Direktorat Pengembangan Karier dan Alumni (DPKA) Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan Kelas Karier #1 dengan tema Content Creator Starter Pack: Branding, Skill, dan Strategi Bertumbuh. Kegiatan yang dilaksanakan pada Kamis (18/6) di Ruang Teatrikal Timur Lantai 2, Gedung Prof. Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII ini menjadi langkah awal DPKA UII dalam menghadirkan rangkaian kelas karier yang relevan bagi mahasiswa.

Kegiatan ini menghadirkan Muhammad Alfian, S.I.Kom., alumni Program Studi Ilmu Komunikasi Program Sarjana Angkatan 2017 sekaligus Content Creator @coffeemarket__, sebagai pemateri. Kelas Karier ini dimoderatori oleh Fitrur Rahman Albalbi Umam selaku Career Buddy DPKA UII.

Kepala Divisi Pemberdayaan Alumni DPKA UII, Mujiati Dwi Kartikasari, S.Si., M.Sc. dalam sambutannya menyampaikan bahwa pengembangan karier mahasiswa tidak hanya bergantung pada pencapaian akademik, tetapi juga kemampuan profesional yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.

Ia menjelaskan bahwa kemampuan membangun personal branding di ruang digital menjadi salah satu keterampilan penting yang perlu dimiliki mahasiswa. Melalui berbagai program pengembangan karier, DPKA UII berupaya menghadirkan wadah pembelajaran yang dapat menjadi penghubung antara mahasiswa, alumni, dan praktisi dengan pengalaman serta keahlian di bidang tertentu.

Sebagai pemateri, Muhammad Alfian membagikan pengalamannya sebagai seorang content creator melalui pendekatan storytelling. Ia menyusun materi ke dalam tiga babak perjalanan yang menggambarkan proses membangun karier di dunia kreatif, mulai dari tantangan awal hingga strategi untuk terus berkembang.

Pada sesi pertama membahas tantangan yang dihadapi Alfian ketika memulai perjalanan sebagai content creator. Ia menceritakan bahwa tantangan terbesar yang dihadapinya bukan hanya berkaitan dengan proses membuat konten, tetapi juga bagaimana meyakinkan orang-orang di sekitarnya mengenai pilihan karier tersebut. Pada awal perjalanannya, ia sempat menghadapi keraguan dari lingkungan sekitar yang belum sepenuhnya melihat profesi kreator konten sebagai bidang yang menjanjikan.

Memasuki sesi kedua, Alfian mengajak peserta memahami berbagai hal yang sering terlewatkan dalam proses pembuatan konten, khususnya mengenai bagaimana membangun cerita yang mampu diterima oleh audiens. Dalam sesi ini, ia membagikan story brand framework yang mengacu pada konsep dalam buku Building a StoryBrand karya Donald Miller.

Melalui pendekatan tersebut, peserta diperkenalkan pada tujuh alur storytelling yang dapat membantu kreator menyusun pesan secara lebih terarah agar mudah dipahami oleh audiens. Alfian juga menekankan bahwa sebuah konten tidak hanya bertujuan untuk mendapatkan perhatian, tetapi juga harus memiliki nilai dan manfaat bagi orang lain.

Pada babak ketiga, Alfian membagikan pengalaman mengenai titik terendah yang pernah ia hadapi selama membangun karier sebagai kreator konten. Ia mengajak peserta untuk memahami bahwa perjalanan di dunia digital membutuhkan konsistensi, keberanian menghadapi tantangan, serta kemauan untuk terus belajar dan beradaptasi. Menurutnya, setiap proses memiliki tantangan tersendiri sehingga seseorang perlu memiliki ketekunan dan tidak mudah menyerah dalam mengembangkan potensi serta mencapai tujuan yang ingin diraih.

Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi interaktif. Dalam sesi tersebut, Alfian menjawab berbagai pertanyaan dari peserta sekaligus membagikan tips dan trik berdasarkan pengalamannya sebagai content creator, khususnya dalam membangun konten dan mengembangkan personal branding di era digital.

