Mahasiswa UII meraih prestasi membanggakan dalam lomba National University Debating Championship (NUDC) yang diselenggarakan oleh Pusat Prestasi Nasional, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada tanggal 24 – 29 Agustus 2021. Aliifah Bianca Nuradrina (IP Teknik Sipil) dan Salsabila Zannuba Kurniawan (Kedokteran) menyabet juara pertama kategori novice pada kompetisi tersebut. Tidak hanya itu, Aliifah juga bertengger pada peringkat ke-5 novice best speaker dengan perolehan gold medal. Sedangkan peringkat ke-6 diamankan rekannya, Zannuba dengan perolehan silver medal. Kedua mahasiswa tergabung dalam UKM English Debating Society (EDS UII).

Bianca dan Zannuba selama ini menjadi jagoan EDS UII dalam kompetisi debat karena dinilai telah sering mengikuti dan berpengalaman dalam kegiatan debat. Keduanya pun mengakui prestasi  yang diperoleh dalam kompetisi NUDC tidak lepas dari peran penting EDS UII. EDS UII merupakan support system yang sangat membantu mengembangkan kemampuan debatnya. 

“EDS UII memiliki sistem ketika ada yang diikutkan lomba selanjutnya ada latihan bersama pelatih. Kami biasanya latihannya dalam seminggu itu sekali, tetapi ketika berlatih dengan pelatih menjadi seminggu dua kali. Setiap pertemuan kami selalu membahas berita yang sedang hangat karena itu membantu untuk menebak mosi debat nantinya”, ujar Bianca.

Pada tahap grand finals novice, kedua wakil UII mengalahkan mahasiswa dari Universitas Bina Nusantara, Universitas Udayana, dan Universitas Warmadewa. Pelaksanaan NUDC dilakukan secara daring. Kompetisi berlangsung melalui platform zoom meeting dan terbagi pada masing-masing tim dalam ruangan virtual. 

Memenangkan kompetisi NUDC ini tidak membuat keduanya cepat berpuas diri. Meskipun belum menentukan akan mengikuti kompetisi debat apalagi nantinya, namun mereka memiliki harapan tinggi dapat kembali mewakili UII dan EDS UII di kemudian hari. Tentunya juga kembali dengan memetik prestasi kemenangan. 

“Motivasi terbesar saya adalah ingin membuktikan ke diri sendiri ketika misalnya kita sudah menentukan target dan sudah percaya sama diri sendiri maka selama kita mampu dan ingin berkomitmen dengan target kita pasti bisa.”,  terang Zannuba.

Zannuba mengaku sangat tertantang untuk mengikuti debat Bahasa Inggris yang sangat bergengsi ini. Selain harus memiliki skill bahasa Inggris yang baik, ia juga dituntut untuk berpikir terbuka dan luas terhadap isu terbaru.

Keduanya berharap prestasi ini juga mengangkat nama EDS UII agar semakin dikenal oleh mahasiswa UII lainnya. Menurut, Zannuba sebenarnya tidak sedikit mahasiswa UII memiliki kemampuan debat bahasa Inggris yang baik. Namun sayangnya talenta tersebut kurang terwadahi karena mereka tidak tergabung dalam UKM yang dapat mengasah potensi tersebut dengan tepat. 

NUDC sendiri adalah ajang kompetisi bergengsi debat Bahasa Inggris antar universitas se-Indonesia. Dalam NUDC, sistem debat yang dipakai adalah sistem British Parliamentary. Kompetisi itu menuntut kemampuan berpikir 4C (Critical Thinking and Problem Solving, Creativity, Communication Skills, Ability to Work Collaboratively). Kompetisi ini mengangkat isu-isu kontemporer sebagai tema debat. Beberapa di antaranya seperti isu childfree dan berkuasanya kembali kelompok Taliban di Afghanistan. (FHC/UAH/ESP)