Universitas Islam Indonesia (UII) bekerja sama dengan Kedutaan Besar Jerman di Jakarta, DAAD Regional Office Jakarta, dan EURAXESS tahun ini berkesempatan menjadi tuan rumah penyelenggaraan Falling Walls Lab Yogyakarta 2026, sebuah ajang kompetisi dan forum inovasi internasional yang mempertemukan para inovator muda, peneliti, akademisi, dan praktisi dari berbagai bidang untuk mempresentasikan gagasan inovatif dan inspiratif dalam format singkat. Kegiatan ini berlangsung di Gedung Kuliah Umum Prof. Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII pada Kamis (21/05)
Falling Walls Lab merupakan forum internasional yang memberikan kesempatan kepada inovator, baik dosen, mahasiswa, praktisi, dan profesional muda, untuk mempresentasikan ide, hasil riset, model bisnis, maupun inisiatif sosial dalam waktu tiga menit kepada dewan juri dan publik. Program ini merupakan bagian dari jaringan global Falling Walls Foundation yang berbasis di Berlin, Jerman.
Mengusung semangat “Breaking the Wall”, acara ini menjadi wadah bagi generasi muda untuk menawarkan solusi atas berbagai tantangan global, mulai dari kesehatan, energi, pendidikan, lingkungan, teknologi, hingga isu sosial dan kemanusiaan. Dari ratusan pendaftar, terpilih sebanyak 21 finalis dari berbagai universitas dan institusi di Indonesia maupun luar negeri berkompetisi mempresentasikan ide terbaik mereka di hadapan dewan juri internasional.
Rektor UII, Fathul Wahid, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Falling Walls Lab merupakan ruang penting bagi lahirnya gagasan-gagasan transformatif yang dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat global. Beliau menekankan pentingnya kolaborasi lintas disiplin dan lintas negara dalam menghadapi tantangan dunia yang semakin kompleks.
Sementara itu, Head of Science and Technology Section Kedutaan Besar Jerman Jakarta, Annisa Fitria, serta Director of DAAD Regional Office Jakarta, Dr. Guido Schnieders, menegaskan komitmen Jerman dalam mendukung pengembangan ilmu pengetahuan, inovasi, dan kolaborasi akademik internasional melalui platform Falling Walls Lab.
Kompetisi tahun ini menghadirkan beragam tema inovatif yang relevan dengan isu global kontemporer. Di antaranya adalah gagasan tentang pemberantasan perdagangan manusia, kesenjangan energi di pedesaan, kesehatan mental, pengelolaan limbah plastik dan sawit, teknologi biofuel, restorasi pascatambang, terapi diabetes inovatif, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan dan energi bersih.
Selain kompetisi presentasi, acara juga dihadiri oleh 70 peserta dan dimeriahkan dengan seremoni pembukaan, penampilan budaya Tari Genjring oleh unit kegiatan mahasiswa tari Xaviera UNISI, sesi pengenalan dewan juri, serta penyerahan penghargaan kepada finalis terbaik untuk melangsungkan final internasional Falling Walls Lab di Berlin, Jerman.
Dewan juri terdiri atas para akademisi dan profesional dari berbagai institusi nasional dan internasional, termasuk Universitas Gadjah Mada, Universitas Kristen Duta Wacana, Universitas Islam Indonesia, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, serta EURAXESS Worldwide ASEAN.
Di akhir kompetisi Falling Walls Lab Yogyakarta 2026, dewan juri menetapkan tiga pemenang dengan gagasan inovatif yang dinilai memiliki dampak besar terhadap penyelesaian berbagai tantangan global.
Juara pertama diraih oleh Azra Firmansyah dari Svaika melalui presentasi berjudul “Breaking the Wall of Musical Exclusion.” Sebagai pemenang utama, Azra Firmansyah akan mewakili Indonesia pada ajang final global Falling Walls Lab di Berlin, Jerman, bersama para inovator muda terbaik dari berbagai negara.
Juara kedua diraih oleh Mario Bani dari Universitas Bio Scientia Internasional Indonesia (i3L University) melalui presentasi “Breaking the Wall of Toxic Weeding.”
Sementara itu, juara ketiga diraih oleh Nudia Aufia dari Periboemi Initiative melalui presentasi “Breaking the Wall of Post-Mining Restoration.”
