Universitas Islam Indonesia (UII) menjadi tuan rumah pada penyelenggaraan Rapat Koordinasi Pimpinan Perguruan Tinggi Swasta (PTS), APTISI, ABPPTSI dan LLDIKTI Wilayah V Yogyakarta Periode II tahun 2019. Bertempat di Auditorium Prof. K.H. Abdulkahar Mudzakkir pada Selasa (30/4), rapat koordinasi dihadiri pimpinan PTS di Yogyakarta guna membahas kualitas dan daya saing.

Kepala LLDIKTI Wilayah V Periode 2019-2023, Prof. Dr. Didi Achjari, S.E, M.Com, Akt., dalam sambutannya mengatakan perguruan tinggi perlu memanfaatkan digitalisasi, yang saat ini hampir terjadi di berbagai aspek.

“Tantangan perguruan tinggi di Indonesia saat ini bagaimana mampu memanfaatkan perkembangan teknologi dan bisa bertahan di tengah perubahan zaman yang sering kita katakan revolusi industri 4.0. Tentu saja juga perlu melihat kebutuhan dan kondisi di perguruan tinggi masing-masing,” terangnya.

Prof Didi menambahkan bahwa tata kelola yang ada di berbagai PTS khususnya di Yogyakarta masih perlu ditingkatkan. Pasalnya, tata kelola ini akan sangat berpengaruh dalam keberlanjutan sebuah institusi, apalagi di bidang pendidikan dalam kegiatan kesehariannya menyelenggarakan sistem pengajaran. Seperti pemanfaatan layanan internet dalam menggelar kuliah, penyediaan data informasi mengenai universitas terkait akreditasi.

“Dalam akreditasi misalnya, beberapa perguruan tinggi sering terlambat memberikan data yang berhubungan jumlah calon mahasiswa dan mahasiswa yang ada, akan lebih mudah dalam memasukkan data tersebut,” tambahnya.

Sementara Rektor UII, Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D. mengatakan melalui forum ini menjadi momentum bagi PTS di Yogyakarta guna memajukan kualitas dan mampu menyongsong kemajuan Indonesia bersama-sama. “Harapan kami melalui program ini dapat menjadi momentum evaluasi PTS dan memajukan kemajuan pendidikan Indonesia secara bersama-sama,” ungkapnya.

Pada rapat kordinasi kali ini juga diselenggarakan diskusi yang diisi oleh Kepala LLDIKTI Wilayah V Periode 2014-2018, Dr. Ir. Bambang Supriyadi, CES. DEA. dan Kepala Badan Sistem Informasi (BSI) UII, Mukhammad Andri Setiawan, Ph.D. dengan topik bahasan mengenai disrupsi teknologi informasi dan akreditasi di perguruan tinggi.

Seperti yang masyarakat umum ketahui, akreditasi merupakan salah satu pertimbangan bagi calon mahasiswa dalam menentukan perguruan tinggi yang sesuai dengan keinginannya. Maka dari itu akreditasi yang tinggi akan berpengaruh pada minat masyarakat terhadap perguruan tinggu tersebut.

Disampaikan Bambang Supriyadi, akreditas menjadi kunci bagi perguruan tinggi dalam menarik minat calon mahasiswa. Diluar aspek-aspek lainnya seperti fasilitas dan biaya. Ia mengatakan hampir 70 persen program studi PTS yang ada di Yogyakarta saat ini telah terakreditasi A dan B. Ini menunjukkan kualitas yang dimiliki PTS-PTS di Yogyakarta memiliki persyaratan dalam menggelar perkuliahan hingga tata kelola yang baik.

“Jika dilihat dari total akreditasi A dan B dengan jumlah prodi, PTS di Wilayah V ini memiliki persentase yang paling baik diantara wilayah lainnya,” tuturnya.

Bambang Supriyadi menekankan kepada PTS di wilayah V agar mampu mempertahankan atau meningkatkan lagi akreditasi yang diperoleh, yakni melalui evaluasi internal PTS itu sendiri. Evaluasi internal ini meliputi input yang menandakan kualitas calon mahasiswa akan masuk, selanjutnya proses berkaitan dengan sarana dan prasaran sebagai penunjang dalam mencetak lulusan yang memiliki daya saing dan output berupa sejauh apa tersebarnya lulusan dalam memberikan dampak positif di masyarakat.

“Evaluasi berupa penjaminan mutu menjadi sarana bagi perguruan tinggi dalam upayanya meningkatkan dan mempertahankan akreditasi, dan mencetak lulusan yang memiliki daya saing yang tinggi,” ungkapnya.

Selain itu perguruan tinggi saat ini dituntut mampu mengikuti perkembangan zaman, seperti yang terjadi saat ini perkembangan sistem informasi dan teknologi yang masif. Andri Setiawan mengatakan bahwa revolusi industri 4.0 ini berkaitan dengan layanan yang cepat dan akses yang mudah. Melihat berbagai perguruan tinggi di luar negeri saat ini memiliki layanan yang terintegritas atau saling berhubungan. Bahkan antara kampus satu dengan yang lain memanfaatkan layanan teknologi untuk kemudahan akses informasi melalui internet.

“Menurut UN Resolution PBB, internet bahkan sudah masuk kebutuhan dasar manusia. Ini yang perlu ditangkap perguruan tinggi agar mampu menyediakan sarana ini, yang bisa menunjang berbagai kolaborasi yang lebih besar,” ungkapnya.

Andri Setiawan menambahkan di UII sendiri saat ini telah memanfaatkan salah satu layanan internet terpadu eduroam. Layanan ini merupakan akses internet yang lebih mudah hampir di seluruh dunia. Ini menjadi salah satu kemudahan dalam mengakses informasi terlebih akademik lebih mudah dan cepat menggunakan satu nomor indentitas saja.

“Eduroam memberikan kemudahan bagi civitas academica dalam memperoleh akses internet di berbagai kampus yang telah terkoneksi dengan eduroam di seluruh dunia,” tambahnya. (ENI/RS)