Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menggelar kegiatan ziarah ke makam para pendiri dan tokoh UII pada Selasa (05/05). Kegiatan ini diikuti oleh pimpinan UII bersama dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, hingga purnatugas dalam rangka Milad ke-83 UII. Ziarah ini bertujuan untuk meneladani perjuangan serta nilai-nilai inspiratif para pendiri dan tokoh UII.

Ziarah dilaksanakan di sejumlah lokasi di antaranya Makam UGM Sawit Sari, Taman Makam Pahlawan Nasional Kusumanegara, Makam Bahoewinangun, Makam Boharen, hingga Makam Raja-Raja Imogiri.

Ketua Milad ke-83 UII, Dr. Rizqi Anfanni Fahmi, S.E.I., M.SI. dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat ikatan historis sekaligus meneladani perjuangan para pendiri universitas. “Ziarah makam pendiri dan tokoh UII merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Milad yang telah mulai dilaksanakan sejak awal tahun 2026,” ujarnya.

Rektor UII, Fathul Wahid dalam sambutannya saat pembukaan ziarah di Makam UII menekankan makna mendalam dari kegiatan tersebut. Menurutnya, ziarah bukan sekadar tradisi seremonial, melainkan bagian dari “ritual organisasional” yang menghubungkan kesadaran masa lalu dengan masa kini.

“Kegiatan ziarah merupakan wasilah untuk menyambungkan kesadaran masa lalu dengan kesadaran hari ini. Ini adalah bentuk penghormatan kita kepada para pendahulu, karena peradaban UII saat ini tidak mungkin terwujud tanpa kontribusi dan amal jariyah mereka,” kata Fathul Wahid.

Fathul Wahid juga menyebut sejumlah tokoh yang dimakamkan di Makam UII, seperti Mufti Abu Yazid yang pernah menjabat Wakil Rektor III pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an, Rasyid Baswedan yang juga pernah menjadi Wakil Rektor II, serta Syafaruddin Alwi yang dikenal memberikan banyak keteladanan. Selain itu, terdapat pula tokoh lain seperti Artidjo Alkostar, dan Luthfi Hasan yang turut dikenang jasanya.

Rektor menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi momentum untuk mendoakan para pendahulu. “Pada hari ini kita mempunyai kesempatan untuk mendoakan, semoga apa yang sudah mereka lakukan kepada UII diterima sebagai amal jariyah,” ujarnya.

Perjalanan berlanjut ke Makam UGM Sawit Sari, peserta berziarah ke makam Prof. Dr. H. Ace Partadireja, Prof. Dr. H. Zanzawi Soejoeti, dan Ir. R.H.A. Sahirul Alim yang pernah berkontribusi dalam kepemimpinan UII. Sementara di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara, peserta mengenang Prof. Dr. Sardjito yang berjasa dalam pengembangan UII melalui pembukaan fakultas di berbagai daerah.

“Kita bisa meneladani Prof. Sardjito dalam ketekunannya dalam berilmu hingga riset-risetnya mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tutur Fathul.

Ziarah kemudian dilanjutkan ke Makam Bahoewinangun untuk mengenang Prof. R.H.A. Kasmat Bahoewinangun, serta ke Makam Boharen sebagai tempat peristirahatan terakhir Prof. K.H.A. Kahar Mudzakkir, tokoh penting dalam sejarah UII sekaligus perumus Piagam Jakarta.

“Prof. Kahar merupakan sosok negarawan dengan visi yang melampaui zamannya dan memiliki jejaring internasional yang kuat sejak awal berdirinya UII,” tambahnya.

Perjalanan ditutup di Makam Raja-Raja Imogiri untuk mengenang GBPH Prabuningrat yang dikenal dengan kesederhanaannya selama menjabat sebagai Rektor UII. Di bawah kepemimpinannya, UII mengalami kemajuan signifikan, baik dalam pembangunan fasilitas maupun penguatan akademik.

