,

Literasi Ecological Penting Untuk Digaungkan

Simpul Pemberdayaan Masyarakat untuk Ketangguhan Bencana Universitas Islam Indonesia (SPMKB UII) menyelenggarakan seminar bertajuk “Save the Earth, Save Yourselves. Think Green, Be Green, and Stop Polluting” sekaligus peresmian kolaborasi antara SPMKB UII/UIIPeduli. Seminar menghadirkan Direktur Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) UII, Ir. Eko Siswoyo, S.T., M.Sc.ES., Ph.D. dan Andriyas Aryo Prabowo, M.Si. dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) wilayah Sleman sebagai pembicara.

Bersamaan dengan pelaksanaan kegiatan tersebut, juga diumumkan pemenang kompetensi karya tulis ilmiah tingkat nasional berupa Teknologi Inovatif, Rancang Bangun, hasil Penelitian/Observasi, Pengabdian kepada Masyarakat, dan lain sebagainya. Kegiatan diikuti oleh 77 tim yang berasal dari Perguruan tinggi di Indonesia, dari Aceh hingga Lombok. Adapun pemenang kompetisi yakni Juara 1 tim mahasiswa dari UGM, juara 2 tim mahasiswa dari IPB, dan juara 3 adalah tim mahasiswa dari UII.

Ketua SPMKB UII, Dr. Ir. Dwi Handayani, S.T., M.Sc., IPM menyebut Indonesia memiliki posisi geografis yang rawan terhadap bencana alam. “Seperti kita ketahui bahwa Indonesia merupakan negara yang rawan bencana, karena posisi Indonesia atau letak geografis Indonesia berada di kawasan ring of fire, yang berada di tiga lempeng dunia yaitu lempeng Indo-Australia, Australia dan, lempeng Pasifik,” paparnya.

Dwi Handayani menyampaikan, ikhtiar UII dituangkan melalui proyek Erasmus+ BUiLD dalam meningkatkan ketangguhan bencana yang berdampak berkelanjutan. “Lewat SPMKB UII/UII Peduli, kami merasa penting kiranya untuk melakukan kegiatan sosialisasi, jadi SPMKB muncul atau didirikan sebagai Centre of Excellence dari hasil hibah Erasmus+ BUiLD, Building Universities in Leading Disaster Resilience,” terangnya.

Lebih lanjut Dwi Handayani berharap seluruh elemen civitas akademika UII dapat berkolaborasi guna menciptakan masyarakat tangguh bencana. ”Semoga kedepannya SPMKB UII Peduli ini yang berperan sebagai Centre of Excellence ini dari unit-unit yang sebetulnya sudah exist sebelumnya, seperti pusat-pusat studi yang ada di lingkungan Universitas Islam Indonesia, dan unit-unit lainnya yang bertema kebencanaan dapat lebih berkolaborasi sehingga mampu menghasilkan visi, mencapai visi Indonesia tanggap dan tangguh terhadap bencana,” paparnya.

Rektor UII, Prof. Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D. dalam sambutannya mengemukakan literasi ecological penting untuk digaungkan, sebagai salah satu langkah meningkatkan kesadaran dalam mitigasi bencana. “Jadi bagaimana kita semakin tahu dan semakin tinggi kesadarannya, kewaspadaan terkait dengan isu-isu lingkungan, dan ini juga tidak lepas dari dampak bencana, kesadaran ini menjadi penting karena sesuatu yang tidak di depan mata, terlihat, dampak itu susah dibayangkan dan ketika sudah dibayangkan membuat orang percaya itu susah,” terang Rektor.

Prof. Fathul Wahid menjelaskan, adanya kegiatan perlombaan dan seminar ini merupakan kontribusi UII dalam meningkatkan literasi ecological, mengingat kehidupan makhluk hidup di bumi kian terancam. “Masa depan manusia itu terancam, secara fisik bisa hilang, bisa musnah dari muka bumi ini karena dampak dari apa yang dikerjakan manusia, misal dalam bahasa lebih tinggi ekonomi ekstraktif, ekonomi eksploitatif, itu luar biasa dampaknya, hutan yang dibabat gundul, tidak mempertimbangkan daya dukung lingkungan dan lain sebagainya itu dampaknya luar biasa,” jelasnya.

