Menjauhkan media sosial (medsos) dari keseharian warga Indonesia, ibarat memisahkan gula dengan manisnya. Sangat sulit. Menurut data Hootsuite pada awal 2019, medsos sudah menjadi bagian hidup 150 juta (atau 56%) warga bumi pertiwi, dan 130 juta di antaranya pengguna aktif medsos di perangkat bergerak. Indonesia merupakan salah satu rumah pengguna medsos terbesar sejagad.

Meski pada awalnya, setiap medsos didesain dengan karakter khusus, namun dalam perkembangannya, penggunaan kreatif tidak dapat dibatasi, sebagai konsekuensi tak terduga (unintended consequences). Karakter WhatsApp berbeda dengan Youtube atau Twitter. Medsos telah digunakan untuk beragam tujuan, termasuk untuk aktivitas bisnis, penggalangan politik, dan kanal dakwah. Tujuan ini mungkin tidak dipikirkan oleh desainernya.

Karenanya, ketika pemerintah membatasi akses terhadap medsos dalam beberapa hari terakhir, banyak pihak kelabakan. Tidak sedikit warga menghujat, banyak juga yang setuju; dengan catatan dan argumennya masing-masing. Mencapai sebuah titik kesepakatan dalam konteks ini, ibarat mendirikan benang basah. Hampir tidak mungkin.

Ada beberapa poin yang dapat didiskusikan di sini. Pertama, bagi kita, sulit untuk menutup mata dan telinga dari fakta bahwa dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan medsos di Indonesia sudah mengkhawatirkan. Pesan tanda bahaya, SOS, sudah layak dikirimkan.

Beragam informasi tidak akurat (hoaks) bertebaran. Sangat sulit bagi orang awam untuk membedakan antara informasi yang benar dan yang dipabrikasi. Pabrikasi informasi dapat dilakukan oleh siapapun: individu, organisasi, atau bahkan pemerintah. Kalangan terpelajar yang arogan dan malas melakukan verifikasi (tabayyun) pun, tidak jarang menjadi pelaku penyebaran hoaks. Apa dampaknya? Polarisasi dan segregasi sosial semakin akut. Jika ini dibiarkan dan bereskalasi, jangan kaget, jika energi bangsa ini bocor tak terkendali.

Kedua, mengapa pengguna medsos menyelewengkan potensi positifnya? Sebabnya beragam, seperti keterbatasan pengetahuan dan kepentingan sesat. Tidak jarang saya temukan, orang terpelajar penyebar hoaks hanya meminta maaf. Dia tidak sadar, bahwa hoaks yang sudah menyebar, laksana anak panah yang lepas dari busurnya. Tak seorang pun dapat mengendalikannya. Hoaks tersebut bisa jadi telah menghinakan orang, menebar kebencian, atau mengoyak kerukunan. Permohonan maaf tidak bisa mengoreksi dampak yang ditimbulkannya. Dia lupa bahwa medsos telah menjadi ruang publik.

Kepentingan pengguna medsos dapat lebih dahsyat daya selewengnya. Pabrikasi hoaks dapat diorkestrasi dan disebar dengan mudah.

Nampaknya pembaca sepakat, bahwa medsos sebagai sebuah artefak produk manusia, hadir dengan dua sisi: positif dan negatif. Jika digunakan dengan basis nilai-nilai abadi, seperti kejujuran dan kedamaian, medsos akan menghadirkan kebaikan. Tapi, pendulum bisa berbalik, jika penggunaan medsos didasarkan pada kepentingan yang mengabaikan maslahat. Kerusakanlah yang dihasilkannya.

Jadi sangat jelas, ibarat pisau, medsos tergantung dengan penggunanya. Bisa utnuk menolong orang di meja operasi atau justru menghabisinya.

Apakah keberadaan pisau dapat dipersalahkan? Di tangan orang dewasa yang bertanggung jawab, pisau dapat diperdayakan untuk kebaikan. Mereka dapat mengendalikannya, dan sadar bahwa pisau dapat melukai diri dan orang lain. Tetapi, misalnya, di satu sisi, apakah kita akan menyalahkan orang tua jika melarang anaknya yang masih kecil, memegang pisau? Ketiadaan pengetahuan dapat mengakibatkan luka, baik untuk dirinya maupun orang lain.

Di sisi lain, tindakan melarang orang dewasa memegang pisau atau menyembunyikannya, dengan alasan serupa untuk anak kecil, dapat dikatakan mengada-ada. Apalagi, ketika pisau tidak bisa ditemukan, banyak kegiatan positif tidak bisa dijalankan dengan baik, seperti menyiapkan makanan di dapur, mencari rumput untuk ternak, dan menyelamatkan nyawa orang di meja operasi. Karenanya, sulit menyalahkan jika sinyal SOS dikirimkan.

Pertanyaan lanjutannya: apakah pemegang pisau berperawakan dewasa dipastikan mempunyai kedewasan berpikir? Tidak mudah untuk mengambil kesimpulan. Gambaran fakta lampau, bisa menjadi rujukan, tapi harus tetap waspada: manusia mengidap penyakit bawaan: bias konfirmasi. Namun, apapun faktanya, orang dewasa yang diserupakan dengan anak kecil, tidak akan merasa nyaman.

Yang pasti, dalam menggunakan pisau, kedewasaaan berpikir harus dipastikan tetap hadir. Jika orang dewasa menyalahgunakan pisau, hukum siap memrosesnya, sesuai dengan kadar kenekatannya. Jika ini terjadi, sinyal SOS lain wajib dikirimkan.

Pisau itu bernama medsos.

Tulisan ini telah dimuat dalam Kolom Analisis Harian Kedaulatan Rakyat pada 25 Mei 2019.