Setiap orang berhak tinggal di rumah yang aman, sehat, dan mampu melindungi keluarga dari kondisi lingkungan yang terus berubah. Berangkat dari keyakinan tersebut, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) Universitas Islam Indonesia (UII)  menyelenggarakan Coffee Morning Lecture (CML) ke-9 dengan tema “Kajian Rumah Adaptif Iklim” Kegiatan ini dilaksanakan pada Jumat (28/11) di Selasar Gedung Moh. Natsir FTSP UII menghadirkan para akademisi, praktisi perumahan, pemangku kepentingan sektor konstruksi, mitra pembangunan, serta masyarakat penerima manfaat dari Desa Wunung, Gunungkidul.

Kegiatan ini berkolaborasi dengan Yayasan Habitat Kemanusiaan Indonesia (Habitat for Humanity Indonesia) untuk merancang Rumah Habitat Adaptif Iklim di Desa Wunung, Gunungkidul. Perancangan tersebut mengintegrasikan riset ilmiah, konteks ekologis kawasan karst, serta kebutuhan nyata masyarakat, dengan dukungan PT Prudential Life Assurance Indonesia sebagai mitra strategis.

Kegiatan dibuka dengan sambutan salah satu perwakilan pimpinan PT Prudential Life Assurance Indonesia yang menyatakan komitmennya dalam menjaga ketahanan masyarakat.  “Kami percaya bahwa investasi terbaik adalah memastikan setiap keluarga tinggal di rumah yang mampu melindungi mereka dari risiko iklim. Kolaborasi bersama FTSP UII dan Habitat for Humanity Indonesia adalah bentuk nyata kontribusi Prudential untuk ketahanan keluarga Indonesia,” ujar Pimpinan PT Prudential Life Assurance Indonesia dalam sambutannya.

Lebih dari itu, Senior Manager of Field Operations Habitat for Humanity Indonesia menyatakan Yayasan Habitat berperan penting dalam implementasi di lapangan, mulai dari asesmen kebutuhan hingga konstruksi rumah adaptif. “Rumah bukan hanya bangunan; ia adalah ruang aman bagi keluarga. Di Wunung, kami belajar bahwa solusi teknis harus berjalan bersama budaya lokal dan partisipasi masyarakat. Itulah kekuatan rumah adaptif iklim,” ungkapnya.

Selanjutnya, Prof. Ilya Fadjar Maharika, M.A., IAI dalam sambutannya mengeaskan posisi UII sebagai kampus yang menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat. “Ini bukan sekadar program akademik. Ini adalah wujud keberpihakan UII terhadap ketangguhan masyarakat. Rumah adaptif iklim menunjukkan bahwa ilmu arsitektur, teknik sipil, dan teknik lingkungan dapat menyatu menjadi solusi yang membumi dan visioner,” tutur Prof. Ilya Fadjar Maharika.

Memasuki sesi inti, Karnen Dasen menguraikan perjalanan program tantangan lapangan, dan proses pendampingan penerima manfaat di Desa Wunung. Karnen menyatakan kunci keberhasilan program adalah kepemilikan bersama. Warga tidak hanya menerima rumah tetapi ikut berkontribusi dalam pembangunan dan perawatan rumah.  “Kolaborasi dengan FTSP UII memperkaya desain dan memastikan rumah yang dibangun benar-benar responsif terhadap iklim dan konteks lokal,” ungkapnya.

Sebagai peneliti utama, Prof. Suparwoko memaparkan hasil kajian arsitektur adaptif iklim yang dikembangkan berdasarkan kondisi karst Gunungkidul, pola hidup warga, dan teknologi konstruksi yang terjangkau. “Rumah adaptif iklim bukan sekadar penyesuaian kecil pada desain. Ia merupakan pendekatan holistik yang menimbang orientasi matahari, ventilasi alami, konservasi air, material lokal, hingga kapasitas ekonomi warga,” tegasnya.

Diskusi semakin hidup dengan adanya dua panelis ahli  yang memberikan pandangannya terkait rumah adaptif iklim, seperti Ar. Erlangga Winoto, IAI, AA. selaku Ikatan Arsitek Indonesia DIY yang menyatakan bahwa rumah adatif iklim di Wunung merupakan contoh nyata praktik arsitektur kontekstual yang jarang ditemukan. “Desain adaptif iklim bukan tren sesaat, tetapi kebutuhan masa depan Indonesia,” ungkap Ar. Erlangga.

Lebih lanjut, Direktur Green Building Council Indonesia (GBCI), Ar. Daud Tjondro Rahardja, MBA., IAI., GP. menyoroti pentingnya standar bangunan hijau dalam konteks rumah rakyat. “Rumah adaptif iklim adalah fondasi menuju bangunan hijau yang terjangkau. Kita harus memastikan prinsip keberlanjutan tidak hanya untuk gedung besar, tetapi juga untuk rumah sederhana yang dibutuhkan masyarakat,” tegasnya.

Melalui kegiatan ini, FTSP UII menegaskan peran strategisnya sebagai institusi yang mendorong perubahan nyata. Rumah adaptif iklim dari Wunung membuktikan bahwa rumah yang baik bukan hanya bangunan yang berdiri, tetapi ruang yang menjaga kehidupan di tengah ketidakpastian iklim. (AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menjadi tuan rumah dalam rangkaian NUNI International Seminar Series #10, yang berlangsung pada Selasa-Rabu (25–26/11)  secara daring melalui kanal Zoom Meeting. Seminar ini mengusung tema “Thriving in the Digital Age: Balancing Mental Health, Well-being, and Sustainability in a Hyperconnected World”, sebagai upaya memperkuat literasi digital, ketahanan mental, dan kesadaran keberlanjutan bagi mahasiswa di era transformasi teknologi yang sangat cepat.

