Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (FK UII) menyelenggarakan seminar online pengabdian masyarakat ke-8 bertema “Vitamin D dan Kesehatan Kulit” pada Sabtu (4/9). Seminar ini dilatarbelakangi perubahan perilaku masyarakat pasca pandemi. Masyarakat mengkonsumsi berbagai suplemen yang dianggap dapat meningkatkan imunitas, tak terkecuali vitamin D.

Tentunya banyak masyarakat mempertanyakan perlukah kita sebagai warga negara Indonesia yang tropis dengan sinar matahari sepanjang tahun untuk mengkonsumsi suplemen tambahan vitamin D dan apa saja efeknya terhadap kesehatan kulit.

Vitamin D merupakan salah satu unsur penting dalam tubuh yang perlu diaktifkan oleh sinar matahari. Dr. dr. Betty Ekawati Suryaningsih, Sp. KK menjelaskan sumber vitamin D selain dari sinar matahari bisa berasal dari diet makanan seperti kuning telur, salmon, mackerel, dan hati. Terakhir kita bisa memperolehnya melalui suplemen.

Sinar ultraviolet ada berbagai jenis yaitu UVA, UVB, dan UVC. Sinar UVB sanggup menembus sampai lapisan epidermis, sedangkan UVA mampu terserap ke lapisan yang lebih dalam biasanya sebagai penyebab penuaan dini. 

Ia menambahkan proses penyerapan vitamin D ke dalam kulit manusia. Diawali saat kandungan UV dari sinar matahari terkena kulit, vitamin D3 (cholecalciferol) akan terbentuk dalam jumlah yang besar. Vitamin D3 ini adalah bentuk awal dari vitamin D yang akan langsung dikirim ke organ hati dan ginjal untuk menghasilkan vitamin D yang dibutuhkan oleh tubuh.

Membicarakan mengenai kesehatan kulit, vitamin D dapat berperan sebagai antioksidan yang dapat melindungi kulit dari penuaan dini. Selain itu juga bisa menurunkan risiko terkena penyakit pembuluh dan jantung karena dapat meningkatkan fleksibilitas pembuluh darah.

“Khususnya saat pandemi Covid-19, peran vitamin D yang sangat kita butuhkan adalah peran penyerapan kalsium yang dapat meningkatkan daya tahan imun dan memperbaiki sistem imun,” jelasnya.

Kekurangan vitamin D dapat menimbulkan rambut rontok. Gejala lainnya adalah kulit kering, jerawat, infeksi. Akibat yang lebih parah adalah munculnya kanker kulit.

“Kebutuhan vitamin D sehari-hari 600-700 IU perhari, untuk lanjut usia 800 IU, sedangkan untuk pasien Covid-19 5.000 IU,” pesan dr. Betty.

Senada dengan penjelasan dr. Betty, dr. Edi Fitrianto, M. Gizi menyampaikan pentingnya vitamin D. Kekurangan vitamin D seringkali tidak bergejala atau bergejala yang biasanya kurang bisa dipahami oleh masyarakat umum seperti mudah sakit, gangguan mood, sesak nafas, dan kejang.

Edy menjelaskan jika salah satu fungsi vitamin D adalah membentuk dan menjaga kesehatan tulang. Apabila jumlah vitamin D dalam tubuh rendah, maka penyerapan kalsium pun akan berkurang. Akibatnya terjadi pengeroposan tulang, utamanya pada wanita yang menopause. Hal itu merupakan alasan dosis pada orang lanjut usia lebih tinggi dari dewasa biasa. (UAH/ESP)