Ketiga pemenang dinilai berhasil menghadirkan solusi kreatif, relevan, dan inovatif yang menjawab tantangan sosial, lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan di tingkat global.
Melalui penyelenggaraan Falling Walls Lab Yogyakarta 2026, Universitas Islam Indonesia berharap dapat terus memperkuat budaya inovasi, riset, dan kolaborasi internasional di kalangan generasi muda Indonesia. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya mendorong lahirnya solusi kreatif dan berkelanjutan untuk masa depan yang lebih baik. (DS/AHR/RS)
Semarakkan Milad ke-83, UII Sukses Gelar Festival Lomba Hadroh Banjari Tingkat Nasional
Dalam rangka menyemarakkan perayaan Milad ke-83 Universitas Islam Indonesia (UII), UII sukses selenggarakan Gema Sholawat: Festival Lomba Hadroh Banjari tingkat nasional untuk jenjang MA/SMA/SMK sederajat. Berpusat di Auditorium Gedung K.H. Ahmad Wahid Hasyim, Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) UII pada Jum’at (29/5), acara puncak ini mempertemukan 13 finalis terbaik dari berbagai daerah di Indonesia dalam suasana kompetisi yang penuh dengan syiar Islam dan harmoni.
Penilaian kompetisi dilakukan oleh dewan juri di bidang Hadrah, yaitu Muhammad Najib Machasin (komposer qasidah sekaligus Dewan Juri Hadrah dan Nasyid DIY) serta Imam Fatawi (vokalis Kiai Kanjeng dan praktisi seni lukis).
Ketua Panitia Milad ke-83 UII, Rizki Anfanni Fahmi, S.E.I., M.Si., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi mendalam atas dedikasi para peserta yang bersedia menempuh perjalanan jauh demi menggemakan sholawat di kampus UII. ”Alhamdulillah, senandung sholawat bergema di kampus UII pada hari Jumat yang berkah ini. Kami kedatangan total 13 finalis, dengan peserta terjauh berasal dari Bengkulu dan Lampung,” ungkapnya. Ia juga berharap acara ini dapat terus konsisten dilaksanakan pada tahun-tahun mendatang sebagai salah satu contoh syiar Islam di lingkungan UII.
Pembukaan festival ini bertepatan dengan hari terakhir masa jabatan Fathul Wahid sebagai Rektor UII. Dalam sambutannya, ia mengaku sangat bahagia sekaligus terharu karena momen perpisahannya dilepas dengan lantunan sholawat dari generasi muda islami. Ia juga berpesan agar umat Islam selalu menghadirkan wajah beragama yang ramah dan menyenangkan. ”Agama itu harus disiarkan dengan membahagiakan (nyenengke). Kita diminta untuk selalu mempermudah, bukan mempersulit. Melalui gema sholawat ini, mari kita bangun suasana beragama yang menyenangkan dan membentuk pribadi-pribadi yang membawa ketentraman bagi sekitarnya,” tutur Rektor UII sebelum membuka acara secara resmi.
Salah satu rangkaian acara Gema Sholawat ini, panitia juga menyediakan Campus Tour oleh mahasiswa FIAI UII. Para finalis diajak berkeliling untuk melihat langsung berbagai fasilitas akademik unggulan di FIAI UII. Melalui kegiatan ini, UII menegaskan komitmennya untuk terus menjadi wadah integrasi nilai keilmuan dan keislaman demi merawat jejak lestari peradaban bangsa. (NKA/AHR/RS)
Meneladan Keluarga Nabi Ibrahim: Refleksi Idul Adha di UII untuk Menghadapi Ujian Zaman
Takmir Masjid Ulil Albab Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menggelar pelaksanaan Salat Idul Adha 1447 Hijriah pada hari Rabu (27/5) dengan penuh kekhidmatan di pelataran Gedung Fakultas Hukum (FH) UII. Ribuan jamaah dari sivitas akademika dan masyarakat sekitar memadati saf yang telah disediakan.
Bertindak sebagai khatib Ir. Risdiyono S.T., M. Eng.,PhD., IPM dan imam sholat oleh Ustadz Tantan Qital Barozi, S.Ag. Pada kesempatan kali ini, di tengah situasi bangsa yang dinilai sedang menghadapi berbagai tantangan besar, mulai dari sektor ekonomi, politik, dan moralitas, momentum Idul Adha tahun ini dijadikan sebagai refleksi mendalam bagi seluruh jamaah untuk memperkuat ketaqwaan dan keteguhan mental.