Seminar menghadirkan dua narasumber internasional terkemuka, yaitu Dr. Huynh Tan Loi dari Van Lang University, Vietnam, peneliti dan akademisi yang berfokus pada isu perubahan iklim, sanitasi lingkungan, serta implikasinya terhadap kesehatan masyarakat; dan Dr. Pontus Wärnestål dari Halmstad University, Swedia, pakar internasional dalam bidang human-centered design dan artificial intelligence, serta dosen senior di bidang teknologi informasi.

Pada sesi tanggal 25 November, Dr. Huynh Tan Loi menekankan pentingnya keterpaduan antara kesehatan lingkungan dan kesehatan mental sebagai fondasi bagi pembangunan berkelanjutan di tengah tekanan digital dan perubahan sosial urban. Ia juga membagikan pengalaman berbagai inisiatif penelitian dan program keberlanjutan yang dilakukan di Van Lang University.

Sementara pada 26 November, Dr. Pontus Wärnestål menyoroti urgensi pengembangan teknologi kecerdasan buatan yang berorientasi pada manusia, tidak hanya inovatif tetapi juga etis, bertanggung jawab, dan berkelanjutan untuk memastikan kesejahteraan pengguna di era digital.

Sebagai penyelenggara, UII menyambut antusiasme tinggi dari peserta yang berasal dari berbagai perguruan tinggi anggota Nationwide University Network in Indonesia (NUNI). Kegiatan ini berhasil menarik hingga lebih dari 550 peserta, memberikan peluang luas bagi mahasiswa untuk memperoleh wawasan global sekaligus membuka ruang kolaborasi penelitian dan pengembangan akademik lintas institusi.

NUNI International Seminar Series #10 merupakan bagian dari inisiatif internasionalisasi pendidikan tinggi Indonesia yang secara konsisten memperkuat reputasi akademik nasional di tingkat global. Melalui rangkaian seminar sebelumnya, program ini telah menjangkau lebih dari 3.000 peserta dari 40 institusi di dalam dan luar negeri.

Dengan terselenggaranya seminar ini, UII menegaskan komitmennya untuk terus mendukung pengembangan kapasitas mahasiswa dalam menghadapi tantangan era digital, sekaligus mendorong kesejahteraan mental, kesehatan lingkungan, dan keberlanjutan global melalui kolaborasi akademik yang inklusif. (NI/AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) melalui Bidang Hubungan Masyarakat (Humas) menyelenggarakan Pelatihan Manajemen Acara bertema “Mengelola Acara secara Profesional, Elegan, dan Berkesan” pada Rabu (26/11) di Ruang Audiovisual Fakultas Hukum (FH) UII. Kegiatan ini menghadirkan Emil Faizza, S.Pd., M.Med.Kom., CIT, seorang praktisi komunikasi dan public speaking, sebagai narasumber, serta diikuti oleh berbagai tenaga kependidikan dari tingkat universitas, fakultas, hingga program studi.

Kegiatan dibuka oleh Sekretaris Eksekutif UII, Hangga Fathana, S.IP., B.Int.St., M.A., yang menekankan pentingnya kesan dalam penyelenggaraan acara. “Dalam satu momentum acara, manusia itu ternyata tidak mengingat detik per detiknya. Yang diingat hanya dua: puncak emosi dan bagaimana acara itu diakhiri,” ujarnya, sembari mengajak peserta untuk memahami bahwa keberhasilan sebuah event terletak pada pengalaman yang ditinggalkan kepada audiens.

Selain itu, Hangga Fathana juga menyoroti dinamika yang sering terjadi dalam penyelenggaraan acara, seperti perubahan mendadak pada rundown atau kondisi lapangan. “Perubahan pada saat acara itu butuh keterampilan khusus untuk menghadapinya,” jelasnya. Ia berharap peningkatan kapasitas dalam pengelolaan acara dapat memperkuat profesionalitas dan kualitas pelaksanaan kegiatan di lingkungan UII, sehingga setiap agenda universitas tersaji secara lebih matang, elegan, dan berkesan bagi seluruh peserta.

Memasuki sesi inti, Emil Faizza menjelaskan bahwa kunci keberhasilan sebuah acara terletak pada ketepatan persiapan. Ia menampilkan prinsip yang menjadi pegangan para pembawa acara profesional, yakni “Naik dengan persiapan, turun dengan kehormatan.” Emil juga memaparkan daftar aspek yang wajib diperhatikan pada tahap pra-acara, mulai dari riset dan pemahaman acuan acara, press release, tamu undangan, hingga pengecekan perlengkapan teknis seperti audio dan visual. Seluruh komponen tersebut, menurutnya, menjadi fondasi agar acara berjalan tertib dan minim kesalahan.

Emil menambahkan bahwa tugas pembawa acara tidak hanya menyampaikan rangkaian kegiatan, tetapi juga menjaga alur, memastikan pemangku kepentingan memperoleh penghormatan sesuai protokol, serta memberi instruksi penting kepada hadirin. Ia mencontohkan beberapa arahan yang perlu disampaikan MC, seperti meminta hadirin mengaktifkan telepon seluler dalam mode senyap, menginformasikan kehadiran tamu VIP, mengisi kursi bagian depan, hingga mengarahkan media untuk mengambil gambar dari titik yang telah ditentukan.

