,

Merenungi Hikmah Malam Nuzulul Quran

Nuzulul Qur’an adalah momentum pada hari ke-17 bulan Ramadan untuk memperingati turunnya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad saw. yang bertepatan pada Selasa (19/4). Habib Idrus Al-Jufri, Lc.M.Ba dari Ketua Umum Himpunan Da’i Muda Indonesia menjadi narasumber pada kajian Nuzulul Quran yang diselenggarakan oleh Masjid Ulil Albab Universitas Islam Indonesia. Kajian ini mengangkat topik Membangun Fondasi Generasi Qurani di Malam Turunnya Al-Qur’an dan disiarkan melalui zoom dan live youtube Masjid Kampus UII.

“Amal saleh kita itu memiliki nilai investasi di akhirat,” Ungkap Habib Idrus ketika menyampaikan pentingnya amalan bagi manusia terutama amalan pada bulan Ramadan. Adapun amalan tersebut dibagi menjadi tiga yaitu amalan yang manfaatnya hanya dirasakan ketika di dunia contohnya tidur, makan dan minum. Kedua amalan sholeh yaitu amalan jariyah yang dapat menjadi investasi di akhirat. Kemudian yang terakhir adalah amalan yang membawa kerugian dunia dan akhirat. 

Beliau menambahkan agar senantiasa memanfaatkan bulan suci Ramadan sebagai waktu yang tepat untuk memperbanyak amalan terutama amalan jariyah. Amalan ini akan terus berjalan ketika kita wafat, sehingga manfaatnya sangat besar. Contohnya adalah dengan membangun masjid, memiliki anak yang sholeh, mengajarkan ilmu dan lain-lain. 

Beramal saleh pada malam Nuzulul Quran adalah salah satu amalan yang baik. Namun melakukan amalan baik juga harus dilakukan pada malam-malam lainnya, terutama malam kemuliaan pada sepuluh hari akhir bulan Ramadan. “Al-Qur’an disebutkan turun ke langit dunia di malam ke-17 dan turun dari langit ke bumi pada malam Qadar.” jelas Habib Idrus. Sesuai dengan QS Dukhan ayat 3 bahwa malam diturunkannya Al-Qur’an adalah malam yang diberkahi.

Kemudian dalam QS Al-Qadar juga disebutkan bahwa Al-Qur’an turun pada malam Lailatul Qadar, yaitu malam ganjil pada sepuluh hari akhir bulan Ramadhan. Al-Qur’an diturunkan berangsur-angsur dalam kurun waktu 23 tahun yang dimulai sejak Rasulullah mendapat wahyu pertama.

Periodesasi turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad saw. ini memiliki hikmah yang besar. Di antaranya yaitu penguatan hati Rasulullah atas ejekan kafir Quraisy terhadap Al-Qur’an, memudahkan hafalan Rasulullah, bantahan atas tudingan kaum kafir, periodisasi atas syariat Allah secara berjenjang, dan sebagai bukti bahwa Al-Qur’an adalah mukjizat yang argumentatif.

Habib Idrus berpesan untuk prioritaskan amalan-amalan yang tidak ada di luar bulan suci Ramadan. Karena amalan tersebut terbatas dan memiliki pahala yang besar contohnya adalah sholat tarawih. 

Terakhir beliau menyampaikan jiwa  yang merasa tentram kepada Allah, rindu bertemu dengannya, merasa tenang dan menghibur diri dengan dekat kepadanya adalah jiwa yang muthmainnah. Allah menurunkan mukjizat terbesarnya pada bulan Ramadan yaitu Al-Qur’an untuk dibaca, ditadaburi dan diamalkan. Sebagaimana dalam hadits yang menyebutkan bahwa akhlak Rasulullah saw. adalah Al-Qur’an. (LY/ESP)