Salah satu peserta, Adelia Putri Girindani, menyampaikan bahwa UII Career memberikan pengalaman yang lebih dari sekadar kegiatan pengembangan karier. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi wadah yang memberikan motivasi serta wawasan mengenai persiapan menghadapi dunia profesional setelah lulus.

“Menurut saya, UII Career bukan sekadar acara biasa, tetapi merupakan paket lengkap yang memberikan pengalaman, motivasi, serta insight mengenai persiapan karier setelah lulus. Lewat acara ini, saya mendapatkan banyak pengingat berharga, salah satunya untuk terus konsisten mencoba dan pantang menyerah dalam berproses,” ungkapnya. (AA/AHR/RS)

Kehadiran Wali Kota Pekalongan Achmad Afzan Arslan Djunaid, S.E., M.M. menjadi salah satu perhatian dalam kegiatan GOWES FBE UII 2026 yang digelar Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE) Universitas Islam Indonesia (UII), Sabtu (20/6). Alumni FBE UII angkatan 1998 tersebut membagikan refleksi perjalanan hidupnya sejak menjadi mahasiswa hingga dipercaya memimpin Kota Pekalongan.

Dalam sambutannya, Afzan mengenang masa-masa aktif sebagai mahasiswa yang kerap terlibat dalam berbagai aksi demonstrasi. Dengan gaya santai, ia menceritakan bagaimana perannya kini justru berbalik setelah menjabat sebagai kepala daerah.

“Dulu saya ikut demonstrasi, sekarang saya yang didemo,” ujarnya yang disambut gelak tawa peserta.

Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa kehidupan terus bergerak dan menghadirkan berbagai peran yang berbeda. Karena itu, setiap orang perlu mempersiapkan diri dengan baik untuk menghadapi berbagai tanggung jawab yang mungkin datang di masa depan.

Ia juga berpesan kepada mahasiswa agar tidak hanya berfokus pada capaian akademik. Menurutnya, karakter, jejaring pertemanan, kerja keras, dan kemampuan beradaptasi merupakan faktor penting yang turut menentukan keberhasilan seseorang.

Afzan kemudian menceritakan perjalanan kariernya hingga dipercaya menjadi Wali Kota Pekalongan. Ia menilai keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh nilai akademik, tetapi juga kemampuan membangun relasi, menjaga integritas, dan memanfaatkan peluang secara optimal.

Dalam kesempatan tersebut, Afzan mengungkapkan kedekatan emosional yang kuat dengan UII, khususnya FBE. Tidak hanya dirinya yang menjadi alumni UII, tetapi juga sejumlah anggota keluarganya.

Menurut dia, kedekatan tersebut melahirkan tanggung jawab moral untuk menjaga nama baik almamater dalam setiap amanah yang diemban.

“Sebagai alumni, saya membawa nama baik UII. Saya berharap dapat menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya dan mengakhiri masa jabatan pada 2029 dengan rekam jejak yang baik,” ujarnya.

Kehadiran Afzan dalam GOWES FBE UII 2026 menjadi simbol kuatnya hubungan antara almamater dan alumni. Melalui kegiatan tersebut, FBE UII berharap jejaring alumni yang telah terbangun dapat terus memberikan kontribusi positif bagi masyarakat, dunia usaha, maupun pembangunan daerah. (RS)

Sebanyak sekitar 360 peserta mengikuti GOWES FBE UII 2026 yang diselenggarakan Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE) Universitas Islam Indonesia (UII), Sabtu (20/6). Mengusung tema Menjalin Ukhuwah, Memperluas Jejaring, kegiatan yang memasuki penyelenggaraan keempat ini menjadi ajang mempererat silaturahmi antara sivitas akademika, alumni, dan masyarakat melalui olahraga bersama.