Selain teknik pembawaan acara, peserta juga memperoleh pemahaman mengenai prinsip keprotokolan yang mencakup “tata tempat, tata upacara, dan tata penghormatan” sebagai unsur utama dalam acara resmi. Emil menegaskan bahwa penempatan VIP tidak boleh dilakukan sembarangan, dan menutup pemaparannya dengan menekankan pentingnya kerja sama tim (team work) sebagai kunci kelancaran acara.

Dengan terselenggaranya pelatihan ini, diharapkan para peserta dapat mengelola acara di unit masing-masing dengan lebih baik, mulai dari tahap persiapan hingga pelaksanaan. Peningkatan kemampuan ini diharapkan membantu menghadirkan kegiatan yang berjalan lebih tertib dan terarah, sehingga setiap acara dapat tampil profesional, elegan, dan meninggalkan kesan positif bagi para hadirin. (AHR/RS)

Ilustrasi pembuka

Bayangkan dua gambar: seorang siswa kelas dua SD yang memegang kalkulator, dan seorang pedagang pasar tradisional yang juga memegang kalkulator. Alatnya sama, tetapi maknanya sangat berbeda.

Bagi siswa sekolah dasar, kalkulator yang digunakan terlalu dini justru dapat merusak proses belajar. Pada tahap itu, anak harus berlatih membangun pemahaman angka, menalar, dan mencari tahu bagaimana jawaban terbentuk. Jika kalkulator masuk terlalu cepat, ia menjadi jalan pintas yang membajak proses belajar.

Namun bagi pedagang pasar, kalkulator justru menjadi penyelamat. Ia mempercepat pelayanan, mengurangi kesalahan hitung, dan membantunya menjalankan usaha dengan lebih efisien. Di sini, kalkulator berperan sebagai alat pemberdayaan. Perbandingan ini menunjukkan satu pelajaran penting: teknologi tidak baik atau buruk dengan sendirinya — nilainya ditentukan oleh tujuan, waktu, dan kesiapan penggunanya.

Sekarang, mari kita mengganti kalkulator itu dengan akal imitasi atau artificial intelligence (AI). Pertanyaannya kemudian: apa makna kehadiran AI bagi dunia pendidikan tinggi? Selama ini kita terbiasa dengan mantra “semakin cerdas, semakin baik”. Namun para pakar seperti Stuart Russell (2020) mengingatkan, kecerdasan tanpa tujuan yang tepat dapat menjadi bumerang. Mesin dianggap cerdas apabila tindakannya membawa mesin itu pada tujuannya sendiri.

 

Tujuan manusia

Masalahnya, bagaimana jika tujuan mesin tidak sejalan dengan tujuan manusia? Jika itu terjadi, AI berpotensi merusak kemanusiaan alih-alih memajukannya. Karena itu, tugas kita bukan hanya menciptakan mesin yang cerdas, tetapi memastikan mesin itu bermanfaat bagi manusia. AI hanya layak dipakai sejauh ia membantu manusia mencapai tujuan-tujuannya — bukan menggantikannya, apalagi menggeser nilai-nilai kemanusiaan.

Dalam konteks perguruan tinggi, tujuan itu mencakup tiga ranah utama. Pertama, di ranah pembelajaran: AI seharusnya membantu mahasiswa berpikir kritis dan kreatif, bukan sekadar menyalin jawaban tanpa memahami prosesnya. Kedua, di ranah pengajaran: AI dapat memperkaya desain pembelajaran, tetapi tidak boleh menghilangkan wawasan dan sentuhan personal seorang dosen. Ketiga, di ranah administrasi: AI dapat mempercepat dan memperkuat pengambilan keputusan, tetapi tidak boleh mengabaikan keadilan, konteks, dan empati.

Selama AI membantu kita semakin dekat pada nilai-nilai yang ingin kita perjuangkan sebagai manusia, ia layak dipakai. Sebaliknya, ketika AI menjauhkan kita dari tujuan yang paling autentik — seperti integritas, pemikiran mendalam, dan hubungan manusia — maka penggunaan itu perlu dikritisi.

Kita juga perlu mengakui kenyataan: AI bukan fenomena yang “akan datang suatu hari nanti”. AI sudah hadir dalam kegiatan kita sehari-hari. Mahasiswa menggunakannya untuk belajar, dosen untuk menyiapkan materi, peneliti untuk menganalisis data, dan universitas untuk mengelola layanan. Menolak AI sama saja dengan mengabaikan realitas. Namun menerima AI begitu saja juga bukan pilihan bijak. Tantangan kita bukan memilih “menggunakan atau tidak menggunakan AI”, melainkan “menggunakan AI secara bertanggung jawab”.

 

Peran universitas

Pada titik ini, kita sampai pada pertanyaan penting: apa sebenarnya peran universitas di era AI? Selama puluhan tahun, universitas dibangun atas misi menyampaikan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai. Kini, ilmu tersedia di mana saja dan kapan saja. Dengan bantuan AI, mahasiswa dapat memperoleh informasi dalam hitungan detik. Jika pembelajaran hanya tentang menghafal, merangkum, dan mengulang, AI bisa melakukannya lebih baik. Tetapi AI tidak bisa menanamkan empati, karakter, kepemimpinan, makna, atau nurani. Di sinilah peran universitas menjadi tak tergantikan. Perguruan tinggi bukan lagi sekadar ruang penyampaian informasi, melainkan ekosistem pembentukan manusia.

