• Admisi
  • UII Gateway
  • Email
  • Kontak
  • Bahasa Indonesia
  • English
Universitas Islam Indonesia
  • PENDIDIKAN
    • Program Pendidikan
    • Penerimaan Mahasiswa Baru
    • Merdeka Belajar Kampus Merdeka
    • Informasi Beasiswa
    • Fasilitas Kampus
    • Jelajahi Yogyakarta
  • PENELITIAN
    • Pusat Studi & Laboratorium
    • Riset & Pengajaran
    • Portal Jurnal
    • Konferensi & Seminar
  • PENGABDIAN
    • Pengabdian & Dakwah
    • Lingkungan & Keberlanjutan
    • Simpul Tumbuh
    • Donasi UIIPeduli
  • INTERNASIONAL
    • International Admission
    • Kantor Urusan Internasional
    • Mobilitas Internasional
    • Program Gelar Ganda
    • Erasmus+ CBHE di UII
  • LAYANAN
    • Mahasiswa
    • Alumni
    • Kemitraan
    • Publik & Rekan Media
    • Paten & Hak Cipta
  • PROFIL
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu
You are here: Home1 / Berita Kegiatan2 / Belajar Berkata Tidak Demi Kesehatan Mental
Berita Kegiatan

Belajar Berkata Tidak Demi Kesehatan Mental

Kebanyakan orang ingin merasa dicintai dan dihargai karena manusia merupakan makhluk sosial. Namun, ada juga perilaku seseorang yang cenderung mengiyakan semua permintaan dari orang lain dengan tujuan tertentu. Pada akhirnya, perilaku ini merugikan diri sendiri, karena menguras energi, waktu, dan kesehatan mental.

Untuk memahami terkait hal tersebut, Program Studi (Prodi) Psikologi Universitas Islam Indonesia (UII) bersama dengan Himpunan Mahasiswa Psikologi (HIMAPSI) mengadakan sharing session berkaitan dengan people pleaser “Sometimes, Its Okay To Say No”. Acara yang digelar pada Sabtu (10/12) secara daring melalui Zoom Meeting menghadirkan Andini Nabila Sari selaku Cofounder Diceritain Id dan Employee Experience Analyst Kompas Gramedia dan Lika S.Psi., M.Psi.  selaku Psikolog JadiLega.

Pada sesi penyampaian materi, Andini Nabila Sari menjelaskan bahwa kebanyakan orang menganggap people pleaser adalah berbuat kebaikan. Tetapi keduanya merupakan hal yang berbeda. 

“Kebaikan merupakan bentuk ekspresi diri, sedangkan people pleaser merupakan perilaku yang digunakan sebagai landasan dalam melakukan sesuatu. Biasanya individu dengan kecenderungan menyenangkan orang atau people pleaser akan sulit mengatakan tidak,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa menjadi seorang people pleaser dapat melelahkan fisik dan mental. Hal ini terus berdampak seseorang mengalami gangguan kecemasan dan tertekan karena tidak bisa mengekspresikan diri. 

“Dampak dari people pleaser ini mengakibatkan seseorang untuk memendam amarah karena sebenarnya dia tahu kalau dia dimanfaatkan oleh orang-orang sekitar. Hal ini dapat memicu frustasi dan dan membuat seseorang menjadi depresi dan menjadi boomerang pada diri sendiri karena rasa amarah yang dipendam bisa meledak dan malah memicu penyakit tertentu,” ungkapnya.

Ia juga menerangkan bahwa memelihara sifat people pleaser menandakan seseorang merasa kedudukan diri sendiri lebih rendah dari pada orang lain dalam mengedepankan kepentingan maupun perasaan orang lain. Lebih lanjut, kebiasaan itu dapat mengakibatkan seseorang terbiasa merendahkan diri. Sehingga pentingnya seseorang berhenti menjadi people pleaser agar hidup lebih bahagia. 

“Apabila kamu merasa dipandang sebagai orang yang terlalu baik dan merasa saat nanti kamu mau berubah terlihat seperti orang jahat maka perubahan tanpa meninggalkan perasaan itu dapat dilakukan,” ungkapnya.

Terakhir, ia berpesan bahwa berbuat baik memang baik, namun tetaplah membuat batasan diri agar tidak dimanfaatkan orang lain. Dan cobalah untuk lebih peka terhadap situasi dan kondisi.

Sementara itu, Lika menilai bahwa menolak orang lain bukan berarti jahat, karena itu berikan pengertian kepada seseorang bahwa tidak bisa memberikan bantuan seperti yang diharapkan dan juga juga tidak membiasakan untuk meminta maaf jika tidak perlu.

“Meninggalkan sikap people pleaser mengakibatkan sikap overthinking dengan pemikiran orang lain. Sebaiknya kita mulai cuek dan mencoba tidak peduli dengan pemikiran orang lain karena hanya kita yang memahami diri kita seutuhnya sehingga yang paling paham adalah diri sendiri bukanlah orang lain,” jelasnya.

Terakhir, ia memberi saran bahwa menolong orang lain merupakan perbuatan baik. Tetapi seseorang tidak perlu berlebihan sampai merelakan segala cara dan mengesampingkan diri. (PN/ESP)

11 Desember 2022
Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Share on WhatsApp
  • Share on LinkedIn
  • Share by Mail
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2022/12/pexels-madison-inouye-2821823.jpg 450 676 humas https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII-Kuning.png humas2022-12-11 11:09:392022-12-12 11:16:41Belajar Berkata Tidak Demi Kesehatan Mental

Berita Terakhir

  • UII Luncurkan Fakultas Teknik Desain Inovasi, Perkuat Kolaborasi untuk Masa Depan Berkelanjutan
  • UII Sambut 22 Mahasiswa Internasional dalam Program P2A UIISAGE BRIDGE 2026
  • UII Gelar Studium Generale Ungkap Akar Perilaku Menyimpang dalam Masyarakat
  • Perkuat Kolaborasi Internasional dan Kebudayaan, Program Studi Farmasi UII Gelar Pembukaan G-PICE 2026
  • Universitas Mohammad Natsir Pelajari Sistem Pendidikan Pondok Pesantren UII melalui Kunjungan Studi Tiru

Gedung GBPH Prabuningrat (Rektorat)
Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia
Jl. Kaliurang km. 14,5 Sleman, Yogyakarta 55584 Indonesia

Telepon: +62 274 898444
Faks: +62 274 898459
Email: info[at]uii.ac.id

Akreditasi Institusi Unggul. Universitas Islam Indonesia telah mendapatkan Akreditasi Institusi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tahun 2022.

© Hak Cipta 2025 - Universitas Islam Indonesia - Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia | Pengelolaan Situs Web | Pernyataan Sangkalan | Tampilan Lama | Konten terakhir dimutakhirkan 25 Januari 2024
Link to: Konsep Green Leadership Untuk Keberlanjutan Dunia Link to: Konsep Green Leadership Untuk Keberlanjutan Dunia Konsep Green Leadership Untuk Keberlanjutan Dunia Link to: Akuntansi UII Siap Mengisi Kebutuhan Konsultan SAP Link to: Akuntansi UII Siap Mengisi Kebutuhan Konsultan SAP Akuntansi UII Siap Mengisi Kebutuhan Konsultan SAP Scroll to top Scroll to top Scroll to top