Ini adalah tema yang aktual tetapi tidak ringan, karena siapapun yang saat ini terlibat dalam manajemen perguruan tinggi swasta (PTS) akan setuju dengan saya, bahwa pandemi Covid-19 telah membuat kita semua melakukan banyak hal untuk bertahan supaya tidak kehilangan keseimbangan. Tidak selalu mudah, tapi bukannya tidak mungkin.

Saya berharap, tulisan ini akan memantik diskusi lanjutan dan sekaligus ide-ide baru yang dimulai dengan memandang pandemi tidak hanya sebagai musibah yang diratapi, tetapi juga melihat sisi baiknya, sebagai momentum perubahan untuk menjemput masa depan yang lebih cerah.

Tradisi Barat terbiasa membingkai kabar dengan dua sisi: kabar buruk dan kabar baik. Lebih banyak orang yang menyukai kabar buruk disampaikan terlebih dahulu, sebelum kabar baik sebagai penutup. Urutan itu juga yang akhirnya menjadi rumus dalam percakapan sehari-hari.  Ini mirip dengan minum jamu tradisional pahitan yang ditutup dengan minuman manis. Mari kita ikuti kabar buruknya lebih awal.

 

Cerita Suram dari Lapangan

Kabar yang beredar di media massa tentang perguruan tinggi (PT) di banyak belahan dunia ketika pandemi Covid-19, didominasi cerita suram. Tidak hanya di negara berkembang, seperti Indonesia, terutama untuk perguran tinggi swasta (PTS)[1], tetapi juga di negara maju (Burki, 2020).

Di Australia, misalnya, PT yang selama ini mengandalkan mahasiswa internasional, mengalami dampak terburuk. Apa pasal? Di awal pandemi, sebagian besar mahasiswa internasional berpacu dengan waktu kembali ke negara asalnya[2] (lihat juga misalnya Burki [2020]). Selain itu, yang masih berada di Australia pun banyak yang mendapatkan pengalaman buruk, termasuk kehilangan pekerjaan, pengurangan frekuensi makan, sampai masalah tempat tinggal[3].

Cerita seperti ini mewarnai diskusi di kalangan PTS di Yogyakarta yang sebagian besar mahasiswanya adalah pendatang, dengan kekhawatiran jika kasus di Australia juga terjadi di sini.

Di Amerika, cerita serupa mudah ditemukan. Majalah The Economist dalam edisi daringnya di awal Agustus 2020 menuliskan bahwa pandemi Covid-19 dapat mendorong beberapa PT ke tepian jurang[4]. Model bisnis banyak PT juga dirasa sudah tidak sesuai dengan selera zaman. Serangan pandemi ini sangat mungkin merusak model bisnis ini untuk selamanya. Demikian ulas Majalah Time dalam satu satu artikelnya[5]. Kebijakan buka-tutup kampus, juga telah menurunkan cacah mahasiswa yang mendaftar.

Cerita dari belahan dunia lain dapat ditambahkan, meski tidak sulit menebak, bahwa sebagian besar membawa kisah suram serupa. Termasuk juga PT di Yogyakarta, dengan skalanya yang berbeda-beda.

Survei yang dilaksanakan oleh Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) Wilayah V Daerah Istimewa Yogyakarta pada awal Juli 2020, menunjukkan bahwa hanya 19,16% dari 51 PTS yang tidak mempunyai masalah finansial. Sisanya melakukan mitigasi dengan beragam cara, termasuk pemutusan hubungan kerja.

Selain itu, beberapa PTS sudah memotong gaji/tunjangan (23,7%) dan menunda pembayaran gaji/tunjangan (5,88%). Solusi lain yang diambil adalah penggunaan saldo/tabungan (35,29%), meminta bantuan ke badan penyelenggara/yayasan (27,45%), meminjam uang ke pihak ketiga seperti bank (5,88%), serta menjual aset (3,9%).  Angka-angka ini, paling tidak menunjukkan bahwa PTS di kala pandemi tidak sedang baik-baik saja.

 

Kejutan di Lapangan

Meski demikian, beberapa kejutan terjadi. Di Inggris, misalnya, di satu sisi, belasan PT dikhawatirkan tidak mampu bertahan ketika pandemi[6]. Tetapi, di sisi lain, cacah mahasiswa yang mendaftar PT secara keseluruhan pada 2020 justru meningkat[7].