Karena itu, dosen di era AI bukan hanya penyampai materi di depan kelas. Mereka adalah pelatih berpikir kritis, mentor karakter dan profesionalisme, pemandu cara belajar, dan penerjemah informasi menjadi wawasan. AI mampu menjelaskan rumus, tetapi AI tidak mampu membuat mahasiswa percaya pada dirinya sendiri, atau mengambil keputusan etis dalam dilema kehidupan. Yang bisa melakukan itu adalah manusia.

Masa depan terbaik bukan “AI melawan manusia”, tetapi “AI bersama manusia”. Ketika mahasiswa belajar menggunakan AI dengan bimbingan dosen yang memahami kekuatan dan keterbatasannya, banyak hal besar dapat terjadi: pembelajaran menjadi lebih cepat, personal, dan kreatif. Yang lebih penting — mahasiswa belajar menggunakan teknologi dengan bertanggung jawab: untuk memecahkan masalah, bukan untuk menyontek.

Namun perubahan ini tidak akan terwujud jika hanya mengandalkan inisiatif individu. Institusi pendidikan tinggi perlu menyediakan kebijakan yang jelas, pelatihan bagi dosen, kolaborasi lintas disiplin, dan budaya yang mendukung eksperimen. Perguruan tinggi yang berhasil nanti bukan yang memiliki anggaran terbesar, melainkan yang memiliki kemauan beradaptasi terbesar.

Dalam percakapan tentang AI, kita memang mudah terbawa sikap ekstrem — terlalu optimis atau terlalu khawatir. Padahal jawaban terbaik ada di tengah: menggunakan AI secara bijaksana dan berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan. AI dapat membantu kita bergerak maju, selama kita tidak membiarkan AI mengambil alih hal yang paling manusiawi dalam pendidikan: integritas, kebijaksanaan, hubungan tulus, dan pertumbuhan pribadi mahasiswa. Jika kita mampu menjaga keseimbangan itu, masa depan pendidikan tinggi tidak hanya akan menjadi lebih cerdas — tetapi juga lebih bermakna.

Terjemahan dan elaborasi ringan dari pidato kunci bertajuk Transformasi Perguruan Tinggi di Era Kecerdasan Buatan dalam P2A Annual General Meeting di Universitas Islam Indonesia pada 21 November 2025.

 

Fathul Wahid

Rektor Universitas Islam Indonesia 2022-2026

 

Universitas Islam Indonesia (UII) menyambut kedatangan delegasi dari Universiti Malaya (UM), Malaysia, dalam rangka pelaksanaan Entrepreneurship & Cultural Program (ECUP) 2025. Program yang diikuti oleh 20 mahasiswa dan 2 dosen pendamping ini dikoordinatori oleh Program Studi Manajemen, Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE) UII bekerja sama dengan Direktorat Kemitraan/Kantor Urusan Internasional (DK/KUI) UII sebagai bentuk sinergi dalam memperkuat inisiatif internasionalisasi kampus pada Senin (24/11) di Gedung Kuliah Umum Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII.

Acara pembukaan yang berlangsung di Gedung Kuliah Umum (GKU) UII diawali dengan sambutan dari Wakil Rektor Bidang Kemitraan dan Kewirausahaan UII, Dr. Wiryono Raharjo. Dalam pidatonya, Dr. Wiryono menyampaikan antusiasme UII dalam menyambut delegasi Universiti Malaya, serta menekankan pentingnya kolaborasi internasional untuk memperluas wawasan mahasiswa. Ia menambahkan bahwa ECUP merupakan ruang strategis untuk memperkenalkan mahasiswa pada semangat kewirausahaan sekaligus memperkaya pengalaman lintas budaya yang sangat relevan di era global.

Sambutan kedua disampaikan oleh Wakil Dekan Bidang Keagamaan, Kemahasiswaan, dan Alumni, FBE UII, Dr. Ahmad Tohirin, yang menegaskan komitmen FBE untuk terus mengembangkan kegiatan internasional yang memberikan dampak nyata bagi mahasiswa. Ia menyampaikan bahwa kehadiran mahasiswa dan dosen pendamping dari Universiti Malaya membuka kesempatan bagi kedua institusi untuk saling bertukar gagasan, belajar bersama, serta memperkuat jejaring akademik dalam suasana kolaboratif yang positif.

Selama pelaksanaan program, peserta ECUP akan mengikuti berbagai kegiatan yang dirancang untuk memberikan pengalaman komprehensif tentang kewirausahaan dan budaya lokal Yogyakarta. Rangkaian kegiatan tersebut meliputi kunjungan budaya ke Kraton Yogyakarta untuk memahami sejarah dan tradisi Kesultanan Yogyakarta, serta perjalanan ke Candi Borobudur untuk mengeksplorasi salah satu monumen warisan dunia UNESCO yang sarat nilai sejarah dan filosofis. Selain itu, peserta juga mengunjungi Project Bahasa Indonesia, sebuah inisiatif kewirausahaan sosial yang mengolah minyak jelantah menjadi lilin dan produk kreatif lainnya.

