• Admisi
  • UII Gateway
  • Email
  • Kontak
  • Bahasa Indonesia
  • English
Universitas Islam Indonesia
  • PENDIDIKAN
    • Program Pendidikan
    • Penerimaan Mahasiswa Baru
    • Merdeka Belajar Kampus Merdeka
    • Informasi Beasiswa
    • Fasilitas Kampus
    • Jelajahi Yogyakarta
  • PENELITIAN
    • Pusat Studi & Laboratorium
    • Riset & Pengajaran
    • Portal Jurnal
    • Konferensi & Seminar
  • PENGABDIAN
    • Pengabdian & Dakwah
    • Lingkungan & Keberlanjutan
    • Simpul Tumbuh
    • Donasi UIIPeduli
  • INTERNASIONAL
    • International Admission
    • Kantor Urusan Internasional
    • Mobilitas Internasional
    • Program Gelar Ganda
    • Erasmus+ CBHE di UII
  • LAYANAN
    • Mahasiswa
    • Alumni
    • Kemitraan
    • Publik & Rekan Media
    • Paten & Hak Cipta
  • PROFIL
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu
You are here: Home1 / Pojok Rektor2 / Psikologi Islam untuk Kemanusiaan
Pojok Rektor

Psikologi Islam untuk Kemanusiaan

Sungguh suatu kehormatan besar bagi saya untuk menyambut Anda semua pembicara, tamu, dan peserta yang terhormat secara virtual ke Universitas Islam Indonesia untuk menghadiri The 4th International Intensive Course on Islamic Psychology (IICIP 2022).

IICIP 2022 menandai tahun keempatnya. Bagi saya, hal ini paling tidak menandakan dua hal.

Pertama, dedikasi yang konsisten dari orang-orang di belakang inisiatif, teman-teman kami dari Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia. Untuk itu, silakan bergabung dengan saya untuk menunjukkan rasa terima kasih kami kepada tim. Kami juga berterima kasih atas dukungan yang diberikan oleh universitas mitra kami dan The International Institute of Islamic Thought (IIIT) yang memungkinkan acara tahunan ini. Pada kesempatan ini, saya ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Dr. Habib Chirzin dari IIIT yang tanpa lelah memberikan semangat dan dukungan kepada kami.

Kedua, meningkatnya jumlah peserta dari berbagai negara mengirimkan pesan kepada kita bahwa komunitas pembelajaran di bidang psikologi Islam, semakin kuat. Ini salah satu dari banyak syarat bahwa suatu bidang dapat menjadi sub-disiplin atau disiplin yang lebih mapan.

 

Psikologi dan kemanusiaan

Saya senang mengetahui tema utama yang dibawakan oleh acara ini: Psikologi Islam untuk Kemanusiaan. Ini memang pilihan yang berani. Dari sudut pandang orang luar, seperti saya, saya dididik di bidang yang tidak terkait erat dengan psikologi: ilmu komputer dan sistem informasi, temanya sangat tepat waktu dan menunjukkan bahwa kita peka terhadap situasi saat ini, apa yang terjadi di sekitar kita.

Meskipun kita dapat mendiskusikan definisi kemanusiaan, tetapi secara umum, itu dapat merujuk pada dua entitas: orang dan karakternya. Untuk yang pertama, umat manusia adalah umat manusia, yang mencakup semua orang di bumi, manusia secara kolektif, dan untuk yang kedua, kemanusiaan mengacu pada kebajikan dan kualitas kita.

Karena itu, kami kemudian menempatkan kemanusiaan di jantung psikologi Islam. Bisa dikatakan, memang seharusnya begitu sejak awal. Tapi, bagi saya, ini bukan hanya tentang ide, ini tentang kesadaran baru, bahkan tentang gerakan kolektif untuk mengatasi berbagai masalah kemanusiaan.

 

Psikologi publik

Saat menyiapkan pidato singkat ini, seperti biasa, saya menantang diri sendiri untuk keluar dari batas imajiner disiplin dan mencoba mengakses literatur terkini di bidang psikologi.

Dan, kemudian, saya menemukan momen aha. Saya menemukan Monitor on Psychology (https://www.apa.org/monitor) edisi terbaru, sebuah majalah yang dipantau oleh American Psychological Association (APA). Sungguh suatu kebetulan yang diberkati. Di sampulnya tertulis huruf besar “Publicly Engaged Science“.

Isu ini mengingatkan saya pada undangan kepada akademisi yang dibuat oleh Van de Ven (2007) lebih dari satu dekade yang lalu, untuk menerima apa yang dia sebut kecendekiawanan yang membabit (engaged scholarship).

Apa yang muncul dalam majalah Monitor of Psychology, merupakan seruan bagi para psikolog untuk lebih memperhatikan masalah-masalah sosial, berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat. Psikologi publik mengadvokasi perubahan paradigma ke arah menempatkan masalah sosial di pusat penelitian psikologi.