Kasus serupa juga terjadi di Yogyakarta berdasar catatan anekdotal yang saya kumpulkan dari beberapa PTS di Yogyakarta. Cacah pendaftar justru melampaui angka serupa pada tahun-tahun sebelumnya. Tentu, untuk mendapatkan gambaran utuh, perlu dilakukan survei yang lebih menyeluruh.

Kabar baik ini tidak lantas menutup semua cerita suram yang ada. Tapi paling tidak, kabar baik ini mengindikasikan bahwa masih banyak harapan, dan PT dituntut untuk berbenah dan menyesuaikan model bisnis. Dorongan berbenah ini diperkuat dengan kekhawatiran terkait dengan kembalinya mahasiswa secara fisik ke kampus[8].

Catatan anekdotal lain yang saya dapatkan mengindikasikan bahwa jika pembelajaran daring dijalankan dengan baik, mahasiswa menilai kualitas pembelajaran daring (tatap-maya) serupa dengan pembelajaran tatap muka, bahkan di program studi sains yang mempunyai banyak matakuliah praktikum. Tentu ini merupakan kejutan yang selama ini menghiasi debat tanpa dukungan fakta dari lapangan, baik dari yang setuju ataupun yang skeptis dengan pembelajaran daring.

 

Kritik Model Bisnis Perguruan Tinggi

Beragam kritik telah dialamatkan kepada PT oleh banyak pengamat. Termasuk di antaranya adalah model bisnis PT yang diklaim sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman atau kedaluwarsa. Sebagian menulis bahwa model bisnis PT sudah bermasalah sejak sebelum pandemi Covid-19. Pandemi ini hanya memperparahnya saja[9].

Kritik terhadap model bisnis PT dapat kita kelompokkan ke dalam beberapa tingkatan: filosofis, metodologis, dan operasional. Dua yang pertama tidak terkait langsung dengan dampak pandemi Covid-19, tetapi pilihan yang tidak tepat dapat ikut memperparah dampaknya.

Mari kita ulas secara singkat satu per satu.

Pertama, secara filosofis[10], sudah sejak lama, PT dikritik karena seperti menara gading yang tercerabut dari konteksnya. Kritik ini tidak hanya terdengar di Indonesia, tetapi juga di negana lain, termasuk Amerika Serikat. Misalnya, Orcar Handlin, seorang profesor sejarah di Universitas Harvard “menantang” para cendekiawan di PT, dengan mengatakan:

“Alam semesta yang bermasalah tidak lagi dapat menanggung kemewahan pencarian yang terbatas pada menara gading … Kecendekiawanan harus membuktikan nilainya bukan dengan caranya sendiri, tetapi dengan melayani bangsa dan dunia.”[11]

Isu menara gading bukan hal baru di Indonesia. Ketika saya masih menjadi mahasiswa baru, sekitar 27 tahun lalu, isu ini menjadi salah satu bagian diskusi di hari-hari penataran P4. Meskipun demikian, isu ini masih saja relevan untuk konteks kini, ketika terjadi pergeseran orientasi PT. Sebagian PT masih berusaha setia dengan nilai-nilai ideologis yang ditanamkan sejak pendiriannya, namun kita sulit untuk menutup mata bahwa sebagian PT juga cukup kental dengan nuansa bisnisnya. Tentu, ini adalah pilihan sadar dan setiapnya bisa membimbing ke arah yang berbeda.

Terlepas dari itu, niat saya membawa isu ini adalah untuk membangunkan kita bahwa PT tidak boleh terlalu nyaman dengan dunianya dan lupa dengan konteks yang melingkupinya. Ungkapan ini juga valid untuk semua warganya, terutama pada dosen dalam menjalin hubungan dengan dunia nyata dan menjamin relevansi ilmu yang digeluti dan dikembangkannya.

Sensitivitas dosen terhadap masalah bangsa juga dapat dimasukkan dalam diskusi ini (lihat misalnya kritik Dhakidae [2003]). Lebih lanjut, isu ini dapat juga dikaitkan dengan diskursus kecendekiawanan yang membabit atau engaged scholarship (lihat misalnya Boyer [1996], van de Ven [2007], Perkmann dan Walsh [2008]).