Program ECUP turut dilengkapi dengan tur kampus UII, kegiatan komunikasi lintas budaya, serta berbagai sesi akademik yang memungkinkan mahasiswa Universiti Malaya dan UII berinteraksi dalam suasana edukatif dan inspiratif. Melalui pengalaman kolaboratif ini, UII berharap program ECUP dapat memperkuat hubungan institusional dengan Universiti Malaya serta membuka peluang kerja sama yang lebih luas dalam bidang pendidikan, riset, dan pengembangan mahasiswa di masa mendatang. (NI/AHR/RS)

Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE) Universitas Islam Indonesia (UII) berkolaborasi dengan IFG (Indonesian Financial Group) dalam program Campus Visit IFG Progress yang berlangsung pada Jum’at (21/11) kemarin. Kegiatan yang diselenggarakan di Gedung Aula Utara FBE UII ini mempunyai tujuan mendorong peningkatan literasi keuangan di kalangan mahasiswa. Dikemas secara interaktif, IFG Goes to Campus mengangkat tajuk Literasi Dasar dan Pengenalan Industri Asuransi dan Dana Pensiun. Kegiatan talkshow ini mengundang Erin Glory Pavayosa dan Afif Narawangsa yang sama-sama merupakan Research Assosiate IFG Progress. IFG Goes to Campus terbuka untuk mahasiswa D4, S1, S2, S3, Dosen dan Tendik FBE UII.

Prof. Johan Arifin, S.E., M.Si., Ph.D., CFrA, CertIPSAS, selaku Dekan FBE dalam sambutannya menyampaikan keprihatinan tentang banyaknya masyarakat yang belum memahami tentang pentingnya literasi asuransi dan dana pensiun. “Sayangnya masyarakat Indonesia itu belum maksimal dalam memahami relasi tentang terkait dengan kedua sektor ini, yaitu asuransi dan dana pensiun. Nah, tentu menjadi tantangan dan peluang bagi kami selaku institusi pendidikan maupun bagi teman-teman dari FG selaku praktisi pada industri tersebut untuk memberikan pengetahuan yang tepat dan komprehensif pada masyarakat,” ujar Prof. Johan.

Nada Serpina, Research Associate di IFG Progress menambahkan bahwa pemahaman tentang asuransi dan dana pensiun ini sebagai bekal bagi mahasiswa untuk menyiapkan dirinya ketika nanti sudah lulus dan memasuki dunia pekerjaan. “Jadi, nanti kemudian ketika teman-teman sudah mempunyai kemampuan finansial untuk menggunakan produk asuransi dan untuk menabung dana pensiun itu sudah punya basic pengetahuannya. Jadi memang kalau dipikir-pikir kenapa harus belajar sekarang? Justru itu, belajarnya harus se-dini mungkin sebelum nanti teman-teman masuk ke dunia pekerjaan gitu,” ucap Nada.

Acara inti talkshow dimoderatori oleh Listya Endang Artiani, SE., M.Si. yang merupakan dosen di FBE UII. Materi pertama disampaikan Erin yang menjelaskan tentang literasi dasar dan pengenalan tentang industri asuransi. Industri asuransi merupakan bagian dari industri keuangan non-bank. Tujuannya adalah untuk mengenal asuransi sebagai proteksi finansial, memahami produk-produknya, dan peranannya dalam perencanaan keuangan.

Dalam penyampaiannya, Erin mengenalkan kepada peserta tentang sebuah risiko yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Seperti sakit, kecelakaan, bangkrut, keluarga meninggal. Ia menjelaskan tentang tingkatan frekuensi resiko yang dapat difasilitasi oleh asuransi, dan resiko yang tidak dapat difasilitasi.

Pada materi yang disampaikan oleh Afif berfokus pada dana pensiun dan strategi mengelola dana tersebut, bukan hanya berinvestasi di dalamnya. Diskusi berawal pada saat Afif bertanya kepada peserta tentang tabungan dan investasi mereka seperti saham, deposito, obligasi, dan kripto. Ia mencatat bahwa banyak orang baru mulai memikirkan pensiun di usia sekitar 44 tahun, yang seringkali ketika keamanan finansial menjadi perhatian.

Ia menekankan pentingnya memiliki pendapatan positif dan mengelola pengeluaran, memastikan pendapatan melebihi pengeluaran. Ia juga menyinggung konsep ‘dana darurat’ atau ‘jalan darurat’.

Acara berjalan dengan interaktif dan peserta juga antusias melontarkan pertanyaan kepada para pemateri yang hadir. Harapannya, kegiatan ini bisa menjadi jalan bagi mahasiswa untuk lebih dekat dan juga lebih tertarik untuk berkontribusi di industri asuransi dan dana pensiun. Semoga kolaborasi antara FBE UII dan IFG dapat terus berlanjut untuk menciptakan generasi muda yang lebih siap menghadapi tantangan resiko di masa yang akan datang. (NKA/AHR/RS)

Program Studi Hubungan Internasional (Prodi HI) Universitas Islam Indonesia (UII) bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) menyelenggarakan Kuliah Umum bertajuk “Menuju Integrasi Indonesia ke Dunia Islam: Kepentingan Nasional dan Realitas Geopolitik” pada Jumat (21/11) dengan menghadirkan narasumber Wakil Menteri Luar Negeri, Muhammad Anis Matta. Acara ini menjadi bagian dari rangkaian kerja sama penelitian antara Prodi HI UII dan Kemlu RI dalam penyusunan Policy Output Mengintegrasikan Indonesia dan Dunia Islam: Arah, Kerangka, dan Peta Jalan.

Dalam sambutannya, Rektor UII Fathul Wahid menegaskan bahwa kerja sama UII dan Kemlu RI telah berjalan intensif. Ia menambahkan bahwa UII juga aktif membuka ruang dialog global, salah satunya melalui keterlibatan dalam R20 Interfaith Dialogue sebagai bagian dari forum G20 di Bali tahun 2022. Fathul menekankan bahwa agama memiliki peran penting dalam merespons tantangan dunia, mulai dari krisis energi hingga konflik berkepanjangan. “Kami percaya Indonesia memiliki posisi strategis, dan Islam dipercaya sebagai soft power untuk menyelesaikan masalah global serta menjadi sumber inspirasi,” ujarnya.

