IKI UII Gelar Halalbihalal dan Lepas Calon Jamaah Haji 1447 H

Halalbihalal dan pelepasan jamaah calon haji 1447 H yang diselenggarakan oleh Keluarga Besar Ikatan Keluarga Ibu-Ibu (IKI) Universitas Islam Indonesia (UII) berlangsung pada Rabu (08/04) di Auditorium Prof. K.H. Abdul Kahar Muzakkir, Kampus Terpadu UII. Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran pengurus IKI UII, keluarga besar UII, serta para calon jamaah haji, dengan rangkaian acara dari registrasi, penampilan hadroh, sambutan, hingga tausiyah.

Momentum ini menjadi ruang silaturahmi pasca-Ramadan sekaligus penguatan spiritual bagi calon jamaah haji. Selain itu, kegiatan ini juga menghadirkan refleksi bersama mengenai keberlanjutan nilai ibadah dalam kehidupan sehari-hari.

Ketua IKI UII, Prof. Nurul Indarti, Sivilokonom., Cand.Merc., Ph.D. , mengajak peserta untuk menjaga kesinambungan nilai Ramadan dalam kehidupan sehari-hari, tidak berhenti pada momentum semata.

“Momen berkumpulnya kita hari ini tidak hanya untuk saling lepas rindu saja, namun juga merawat jejak jejak kebaikan yang telah kita buat selama bulan ramadhan, agar tetap hidup dan berlanjut dalam keseharian kita.”

Perwakilan jamaah calon haji, Dr. Noor Fitri, menekankan bahwa ibadah haji adalah perjalanan yang menuntut kesiapan lahir dan batin, sehingga membutuhkan dukungan doa dari lingkungan sekitar.

“Kami memohon doa dari bapak ibu sekalian, karena kami tahu haji bukan hanya perjalanan fisik saja, tetapi juga proses pembelajaran dan evaluasi diri yang menuntut pengetahuan, kesabaran, serta ketawakkalan kepada Allah SWT dalam setiap tahapnya.”

Kegiatan dilanjutkan dengan tausiyah yang dibawakan oleh Ustadz Prof. drh. Agung Budiyanto, M.P., Ph.D. tentang kemuliaan peran istri dalam rumah tangga sebagai bentuk ketaatan. “Menjadi istri itu adalah bentuk ketaatan yang mulia; ketika ia mampu menenangkan, meneduhkan, dan menghadirkan kesejukan dalam rumah tangga, di situlah ia meneladani kemuliaan Khadijah binti Khuwailid sebagai penopang bagi suaminya.”

Prof. Agung kemudian mengaitkan peran tersebut dengan praktik keseharian, khususnya selama Ramadan yang sarat dengan pengorbanan.“Apalagi di bulan Ramadan, setiap lelah bangun sahur, menyiapkan kebutuhan keluarga, hingga mengorbankan waktu dan tenaga, semua itu bernilai ibadah dan menjadi bukti nyata ketaatan seorang istri di hadapan Allah.”

Sebagai penegasan, Prof. Agung menutup dengan menekankan bahwa nilai utama terletak pada niat dan keikhlasan dalam setiap peran yang dijalankan. “Maka keistimewaan seorang istri tidak hanya terletak pada perannya, tetapi pada niat dan keikhlasan yang menjadikan setiap aktivitasnya bernilai pahala di sisi-Nya.”

Kegiatan ini pun menegaskan bahwa halalbihalal tidak sekadar tradisi silaturahmi, tetapi juga menjadi ruang penguatan nilai, doa, dan kesiapan spiritual dalam menyambut ibadah haji. (IMK/AHR/RS)