Risdiyono menyampaikan pesan mendalam mengenai esensi ketakwaan serta pentingnya membangun ketangguhan mental dengan meneladani keluarga Nabi Ibrahim AS. Ia menegaskan bahwa taqwa merupakan pondasi utama yang menentukan derajat kemuliaan seorang hamba di sisi Allah SWT. Menukil perkataan ulama tabi’in Thalaq bin Habib, khatib menjelaskan hakikat taqwa yang sesungguhnya,
“Yang namanya takwa adalah engkau beramal dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas cahaya, di atas petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala karena kita mengharapkan ganjaran pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan kita meninggalkan maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas cahaya Allah, di atas petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala karena kita takut akan balasan siksa dari Allah Subhanahu wa Ta’ala,” imbuhnya.
Selain itu, Risdiyono menyampaikan tiga hal yang dapat dipelajari tentang mentalitas dari Nabi Ibrahim. Pertama, kuatnya iman, aqidah dan tauhid kita sebab hal ini telah langsung dicontohkan oleh Nabi Ibrahim saat berhadapan dengan api. Kedua, semangat ikhtiar yang maksimal yang telah dicontohkan oleh Siti Hajar ketika mencari air untuk putranya. Ketiga, mudah untuk menerima takdir yang telah ditentukan oleh yang maha kuasa.
Melalui momentum Hari Raya Idul Adha ini, UII mengajak seluruh masyarakat untuk merefleksikan kembali makna pengorbanan yang sesungguhnya. Dengan pondasi keimanan yang kokoh, semangat ikhtiar yang tinggi, serta keikhlasan terhadap takdir, setiap Muslim mempunyai harapan bangkit dari kegagalan dan menjadi pribadi yang lebih tangguh di masa depan.(RMD/AHR/RS)
Ramaikan Idul Adha 1447 H, Masjid Ulil Albab UII Gelar Kajian “Ketika Cinta Bertemu Ketaatan”
Dalam rangka meramaikan Hari Raya Idul Adha 1447 H, Takmir Masjid Ulil Albab Universitas Islam Indonesia (TMUA UII) selenggarakan Pengajian Sore dan Buka Bersama (Pesbukers) di Pelataran Auditorium Prof. Dr. K.H. Abdulkahar Muzakir UII pada Selasa (26/5). Dengan mengangkat tema “Ketika Cinta Bertemu Ketaatan”, acara ini hadirkan Habib Ja’far Al Jufri dan Ustadz Hanif Kertasari sebagai pemateri. Acara diikuti oleh kurang lebih 300 jamaah dari mahasiswa UII dan masyarakat sekitar.
Idul Adha identik dengan kisah cinta Nabi Ismail kepada Allah. Dari kisah tersebut, Habib Ja’far memaparkan bahwa ketaatan tertinggi lahir dari rasa cinta yang mendalam kepada Sang Pencipta. Ia menjelaskan bagaimana Nabi Ibrahim harus melewati ujian berat setelah menanti kehadiran seorang putra selama 120 tahun. Ketika kebahagiaan itu akhirnya hadir, Allah SWT justru mengujinya melalui sebuah mimpi untuk menyembelih Nabi Ismail.
Secara mendalam, Habib Ja’far mengulas pilihan redaksi Q.S As-Saffat: 102 yang menggunakan kalimat اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ (Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi). Penggunaan bentuk kata kerja masa kini “الفِعْلُ الْمُضَارِعِ” menunjukkan betapa nyatanya mimpi tersebut hingga terus terbayang jelas di benak Nabi Ibrahim. Di sisi lain, kepatuhan luar biasa dari Nabi Ismail tidak lepas dari peran besar Ibunda Hajar yang mendidiknya dengan ketauhidan yang matang selama belasan tahun tanpa figur ayah di sisinya.
Melanjutkan pemaparan tersebut, Ustadz Hanif Kartasari mengupas Q.S As-Saffat: 99 yang mengisahkan awal mula hijrah Nabi Ibrahim. Ungkapan اِنِّيْ ذَاهِبٌ اِلٰى رَبِّيْ سَيَهْدِيْنِ menegaskan komitmen Nabi Ibrahim untuk menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya arah dan tujuan hidup, terlepas dari ke mana pun kaki melangkah atau seberapa berat rintangan dakwah yang dihadapi.