Dalam sesi Kuliah Umum, Wakil Menteri Luar Negeri RI, Muhammad Anis Matta, menekankan bahwa Indonesia memiliki peluang besar dalam berperan secara strategis di dunia Islam. “Indonesia memiliki tiga elemen utama yang dapat menjadi landasan perencanaan dan penguatan posisinya di kancah global, yaitu agama, demokrasi, dan kemakmuran. Kombinasi tiga elemen ini merupakan keunggulan strategis yang tidak selalu dimiliki oleh negara-negara lain,” jelasnya. Anis Matta juga menyoroti bahwa perjuangan Dunia Islam yang menempatkan nilai persatuan dan kemanusiaan sebagai landasan bersama dapat menjadi game changer dalam mencari solusi atas krisis kemanusiaan di Palestina.

Ketua tim peneliti Policy Output sekaligus Wakil Dekan Sumber Daya Fakultas Ilmu Sosial Budaya UII, Irawan Jati, menegaskan pentingnya langkah bertahap untuk mencapai integrasi Indonesia dengan Dunia Islam. “Peta jalan ini mengajukan beberapa capaian kunci atau key milestones yang didasarkan pada identifikasi SOAR (Strength, Opportunities, Aspirations, Results) dan kapabilitas, serta disesuaikan dengan periode RPJMN dan sasaran utama visi RPJPN 2045”. Ia menjelaskan bahwa tahapan tersebut menjadi panduan praktis bagi pemerintah untuk mengukur kemajuan dan memastikan bahwa integrasi Indonesia dengan Dunia Islam berjalan terarah serta memberi manfaat jangka panjang bagi kepentingan nasional.

Menutup sesi Kuliah Umum, moderator Rizki Dian Nursita, menyimpulkan bahwa posisi Indonesia di Dunia Islam semakin penting baik secara geopolitik maupun ekonomi. “Indonesia merupakan salah satu pusat dari ekonomi halal global, dengan nilai pasar halal mencapai sekitar USD 279 miliar pada 2023 dan diproyeksikan meningkat menjadi USD 807 miliar pada 2030”. Ia juga mencatat bahwa dinamika ekonomi Dunia Islam kini dipimpin oleh aktor utama seperti Malaysia, Arab Saudi, Indonesia, dan Uni Emirat Arab, yang membuka peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat pengaruh geopolitik melalui kerja sama ekonomi, industri halal, dan diplomasi kawasan.

Rangkaian kerja sama penelitian dan penyelenggaraan Kuliah Umum ini menegaskan komitmen UII dalam mendukung diplomasi Indonesia di Dunia Islam, baik melalui penguatan riset maupun ruang dialog strategis. Melalui kolaborasi berkelanjutan dengan Kemlu RI, UII berupaya memperluas kontribusinya dalam membangun pemahaman kawasan, memperkuat jejaring akademik, dan menghadirkan gagasan yang relevan bagi kepentingan nasional Indonesia di tengah dinamika global. (KU/AHR/RS)

Di tengah situasi kritis masyarakat adat Indonesia yang terus berhadapan dengan ekspansi korporasi, muncul sebuah terobosan perlindungan hak ulayat yang tidak biasa. Masyarakat Adat Namblong di Kabupaten Jayapura, Papua, memilih melakukan “mimikri institusional” dengan mendirikan sebuah perseroan terbatas, PT Yombe Namblong Nggua, untuk secara aktif mempertahankan hak-hak mereka dari ancaman deforestasi. Fenomena inilah yang menjadi pemantik utama dalam Seminar Nasional yang digelar Departemen Hukum Perdata Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia pada Kamis (20/11).

Langkah Suku Namblong mendirikan PT dilatarbelakangi oleh situasi kritis masyarakat adat di Indonesia dan lemahnya instrumen hukum publik dalam memberikan perlindungan. Keynote Speaker seminar tersebut, Direktur Advokasi Hukum dan HAM Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Muhamad Arman, memaparkan bahwa masyarakat adat kini terbagi dalam tiga kategori: yang masih cukup kuat, yang kritis, dan yang terancam punah.

Arman juga menyoroti kerugian masif yang dialami masyarakat adat. Ia mengutip data AMAN: “ada sekurang-kurangnya 11,7 juta hektar wilayah masyarakat adat itu yang diambil alih atas nama pembangunan untuk izin-izin konsesi pertambangan, untuk izin-izin konsesi perkebunan monokultur, untuk izin-izin konsesi kehutanan, maupun infrastruktur yang sering kita dengar dengan istilah proyek strategis nasional atau PSN,” ungkapnya.

Kelemahan hukum ini juga tercermin di pengadilan. Arman menceritakan pengalamannya menggugat perusahaan sawit di Kalimantan Barat, yang mana gugatan tersebut ditolak karena masyarakat adat dianggap tidak memiliki kedudukan hukum.

“Alasannya adalah karena masyarakat adat yang melakukan gugatan itu itu tidak memiliki legal standing. Kenapa tidak punya legal standing? Karena masyarakat adat itu belum dapat pengakuan dari negara,” jelas Arman.

Pandangan kritis mengenai sistem hukum nasional disampaikan oleh Prof. Dr. Widodo Dwi Putro, dari Universitas Mataram. Ia menggambarkan hubungan antara hukum adat dan korporasi sebagai dua unsur yang tak mungkin bersatu, seperti “air dan minyak” dalam ilmu kimia. Prof. Widodo menilai regulasi yang melindungi korporasi sebagai bentuk kejahatan legal.