Mengapa ini penting? Keberlanjutan PT tidak mungkin terlepas dari isu relevansi filosofisnya. Relevansi ini sangat penting untuk memberi energi yang cukup bagi ikhtiar kolektif warga kampus untuk terus bertumbuh. Selain itu, hukum alam sudah cukup mengajarkan kepada kita, bahwa hanya mereka yang dapat menjaga relevansi keberadaannya yang akan bertahan hidup dan berkembang.

Kedua, dari sisi metodologis, kritik dikaitkan dengan kurikulum PT yang sudah kedaluwarsa dan tidak responsif terhadap perubahan yang ada. Dalam konteks ini, setiap PT diharapkan dapat secara jujur mengevaluasi dengan hati-hati komprehensif. Kesalahan dalam menjalankan evaluasi dapat membawa PT kepada jebakan pragmatisme jangka pendek yang tidak mampu memberikan pendidikan untuk menyiapkan manusia yang adaftif, termasuk menghadirkan pendidikan yang memerdekan manusia.

Di lapangan, memang kadang terdengar teriakan bahwa hanya sebagian kecil materi yang diajarkan oleh PT relevan di dunia kerja. Teriakan ini harus didengar, tetapi jangan terburu-buru mengambil kesimpulan. Anggaplah ini sebagai sistem peringatan dini, untuk tidak lupa diri, karena membawa pesan kejut. Studi yang lebih komprehensif diperlukan. Banyak catatan bisa diberikan, PT pada jalur akademik mempunyai misi yang berbeda dengan jalur vokasi, misalnya. Ada pembagian fokus di sana.

Tentu, ini juga bukan berarti menjadi alasan untuk tidak berubah. Yang dibutuhkan di sini adalah sensitivitas menangkap sinyal zaman dan meresponsnya dengan baik. Sensitivitas penangkap sinyal ini seringkali berkurang karena beragam sindrom yang menghinggapi pengambil kebijakan di PT. Termasuk di antaranya adalah sindrom “zaman saya dulu” dan sindrom “begini saja bisa”. Sindrom-sindrom seperti akan menghambat tumbuh suburnya ide-ide inovatif, yang biasanya akan layu sebelum berkembang.

Dalam konteks ini, refleksi jujur perlu dilakukan secara kolektif. Lagi-lagi, respons kreatif terhadap masalah metodologis ini juga untuk menjamin relevansi kehadiran PT di tengah-tengah masyarakat yang kebutuhannya tidak statis. Baik dalam suasana pandemi, maupun tidak, masalah metodologis ini harus diselesaikan.

 

Pandemi dan Masalah Operasional

Pandemi Covid-19 yang menyerang umat manusia dengan tiba-tiba tidak memberikan kemewahan waktu untuk meresponsnya. PT merupakan salah satu sektor pendidikan yang terdampak. Ketidaksiapan banyak PT dalam memitigasi pandemi ini telah memunculkan kritik terhadap sisi operasional. Misi utama mitigasi sisi ini adalah untuk menjamin keberlangsungan akademik dan memastikan roda organisasi tetap berjalan dengan baik.

Dampak pandemi terhadap aspek operasional PT ini dapat mewujud dalam semua tahapan siklus hidup mahasiswa (student’s life cycle), mulai sebagai calon yang prospektif sampai menjadi alumni yang kontributif. Untuk memberi contoh, kita bisa tulis mulai dari pemasaran, admisi mahasiswa baru, pembelajaran, aktivitas akademik lain –seperti penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pembinaan kemahasiswaan, kuliah kerja nyata, dan lain-lain–, kerja sama, dan mobilitas internasional.

Desain awal sebagian besar aktivitas akademik di atas masing memerlukan mobilitas fisik yang ketika pandemi tidak mungkin dilakukan dengan leluasa. Karenanya, desain ulang merupakan suatu keharusan operasional.

Selain itu, aspek finansial PT tidak kalah penting untuk dimitigasi dengan serius. Pada situasi dengan ketidakpastian tinggi seperti saat ini, kepemilikan uang kontan menjadi sangat penting.

Penuruan kapasitas finansial orang tua mahasiswa atau mahasiswa akan sangat mempengaruhi kemampuan bayarnya. PT harus memasukkan variabel ini ke dalam aspek perencanaan keuangan, dan memitigasinya jika target pemasukan tidak tercapai dan memberi bantuan sesuai dengan kapasitas masing-masing PT.

Hal ini diperparah dengan model kepemilikan aset sebagian besar PT saat ini yang masih memerlukan biaya perawatan tinggi. Penurunan biaya aspek ini di masa pendemi tidak terlalu signifikan.

