Program Studi Hukum Keluarga (Ahwal Syakhsiyah), Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar seminar Sinergi Praktisi dan Akademisi: Membedah Jalur Karier Hakim serta Metodologi Riset Hukum Berbasis Praktik pada Senin (13/04) di Gedung K.H. Wahid Hasyim FIAI UII.

Seminar ini diisi langsung oleh dua hakim lulusan program studi Ahwal Syakhsiyah yang memiliki pengalaman luas di dunia peradilan yaitu Dr. M. Khusnul Khuluq S.Sy., S.H., M.H selaku Hakim Yustisial Badan Urusan Administrasi Mahkamah Agung RI dan Samsul Zakaria, S.Sy., M.H selaku Hakim Pratama Madya PA Soreang Kelas 1B. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa program studi Hukum Keluarga dari jenjang sarjana hingga doktoral.

Kegiatan diawali dengan sambutan Dekan FIAI UII, Dr. Drs. Asmuni, M.A yang mengatakan bahwa  karier seorang hakim di bidang peradilan Islam memiliki kekayaan dan kompleksitas tersendiri. Posisi hakim bukan hanya sekadar jabatan, tetapi merupakan amanah besar yang membutuhkan kompetensi, integritas, serta kapasitas keilmuan yang terus ditingkatkan.

“Saat ini, pengembangan karier hakim tidak bisa dilepaskan dari jenjang pendidikan. Mulai dari pendidikan sarjana hingga doktoral, semua memiliki peran penting dalam membentuk kualitas seorang hakim. Oleh karena itu, peningkatan kualifikasi akademik menjadi salah satu aspek penting dalam mendukung profesionalitas di bidang peradilan,” ungkap Asmuni.

Lebih lanjut, seorang hakim memiliki tanggung jawab besar dalam memutus perkara secara adil dan bijaksana. Oleh karena itu, diperlukan keseimbangan antara kemampuan praktis dan kedalaman akademik. “Di sinilah pentingnya sinergi antara dunia akademik dan praktik hukum agar dapat saling menguatkan,” harapnya.

Salah satu bahasan utama dalam seminar ini adalah upaya meluruskan persepsi publik mengenai statistik perceraian yang sering kali dianggap sebagai krisis sosial. Sebagai praktisi, Samsul Zakaria menjelaskan bahwa angka 8.400 perkara di PA Soreang tidak bisa ditelan mentah-mentah sebagai angka perceraian semata, karena mencakup berbagai jenis perkara hukum keluarga lainnya sesuai amanat undang-undang.

Penting bagi masyarakat dan akademisi untuk melihat korelasi antara padatnya populasi dengan jumlah perkara yang masuk. Melalui paparan “Beyond Divorce Statistics”, ditekankan perlunya sikap bijak dalam menafsirkan data pengadilan, yakni dengan strategi “Membaca data Pengadilan Agama dengan akal sehat dan empati,” tegasnya

Diskusi kemudian berkembang pada dekonstruksi konsep nafkah dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang dinilai perlu kontekstualisasi agar lebih adil bagi perempuan di era modern. Dr. Khusnul Khuluq memaparkan bahwa teks hukum yang menempatkan suami sebagai pencari nafkah tunggal sering kali berbenturan dengan realitas kolaborasi ekonomi keluarga saat ini. Hakim didorong untuk melakukan ijtihad sosiologis guna memastikan keadilan bagi istri yang juga berperan aktif di ruang publik agar tidak memikul beban ganda.

Peninjauan ulang ini krusial karena sifat hukum yang dinamis, sebagaimana ditegaskan dalam materi tersebut bahwa “KHI adalah ‘hukum Islam khas Indonesia’. Sebagai produk konsensus dan politik masa lalu, ia terbuka untuk terus dikritisi dan dikontekstualisasikan ulang,” ungkapnya.

Seminar ini tidak hanya menumbuhkan semangat mahasiswa untuk meniti karier sebagai hakim di masa depan, tetapi juga memperluas wawasan mereka dalam memahami dinamika penyelesaian persoalan keluarga di ranah peradilan. Melalui pemaparan langsung dari para praktisi, mahasiswa memperoleh gambaran nyata mengenai tantangan, tanggung jawab, serta kompleksitas perkara yang dihadapi dalam praktik peradilan agama.

