Media Partisan dan Echo Chamber: UII Bahas Polarisasi Informasi di Amerika Serikat

Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar seminar publik bertajuk “Media dan Polarisasi: Dinamika Informasi di Amerika Serikat” pada Rabu (15/4) di Auditorium Dr. Soekiman Wirjosandjojo, Gedung Fakultas Psikologi dan Fakultas Ilmu Sosial Budaya UII. Seminar ini menghadirkan Prof. Nurhaya Muchtar, profesor dari Department of Communications Media Indiana University of Pennsylvania, Amerika Serikat, sebagai pembicara utama.

Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 09.30 WIB ini diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, kemudian dilanjutkan dengan rangkaian sambutan. Kepala Jurusan Ilmu Komunikasi UII, Iwan Awaluddin Yusuf, S.IP., Ph.D., dalam sambutannya menyoroti kompleksitas ekosistem informasi di era digital saat ini. Ia menegaskan bahwa perkembangan teknologi telah membawa tantangan baru dalam memverifikasi kebenaran informasi.

“Di era sekarang, di tengah kita membicarakan informasi, itu akan sangat rentan dengan berbagai macam penyimpangan, sekarang melihat informasi perang saja harus mempertanyakan ini AI atau bukan,” ujarnya.

Iwan juga memperkenalkan Program Studi Magister Ilmu Komunikasi UII sebagai ruang akademik yang berupaya merespons dinamika komunikasi kontemporer, termasuk fenomena disinformasi dan polarisasi media.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Wakil Dekan Bidang Sumber Daya Fakultas Ilmu Sosial Budaya UII, Irawan Jati, S.IP., M.Hum., M.SS., Ph.D. Ia menyoroti bagaimana media di Amerika Serikat tidak dapat dilepaskan dari kepentingan ideologis dan politik. Menurutnya, kondisi tersebut turut memperparah polarisasi di masyarakat.

“Kalau saya lihat secara sepintas misalnya, di Amerika itu kan media juga sangat partisan, bahkan sangat dipengaruhi oleh ideologi politik. Jadi ada media yang mainstream-nya itu ke demokrat, ada yang ke republik,” jelasnya.

Memasuki sesi utama, Prof. Nurhaya Muchtar memaparkan secara komprehensif sejarah dan perkembangan media di Amerika Serikat, serta kaitannya dengan fenomena polarisasi politik yang semakin tajam. Ia menjelaskan bahwa sejak awal, sistem media di Amerika didominasi oleh sektor swasta, berbeda dengan Indonesia yang memiliki media publik sebagai pelopor.

“Sejarah media Amerika itu identik dengan swasta, bukan negeri, jadi kalau misal kita ngomong ada TVRI dulu baru ada RCTI, kalau di Amerika enggak,” paparnya.

Lebih lanjut, Prof. Nurhaya menekankan bahwa perubahan lanskap media digital telah menggeser cara masyarakat mengonsumsi informasi. Jika sebelumnya media memiliki tanggung jawab untuk menyajikan dua sisi secara berimbang (cover both sides), kini beban tersebut berpindah ke audiens.

“Kalau dulu media yang memberikan cover both-side, sekarang kita yang harus nyari, masa sih begini, dicari, karena masalah echo chamber dan algoritma,” ungkapnya.

Fenomena echo chamber dan algoritma media sosial dinilai menjadi salah satu faktor utama yang memperkuat polarisasi. Pengguna cenderung hanya terpapar pada informasi yang sejalan dengan pandangan mereka, sehingga mempersempit ruang dialog dan memperkuat bias.

Dalam paparannya, Prof. Nurhaya juga membandingkan kondisi media pada masa pemilihan presiden Donald Trump, khususnya antara periode pertama dan kedua pencalonannya. Ia menilai terjadi pergeseran signifikan dalam pola konsumsi informasi, terutama di kalangan generasi muda.

“Saya melihat, terutama Gen Z di Amerika banyak yang nggak tahu yang mana benar yang mana enggak,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menggambarkan kekhawatiran akan rendahnya literasi media di tengah arus informasi yang semakin masif dan kompleks. Generasi muda, yang seharusnya menjadi agen perubahan, justru menghadapi tantangan besar dalam memilah informasi yang kredibel.

Seminar ini diakhiri dengan sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif. Para peserta, yang terdiri dari mahasiswa dan akademisi, antusias mengajukan berbagai pertanyaan terkait polarisasi media, peran algoritma, hingga relevansi fenomena tersebut dengan konteks Indonesia.

Melalui kegiatan ini, Prodi Magister Ilmu Komunikasi UII berharap dapat membuka ruang diskusi kritis sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya literasi media di era digital. Polarisasi informasi, sebagaimana yang terjadi di Amerika Serikat, menjadi refleksi penting bagi masyarakat global, termasuk Indonesia, untuk lebih bijak dalam mengonsumsi dan memproduksi informasi.

Seminar ini tidak hanya menjadi ajang transfer pengetahuan, tetapi juga momentum refleksi bagi peserta untuk memahami bahwa di tengah derasnya arus informasi, kemampuan berpikir kritis menjadi kunci utama dalam menjaga kualitas demokrasi. (MFPS/AHR/RS)