• Admisi
  • UII Gateway
  • Email
  • Kontak
  • Bahasa Indonesia
  • English
Universitas Islam Indonesia
  • PENDIDIKAN
    • Program Pendidikan
    • Penerimaan Mahasiswa Baru
    • Merdeka Belajar Kampus Merdeka
    • Informasi Beasiswa
    • Fasilitas Kampus
    • Jelajahi Yogyakarta
  • PENELITIAN
    • Pusat Studi & Laboratorium
    • Riset & Pengajaran
    • Portal Jurnal
    • Konferensi & Seminar
  • PENGABDIAN
    • Pengabdian & Dakwah
    • Lingkungan & Keberlanjutan
    • Simpul Tumbuh
    • Donasi UIIPeduli
  • INTERNASIONAL
    • International Admission
    • Kantor Urusan Internasional
    • Mobilitas Internasional
    • Program Gelar Ganda
    • Erasmus+ CBHE di UII
  • LAYANAN
    • Mahasiswa
    • Alumni
    • Kemitraan
    • Publik & Rekan Media
    • Paten & Hak Cipta
  • PROFIL
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu
You are here: Home1 / Berita Kegiatan2 / Kunci Meraih Kesehatan Jiwa Menurut Imam Ghazali
Berita Kegiatan

Kunci Meraih Kesehatan Jiwa Menurut Imam Ghazali

Fakultas Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indonesia (FIAI UII) mengadakan kajian kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam Ghazali secara daring pada Rabu (20/4). Acara ini menghadirkan pembicara, Dr. Drs. Asmuni, MA. yang juga dosen FIAI UII.

Diungkapkan Asmuni, jika berbicara an-nafs dalam kitab ini, maka ada relasi kuat antara jiwa yang sehat dengan amal perbuatan utama atau istimewa. Jiwa dengan akhlak terpuji memiliki hubungan yang sangat penting. Jika jiwa sehat maka adanya dorongan untuk melakukan amalan utama atau al-fadhilah. 

Ia menambahkan jiwa yang sehat selalu merindukan al-fadhillah dan cenderung ke perbuatan-perbuatan yang terpuji secara alami. Adanya al-fadhilah maka tuntutan an-nafs dalam kondisi sehat semakin kuat. Ketika jiwa menafikan al-fadhilah, kemudian melihat ke perbuatan yang tidak terpuji maka ini menunjukkan jiwa yang sakit atau tidak sehat.

“Jika jiwa sakit, condong ke perbuatan kejelekan,” ucap Asmuni. Ia mengatakan cara mengobati jiwa yang sakit yaitu dengan melakukan amalan perbuatan yang terpuji atau al-fadhilah. Hal ini sesuai yang dikatakan Ibnu Maskawaih dan sejalan pula dengan Imam Ghazali. Bahwasannya kecenderungan jiwa kepada perbuatan terpuji atau sesuatu yang terburuk berarti keluar dari sifat alami. Sesungguhnya jiwa tidak menghendaki perbuatan yang buruk. 

Asmuni memberikan ilustrasi terkait hal itu. Misalnya, setan akan menggoda manusia dari arah depan, belakang, kiri dan kanan. Setan tidak berani masuk jalur atas, karena jalur atas tempatnya malaikat untuk mencatat amal baik dan buruk manusia. Begitu pula setan tidak berani masuk jalur bawah, karena jalur bawah ada bumi tempat manusia bersujud. 

Bentuk godaan setan sangat variatif dan dia tidak peduli tingkat kemaksiatan yang level rendah atau tinggi. Terpenting bagi setan adalah ada kemaksiatan yang dilakukan manusia secara berkelanjutan sekecil apapun itu. “Jika hawa nafsu, menggoda manusia tidak terlalu kreatif,” ujar Asmuni.

Menurut Imam Ghazali, riyadhoh diartikan sebagai bagaimana manusia melakukan sesuatu secara maksimal untuk mengalahkan segala bentuk godaan, baik setan atau hawa nafsu. Manusia yang mampu mengalahkan godaan, agar sampai pada posisi yang disebut dengan istilah istikamah yakni diartikan sebagai kesehatan jiwa. 

