sabtu (11/7). Jalannya webinar dipandu Edian Fahmy, S.E., M.M., pengamat perbankan dan pendidikan.

Edian Fahmy menyinggung tatantangan disrupsi teknologi. Menurutnya, teknologi bukanlah disruptor, melaikan sebagai enabler dalam pengembangan dunia pendidikan saat ini. “Dengan adanya diskusi ini diharapkan bisa menyegarkan pemikiran kita,” ujarnya membuak webinar.

Rektor UII Prof. Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D menjelaskan ketika pandemi belum menyerang, UII memiliki dua prioritas yaitu kualitas akademik dan keberlangsungan organisasi. Namun setelah adanya pandemi dua prioritas itu terpaksa turun, dan yang menjadi prioritas utama saat ini adalah keselamatan jiwa dan keberlangsungan akademik.

“Ketika pandemi terjadi, semua perguruan tinggi entah dengan sukarela atau terpaksa, menjalankan pembelajaran daring yang berakibat munculnya keluhan di lapangan, meskipun ada ruang toleransi antara mahasiswa dan kampus namun itu tidak akan bertahan lama. Diduga toleransi akan semakin kecil karena besarnya harapan dan ekspektasi,” ungkapnya.

Fathul Wahid menambahkan harus ada kejelasan dalam memandang pandemi sebagai apa. Apakah sebagai musibah mutlak yaitu ketika pandemi berakhir kembali ke normal atau musibah dengan berkah tersamar. “Jika musibah dengan berkah tersamar ini menjadi perspektif maka akan menarik, karena kita bisa melakukan evaluasi menyeluruh secara jujur, percepatan program dijalankan yang menjadikannya sebagai momentum lentingan ke masa depan,” terangnya.

Disampaikan Fathul Wahid, saat ini UII juga dipercaya sebagai Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia, wilayah D.I. Yogyakarta. UII telah melakukan survei di PTS wilayah D.I. Yogyakarta berkenaan pembelajaran daring selama pandemi. Didapat, 93% PTS menggunakan sistem daring dan 7% menggunakan luring karena keterbatasan daya dukung teknologi. “Ini menjadi PR (Pekerjaan Rumah) untuk kita semua, bagaimana fasilitas pendidikan terbagi rata, mungkin hingga pelosok Indonesia yang masih sulit akses internet,” harapnya.

Fathul Wahid juga menjelaskan hasil survei di internal UII tentang kepuasan pembelajaran daring mahasiswa dan dosen. Terkait kesesuaian metode antara keiinginan dan preferensi, hasilnya tinggi yang berarti sistem sudah sesuai. Begitupun dengan kepuasan 70% mahasiswa dan 90% dosen merasakan puas dengan pelayanan pembelajaran daring UII.

Namun dalam hal beban, menurut Fathul Wahid hampir 70% mahasiswa cenderung mengatakan berat dalam pembelajaran daring dan ini menjadi konsideran bagi UII untuk mencari takaran yang lebih pas dalam pembelajaran. UII juga mengusahakan semaksimal mungkin dalam kualitas dan bantuan internet bagi mahasiswa.

Jika pembelajaran daring ini akan permanen atau belum tahu pasti kapan akan berakhir, mau tidak mau semua perguruan tinggi harus mempersiapkannya. “Salah satu usaha UII yaitu melakukan pengembangan sistem, menjadi satu ekosistem yaitu UII Gateway, berbentuk aplikasi yang bisa di unduh di smartphone,” pungkasnya.