Kemudian saya belajar dari artikel utama di majalah itu, bahwa pekerjaan psikologi publik dipandu oleh empat prinsip:

  1. Pemusatan masalah sosial sebagai penggerak utama kegiatan penelitian, pengajaran, dan pengabdian;
  2. Melibatkan publik yang beragam di setiap tahapan proses penelitian, mulai dari pengembangan hingga diseminasi;
  3. Mengkomunikasikan dan mendemokratisasi pengetahuan psikologis melalui percakapan dan kolaborasi dengan publik; dan bahkan
  4. Memikirkan kembali apa itu psikologi, termasuk kapan dan di mana pekerjaan psikologi terjadi.

Lalu, saya berpikir bagaimana menyelaraskan “pesan kemanusiaan” dengan gerakan ini. Kita tidak bisa menyelesaikan masalah dunia sendiri, kita harus bergandengan tangan dengan aktor lain. Jika psikologi Islam dapat menyebarkan dan memperkuat pesan penting kepada khalayak yang lebih luas, maka itu adalah kesempatan bagi psikologi Islam untuk berkontribusi secara signifikan dalam mengatasi isu-isu global yang relevan, termasuk ketidakadilan, ketimpangan, rasisme, dan diskriminasi yang menghantui masyarakat saat ini.

Inilah pertanyaan saya yang menggelitik: Bagaimana psikologi Islam dapat berkontribusi untuk menginspirasi, memimpin, dan memberikan solusi pelengkap atau alternatif untuk berbagai masalah yang dihadapi umat manusia.

Saya sepenuhnya sadar bahwa masalah ini berada di luar yurisdiksi disiplin saya. Oleh karena itu, saya harus meninggalkan ini untuk dibahas dengan baik dan fasih oleh komunitas pembelajaran di bidang psikologi Islam. Kita mungkin mulai dengan pertanyaan sederhana: apa yang bisa saya bantu?

Sebagai penutup, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada lembaga pendukung (IIIT, universitas dan lembaga mitra), pembicara, peserta, dan seluruh panitia penyelenggara.

Saya berharap Anda menemukan kursus intensif ini, bermanfaat secara pribadi, memperkaya secara sosial, relevan secara profesional, dan mencerahkan secara intelektual.

Referensi

Van de Ven, A. H. (2007). Engaged scholarship: A guide for organizational and social research. Oxford University Press.

Sambutan pada pembukaan The 4th International Intensive Course on Islamic Psychology (IICIP 2022) pada 5 November 2022, yang diterjemahkan dari versi bahasa Inggris.

6 Juli 2023
Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Share on WhatsApp
  • Share on LinkedIn
  • Share by Mail
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2023/07/Lampion.jpg 1314 2000 985230102 https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII-Kuning.png 9852301022023-07-06 19:13:382023-07-06 19:15:59Psikologi Islam untuk Kemanusiaan

Berita Terakhir

  • UII Luncurkan Fakultas Teknik Desain Inovasi, Perkuat Kolaborasi untuk Masa Depan Berkelanjutan
  • FIAI UII Gelar Diskusi Kajian Turats Bahas Implementasi Epistemologi Ulil Albab dalam Ilmu Sosial
  • UII Sambut 22 Mahasiswa Internasional dalam Program P2A UIISAGE BRIDGE 2026
  • UII Gelar Studium Generale Ungkap Akar Perilaku Menyimpang dalam Masyarakat
  • Perkuat Kolaborasi Internasional dan Kebudayaan, Program Studi Farmasi UII Gelar Pembukaan G-PICE 2026

Gedung GBPH Prabuningrat (Rektorat)
Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia
Jl. Kaliurang km. 14,5 Sleman, Yogyakarta 55584 Indonesia

Telepon: +62 274 898444
Faks: +62 274 898459
Email: info[at]uii.ac.id

Akreditasi Institusi Unggul. Universitas Islam Indonesia telah mendapatkan Akreditasi Institusi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tahun 2022.

© Hak Cipta 2025 - Universitas Islam Indonesia - Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia | Pengelolaan Situs Web | Pernyataan Sangkalan | Tampilan Lama | Konten terakhir dimutakhirkan 25 Januari 2024
Link to: Ikateksi UII Tekankan Pentingnya SKK Konstruksi Bagi Lulusan Link to: Ikateksi UII Tekankan Pentingnya SKK Konstruksi Bagi Lulusan Ikateksi UII Tekankan Pentingnya SKK Konstruksi Bagi Lulusan Link to: Pemilu Jadi Kunci Kualitas Demokrasi Link to: Pemilu Jadi Kunci Kualitas Demokrasi Pemilu Jadi Kunci Kualitas Demokrasi Scroll to top Scroll to top Scroll to top