Takmir Masjid Ulil Albab Universitas Islam Indonesia mengadakan talkshow dengan tema Nuzulul Quran. Talkshow bertemakan “Mengukir Mahkota Untuk Ayah Ibuku” itu diadakan pada Rabu (22/5) di Masjid Ulil Albab UII selepas tarawih. Kajian tersebut juga mengundang Hilya Qonita, seorang juara I dalam ajang program Hafidz Cilik RCTI 2013 lalu bersama ayahandanya Ust. Muslim Ibnu Mahmud sebagai pembicara. Para peserta yang terdiri dari mahasiswa dan orang tua nampak antusias menyimak setiap pemaparan dua pembicara tersebut.

Adli Nurahman, selaku penanggung jawab kegiatan menyampaikan rangkaian tsalkshow dengan tema Nuzulul Quran ini diadakan untuk mendukung semangat generasi muda dalam mendalami Al-Quran. “Karena telah dijelaskan dalam Al-Quran bahwa kelak di akhirat kedua orang tua akan mengenakan mahkota dan pakaian yang serba indah, bagi anak-anaknya yang penghafal Al-Quran”, tuturnya.

Sementara, Ust. Muslim Ibnu Mahmud menjelaskan ia memiliki visi dan misi untuk melahirkan anak seorang Hafidz Quran. “Memang tidak mudah, namun dengan berbagai dukungan dan komitmen akhirnya Hilya mampu menjadi Hafidz pada usia 8 tahun dan pada tahun 2013 menjadi juara satu dalam program Hafidz Cilik RCTI”, ungkapnya.

Menurutnya Hilya tidak dikekang agar setiap waktu menghafal Al-Quran, karena ia sadar bahwa di usia itu ia masih senang bermain. “Usia 1–5 tahun adalah usia golden age di mana pada usia tersebut apapun yang didengar oleh anak akan disimpan pada memorinya dan direkam. Inilah momen penting untuk mengajarkan Hilya agar bisa menghafal Al-Quran“, jelasnya.

Untuk menghindari rasa bosan anak, ia pun memberi tips agar menyelingi aktifitas menghafal dengan mengajak anak jalan-jalan atau bermain. Di sela aktifitas itu, orang tua dapat mengikuti alur usia anak.

Di samping itu, ia senantiasa memberikan segala hal-hal yang baik, mulai dari perkataan serta perilaku sehingga segala rahmat dan kebaikan akan mengalir kepada anak. “Tidak ada didikan yang keras dan menyiksa, hanya saja perlu ketegasan dalam mendidik anak agar menjadi generasi penghafal Al-Quran”, imbuhnya.

Ketegasan tentu berbeda dengan marah dan kejam karena anak diajari memahami konsekuensi dari kelalaian atau kesalahannya. Sehingga anak bisa mengerti dan patuh yang menyebabkan anak tidak terbebani menghafal Al-Quran.

“Terdapat tiga waktu yang dianjurkan untuk mendidika anak-anak, yakni selepas subuh, selepas magrib dan sebelum tidur. Ketiga waktu ini dianggap baik untuk memberikan dan mengantarkan anak-anak kepada pengenalan Al-Quran”, tutur ayahanda Hilya.

Pada kesempatan ini pula hadirin yang hadir bisa berkesempatan untuk mengetas hafal Hilya dengan menyambung ayat. Hilya nampak tidak menemui kesulitan menyambung hafalan-hafalan itu. (GT/ESP)