• Admisi
  • UII Gateway
  • Email
  • Kontak
  • Bahasa Indonesia
  • English
Universitas Islam Indonesia
  • PENDIDIKAN
    • Program Pendidikan
    • Penerimaan Mahasiswa Baru
    • Merdeka Belajar Kampus Merdeka
    • Informasi Beasiswa
    • Fasilitas Kampus
    • Jelajahi Yogyakarta
  • PENELITIAN
    • Pusat Studi & Laboratorium
    • Riset & Pengajaran
    • Portal Jurnal
    • Konferensi & Seminar
  • PENGABDIAN
    • Pengabdian & Dakwah
    • Lingkungan & Keberlanjutan
    • Simpul Tumbuh
    • Donasi UIIPeduli
  • INTERNASIONAL
    • International Admission
    • Kantor Urusan Internasional
    • Mobilitas Internasional
    • Program Gelar Ganda
    • Erasmus+ CBHE di UII
  • LAYANAN
    • Mahasiswa
    • Alumni
    • Kemitraan
    • Publik & Rekan Media
    • Paten & Hak Cipta
  • PROFIL
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu
You are here: Home1 / Takdir Sebuah Bangsa
Pojok Rektor

Takdir Sebuah Bangsa

Setiap bangsa mempunyai takdirnya masing-masing. Dalam lintasan takdir tersebut, ada pasang dan surutnya. Ada pencapaian yang perlu dirayakan, dan juga krisis yang perlu ditangkis. Krisis dapat disebabkan faktor eksternal, seperti serangan negara lain, atau juga gejolak internal, seperti gejolak politik domestik.

Sebagian krisis terjadi secara tiba-tiba, sisanya bertahap. Sebagian bangsa bisa keluar dari krisis dengan cepat, sebagian lain berjuang untuk waktu yang lebih lama.

Perjuangan beragam bangsa untuk keluar dari krisis ini didokumentasikan dengan ciamik dalam buku Upheaval: Turning Points for Nations in Crisis, karya Jared Diamond (2019).

Di sana ada kisah kebangkitan Finlandia setelah diserang Soviet dan narasi transformasi di Jepang selepas kekalahannya pada Perang Dunia Kedua. Ada juga di dalamnya, cerita tentang kebangkitan Indonesia bakda percobaan kudeta pada 1965 dan juga pengalaman Chile sehabis mengalami masalah domestik terkait dengan kudeta militer. Di bagian akhir buku, juga dikisahkan bagaimana Jerman dan Australia bangkit dari krisis yang terjadi secara perlahan.

Saat ini, krisis masih berlangsung, di beberapa negara. Bahkan, krisis bisa terjadi lintasnegara alias mengglobal. Termasuk di antaranya terkait dengan ketidakadilan, imigrasi lintasnegara karena konflik, pasokan energi yang semakin terbatas, manajemen sumber daya alam, perubahan iklim, dan juga polarisasi karena faktor politik.

 

Krisis Afghanistan?

Saya menduga apa yang terjadi di Afghanistan dapat dimasukkan ke dalam situasi krisis. Dan, ini sudah berlangsung lama. Meski, sebagian orang mungkin menganggapnya berbeda.

Pengambilalihan kekuasan oleh Taliban pada September 2021 menjadi babak baru. Apakah ini menjadi akhir krisis? Tak seorang pun tahu.

Yang jelas, pembacaan kita pada narasi yang beredar, membuat kita berpikir agak mendalam. Misalnya, dengan kata kunci Afghanistan di laman majalah bergengsi Foreign Affairs, saya temukan 271 entri. Tidak semuanya baru. Tetapi, di antara tulisan yang baru, perspektif yang diangkat tidak menggambarkan optimisme. Tulisan pada 8 Desember 2022, sebagai contoh, berjudul When terrorists govern dengan kalimat pengawal artikel “The Taliban’s takeover is inspiring other jihadis”. Tulisan yang lebih mutakhir yang terbit pada 28 Maret 2022, bertajuk The Taliban have not moderated dan diikuti dengan kalimat pembuka “An extremist regime is pushing Afghanistan to the brink”.

Saya juga memeriksa kanal majalah lain, The Economist. Tulisan pada 29 Januari 2022 mengusung hasil survei, dan diberi judul agak panjang: Afghans are more pessimistic about their future than ever, yang dibuka dengan penjelasan ringkas “A new survey paints a grim picture of life under the Taliban”. Atau, yang lebih hangat, pada 14 Mei 2022 sebuah tulisan yang ditayangkan berjudul: The Taliban crave recognition but refuse to do anything to earn it dan dengan kalimat pengawal artikel: “Afghanistan’s neighbours are wondering how on earth to deal with it”. Puluhan kepala berita lainnya juga mengusung tema senada: pesimisme.

