Bercanda atau bergurau adalah salah satu bentuk komunikasi dalam pergaulan sehari-hari. Bahkan kini dikenal istilah prank sebagai bentuk lain candaan yang tujuannya menjahili target prank. Meski kerap dipakai untuk mencairkan suasana atau menghibur teman bicara, namun ada tata krama bercanda yang perlu dicatat. Bercanda juga harus memiliki batas dan aturan agar tidak menjadi suatu hal yang menyalahi agama. Adab dalam bercanda yang pertama adalah bijak dalam memilih waktu kapan dibolehkan untuk bercanda dan kapan dilarang untuk bercanda.

Demikian disampaikan Ustadz Abu Abdirrahman, MPi. dalam sesi kajian akhlak yang diadakan oleh Takmir Masjid Ulil Albab UII lewat live Instagram pada Rabu (3/3). Kajian ini bertujuan memberikan jawaban tentang apa saja adab dalam bercanda.

“Bercanda diperlukan untuk memperbaiki hubungan antar manusia, namun saat sedang dalam situasi yang serius misalnya berduka atau sedang dalam kajian, maka tidak boleh bercanda,” terang Ustadz Abu.

Kemudian hal penting lainnya yang harus diperhatikan dalam bercanda adalah mengenali posisi dan kedudukan dari lawan bicara. Tentu saja ada perbedaan saat kita sedang bercanda dengan orang yang lebih tua dan dengan teman sebaya, Islam juga mengatur hal tersebut. “Bercanda dengan orang tua, ulama dan orang yang kedudukannya lebih tinggi tidak boleh disamakan saat bercanda dengan teman sebaya untuk menjaga kewibawaan diri,” imbuh Ustadz Abu.

Ia juga menyarankan agar dalam bercanda memahami batas frekuensinya. Karena terlalu banyak bercanda menurutnya dapat mengakibatkan hati menjadi mati dan sensitivitas terhadap kondisi lingkungan berkurang. Ustadz Abu menegaskan, “serius adalah sifat orang beriman, sedangkan bercanda itu hanya untuk selingan dan menghilangkan  kegusaran.”

Selanjutnya, dalam bercanda juga terdapat hal-hal yang perlu dihindari. Yang pertama adalah berdusta. Kemudian membicarakan keburukan orang lain, karena hal ini sangat dibenci Allah. “Membercandakan apa yang ada pada saudaramu, baik fisik maupun perbuatannya adalah suatu perbuatan yang harus dihindari karena dibenci Allah,” pesannya.

Lalu istilah prank atau bercanda dengan menjahili orang lain secara berlebihan juga sebaiknya dihindari, karena bisa saja menimbulkan ketakutan bahkan bisa berujung permusuhan. Larangan yang selanjutnya adalah mengolok-olok atau merendahkan orang lain. “Jangan pernah sekali-kali mengolok olok orang lain, karena kita tidak tahu seperti apa orang tersebut, bisa jadi jauh lebih baik dari kita,” ucap Ustadz Abu.

Yang terakhir adalah yang paling dibenci oleh Allah, yaitu bercanda yang mengolok-olok agama. Membicarakan Allah dan Rasul tidak boleh menjadi bahan candaan. Perbuatan tersebut bisa jadi termasuk menistakan agama. “Dalam bercanda harus memilih diksi dan kata-kata yang baik agar tidak ada yang tersakiti atas candaan kita. Jika kita bercanda sesuai aturan agama maka bercandaan kita akan menjadi pahala dan sebaliknya jika menyalahi agama maka akan menjadi dosa,” tutup Ustadz Abu. (AWP/ESP)