 

Strategi Keberlanjutan

Selain kalibrasi ulang aspek filosofis dan metodologis PT, yang perlu didiskusikan secara khusus dalam kesempatan lain, berikut adalah beberapa strategi keberlanjutan PT dari aspek operasional yang perlu direnungkan.

Pertama, tidak ada pilihan lain bagi PT selain melakukan penguatan ekosistem teknologi informasi, untuk mendukung proses bisnis dan pengambilan keputusan. Digitalisasi layanan bukan lagi pilihan, tetapi menjadi sebuah keniscayaan.

Ini terkait dengan banyak hal, termasuk pemberian layanan kepada mahasiswa dan pemangku kepentingan lain dan juga pengumpulan data yang tidak hanya penting secara administratif, tetapi lebih dari dari itu, kritikal secara strategis.

Para pemimpin PT perlu memberikan perhatian secara khusus kepada aspek ini, yang bisa jadi memperlukan besaran investasi yang lumayan. Ini tidak hanya menyangkut pengadaan barang tetapi juga peningkatan kapasitas (kuantitas) dan kapabilitas (kualitas) pengawalnya.

Tapi perlu diingat, investasi ini adalah belanja modal untuk jangka panjang dan bukan belanja operasional sekali pakai. Menggunakan paradigma yang tepat dalam berinvestasi sangat diperlukan di sini, supaya para pengawal ekosistem teknologi informasi, meminjam istilah astrologi Tionghoa, tidak merasa hanya bershio sial: kelinci (percobaan), sapi (perahan), atau kambing (hitam).

Kedua, secara khusus, PT perlu memberikan perhatian  kepada penguatan dan pematangan ekosistem pembelajaran daring. Tidak hanya dari sisi infrastruktur teknologi dan sistem informasi, tetapi juga dari sisi kesiapan aktornya: dosen dan mahasiswa.

Di masa awal pandemi, kedaruratan dapat menjadi alasan untuk membuat ruang toleransi terkadap kualitas pembelajaran. Tetapi, ketika saat ini, alasan tersebut tidak menurun validitasnya. Inilah saatnya untuk meningkatkan kualitas pengalaman pembelajaran, yang salah satunya diikhtiatkan dengan penguatan ekosistem pembelajaran daring.

Infrastruktur pembelajaran daring dapat dikuatkan dengan beragam inisiatif, termasuk penentuan paket solusi yang dipilih (seperti learning management system, aplikasi konferensi video, aplikasi produksi konten pembelajaraan) dan desain penggunaannya dalam pembelajaraan secara integratif. Dalam penentuan pilihan skenario atau desain pembelajaran, karakteristik mahasiswa yang saat ini tersebar di beragam tempat dengan kualitas koneksi Internet dan ketersediaan sumber daya pendukung lain perlu dimasukkan ke dalam radar. Termasuk di dalamnya adalah pilihan mode pembelajaran: sinkron (satu waktu, beda tempat), asinkron (beda waktu, beda tempat), atau campuran (lihat misalnya Daniel [2020]).

Pengawalan aspek ini sebetulnya tidak terlalu sulit dilakukan jika sumber daya pendukungnya tersedia: tim pengembang konsep dan pengawal teknis dengan kapabilitas baik dan sumber daya finansial.

Namun, penyiapan aspek manusianya lebih menantang, termasuk peningkatan kapabilitas digital. Produksi konten pembelajaran daring yang berkualitas dan konsistensi menjalankan skenario yang sudah disepakai, masuk dalam ranah ini.

Membangun budaya dan kapabilitas digital bukan bekerjaan ringan, apalagi ketika waktu pada masa pandemi seperti ini tidak berada di pihak kita. Di sini, kesadaran kolektif dan partisipasi aktif seluruh warga PT mutlak diperlukan.

Ketiga, penggunaan teknologi informasi memakssa PT mendesain ulang proses bisnisnya. Desain ulang proses bisnis tidak sama dengan otomatisasi (Hammer, 1990).

Selama ini kita terlatih berpikir deduktif yang berangkat dari masalah. Inilah yang nampaknya menjebakkan kita kepada otomatisasi. Sebagai ilustrasi sederhana, desain ulang proses bisnis mungkin menjadikan tujuh meja proses menjadi hanya tiga. Tetapi, otomatisasi mempertahankannya tetap tujuh meja.