Selain itu, kegiatan ini turut mendorong mahasiswa untuk lebih kritis dalam merespons berbagai persoalan hukum keluarga yang berkembang di masyarakat. Dengan mengintegrasikan perspektif akademik dan pengalaman praktis, seminar ini diharapkan mampu membekali mahasiswa dengan pemahaman yang komprehensif serta kesiapan dalam menghadapi dunia profesional di bidang hukum keluarga. (AHR/RS)

Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menyelenggarakan FTI Expo 2026 pada Rabu-Minggu (08-12/04) di Pakuwon Mall Jogja. Kegiatan ini menjadi ruang ruang kolaborasi antara dunia pendidikan, kreativitas, dan industri dalam satu rangkaian acara yang interaktif dan inspiratif.

FTI Expo 2026 dikemas dalam bentuk pameran terbuka yang menampilkan inovasi, kreativitas, serta potensi akademik mahasiswa dari delapan program studi di lingkungan FTI UII. Dengan lokasi penyelenggaraan di pusat perbelanjaan yang memiliki tingkat kunjungan yang tinggi, kegiatan ini diharapkan mampu menjangkau siswa SMA/SMK, orang tua calon mahasiswa, komunitas, dan masyarakat umum secara lebih luas.

Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Keagamaan, dan Alumni FTI UII, Dr. Arif Hidayat, S.T., M.T dalam sambutannya mengatakan bahwa kegiatan ini untuk membuktikan bahwa FTI tidak hanya berfokus pada bidang akademik. Tetapi, juga mampu memberikan ruang yang luas bagi mahasiswa dalam mengembangkan minat, bakat, dan kreativitas.

Lebih lanjut,  Arif menjelaskan FTI Expo tahun ini menampilkan pameran interaktif dari delapan program studi di lingkungan FTI UII. Setiap program studi menampilkan stan yang berisi informasi akademik, karya inovasi mahasiswa, prototype teknologi, serta demonstrasi alat dan sistem yang telah dikembangkan.

“Selain itu, akan diselenggarakan talkshow dari masing-masing program studi. Kami juga menyelenggarakan berbagai perlombaan bagi siswa SMA di wilayah DIY, seperti lomba storytelling, lomba vokal, dan lomba tari saman di hari terakhir. Hal ini menunjukkan bahwa di FTI, tidak hanya aspek akademik yang dikembangkan, tetapi juga minat dan bakat mahasiswa serta pelajar.” jelas Arif.

Melalui kegiatan ini, FTI UII berupaya inovasi, kreativitas, dan potensi mahasiswa dari tujuh program studi, sekaligus membuka akses informasi dan layanan pendaftaran mahasiswa baru secara langsung di lokasi acara. Diharapkan, FTI Expo 2026 dapat menjadi wadah yang mempertemukan ide, bakat, teknologi, dan peluang masa depan dalam satu pengalaman yang edukatif sekaligus menghibur. (AHR/RS)

Dalam upaya strategis meningkatkan mutu dan jangkauan layanan kebahasaan bagi civitas akademika, Lembaga Bahasa Asing Universitas Islam Malang (LPBA UNISMA) melaksanakan kunjungan studi tiru ke Cilacs Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta pada Kamis (02/04). Kunjungan ini difokuskan pada penyerapan ilmu tata kelola pusat bahasa modern dan inovatif.

Delegasi LPBA UNISMA yang dipimpin langsung oleh Ketua LPBA, Ika Hidayanti, S.Pd., M.Pd., beserta staf manajemen, diterima dengan hangat oleh Kepala Cilacs UII, Rr. Ratna Roostika, SE., MAC., Ph.D., yang didampingi oleh jajarannya antara lain  Kadep Aditya Suci (kadep Pemasaran), Aisyiyah (Kadep Keuangan), Enggar Solichatun (Kadep SDM), Suprihatin (Kadep Akademik), dan Sudharmanto (Kedep Layanan Tes) di Kantor UII Unit Demangan.