Peserta yang terdiri atas dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni UII, serta masyarakat umum menempuh rute sepanjang kurang lebih 23 kilometer. Perjalanan bersepeda menyusuri kawasan permukiman warga, hamparan persawahan, hingga jalur Selokan Mataram yang menjadi salah satu ikon kawasan Yogyakarta.

Tidak hanya menawarkan pengalaman berolahraga, kegiatan tersebut juga mengajak peserta menikmati kekayaan sejarah dan budaya. Sepanjang rute, peserta melintasi dan mengunjungi sejumlah situs cagar budaya di Kabupaten Sleman, di antaranya Candi Sambisari, Candi Sari, dan Candi Kedulan.

Kegiatan diawali dengan pelepasan peserta yang ditandai pengibaran bendera start oleh Ketua Panitia Arif Fajar Wibisono, S.E., M.Sc. Dalam sambutannya, Dekan FBE UII Prof. Johan Arifin, S.E., M.Si., Ph.D. mengatakan bahwa GOWES FBE UII merupakan bagian dari upaya membangun budaya hidup sehat sekaligus memperkuat hubungan antara kampus, alumni, dan masyarakat.

Menurut Johan, kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi sarana menjaga kebugaran fisik, tetapi juga ruang untuk mempererat silaturahmi dan memperluas jejaring antarsesama anggota keluarga besar FBE UII.

“Kita berkumpul pada pagi hari ini untuk bergembira bersama, menjaga kesehatan, dan mempererat silaturahmi. Semoga kebersamaan ini terus terjaga dan memberikan manfaat bagi kita semua,” ujarnya.

Ia menambahkan, konsistensi penyelenggaraan GOWES FBE UII hingga tahun keempat menunjukkan komitmen fakultas dalam menghadirkan ruang interaksi yang inklusif bagi sivitas akademika, alumni, dan masyarakat.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah V Prof. Setyabudi Indartono, M.M., Ph.D., Rektor UII Prof. Dr. Ir. Hari Purnomo, M.T., IPU., ASEAN Eng., serta sejumlah alumni dan mitra FBE UII.

Kegiatan GOWES FBE UII 2026 ditutup dengan pengundian 144 hadiah yang disambut antusias peserta. Beragam hadiah dibagikan, mulai dari sepeda, televisi, kulkas, mesin cuci, telepon genggam, hingga hadiah menarik lainnya. (RS)

Pemanfaatan artificial intelligence (AI) dalam dunia akademik terus meningkat, terutama untuk mendukung kegiatan riset dan penulisan ilmiah. Namun, perkembangan tersebut juga memunculkan perhatian terhadap batas etis penggunaannya.

Sorotan terhadap isu ini menguat setelah muncul dugaan pemalsuan dan fabrikasi riset oleh peserta asal Indonesia dalam konferensi internasional International Society of Pneumonia and Pneumococcal Disease (ISPPD) di Kopenhagen, Denmark, yang diberitakan Antara pada Mei 2026. Kasus tersebut dinilai mencederai integritas ilmu pengetahuan sekaligus merugikan kredibilitas karya ilmiah Indonesia di forum internasional.

Data Human-Centered Artificial Intelligence Stanford University pada 2024 menunjukkan sekitar 17,5 persen publikasi di bidang ilmu komputer dan disiplin terkait ditulis dengan bantuan AI. Temuan ini mendorong pentingnya transparansi dalam penggunaan teknologi tersebut.

Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII), Desmalinda, menilai penggunaan AI dalam ruang akademik sah dilakukan selama berfungsi sebagai alat bantu, bukan pengganti proses berpikir.

“Dalam konteks akademik lagi-lagi either itu dosen atau mahasiswa menggunakan tools ini sebagai alat yang digunakan untuk membantu mengelaborasi ide atau mungkin membantu kita memahami fenomena menjadi konkret lagi,” ucap Desmalinda.

Menurutnya, AI dapat membantu meningkatkan efektivitas kerja akademik, termasuk dalam pencarian referensi ilmiah. Meski demikian, hasil yang diperoleh tetap perlu diverifikasi secara berulang.