Ustadz Hanif juga menyoroti bahwa ujian penyembelihan datang justru saat Nabi Ismail mencapai usia di mana ketika seorang anak sudah bisa membantu dan bekerja bersama ayahnya. Di titik puncak kelekatan emosional itulah kadar cinta Nabi Ibrahim diuji, apakah ia lebih mencintai karunia (Nabi Ismail) atau Sang Pemberi Karunia (Allah Swt).
Menjelang waktu berbuka puasa arafah, acara Pesbukers ini ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Habib Ja’far Al Jufri. Setelah mengumandangkan adzan Maghrib, panitia membagikan hidangan takjil dan iftar kepada seluruh jamaah yang hadir secara tertib di pelataran auditorium. (NKA/AHR/RS)
Falling Walls Lab Yogyakarta 2026 Hadirkan Inovator Muda untuk Menjawab Tantangan Global
Universitas Islam Indonesia (UII) bekerja sama dengan Kedutaan Besar Jerman di Jakarta, DAAD Regional Office Jakarta, dan EURAXESS tahun ini berkesempatan menjadi tuan rumah penyelenggaraan Falling Walls Lab Yogyakarta 2026, sebuah ajang kompetisi dan forum inovasi internasional yang mempertemukan para inovator muda, peneliti, akademisi, dan praktisi dari berbagai bidang untuk mempresentasikan gagasan inovatif dan inspiratif dalam format singkat. Kegiatan ini berlangsung di Gedung Kuliah Umum Prof. Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII pada Kamis (21/05)
Falling Walls Lab merupakan forum internasional yang memberikan kesempatan kepada inovator, baik dosen, mahasiswa, praktisi, dan profesional muda, untuk mempresentasikan ide, hasil riset, model bisnis, maupun inisiatif sosial dalam waktu tiga menit kepada dewan juri dan publik. Program ini merupakan bagian dari jaringan global Falling Walls Foundation yang berbasis di Berlin, Jerman.
Mengusung semangat “Breaking the Wall”, acara ini menjadi wadah bagi generasi muda untuk menawarkan solusi atas berbagai tantangan global, mulai dari kesehatan, energi, pendidikan, lingkungan, teknologi, hingga isu sosial dan kemanusiaan. Dari ratusan pendaftar, terpilih sebanyak 21 finalis dari berbagai universitas dan institusi di Indonesia maupun luar negeri berkompetisi mempresentasikan ide terbaik mereka di hadapan dewan juri internasional.
Rektor UII, Fathul Wahid, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Falling Walls Lab merupakan ruang penting bagi lahirnya gagasan-gagasan transformatif yang dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat global. Beliau menekankan pentingnya kolaborasi lintas disiplin dan lintas negara dalam menghadapi tantangan dunia yang semakin kompleks.
Sementara itu, Head of Science and Technology Section Kedutaan Besar Jerman Jakarta, Annisa Fitria, serta Director of DAAD Regional Office Jakarta, Dr. Guido Schnieders, menegaskan komitmen Jerman dalam mendukung pengembangan ilmu pengetahuan, inovasi, dan kolaborasi akademik internasional melalui platform Falling Walls Lab.
Kompetisi tahun ini menghadirkan beragam tema inovatif yang relevan dengan isu global kontemporer. Di antaranya adalah gagasan tentang pemberantasan perdagangan manusia, kesenjangan energi di pedesaan, kesehatan mental, pengelolaan limbah plastik dan sawit, teknologi biofuel, restorasi pascatambang, terapi diabetes inovatif, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan dan energi bersih.
Selain kompetisi presentasi, acara juga dihadiri oleh 70 peserta dan dimeriahkan dengan seremoni pembukaan, penampilan budaya Tari Genjring oleh unit kegiatan mahasiswa tari Xaviera UNISI, sesi pengenalan dewan juri, serta penyerahan penghargaan kepada finalis terbaik untuk melangsungkan final internasional Falling Walls Lab di Berlin, Jerman.
Dewan juri terdiri atas para akademisi dan profesional dari berbagai institusi nasional dan internasional, termasuk Universitas Gadjah Mada, Universitas Kristen Duta Wacana, Universitas Islam Indonesia, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, serta EURAXESS Worldwide ASEAN.