Dalam sambutannya, Rr. Ratna Roostika menyampaikan rasa bangga atas kepercayaan LPBA UNISMA memilih Cilacs UII sebagai rujukan belajar. Beliau memaparkan perjalanan panjang, transformasi, serta berbagai inovasi layanan yang telah dilakukan Cilacs UII hingga menjadi salah satu pusat bahasa terkemuka.

Kunjungan ini didasari komitmen LPBA UNISMA untuk mengoptimalkan layanan kebahasaan yang saat ini dirasa belum sepenuhnya maksimal. Melalui diskusi interaktif, kedua pihak membedah kendala-kendala operasional yang dihadapi lembaga bahasa, termasuk strategi pengadaan tes internasional resmi seperti TOEFL ITP, serta pengembangan program kursus, BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing), dan layanan penerjemahan.

Pertemuan ini tidak hanya menjadi ajang berbagi pengetahuan (knowledge sharing), tetapi juga membuka peluang kolaborasi formal antara kedua institusi di masa depan untuk pengadaan program-program kebahasaan yang diperlukan. Acara diakhiri dengan pertukaran cendera mata dan sesi foto bersama sebagai simbol sinergi. (ANK/AHR/RS)

Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar prosesi Janji Dokter Muda Periode I Tahun 2026 pada Kamis (02/04). Acara yang diselenggarakan di Auditorium Prof. K.H. Abdul Kahar Muzakkir, Kampus Terpadu UII diikuti oleh 172 dokter muda FK UII yang akan memasuki tahap pendidikan klinik di rumah sakit pendidikan. Hadir dalam acara tersebut jajaran pimpinan universitas dan pimpinan FK UII, Ketua Komkordik FK UII, dan perwakilan dari rumah sakit pendidikan utama dan satelit FK UII yang menyaksikan jalannya prosesi acara ini.

Dalam sambutannya, dekan FK UII, Dr.dr.Isnatin Miladiyah, M.Kes mengatakan tahapan profesi yang akan dilanjutkan adalah fase yang unik. Menurutnya, dalam fase ini ilmu bertemu empati, teori bertemu realitas, dan idealisme bertemu keterbatasan.

“Perjalanan Anda ke depan tidak selalu mudah. Akan ada jaga malam, kurang tidur, dimarahi konsulen—kadang tanpa salah yang jelas, dan mungkin juga salah menulis SOAP di awal-awal. Akan ada hari-hari ketika Anda merasa lelah. Bangun pagi, pulang malam, revisi laporan, jaga malam, lalu besoknya mulai lagi dari awal,” ungkapnya.

Tak lupa, Dr. Isnatin berpesan agar tidak takut ketika merasa belum cukup untukkarena setiap dokter hebat pernah beraada di titik yang sama. Belajar, jatuh, bangkit kembali—itulah proses menjadi profesional sejati. “Pada saat ada rasa payah, jangan menyerah karena dokter hebat lahir dari usaha yang tak kenal lelah,” pesannya.

Senada, Wakil Rektor Bidang Pengembangan Akademik dan Riset, Prof. Dr. Jaka Nugraha, S.Si., M.Si menekankan bahwa pendidikan klinik merupakan fase pembelajaran yang sesungguhnya. Para mahasiswa akan menghadapi berbagai permasalahan nyata di lapangan yang mungkin belum sepenuhnya ditemui di ruang kelas. Proses ini diharapkan dapat melatih kemampuan berpikir kritis, komunikasi, serta kolaborasi dengan tenaga kesehatan lainnya.

“Para dokter muda harus senantiasa menjadikan pasien sebagai sumber pembelajaran utama, serta menjaga etika, profesionalisme, dan integritas dalam setiap tindakan.”

Sementara itu, Kepala Bidang Pendidikan dan Penelitian RSUD Dr. Soeodno Madiun sebagai perwakilan dari rumah sakit pendidikan utama FK UII berpesan agar para dokter muda senantiasa menghormati pasien sebagai guru terbesar, menjaga integritas, dan etika, serta tidak ragu dalam mengeksplorasi ilmu dari para spesialis dan sivitas rumah sakit.