“Saya sering sekali menggunakan AI namanya consensus dimana itu memudahkan kita dalam mencari referensi berbasis ilmiah,” tambahnya.

Hingga kini, Indonesia belum memiliki regulasi khusus berbentuk undang-undang yang mengatur penggunaan AI dalam konteks akademik. Pedoman yang tersedia masih mengacu pada Surat Keputusan Bersama (SKB) Tujuh Kementerian yang menekankan prinsip transparansi serta pencegahan plagiarisme dalam penulisan dan publikasi ilmiah.

“Kalau aturan belum ada berbasis undang-undang yang secara resmi memang bisa digunakan untuk basis hukum ketika ada pelanggaran. Tapi dalam konteks penggunaan AI itu masih berbasis Surat Keputusan Bersama dari 7 kementerian. Aturannya masih berbasis menyertakan transparansi,” tandasnya.

Desmalinda menegaskan bahwa AI dapat menjadi sarana yang membantu proses pembelajaran dan penelitian, selama penggunaannya dilakukan secara bertanggung jawab serta tetap menjunjung tinggi integritas akademik. (MS/AHR/RS)

Fenomena paylater, flash sale, dan tren self-reward yang semakin dekat dengan kehidupan generasi muda menjadi pembahasan dalam kajian akidah Ngaji Dunia Akhirat yang diselenggarakan Takmir Masjid Ulil Albab Universitas Islam Indonesia (UII), Kamis (18/6). Kajian yang berlangsung ba’da Magrib hingga Isya tersebut menghadirkan Mudir Pondok Pesantren Putri UII, Tajul Muluk, S.Ud., M.Ag., sebagai pemateri.

Mengawali kajian, Tajul Muluk mengajak jamaah untuk senantiasa bersyukur atas nikmat dan rahmat Allah Swt. yang telah diberikan. Ia juga mendoakan agar seluruh peserta selalu berada dalam lindungan dan keberkahan Allah dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, tema yang diangkat sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini, khususnya mahasiswa dan generasi muda yang hidup di tengah perkembangan teknologi digital. Berbagai layanan keuangan dan promosi belanja menawarkan kemudahan yang belum pernah ditemui pada masa sebelumnya, namun di balik itu terdapat tantangan yang memerlukan pemahaman agama sebagai landasan dalam mengambil keputusan.

Tajul Muluk menjelaskan bahwa dalam perspektif fikih klasik, mahasiswa atau anak kos yang merantau untuk menuntut ilmu dapat dikategorikan sebagai ibnu sabil. Bahkan dalam kondisi tertentu, mereka dapat termasuk golongan fakir atau miskin apabila mengalami keterbatasan ekonomi. Oleh karena itu, secara finansial mereka lebih dekat pada posisi sebagai penerima manfaat (mustahik) dibandingkan pembayar zakat (muzakki).

“Realitas yang dihadapi mahasiswa hari ini tidak hanya persoalan keterbatasan finansial, tetapi juga godaan berbagai fasilitas konsumsi yang tersedia secara instan. Di sinilah fikih muamalah perlu hadir sebagai panduan agar seseorang tidak terjebak dalam praktik yang merugikan dirinya sendiri,” ujarnya.

Ia menilai layanan paylater dan berbagai bentuk pinjaman digital sering kali menawarkan kemudahan yang dapat mendorong seseorang berbelanja melebihi kemampuan finansialnya. Kondisi tersebut diperparah oleh strategi pemasaran seperti flash sale yang mendorong konsumen mengambil keputusan secara cepat tanpa pertimbangan yang matang.

Dalam kesempatan itu, Tajul Muluk juga mengingatkan pentingnya sikap rendah hati dalam memahami ajaran agama. Ia menegaskan bahwa seseorang tidak boleh menempatkan dirinya sebagai pihak yang paling memahami syariat tanpa didasari ilmu yang memadai.

