Universitas Islam Indonesia (UII) menerima kunjungan Universitas Ibnu Sina (UIS) Batam dalam rangka penandatanganan nota kesepahaman dan penguatan kerja sama antarperguruan tinggi. Kegiatan yang berlangsung di Kampus Terpadu UII pada Senin (15/06) tersebut menjadi langkah awal untuk memperluas kolaborasi dalam bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta pengembangan kelembagaan.

Rektor Universitas Ibnu Sina, Dr. Ir. Larisang, M.T., IPU menyampaikan apresiasinya atas sambutan yang diberikan UII. Ia menilai UII sebagai salah satu perguruan tinggi Islam terkemuka di Indonesia yang memiliki pengalaman panjang dalam pengembangan institusi dan tata kelola pendidikan tinggi. Menurutnya, kerja sama ini diharapkan dapat menjadi sarana pembelajaran bagi UIS dalam memperkuat kapasitas akademik dan kelembagaan.

“Kami berharap UII dapat menjadi mitra sekaligus pembina bagi Universitas Ibnu Sina. Banyak hal yang ingin kami pelajari, mulai dari tata kelola, penjaminan mutu, penelitian, hingga pengembangan kemahasiswaan agar kami dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi yang lebih besar bagi masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Rektor UII, Prof. Dr. Ir. Hari Purnomo, M.T., IPU., ASEAN Eng., menegaskan bahwa keberhasilan kerja sama tidak diukur dari banyaknya dokumen yang ditandatangani, melainkan dari implementasi program yang dijalankan bersama. Oleh karena itu, Prof. Hari mendorong kedua institusi untuk segera merealisasikan berbagai bentuk kolaborasi yang memberikan manfaat nyata.

“Yang terpenting bukan sekadar MoU atau MoA, tetapi pelaksanaannya. Melalui kerja sama ini, kita dapat mengembangkan riset kolaboratif, pertukaran mahasiswa, pelatihan, seminar bersama, dan berbagai program lainnya yang mendukung kemajuan kedua institusi,” ungkapnya.

Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi kerja sama antara kedua universitas yang membahas peluang kolaborasi di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Penandatanganan nota kesepahaman tersebut diharapkan menjadi fondasi bagi hubungan yang lebih erat antara UII dan UIS. Melalui sinergi yang dibangun, kedua perguruan tinggi berkomitmen untuk saling mendukung dalam peningkatan mutu pendidikan tinggi sekaligus memperluas kontribusi bagi masyarakat dan pembangunan bangsa. (AHR/RS)

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh Prof. Dr. Drs. Unggul Priyadi M.Si., dosen sekaligus guru besar bidang Ekonomi Kelembagaan Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE) Universitas Islam Indonesia (UII) dalam ajang Kejuaraan Nasional Tenis Antar Profesor (ATPI) 2026 yang berlangsung di Bali pada 12–14 Juni 2026. Berpasangan dengan Prof. Soetriono, dosen Universitas Jember (UNEJ), Prof. Unggul berhasil meraih Juara 2 setelah bersaing dengan para profesor pecinta tenis dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Capaian ini melanjutkan konsistensi prestasi Prof. Unggul dalam kejuaraan tenis antar profesor tingkat nasional. Sebelumnya, pada Kejurnas ATPI 2024 di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Prof. Unggul berhasil meraih Juara 3. Prestasi serupa juga diraih pada Kejurnas ATPI 2025 di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dengan kembali menempati posisi Juara 3.

Menurut Prof. Unggul, konsistensi prestasi tersebut tidak terlepas dari latihan rutin dan keterlibatan aktif dalam berbagai kompetisi tenis, baik di lingkungan universitas maupun di luar kampus. Ia menilai bahwa menjaga kemampuan olahraga memiliki prinsip yang sama dengan mengembangkan keilmuan akademik, yakni membutuhkan latihan, pembelajaran, dan evaluasi yang berkelanjutan.

“Sebagai atlet cabang olahraga apa pun, untuk menjaga prestasi harus berlatih secara rutin dan mengikuti kompetisi. Hal ini mirip dengan dunia akademik, di mana seseorang perlu terus belajar dan mempersiapkan diri secara maksimal untuk mencapai hasil terbaik,” ujarnya.

Selain aktif mengikuti latihan dan kompetisi internal maupun eksternal, Prof. Unggul juga terlibat dalam berbagai kejuaraan tenis tingkat lokal dan nasional. Ia menilai keikutsertaan dalam berbagai turnamen menjadi sarana penting untuk menjaga kemampuan bertanding sekaligus memperluas jejaring persahabatan antarakademisi.

Dalam membagi waktu antara tugas caturdharma perguruan tinggi dan olahraga, Prof. Unggul mengaku tetap mengutamakan tanggung jawab akademik. Latihan tenis dilakukan di luar jadwal mengajar dan kegiatan akademik lainnya dengan tetap memperhatikan kondisi kesehatan.