“Seraplah ilmu sebanyak-banyaknya selama masa stase Anda. Belajarlah dari semua sisi karena menjadi dokter yang baik adalah belajar seumur hidup,” jelasnya.

Acara Janji Dokter Muda ini merupakan momentum penting yang menandai awal perjalanan para dokter muda dalam menimba pengalaman dengan penuh tanggung jawab moral serta menjunjung tinggi etika kedokteran. Momentum ini diharapkan tidak hanya sebatas pengucapan ikrar janji, tetapi juga menjadi titik awal bagi dokter muda untuk terus belajar, menjaga profesionalitas, serta mengasah empati dan integritas dalam praktik kedokteran. (AHR/RS)

Masih dalam suasana Idul Fitri, Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar acara Halalbihalal dan Pelepasan Jamaah Calon Haji 1447 H pada Selasa (31/03) di Auditorium Prof. K.H. Abdul Kahar Muzakkir, Kampus Terpadu UII. Kegiatan ini dihadiri oleh keluarga besar UII serta para calon jamaah haji yang akan berangkat ke Tanah Suci tahun ini.

Ungkapan halalbihalal menjadi momen paling bermakna bagi hadirin yang diwakili oleh tiga pemangku kepentingan penting keluarga besar UII yaitu Annisa Fidanta Shafir selaku Ketua Dewan Permusyawaratan Mahasiswa UII sebagai perwakilan mahasiswa. Drs. Achmad Tohirin, M.A., Ph.D. selaku Ketua Ikatan Keluarga Pegawai UII, serta Ir. M. Samsudin, M.T. yang mewakili Paguyuban Pensiunan Pegawai UII.

Dalam sambutannya, Rektor UII, Fathul Wahid menyampaikan permohonan maaf lahir dan batin seraya berdoa agar Allah Swt senantiasa memudahkan langkah dalam menjaga dan merawat nilai-nilai kebaikan.

“Dalam konteks organisasi dan kehidupan kita bersama, terdapat banyak pesan penting yang perlu kita pegang teguh. Di antaranya adalah nilai ketakwaan, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, serta saling tolong-menolong dalam kebaikan. Kita juga diingatkan untuk tidak saling mencela, tidak mencari kesalahan orang lain, tidak memanggil dengan sebutan yang buruk, serta tidak saling merugikan. Nilai-nilai ini menjadi fondasi penting dalam membangun kebersamaan yang sehat dan harmonis,” ungkapnya.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Ketua Pemberdayaan Masyarakat YBW UII, Drs. Aden Wijdan Syarif Zaidan, M.Si. Aden menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia atas terselenggaranya acara ini dengan baik serta mengajak semua pihak untuk terus menjaga semangat kolegialitas dan spiritualitas yang ada di UII.

Acara kemudian dilanjutkan dengan tausiyah Halal Bihalal yang disampaikan oleh tokoh nasional sekaligus dosen Fakultas Kedokteran UII, dr. H. Agus Taufiqurrahman, Sp.S., M.Kes. Dalam tausiyahnya, dr. Agus membahas manfaat silahturahmi sebagai sarana mempererat ukhuwah, memperpanjang umur, serta melapangkan rezeki. Ia juga mengajak seluruh hadirin untuk menjadikan momen Idulfitri sebagai titik awal memperbaiki hubungan antarsesama dan memperkuat kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat maupun dalam lingkungan kampus.

Acara ditutup dengan doa dan jabat tangan antar hadirin sebagai simbol saling memaafkan. Para undangan tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan hingga akhir. Melalui kegiatan ini, UII tidak hanya mempererat tali silaturahmi, tetapi juga menegaskan komitmennya dalam mendukung nilai-nilai keislaman. (AHR/RS)

Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Ikatan Keluarga Alumni Universitas Islam Indonesia (IKA UII) Daerah Istimewa Yogyakarta sukses menggelar acara “Reuni dan Halal Bihalal” pada Sabtu (28/3). Bertempat di Auditorium Prof. K.H. Abdul Kahar Mudzakkir, kegiatan yang mengusung tema “Membangun dan Menguatkan Tali Silaturahmi, Persaudaraan Tanpa Batas, Menuju Alumni sebagai Saudara Dunia Saudara Surga” ini menjadi momentum berharga untuk merajut kembali persaudaraan antar-alumni.

