Pondok Pesantren Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar seminar dalam rangka Hari Santri Nasional. Seminar dengan tema “Peran UII dalam Dakwah Islam di Indonesia” yang digelar daring pada Sabtu (24/10) dihadiri 253 orang dari berbagai kalangan.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Keagamaan & Alumni UII, Dr. Drs. Rohidin, M.Ag. menyatakan bahwa memahami visi misi dan upaya yang dilakukan UII akan terasa kurang dipahami jika tidak mengerti sejarah berdirinya. Ia manyampaikan bahwa UII, yang pada mulanya bernama Sekolah Tinggi Islam, terbentuk oleh kesadaran para elite politik dan agamawan dalam berupaya melepas diri dari cengkraman penjajah.

“Moh. Hatta (salah satu pendiri UII) pernah berpesan di Sekolah Tinggi Islam ini akan bertemu agama dengan ilmu dalam kerjasama yang baik untuk membantu peningkatan kesejahteraan masyarakat. Inilah menjadi amanah terbesar bagi penerusnya,” jelasnya.

Rohidin menjelaskan bahwa UII tidak hanya mengajarkan ilmu melainkan juga agama yang perlu dipahami dan diamalkan dengan mendakwahkannya kepada masyarakat luas. Ia menyebut mahasiswa UII merupakan insan Ulil Albab yang memiliki empat tugas besar, yakni kepemimpinan profetik, berkepribadian islami, berketerampilan transformasi, dan berpengetahuan integratif.

“Di manapun, kapanpun, sebagai apapun, jadilah duta atau calon duta UII yang Rahmatan Lil’alamin. Jangan berhenti belajar, berkarya, berkontribusi, berbagi, dan teruslah menginspirasi,” pesan Rohidin.

Di sisi lain, Rohidin menjelaskan makna Ulil Albab sendiri telah tercantum dalam firman Allah QS. Ali-Imran ayat 190 dan 191. Dalam kedua ayat tersebut terbagi menjadi tiga karakter insan Ulil Albab yakni totality, fikr-dhikr, dan purposeful. Totality berarti berdiri, duduk, berbaring, dan tidak pernah berhenti untuk gerak dalam semua ragam dan derajat aktivitas.

Selanjutnya Fikr-dhikr berarti penciptaan langit dan bumi serta pergantian siang dan malam. Insan Ulil Albab selaku berpikir, berdzikir, dan mengingat-ingat segala hal yang statis dan dinamis. Terakhir, purposeful maksudnya Engkau tak ciptajan ini dengan sia-sia. Sebagai insan Ulil Albab harus terus memahami ciptaan Allah dan mengambil hikmah dari ciptaannya.

Di akhir paparannya, Rohidin menyampaikan harapan agar Pondok Pesantren UII menjadi salah satu bagian yang menjalankan amanah dari para pendiri UII. Ia juga menyampaikan selama ini komitmen yang dilakukan UII adalah pelaksana gerakan dakwah, sarana dan prasarana dakwah, serta memberikan kebijakan mutu dakwah.

“Menurut Syaikh Ali Mahfudz, dakwah adalah mendorong manusia untuk melaksanakan kebaikan dan mengikuti petunjuk serta memerintahkan berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari berbuat yang munkar agar mereka mendapatkan kebahagiaan di dunia maupun akhirat,” tutup Rohidin.

Sementara Direktur Pondok Pesantren UII, Dr. Asmuni, M.A. menyebut tanggungjawab UII dalam tiga konteks, yakni kebangsaan, keumatan, dan keilmuan. “Dari ketiga konteks itu yang terbesar adalah keumatan dan kebangsaan yang digabungkan dalam keilmuan. Oleh sebab itu dalam melakukan dakwah UII merumuskan dengan Rahmatan Lil Alamin dan Muslim Ulil Albab,” tuturnya.

Dalam penyelenggaraan seminar dalam rangka Hari Santri Nasional ini, diawali dengan penyampaian enam besar finalis lomba yang diadakan oleh Moslem Youth Competition (MYC). Ketua MYC, Muhammad Farchan Juliansyah menyatakan tahun 2020 menjadi tahun ketiga pelaksanaan MYC UII. Lomba yang diadakan terdiri atas lomba fotografi, video, essay, desain poster, dan tiktok. Harapannya IMC menjadi wadah untuk memaksimalkan potensi dan kemampuan diri.

Pengasuh Pondok Pesantren Putri UII, Ustadz Fuat Hasanudin Lc., M.A. menuturkan bahwa kompetisi tidak selalu berkaitan dengan menang atau kalah. Namun setiap orang yang berani mengikuti kompetisi sejatinya ia telah menjadi pemenang. Selain itu, ia juga mengingatkan agar berhati-hati dalam menghadapi arus informasi di zaman sekarang. Lalu di masa pandemi diperlukan juga persiapan diri untuk menghadapi pembelajaran jarak jauh. “Jangan sampai seperti di berita yang viral, seseorang melakukan tindakan tertentu akibat frustasi belajar online,” tambahnya. (SF/RS)