“Latihan dilakukan di luar waktu kuliah dan tugas akademik lainnya. Yang penting adalah menjaga disiplin waktu dan kondisi fisik, apalagi usia saya sudah lebih dari 60 tahun,” katanya.

Mengenai keberhasilannya meraih prestasi bersama pasangan dari berbagai perguruan tinggi, Prof. Unggul menilai komunikasi menjadi kunci utama. Selama tiga tahun terakhir, ia selalu berpasangan dengan dosen dari luar Yogyakarta dan mampu meraih prestasi nasional.

“Tantangan terbesar adalah membangun kekompakan dengan pasangan yang berasal dari institusi berbeda. Karena itu, komunikasi sebelum dan selama pertandingan menjadi sangat penting. Kami saling mendukung dan menjaga koordinasi selama bertanding,” jelasnya.

Prof. Unggul berharap ke depan semakin banyak dosen yang aktif menekuni olahraga, khususnya tenis lapangan, sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan sekaligus mengharumkan nama institusi di tingkat nasional. Ia juga berharap kompetisi tenis di lingkungan perguruan tinggi dapat terus berkembang dan menjadi ajang silaturahmi antardosen maupun alumni.

Prestasi yang diraih Prof. Unggul menunjukkan bahwa semangat berkompetisi, disiplin berlatih, dan kolaborasi yang baik dapat menghasilkan capaian membanggakan, bahkan di tengah kesibukan menjalankan tugas sebagai akademisi. Keberhasilan meraih Juara 2 pada Kejurnas ATPI 2026 menjadi bukti bahwa usia dan kesibukan bukanlah penghalang untuk terus berprestasi di tingkat nasional. (AHR/RS)

Pondok Pesantren Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar Haflah Takharruj Santri Tahun 2026 di Auditorium Prof. K.H. Abdul Kahar Mudzakkir UII, Ahad (14/6). Sebanyak 29 santri resmi menyelesaikan pendidikan kepesantrenan, terdiri atas 16 santri putra dan 13 santri putri.

Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00–12.00 WIB tersebut menjadi momentum pelepasan santri sekaligus peneguhankomitmen Pondok Pesantren UII dalam mencetak lulusan yang unggul dalam bidang akademik, keislaman, dan kepemimpinan.

Pengasuh Pondok Pesantren Putra Direktorat Pondok Pesantren UII, Dr. Suyanto, S.Ag, MSI., menyampaikan bahwa hingga saat ini Pondok Pesantren UII telah meluluskan ratusan alumni yang tersebar di berbagai bidang profesi dan pengabdian.

“Sejak angkatan pertama tahun 1996 hingga 2021, Pondok Pesantren Putra UII telah meluluskan 360 alumni. Sementara Pondok Pesantren Putri sejak angkatan pertama tahun 2011 hingga 2021 telah meluluskan 156 alumni,” ujarnya.

Dalam sambutannya, Rektor UII Prof. Dr. Ir. Hari Purnomo, M.T., IPU., menyampaikan bahwa santri memiliki peran yang sangat penting kepada masyarakat.

“Di tengah perubahan yang cepat, santri berperan sangat penting untuk menjadi penjaga dan agent of change, maka itu jagalah akhlak. Tradisi pesantren juga mengajarkan bahwa belajar adalah sepanjang hayat, terus lah belajar, keberhasilan itu diukur dari kebermabfaatan yang diberikan kepada umat dan masyarakat.” ujarnya.

Sementara itu Prof. Dr. Tamyiz Mukharrom, M.A., selaku Direktur  Pondok Pesantren UII menjelaskan tujuan Pesantren UII untuk mencetak pemimpin unggulan.

“Pesantren UII ingin menjadikan mahasiswa-mahasiswi UII terutama dari kalangan yang tidak mampu juga yang punya kemampuan intelektual yang unggul, diberikan beasiswa untuk menjadi mahasiswa-mahasiswi yang unggulan.”

Pada Haflah Takharruj tahun ini, penghargaan wisudawan terbaik diberikan kepada santri yang memiliki akumulasi nilai tertinggi antara Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) di pondok pesantren dan di fakultas.

Untuk kategori putra, penghargaan diraih oleh Jalaluddin Rizqi Mulia, S.Hub.Int., asal Sintete, Kalimantan Barat. Lulusan Program Studi Hubungan Internasional UII tersebut memperoleh IPK Pondok 3,95 dan IPK Kampus 3,96, dengan rata-rata akumulasi 3,95.

Jalaluddin menilai lingkungan Pondok Pesantren UII berperan penting dalam mendukung pengembangan kapasitas diri para santri secara menyeluruh, baik dalam aspek akademik maupun non-akademik. Menurutnya, kultur yang dibangun dipesantren mendorong para santri untuk aktif mengikuti berbagai kegiatan serta mengembangkan minat dan potensi masing-masing.

Selain memperkuat kapasitas keilmuan, menurut Jalaluddin berbagai aktivitas kepesantrenan juga menjadi ruang pembelajaran untuk mengasah keterampilan non-teknis, seperti kepemimpinan, komunikasi, dan kemampuan beradaptasi. Ia menilai ekosistem yang suportif tersebut turut memudahkan santri dalam mengakses berbagai peluang pengembangan diri.