Ketua DPW IKA UII DIY yang juga menjabat sebagai Bupati Sleman, H. Harda Kiswaya, S.E., M.Si., dalam sambutannya menekankan bahwa momentum ini adalah sarana strategis untuk meneguhkan komitmen kebersamaan. “Status sebagai alumni perguruan tinggi, terlebih dari institusi bersejarah seperti UII, adalah mandat moral dan sosial,” tegasnya. Harda juga menyatakan bahwa Pemerintah Kabupaten Slemansangat terbuka berkolaborasi dengan alumni sebagai mitra strategis, dan berharap kerukunan ini diwujudkan dalam aksi nyata untuk pembangunan ekonomi, pendidikan, dan kepedulian sosial.

Menyelami esensi tema acara, Rektor UII, Prof. Fathul Wahid, Ph.D., menyoroti pentingnya membina hubungan secara mendalam. Beliau memaparkan basis saintifik dari ajaran Islam, di mana silaturahmi terbukti secara medis dapat memperpanjang umur dan menjaga kesehatan. “Kebahagiaan tidak hanya berasal dari pencapaian profesional, tetapi darimomen sederhana berbagi tawa dan dukungan bersama orang tercinta,” jelasnya. Ia juga mengingatkan hadirin untuk meneladani sosok pendiri sekaligus Rektor pertama UII, Prof. Kahar Mudzakkir, yang selalu menyempatkan diri bersilaturahmi dengan kerabat di sela-sela perjalanannya.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Dewan Pakar DPW IKA UII DIY sekaligus Ketua Umum Yayasan Badan Wakaf (YBW) UII, Prof. Dr. Suparman Marzuki, S.H., M.Si., turut memberikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya acara ini. Beliau mengucapkan selamat kepada pengurus karena telah memfasilitasi ruang berharga bagi para alumni untuk kembali saling menyapa. “Seperti pesan yangdisampaikan Bapak Harda dan Bapak Fathul, momentum silaturahmi ini sejatinya adalah jalan kita untuk memperpanjang umur dan keberkahan,” tuturnya.

Acara akbar yang dipandu secara interaktif oleh Jova selaku Master of Ceremony ini juga dihadiri oleh tokoh nasional sekaligus alumni kebanggaan UII, Prof. Dr. Moh. Mahfud MD., S.H., yang tampak hangat membaur bersama ribuan alumni lainnya tanpa sekat. Menambah kehangatan suasana reuni, acara turut dimeriahkan dengan penyerahan doorprize secara simbolis oleh Bapak Budi Sudjiono. Sebagai Pendiri sekaligus Ketua DPP IKA UII pertama, kehadiran beliau di atas panggung mewakili seluruh donatur dan kontributor yang telah bergotong royongmenyukseskan gelaran hari ini.

Di tengah suka cita reuni, keluarga besar IKA UII DIYjuga diselimuti duka mendalam atas berpulangnya Drs. H. Syafaruddin Alwi, M.Si., Anggota Dewan Pembina DPW IKA UII DIY Periode 2024-2029.Sebagai bentuk penghormatan kepada almarhum yang dikenal sebagai guru dan teladan berdedikasi tinggi, acara diselingi dengan sesi doa bersama. Sesi doa yang khusyuk ini dipimpin langsung  oleh  Ustadz  Anant Pimpinan/Pendiri/Pengasuh Ponpes Usia Senja GUA HIRO). Seluruh hadirin menundukkan kepala, memanjatkan doa terbaik agar Allah SWT menerima segala amal ibadah almarhum dan memberikan ketabahan bagi keluarga.Momen ini menjadi wujud nyata dari semboyan “Persaudaraan Tanpa Batas”—sebuah ikatan yang tidak hanya terjalin di dunia, tetapi bersambung dalam doa hingga ke akhirat.

Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menyelenggarakan UII Ramadan Fair 2026 sebagai ruang ekspresi bagi generasi muda melalui lomba fotografi dan penulisan opini. Kegiatan yang mengusung tema “Merajut Harmoni, Menebar Kebaikan” ini menjadi bagian dari upaya UII memaknai Ramadan tidak hanya sebagai momentum spiritual, tetapi juga sebagai ajang memperkuat kepedulian sosial melalui karya dan gagasan. Program ini terbuka bagi pelajar hingga mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia.

Ketua Panitia UII Ramadan Fair 2026, Rifqi Sasmita Hadi, S.E., M.M., menjelaskan bahwa pemilihan fotografi dan penulisan opini didasarkan pada kedekatannya dengan generasi muda dalam menyampaikan gagasan. “Melalui fotografi, peserta diajak menangkap berbagai potret kehidupan masyarakat selama Ramadan—mulai dari kebersamaan, ibadah, hingga praktik kepedulian sosial. Sementara melalui penulisan opini, peserta didorong menyampaikan gagasan reflektif mengenai peran generasi muda dalam menghadirkan kebaikan dan kontribusi sosial yang berkelanjutan,” ujarnya .

Antusiasme peserta pada tahun ini tercatat cukup tinggi, dengan total 1.096 peserta dari berbagai provinsi di Indonesia. Jumlah tersebut terdiri dari 721 peserta lomba menulis opini dan 375 peserta lomba fotografi, dengan latar belakang 778 mahasiswa serta 318 pelajar SMA/sederajat. Partisipasi ini menunjukkan bahwa ruang berekspresi melalui karya visual dan tulisan masih sangat diminati oleh generasi muda.

Dalam sambutannya saat penutupan, Sekretaris Eksekutif UII, Hangga Fathana, S.IP., B.Int.St., M.A. menekankan pentingnya kemampuan berpikir kritis melalui karya. Ia mengutip pemikiran George Orwell untuk menegaskan keterkaitan antara menulis dan berpikir. “Jika seseorang tidak mampu menulis dengan baik, maka ia tidak akan mampu berpikir dengan baik. Dan jika seseorang tidak mampu berpikir dengan baik, maka orang lainlah yang akan membentuk cara berpikirnya,” ungkapnya .

Hangga juga menegaskan bahwa lomba dalam Ramadan Fair bukan sekadar menghasilkan karya, tetapi menjadi sarana pembentukan cara pandang generasi muda. “Melalui lomba menulis opini maupun fotografi, kita tidak hanya mengejar luaran berupa karya, tetapi juga mengajak generasi muda untuk belajar berpikir kritis dan kreatif, sehingga mereka mampu membangun cara pandangnya sendiri,” jelasnya .

Ke depan, UII berharap Ramadan Fair dapat terus menjadi tradisi yang berkontribusi bagi masyarakat luas. Karya-karya yang dihasilkan diharapkan tidak hanya bernilai estetis, tetapi juga membawa pesan sosial tentang harmoni, kebersamaan, dan kepedulian. “Kegiatan ini merupakan ikhtiar sederhana untuk terus menumbuhkan literasi, kreativitas, dan semangat kebaikan,” tutup Hangga. (AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) bersama Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Kabupaten Sleman resmi menandatangani Perjanjian Kerjasama Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi. Penandatanganan berlangsung pada Senin (16/03), bertempat di Ruang Rapat Srikandi Dinas P3AP2KB Kabupaten Sleman.

Acara penandatanganan dibuka oleh Kepala Dinas P3AP2KB Kabupaten Sleman, dr. Novita Krisnaeni, M.P.H. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada perguruan tinggi di wilayah Sleman yang telah bersedia menandatangani perjanjian tersebut. Kehadiran perguruan tinggi dalam upaya bersama ini dinilai sebagai langkah strategis dalam mewujudkan lingkungan kampus yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan.

Lebih lanjut, dr. Novita juga membuka peluang kerjasama yang lebih luas antara Dinas P3AP2KB dengan perguruan tinggi, baik dalam bidang penelitian maupun penyediaan tempat magang bagi mahasiswa.

“Hal ini diharapkan dapat memperkuat sinergi antara institusi pemerintah dan akademisi dalam menangani isu-isu pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, serta pengendalian penduduk di Kabupaten Sleman,” ungkapnya.