Mengutip hadis Nabi Muhammad saw, ia menjelaskan bahwa obat dari kebodohan adalah bertanya kepada orang yang memiliki pengetahuan. Prinsip tersebut juga sejalan dengan firman Allah Swt. dalam Surah An-Nahl ayat 43 yang memerintahkan umat untuk bertanya kepada ahlinya apabila tidak mengetahui suatu perkara.

“Di era media sosial, banyak orang mencari pembenaran atas apa yang ingin dilakukan, bukan mencari kebenaran berdasarkan ilmu. Padahal, dalam urusan agama, otoritas keilmuan harus tetap menjadi rujukan,” katanya.

Selain membahas aspek finansial, kajian ini turut mengangkat keterkaitan antara pengelolaan keuangan dan kesehatan mental. Tajul Muluk menjelaskan bahwa tekanan ekonomi akibat utang atau perilaku konsumtif dapat berdampak pada kondisi psikologis seseorang. (AHR/RS)

Kajian rutin Kitab Bulughul Maram kembali digelar di Masjid Ulil Albab Universitas Islam Indonesia (UII), Selasa (16/6). Pada kesempatan tersebut, Ammi Nur Baits membahas hadis-hadis terkait hukum memandikan jenazah, khususnya mengenai kebolehan suami memandikan istri yang meninggal dunia.

Kajian yang diikuti oleh jamaah dari sivitas akademika UII dan masyarakat umum itu mengupas hadis ke-552 dalam Kitab Bulughul Maram. Hadis tersebut meriwayatkan dialog antara Nabi Muhammad saw dengan Aisyah RA, ketika Rasulullah saw menyampaikan bahwa apabila Aisyah wafat terlebih dahulu, beliau sendiri yang akan memandikan, mengafani, menyalatkan, dan memakamkannya.

Dalam pemaparannya, Ammi Nur Baits menjelaskan bahwa hadis tersebut menjadi salah satu landasan utama yang digunakan para ulama untuk membahas hukum suami dan istri saling memandikan setelah salah satu meninggal dunia. Ia juga mengutip riwayat tentang Fatimah RA yang berwasiat agar jenazahnya dimandikan oleh suaminya, Ali bin Abi Thalib RA.

Menurut Ammi Nur Baits, mayoritas ulama atau jumhur berpendapat bahwa suami dan istri diperbolehkan saling memandikan ketika salah satu wafat. Pendapat tersebut dianut oleh Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad dalam riwayat yang masyhur, serta sejumlah ulama salaf. Dasarnya adalah hubungan pernikahan yang membuat keduanya tidak memiliki batas aurat satu sama lain, baik ketika hidup maupun setelah meninggal dunia.

“Hadis ini merupakan dalil bolehnya suami istri saling memandikan. Suami boleh memandikan istrinya sebagaimana istri juga boleh memandikan suaminya,” jelasnya.

Meski demikian, ia menjelaskan adanya pendapat lain yang dikemukakan sebagian ulama, di antaranya Imam Abu Hanifah dan Ats-Tsauri. Kelompok ini berpendapat bahwa suami tidak diperbolehkan memandikan istrinya yang telah meninggal karena kematian dianggap mengakhiri ikatan pernikahan. Dengan berakhirnya akad nikah, maka hubungan yang sebelumnya membolehkan melihat dan menyentuh aurat dianggap tidak lagi berlaku.

Ammi Nur Baits menegaskan bahwa perbedaan pendapat tersebut menunjukkan keluasan khazanah fikih Islam dalam memahami dalil-dalil syariat. Oleh karena itu, masyarakat perlu memahami dasar argumentasi masing-masing pandangan agar dapat menyikapi perbedaan secara bijak dan proporsional.

