Mastercard-Crescent Rating Global Muslim Travel Index (GMTI) 2019 menempatkan Indonesia pada peringkat teratas destinasi wisata halal dunia. Yogyakarta menjadi salah satu kota dengan destinasi wisata paling diminati. Tercatat sekitar 1,8 juta orang berkunjung ke Yogyakarta pada tahun 2018. Sementara Menurut GMTI, Yogyakarta masih terpaut jauh dari Lombok yang menempati posisi pertama dalam hal destinasi wisata halal di Indonesia, disusul Aceh dan Sumatera.

Hal inilah yang melatarbelakangi pelaksanaan diskusi bertajuk “Pariwisata Halal Kota Yogyakarta: Peluang dan Tantangan,” yang diadakan oleh Direktorat Kemitraan/Kantor Urusan Internasional UII.
Kegiatan yang menghadirkan beberapa lembaga dan instansi terkait seperti delegasi pemerintah kota Yogyakarta, delegasi Masyarakat Ekonomi Syariah (MES DIY), serta delegasi pelaku usaha industri pariwisata ini, dilaksanakan di Hotel Tentrem, Yogyakarta, pada Selasa (28/5).

Disampaikan Wakil Wali Kota Yogyakarta, Drs. Heroe Poerwadi, M.A., konsep pariwisata halal dalam masyarakat Yogyakarta, belum menemukan definisi yang sebenarnnya. Selain itu, pemikiran terhadap wisata halal cenderung kepada wisata religi. Kesalahan lain terkait wisata halal adalah munculnya dikotomi antara orang yang memandang wisata sebagai hal yang universal dan wisata halal yang bersifat eksklusif. Untuk itu, perlu pengenalan terhadap konsep tersebut di masyarakat.

“Konsep wisata halal adalah merupakan konsep strategi pengembangan daerah wisata yang memberikan kesempatan kepada masyarakat muslim terutama yang berwisata untuk mendapatkan pelayanan-pelayanan sehingga mereka dapat mendapatkan ibadahnya.” Jelasnya.

Sementara Ir. Wiryono Raharjo, M.Arch., Ph.D. selaku Wakil Rektor Bidang Networking dan Kewirausahaan UII menyayangkan Yogyakarta belum berada dalam posisi yang tinggi dalam rating GMTI. Ia pun menawarkan potensi UII kepada pemerintah kota Yogyakarta dan MES DIY untuk menunjang pariwisata halal di Yogyakarta.

Sedangkan M.B. Hendrie Anto, S.E., M.Sc, selaku Sekretaris Umum Wisatawan MES DIY menyampaikan muslim merupakan segmen baru yang tengah berkembang saat ini. Pariwisata halal menjadi salah satu terobosan baru yang memungkinkan masyarakat muslim melakukan perjalanan wisata tanpa harus mengorbankan aktivitas ibadah. Yogyakarta memiliki potensi yang kuat dalam mengembangkan hal tersebut dibanding dengan kota-kota lain namun perlu branding yang lebih kuat.

“Jogja sebenarnya lebih layak dari kota-kota lain di Indonesia dalam hal pariwisata halal, hanya saja branding yang kurang.” Terangnya.

Hal senada ditegaskan oleh Taufiq Ridwan selaku Ketua Bidang Humas dan Kelembagaan MES DIY. Menurutnya kesiapan fasilitas tempat wisata, seperti, mushola, tempat wudhu, sajadah, petunjuk arah kiblat, makanan dan lainnya sangat penting. Untuk itu hal ini perlu mendapat respon dari pelaku industri pariwisata yang ada di Yogyakarta. (DD/ESP)