Sementara itu, penghargaan wisudawan terbaik kategori putri diberikan kepada Amri Nadia M., S.Ak., asal Banyuwangi, Jawa Timur. Lulusan Program Studi Akuntansi UII tersebut meraih IPK Pondok 3,91 dan IPK Kampus 3,92, dengan rata-rata akumulasi 3,915.

Tradisi menghadirkan alumni sebagai narasumber inspiratif juga kembali dilaksanakan dalam Haflah Takharruj tahun ini. Orasi motivasi disampaikan oleh Prof. Dr. Muhammad Toyib, M.Pd., Guru Besar bidang Pendidikan Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo sekaligus alumni Pondok Pesantren UII angkatan 1998.

Menurut Suyanto, tradisi menghadirkan alumni dalam prosesi wisuda santri telah berjalan selama lima tahun terakhir. Sebelumnya, orasi motivasi disampaikan oleh alumni yang berkarier sebagai hakim agama dan alumni bidang teknologi informasi yang menjabat sebagai direktur pada salah satu anak perusahaan Pertamina.

“Melalui kehadiran para alumni, para santri mendapatkan gambaran nyata mengenai berbagai ruang pengabdian dan kontribusi yang dapat dilakukan setelah menyelesaikan pendidikan,” katanya.

Pondok Pesantren UII Melalui Haflah Takharruj 2026 menegaskan komitmennya untuk terus melahirkan generasi intelektual muslim yang mampu mengintegrasikan keunggulan akademik, kedalaman spiritual, dan pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan umat. (MFPS/AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) terus berkomitmen dalam penguatan akses pendidikan tinggi. Pada kesempatan kali ini, UII dan Pemerintah Kabupaten Sleman menjajaki kerjasama tentang penyelenggaraan Beasiswa Sleman Pintar melalui pendidikan perguruan tinggi.

Kerja sama diawali dengan penandantanganan adendum nota kesepahaman (MoU) oleh Bupati Sleman, H. Harda Kiswaya, S.E., M.Si dan Rektor UII, Prof. Dr. Ir. Hari Purnomo, M.T., IPU., ASEAN Eng. Kemudian dilanjutkan dengan penandatangan Perjanjian Kerja Sama (PKS) oleh Kepala Dinas Kabupaten Sleman, Wawan Widiantoro, S.IP., M.PA. dan Wakil Rektor Bidang Akademik, Rekognisi, dan Admisi, Prof. Riyanto, S.Pd., M.Si., Ph.D pada Kamis (11/06) di Kantor Bupati Sleman.

Program Beasiswa Sleman Pintar merupakan bentuk dukungan Pemerintah Kabupaten Sleman bagi masyarakat, khususnya generasi muda dari keluarga miskin, keluarga rentan miskin, orang tua penyandang disabilitas tidak mampu, serta keluarga penerima manfaat Program Keluarga Harapan (KPM PKH), agar tetap memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Bupati Sleman berharap program tersebut mampu menjadi solusi dalam memperluas kesempatan pendidikan bagi generasi muda Sleman.

“Semoga Sleman Pintar ini mampu memberikan akses pendidikan bagi generasi muda Sleman untuk melanjutkan pendidikan tanpa terhalang oleh kondisi ekonomi maupun hal lainnya,” ujar Bupati Sleman.

Melalui kerja sama ini, penerima Beasiswa Sleman Pintar akan memperoleh dukungan biaya pendidikan pada jenjang sarjana, sarjana terapan, dan diploma sesuai ketentuan yang telah disepakati. Selain pembelajaran di kampus, mahasiswa penerima beasiswa juga mendapatkan kesempatan mengikuti program magang di dunia usaha, dunia industri, dan dunia kerja.

Kolaborasi antara Pemkab Sleman dan UII diharapkan dapat memperkuat pembangunan sumber daya manusia daerah dan membuka peluang lebih besar bagi generasi muda Sleman untuk meraih cita-cita melalui pendidikan tinggi. (AHR/RS)

Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar Workshop dan Klinik Penulisan Artikel Ilmiah pada Jurnal Internasional Bereputasi pada Rabu (10/06) di Auditorium Gedung K.H.A. Wahid Hasyim Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI), Kampus Terpadu UII. Kegiatan yang diikuti oleh dosen di lingkungan fakultas yang ada di UII bertujuan untuk meningkatkan kapasitas akademik dosen untuk mendorong produktivitas publikasi ilmiah jurnal bereputasi internasional.

Workshop menghadirkan narasumber dari kalangan akademisi dan peneliti yang membagikan strategi penyusunan artikel ilmiah hingga kiat menghadapi proses review dan publikasi yaitu Akhmad Akbar Susamto, S.E., M.Phil., Ph.D, dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) dan Dr. Ni Luh Wulan Septiani dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Direktur Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UII, Prof. Ir. Eko Siswoyo, S.T., M.Sc.ES., Ph.D., IPU.menyampaikan bahwa pelatihan penulisan artikel jurnal internasional merupakan program rutin yang bertujuan meningkatkan kualitas dan kuantitas publikasi dosen. Tahun ini, kegiatan tersebut diikuti oleh 30 dosen dengan 32 artikel yang akan mendapatkan pendampingan publikasi. “Kami berharap peserta dapat mengikuti kegiatan ini secara penuh agar target publikasi yang diharapkan dapat tercapai,” ujarnya.

