Mahasiswa Baru, Gapai Mimpi dan Ukir Prestasi!

Mentari yang cerah di pagi ini, seakan ikut membersamai kebahagiaan yang meliputi hati Saudara di sini. Bisa jadi, mimpi Saudara semalam pun lebih berwarna dan penuh pelangi warna-warni. Ketika bangun pagi tadi, saya berharap senyum Saudara pun semakin lebar. Semuanya adalah sebagai ungkapan syukur yang semakin tinggi.

Betapa tidak? Mulai hari ini, Saudara menjadi manusia baru, melalui tahapan metamorfosis dari siswa menjadi mahasiswa: siswa dengan segala kemuliaan dan tanggung jawabnya.

Saudara, mahasiswa merupakan anak bangsa istimewa. Sampai hari ini, baru sekitar sepertiga anak bangsa sepantaran Saudara yang mempunyai kesempatan mengenyam bangku kuliah. Ini adalah sebuah nikmat yang harus disyukuri dengan ketekunan dalam belajar dan keteguhan dalam mengembangan diri.

Karenanya, izinkan saya, semua dosen dan tenaga kependidikan, menyambut Saudara: selamat bergabung menjadi bagian keluarga besar Universitas Islam Indonesia (UII).

 

Mahasiswa baru yang berbahagia,

Di UII, Saudara tidak hanya mendapatkan kesempatan untuk menekuni disiplin ilmu pilihan, tetapi juga mendalami ajaran agama.

Selain itu, Saudara mempunyai peluang besar untuk mengembangkan diri dengan beragam pilihan aktivitas dan organisasi, serta mengasah sensitivitas terhadap masalah-masalah publik. Jangan sia-siakan kesempatan ini.

Di UII, Saudara juga dibiasakan menghargai perbedaan. Yang berbeda jangan dianggap selalu bertolak belakang dan tidak bisa bersatu.

Bisa jadi di kelas Saudara nanti ada kawan yang berasal dari suku lain, negara manca, atau ahkan beragama berbeda. Semua itu tidak untuk membuat saling menjauh. Keragaman ini justru harus dirayakan dengan cara saling menghormati secara tulus.

Mahasiswa baru yang berbahagia,

Semangat itulah yang juga mendasari Sekolah Tinggi Islam (STI), nama awal UII, ketika didirikan di Jakarta, 40 hari sebelum kemerdekaan Indonesia, pada 27 Rajab 1364 H yang bertepatan dengan 8 Juli 1945 M. UII saat ini udah berusia 80 tahun menurut perhitungan kalender hijriah.

Pendiri UII adalah juga pendiri bangsa ini yang berasal dari beragam kalangan, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Perikatan Umat Islam, Persatuan Umat Islam Indonesia, dan para tokoh bangsa lainnya. Kita bisa sebut di antaranya K.H. Wahid Hasyim, K.H. Mas Mansur, Ki Bagoes Hadikusumo, Moh. Hatta, Muh. Natsir, Mr. Muh. Yamin, K.H. Abdul Halim, K.H. Ahmad Sanusi, K.H. Imam Zarkasyi, dan Prof. K.H. Abdulkahar Mudzakkir.

Mereka memberikan contoh kepada kita untuk selalu mengesampingkan perbedaan dan mengedepankan persamaan. Semuanya ditujukan untuk Indonesia yang lebih maju. Salah satunya melalui pendirian tinggi yang berkualitas.

Saudara, UII merupakan rumah besar untuk keragaman. Di UII, semangat keislaman dan kebangsaan menyatu dalam satu tarikan nafas. Nama Universitas Islam Indonesia menyimbolkannya.

 

Mahasiswa baru yang berbahagia,

Tentu, kita, tidak lantas hidup di bawah bayang-bayang masa lampau. Semangat dan nilai-nilai baiknyalah yang terus kita jaga dan gaungkan dan sesuaikan dengan konteks kekinian.

Kita harus menyadari bahwa setiap zaman membawa tantangannya masing-masing dam membutuhkan aktor dengan kecakapan yang berbeda.

Saudara, perubahan adalah keniscayaan, sunatullah. Saudara tidak mungkin mengelak darinya. Sikap paling masuk akal adalah dengan menyiapkan diri menghadapi masa depan. Tidak ada pilihan lain. Melempar handuk atau mengibarkan bendera putih tanda menyerah tidak ada dalam kamus pemimpin masa depan.

Saudara harus menyiapkan diri untuk itu.

 

Mahasiswa UII yang berbahagia

Masa depan membutuhkan manusia dengan karakteristik berbeda dengan masa kini, apalagi masa lampau.

Saudara, masa depan tidak memberi tempat untuk mereka yang tidak adaptif. Karenanya, Saudara harus menyiapkan diri menjadi pembelajar cepat. Kembangkan kemampuan menghubungkan antartitik, antarkonsep, untuk membangun jalinan cerita yang bermakna.

Masa depan tidak menoleransi respons yang lambat. Karenanya, Saudara dituntut belajar menjadi pengambil keputusan yang cekatan dan tangguh. Untuk itu, Saudara perlu mengasah diri mengenali pola solusi dari beragam kelas masalah.