Ziarah makam pendiri telah menjadi tradisi tahunan dalam rangka Milad UII. Kegiatan ini tidak hanya dimaksudkan sebagai bentuk penghormatan, tetapi juga sebagai sarana refleksi nilai-nilai perjuangan, integritas, dan dedikasi yang diwariskan oleh para pendiri kepada generasi penerus. (AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) terus memperkuat jejaring internasional melalui kolaborasi dengan berbagai institusi luar negeri, salah satunya bersama mitra dari Türkiye melalui program Bridge of the Heart: Türkiye–Indonesia Youth Exchange Program. Program ini dikoordinatori oleh Direktorat Kemitraan/Kantor Urusan Internasional (DK/KUI) UII bekerja sama dengan Program Studi Teknik Lingkungan dan Program Studi Informatika, serta berkolaborasi dengan Pemerintah Türkiye melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga Türkiye. Program ini dirancang sebagai ruang interaksi antara diaspora Türkiye dan pemuda Indonesia, khususnya di Yogyakarta, guna memperkuat pertukaran budaya, ide, dan pengalaman dalam pengembangan kepemudaan yang berdampak.

Sebanyak 10 peserta dari Türkiye mengikuti program yang resmi dibuka pada Selasa (05/05) di Gedung Fakultas Hukum UII. Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam mempererat kolaborasi pemuda lintas negara sekaligus memperkuat hubungan Indonesia dan Türkiye melalui diplomasi budaya dan pendidikan.

Wakil Rektor Bidang Kemitraan dan Kewirausahaan UII, Ir. Wiryono Raharjo, M.Arch., Ph.D., dalam sambutannya menyampaikan bahwa UII yang berdiri sejak 1945 telah memiliki sekitar 30 ribu mahasiswa dan menjalin kerja sama dengan berbagai universitas dunia, termasuk di Türkiye.

Menurutnya, kolaborasi tersebut diwujudkan melalui berbagai program pertukaran akademik seperti Erasmus dan kegiatan bersama lintas disiplin. “Kami juga terlibat dalam program pertukaran akademik dan joint activity, termasuk di bidang arsitektur dan hukum,” ujarnya.

Ia menambahkan, kerja sama yang telah terjalin sebelumnya juga mencakup program pertukaran mahasiswa selama satu bulan antara UII dan universitas di Türkiye yang tidak hanya berfokus pada pembelajaran akademik, tetapi juga penguatan pemahaman budaya. UII berharap kolaborasi internasional ini dapat terus berkembang dan membuka peluang yang lebih luas bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman global.

Sementara itu, perwakilan diaspora Türkiye, Serdar Güner, memperkenalkan Altındağ Youth Center sebagai institusi yang berfokus pada pengembangan potensi generasi muda melalui pendidikan, seni, dan kegiatan sosial. “Kami percaya bahwa pemuda adalah kekuatan terbesar sebuah negara, sehingga perlu didukung melalui berbagai program pengembangan,” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan harapannya agar kolaborasi dengan Indonesia dapat memperkuat pertukaran pengalaman, khususnya di bidang pendidikan, lingkungan, dan pengembangan digital.

Selama program berlangsung, peserta mengikuti berbagai kegiatan edukatif dan interaktif, mulai dari kunjungan ke Pemerintah Kabupaten Sleman dan Dinas Koperasi serta UMKM Kabupaten Sleman, diskusi mengenai pemberdayaan pemuda dan kewirausahaan, hingga pengenalan praktik keberlanjutan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat berbasis komunitas.

Melalui program ini, diharapkan tercipta jejaring internasional yang lebih kuat antara pemuda Türkiye dan Indonesia serta lahir berbagai inisiatif kolaboratif di bidang zero waste, digital volunteerism, dan kewirausahaan pemuda. Program ini menjadi bukti nyata pentingnya peran generasi muda dalam membangun hubungan antarbangsa yang inklusif, berkelanjutan, dan berdampak positif bagi masyarakat global. (NI/DS/AHR/RS)