Prof. Eko juga menegaskan komitmen DPPM untuk terus mendukung pengembangan riset dan publikasi akademik di lingkungan UII. “DPPM akan terus memfasilitasi dan mendampingi para dosen dalam proses publikasi ilmiah sebagai bagian dari kontribusi bagi kemajuan UII,” tuturnya.

Memasuki sesi penyampaian materi, Dosen FEB UGM, Akhmad Akbar Susamto, menekankan bahwa publikasi ilmiah harus diawali dengan pemilihan topik penelitian yang memiliki kebaruan dan kontribusi yang jelas. Menurutnya, kualitas data menjadi salah satu faktor utama yang menentukan kelayakan sebuah artikel untuk dipublikasikan. “Data yang baik secara langsung menjawab ide dan fokus penelitian, bukan sekadar data yang tersedia atau mudah dikumpulkan tetapi tidak relevan dengan tujuan riset,” jelasnya.

Akhmad juga mengingatkan pentingnya mengidentifikasi kesenjangan penelitian (research gap) sebelum menyusun artikel. Selain itu, penulis perlu memahami struktur artikel yang sesuai dengan jenis penelitian, baik konseptual, telaah kepustakaan, maupun penelitian empiris, agar argumen yang dibangun dapat tersampaikan secara sistematis dan meyakinkan.

Sementara itu, Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ni Luh Wulan Septiani, membagikan pengalaman mengenai strategi publikasi di jurnal bereputasi tinggi. Ia menjelaskan bahwa proses publikasi dimulai sejak tahap pencatatan penelitian dan pengelolaan referensi. “Research note merupakan alat komunikasi yang digunakan untuk merekam temuan dan hasil dari proyek penelitian,” ujarnya saat menjelaskan pentingnya dokumentasi penelitian yang baik.

Menurut Ni Luh, penulis juga harus memahami standar jurnal yang dituju sebelum mulai menulis. Ia menekankan pentingnya kualitas data, cara penyajian hasil penelitian, serta kemampuan menyusun cerita ilmiah yang logis. “Karakteristik manuskrip yang baik adalah memiliki pesan ilmiah yang jelas dan mampu menyampaikan gagasan penulis secara logis kepada pembaca,” ungkapnya.

Kegiatan dilanjutkan dengan sesi review artikel jurnal internasional dimana setiap peserta mempresentasikan artikel jurnal untuk memperoleh masukan dan evaluasi dari tim reviewer. Dengan sesi ini, peserta mendapat pendampingan langsung untuk meningkatkan kualitas naskah sebelum diajukan ke jurnal internasional bereputasi.

Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai proses publikasi ilmiah, mulai dari menemukan ide penelitian, menyusun artikel, hingga menghadapi proses review jurnal. Bekal tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualitas publikasi akademik mahasiswa maupun peneliti muda di masa mendatang. (AHR/RS)

Dalam upaya memperluas jangkauan kolaborasi strategis antara dunia akademik, industri, dan pemerintahan, Center for International Language and Cultural Studies (Cilacs) Universitas Islam Indonesia (UII) bersama dengan The Mangrove Global sukses menyelenggarakan kegiatan The 2nd Mangrove Networking Seminar 2026. Acara yang bertempat di Auditorium Gedung Mohammad Natsir Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), Kampus Terpadu UII ini sekaligus menjadi tindak lanjut nyata dari perjanjian kerja sama yang sebelumnya telah ditandatangani oleh Cilacs UII dan The Mangrove Global pada tahun 2025 lalu, Selasa (9/6).

​Mengusung tema besar “Grow Your Network, Expand Your Opportunity”, seminar ini menjadi wadah pertemuan esensial bagi para akademisi dan praktisi untuk bertukar wawasan dan membangun relasi. Lebih dari 20 perguruan tinggi terkemuka, berbagai perusahaan, serta utusan dari sejumlah kementerian Republik Indonesia turut andil dalam seminar ini. kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat jejaring akademik dan profesional serta membuka peluang kolaborasi lintas sektor.

Selanjutnya, acara yang berlangsung sejak siang hingga sore hari ini dikemas secara menarik dan interaktif. Setelah dibuka dengan lantunan lagu kebangsaan Indonesia Raya, para peserta langsung diajak untuk membaur dalam sesi utama, yakni Guided Networking Session yang dipandu oleh fasilitator Yuta Otake dan Widodo, M.A. Agenda kemudian dilanjutkan dengan sesi presentasi dari Cilacs UII.

