Universitas Islam Ind0nesia (UII), PT Mutuagung Lestari Tbk. (MUTU International), dan Cheng Shiu University (CSU) Taiwan resmi memperluas kerja sama Jagad Lestari Center. Penguatan kemitraan tiga pihak (triple helix) ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) pada Kamis (17/09) di Gedung Kuliah Umum Prof. Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII. Kolaborasi ini berfokus pada peningkatan kapasitas pengujian dioksin, furan, serta emerging contaminants di Indonesia.
Kemitraan strategis ini menjadi sangat krusial seiring dengan berkembangnya kebutuhan pemantauan lingkungan dan pengolahan sampah menjadi energi terbarukan di Indonesia. “Tantangan lingkungan tidak berhenti di seluruh dunia. Kemitraan terbaik tidak dikaitkan dengan jumlah penandatanganan perjanjian, melainkan dengan dampak nyata yang kita buat bersama melalui tiga kata kunci: keberlanjutan (continuity), perluasan (expansion), dan implementasi (implementation),” ujar Vice President CSU, Prof. Yen-Yi Li.
Dalam pembagian peran tiga pihak, MUTU International bertindak memimpin pengembangan pasar, koordinasi proyek, dan hubungan industri. Sementara itu, UII berfokus pada eksekusi teknis, riset, serta operasional laboratorium di dalam negeri, yang disokong oleh keahlian metodologis, pelatihan QA/QC, dan validasi teknis tingkat lanjut dari CENTER CSU Taiwan.
Guna mendukung kesiapan teknis di Indonesia, CSU secara resmi menyerahkan instrumen pengujian dioksin canggih kepada Laboratorium Kualitas Lingkungan UII. Perangkat ini akan memperkuat laboratorium UII yang telah terakreditasi ISO/IEC 17025 oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN), sekaligus melengkapi pengujian kapasitas tinggi yang pada tahap awal dapat dilakukan bersama dengan fasilitas riset CENTER CSU.
Dari sisi industri, pemenuhan standar regulasi dan kesiapan pengujian lingkungan dinilai sebagai peluang ekspansi bisnis yang penting. “Melalui kolaborasi ini, kami bertujuan memperkuat kapabilitas analisis dan operasional laboratorium. Bagi MUTU, ini adalah peluang untuk memperluas portofolio layanan dan memberikan solusi yang lebih komprehensif bagi klien di Indonesia,” ungkap Direktur Utama MUTU International, Arifin Lambaga.
Wakil Rektor Bidang Penelitian, Inovasi, dan Kewirausahaan UII, Prof. Eko Siswoyo, S.T., M.Sc.ES, Ph.D., IPU menegaskan bahwa penanganan isu lingkungan kompleks memerlukan sinergi erat antara akademisi dan industri. “Pengawasan dioksin membutuhkan presisi dan teknologi tinggi. Dukungan instrumen dari CSU dan sinergi bersama PT MUTU menciptakan ekosistem kuat di mana riset akademik dapat langsung menjawab kebutuhan industri dan standar lingkungan nasional,” tuturnya.
Melalui sinergi ini, pengembangan kapasitas pengujian dioksin dan furan di Indonesia akan dilakukan secara bertahap meliputi pelatihan riset, sertifikasi, standardisasi SOP, serta benchmarking teknis. Ketiga lembaga berharap Jagad Lestari Center dapat menjadi rujukan utama pengujian pencemar berbahaya yang memberikan manfaat jangka panjang bagi kelestarian lingkungan dan industri di Indonesia. (AHR/RS)