Selain membahas hukum memandikan jenazah, kajian juga menyinggung hadis mengenai seorang perempuan dari Bani Ghamid yang mengakui perbuatan zina kepada Rasulullah saw dan meminta agar dirinya disucikan melalui penegakan hukuman rajam. Melalui kisah tersebut, Ammi Nur Baits menjelaskan sejumlah pelajaran fikih terkait penegakan hukum dalam Islam, termasuk prinsip kehati-hatian, perlindungan hak anak, serta mekanisme pembuktian dalam perkara pidana syariat.

Ia menjelaskan bahwa Rasulullah saw tidak serta-merta menjatuhkan hukuman, melainkan memberikan kesempatan kepada perempuan tersebut hingga melahirkan dan menyapih anaknya. Sikap tersebut menunjukkan perhatian Islam terhadap hak-hak anak yang tidak boleh terabaikan meskipun orang tuanya melakukan kesalahan.

Melalui kajian Kitab Bulughul Maram ini, Masjid Ulil Albab UII terus menghadirkan ruang pembelajaran Islam yang mendalam dan berbasis dalil. Pembahasan yang disampaikan tidak hanya memperkaya pemahaman fikih ibadah dan muamalah, tetapi juga membantu jamaah memahami bagaimana para ulama menggali hukum dari hadis-hadis Nabi Muhammad saw untuk menjawab berbagai persoalan kehidupan. (AAK/AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) terus memperkuat kompetensi digital tenaga kependidikan melalui Workshop Belajar IT (BIT) yang disusun secara berjenjang, mulai dari tingkat dasar hingga tingkat lanjut. Kegiatan yang dilaksanakan pada Jumat (19/06) di Gedung Kuliah Umum Prof. Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII merupakan inisiatif dari Direktorat Sumber Daya Manusia (DSDM) dan Badan Sistem Informasi (BSI) UII. Program tersebut menjadi bagian dari upaya UII mendukung transformasi digital sekaligus mempersiapkan sumber daya manusia yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Dalam sambutannya, Direktur Sumber Daya Manusia, Ike Agustina, S.Psi., M.Psi., Psikolog pimpinan UII menyampaikan bahwa pembelajaran AI telah mulai diperkenalkan sejak 2024 dan kini dikembangkan melalui kurikulum yang lebih terstruktur. “Dengan semakin masifnya pemanfaatan kecerdasan imitasi, kami melihat tampaknya di UII perlu dilakukan penyusunan kurikulum yang lebih baik,” ujar Ike.

Menurutnya, pemanfaatan AI dapat membantu menyederhanakan berbagai pekerjaan administratif sehingga tenaga kependidikan dapat bekerja lebih efektif dan memiliki lebih banyak waktu untuk berinovasi. “Hari ini ada cukup banyak pekerjaan yang dulu membutuhkan waktu sangat lama, tetapi sekarang bisa menjadi lebih simpel dan lebih cepat dikerjakan,” katanya.

Selain meningkatkan produktivitas, pelatihan ini juga bertujuan memperkuat kompetensi teknologi informasi lintas generasi agar tercipta proses kerja yang lebih harmonis. “Kita tidak bisa lagi tidak melengkapi diri kita dengan kompetensi IT,” tegasnya.

Kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi mengenai pengenalan AI dan pemanfaatannya untuk menunjang pekerjaan sehari-hari yang disampaikan oleh staff BSI UII, Reyhandri Muhammad Naufal, S.Kom. Dalam sesi tersebut, Reyhandri tidak hanya menjelaskan manfaat AI dalam meningkatkan efisiensi kerja, tetapi juga mengingatkan peserta mengenai risiko penyalahgunaan teknologi tersebut yang dapat menimbulkan dampak serius.

“Oleh sebab itu, AI memang sifatnya membantu pekerjaan, tetapi perlu diperiksa dan divalidasi kembali, jangan sampai kita langsung percaya, jangan langsung copy paste tanpa diperiksa. Kita tetap bertanggung jawab penuh atas pekerjaan kita,” ungkap Reyhandri.