Semua kisah tersebut kelabu. Ini bisa menjadi salah satu pertanda krisis, ketika kepercayaan menurun atau paling tidak dipersepsikan sedang menurun.

 

Merawat optimisme

Pengatasan atas krisis harus dimulai dengan pengakuan akan keberadaanya, yang diteruskan dengan menerima tanggung jawab, dan bukan berlagak menjadi korban dan terus menerus menyalahkan pihak lain. Aksi ini, kemudian, dikuti membuat pagar dengan melakukan perubahan selektif dan juga bisa jadi meminta bantuan negara lain, plus menggunakan pengalaman negara lain sebagai cermin (Diamond, 2019).

Tampaknya, Indonesia, dapat hadir, terutama di bagian akhir ini, untuk memberikan bantuan dan juga menjadi model pembentukan harmoni bangsa yang majemuk. Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa Indonesia dapat diterima oleh faksi-faksi yang bertikai di sana.

Namun demikian, saya masih berkeyakinan, ada banyak kisah optimisme di sana, yang bisa jadi karena satu atau lain hal, belum atau bahkan tidak dimunculkan oleh media. Kekuatan media dengan keleluasaannya memilih sudut pandang, sangat mempengaruhi kita dalam memandang sebuah peristiwa.

Terkait dengan isu ini, kita dapat belajar dari perspektif Edward Said (1978) yang tertuang dalam buku terkenalnya, Orientalism. Di dalamnya, Said membahas bagaimana media Barat membingkai Timur. Dunia Islam termasuk di dalamnya. Krisis pun bisa dengan sengaja dibuat oleh kelompok tertentu. Apa yang terjadi di film, seperti Tomorrow Never Dies, bukan lagi isapan jempol, meski hadir dalam bentuknya yang berbeda.

Terlepas dari beragam cerita pengikutnya, termasuk intervensi negara lain, sebuah bangsa memang harus mendesain masa depan dan memilih takdir sendiri, dengan ikhtiar terbaik.

 

Referensi

Diamond, J. (2019). Upheaval: Turning points for nations in crisis. New York: Little, Brown and Co.

Said, E. W. (1978). Orientalism. London: Routledge.

 

Sambutan pembuka pada Ambassadorial Lecture oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Afghanistan Dr. Arief Rachman M.D., pada 9 Juni 2022.

10 Juni 2022
Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Share on WhatsApp
  • Share on LinkedIn
  • Share by Mail
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2022/06/Afghanistan.jpg 1333 2000 985230102 https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII.png 9852301022022-06-10 08:20:512022-06-10 08:54:19Takdir Sebuah Bangsa

Berita Terakhir

  • UII Terima Kunjungan Universitas Pertahanan RI
  • UII dan IKPI Perkuat Kolaborasi untuk Siapkan Konsultan Pajak Adaptif di Era AI dan Coretax
  • UII Hadirkan Light Show di Stasiun Tugu Yogyakarta, Perkenalkan Kampus Melalui Pertunjukan Visual
  • UKM TQFI UII Resmi Buka Grand Final International Quranic Festival 2026
  • DPKA UII Gelar Career Class: Hadirkan Pakar BUMN Bahas Peta Jalan Karier Mahasiswa

Gedung GBPH Prabuningrat (Rektorat)
Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia
Jl. Kaliurang km. 14,5 Sleman, Yogyakarta 55584 Indonesia

Telepon: +62 274 898444
Faks: +62 274 898459
Email: info[at]uii.ac.id

Akreditasi Institusi Unggul. Universitas Islam Indonesia telah mendapatkan Akreditasi Institusi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tahun 2022.

© Hak Cipta 2025 - Universitas Islam Indonesia - Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia | Pengelolaan Situs Web | Pernyataan Sangkalan | Tampilan Lama | Konten terakhir dimutakhirkan 25 Januari 2024
Link to: Peduli Pemasaran Wirausaha Berbasis Nilai Islami, UII Raih Gold Champion Link to: Peduli Pemasaran Wirausaha Berbasis Nilai Islami, UII Raih Gold Champion Peduli Pemasaran Wirausaha Berbasis Nilai Islami, UII Raih Gold ChampionPentingnya Menjaga Sport Performance Link to: Indonesia Kedepankan Diplomasi Soft Power di Afghanistan Link to: Indonesia Kedepankan Diplomasi Soft Power di Afghanistan Indonesia Kedepankan Diplomasi Soft Power di Afghanistan Scroll to top Scroll to top Scroll to top