Menimba ilmu di negeri orang memang jadi impian bagi banyak pelajar. Lazimnya, para pelajar itu akan menghabiskan waktu di kampus sepanjang hari hingga pada akhirnya menamatkan studi. Namun siapa sangka jika di masa itu mereka juga mendapat keluarga baru sekaligus rumah ke-2 yang punya banyak kenangan. Demikian halnya yang dialami oleh dua mahasiswa asal Thailand. Tidak ada yang menduga jikalau UII akan menjadi rumah kedua bagi mereka. tempat mereka bernaung, menimba ilmu, mengukir pengalaman, hingga menjelajah setiap lekuk keindahan yang ditawarkan Indonesia.

Perjuangannya bergeliat dengan berbagai persyaratan administratif, bertempur dengan lembar soal tes beasiswa, saling beradu argumen di hadapan meja interview, namun tidak satu pun keberhasilan itu tandang. Berbekal tekad untuk kuliah ke luar negeri, Nurainee U-Mar dan Sorlihah Pohleh akhirnya berhasil meminang UII sebagai tempat melanjutkan studi, lengkap dengan beasiswa kuliah setelah melalui berbagai proses yang panjang. Nurainee memilih program studi Ekonomi Islam, sedang Sorlihah menjatuhkan pilihan pada Ilmu Komunikasi.

Berawal dari seorang kerabat yang juga dosen di salah satu perguruan tinggi di Pattani, kota tempat ia tinggal, Nurainee U-Mar mendengar kisah tentang UII, nan jauh di sana. Tanpa banyak pertimbangan, akhirnya Nurainee mengikuti serangkaian seleksi. Berbekal bahasa melayu Thailand Selatan yang sedikit ia kuasai, termasuk pengalaman bersama almarhum sang ayah yang pernah bekerja di Malaysia, Nuarinee berhasil menarik perhatian tiga juri dari UII saat seleksi.

Tidak hanya lolos sebagai penerima beasiswa kampus dan pondok pesantren, Nurainee juga diangkat oleh salah seorang dosen UII sebagai anak angkat. Hal ini semakin memantapkan langkahnya menuju pengembaraan ilmu. Nurainee mengisahkan bahwa ia memilih UII meskipun sebenarnya ia telah diterima di salah satu universitas di Thailand.

“Kalau saya tahu UII dari saudara sepupu saya, yang juga dosen di Universitas Pattani Thailand. Tahu kalau ada beasiswa di UII, jadi dia tawarin ke saya, sebenarnya sudah diterima di salah satu universitas di Pattani, tapi saya tetap coba tes di UII, hingga akhirnya diterima.” Jelas perempuan kelahiran Thailand, 11 September 1996 itu.

Lain halnya dengan Sorlihah Pohleh. Perempuan kelahiran Pattani 13 November 1996 ternyata sudah pernah mendengar secarik kisah tentang UII. Nama UII akrab di telinganya, melalui kisah saudara sepupu yang ternyata lebih dulu melanjutkan pendidikan di salah satu kampus swasta di Jogja. Sorlihah akhirnya mengikuti tes di UII, setelah sebelumnya sempat patah semangat karena dari sekian banyak tes yang ia ikuti, namun hasilnya tidak sesuai harapan.
Satu hal yang membuat Sorlihah mantap menjatuhkan pilihannya pada UII adalah budaya Islami, yang senantiasa dilestarikan di lingkungan UII.

“Sebelumnya memang saya cari beasiswa di berbagai bidang. Sampai akhirnya saya dapat informasi tentang UII melalui ayah yang juga staf di salah satu universitas di Pattani, saya langsung mengiyakan dan melengkapi berbagai persyaratan.” Kisahnya dengan dialek melayu.

“Saat itu belum ada gambaran, belum tahu tentang UII, tapi karena tekad untuk kuliah di luar negeri akhirnya saya mantap. Saya juga dapat cerita tentang UII dari saudara sepupu di Jogja bahwa UII itu budaya islamnya kuat, tidak terlalu berbeda dengan apa yang selama ini kami dapatkan di Thailand, jadi akhirnya saya terima karena aman. Saya sangat bersyukur waktu itu diterima di UII. Dan inilah pilihan terbaik.” Lanjut Sorlihah di salah satu sudut ruang gedung Rektorat saat itu.

Perjalanan selama kuliah di UII

Perjalanannya selama di UII bukan tanpa tantangan. Belum lagi kala rasa rindu terhadap keluarga yang jauh di Thailand Selatan. Akan tetapi, baik Nurainee, maupun Sorlihah, keduanya mengaku akrab dengan berbagai tantangan yang harus dilewati semasa kuliah.

Sebelum akhirnya diwisuda pada 28 Desember 2019 lalu di Auditorium Abdul Kahar Mudzakkir UII, mereka sempat melewati berbagai kesulitan. Salah satunya terkait bahasa. Di awal perkuliahan, Nurainee dan Sorlihah sempat tidak paham sama sekali terhadap apa yang diajarkan dosen.

Beruntung ada seorang karib yang sedia menerangkan ulang menggunakan bahasa yang mereka pahami di luar kelas. Ditambah lagi ada beberapa mahasiswa tingkat atas yang mengajari mereka berbahasa Indonesia. Tidak membutuhkan waktu lama, kurang lebih setahun berlalu, bahasa Indonesia pun berhasil mereka kuasai.