Di akhir kompetisi Falling Walls Lab Yogyakarta 2026, dewan juri menetapkan tiga pemenang dengan gagasan inovatif yang dinilai memiliki dampak besar terhadap penyelesaian berbagai tantangan global.
Juara pertama diraih oleh Azra Firmansyah dari Svaika melalui presentasi berjudul “Breaking the Wall of Musical Exclusion.” Sebagai pemenang utama, Azra Firmansyah akan mewakili Indonesia pada ajang final global Falling Walls Lab di Berlin, Jerman, bersama para inovator muda terbaik dari berbagai negara.
Juara kedua diraih oleh Mario Bani dari Universitas Bio Scientia Internasional Indonesia (i3L University) melalui presentasi “Breaking the Wall of Toxic Weeding.”
Sementara itu, juara ketiga diraih oleh Nudia Aufia dari Periboemi Initiative melalui presentasi “Breaking the Wall of Post-Mining Restoration.”
Ketiga pemenang dinilai berhasil menghadirkan solusi kreatif, relevan, dan inovatif yang menjawab tantangan sosial, lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan di tingkat global.
Melalui penyelenggaraan Falling Walls Lab Yogyakarta 2026, Universitas Islam Indonesia berharap dapat terus memperkuat budaya inovasi, riset, dan kolaborasi internasional di kalangan generasi muda Indonesia. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya mendorong lahirnya solusi kreatif dan berkelanjutan untuk masa depan yang lebih baik. (DS/AHR/RS)
UII dan DAAD Gelar Info Session Peluang Studi dan Beasiswa di Jerman
Direktorat Kemitraan/Kantor Urusan Internasional (DK/KUI) Universitas Islam Indonesia (UII) bekerja sama dengan Deutscher Akademischer Austauschdienst (DAAD) menyelenggarakan kegiatan Info Session DAADpada Rabu (21/05) di Ruang Audiovisual, Gedung GBPH Prabuningrat Rektorat, Kampus Terpadu UII. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa dan sivitas akademika UII yang tertarik untuk melanjutkan studi dan mengembangkan jejaring akademik internasional di Jerman.
Kegiatan dibuka dengan sambutan dari Direktur Kemitraan/Kantor Urusan Internasional UII, Dr.rer.nat Dian Sari Utami. Dalam kesempatan tersebut, turut hadir dan memberikan sambutan Annisa Fitria selaku Head of Science and Technology Section German Embassy Jakarta serta KRMH Dr. Tatas Brotosudarmo sebagai perwakilan EURAXESS ASEAN.
Sesi utama disampaikan oleh Dr. Guido Schnieders selaku Director of DAAD Regional Office Jakarta. Dalam pemaparannya, Dr. Guido menjelaskan berbagai peluang studi, riset, dan program beasiswa DAAD bagi mahasiswa Indonesia untuk jenjang magister, doktoral, maupun program riset dan kolaborasi akademik internasional. Ia menyampaikan bahwa DAAD merupakan salah satu organisasi pendanaan pertukaran akademik terbesar di dunia dengan lebih dari 140.000 penerima pendanaan setiap tahunnya.
Selain memperkenalkan sistem pendidikan tinggi di Jerman, peserta juga memperoleh informasi mengenai program studi berbahasa Inggris, biaya pendidikan di universitas negeri Jerman yang relatif terjangkau, serta peluang karier setelah menyelesaikan studi. Berbagai skema beasiswa yang dipaparkan meliputi Postgraduate Studies in STEM, EPOS (Development-Related Postgraduate Courses), Helmut Schmidt Programme, hingga beasiswa doktoral dan riset bagi dosen maupun peneliti muda.
Dalam sesi tersebut, Dr. Guido juga menekankan komitmen DAAD dalam mendukung keberlanjutan dan pengembangan riset internasional yang sejalan dengan Agenda 2030 dan Sustainable Development Goals (SDGs). Kegiatan berlangsung interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab. Para peserta aktif berkonsultasi terkait persiapan studi, peluang beasiswa, hingga kehidupan akademik dan riset di Jerman.