“Saya menyebutnya ini sebagai law as a tool of perfect crime. Kalau mereka mengambil atau merampas tanah masyarakat adat itu bukan kejahatan, karena sudah dilegalisasi oleh hukum. Kejahatan yang sempurna adalah ketika kejahatan itu bersalin rupa menjadi hukum, ia tidak bisa dijerat oleh hukum karena sudah menjadi bagian dari hukum itu.” tegas Prof. Widodo.

Penggunaan instrumen hukum perdata melalui pendirian PT Yombe Namblong Nggua menjadi perhatian para ahli. Guru Besar Hukum dari UII, Prof. Dr. Muhamad Syamsudin, menyebut fenomena ini sebagai terobosan yang tak terduga. “Nah, inilah yang disebut dengan mimikri. Saya kagum, saya takjub dengan kawan-kawan di Namblong yang membuat PT Yombe Namblong Nggua. Mengapa? Karena itu merupakan suatu novelty, suatu kebaruan.” ungkap Syamsudin.

Menurut Syamsudin, problem perlindungan hak adat di Indonesia adalah akibat “transplantasi hukum kita yang terbalik,” di mana hukum adat dipaksakan menyesuaikan dengan hukum impor.

Sementara itu, Akademisi Hukum dari UGM, Dr. Yance Arizona, melihat strategi ini penting untuk diakomodasi dalam perkembangan hukum perdata. “Kita melihat dari pengakuan subjek, tidak saja melihat masyarakat adat itu sebagai satu subjek publik, tapi juga sebagai subjek privat. itu menjadi penting dan sebagai subjek privat ia bisa melakukan kontrak bertanggung jawab dan juga memiliki legal standing.” jelas Yance.

Direktur PT Yombe Namblong Nggua, Yohana Tarua, menjelaskan bahwa perusahaan yang dibentuk pada September 2024 ini dimiliki oleh 44 marga Suku Namblong yang bertindak sebagai pemegang saham. Perusahaan yang mengelola wilayah adat seluas 52.530 hektar ini berpegang pada filosofi Noken. Noken merupakan tas multifungsi yang dibuat dari tali serat kayu yang digunakan hampir seluruh orang Papua. “Jadi benangnya itu saling mengait, saling terhubung dan solid. Noken ini sebagai identitas orang Papua” ujarnya.

Tujuan utama PT ini untuk mengendalikan wilayah adat sendiri. Yohana Tarua menambahkan, mendirikan perusahaan milik masyarakat adat memberikan harapan baru tentang bagaimana masyarakat adat mampu mengendalikan pengolahan wilayah adatnya sendiri. Tujuan lainnya adalah menjaga aset tanah, air, udara, serta mensejahterakan 19.000 jiwa warga Suku Namblong. Untuk mendorong perputaran ekonomi adat, PT Yombe Namblong Nggua mengembangkan enam unit usaha, yakni kehutanan, pertanian, vanila, ekowisata, perikanan, dan peternakan.

Di sisi lain, Prof. Widodo memberikan catatan kritis mengenai risiko dari “perkawinan paksa” antara hukum adat dan hukum korporasi ini. Ia memperingatkan, “Apakah perkawinan paksa antara hukum adat dan hukum korporasi ini merupakan terobosan perlindungan hak ulayat yang jenius atau menjadi kuda troya yang menyimpan bom waktu sengketa kepemilikan di masa depan?” jelasnya.

Untuk menghindari jebakan tersebut, Prof. Widodo mendesak adanya “transplantasi hukum terbalik” di mana hukum nasional menyesuaikan dengan kebutuhan adat. Ia secara spesifik menyarankan agar asas inalienability (tidak dapat dialihkan) tanah adat diterapkan pada saham perusahaan BUMA.

“Yang penting di sini saham ini ada kekhususan. Saham ini tidak dapat diperjual belikan, ya, karena memang di situ ada asas inalienability atau inalienabilitas tanah adat yang diterapkan ke saham perusahaan,” pungkasnya. (MANF/AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) melalui Direktorat Sumber Daya Manusia/Sekolah Kepemimpinan (DSDM/SK)  menggelar seminar kesehatan mental bertajuk “Kesejahteraan Mental untuk Kinerja Optimal” pada Rabu (12/11) di Auditorium Fakultas Hukum (FH) UII. Kegiatan ini menghadirkan Prof. Aulia Iskandarsyah, M.Psi, M.Sc., Ph.D seorang Psikolog Klinis dan Kesehatan dari Universitas Padjajaran dan dihadiri oleh dosen dan tenaga kependidikan di lingkungan UII.

Kegiatan seminar ini juga diselenggarakan bersamaan dengan Pembukaan Layanan Konseling Pegawai yang ditandai dengan pemasangan puzzle oleh perwakilan tenaga kependidikan UII Nisrina Kamilia Salsabila, S.Si., M.Si; Direktur DSDM/SK UII, Ike Agustina, S.Psi., M.Psi., Psikolog; Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Psikologi Program Profesi, Dr. Sus Budiharto, S.Psi., M.Si., Psi.; serta Rektor UII, Fathul Wahid.

Rektor UII, Fathul Wahid, dalam sambutannya menyampaikan bahwa layanan konseling pegawai ini merupakan konkritisasi dari gagasan lama yang sudah berjalan. Saat ini UII berupaya melembagakannya melalui mekanisme yang lebih sistematis yang akan dikawal oleh DSDM/SK, sementara sistemnya didukung oleh Badan Sistem Informasi (BSI) UII.

