Wakil Bupati Sleman, Dra. Sri Muslimatun., M.Kes. dan Anggota Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Subardi, S.H., M.H. mengapresiasi pembuatan Alat Pelindung Diri (APD) berupa face shield oleh mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII). Pembuatan APD ini sebagai upaya turut merespon mewabahnya virus Covid-19, dimana keberadaan APD sangat dibutuhkan tenaga kesehatan saat menangani pasien.

Sejak penyebaran Covid 19 meningkat, termasuk di antaranya D.I. Yogyakarta, mahasiswa UII turut aktif dalam pembuatan APD sebagai wujud perlawanan terhadap pandemi virus tersebut. Sejauh ini, mahasiswa UII telah membuat ratusan APD yang dikirim tidak hanya di wilayah D.I. Yogyakarta. Proses pembuatan face shield dilakukan di GOR Ki Bagoes Hadiekoesoemo, Kampus Terpadu UII.

“Permintaannya sangat tinggi. Tidak hanya di Jogja, tetapi juga dari luar Jogja. Sehingga dengan kapasistas produksi yang kita tingkatkan, mahasiswa yang mungkin (terlibat), dan menggunakan protokol yang sangat ketat, kita berharap bisa membantu meringankan terutama para tenaga kesehatan yang berada di garda terdepan dalam menangani wabah Covid-19 ini,” tutur Rektor UII, Prof. Fathul Wahid., S.T., M.Sc., Ph.D. di sela-sela meninjau pembuatan face shield, Sabtu siang (4/4).

Selain APD berupa face shield dan edukasi kepada masyarakat yang disebarkan melalui poster, media sosial, radio, media massa, UII juga telah membuat hazmat suit dan hand sanitizer yang dapat digunakan untuk mengurangi penyebaran pandemi Covid-19. Menurutnya, dalam waktu dekat tim juga tengah berencana membuat cairan disinfektan ramah manusia untuk disemprotkan di daerah beresiko tinggi penyebaran, dengan menggunakan drone.

“Memang di tempat ini (GOR), yang terlihat hanya pelindung wajah, tetapi di tempat lain kami juga memproduksi hard smart. Hazmat suit yang memang kapasitas produksinya masih sangat-sangat terbatas, karena lebih rumit dan bahannya juga ternyata sekarang katanya lebih sulit didapatkan. Hand sanitizer juga kita buat di beberapa laburatorium untuk distribusikan,” paparnya.

“Saya juga sudah komunikasikan dengan Bu Wakil Bupati (Sleman), nanti kita akan buat disinfektan yang ramah manusia, jika itu mungkin kami akan komunikasikan dengan beberapa kawan yang punya drone. Sehingga bisa di semprotkan di tempat yang katakanlah mempunyai resiko tinggi. Jika itu bisa kami lakukan, insyaallah ada peran dari perguruan tinggi membantu masyarakat,” terang Fathul Wahid.

Subardi yang datang ke UII guna melihat langsung proses pembuatan menyatakan bahwa ada dua dampak yang dapat ditimbulkan dengan adanya upaya pembuatan APD tersebut. Pertama adalah bisa meringankan beban masyarakat karena terciptanya lapangan kerja, kedua adalah ketercukupan APD, sehingga tidak perlu impor.

“Ada dua hal positif bagi masyarakat. Pertama bisa memberikan stimulan ataupun beban hidup yang berat itu bisa tercukupi, karena adanya lapangan kerja. Kedua, ketersediaan APD ini tidak perlu kita impor, tidak perlu kita datangkan dari luar, tetapi dengan kita sediakan, maka akan tercukupi,” ungkapnya.

Menurut Subardi, pandemi ini akan segera berakhir jika semua elemen lembaga masyarakat ikut andil, saling membantu, bahu-membahu dalam upaya melawan pandemi Covid-19. “Covid-19 ini akan cepat selesai ketika yang menghadapi adalah seluruh lapisan masyarakat, sehingga ketika kita bersatu, bergotong-royong, secara bersamaan, dan disiplin diri, saya yakin insyallah Covid-19 akan cepat berakhir,” tandasnya.

Apresiasi juga disampaikan Wakil Bupati Sleman, Dra. Sri Muslimatun., M. Kes. yang turut hadir meninjau langsung proses pembuatan APD. “Saya sangat mengapresiasi, ini perlu dicontoh, tidak hanya menyampaikan dalam bentuk teori, tetapi inilah praktek nyatanya. Bagaimana kita mempersiapkan generasi yang unggul, yang nanti akan menjadi pemimpin-pemimpin bangsa dan negara,” terangnya.

Saat ini, Pemerintah Daerah (Pemda) Sleman juga telah mempersiapkan beberapa Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) untuk terlibat aktif dalam pembuatan APD. “Saat ini Pemda tengah menarik UMKM untuk membuat APD di Kabupaten Sleman. Bahannya disediakan pemerintah, sementara alat nanti dari para pelaku UMKM,” jelasnya.

Menurut Muslimatun, pandemi ini juga akan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi. Sehingga perlu upaya dari berbagai pihak. Terutama bagi lima pilar yang saat ini menjadi bagian penting dalam pembangunan Kabupaten Sleman.

“Ini akan menekan kegalauan ekonomi kita. Akan menjadi penurunan tingkat pertumbuhan ekonomi yang luar biasa. Sleman itu kemarin pertumbuhan ekonominya masih lebih baik dari pada Eropa. Tetapi kemudian musibah, bencana nasional ini tentu akan mengakibatkan penurunan pertumbuhan ekonomi,” ungkapnya.

Muslimatun menyinggung di antara lima pilar dalam pembangunan kabupaten Sleman tersebut. “Pemerintah sebagai fasilitator, perguruan tinggi sebagai konseptor, dan ternyata hari ini konseptor ini sudah menunjukkan (tampak). Tidak hanya teori, tetapi mereka memperlihatkan bahwa mahasiswa bisa mengaplikasikan ilmu yang didapatkannya,” paparnya.

Selain APD, disampaikan Muslimatun pihaknya juga telah menyiapkan tempat karantina bagi para pemudik, PDP, dan tenaga kesehatan yang tidak diterima di tempat asal mereka. “Ada kebijakan dari Pemkab Sleman terkait pemudik. Kami sudah menyediakan karantina. Tempat untuk karantia selama 14 hari contohnya di youth center, gelanggan pemuda yang ada di Cebongan,” Jelasnya.