,

Menepis Cultural Shock Saat Belajar Di luar Negeri

Belajar di negara lain memiliki banyak tantangan bagi mahasiswa internasional. Selain jauh dari keluarga, perbedaan budaya juga menjadi tantangan tersendiri. Seperti tergambar dalam webinar “We are Multiculturalism: Indigenization and Internationalization”. Acara yang diadakan oleh Universitas Islam Indonesia dan Universitas Telkom ini bertujuan memberikan gambaran dan persiapan bagi calon mahasiswa yang ingin melanjutkan kuliah di luar negeri. Narasumber yang hadir yakni Emir Mahira, mahasiswa di University of British Columbia, Kanada. Emir juga merupakan mantan aktor di beberapa film terbaik di Indonesia dan sudah berpengalaman 10 tahun bersekolah di luar negri di tiga negara yang berbeda sejak SMP.

Emir mengawali webinar dengan menceritakan pengalamannya saat pertama kali pindah sekolah ke Singapura. Awalnya ia cukup takut karena dirinya termasuk orang yang introvert saat itu. Ditambah lagi dengan belum lancarnya berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Namun dukungan dari orang tuanya sangat membantu Emir untuk belajar berkomunikasi dan akhirnya dapat menyesuaikan budaya dan bahasa di sana.

“Pertama kali tinggal di luar negri memang menjadi sangat menantang, karena kita akan dipaksa untuk belajar budaya dan berkomunikasi dengan gaya bahasa mereka. Saya sangat beruntung memiliki orang tua yang sangat mendukung dan beberapa teman disana yang sangat membantu saya cepat beradaptasi.”, kisahnya.

Setelah menamatkan SMP di Singapura, Emir pindah ke Malaysia untuk melanjutkan pendidikan SMA. Emir mengaku budaya di Singapura dan Malaysia memang cukup berbeda tapi tidak jauh dari budaya di Indonesia.

“Saat bersekolah di Malaysia saya kembali belajar lagi budaya dan bahasa mereka. Walaupun bahasa mereka cukup mirip dengan bahasa Indonesia tapi saya lebih memilih untuk tetap menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi. Saya rasa budaya Malaysia tidak begitu berbeda dengan Indonesia.”, imbuhnya lagi.

Emir melanjutkan studinya untuk kuliah di Kanada, dengan mengambil jurusan marketing di University of British Columbia. Menurutnya kuliah di Kanada adalah pengalaman terbaiknya dalam belajar di negara lain karena di Kanada budaya yang ada jauh berbeda.

“Di Kanada benar-benar terasa cultural shock-nya, budaya di Indonesia, Singapura dan Malaysia cenderung tidak terlalu jauh. Sedangkan di Kanada sangat berbeda baik dari cara berbicara, kebiasaan, dan kepercayaan. Di Kanada masyarakatnya cenderung sangat kritis dan open minded, tapi sangat respectful. Namun juga tidak mudah mendapatkan teman, sehingga adaptasi saya memang cukup lama.”, ceritanya lagi.

Emir mengakhiri diskusi dengan memberikan wejangan kepada para mahasiswa yang hadir. “Pada akhirnya dimanapun negara yang menjadi tempat belajar kita pasti menghadapi cultural shock, jauh dari orang-orang dekat ke sebuah tempat yang kita tidak di kenal akan menjadi tantangan dan pengalaman yang sangat menarik. Jadi tetaplah ramah dan terus berusaha beradaptasi dan mendapatkan teman-teman antar negara akan menjadi pengalaman yang tidak mungkin dilupakan.” tutup Emir. (MH/ESP)