Setelah sesi pemaparan materi para peserta diwajibkan untuk melaksanakan praktik dengan contoh kasus yang sudah disiapkan oleh pemateri. Peserta juga mendapat penugasan sebagai bagian dari proses pembelajaran untuk mengukur pemahaman serta kemampuan dalam menerapkan AI pada pekerjaan sehari-hari.

Melalui program ini, UII berharap seluruh tenaga kependidikan mampu memanfaatkan AI secara optimal dan bijak untuk mendukung peningkatan kualitas kinerja, pelayanan, inovasi di lingkungan kampus. (AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan Workshop Percepatan Penyelesaian Studi Tepat Waktu pada Rabu (17/06) di Gedung Kuliah Umum Prof. Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII. Kegiatan yang diikuti oleh ketua jurusan, ketua program studi, dan kepala divisi akademik universitas dan fakultas yang ada di lingkungan UII ini, sebagai ruang dialog mengenai permasalahan mahasiswa mengenai masa studinya yang terjadi di program studi masing-masing.

Dalam sambutannya, Rektor UII, Prof. Dr. Ir. Hari Purnomo, M.T., IPU., ASEAN Eng., menyoroti sejumlah agenda prioritas yang berkaitan dengan penguatan atmosfer akademik di lingkungan universitas. Salah satunya adalah percepatan kenaikan jabatan fungsional dosen, khususnya guru besar.

Saat ini UII memiliki 48 guru besar aktif. Menurutnya, jumlah tersebut masih perlu ditingkatkan sehingga diperlukan upaya bersama untuk mengidentifikasi dan mengatasi berbagai kendala yang dihadapi dosen dalam proses pengusulan jabatan akademik.

Selain itu, Prof. Hari Purnomo menargetkan 80 persen program studi di UII meraih akreditasi unggul. Ia menilai terdapat sejumlah program studi yang memiliki potensi besar dan telah siap untuk mencapai capaian tersebut.

Rektor juga menyinggung target penguatan kinerja riset yang diberikan kepada Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Kewirausahaan, yakni pendaftaran 100 paten dalam tahun ini. Menurutnya, target tersebut dapat dicapai apabila seluruh sivitas akademika memiliki keseriusan dalam mengembangkan inovasi dan luaran penelitian.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Rektor Bidang Akademik, Rekognisi, dan Admisi UII, Prof. Riyanto, S.Pd., M.Si., Ph.D., memaparkan data terkait persentase kelulusan mahasiswa, batas masa studi program studi, pelaksanaan tugas akhir, serta berbagai persyaratan akademik yang harus dipenuhi mahasiswa.

Workshop ditutup dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang menghasilkan sejumlah rekomendasi untuk ditindaklanjuti oleh unit-unit terkait. Melalui sinergi antara program studi, fakultas, dan universitas, UII berharap dapat terus meningkatkan mutu layanan akademik sekaligus mendorong mahasiswa menyelesaikan studi secara tepat waktu. (AAK/AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) melalui Direktorat Sumber Daya Manusia (DSDM)/Sekolah Kepemimpinan menyelenggarakan Sosialisasi Peraturan Rektor Universitas Islam Indonesia Nomor 10 Tahun 2026 tentang Pemilihan Tenaga Kependidikan Berprestasi, Kamis (18/6), secara daring melalui kanal Zoom Meeting. Kegiatan ini diikuti oleh tenaga kependidikan bidang administrasi dan fungsional di lingkungan UII.

Wakil Rektor Bidang Keuangan, Sumber Daya, dan Keberlanjutan UII, Prof. Rifqi Muhammad, S.E., M.Sc., Ph.D., mengatakan bahwa peraturan tersebut merupakan bentuk penyempurnaan dari kebijakan sebelumnya terkait pemberian penghargaan bagi tenaga kependidikan. Menurutnya, regulasi baru ini disusun untuk menghadirkan sistem apresiasi yang lebih relevan sekaligus mendorong peningkatan kinerja tenaga kependidikan di lingkungan UII.