Melalui kegiatan ini, UII berharap semakin banyak mahasiswa dan dosen yang terdorong untuk memanfaatkan peluang studi dan riset internasional, sekaligus memperkuat jejaring kerja sama akademik antara UII dan institusi pendidikan tinggi di Jerman. (NI/DS/AHR/RS)
Pernyataan Sikap Universitas Islam Indonesia Terkait Penangkapan Relawan dan Jurnalis dalam Misi Kemanusiaan Global Sumud Flotilla
Universitas Islam Indonesia (UII) menyampaikan keprihatinan mendalam atas penangkapan sejumlah relawan kemanusiaan dan jurnalis dalam misi Global Sumud Flotilla yang menuju Gaza oleh Zionis Israel. Termasuk dalam rombongan itu adalah Bambang Noroyono, alumnus UII, yang bersama warga negara Indonesia lainnya.
Jadi Tuan Rumah “Terus Terang Goes to Campus”, UII Hadirkan Ruang Kritis Bongkar Kegagalan Reformasi
Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menegaskan komitmennya sebagai kampus pelopor pergerakan dan pemikiran kritis dengan menjadi tuan rumah untuk acara diskusi publik “Terus Terang Mahfud MD Goes to Campus: Edisi Khusus Reformasi” pada Selasa (19/05).
Diinisiasi oleh program Terus Terang, acara ini terselenggara melalui kolaborasi erat dengan Pusat Studi Hak Asasi Manusia (Pusham) dan Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PSAD) UII. Mengambil tempat di Pelataran Gedung Fakultas Hukum, Kampus Terpadu UII, acara yang berlangsung dari pukul 19.00 hingga 22.00 WIB ini dibanjiri oleh ratusan mahasiswa dan sivitas akademika yang antusias melakukan refleksi tajam atas 28 tahun berjalannya reformasi di Indonesia.
Acara ini menghadirkan diskursus tingkat tinggi dengan jajaran narasumber kaliber nasional, yakni Prof. Mahfud MD, akademisi Rocky Gerung, pakar hukum HAM Prof. Suparman Marzuki, sosiolog Okky Madasari, dan ketua BEM KM UGM Tiyo Ardianto.
Suasana reflektif sudah terasa sejak awal acara ketika Rektor UII, Fathul Wahid, membuka panggung dengan membacakan puisi karyanya yang menghentak berjudul “Republik Rem Blong”. Lewat puisinya, ia mengibaratkan negara ini bak bus yang dikemudikan secara ugal-ugalan oleh para elite, di mana rakyat kecil terus menjadi korban janji manis pemilu.
“Tetapi remnya tetap blong, dan setirnya selalu diperebutkan. Setiap lima tahun, kita diminta memilih sopir baru,” lantang Fathul Wahid, yang seketika memantik tepuk tangan riuh dari para hadirin.
Memasuki sesi diskusi interaktif, Prof. Mahfud MD langsung menyoroti kerusakan sistem tata negara yang dipicu oleh krisis penegakan hukum. Mantan Menkopolhukam ini memperingatkan bahaya fenomena autocratic legalism yang kini tengah menggerogoti demokrasi Indonesia, di mana hukum sengaja direkayasa untuk membenarkan tindakan-tindakan elite.
“Hukum itu dibuat misalnya untuk melegalkan korupsi. Jadi, orang korupsi itu menjadi sah karena aturannya dibuat lebih dulu. Itu yang sekarang dikhawatirkan orang,” tegas Mahfud. Ia juga mengingatkan bahwa ketidakpedulian penguasa terhadap hukum akan melahirkan distrust (ketidakpercayaan publik) yang jika dibiarkan dapat berujung pada disintegrasi bangsa.
Senada dengan kritik tajam tersebut, sosiolog Okky Madasari memberikan pernyataan menohok dengan mendeklarasikan bahwa cita-cita reformasi saat ini sebenarnya sudah mati. Kematian ini, menurutnya, ditandai dengan masifnya campur tangan militer di ruang sipil.
“Saya mengatakan (reformasi) sudah mati karena saya percaya bahwa salah satu agenda utama reformasi adalah penegakan supremasi sipil, sementara yang kita lihat sekarang adalah penegakan militerisme,” papar Okky. Ia mencontohkan mulai dari penempatan perwira militer di posisi strategis pemerintahan, intervensi di sektor BUMN, hingga ke ranah pendidikan.
Sementara itu, Rocky Gerung menganalisis kebuntuan demokrasi dari sudut pandang transisi politik. Ia menilai bahwa bangsa ini terjebak di tengah jalan, tidak berani sepenuhnya memeluk iklim demokrasi karena ketakutan-ketakutan yang terus diproduksi oleh kekuasaan.