Harmoni di Kampus Islam

Sinar matahari pagi membuat kubah emas masjid Ulil Albab UII nampak memantulkan warna kekuningan yang elegan. Di kejauhan nampak siluet kegagahan Gunung Merapi yang menjadi pemandangan indah bagi sivitas akademika kampus. Bagi UII, masjid bukan sekedar simbol namun merupakan ruh sekaligus pusat aktivitas rohani sivitas akademika. Kala adzan berkumandang, tidak pandang bulu, pimpinan universitas, dosen, staf, mahasiswa ramai-ramai beriringan ke masjid. Ada yang masih membawa tas, ada pula yang telah siap dengan peci, sarung, dan sajadah. Tidak ada sekat di antara mereka yang sama-sama akan bersimpuh di hadapan Tuhannya.

Rupanya pemandangan saban hari itulah yang membuat kedua mahasiswi asal Gajah Putih itu merasa bahwa UII sebagai rumah kedua bagi mereka. Bagaimana azan berkumandang, orang-orang berjalan ke masjid, shalat berjamaah, hingga mengikuti pengajian di sela kegiatan akademik yang padat.

“Saya merasa tenang jika di lingkungan kampus, apalagi melihat orang jalan bareng untuk shalat 5 waktu dan ibadah jum’at, mendengar bacaan Al-Quran melalui speaker masjid, suara azan dan lain-lainnya. Saya merasa berada di rumah, karena suasana inilah yang saya rasakan di Pattani. Jadi ini seperti ada di rumah.” Kenang Sorlihah.

“Yang menarik juga pas momen bulan Ramadhan. Suasananya juga penuh dengan persaudaraan, seperti di Thailand Selatan. Kami ramai-ramai shalat berjamaah, di masjid, makan sahur, buka puasa, jadi di sini tetap betah.” Tambah Nurainee.

Tidak hanya itu, fasilitas dan lingkungan di UII juga berhasil membuat Nurainee dan Sorlihah kerasan. Termasuk perlakuan dosen, teman-teman, dan masyarakat sekitar.

“Teman-teman di UII dan Jogja baik-baik, jadi lingkungan di UII ini baik sekali, Termasuk dosen-dosennya. Kalau sudah menjelaskan kita diberi kesempatan bertanya, saya juga dapat teman yang peduli dengan kita, sering ajak ngobrol, sering ajak jalan, ajak main, termasuk belajar bersama.” Kisah Nurainee.

“Hal yang mengesankan bagi saya di UII adalah lingkungannya, tidak jauh beda dengan tempat saya di Thailand. Saya juga bergabung dengan komunitas dan suka jalan-jalan. Hampir setiap tempat wisata yang ada di Jawa sudah saya kunjungi.” Sahut Sorlihah.

Hal lain yang berkesan bagi mereka adalah Kuliah Kerja Nyata (KKN) di UII, yang belum pernah mereka rasakan di negara asalnya. Nurainee mengisahkan bahwa ia sempat takut mengikut program tersebut, belum lagi kemampuan bahasanya yang belum terlalu fasih. Akan tetapi ia berhasil menampik ketakutan-ketakutan tersebut. Alhasil, ia berhasil merampungkan KKN, dengan kisah menarik yang dilaluinya. Mulai dari membantu masyarakat, hingga mengajarkan masakan Thailand kepada masyarakat.

“Kalau di Thailand khususnya di Pattani itu kan tidak ada KKN, tapi di UII ada, disuruh menginap satu bulan, sempat takut saya mau kerjakan apa di sana. Ada ide membuat latihan memasak bersama warga desa. Tentunya makanan Thailand (Tomyam) masakan asli Thailand, alhamdulillah di desa banyak yang datang, barangnya (bumbu) saya ambil dari sana, orang di desa baik semua.” Tutur Nurainee.

Pengalaman serupa juga dirasakan Sorlihah. Ia mengaku sempat takut mengikuti KKN. Akan tetapi, ia bisa menyapih semua ketakutan dalam dirinya itu.

“Saya di desa Purworejo, kebetulan anak komunikasi di desa itu hanya ada saya. Jadi banyak mikir, bingung mau kerjakan apa. Saya berinisiatif membuat buku atau video profile desa. Alhamdulillah dibantu teman-teman yang lain sehingga bisa selesai dengan baik dan membuat orang-orang desa senang.” Jelas Sorlehah.

Perjalanannya mengarungi ilmu di jurusan Ekonomi Islam UII, membuat Nurainee belajar banyak hal baru. Pengalaman serta pengetahuan itulah yang kemudian diterapkan dalam bisnis yang coba ia rintis sendiri sejak awal kuliah, hingga saat ini telah memiliki toko yang berada di negara asalnya. Bisnis ini kemudian diangkat melalui penelitiannya berjudul “Analisis Penerapan Etika Bisnis Islam Dalam Usaha Konveksi (Studi Kasus Konveksi 3 Nur Shop Pattani Thailand)”.

Begitu halnya dengan Sorlihah. Kegemarannya dalam mengunjungi tempat-tempat wisata di Indonesia, diterapkan dalam skripsinya yang berjudul “Representasi Tempat Wisata Di Indonesia Oleh Mahasiswa Thailand”. Kesenangannya dalam dunia fotografi, serta keinginannya untuk memiliki studio foto juga sangat relevan dengan apa yang selama ini dipelajari di Ilmu Komunikasi UII. (RS/ESP/DD)