Widodo, M.A sebagai Managing Director the Mangrove mengatakan, tinggalkan zona nyaman, buang rasa malu, dan percayalah diri saat bertemu orang baru. Relasi yang dibangun sekarang adalah bekal penting untuk masa studi dan karier ke depan. “Kami berharap melalui acara ini, para peserta dapat benar-benar memperluas peluang mereka dan berani keluar dari zona nyaman untuk bertemu orang baru serta menciptakan jaringan yang bermanfaat untuk masa depan,” ungkapnya dalam bahasa Inggris.

Sebagai puncak sekaligus penutup rangkaian kegiatan, The 2nd Mangrove Networking Seminar 2026 ditutup dengan agenda penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) atau perjanjian kerja sama. Beberapa institusi pendidikan yang turut melakukan penandatanganan MoU di akhir acara ini di antaranya adalah Universitas Pakuan, Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember, Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Surakarta, dan Universitas Sugeng Hartono. (RMD/AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan Kuliah Pakar MKWU Terpadu yang mengangkat tema “Hukum Islam di Ruang Publik: Dialektika Agama, Negara, dan Budaya dalam Masyarakat Indonesia” ini berlangsung pada Sabtu (6/6), bertempat di 2 Gedung Kuliah Umum Prof. Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII dan disiarkan secara daring melalui kanal Youtube UII. Kuliah pakar ini menghadirkan dosen Statistika FMIPA UII, Dr. Asyharul Muala, S.H.I., M.H.I. sebagai narasumber dengan dipandu oleh moderator Muhamad Syarif Hidayatulloh, Lc. M.A. 

Penerapan hukum di Indonesia perlu dilakukan melalui proses dialog dengan agama, budaya dan tradisi yang telah hidup di tengah masyarakat. Hal tersebut disampaikan Dr. Asyharul dalam pemaparannya, bahwa Nabi Muhammad saw dan Sunan Kalijaga adalah tokoh yang tidak serta-merta menghapus seluruh tradisi yang telah berkembang di masyarakat ketika menyebarkan ajaran Islam. Keduanya memilih untuk mempertahankan sejumlah tradisi dengan berbagai penyesuaian sehingga selaras dengan nilai-nilai Islam.

Menyoroti kondisi Indonesia yang memiliki keragaman budaya, suku, bahasa, dan sistem hukum adat. Dalam ruang sosial masyarakat Indonesia, terdapat tiga otoritas hukum yang berjalan secara bersamaan, yakni hukum negara, hukum agama, dan hukum adat. Kondisi tersebut dikenal sebagai pluralisme hukum. Selain membahas pluralisme hukum, Ia juga menyoroti pentingnya pendidikan pranikah bagi mahasiswa. Menurutnya, perguruan tinggi tidak hanya bertugas mempersiapkan mahasiswa menjadi tenaga profesional, tetapi juga membekali mereka dengan kesiapan membangun kehidupan rumah tangga. Menurutnya, rumah tangga yang harmonis dan sakinah dapat mendukung produktivitas dan profesionalisme seseorang dalam bekerja. Sebaliknya, konflik dalam keluarga berpotensi memengaruhi aktivitas akademik maupun pekerjaan.

Dalam pembahasannya mengenai hubungan antarsistem hukum, Dr. Asyharul menjelaskan bahwa hubungan tersebut dapat berbentuk harmonis, konflik, maupun dialektis. Hubungan harmonis terjadi ketika hukum agama, hukum adat, dan hukum negara berjalan beriringan tanpa menimbulkan pertentangan. Sementara itu, konflik muncul ketika terdapat perbedaan aturan antara satu sistem hukum dengan sistem hukum lainnya.

Salah satu contoh yang disampaikan adalah praktik poligami. Adapun hubungan yang bersifat dialektis terjadi ketika berbagai sistem hukum saling berinteraksi dan menghasilkan bentuk hukum baru yang dapat diterima bersama. Salah satu contohnya adalah konsep harta bersama (gono-gini). Dalam hukum Islam, harta yang diperoleh suami dan istri pada dasarnya merupakan hak masing-masing. Namun dalam hukum adat, kontribusi keduanya dipandang sebagai bagian dari kerja sama dalam rumah tangga. Interaksi kedua pandangan tersebut kemudian melahirkan konsep harta bersama yang diakui dalam sistem hukum nasional.

Contoh lain dapat ditemukan dalam hukum waris. Ia menjelaskan bahwa hukum Islam memiliki ketentuan tersendiri mengenai pembagian warisan, sementara hukum perdata dan hukum adat juga memiliki mekanisme yang berbeda. Salah satu contohnya adalah sistem Tunggu Tubang, anak perempuan tertua diberi amanah untuk mengelola harta pusaka keluarga. Tradisi ini menunjukkan adanya interaksi antara norma agama, hukum negara, dan hukum adat meskipun masing-masing memiliki perspektif yang berbeda mengenai hak waris.