Karenanya, pola pikir induktif yang mengenali potensi teknologi informasi menjadi sangat penting dimasukkan sebagai pelengkap perspektif (Hammer & Champy, 1993). Lompatan karena pemanfaatan ekosistem teknologi informasi secara inovatif perlu terus dicari dan dielaborasi.

Sebagai contoh, jika pendekatan induktif yang digunakan, proses admisi dapat berubah drastis tanpa kehadiran fisik sama sekali. Selain itu, di sisi lain, sangat mungkin PT berpikir untuk membuka program studi pendidikan jarak jauh untuk mengoptimalkan manfaat investasi teknologi informasi selain sebagai strategi bertumbuh ke depan dengan memperluas basis mahasiswa.

Keempat, selama pandemi ini, pengalaman dalam mengelola penerimaan sistem mahasiswa baru bersama kerja sama PTS di bawah Aptisi Wilayah V dengan tajuk jogjaversitas.id memberikan pelajaran bahwa tidak semua PTS yang tergabung menarik minat  calon mahasiswa. Pengamatan terbatas saya menunjukkan bahwa banyak program studi berkualitas baik, yang bahkan tidak mendapatkan satu pun pendaftar. Bisa jadi, salah satu sebabnya adalah edukasi publik untuk memperkenalkan PT atau program studi tersebut belum dikelola dengan baik.

Karenanya, tidaklah berlebihan jika PT juga harus memperbaiki kinerja pemasarannya, memperkenalkan dirinya kepada publik. Setiap PT perlu memastikan dirinya terlihat jelas di tengah “kerumunan” dan menjadikan publik selalu ingat akan keberadaannya. Tentu hal ini menantang karena publik harus secara teratur diingatkan akan keberadaan dan kiprah PT. Di masa pandemi seperti ini, strategi pemasaran yang jitu, terutama pemasaran digital, perlu didesain dan dieksekusi dengan serius.

Kelima, fakta di lapangan menunjukkan bahwa tidak semua aktivitas pembelajaran dapat dipindahkan secara daring. Jika ini kasusnya, maka PT juga harus melakukan mitigasi untuk menyiapkan aktivitas fisik yang terkawal dengan baik.

Beberapa contoh dapat diberikan di sini, termasuk praktikum basah, pendidikan keterampilan medik, dan pendidikan klinik. Potret setiap PT bisa jadi berbeda anara satu dengan yang lainnya. Yang jelas, PT juga harus melakukan investasi untuk memfasilitasi tatanan baru atau adaptasi kebiasaan baru ini.

Keenam, PT perlu dengan seksama melakukan mitigasi finansial. Hal ini dapat dilaksanakan dengan inisiatif termasuk pengencangan ikat pinggang alias efisiensi, penentuan skala prioritas program (mulai dari yang dapat dibatalkan, mungkin ditunda, dijalankan dengan skala lebih kecil, atau bahkan didesain ulang), dan pemantauan ketersediaan uang kontan dengan seksama. Bagi PTS, hal ini menjadi amat penting ketika sebagian besar sumber pendanaan masih berasal dari uang kuliah mahasiswa, yang kapasitasnya juga dipengaruhi oleh pandemi.

Pencarian sumber pendanaan alternatif perlu juga dipikirkan, baik melalui pendirian unit bisnis strategis maupun melalui lembaga donor dengan beragam program hibah yang tidak mengikat.

Mitigasi finansial ini, saya prediksi masih valid sampai beberapa waktu ke depan, sebelum ada kepastian kapan pendemi akan berakhir. Salah satunya adalah ketika vaksin Covid-19 sudah ditemukan, semua orang sudah mendapatkan dan terbukti khasiatnya.

Tentu, daftar strategi di atas dapat diadaptasi, dilengkapi, dan didetailkan. Keragaman konteks PT sangat mungkin memunculkan inspirasi strategi yang berbeda-beda.

 

Catatan Penutup

Pandemi Covid-19 memang menyerang hampir seluruh bangsa, tapi ada yang membedakan: yaitu bagaimana sebuah bangsa atau masyarakat meresponsnya, termasuk kita, para warga PT. Pandemi sudah seharusnya tidak hanya dipandang sebagai musibah yang dimitigasi dengan serius, tetapi juga membawa beragam berkah tersamar (blessings in disguise) yang dapat dipetik.

