Pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai telah memunculkan beragam wacana publik, salah satunya adalah dalam bentuk teori-teori konspirasi. Banyak orang yang bertanya apakah pandemi Covid-19 ini merupakan salah satu azab dari Allah, atau memang sebuah musibah. Pernyataan ini menjadi topik dalam Kajian Ulil Albab Ramadan 1441 H bertemakan Wabah Covid-19, Antara Ujian atau Azab dalam Perspektif Medis dan Agama.

Kajian yang digelar melalui aplikasi zoom dan kanal youtube Direktorat Pendidikan dan Pembinaan Agama Islam (DPPAI) UII pada Senin (11/5) menhadirkan pembicara Dosen Fakultas Kedokteran UII, dr. Saifudin Ali Ahmad, M.Sc.

Saifudin Ali Ahmad mengemukakan tafsir Al Quran Surah Ar-Rum ayat 41, disebutkan perbedaan yang mendasar di antara bala atau azab, yaitu bala merupakan kebaikan yang datang dari Allah dengan tujuan untuk menguji manusia dan meninggikan derajatnya. Sedangkan musibah merupakan hal yang datang akibat ulah perbuatan manusia itu sendiri.

Saifudin Ali Ahmad melanjutkan, bahwa cara yang diajarkan oleh Al Quran untuk keluar dari wabah ini ialah kembali ke jalan yang benar. Apabila sebelumnya kita sering meninggalkan sholat, maka cara untuk keluar dari wabah ini ialah memperbaiki diri dengan mendirikan sholat.

Wacana publik yang menimbulkan pertanyaan “Apakah wabah covid-19 merupakan azab atau musibah?” Saifudin Ali Ahmad menjawab bahwa semuanya bergantung pada perspektif kita. “Sebaiknya kita senantiasa mengoreksi amal kita, apakah sudah baik semuanya? Apabila dirasa amalan kita masih kurang, pandemi ini seharusnya menjadi waktu yang tepat untuk memperbaiki amalan kita. Hal ini dapat dilakukan dengan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah Swt. dan menjauhkan setiap larangannya. Semua kejadian yang ada di muka bumi, tidak terkecuali wabah covid-19 ini.

Oleh sebab itulah menurut Saifudin Ali Ahmad sebagai manusia yang beriman, kita dianjurkan untuk ikhlas dan sabar dalam menghadapi kondisi ini. Karena segala sesuatu yang datangnya dari Allah pasti membawa suatu pesan bagi kita, apabila kita dapat bersabar maka pesan itu akan sampai kepada kita.

Saifudin Ali Ahmad menambahkan, bahwa kesabaran juga dapat menjadikan tolak ukur keimanan kita karena sesungguhnya Allah sedang menguji kekuatan iman kita. Apabila kita sabar, bahkan di kondisi yang sulit sekalipun, maka insyaAllah itu merupakan salah satu ukuran kuatnya iman kita sebagai umat muslim.

Wabah covid-19 secara medis telah tergolong sebagai pandemi, karena telah menginfeksi ke hampir seluruh negara di dunia dan semua orang beresiko tertular. Apabila dilihat dari pola transmisinya, pencegahan yang paling krusial adalah dengan menerapkan penggunaan masker setiap keluar rumah dan berjaga jarak dengan orang lain.

Dijelaskan Saifudin Ali Ahmad, salah satu perkara yang harus kita amalkan dalam menghadapi pandemi telah tertulis dalam suatu hadist yang artinya, Nabi Muhammad pernah bersabda bahwa “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari).

“Hadist ini mengajarkan kita untuk senantiasa berdiam diri di rumah untuk menghindari terserang wabah. Hal ini pun juga sudah dianjurkan oleh pemerintah Indonesia,” tandasnya. (VTR/RS)