Dr. Asyahrul juga menyebut bahwa konsep dialektika memiliki landasan dalam Al-Qur’an, salah satunya Q.S. Al-Hujurat ayat 13. Menurutnya, ayat tersebut tidak hanya mengajarkan manusia untuk saling mengenal (ta’aruf), tetapi juga mendorong terjadinya interaksi, komunikasi, dan dialog dalam kehidupan sosial. Begitupun praktik hukum yang berlaku di masyarakat pada dasarnya merupakan hasil negosiasi antara agama, negara, dan budaya. Sebagai contoh, sejumlah tradisi pernikahan Jawa seperti panggih manten, ngidak endok, dan kacar-kucur yang menunjukkan adanya interaksi antara nilai budaya dan ajaran agama. Menurutnya, tradisi-tradisi tersebut tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam dan justru memperkaya makna sosial dalam perkawinan.

“Budaya memberikan rasa dan simbol yang melengkapi aspek legalitas agama dan negara,” ujarnya.

Dr. Asyharul juga menguraikan teori dialektika sosial Peter L. Berger yang terdiri atas tiga tahap, yakni eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat dapat muncul melalui proses eksternalisasi, kemudian difasilitasi menjadi aturan negara melalui objektivasi, dan selanjutnya diterima oleh masyarakat melalui proses internalisasi. 

Pada akhir pemaparannya, Ia menegaskan bahwa penerapan hukum harus berorientasi pada kemaslahatan dan tidak boleh menimbulkan mudarat bagi diri sendiri maupun orang lain. Ia mengajak peserta untuk memahami hubungan antara hukum agama, hukum adat, dan hukum negara secara lebih komprehensif agar dapat melihat realitas hukum Indonesia secara utuh. (DHP/AHR/RS).

Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar kegiatan Jelajah Kampus sebagai puncak rangkaian peringatan Milad ke-83 UII pada Minggu (7/6). Kegiatan yang diikuti oleh ribuan sivitas akademika UII ini berlangsung meriah dengan mengusung tema “Harmoni untuk Jejak Lestari”, yang mencerminkan semangat kebersamaan dan keberlanjutan dalam membangun peradaban universitas.

Kegiatan dipusatkan di lingkungan Kampus Terpadu UII, Jalan Kaliurang Km 14,5, Sleman, Yogyakarta. Rute jelajah dimulai dari depan Auditorium K.H. Abdul Kahar Muzakkir, mengelilingi kawasan kampus dan wilayah sekitar UII, sebelum kembali finis di lokasi yang sama. Acara diawali dengan senam bersama yang diikuti peserta sejak pukul 06.15 WIB sebagai bentuk ajakan untuk menerapkan gaya hidup sehat di lingkungan kampus.

Usai senam, peserta diarahkan untuk mengikuti seremoni pembukaan yang diisi dengan laporan ketua panitia, pesan kebersamaan dari Rektor UII periode 2022–2026, hingga sambutan Rektor UII saat ini. Ketua Panitia Milad ke-83 UII, Dr. Rizqi Anfanni Fahmi, S.E.I., M.Si., dalam laporannya menjelaskan bahwa Jelajah Kampus merupakan penutup dari berbagai kegiatan yang telah dilaksanakan sepanjang peringatan milad tahun ini.

“Rangkaian Milad ke-83 di 2026 ini dimulai dari Pidato Puncak Milad pada bulan Januari, kemudian beberapa agenda lain, ada Safari Ramadhan, UII Ramadhan Fair, Bakti Sosial di Kapanewon Ngemplak dan Kapanewon Playen, Gunung Kidul. Kami juga telah menyelenggarakan rangkaian lomba olahraga seperti bola voli, bulu tangkis, tarik tambang, dan sepak bola. Selain itu, rangkaian kegiatan lain yaitu penanaman pohon yang ada di lingkungan embung,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa peringatan Milad ke-83 UII tidak hanya berfokus pada kegiatan seremonial, tetapi juga menyentuh aspek sosial, olahraga, serta kepedulian terhadap lingkungan. Berbagai program yang telah dilaksanakan menjadi wujud kontribusi nyata universitas dalam membangun hubungan yang lebih erat dengan masyarakat sekaligus memperkuat solidaritas internal sivitas akademika.

Dalam kesempatan yang sama, Rektor UII periode 2022–2026, Fathul Wahid, menyampaikan pesan tentang pentingnya kebersamaan dalam membangun masa depan universitas. Ia menyoroti keseragaman atribut yang dikenakan peserta sebagai simbol persatuan seluruh keluarga besar UII.

“Hari ini kita berkumpul dan ada yang berbeda dari tahun-tahun lalu, adalah seragam kita serupa, biru muda, meskipun saya tahu tafsiran semiotiknya berbeda-beda. Tetapi kita memiliki semangat yang sama, yaitu kita ingin nyawiji, ingin bersatu karena tema Milad ke-83 ini adalah Harmoni untuk Jejak Lestari. Mari kita rapatkan barisan karena peradaban Universitas Islam Indonesia tidak mungkin dibangun tanpa kebersamaan,” ungkapnya.

Pesan tersebut disambut antusias oleh peserta yang memenuhi area depan auditorium. Semangat “nyawiji” atau bersatu yang disampaikan Fathul Wahid sejalan dengan tema besar milad yang menekankan pentingnya harmoni dalam menjaga keberlanjutan dan kemajuan institusi.

