Sama halnya seperti warga di belahan dunia yang lain, muslim Rohingya juga tak lepas dari potensi terkena dampak pandemi Covid-19 di tengah kurangnya fasilitas yang tersedia di kamp pengungsian Cox’s Bazar, Bangladesh. Hal ini diungkapkan oleh Dr. Abdullah Mamun Chowdhury, Associate Professor. Chairman Department of International Relations Rajshahi University, Bangladesh, mengawali Webinar Talk Series bertajuk Refugee and Pandemic: Rohingya Refugess in Bangladesh as Case Study yang diselenggarakan oleh Program Studi Hubungan Internasional Universitas Islam Indonesia (UII), pada Selasa (5/5) secara daring.

Abdullah menuturkan bahwa hingga saat ini, di tahun 2020, jumlah pengungsi yang tersebar di seluruh negara lebih dari dua puluh lima juta jiwa. “Rohingya berada di urutan keempat sebagai pengungsi terluas di dalam tabel demografi yang tinggal di kamp yang berbeda-beda di kota Cox’s Bazaar, Bangladesh,” jelasnya.

Lebih jauh, Abdullah menarik mundur kisah Muslim Rohingya bahwa mulanya mereka yang bertahan saat ini adalah mereka yang berhasil kabur dari pembantaian yang terjadi akibat konflik di Myanmar pada 2017 lalu. “Sebelum pembantaian terjadi, jumlah muslim Rohingya mencapai satu juta tiga ratus jiwa,” tuturnya sembari memperlihatkan beberapa foto dampak konflik.

Bangladesh adalah harapan bagi enam ratus ribu jiwa Muslim Rohingya yang saat itu berhasil kabur dari Konflik Myanmar Oktober 2017 lalu. “Tapi apakah Bangladesh mampu menampung pengungsi dengan jumlah jiwa yang banyak? Bagaimana cara mencukupi kebutuhan makanan, sanitasi, dan layanan kesehatan? Apa dampak ekonominya bagi Bangladesh?,” ungkap Abdullah.

Abdullah memaparkan, bersama dengan bantuan UNHCR, masyarakat, dan sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), pemerintah Bangladesh mulai membangun kamp pengungsian. Seiring berjalannya perkembangan bantuan yang ditawarkan Bangladesh dan elemen masyarakat dunia kepada Muslim Rohingya, pada 2018 tercatat jumlah Muslim Rohingnya meningkat hingga satu juta seratus jiwa.

“Kebanyakan dari mereka adalah perempuan dan anak-anak, walaupun mereka sempat mengalami kekerasan seksual. Kurang lebih ada dua puluh persen dari mereka yang hamil,” jelasnya.

Lalu bagaimana Muslim Rohingya menghadapi pandemi Covid-19? “Semua kegiatan keagamaan apapun di seluruh negara di dunia dibatasi guna menghindari Covid-19. Saya sebut virus sekuler karena virus ini tidak memiliki belas kasihan pada agama apapun,” ungkapnya.

Mengejutkan bahwa di Kamp pengungsian Muslim Rohingya, tidak ada yang tercatat positif Covid-19. Abdullah mengatakan, selama Pandemi Covid-19 ini, semua kegiatan bantuan yang disalurkan untuk Muslim Rohingya dikelola oleh pemerintah dan masyarakat dan LSM. Dan terkhusus untuk menghadapi wabah ini, ada beberapa langkah yang diberlakukan pemerintah Bangladesh.

“Pertama adalah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di area kamp pengungsian, Pembatasan masuk dan keluar, memersiapkan rumah sakit, pelayanan kesehatan dan ruang isolasi, melatih relawan dan LSM, dan pembatasan gerakan di kamp pengungsian,” jelasnya.

“Bangladesh melakukan yang terbaik. Mereka menunjukan kemanusiaan dengan segenap kekurangannya,” puji Abdullah. (IG/RS)