“Kita baru keluar dari rumah otoritarianisme Orde Baru, belum berani masuk ke rumah demokrasi karena di depan kita lalu lalang tentara. Kita mengalami gejala creeping militarism,” ungkap Rocky. Ia mengajak forum kampus untuk kembali menghidupkan budaya argumen, bukan sekadar saling melempar sentimen.
Dari sisi penegakan Hak Asasi Manusia (HAM), Prof. Suparman Marzuki menggugat keras amnesia struktural negara terhadap dosa-dosa masa lalu. Ia menyoroti bagaimana kejahatan kemanusiaan terus diabaikan melalui skema crime by omission atau pembiaran oleh negara. “Kita tidak bisa hidup terus melangkah ke depan dengan meninggalkan hutang kemanusiaan yang begini berat. Kita jangan memanipulasi sejarah,” seru Prof. Suparman dengan nada tenang namun tegas.
Menutup rangkaian gagasan, Ketua BEM KM UGM Tiyo Ardianto membakar semangat mahasiswa yang hadir untuk kembali mengingat peran sentral mereka dalam pergerakan bangsa. Baginya, kaum intelektual memiliki utang besar kepada rakyat yang telah membiayai pendidikan tinggi mereka melalui pajak.
“Selama pendidikan dibiayai oleh pajak rakyat, maka selama itulah kaum terdidik punya hutang pada rakyat. Hari ini, kalau kita mau jujur mengakui, gerakan revolusi ke depan barangkali memang dimulai hari ini dan dimulai di sini, di UII!” seru Tiyo.
Dengan memfasilitasi Terus Terang Goes to Campus, UII membuktikan bahwa kegiatan akademik tidak hanya sebatas di ruang kelas. Acara ini menjadi bukti nyata komitmen kampus sebagai tuan rumah bagi dialog kritis yang membangun kesadaran sosiopolitik, serta konsisten menjadi garda terdepan dalam mengawal muruah reformasi dan demokrasi di Indonesia. (MFPS/AHR/RS)
UII Kukuhkan Guru Besar Bidang Hukum HAM
Universitas Islam Indonesia (UII) kembali mengukuhkan guru besar dari Fakultas Hukum yaitu Prof. Dr. Suparman Marzuki, S.H., M.Si dalam bidang hukum hak asasi manusia. Prof. Suparman menyampaikan pidato pengukuhan pada Selasa (19/05) di Auditorium Prof. K.H. Abdul Kahar Muzakkir, Kampus Terpadu UII.
Lubang Hitam Keadilan: Melawan Amnesia Struktural dan Normalisasi Impunitas melalui Transformasi Berbasis Memori
Dalam pidato pengukuhan profesor, Prof. Dr. Suparman Marzuki menilai Indonesia masih belum serius menuntaskan pelanggaran HAM berat meski Reformasi telah berlangsung selama 25 tahun.
“Pelanggaran HAM yang tak tuntas telah menjelma menjadi ‘lubang hitam’ yang menyedot integritas moral hukum kita. Ia bukan sekadar masa lalu yang jauh, tetapi entitas aktif yang mengikis empati sosial dan menelan masa depan generasi mendatang,” ujar Suparman.
Ia mengatakan negara secara perlahan membentuk “amnesia struktural” melalui penggunaan eufemisme untuk melembutkan kekerasan, pengaburan posisi pelaku dan korban, hingga stigma terhadap pihak yang bersuara. “Bangsa tanpa ingatan yang jujur adalah bangsa yang berjalan dalam kegelapan,” katanya.
Prof. Suparman juga mengkritik praktik “keadilan parsial” yang dinilai hanya menjadi upaya simbolik tanpa keberanian menindak pelaku pelanggaran HAM. “Ketika negara mengakui adanya luka namun lumpuh menunjuk siapa yang melukai, hukum sebenarnya sedang melakukan pengkhianatan terhadap dirinya sendiri,” tegasnya.
Prof. Suparman menilai hukum saat ini kerap bergeser dari instrumen keadilan menjadi alat legitimasi kekuasaan. “Hukum yang seharusnya menjadi instrumen keadilan kini sering kali bergeser menjadi sekadar alat legitimasi kekuasaan. Aparat penegak hukum lebih memilih menjadi ‘juru bicara undang-undang’ daripada ‘juru bicara keadilan’,” ujarnya.