Dalam kegiatan ini, UII diwakili oleh Wakil Rektor Bidang Kemitraan dan Kewirausahaan, Ir. Wiryono Raharjo, M.Arch., Ph.D. yang turut menandatangani perjanjian kerjasama tersebut. Beliau didampingi oleh Muhammad Aly Sa’id, S.Pd., M.Pd. selaku Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT) UII terpilih periode 2025–2027. Kehadiran Satgas PPKPT dalam momen penandatanganan ini menegaskan komitmen UII dalam mendukung upaya pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan perguruan tinggi secara kelembagaan dan terstruktur.

Acara berlangsung dengan lancar dan diakhiri dengan sesi foto bersama serta ramah tamah antara seluruh peserta. Penandatanganan perjanjian kerjasama ini diharapkan menjadi fondasi yang kuat bagi kolaborasi berkelanjutan antara UII dan Dinas P3AP2KB Kabupaten Sleman dalam menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif bagi seluruh sivitas akademika. (MAS/AHR/RS)

Pada bulan Ramadan, setiap amalan kebaikan akan dilipatgandakan oleh Allah Swt, termasuk dalam hal bersedekah. Guna mendukung program pengabdian masyarakat “Relawan Ramadhan” yang diselenggarakan oleh Lembaga Dakwah Kampus Dakwah Hijrah Mahasiswa (DHM) Universitas Islam Indonesia, LAZIS UNISIA menyalurkan bantuan sembako kepada 50 warga kategori kurang mampu. Para penerima manfaat tersebut tersebar di dusun binaan DHM yang mencakup tiga kecamatan, yakni Pakem, Cangkringan, dan Turi. Acara yang bertajuk “Distribusi Program Bingkisan Ramadhan” ini dilaksanakan di Masjid Baiturrahim, Dusun Kemiri, Purwobinangun, Pakem, Sleman pada Sabtu (7/3) pagi.

Farhan, selaku perwakilan relawan, mengungkapkan bahwa penyaluran paket sembako ini merupakan amanah dari LAZIS UNISIA bagi warga membutuhkan di wilayah binaan. Ia berharap bantuan tersebut dapat meringankan beban ekonomi warga dalam menyambut sukacita hari raya Idulfitri mendatang.

Senada dengan hal tersebut, Takmir Masjid Baiturrahim, Danang, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada LAZIS UNISIA atas dukungan terhadap kelangsungan program Relawan Ramadhan. “Semoga menjadi berkah untuk semuanya dan Allah membalasnya dengan pahala yang berlipat ganda, Aamiin,” ucapnya. Ia juga berharap program ini tetap berlanjut di tahun-tahun mendatang, mengingat pentingnya kehadiran mahasiswa dalam memperkuat pemahaman agama masyarakat di dusun binaan tersebut. (NKA/AHR/RS)

Dakwah Hijrah Mahasiswa, Lembaga Dakwah Kampus (LDK) dibawah naungan Direktorat Pendidikan dan Pembinaan Agama Islam (DPPAI) Universitas Islam Indonesia telah tuntas selesaikan program kerja pengabdian masyarakat bernama Relawan Ramadhan. Program ini merupakan salah satu bentuk realisasi dari Catur Dharma, yaitu program mengajar mengaji anak-anak di Taman Pendidikan Al-Qur’an sekaligus menjadi imam shalat tarawih dan pengisi kultum di 7 dusun binaan DHM pada bulan Ramadhan.

Kegiatan penarikan terhadap 70 mahasiswa Relawan hari ini dilakukan sebagai bentuk penutupan dari rangkaian kegiatan pengabdian selama 17 hari selama bulan Ramadhan di dusun binaan DHM, yang dilakukan pada Jum’at (6/3) di Masjid Arrahmaan di Dusun Bayan, Girikerto, Turi, Sleman. Acara penarikan Relawan Ramadhan diisi dengan acara utama yakni kajian dengan materi: “Makna Nuzulul Qur’an sebagai Landasan Keikhlasan dan Ukhuwah di Bulan Ramadhan” yang dibersamai oleh Saiful Aziz Albantany, S.H., M.H., dosen Program Studi Ahwal Syakhshiyah UII. 

