Mendapatkan beasiswa luar negeri termasuk gampang-gampang susah. Namun demikian bukan hal yang mustahil bagi yang mau berusaha. Merespon tingginya animo mahasiswa pencari beasiswa, Learning Center UII menyelenggarakan acara Talk Show bertema Scholarship to Study Abroad. Talk Show Sharing Session tentang beasiswa ini digelar sebagai rangkaian acara Learning Week yang berlangsung dari 2 Maret hingga 4 Maret 2020. Acara yang dilaksanakan di Ruang Audio Visual (RAV) Gedung Moh.Hatta Lantai 2 perpustakaan pusat UII pada Senin (2/3) tersebut menghadirkan sejumlah narasumber penerima beasiswa (Awardee) dari LPDP, Erasmus+, DAAD, dan Australia Award.

Berbicara mengenai beasiswa (Scholarship) tidak akan lepas dari prestasi atau kepintaran. Hal itu yang disinggung oleh Nur Gemilang (Gemi), penerima beasiswa dari LPDP yang telah menyelesaikan studinya di Australia.

“Menurut saya, kita tidak boleh terus berpikiran bahwa beasiswa hanya khusus untuk orang-orang yang pintar saja. Ada tiga hal yang perlu dicamkan bagi mereka yang ingin melanjutkan studinya, yaitu Scholarship bukan untuk orang yang pintar, mudah di dapat, dan menjadi perihal rezeki dari masing-masing orang” ujar Gemi.

Gemi menambahkan, yang menjadi kesulitan para pelajar atau mahasiswa Indonesia dalam berencana melanjutkan studi ke luar negeri, bukan dikarenakan kemampuan namun karena sempitnya bayangan yang disebabkan oleh penilaian terhadap universitas-universitas ternama yang memiliki predikat terbaik.

“Mayoritas dari kita, jika sudah membicarakan beasiswa ke luar negeri akan langsung terbayang kampu-kampus top seperti Harvard, Oxford, Stanford, atau Massachusetts. Karena ini pandangan untuk studi keluar negeri menjadi sempit. Padahal banyak sekali di luar sana kampus-kampus yang bagus, dan tidak kalah dengan semua kampus ternama tadi”. Tutut Gemi.

Terkait dengan kesempatan memperoleh beasiswa, penerima Beasiswa dari Australia Award, Siti Mahdaria (Ria), dari pengalamannya mengungkapkan tidak semua orang langsung bisa mendapatkan peluang emas yang sudah tersedia. Dia berpendapat bahwa kegagalan dalam memperjuangkan studi lebih disebabkan kesiapan menerima kesempatan.

“Ketika ada kesempatan, kita sudah siap. Jadi terkadang gagal bukan karena kesempatan, kesempatan selalu ada. Tetapi kita belum siap menerima kesempatan itu. Jadi selalu siapkan diri kita mau kemanapun dan kapanpun, tanamkan di dalam diri kita Aku Mau Keluar Negeri“, ujarnya.

Dalam berencana untuk mengambil beasiswa untuk studi lanjut di luar negeri biasanya diperlukan pengalaman lebih, dalam rangka menunjang studi lanjutan yang akan diambil. Ria menuturkan, bahwa dari pengalamannya sebaiknya para mahasiswa Fresh Graduate, bekerja terlebih dahulu

“Saran saya sebelum mengambil beasiswa alangkah lebih baiknya teman-teman bekerja terlebih dahulu. Kecuali kalian mau menjadi dosen. Ketika kalian punya pengalaman kerja dan kalian berdiskusi, dengan teman-teman kalian di kelas nanti, itu cara kalian berfikir antara yang sudah punya pengalaman dan fresh Graduate akan berbeda”, tandasnya.

Sedangkan Nur Haris Ali (Nur), sebagai penerima beasiswa dari Erasmus+, yang pernah mendapatkan kesempatan untuk menempuh studi di Spanyol dan Portugal menyatakan bahwa Fresh Graduate tetap bisa langsung mengambil beasiswa.

“Kalau Dari Erasmus, Fresh Graduate bisa langsung dapat. Tapi itu mungkin untuk program Psikologi yang saya ambil” ujarnya.

Nur kembali berpesan bahwa beasiswa itu ada karena adanya usaha untuk mencari. “Kalau ada di antara teman-teman yang hanya menanyakan kabar terkait beasiswa, saya yakin seratus persen tidak akan ada yang memperoleh beasiswa. Karena seperti yang sudah dikatakan tadi, beasiswa itu bukan untuk orang-orang pintar, tetapi ada bagi mereka yang mau mencari”. Pungkasnya. (FSP/ESP)