Mengawali tahun 2021 ini, Universitas Islam Indonesia (UII) kembali dipercaya menjadi bagian dari konsorsium Erasmus+ Indonesian Higher Education Leadership (iHiLead) yang terdiri atas 7 universitas dari Indonesia, 3 universitas dari Uni Eropa, dan Ditjen Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional. Ini adalah proyek ke 5 Erasmus+ CBHE (Capacity Building for Higher Education) yang diterima oleh UII.

Hal tersebut dikemukakan Wakil Rektor Bidang Networking dan Kewirausahaan UII Ir. Wiryono Raharjo, M.Arch., Ph.D. di sela-sela mengikuti iHiLead Project Opening Remarks & Press Conference, yang digelar secara daring melalui platform Zoom pada Rabu (2/3) malam. Wiryono menuturkan Tim UII dikoordinir oleh Dr.-Ing. Ir. Ilya Fadjar Maharika, MA., IAI., yang akan menjalankan proyek ini selama 3 tahun ke depan. “Program yang dijalankan akan difokuskan pada pelatihan kepemimpinan pengampu manajemen kunci perguruan tinggi,” jelasnya.

Direktur Jendral Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia, Prof. Ir. Nizam, M.Sc., DIC., Ph.D. dalam sambutannya memperkenalkan Program Kampus Merdeka yang baru saja diresmikan oleh pemerintah Indonesia. Nizam mengatakan bahwa Program Kampus Merdeka ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada setiap universitas untuk berkembang menjadi lebih kompeten.

“Hal ini dilakukan dengan memberikan kesempatan kepada setiap mahasiswa untuk lebih terbuka dan mempunyai pembelajaran yang fleksibel dengan mengizinkan mahasiswa dari satu jurusan belajar di jurusan lain di universitas berbeda,” paparnya.

Lebih lanjut, Nizam menyamakan konsep Kampus Merdeka dengan sistem belajar Erasmus+ yang memungkinkan para mahasiswa belajar di universitas yang terletak di wilayah berbeda. Kampus Merdeka menurutnya memiliki lebih banyak program pertukaran pelajar yang diharapkan mampu mengembangkan pemikiran, memperluas relasi, dan mengenalkan lebih banyak budaya kepada para mahasiswa.

Diharapkan nantinya mampu memupuk semangat Bhineka Tunggal Ika dan saling pemahaman dari ruang lingkup budaya dan agama. “Oleh karena itu, kampus merdeka lebih banyak fokus pada pertukaran seperti yang dilakukan oleh EU dan Erasmus dibandingkan magang,” tandasnya.

Hadirnya program ini mendapatkan apresiasi dari H.E. Vincent Piket, M.A., Ph.D., yang menilai bahwa Kampus Merdeka merupakan jawaban yang bagus dari Kemendikbud dalam menjawab tantangan pendidikan yang saat ini tengah dihadapi oleh Indonesia.

Vincent Piket yang merupakan duta besar Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam dalam Opening Remarks & Press Conference menyampaikan bahwa iHiLead Project terlaksana berkat kerjasama antara beberapa universitas di Indonesia dan Eropa, serta didukung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Vincent Piket menjelaskan bahwa di Indonesia, ada beberapa program peningkatan kemampuan yang dirancang melalui kerjasama tersebut seperti 42 program yang melibatkan 100 universitas. Peningkatan kapasitas bertujuan untuk menguatkan kerjasama antara Indonesia dan EU yang bertujuan untuk meningkatkan SDM Indonesia yang dibutuhkan dalam pengembangan ekonomi di masa yang akan datang. Vincent juga menekankan bahwa Indonesia memiliki kemampuan untuk membangun program dan menerapkan melalui kerja sama dengan berbagai universitas di seluruh dunia.

Pertukaran sumber daya manusia antar universitas yang meliputi dosen, mahasiswa, dan para staf memberikan kesempatan dalam membentuk ikatan dan kesepahaman bersama yang bisa menjadikan Indonesia sebagai salah satu mitra Uni Eropa. “Kemampuan ini dapat membangun koneksi yang mendukung adaptasi kurikulum program pembelajaran di berbagai institusi di Indonesia,” jelas Vincent.

Sementara David Dawson, Ph.D., FCIPD., SHEA., koordinator iHiLead dari University of Gloucestershire, Inggris, menjelaskan bahwa iHiLead Project bertujuan untuk meciptakan pemimpin masa depan yang diharapkan mampu menciptakan program-program yang lebih baik dan mewujudkan keberhasilan program dalam 50 tahun yang akan datang.

Selain itu, David juga menekankan bahwa kerja sama yang terjalin antar universitas di Indonesia dan Eropa ini bertujuan untuk menciptakan suatu sistem pendidikan tinggi yang lebih baik dan modern bagi warga negara di kedua kawasan.

“Institusi Eropa coba membantu institusi yang ada di Indonesia untuk melakukan pekerjaan dan menciptakan program yang lebih baik dalam 15 sampai 20 tahun yang akan datang. Dengan demikian, jejaring yang diciptakan melalui prosedur dan program yang ada diharapkan mampu membantu mencapai hal tersebut.” terang David. (AP/RS)