Berbisnis menjadi pilihan orang-orang sebagai pekerjaan tetap maupun pekerjaan sampingan. Namun belum banyak yang tahu bagaimana untuk memulai bisnis yang baik dan benar. Hal tersebut dibahas tuntas dalam kajian kewirausahaan yang diadakan  oleh Lembaga Dakwah FTI UII CENTRIS bersama dengan Lembaga Dakwah Keagamaan Al-Fath UII pada Sabtu (24/10). Acara ini menghadirkan narasumber Dr. Taufiq Immawan, MM, dosen Teknik Industri UII sekaligus owner CV. Pakis Jaya. Narasumber kedua Muhammad Farij merupakan CEO bisnis katering dan aqiqah Al-Kautsar.

Taufiq mengawali ulasannya dengan menggarisbawahi pentingnya menguasai ilmu sebelum berbisnis. Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa untuk sukses di dunia harus punya ilmunya, begitupun untuk sukses di akhirat harus punya ilmunya, untuk sukses keduanya juga harus punya ilmunya.

“Memulai bisnis sebaiknya juga dari bisnis kecil agar dapat tumbuh dengan berbagai kondisi karena sesuatu yang dimulai dari kecil akan kokoh, tangguh, dan detail juga akan lebih baik. Tapi kalo langsung besar maka tidak akan sebaik jika dimulai dari kecil”, imbuhnya.

Sebab terkadang pebisnis yang mendapat warisan bisnis orang tua mungkin secara finansial bisa menyesuaikan tetapi secara manajerial belum tentu bisa beradaptasi dengan hal yang ada. Manajerial adalah skill bagaimana mengelola seluruh elemen yang ada di dalam bisnis.

Selain itu, sesuatu yang dibuat secara instan maka akarnya tidak akan kuat dan kalau mulai dari kecil bisa belajar dari segala proses. Biasanya kalau langsung besar jadinya pegawai bukan pengusaha. Mulai dari kecil kemudian melakukan percepatan dan bukan hanya kecil terus dalam menjalankan bisnisnya. Semua yang ada dalam hidup harus diniatkan untuk belajar dan dalam proses ibadah.

“Industri yang lestari atau berkesinambungan juga selalu memikirkan manusia, keuntungan, dan lingkungan. Berbisnis secara syar’i akan bermanfaat juga bagi orang sekitar dan mencari keberkahan yang seluasnya, “ tegasnya.

Ia juga menyebut bahwa berbisnis dapat memperbaiki kondisi finansial diri sendiri dan orang-orang sekitar. Sembilan dari sepuluh pintu rezeki berasal dari bisnis atau berdagang. “Memulai wirausaha dilandasi dari hobi, motivasi diri yang kuat, lingkungan, kelangkaan lapangan kerja, ataupun kena PHK. Pebisnis sebaiknya memiliki jiwa kepemimpinan, berani ambil resiko, orientasi tugas dan hasil, percaya diri, orientasi masa depan, bosan pada rutinitas, kreatif dan inovatif”, tukasnya.

Amanah Adalah Kunci

Sementara itu, Muhammad Farij menyampaikan dimensi spiritual dalam bisnis harus terus dibangun. Berbisnis tidak hanya mencari keuntungan saja. Ia berpesan dalam berbisnis agar mengerjakan pesanan client dengan sungguh-sungguh. “L untuk Lillah dengan niat ibadah karena Allah SWT. K Kaffah atau fokus. A Al-Tahadiy atau antusias. U Uswah Hasanah dengan saling mengingatkan sholat tepat waktu berjama’ah. TS Tsaqofah yakni dengan pandangan keilmuan dan pemahaman yang baik. AR Arrahman Arrahim yakni sifat-sifat Allah SWT yang artinya maha pengasih dan maha penyayang”, tuturnya.

Bisnis Katering Al-Kautsar dimulainya dari kecil dengan memasak menggunakan kayu. Permulaan yang penting jalan dulu kemudian membangun mental hingga bisa konsisten membentuk arus kas. Setelah berjalan, ia mulai memperbaiki dapur dan  memasak menggunakan kompor. Pemasaran pun lewat website daripada mendatangi rumah-rumah satu per satu.

Tahap bertumbuh ditandai dengan memperkuat pemasaran melalui website, gudang diperbaiki, dapur ditata kembali, sudah mempunyai tim, dan sudah mempunyai sertifikasi dari pemerintah. Hingga sekarang melanjutkan sistem digitalisasi dan mengembangkan ke titik-titik nasional agar memperoleh manfaat yang lebih besar. (HN/ESP)