Sebagai perwakilan sambutan dari DPPAI, Tian Wahyudi, S.Pd.I., M.Pd.I., menyampaikan terimakasih kepada pengurus takmir dan perangkat desa yang sudah memfasilitasi mahasiswa UII untuk belajar bermasyarakat dan berdakwah secara nyata di lapangan. Ia juga memberikan apresiasi kepada seluruh mahasiswa yang tergabung dalam kegiatan Relawan Ramadhan yang dengan rela mengisi waktu liburan kuliah dengan berdakwah dan bermanfaat bagi masyarakat desa di sekitar UII. 

“Insyaallah ini akan menjadi pengalaman penting, kita ketahui bahwa pengalaman itu pembelajaran yang paling berharga,” ucap Tian dalam sambutannya. Kegiatan Relawan Ramadhan ini juga dapat menjadi ajang peningkatan aspek spiritual bagi mahasiswa, public speaking, sekaligus mengatur dan mengelola pembelajaran anak-anak di TPA. Di akhir, ia berharap UII dan dusun binaan tetap menjalin silaturahim kedepannya melalui program Relawan Ramadhan ini. 

Sujatmoko, perwakilan takmir dari Masjid Arrahmaan menyampaikan hal yang sama. Ia sangat berterimakasih dan merasa gembira dengan kedatangan mahasiswa UII yang membantu meramaikan kegiatan-kegiatan di Masjid selama bulan Ramadhan. Ia juga menyoroti bahwa kegiatan Relawan Ramadhan ini dapat menjadi latihan bagi mahasiswa untuk terjun ke masyarakat.

Acara selanjutnya adalah penyampaian materi tentang Nuzulul Qur’an, materi ini diambil karena bertepatan dengan malam ke-17 Ramadhan, yaitu malam turunnya Al-Qur’an. Saiful Aziz Albantany, S.H., M.H. sebagai pengisi materi menyinggung tentang keistimewaan malam Lailatul Qadr yaitu malam yang istimewanya melebihi 1000 bulan, “artinya kalau kita beramal sholeh bertepatan dengan malam Lailatul Qadr, misalkan kita shodaqoh sekali 1000 rupiah, sama dengan kita shodaqoh 1000 rupiah selama 1000 tahun,” jelas Saiful. Ia juga memberi perumpamaan bahwa amalan sholeh yg dilakukan di malam Lailatul Qadr pahalanya bahkan melebihi usia rata-rata manusia. 

Menurut penuturannya, malam Lailatul Qadr menjadi rahasia karena Allah ingin agar kita tetap melakukan amal baik setiap harinya di bulan Ramadhan bukan hanya saat malam Lailatul Qadr saja. Ada suatu riwayat bahwa Rasulullah menyebutkan, “carilah malam Lailatul Qadr di malam yg ganjil saja, dalam riwayat lainnya ada yang menyebutkan carilah malam Lailatul Qadr itu di 10 malam terakhir Ramadhan.” ungkap Saiful.

Dengan banyaknya petunjuk yang diberikan oleh Rasulullah mengenai rahasia malam Lailatul Qadr, maka umat muslim beramai-ramai mengejar keistimewaan malam yang mulianya melebihi 1000 bulan. Ia juga sedikit menyinggung tentang keistimewaan membaca Al-Qur’an, dan tingkatan dari mempelajari Al-Qur’an, dari yang hanya membacanya hingga mengamalkan isi Al-Qur’an. 

Acara ditutup dengan doa dan buka bersama warga dusun Bayan. Melalui program ini, Dakwah Hijrah Mahasiswa UII tidak hanya berhasil menjalankan mandat Catur Dharma perguruan tinggi, tetapi juga meninggalkan jejak positif dalam pembinaan karakter generasi muda di pelosok desa. Harapannya, semangat pengabdian yang telah dipupuk selama 17 hari ini dapat terus menyala dalam diri mahasiswa, sekaligus menjadi fondasi kuat bagi sinergi berkelanjutan antara Universitas Islam Indonesia dengan masyarakat dalam syiar dakwah Islam di masa depan. (NKA/AHR/RS)