• Admisi
  • UII Gateway
  • Email
  • Kontak
  • Bahasa Indonesia
  • English
Universitas Islam Indonesia
  • PENDIDIKAN
    • Program Pendidikan
    • Penerimaan Mahasiswa Baru
    • Merdeka Belajar Kampus Merdeka
    • Informasi Beasiswa
    • Fasilitas Kampus
    • Jelajahi Yogyakarta
  • PENELITIAN
    • Pusat Studi & Laboratorium
    • Riset & Pengajaran
    • Portal Jurnal
    • Konferensi & Seminar
  • PENGABDIAN
    • Pengabdian & Dakwah
    • Lingkungan & Keberlanjutan
    • Simpul Tumbuh
    • Donasi UIIPeduli
  • INTERNASIONAL
    • International Admission
    • Kantor Urusan Internasional
    • Mobilitas Internasional
    • Program Gelar Ganda
    • Erasmus+ CBHE di UII
  • LAYANAN
    • Mahasiswa
    • Alumni
    • Kemitraan
    • Publik & Rekan Media
    • Paten & Hak Cipta
  • PROFIL
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu
You are here: Home1 / Berita Kegiatan2 / Muhasabah Akhir Tahun Sebagai Upaya Penyucian Jiwa
Berita Kegiatan

Muhasabah Akhir Tahun Sebagai Upaya Penyucian Jiwa

Menjelang pergantian tahun, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) Universitas Islam Indonesia (UII) bersama Direktorat Pendidikan dan Pembinaan Agama Islam (DPPAI) dan Takmir Masjid Ulil Albab menggelar pengajian akbar ‘Muhasabah Akhir Tahun Sebagai Upaya Penyucian Jiwa’ pada Jum’at, (20/12) di Masjid Ulil Albab, Kampus Terpadu UII.

Refleksi diri biasanya lebih mudah di waktu malam hari, Karena malam biasanya identik dengan sifat feminis, sedangkan siang terdapat sifat maskulin. Ungkap Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A. membuka kajian.

Nasaruddin menerangkan bahwa keterkatian sifat tersebut timbul berdasarkan jenis aktivitas. “Siang hari orang memiliki aktivitas yang tinggi, menguras tenaga dan sebagainya, namun di malam hari, aktivitasnya biasanya adalah istirahat dan relaksasi. Maka dari itu waktu malam lebih dekat dengan aktivitas refleksi,” tutur Nasaruddin.

Mengutip ayat pertama surah Al-Qadr yang artinya ‘Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam qadar’, Nasaruddin menyebutkan bahwa banyak peristiwa sakral yang terjadi pada malam hari seperti turunnya Al-Qur’an pada malam lailatul qadr, dan pelantikan Nabi Muhammad menjadi Rasul.

Nasarrudin juga menjelaskan bahwa kata ‘Al-Lail’ dapat juga bermakna kerinduan, kehangatan, ataupun kesejukan. “Kecerdasan emosional dan spiritual justru lebih mudah timbul pada malam hari karena mudahnya keheningan tercipta,” paparnya.

Langkah awal refleksi adalah memutuskan untuk bertaubat. “Taubat sendiri berarti kembali. Kembali kepada apa? kepada Shirat al-Mustaqim (jalan yang lurus),” tutur Nasaruddin mengutip salah satu frasa pada surah Al-Fatihah.

Ia mengungkapkan setidaknya taubat adalah upaya untuk kembali ke standar utama dalam membersihkan diri. Lebih lanjut Nasaruddin mengkaji ulang kebiasaan yang kerap dilakukan Rasulullah SAW. yakni berdo’a dan bertaubat.

“Beliau (Rasulullah) seringkali berdo’a dan bertaubat bukan karena terbebas dari dosa, tetapi karena taubat adalah bentuk kerinduan pada Allah SWT. Jadi jangan takut (untuk kembali),” pesannya.

Dalam proses refleksi diri dan bertaubat, acap kali menimbulkan ingatan tentang apa yang telah diperbuat. Nasaruddin mengajak jamaah yang hadir untuk senantiasa bersyukur. “Ada dua tingkatannya. Yang pertama syukur yang mensyukuri segala nikmat Allah SWT. yang telah diperoleh. Sedangkan yang kedua adalah syakur, mensyukuri apa yang datang dari Allah SWT. termasuk musibah, sehingga tidak ada kecurigaan terhadap-Nya,” jelas Nasaruddin.

“Oleh karena itu, biasanya dia (orang yang ada pada tingkatan syakkur) adalah orang yang sabar, ia tidak dengan sengaja melakukannya, tapi sudah menjadi kebiasaan untuk senantiasa bersabar,” imbuhnya.

“Biasanya do’a kita berkualitas pada saat berada pada zona nyaman atau zona sulit,” tanya Nasaruddin di hdapan jamaah yang memadati Masjid Ulil Albab malam itu. “Terkadang zona nyaman dan kenikmatan bisa begitu membutakan. Kita lupa untuk bersyukur dan tetap berdoa di kala zona nyaman maupun zona sulit dengan kualitas do’a yang sama baiknya,” tuturnya.

Terakhir Nasarrudin berharap segenap jamaah yang hadir dapat ’naik kelas’ melalui muhasabah dan refleksi diri. “Mari kita (dengan upaya) fullpower menyambut 2020,” tutur Nasaruddin menutup kajian dan dilanjutkan dengan do’a bersama. (IG/RS)

28 Desember 2019
Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Share on WhatsApp
  • Share on LinkedIn
  • Share by Mail
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2019/12/Muhasabah-Akhir-Tahun-Sebagai-Upaya-Penyucian-Jiwa.jpg 450 799 humas https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII-Kuning.png humas2019-12-28 05:46:432019-12-28 05:46:43Muhasabah Akhir Tahun Sebagai Upaya Penyucian Jiwa

Berita Terakhir

  • UII Sambut 22 Mahasiswa Internasional dalam Program P2A UIISAGE BRIDGE 2026
  • Perkuat Kolaborasi Internasional dan Kebudayaan, Program Studi Farmasi UII Gelar Pembukaan G-PICE 2026
  • Universitas Mohammad Natsir Pelajari Sistem Pendidikan Pondok Pesantren UII melalui Kunjungan Studi Tiru
  • CILACS UII Terima Studi Banding UPT Bahasa Universitas Negeri Padang
  • UII dan Unhan RI Perkuat Sinergi, Bahas Isu Maritim hingga Diplomasi Pertahanan

Gedung GBPH Prabuningrat (Rektorat)
Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia
Jl. Kaliurang km. 14,5 Sleman, Yogyakarta 55584 Indonesia

Telepon: +62 274 898444
Faks: +62 274 898459
Email: info[at]uii.ac.id

Akreditasi Institusi Unggul. Universitas Islam Indonesia telah mendapatkan Akreditasi Institusi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tahun 2022.

© Hak Cipta 2025 - Universitas Islam Indonesia - Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia | Pengelolaan Situs Web | Pernyataan Sangkalan | Tampilan Lama | Konten terakhir dimutakhirkan 25 Januari 2024
Link to: Memulai Membaca dari yang Sederhana Link to: Memulai Membaca dari yang Sederhana Memulai Membaca dari yang Sederhana Link to: Meneladani Abdul Kahar Muzakkir Melalui Film Dokumenter Link to: Meneladani Abdul Kahar Muzakkir Melalui Film Dokumenter Meneladani Abdul Kahar Muzakkir Melalui Film Dokumenter Scroll to top Scroll to top Scroll to top