Di masa sekarang, banyak lowongan pekerjaan yang tidak hanya mengandalkan nilai akademis, melainkan juga kreativitas seseorang. Baik kreatif dalam hal desain, editing, dan sebagainya. Berbagai aplikasi tersedia secara luas, dan memungkinkan bagi siapapun untuk dapat menggunakannya melalui smartphone maupun laptop. Aplikasi-aplikasi yang tersedia ini ada yang geratis, dan berbayar dari biaya rendah hingga harga yang fantastis.

Topik tersebut memantik organisasi keagamaan Hafiz-hafizah Mahasiswa Univeristas Islam Indonesia (HAWASI UII) mengadakan pelatihan desain aplikasi open source, yakni Inkspace. Kegiatan tersebut diberi judul Pelatihan Dakwahgram for Ummah yang dilaksanakan selama dua hari pada 27-28 Juni melalui Google Meet.

Ketua panitia, Muhammad Fikri Ahsani Ash Shaumi mengatakan bahwa era digital dimana visual menjadi hal penting dalam setiap hal. Pelatihan desain ini diharapkan agar setiap orang dapat memaksimalkan potensi-potensi desain, visual, editing guna kebutuhan edukasi, dakwah, bisnis, atau hal lain yang bersifat pribadi maupun instansi. Pelatihan di hari pertama diisi oleh Rifqi Akhdan Pradipta, mahasiswa Teknik Kimia 2018 UII, pendiri jasa desain Dabir Design Studio yang juga aktif sebagai pengurus HAWASI dan Laboratorium Mahasiswa (LABMA) UII. Sedangkan di hari kedua, diisi oleh Ahmad Mauludin Rahmanulail.

Inkscape merupakan aplikasi baru yang belum banyak orang mengetahuinya. Inkspace merupakan software editor berbasis vector yang bersifat Open Source (bebas dan terbuka) di bawah lisensi GPL. Karena bebas dan terbuka, maka 100% gratis. Software ini dapat menjadi alternatif dari penggunaan aplikasi berbayar seperti Corel Draw, Adobe Illustrator, Gravit Designer, dan Alfinity Designer. Software ini sangat cocok untuk kalangan pelajar, mahasiswa atau praktisi desain grafis yang ingin menggunakan software tanpa harus membajak atau membayar banyak uang, bahkan dapat juga digunakan oleh freelancer yang ingin mencari keberkahan.

Setiap aplikasi memiliki kelebihan dan kekurangan, begitupun dengan Inkscape. Kelebihan aplikasi ini adalah open source (gratis), ringan untuk dioperasikan, ukuran file yang kecil, tool lengkap, kualitas hasil bermutu, dapat membaca dan mengedit file dari editor lain. Sedangkan kekurangannya menurut Rifqi Akhdan Pradipta antara lain masih terbatas membaca dan mengedit file dari software lain terutama berbentuk (.cdr). Selain itu penggunanya masih sedikit dan interface yang bertumpuk.

Guna menghasilkan poster yang baik, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama adalah readability (mudah dibaca). Di aplikasi Inkspace agar mudah dibaca maka font size diposter minimal 24 sampai 26, sebab hasil akan berbeda ketika dilayar sama yang sudah jadi di format jpg atau pdf. Font type maksimal 3 jenis font, kalau lebih dari 3 maka kurang enak dilihat pembaca, bahkan dapat membuat sakit mata.

“Ada empat type font, ada serif, sans serif, display, sama script atau handwriting,” tambah Rifqi Akhdan Pradipta. Selain font, jarak spasi, warna pada teks juga perlu diperhatikan jika ingin mendapatkan poster yang mudah dibaca dan mudah dimengerti. Sedangkan warna terdapat tiga jenis, yakni primer, sekunder, dan tersier.

Komposisi saat mengedit juga perlu diperhatikan. Dalam bahasa komposisi berarti tata letak. Layout merupakan sebuah sket rancangan awal untuk menggambarkan organisasi unsur-unsur komunikasi grafis yang akan disertakan. Prinsip layout ada empat, urutan, penekatan, leseimbangan, dan kesatuan. Selama masa pelatihan ini, setiap peserta wajib mengunduh aplikasi Inkspace dan langusng mempraktekannya dengan dibimbing langsung oleh pemateri. (SF/RS)