Prof. Fathul Wahid berpesan agar kedepannya acara-acara serupa dapat menjadi wadah untuk meningkatkan kesadaran kolektif dalam pelestarian lingkungan. “Saya berharap acara seperti ini menjadi momentum untuk menyadarkan kita semua, hal yang tidak mudah tapi sekali lagi jangan kita tinggalkan sama sekali, dan ketika kita jalankan secara kolektif, bersama-sama insya Allah dampak baiknya akan semakin membesar, dan kita juga selalu mendidik diri kita untuk meningkatkan literasi ekologikal dalam banyak hal,” pesan Prof. Fathul Wahid.

Sementara Eko Siswoyo saat ditemui seusai acara menggambarkan perbedaan cuaca antara Jogja dan wilayah lain. “Hawa panas yang terjadi karena intensitas matahari yang tinggi karena saat ini matahari, khususnya di wilayah Jogja itu karena matahari sekarang berada di belahan bumi selatan, sehingga intensitas matahari begitu kuat di belahan bumi selatan (di wilayah Jogja), selain itu juga pemanasan global itu juga mempengaruhi kondisi suhu di wilayah Indonesia, seperti yang sampaikan tadi bahwa makin kesini suhunya semakin meningkat,” tutur Eko Siswoyo.

Ia memberikan saran untuk masyarakat yang ingin bepergian ke luar rumah. “Kalau mau keluar rumah pakai sunblock, kalau tidak penting tidak usah keluar rumah, karena kalau memang suhu tinggi ini memang pengaruhnya kepada kesehatan dan lain sebagainya, harus pandai-pandai menjaga diri karena sebenarnya hal yang sepele tinggal kita mau atau tidak, semua orang pasti tau bagaimana mengantisipasi suhu panas,” sarannya.

Eko Siswoyo berharap rencana yang digaungkan tidak hanya menjadi wacana belaka, namun perlu tindakan nyata. “Harapannya adalah ini kita berada di antara orang intelektual, kita harapannya ini tidak selesai di wacana, pengetahuan, tapi juga bisa menjadi aksi dimana mereka berada karena dengan aksi yang kecil mereka bisa menyelamatkan dunia ini jadi mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil dan mulai dari sekarang,” harapnya.

Hal senada dikemukakan Andriyas Aryo Prabowo. Ia menegaskan dampak perubahan iklim terasa begitu merugikan. “Climate change yang bisa dirasakan ya kekeringan, kekeringan ini kan kalau sudah lama sekali kita tidak hujan, kemarau yang sangat panjang, itu berdampak pada kekeringan, kita krisis air bersih di beberapa daerah dan itu sangat terasa, kemudian juga terasa sangat panas, kita yang di Jogja yang biasanya suhunya enak itu menjadi panas dan juga perubahan masa musim,” tegas Andriyas Aryo Prabowo.

Andriyas Aryo Prabowo berharap masyarakat Jogja dapat menjadi contoh untuk menjaga bumi supaya tetap lestari. “Kita sangat berharap khususnya yang di Jogja ini sebagai kota pelajar, masyarakat itu menjadi pelopor untuk perubahan yang lebih baik, kesadaran iman yang meningkat, itu bisa dimulai itu sendiri, yaitu tadi untuk meminimalkan limbah, kita budayakan membawa tempat minum sendiri dan lain sebagainya, sekali lagi Jogja menjadi antisipator untuk perubahan lingkungan, kesadaran lingkungan yang lebih baik sehingga itu akan berdampak yang sangat signifikan, memberikan lingkungan yang lebih baik lagi dan yang menyebar ke seluruh Indonesia,” tandas Andriyas Aryo Prabowo. (JR/RS)