Saudara, masa depan tidak menyisakan ruang untuk mereka yang gagap teknologi. Karenanya, Saudara harus meningkatkan literasi dan keterampilan teknologi. Seharusnya hal ini tidak menjadi masalah bagi Saudara. Saudara adalah pribumi digital, yang sejak lahir beragam teknologi informasi sudah berada dalam jangkauan. Namun, jika semua kawan Saudara adalah pribumi digital, pastikan Saudara terlihat bagai intan yang bersinar di antara bebatuan.

Masa depan bukan milik mereka yang hanya sanggup mengikuti narasi publik seperti buih. Jangan mudah terbawa apa yang menjadi tren dan viral. Selalu lakukan tabayun atau verifikasi. Karenanya, Saudara harus melatih diri menjadi pemikir mandiri.

Saudara, masa depan akan sangat diwarnai dengan mahadata yang menunggu dicerna. Jika dulu tantangannya adalah mencari data, saat ini, tantangannya berubah, yaitu menyaring data. Karenanya, Saudara juga wajib meningkatkan literasi data, dengan membiasakan diri menelisik makna dari data.

Masa depan membutuhkan jejaring yang kuat. Selain belajar dan mengembangkan diri dengan tekun, jangan lupa, Saudara juga gunakan kesempatan ketika studi untuk membangun jejaring. Tidak hanya di dalam kampus, tetapi lintaskampus, dan bahkan lebih luas lagi. Insyaallah jejaring ini akan sangat bermanfaat untuk menebalkan manfaat yang akan Saudara sebar di masa mendatang.

Saudara, Masa depan tidak akan bersahabat dengan masa kini. Apa yang cukup untuk masa kini, sangat mungkin menjadi kedaluwarsa untuk masa depan. Karenanya, Saudara harus mengasah kreativitas untuk menghasilkan inovasi yang sanggup menjawab tantangan zaman.

Saudara, masa depan tidak untuk mereka yang berpikir sempit dan berorientasi lokal. Karenanya, Saudara perlu menyiapkan diri menjadi warga global. Ikutilah kesempatan mobilitas global jika mungkin.

Pekan depan, jika Saudara belum mempunyai paspor, buatlah satu. Bisa jadi, itu menjadi doa dan bagian dari ikhtiar Saudara untuk membuka pintu menjadi warga global.

Meski demikian Saudara, ada satu karakteristik yang mengikat masa lampau, masa kini, dan masa depan; yaitu kemuliaan akhlak, keluhuran budi, atau ketinggian watak.

Sepintar apapun Saudara, sehebat apapun Saudara, tetapi tanpa bingkai watak yang tinggi, kehadiran Saudara tidak akan menjadi bagian dari solusi, tetapi sebaliknya, justru menjadi bagian dari masalah. Tentu, ini bukan yang Saudara inginkan.

 

Mahasiswa UII yang berbahagia,

Mulai hari ini, jadilah manusia baru yang lebih baik. Tinggalkan jejak, termasuk jejak digital, yang baik.

Jika dulu, Saudara menikmati merundung orang lain, mulai hari ini jadikan itu masa lalu. Rundungan Saudara bisa jadi masih menyisakan trauma bagi korban.

Jika di masa lampau, Saudara menjadi penyebar berita bohong dan penyuka ungkapan kebencian, mulai hari ini, akhiri. Jika Saudara merasa perlu, hapus jejak suram tersebut ketika masih terlacak.

Mengapa ini penting? Jejak digital adalah cermin watak Saudara. Bisa jadi kawan atau bos masa depan Saudara akan menelusur jejak digital masa lampau Saudara. Sadarilah sebelum terlambat. Penyesalan selalu datang kemudian.

Mulai hari ini, tanamkan tekad untuk siap meninggalkan masa suram itu, jika ada.

 

Mahasiswa UII yang berbahagia,

Syukuri nikmat menjadi mahasiswa ini dengan ikhtiar terbaik sepenuh hati. Nikmati setiap momen yang Saudara alami di kampus ini. Maknai setiap kesempatan yang tercipta untuk berinteraksi.

Menjadi mahasiswa adalah peluang emas untuk menempa diri. Status mahasiswa adalah kesempatan terbaik untuk memperluas perspektif dan memperjauh horison.

Inilah saatnya menemukan harta karun dalam diri Saudara. Kenali dan lesatkan potensi Saudara. Gambarlah diri Saudara yang baru. Desain masa depan Saudara mulai hari ini. Gapai mimpi Saudara. Hiasi dengan ukiran beragam prestasi.

Kami, di UII, insyaallah siap mendampingi.

 

Mahasiswa UII yang berbahagia,

Semoga Allah memudahkan Saudara dalam menuntut ilmu di UII sebagai bagian ibadah kepada yang Maha Mulia. Karenanya, luruskan niat. Percayalah dengan janji Allah yang disampaikan lewat Rasulullah.

”Barang siapa yang keluar untuk mencari ilmu maka ia berada di jalan Allah hingga ia pulang”.

”Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari suatu ilmu. Niscaya Allah memudahkannya ke jalan menuju surga”.

Jika perlu, cetak kedua pesan suci ini dengan huruf besar dan tempel di langit-langit kamar tidur Saudara, supaya selalu mengingatkan ketika lelah mendera.

Sekali lagi, selamat bergabung, para pemimpin masa depan!

Sambutan pada Kuliah Perdana untuk mahasiswa baru Universitas Islam Indonesia pada 9 Agustus 2023.