Pendirian UII pada 27 Rajab 1364 merupakan ikhtiar membangun peradaban. Harapan kolektif para pendiri digantungkan. Sejak awal, UII diharapkan menjadi aktor penting yang menyiapkan anak bangsa untuk membangun peradaban baru Indonesia dan Islam. Catatan sejarah menunjukkan itu semua.

Kini, usia UII menginjak 78 tahun menurut kalender hijriah. Kondisi UII saat ini merupakan akumulasi kerja peradaban para pendiri dan pendahulu. Tak seorang pun berhak mengklaimnya sebagai hasil kerja personal. Jika ada (semoga tidak), klaim seperti itu adalah simbol arogansi karena menafikan kontribusi banyak orang.

Kemurahan Allah Swt. telah mengantarkan UII dalam kondisinya yang sekarang. Tanpa bermaksud membanggakan diri, kerja kolektif kita semua, telah menjadikan UII masuk dalam jajaran perguruan tinggi terbaik di Indonesia dan dikenal kolega-kolega di manca negara. Jaringan global pun semakin tertata. Keterlibatan aktif UII di beragam konsorsium internasional dapat menjadi indikasi. Publikasi ilmiah para warganya di kanal internasional dan pengakuan beragam lembaga akreditasi internasional juga semakin menegaskan. Tentu, capaian ini perlu disyukuri bersama, dengan penuh catatan.

Banyak harapan kepada UII yang belum sepenuhnya menjadi nyata. Deretan pekerjaan rumah masih menanti ditunaikan.

Kita bisa sebut di sini beberapa. Termasuk di antaranya adalah peningkatan kualitas pendidikan yang membebaskan, penelitian yang berimbas, dan sensitivitas serta kontribusi signifikan dalam penyelesaian beragam masalah bangsa.

 

Meneguhkan peran

Ke depan, peran kebangsaan sebagai pengawal perjalanan negara dengan meniup peluit ketika ada ketidakberesan seharusnya semakin ringan ketika para pemegang amanah menjalankan roda pemerintahan pada rel yang seharusnya. Saya menyebut ini sebagai peran etis, bukan politis, supaya tetap kalis dari kepentingan politik sesaat.

Saya memimpikan, dalam waktu yang tidak terlalu lama, para pemegang amanah di Indonesia tidak lagi terjebak kepentingan sesaat dan kesejahteraan publik menjadi tujuan bersama. Berita korupsi tidak lagi menghiasi lini masa media. Kontestasi politik hanya menjadi ikhtiar merawat demokrasi yang semakin dewasa dan tidak menyisakan ekses berkepanjangan yang membocorkan energi kolektif bangsa atau memicu segregasi, polarisasi, dan konflik sosial.

Peran etis kebangsaaan itu pun seharusnya tidak memalingkan dari peran membangun peradaban melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Inilah peran keilmuan. Peran ini terlihat seperti sudah menjadi keseharian, tapi justru di situlah masalahnya, ketika tidak ada kesadaran baru untuk meningkatkan sisi kontribusi kualitatif yang dapat menghadirkan perbedaan. Kesadaran baru tersebut, salah satunya bentuknya, bisa jadi adalah penghilangan sekat antardisiplin yang sampai tingkat tertentu menjadi kedaulatan keilmuan yang menutup banyak pintu potensi manfaat. Peran keilmuan juga bisa dibingkai menjadi rekonfigurasi peran kebangsaan.

Pertemuan antarwarga, termasuk secara daring di beragam grup, sudah saatnya semakin dihiasi dengan beragam diskusi terkait dengan gagasan untuk pengembangan ilmu dan teknologi, strategi, serta aksi untuk mewujudkannya. Yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa setiap warga kampus, adalah sekaligus menjadi pencetus ide dan bertanggung jawab untuk menjadikannya nyata.

Daftar peran di atas masih bisa diperpanjang, termasuk tidak melupakan ide menjadikan UII sebagai pusat penyiaran Islam. Ini adalah tantangan yang perlu dijawab. Pesan besarnya adalah bagaimana menjadi ajaran Islam sebagai pendorong kemajuan dan kebangkitan. Ajaran Islam perlu terus dikaji dan dikontekstualisasi untuk terus menghadirkan semangat perenial. Inilah peran keislaman.

Pelaksaan ketiga peran di atas: peran kebangsaan, peran keilmuan, dan peran keislaman, perlu terus ditingkatkan. Ketiga peran tersebut bisa dibungkus menjadi peran kemanusiaan untuk membangun peradaban baru yang teritorialnya melintas batas fisik dan imajiner antarnegara.

 

Kerja kolektif

Semua tersebut membutuhkan kerja kolektif yang bersambung antargenerasi. Ini kerja peradaban sepanjang hayat. Saya personal berharap Allah masih mengizinkan saya melihat UII ketika berusia satu abad. Waktu 22 tahun ke depan memang terlalu singkat untuk membangun peradaban baru, tetapi sangat lama untuk berlalu tanpa kemajuan berarti.

Saya berdoa, ketika usia menginjak satu abad pada 27 Rajab 1464 (9 Juni 2042), setelah 1.200 kali purnama dilalui UII, harapan-harapan besar tersebut semakin nyata. UII tetap tegar berdiri dan tumbuh menjadi perguruan tinggi yang semakin dihormati dan tetap menjaga standar akhlak organisasi tertinggi.

Warga UII berhasil secara berjemaah mendorong kemajuan substantif, menentukan takdirnya sendiri, dan tidak terjebak pada muslihat yang dapat membocorkan energi dan menggerus nurani. UII semakin mantap menjadi organisasi modern dengan dukungan teknologi dan semua indikatornya.

UII dan warganya pun, saya doakan, semakin siap menjadi warga global yang berkontribusi pada penyelesaian masalah-masalah kemanusiaan. Banyak inovasi berimbas yang diproduksi dengan niat suci.

Saya percaya, ketika harapan kolektif disatukan dan ikhtiar bersama dilakukan, Allah akan memudahkan jalan ke depan. Jalan untuk membangun peradaban baru Indonesia dan Islam yang bermartabat.

Mari, kita bersama jemput masa depan itu. Yang perlu kita lakukan adalah mengenali kekuatan diri, memahami perkembangan mutakhir, dan meresponsnya secara inovatif.

Apa yang diinisiasi oleh Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) melalui workshop hari ini yang bertajuk Menuju FTSP 2045: Rebranding & Reconfiguring, adalah salah satu anak tangga untuk melakukan itu semua. Saya berharap dari workshop ini muncul kesadaran kolektif baru untuk meneguhkan perjalanan FTSP ke depan, sebagai bagian penting UII. Selain itu, mendesain anak tangga mencapai tujuan yang lebih tinggi sama pentingnya dengan membangun harapan bersama.

Siapa tahu, untuk menemukan hentakan baru, nama FTSP sendiri mungkin ingin diubah sebagai bagian dari penjenamaan (rebranding). Jika disepakati, nama baru tersebut perlu dipilih supaya tidak ada kesan hegemonik disiplin tertentu, tetap menghargai sejarah lampau, tetapi lebih inklusif, distingtif, dan futuristik.

Perjalanan masih panjang, tetapi semoga Allah selalu meridai UII. Amin.

Sari sambutan pada workshop Menuju FTSP 2045: Rebranding & Reconfiguring, 17 Februari 2021