“Tenaga kependidikan memiliki peran penting dalam mendukung keberlangsungan layanan dan proses pendidikan di UII. Karena itu, apresiasi terhadap kinerja mereka menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan kualitas institusi,” ujarnya.

Ia menambahkan, di tengah persaingan perguruan tinggi yang semakin ketat, peningkatan kualitas layanan menjadi kebutuhan yang tidak dapat dihindari. Melalui pemilihan tenaga kependidikan berprestasi, UII berharap dapat mendorong lahirnya inovasi serta praktik-praktik terbaik yang dapat diterapkan dan dikembangkan di berbagai unit kerja.

Salah satu pembaruan dalam peraturan tersebut adalah penyesuaian bentuk penghargaan bagi pemenang. Selain penghargaan berupa uang tunai, tenaga kependidikan berprestasi juga akan memperoleh kesempatan mengikuti program magang atau benchmarking di dalam maupun luar negeri sebagai sarana pengembangan kompetensi dan wawasan.

Prof. Rifqi berharap program ini dapat menjadi motivasi bagi seluruh tenaga kependidikan untuk terus menghadirkan inovasi layanan sekaligus memperkuat budaya kerja unggul di lingkungan UII. Melalui kebijakan ini, UII menegaskan komitmennya untuk memberikan apresiasi yang lebih bermakna sekaligus meningkatkan kualitas layanan institusi secara berkelanjutan. (FH/AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) menerima kunjungan Yayasan Al-Irsyad Purwokerto dalam rangka silaturahmi sekaligus berbagi pengalaman mengenai pengelolaan dan pengembangan perguruan tinggi. Kegiatan yang berlangsung di Gedung Kuliah Umum Prof. Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII pada Kamis (18/06) tersebut menjadi forum diskusi untuk memperkuat tata kelola institusi dan meningkatkan kualitas pendidikan tinggi.

Dalam sambutannya, Rektor UII, Prof. Dr. Ir. Hari Purnomo, M.T., IPU., ASEAN Eng., menyampaikan apresiasi atas kunjungan tersebut. Menurutnya, kolaborasi dan pertukaran praktik baik antarlembaga pendidikan merupakan bagian penting dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan tinggi. “Setiap institusi memiliki pengalaman dan keunggulan yang dapat menjadi sumber pembelajaran bersama. Melalui forum seperti ini, kita dapat saling menguatkan dalam menghadapi tantangan pendidikan yang terus berkembang,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, UII juga memaparkan berbagai pengalaman dalam pengembangan tata kelola universitas, penguatan budaya mutu, pengembangan sumber daya manusia, serta strategi membangun reputasi dan kepercayaan publik. Berbagai pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi referensi bagi institusi yang tengah mengembangkan atau memperkuat penyelenggaraan pendidikan tinggi.

Ketua Yayasan Yayasan Al-Irsyad Purwokerto, Sadikun, M.Pd.I menyampaikan bahwa kunjungan tersebut dilandasi keinginan untuk belajar dari pengalaman panjang UII dalam mengelola perguruan tinggi. Menurutnya, UII berhasil tumbuh dan berkembang menjadi salah satu perguruan tinggi swasta terkemuka di Indonesia dengan tata kelola yang kuat dan hubungan yang harmonis antara universitas dan badan penyelenggara. “Kami ingin belajar dan memperoleh masukan mengenai bagaimana mengembangkan perguruan tinggi, membangun tata kelola yang baik, serta menjaga sinergi antara universitas dan yayasan sebagai penyelenggara,” ungkapnya.

Melalui kunjungan ini, kedua institusi berharap dapat membangun komunikasi dan kerja sama yang berkelanjutan. Selain menjadi sarana berbagi pengalaman, pertemuan tersebut juga diharapkan membuka peluang kolaborasi dalam pengembangan pendidikan, peningkatan mutu akademik, serta penguatan kapasitas kelembagaan pada masa mendatang. (AHR/RS)