Rektor Universitas Islam Indonesia (UII), Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D. menyampaikan tausiyah menjelang dilaksanakannya shalat tarawih pertama Ramadan 1440 H, di Masjid Ulil Albab, Kampus UII Terpadu, Ahad (5/5). Di hadapan jama’ah, Fathul Wahid menyampaikan tiga hal hasil perenungannya terkait bulan Ramadan.

Mengawali ceramahnya, Fathul Wahid mengajak jama’ah untuk memanjatkan syukur atas nikmat Allah atas kesempatan yang diberikan, dapat bertemu kembali dengan bulan Ramadan. Termasuk syukur atas do’a yang sering kita panjatkan pada bulan Rajab lalu, telah diijabah oleh Allah.

Sebagaimana kita berdoa: Allâhumma bârik lanâ fî Rajaba wa Sya‘bâna wa ballighnâ Ramadhânâ ‘Ya Allah, berkatilah kami pada Bulan Rajab dan Bulan Sya’ban. Sampaikan kami dengan Bulan Ramadan. “Malam ini, kita masih diberikan kesempatan untuk bertemu kembali dengan bulan mulia, bulan Ramadan,” seru beliau.

Fathul Wahid menuturkan tigal hal yang merupakan buah perenungannya, yakni bulan Ramadan merupakan bulan obral pahala. Dikatakan bulan obral pahala karena di dalam bulan Ramadan, Allah memberikan fasilitas berupa pahala yang melimpah atas setiap ibadah yang dikerjakan.

“Sebagaimana tertuang dalam hadits, yang menerangkan bahwa siapa yang memberi makan orang berpuasa, maka Ia akan mendapat pahala layaknya orang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa,” jelasnya.

“Jadi ketika bapak/ ibu memberikan takjil kepada seratus orang yang berpuasa, maka akan mendapatkan pahala puasa sebanyak seratus. Hal ini tentu terjadi karena bulan Ramadan, bulan obral pahala,” Imbuh Fathul Wahid.

Disampaikan Fathul Wahid, sebab lain juga disebutkan dengan merujuk pada beberapa dalil. Seperti sebuah hadits qudsi, yang menyebutkan bahwa amalan orang yang berpuasa itu untuk Allah, serta Allah sendirilah yang akan membalasnya. Termasuk hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyatakan bahwa umrah yang dilaksanakan pada bulan Ramadan, pahalanya ibarat Haji bersama Rasulullah.

Lebih lanjut disampaikan Fathul Wahid, perkara kedua dalam perenungannya, menemukan bahwa bulan Ramadan merupakan bulan penghapus dosa. Hal ini didasarkan pada hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa dosa yang dilakukan seseorang antara bulan Ramadan ke bulan Ramadan berikutnya, akan diampuni.

“Kita juga punya penghapus tahunan, yaitu antara bulan Ramadan. Dosa kecil yang kita lakukan di antara bulan Ramadan, ketika kita melakukan puasa di bulan Ramadan dengan baik maka dosa-dosa kita akan dihapus,” terang Fathul Wahid.

Fathul Wahid menambahkan, dua syarat dosa diampuni yaitu melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadan semata karena iman serta mengharap ridha Allah. Bulan Ramadan merupakan bulan ampunan yang di dalamnya pahala atas setiap ibadah yang dikerjakan, dilipatgandakan oleh Allah.

“Tak jarang di antara kita, ketika memasuki bulan Ramadan cenderung meningkatkan aktivitas ibadah. Dengan dasar tersebut. Bulan Ramadan merupakan bulan ringan ibadah. Pergi ke masjid lebih ringan membaca Qur’an banyak temennya, bersedaqah suasanannya lebih memungkinkan dan lain-lain,” jelas Fathul Wahid.

Salah satu hadits yang menerangkan sebab kemudahan atas ibadah yang dilakukan pada bulan Ramadan adalah hadits yang menyebutkan bahwa di bulan Ramadan pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, serta setan dibelenggu. Dari hadits tersebut, timbul pertanyaan. Lantas mengapa jika setan dibelenggu, masih terjadi kemaksiatan.

“Pertama, karena sumber maksiat tidak hanya dari setan, tetapi juga dari hawa nafsu. Kedua, karena setan hanya dibelenggu, sehingga masih dapat bergerak. Ketiga, setan dibelenggu secara maknawi, tidak secara hakiki. Dan yang keempat, karena tidak semua setan dibelenggu,” tutur Fathul Wahid. (D/RS)