UII Gelar Workshop Etika Publikasi Internasional Bersama Emerald Publishing

Direktorat Perpustakaan Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan Workshop Etika dan Kebijakan Publikasi Internasional sebagai upaya dalam peningkatan pemahaman sivitas akademika khususnya dosen dan mahasiswa pascasarjana terkait etika publikasi ilmiah.

Kegiatan yang dilaksanakan pada Kamis (23/04) di Gedung Mohammad Hatta Perpustakaan, Kampus Terpadu UII ini menghadirkan narasumber dari Emerald Publishing, William Loh Wui Lun yang membahas  tren publikasi, strategi menulis artikel ilmiah, serta proses menuju publikasi di jurnal bereputasi internasional.

Dalam sambutannya, Direktur Perpustakaan UII, Muhammad Jamil, S.IP mengatakan Perpustakaan UII secara konsisten menghadirkan berbagai program untuk mendukung sivitas akademika, mulai dari penyediaan akses sumber daya ilmiah, pendampingan penulisan karya ilmiah, hingga fasilitasi proses publikasi.

Salah satu sumber yang dapat dimanfaatkan adalah Emerald Insight, yang menyediakan ratusan jurnal di bidang bisnis, manajemen, dan ekonomi yang dapat diakses oleh mahasiswa. “Publikasi ilmiah saat ini bukan lagi pilihan, tetapi sudah menjadi kewajiban bagi sivitas akademika,” ujarnya.

Menurutnya, selain kualitas substansi karya ilmiah, pemahaman terhadap etika publikasi juga menjadi hal yang sangat penting, termasuk dalam penggunaan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI). UII sendiri telah memiliki regulasi terkait etika ilmiah sebagai pedoman bagi seluruh sivitas akademika dalam menghasilkan karya yang berkualitas dan berintegritas.

Kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh William yang menekankan pentingnya integritas dalam penelitian dan publikasi. Setiap karya ilmiah harus memenuhi prinsip orisinalitas, kejelasan kontribusi, serta tidak sedang diajukan ke penerbit lain. Selain itu, penulis juga diwajibkan mencantumkan sitasi yang tepat dan mengungkapkan potensi konflik kepentingan secara transparan.

“Penelitian harus dilakukan dengan standar integritas yang tinggi, karya yang dihasilkan harus orisinal, tidak sedang diajukan di tempat lain, serta mencantumkan referensi dan sumber secara jelas,” papar WIlliam

William juga menyoroti penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam penulisan ilmiah. Menurutnya, AI tidak dapat diakui sebagai penulis karena tidak memiliki tanggung jawab akademik, namun dapat digunakan secara terbatas untuk penyuntingan bahasa dengan tetap menjunjung prinsip transparansi. Penulis tetap menjadi pihak yang bertanggung jawab penuh atas isi dan keabsahan karya.

Melalui kegiatan ini, UII berharap sivitas akademika semakin memahami etika publikasi ilmiah sekaligus mampu meningkatkan kualitas riset. Dengan demikian, karya yang dihasilkan tidak hanya memenuhi standar akademik, tetapi juga memiliki kredibilitas dan daya saing di tingkat internasional. (AHR/RS)