Lebih lanjut Fathul Wahid juga mengingat sebuah buku berjudul Mati Ketawa ala Rusia. Dari cerita-cerita di dalamnya, terdapat pelajaran penting tentang membangun pola pikir, memperluas perspektif, dan mengelola ekspektasi.

“Karena sering kali kita kena paparan yang menyebabkan kita gagal dalam mengelola ekspektasi—berharap luar biasa, tidak ukur badan, dan akhirnya yang terjadi itu dari satu baper ke baper yang lain,” ungkap Rektor UII ini.

Selain layanan konseling, UII juga memiliki acara rutin UII Sore Nyastra yang dapat menjadi sarana untuk mengurangi stres. Dosen maupun tenaga kependidikan yang sedang galau—baik terhadap diri sendiri, lingkungan, maupun negara—dapat menyalurkannya melalui puisi. Demikian pula Festival Seni Pertunjukan yang diadakan setiap Milad UII,  dapat diintegrasikan sebagai bagian dari inisiatif untuk menjaga dan meningkatkan kesejahteraan mental.

Kesejahteraan Mental untuk Kinerja Optimal
Bekerja merupakan fitrah manusia yang membedakannya dari makhluk lain sebagai bentuk aktualisasi diri. Tetapi, seiring berjalannya waktu, manusia merasa tersiksa dengan pekerjaannya karena berbagai macam faktor khususnya di era ketidakpastian ini yang menyebabkan banyaknya tekanan sehingga diperlukan kekuatan psikologis dan kompetensi yang mumpuni. Berikut yang di sampaikan oleh Prof. Aulia Iskandarsyah seorang Psikolog Klinis dan kesehatan dari Universitas Padjajaran dalam pemaparan materi bertema “Kesehatah Mental untuk Kinerja Optimal”.

Ia menjelaskan bahwa kondisi kerja modern menuntut kemampuan adaptasi yang kuat. Mengutip WHO, Prof. Aulia menyebut kesehatan mental sebagai kemampuan mengatasi tekanan hidup dan bekerja dengan baik. Ia menambahkan, “Beban kerja berlebihan, jam kerja panjang, hingga bullying dapat menjadi risiko kesehatan mental pekerja,” ungkap Prof. Aulia.

Prof. Aulia juga memaparkan cara mengelola stres, termasuk mengenali gejalanya sejak awal. Ia mengatakan bahwa stres tidak selalu negatif, namun tetap perlu diatur. “Manajemen stres bertujuan menjaga agar fungsi kehidupan tidak terganggu,” jelasnya. Strategi yang dianjurkan antara lain mengubah persepsi terhadap stresor dan menerima dukungan sosial.

Selain itu, Ia memperkenalkan berbagai teknik pengelolaan emosi dan batasan diri yang dapat diterapkan sehari-hari. Beberapa di antaranya meliputi mindfulness, scaling untuk memantau intensitas emosi, serta latihan pernapasan sebagai cara menenangkan diri dalam situasi menekan. Teknik-teknik ini disebutnya penting untuk menjaga keseimbangan dalam menghadapi dinamika pekerjaan.

Pada sesi penutup, ia menjelaskan Psychological First Aid (PFA) yang dapat dilakukan oleh siapa saja. Adapun tiga langkah PFA meliputi Look, Listen, dan Link. “Kita cukup mengamati, mendengarkan tanpa menghakimi, dan menghubungkan pada bantuan yang tepat,” kata Prof. Aulia, menegaskan pentingnya dukungan awal bagi pegawai yang mengalami tekanan.

Dengan kegiatan ini, diharapkan kesejahteraan mental tenaga kependidikan UII dapat terus terjaga sehingga mampu memberikan kinerja optimal di setiap waktu. Upaya kolektif ini juga menjadi wujud komitmen UII dalam menciptakan lingkungan kerja yang sehat, suportif, dan kolaboratif. (AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) melalui Direktorat Kemitraan/Kantor Urusan Internasional menyelenggarakan kegiatan orientasi dan penyerahan mahasiswa inbound Program Sea-Teacher ke Afkaaruna School, Yogyakarta pada Senin (10/11) di Gedung Kuliah Umum Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII.

Program praktik mengajar ini akan berlangsung selama satu bulan, dimulai pada 10 November 2025, dengan rangkaian kegiatan mencakup UII Welcoming Program, observasi sekolah dan kelas, pelatihan rencana pembelajaran (lesson plan), praktik mengajar, hingga farewell program.

Pada kesempatan itu, Dian Sari Utami menyampaikan apresiasinya kepada para peserta yang telah memilih UII sebagai mitra pembelajaran.

“Kami menyambut hangat para mahasiswa inbound Sea-Teacher di UII. Semoga melalui program ini, para peserta tidak hanya memperoleh pengalaman mengajar di lingkungan yang baru, tetapi juga memahami nilai-nilai pendidikan dan budaya yang menjadi bagian penting dari pembelajaran lintas negara,” ujarnya.

Selain menyambut mahasiswa inbound, UII juga telah memberangkatkan dua mahasiswa Pendidikan Kimia ke Mariano Marcos State University, Filipina pada 5 November 2025, serta dua mahasiswa dari Pendidikan Bahasa Inggris dan Pendidikan Kimia ke De La Salle University, Filipina pada 9 November 2025.

Kerja sama ini merupakan bentuk resiprokalitas antara UII dan program Sea-Teacher yang bernaung di bawah SEAMEO (Southeast Asian Ministers of Education Organization), sebagai upaya memperkuat jejaring akademik dan meningkatkan kompetensi calon pendidik di kawasan Asia Tenggara. (DS/AHR/RS)