Menimba ilmu di Universitas Islam Indonesia (UII) menjadi momen penting dalam benak Adib Zaidani Abdurrohman, S.E., MDip.Trade. Alumni UII yang saat ini sebagai Perutusan Tetap Republik Indonesia New York Negosiator Pada Komite V PBB ini mengangap masa kuliahnya di UII sebagai aset dan sebuah investasi.

“Empat tahun belajar di UII adalah investasi bagi saya, seharusnya akan begitu pula bagi teman-teman. Setiap detiknya harus dinikmati dan setiap pelajaran yang diambil harus dijadikan sebagai aset karena itu adalah investasi masa depan,” ucap Adib Zaidani Abdurrohman saat mengawali materinya di Kuliah Perdana Mahasiswa Baru UII Program Diploma (D3) & Sarjana (S1) Tahun Akademik 2021/ 2022, pada Rabu (8/9).

Biarpun secara virtual, tak mengurangi rasa gembira Adib untuk bisa bertegur sapa dengan para mahasiswa baru dan sivitas akademika UII. Sebagai seorang alumni, ia menyampaikan enam poin/wejangan/pesan/amanat yang diharapkan akan menjadi titik terang bagi para mahasiswa baru dalam memulai bangku perkuliahan agar tidak kehilangan arah di tengah hiruk pikuk pandemi Covid-19.

Pertama, jangan lupa berkenalan dengan mimpi. Seringkali masa transisi dari siswa menjadi mahasiswa membuat mereka lupa apa yang sebenarnya menjadi target. Adib memantik dengan mengenang perjalanan pertama kalinya ke luar negeri saat masih menjadi mahasiswa. Hal ini memberikan semangat untuk memiliki pengalaman melihat dunia yang lebih luas lagi. Ia mengajak mahasiswa untuk memulai mimpi dari keinginan sederhana lalu berkenalan dengan opsi, serta kemudian mengambil keputusan dan fokus dari berbagai opsi tersebut.

Kedua, tak dipungkiri dalam perjalanan menimba ilmu di perguruan tinggi, mahasiswa akan menghadapi berbagai macam tikungan, termasuk tanggung jawab yang besar atas kesempatan yang diperoleh. Komitmen untuk memecahkan masalah bisa dilakukan dengan menyelesaikan tugas yang diberikan dosen dengan sepenuh hati. Setiap ujian yang dihadapi akan menyelamatkan detik di masa depan.

Ketiga, memahami bahwa kerja kelompok itu aktivitas yg sangat dekat dengan dunia nyata. Khususnya dunia kerja, human relation skill menjadi hal fundamental dan bisa disimulasikan ketika bekerja kelompok di kampus. Bekerja dalam tim juga akan membuat mahasiswa mengenal berbagai macam karakter orang dan memanfaatkan momen tersebut untuk berlatih menjadi pemimpin mendelegasikan tugas untuk kepentingan bersama. Teknologi berkembang cepat setiap harinya namun life skill akan selalu sama, yaitu human skill, teamwork skill, dan attitude. Oleh karena itu Adib berpesan untuk serius dalam bekerja kelompok.

Keempat, gaining ability through mastery of utility. Era digitalisasi khususnya di masa pandemi menjadikan manusia sangat akrab dengan penggunaan teknologi, oleh karenanya menguasai software akan menjadi nilai plus bagi para perusahaan/ institusi. Hal-hal seperti kemampuan melakukan project management dengan aplikasi pendukung, ahli dalam menggunakan research software, atau mahir mengoperasikan aplikasi live meeting online menjadi sangat dibutuhkan. Tak hanya itu, ternyata mempunyai workflow yang terorganisir juga menjadi skill yang dapat dijual.

Kelima, membangun kepercayaan diri melalui kejujuran dan integritas. Adib menambahkan, bahwa kepercayaan diri tidak diperoleh instan, tetapi harus melewati proses yang tidak sebentar. Untuk membangunnya bisa dimulai dari selalu mengerjakan tugas dari dosen dengan jujur dengan cara tidak mencontek karena mencontek berarti meragukan kemampuan diri sendiri. Manusia yang memiliki integritas diri akan berinisiatif untuk maju dan berkontribusi dalam menyumbangkan pemikiran dalam menghadapi situasi krisis.

Keenam, yang menjadi aji pamungkas tidak lain adalah doa orang tua. Manusia acapkali hanya mengandalkan kemampuan semata tetapi nyatanya dunia ini bekerja tak jarang menghadirkan variabel kebetulan di luar logika. “Menurut saya, doa orang tua itu penepis nalar dan penuai keberuntungan,” tutur sang diplomat. Maka dari itu, birrul walidain, berbaktilah pada orang tua. Jika yang diinginkan tidak terkabulkan, sesungguhnya Allah memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya melalui ridho orang tua yang senantiasa mendoakan kebaikan untuk buah hatinya.

Mengakhiri pemaparannya, Adib mengucapkan selamat datang telah menjadi keluarga besar UII dan berharap para mahasiswa baru bisa ikut berkontribusi mengubah dunia menjadi tempat lebih baik untuk ditinggali berbekal etika dan nilai keislaman yang diajarkan di UII.

Selaku moderator, Beni Suranto menutup sesi kuliah umum dengan sebuah kutipan. “Orang yang miskin pengalaman harus sering membaca, orang yang tidak kuat membaca harus sering mendengar, orang yang hidup di tengah sunyinya informasi harus detil memperhatikan. Tidak ada alasan bagi seseorang untuk tetap menjadi bodoh apalagi tidak bijak.” ungkapnya. (MRS/RS)