Saya ingin menyampaikan tiga poin. Pertama, menjadi doktor adalah nikmat yang harus disyukuri, karena tidak semua yang mengambil studi doktor dapat menyelesaikannya dengan beragam alasan. Tanpa dukungan banyak pihak dan izin Allah, nampaknya menjadi doktor menjadi sesuatu di luar imajinasi.

Di Amerika Utara, tingkat kegagalan studi doktor diperkirakan mencapai 40-50% (Litalien & 2015). Di Australia, sebelum pandemi Covid-19 menyerang, sekitar 20% mahasiswa program doktor tidak menyelesaikan studinya. Ketika pandemi, mereka menghadapi masalah pendanaan akut, sebanyak 45% (dari 1.020 responden) kemungkinkan akan menghentikan studi sampai akhir tahun ini (Johnson et al., 2020).

Saya belum menemukan statistik serupa di Indonesia. Data dari internal UII, bisa memberi gambaran bahwa tidak semua menyelesaikan program yang sudah diikuti. Yang menyelesaikan pun, ada yang cepat dan ada yang mendekati tenggat.

Kedua, doktor adalah kaum elit negeri ini. Sebagian besar mereka berafiliasi dengan lembaga pendidikan tinggi. Data termutakhir di Pangkalan Data Pendidikan Tinggi menunjukkan, bahwa dari 296.040 dosen, hanya 42.825 alias 14,46% yang berpendidikan doktor.

Saat ini, UII mempunyai 212 dosen bergelar doktor, atau sekitar 27,8% dari total dosen. Angka ini hampir dua kali rata-rata nasional. Sebanyak 122 dosen sedang menempuh program doktor (baik di dalam maupun di luar negeri). Jika dengan izin Allah, semuanya dapat menyelesaikan studinya, maka cacah doktor di UII akan mencapai 334 atau sekitar 44,8% (sekitar tiga kali rata-rata nasional).

Sebagai warga elit negeri ini, tanggung jawab besar juga menyertainya. Ingat kata Paman Ben kepada Peter Parker alias Spiderman 🙂 Tidak tertulis dalam kontrak legal, tetapi melekat dalam kontrak etis. Apa tanggung jawab besar tersebut? Inilah poin ketiga. Saya ingin membingkainya dengan dua konsep penting dalam Al-Qur’an.

Konsep pertama adalah ulul albab, orang yang akalnya berlapis-lapis (QS Ali Imran: 190-191). Ulul albab secara bahasa berasal dari dua kata: ulu dan al-albab. Ulu berarti ‘yang mempunyai’, sedang al albab mempunyai beragam arti. Kata ulul albab muncul sebanyak 16 kali dalam Alquran. Dalam terjemahan Indonesia, arti yang paling sering digunakan adalah ‘akal’. Karenanya, ulul albab sering diartikan dengan ‘yang mempunyai akal’ atau ‘orang yang berakal’. Al-albab berbentuk jamak dan berasal dari al-lubb. Bentuk jamak ini mengindikasikan bahwa ulul albab adalah orang yang memiliki otak berlapis-lapis alias otak yang tajam.

Ulul albab mempunyai dua misi: berzikir dan berpikir. Berzikir diartikan secara luas, tidak hanya secara vertikal transendental, tetapi juga horizontal sosial. Peduli dengan kondisi bangsa dan negara, juga bisa masuk ke dalam zikir sosial ini. Bukankah zikir berarti ingat dan ingat terkait dengan kepedulian? Orang yang tidak peduli tidak akan ingat dengan realitas yang bahkan ada di sekelilingnya.

Misi berpikir melingkupi dua hal: fenomena alam dan fenomena sosial. Inilah kajian riset, termasuk yang dilakukan secara istikamah oleh para doktor. Riset pada intinya adalah mengungkap “pesan tersembungi Allah” yang terselip di banyak fenomena alam dan sosial. Ilmu yang didapatkan dapat kita anggap sebagai hidayah. Dan hidayah, hanya diberikan kepada yang sungguh-sungguh. Inilah “jihad” dalam arti yang luas (QS Al-Ankabut: 69).

Konsep kedua adalah al-rasikhuna fi al-ilmi, orang-orang yang mendalam ilmunya (QS Ali Imran: 7). Tentu kita akan mudah sepakat kalau doktor adalah orang-orang yang mendalam ilmunya. Saya tidak menjebakkan diri dalam diskusi definisi ilmu di sana.

Yang saya pahami, kedalaman ilmu seharusnya membimbing kepada Sang Pemilik Ilmu. Kedalaman di sini hanyalah perspektif manusia. Dalam pandangan Allah, manusia tidak diberi ilmu kecuali hanya sedikit (QS Al-Isra’: 85), dibandingkan ilmu Allah yang tidak terbatas. Ilmu tersebut tidak habis ditulis jika saja air laut menjadi tinta dan pepohonan menjadi penanya. Bahkan jika dihadirkan sejumlah itu lagi (QS Luqman: 27). Metafora ini sudah cukup memberi gambaran keluasan ilmu Allah dan kekerdilan pengetahuan kita.

Bagian akhir dari tafsir Ibnu Katsir untuk ayat 7 dari Surat Ali Imran mencatat karakteristik para orang yang mendalam ilmunya (al-rasikhuna fi al-ilmi) ini: (1) tawaduk kepada Allah, (2) menghinakan diri di depan Allah untuk mendapatkan ridaNya, (3) tidak berbesar diri terhadap orang yang berada di atasnya, dan (4) tidak merendahkan orang yang berada di bawahnya.

Konsep kedua ini (ulul albab dan al-rasikhuna fil al-ilmi) berfokus kepada nilai esoteris menjadi orang dengan akal berlapis dan mempunyai ilmu yang dalam.

Semoga Allah membimbing langkah kita semua, terutama para doktor baru, untuk terus berkiprah, menebar manfaat, dan meninggalkan jejak.

Referensi
Johnson, R. L., Coleman, R. A., Batten, N. H., Hallsworth, D., & Spencer, E. E. (2020). The Quiet Crisis of PhDs and COVID-19: Reaching the financial tipping point. Research Square. doi: 10.21203/rs.3.rs-36330/v2

Litalien, D., & Guay, F. (2015). Dropout intentions in PhD studies: A comprehensive model based on interpersonal relationships and motivational resources. Contemporary Educational Psychology, 41, 218–231. doi:10.1016/j.cedpsych.2015.03.004

Sambutan pada acara Penyambutan Doktor Baru Universitas Islam Indonesia, 22 Desember 2020.