Puncak seremoni pembukaan ditandai dengan pelepasan burung secara simbolis oleh jajaran pimpinan universitas. Pelepasan burung tersebut merepresentasikan tema “Harmoni untuk Jejak Lestari” yang diusung pada Milad ke-83 UII. Simbolisasi tersebut menggambarkan harapan agar UII terus melangkah secara harmonis dalam menciptakan jejak yang bermanfaat dan berkelanjutan bagi masyarakat, bangsa, dan lingkungan.

Setelah prosesi simbolis tersebut, Rektor UII, Prof. Dr. Ir. Hari Purnomo, M.T., IPU., ASEAN Eng., secara resmi melepas peserta Jelajah Kampus melalui pengibaran bendera start. Ribuan peserta kemudian memulai perjalanan menyusuri rute yang telah ditentukan di kawasan kampus dan sekitarnya.

Dalam sambutannya, Rektor Hari Purnomo menegaskan bahwa kegiatan gerak jalan ini memiliki makna yang lebih dalam dibanding sekadar aktivitas olahraga.

“Gerak jalan ini bukan semata-mata aktivitas fisik. Namun, gerak jalan ini merupakan langkah bersama kita, berjalan bersama seirama dalam rangka menuju Universitas Islam Indonesia yang unggul, bermartabat, dan berguna bagi nusa dan bangsa,” tuturnya.

Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa setiap langkah yang ditempuh peserta menjadi simbol perjalanan kolektif seluruh sivitas akademika dalam mewujudkan visi UII sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat.

Setelah seluruh peserta menyelesaikan rute jelajah dan kembali ke Auditorium K.H. Abdul Kahar Muzakkir, rangkaian acara dilanjutkan dengan berbagai kegiatan hiburan dan apresiasi. Unisi Music Community (UMC) tampil menghibur peserta melalui sejumlah pertunjukan musik yang menambah semarak suasana. Selain itu, panitia juga mengumumkan hasil kompetisi olahraga antarunit yang telah diselenggarakan dalam rangka Milad ke-83 UII, sekaligus menyerahkan piala kepada para juara.

Antusiasme peserta semakin meningkat saat sesi pengundian doorprize dimulai. Berbagai hadiah dibagikan melalui beberapa kategori undian hingga grand prize. Bahkan, peserta yang belum beruntung mendapatkan doorprize tetap memperoleh bingkisan sebagai bentuk apresiasi dari panitia.

Melalui kegiatan Jelajah Kampus ini, UII tidak hanya merayakan bertambahnya usia institusi yang telah menginjak 83 tahun, tetapi juga meneguhkan komitmen untuk terus membangun budaya kebersamaan, kepedulian sosial, dan keberlanjutan. Semangat harmoni yang digaungkan sepanjang peringatan milad diharapkan menjadi fondasi bagi perjalanan UII dalam mencetak generasi unggul serta memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa dan kemanusiaan. (MFPS/AHR/RS)

Takmir Masjid Ulil Albab Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menghadirkan layanan kesehatan gratis melalui kegiatan Ulil Albab Healthy Day (UHD) sebagai bagian dari rangkaian AdhaFest 1447 H. Kegiatan ini dilaksanakan pada Jumat (5/6) di Asrama Takmir Putra dan Putri serta Auditorium Abdul Kahar Mudzakkir, Kampus Terpadu UII.

Ulil Albab Healthy Day menghadirkan berbagai layanan kesehatan bagi jamaah dan masyarakat umum, mulai dari pemeriksaan kesehatan berupa cek asam urat, gula darah, dan kolesterol, donor darah, hingga terapi alternatif bekam (hijamah). Seluruh layanan tersebut diberikan secara gratis sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan masyarakat.

Ketua pelaksana Ulil Albab Healthy Day, Muhammad Ihya Ulumuddin, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian AdhaFest yang diselenggarakan oleh Takmir Masjid Ulil Albab UII dan menjadi agenda penutup dalam rangkaian tersebut. Ia menjelaskan bahwa pelaksanaan UHD di akhir acara dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan peserta setelah mengikuti berbagai rangkaian kegiatan AdhaFest.

Salah satu peserta donor darah, Ikbar Rijal Mustofa, mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut menjadi pengalaman pertamanya dalam melakukan donor darah. Ia mengaku sempat merasa penasaran sekaligus gugup, namun terdorong oleh keinginan untuk memberikan manfaat bagi orang lain.

“Alhamdulillah saya pertama kali ini donor darah. Jujur penasaran sekaligus deg-degan. Di sisi lain saya melihat kebermanfaatannya bagi orang lain dan tentunya bagi saya juga, karena saya jadi tahu kondisi tubuh saya. Kesannya menyenangkan dan seru, karena ada tantangan melawan ketakutan demi kebaikan orang lain,” ujarnya.