Mengobati Jiwa Yang Sedang Sakit

Orang yang cenderung meninggalkan ketenangan berarti menunjukkan bahwa jiwanya sedang sakit. Cara mengobatinya dengan menghapus atau meninggalkan ar-razilah (kejelekan). Dihapus sedemikian rupa untuk berusaha menarik al-fadhilah (keutamaan). “Ketika kita dihiasi dengan ar-razilah maka obatnya adalah al-fadhilah.” tegas Asmuni. 

Ketika orang melampaui batas melakukan kegiatan yang utama (al-fadhilah), maka harus seimbang dengan kehidupan sosial yang nyata, sampai bertemu fase ketenangan. Penciptaan fisik manusia tidak secara sempurna, melainkan disempurnakan melalui fase-fase perkembangan dengan pendidikan atau gizi. Demikian pula dengan an-nafs. “Artinya yaitu diciptakan dalam keadaan kurang sehingga bisa disempurnakan.” ucap Asmuni.

Cara menyempurnakan nafs dengan pendidikan, membersihkan atau memurnikan akhlak dan banyak menambah ilmu. Ulama-ulama terdahulu mementingkan 2 ilmu: ilmu Fiqih yang mengatur agama serta ilmu kedokteran yang mengatur fisik. Sedangkan ilmu yang lain hanya sebagai sarana saja. 

Puasa dipandang dapat menyeimbangkan batin manusia. Terdapat keterkaitan agar prioritas manusia simbang antara akhirat dan dunia. “Inilah yang sebetulnya fungsi puasa, tidak terlena dengan aspek-aspek yang sifatnya materi, tetapi juga mementingkan rohani.” tegas Asmuni.

Terakhir, Imam Ghazali mengatakan bahwa ibadah puasa tidak akan diterima jika menganut paham kapitalistik dan materialistik. Karena hal ini tidak seirama dengan filosofi yang dianut. Pendidikan yang terkandung dalam ibadah puasa setelah melihat ontologi puasa menurut Imam Ghazali ada 3: Tarbiyah imaniyah, tarbiyah amaliyah, tarbiyah ilmiah, dan tarbiyah khuluqiyyah. (LMF/ESP)

22 April 2022
Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Share on WhatsApp
  • Share on LinkedIn
  • Share by Mail
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2022/04/Masjid-Ulil-Albab-1.jpg 450 675 humas https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII-Kuning.png humas2022-04-22 14:37:442022-04-22 14:40:55Kunci Meraih Kesehatan Jiwa Menurut Imam Ghazali

Berita Terakhir

  • UII dan Unhan RI Perkuat Sinergi, Bahas Isu Maritim hingga Diplomasi Pertahanan
  • Sumpah Dokter ke-72 FK UII: Cetak 2.688 Alumni, Soroti Tantangan Pasien Berbekal AI hingga Peluang Bisnis Medis
  • UII dan Pemkot Pekalongan Jalin Kerja Sama Strategis Perkuat Pendidikan dan Pengembangan Daerah
  • UII dan Pemkab Bantul Perkuat Sinergi, Bahas Pengembangan RS UII hingga Peluang Program Beasiswa
  • UII dan Pemkab Ngawi Eksplorasi Kerja Sama Strategis

Gedung GBPH Prabuningrat (Rektorat)
Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia
Jl. Kaliurang km. 14,5 Sleman, Yogyakarta 55584 Indonesia

Telepon: +62 274 898444
Faks: +62 274 898459
Email: info[at]uii.ac.id

Akreditasi Institusi Unggul. Universitas Islam Indonesia telah mendapatkan Akreditasi Institusi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tahun 2022.

© Hak Cipta 2025 - Universitas Islam Indonesia - Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia | Pengelolaan Situs Web | Pernyataan Sangkalan | Tampilan Lama | Konten terakhir dimutakhirkan 25 Januari 2024
Link to: Memahami Indahnya Bahasa Al-Qur’an Link to: Memahami Indahnya Bahasa Al-Qur’an Memahami Indahnya Bahasa Al-Qur’an Link to: Masa Depan dan Ruang Aman Untuk Kelompok Rentan Link to: Masa Depan dan Ruang Aman Untuk Kelompok Rentan Masa Depan dan Ruang Aman Untuk Kelompok Rentan Scroll to top Scroll to top Scroll to top