Resiliensi atau ketahanan merupakan benteng bagi masyarakat untuk menghadapi pandemi. Resiliensi artinya kemampuan kita untuk beradaptasi dan tetap teguh walaupun keadaan semakin sulit. Disampaikan Dr. dr. Sagiran, Sp.B(K)KL., M.Kes. bahwa resiliensi dapat dikenali dari dua sisi yaitu koping dan adaptasi. Koping adalah proses internal dalam mengelola pikiran kognitif dan emosi ketika dalam keadaan yang tertekan. Sedangkan adaptasi adalah proses untuk mengubah perilaku supaya dapat menyesuaikan dengan tekanan.

Hal itu diungkapkannya dalam seminar online bertema “Kesehatan Kolektif: Kunci Membangun Resilient di Masa Pandemi” yang digelar Masjid Ulil Albab sebagai salah satu rangkaian acara Ramadhan Fair. Dr. Sagiran merupakan Ketua Ikatan Dokter Indonesia Kabupaten Bantul.

Menurut dr. Sagiran, hal-hal yang menjadi kunci resiliensi adalah berbagai hal yang berkaitan dengan mental. Dimulai dari kontrol diri, dukungan sosial, optimisme, kemampuan untuk memecahkan masalah, kesadaran emosional, keyakinan diri, dan sense of humor. Selain hal tersebut, self healing juga diperlukan dalam keadaan tertekan. “Kesehatan mental pada akhirnya menjadi kunci dalam membangun daya resiliensi masyarakat,” jelas dr. Sagiran.

Yang tak kalah penting dari semua itu adalah pendekatan spiritualisme. Keyakinan akan adanya Allah akan menguatkan dan memupuskan segala macam persoalan manusia. Salah satu kekuatan spiritualitas adalah dengan berdzikir. “Doa sebagai seorang muslim merupakan suatu senjata,” ujar dr. Sagiran.

Kesehatan fisik juga menjadi hal dasar untuk membangun daya resiliensi masyarakat. Hidup harus mempunyai keseimbangan. Belajar mengatur makanan karena seperti yang kita tahu bahwa lambung merupakan sumber penyakit. Upaya preventif untuk pencegahan Covid ini juga sudah diupayakan pemerintah melalui vaksinasi.

“Allah telah mewajibkan kita untuk ikhtiar, ikhtiar kita adalah melalui protokol kesehatan dan vaksinasi, selebihnya adalah tawakal dan diakhiri dengan doa, mudah-mudahan Allah membuka pintu langit dan segera mengangkat bencana ini,” tutup dr. Sagiran.

Seperti diketahui, situasi pandemi Covid-19 tentu saja bukan suatu hal yang menggembirakan bagi masyarakat di seluruh dunia. Situasi ini justru memberikan banyak tantangan baru bagi masyarakat. Kondisi ini juga telah merubah seluruh tatanan hidup masyarakat yang telah berjalan selama ini, tak terkecuali perekonomian dan sosial.

Sebagai perguruan tinggi yang peduli terhadap nasib bangsa, Universitas Islam Indonesia telah melakukan berbagai upaya untuk menghadapi situasi pandemi ini. Salah satunya adalah dengan menyelenggarakan seminar yang bertujuan agar masyarakat memahami langkah yang seharusnya dilakukan di tengah kondisi pandemi saat ini. (AWP/ESP)