Selain donor darah, layanan bekam juga mendapat antusiasme dari peserta. Salah satu peserta bekam, Wilda, menyampaikan bahwa kegiatan ini memberikan pengalaman baru karena menjadi kesempatan pertamanya mencoba terapi bekam.

“Menurut saya kegiatan ini sangat bermanfaat. Kebetulan ini adalah pertama kalinya saya mencoba bekam. Sebenarnya saya sudah lama ingin mencobanya, tetapi belum tahu tempat yang tepat. Adanya layanan bekam pada acara Ulil Albab Health Day ini sangat membantu, terlebih karena diberikan secara gratis,” tuturnya.

Setelah mengikuti terapi bekam, Wilda merasakan manfaat berupa tubuh yang lebih ringan dan nyaman. Ia juga mengapresiasi edukasi yang diberikan oleh terapis terkait manfaat bekam serta frekuensi yang dianjurkan.

“Pesan saya, semoga kegiatan bekam seperti ini dapat terus diadakan karena memberikan manfaat yang besar bagi peserta,” tambahnya. (AA/AHR/RS)

Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (FH UII) melalui Forum Kajian dan Penulisan Hukum (FKPH) menggelar Seminar Nasional sebagai bagian dari rangkaian UII Law Fair 2026. Kegiatan yang dilaksanakan pada Jumat (05/06) di Auditorium Gedung FH UII tersebut menghadirkan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Republik Indonesia, Dr. Suhartoyo, S.H., M.H, sebagai keynote speaker. Seminar ini juga diikuti oleh akademisi, serta mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk membahas peran Mahkamah Konstitusi dalam menghadapi tantangan globalisasi dan perkembangan teknologi informasi.

Mewakili Dekan FH UII, Wakil Dekan bidang Kemahasiswaan, Keagamaan, dan alumni FH UII, Drs. Agus Triyanta, M.A., M.H., Ph.D menyampaikan apresiasi kepada Mahkamah Konstitusi yang selama ini konsisten mendukung berbagai kegiatan akademik dan kemahasiswaan di lingkungan fakultas. Menurutnya, kehadiran serta dukungan MK menjadi motivasi bagi mahasiswa untuk terus mengembangkan kapasitas dan kompetensinya di bidang hukum.

“Bukan hanya kali ini, tetapi kami senantiasa diberikan support untuk berbagai kegiatan mahasiswa. Untuk itu atas nama Fakultas Hukum UII kami mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga atas segala bantuan dan dukungannya,” ujarnya dalam sambutan pembukaan seminar.

Selain menyampaikan apresiasi kepada MK, Agus juga memberikan penghargaan kepada panitia UII Law Fair 2026 yang telah mempersiapkan rangkaian acara selama berbulan-bulan. Upaya tersebut dinilai sebagai bentuk komitmen mahasiswa dalam menghadirkan ruang diskusi akademik yang berkualitas. “Fakultas sangat memberikan apresiasi karena kegiatan ini telah disiapkan dengan kerja keras yang panjang dan melibatkan berbagai pihak untuk menyukseskannya,” katanya.

Dalam sesi seminar, Suhartoyo menyoroti pentingnya kesiapan lembaga peradilan konstitusi dalam menghadapi perubahan yang dibawa oleh globalisasi dan perkembangan teknologi informasi. Menurutnya, hakim konstitusi dituntut untuk mampu membaca perkembangan zaman sekaligus menjaga nilai-nilai dasar konstitusi dalam setiap putusan yang diambil. “Mahkamah Konstitusi harus berani membuka diri untuk merespons globalisasi dan perkembangan teknologi informasi yang semakin besar dan semakin kompleks,” ungkapnya.

Suhartoyo menjelaskan bahwa dinamika masyarakat yang terus berkembang menuntut hadirnya putusan-putusan yang tidak hanya berlandaskan kepastian hukum, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan dan tantangan baru yang muncul di tengah masyarakat. Karena itu, hasil kajian akademik dan seminar seperti yang diselenggarakan FH UII dinilai penting sebagai bahan masukan bagi Mahkamah Konstitusi dalam menjalankan fungsinya sebagai penjaga konstitusi.

Lebih lanjut, Suhartoyo menegaskan bahwa independensi hakim merupakan syarat utama dalam menjaga integritas lembaga peradilan konstitusi. Hakim konstitusi harus terbebas dari berbagai kepentingan yang dapat memengaruhi objektivitas dalam memutus perkara. “Hakim Mahkamah Konstitusi tidak boleh lagi membawa kepentingan golongan maupun kepentingan pribadi dan keluarganya dalam menjalankan fungsi pengujian undang-undang,” tegasnya.

Melalui seminar nasional tersebut, FH UII berharap terjalin pertukaran gagasan yang konstruktif antara akademisi, praktisi, dan mahasiswa. Berbagai pemikiran yang dihasilkan diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan hukum tata negara di Indonesia sekaligus menjadi masukan bagi Mahkamah Konstitusi dan pembentuk undang-undang dalam menghadapi tantangan globalisasi, perkembangan teknologi, serta perubahan sosial yang semakin dinamis. (AHR/RS)