Beberapa di antaranya adalah menyadarkan PT akan kerentanan model bisnis yang dijalankan selama ini, dan mendorong evaluasi jujur secara menyeluruh, dan di sisi lain, sekaligus memaksa PT untuk memikirkan model bisnis baru yang lebih tahan banting dan berkelanjutan di masa mendatang.

Tentu, saya yakin semua yang hadir sepakat, aakan sangat disayangkan jika pandemi yang sudah menuntut begitu banyak pengorbanan berlalu begitu saja. Karenanya, adaptasi kebiasaan baru untuk bertahan hidup tidaklah cukup. Kecepatan dalam pengambilan keputusan yang tepat juga sangat penting (lihat misalnya Platt [2017]), di samping, PT harus menjadikan pandemi ini sebagai lentingan bertumbuh untuk menjemput masa depan yang lebih baik.

Belajar dari pepatah Tiongkok: mari berhenti mengutuk kegelapan, dan mulai menyalakan lilin penerang.

 

Referensi

Boyer, E. L. (1996). The scholarship of engagement. Bulletin of the American Academy of Arts and Sciences, 49(7), 18-33.

Burki, T. K. (2020). COVID-19: consequences for higher education. The Lancet Oncology21(6), 758.

Daniel, S. J. (2020). Education and the COVID-19 pandemic. Prospects, 1-6.

Dhakidae, D. (2003). Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Hammer, M. (1990). Reengineering work: don’t automate, obliterate. Harvard Business Review68(4), 104-112.

Hammer, M., & Champy, J. (1993). Reengineering the Corporation: Manifesto for Business Revolution. New York: HarperCollins.

Perkmann, M., and Walsh, K. (2008). Engaging the scholar: Three types of academic consulting and their impact on universities and industry. Research Policy, 37, 1884-1891.

Platt, S. (2017). Meta decision making and the speed and quality of disaster resilience and recovery. Dalam Trell, E. M., Restemeyer, B., Bakema, M. M., & van Hoven, B. (Ed.) Governing for resilience in vulnerable places (hal. 136-165). New York: Routledge.

Van de Ven, A. H. (2007). Engaged Scholarship: A Guide for Organizational and Social Research. New York: Oxford University Press.

 

Catatan akhir

[1] Kampus Swasta Tertekan Pandemi, https://www.republika.id/posts/9291/kampus-swasta-tertekan-pandemi

[2] ‘A downward spiral’: coronavirus spins Australian universities into economic crisis, https://www.theguardian.com/australia-news/2020/apr/14/a-downward-spiral-coronavirus-spins-australian-universities-into-economic-crisis

[3] Most international students would tell others not to come to Australia after coronavirus response, https://www.abc.net.au/news/2020-08-17/international-students-would-tell-others-not-to-come-australia/12558882

[4] Covid-19 could push some universities over the brink, https://www.economist.com/ briefing/2020/08/08/covid-19-could-push-some-universities-over-the-brink

[5] The Economic Model of Higher Education Was Already Broken. Here’s Why the Pandemic May Destroy It for Good, https://time.com/5883098/higher-education-broken-pandemic/

[6] The coronavirus crisis is pushing 13 UK universities towards insolvency, study says, https://www.cnbc.com/2020/07/06/13-uk-universities-at-risk-due-to-covid-19-crisis-ifs-says.html

[7] UK universities see record admissions, despite the pandemic, https://www.ft.com/ content/8f3ab80a-ec2b-427d-80ae-38ad27ad423d

[8] After Coronavirus, Colleges Worry: Will Students Come Back?, https://www.nytimes.com/ 2020/04/15/us/coronavirus-colleges-universities-admissions.html

[9] The Economic Model of Higher Education Was Already Broken. Here’s Why the Pandemic May Destroy It for Good, https://time.com/5883098/higher-education-broken-pandemic/

[10] Pembaca yang tidak nyaman dengan istilah filosofis karena masalah semantik dapat menggantinya dengan perspektif nilai dasar.

[11] Versi Inggrisnya: “A troubled universe can no longer afford the luxury of pursuits confined to an ivory tower…. Scholarship has to prove its worth not on its own terms, but by service to the nation and the world.” (dikutip oleh Boyer [1996:33]).

 

Tulisan diringkas dari Pidato Ilmiah yang disampaikan pada peringatan Dies Natalis ke-62 Universitas Janabadra, 7 Oktober 2020.