Prof. Suparman juga menyinggung kasus-kasus seperti tragedi 1965, Trisakti, Semanggi, Wasior, dan Wamena sebagai ujian bagi kematangan demokrasi Indonesia. Menurutnya, negara tidak bisa terus berlindung di balik alasan politik maupun prosedur birokrasi. “Kita tidak bisa terus berlindung di balik kedaulatan negara untuk melanggengkan impunitas,” katanya.
Prof. Suparman menegaskan perguruan tinggi, akademisi, dan jurnalis memiliki tanggung jawab moral sebagai “penjaga ingatan” agar sejarah pelanggaran HAM tidak dihapus dari kesadaran publik. “Memilih diam di hadapan ketidakadilan bukanlah sikap netral, melainkan bentuk partisipasi pasif dalam melanggengkan kekejaman,” ujar Suparman.
Menutup orasinya, ia mengingatkan bahwa masa depan bangsa tidak bisa dibangun di atas sejarah yang sengaja dilupakan. “Membangun masa depan di atas fondasi lupa adalah membangun di atas kerapuhan,” tutupnya. (AHR/RS)
Festival Seni Pertunjukan Islami 2026 Perkuat Harmoni dan Kreativitas Sivitas Akademika
Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menyelenggarakan Festival Seni Pertunjukan Islami 2026 sebagai bagian dari rangkaian Milad ke-83 UII dengan mengusung tema “Harmoni untuk Jejak Lestari”. Kegiatan yang berlangsung pada Selasa (12/05) di Auditorium Prof. K.H. Abdul Kahar Muzakkir UII ini menjadi ruang bersama bagi dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus memperkuat solidaritas sivitas akademika. Festival tersebut juga menjadi bagian dari komitmen UII dalam membangun peradaban yang berakar pada nilai keislaman, kebudayaan, dan keberlanjutan.
Rektor UII Fathul Wahid menegaskan bahwa seni dan budaya memiliki peran penting dalam pembentukan manusia yang utuh di lingkungan kampus. Menurutnya, kampus tidak hanya berfungsi sebagai tempat mengembangkan logika dan ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang untuk merawat rasa, imajinasi, dan ekspresi kemanusiaan.
“Festival ini menjadi pengingat bahwa kampus tidak hanya tempat mengasah logika, tetapi juga ruang merawat rasa, imajinasi, dan ekspresi kemanusiaan,” ujar Fathul Wahid dalam sambutannya.
Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi antarsivitas akademika yang tercermin dari keterlibatan unsur pimpinan, dosen, dan tenaga kependidikan dalam setiap kelompok penampil. Menurutnya, seni mampu mencairkan hubungan formal dan memperkuat relasi antarmanusia di lingkungan kampus. Selain itu, seni juga memiliki kaitan erat dengan kreativitas dan inovasi.
“Kampus yang ingin melahirkan inovasi tidak boleh menjauh dari seni,” katanya.
Ketua Panitia Milad ke-83 UII, Dr. Rizqi Anfanni Fahmi, S.E.I., M.SI., menyampaikan bahwa Festival Seni Pertunjukan Islami 2026 menghadirkan ruang ekspresi yang mempertemukan seni dengan kesadaran sosial, spiritual, dan ekologis. Berbagai penampilan seni ditampilkan oleh unsur dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, hingga unit-unit di lingkungan UII dengan membawa pesan harmoni dalam keberagaman dan semangat menjaga kehidupan.
Festival ini juga menghadirkan penampilan spesial dari YKHC (YogyaKarta Hadroh Clan), Hadroh IKI UII, dan mahasiswa internasional yang semakin menambah suasana inklusif dan kolaboratif. Sebanyak 11 kelompok penampil turut berpartisipasi, di antaranya dari Fakultas Teknologi Industri, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Ilmu Agama Islam, Yayasan Badan Wakaf, Rektorat, Fakultas Ilmu Sosial Budaya, Fakultas Psikologi, Fakultas Bisnis dan Ekonomika, Fakultas Kedokteran, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, serta Fakultas Hukum.
Ketua Festival Seni Pertunjukan Islami 2026 Arif Wibisono, S.E., M.Sc. mengatakan bahwa tema tahun ini merupakan ajakan untuk terus bergerak maju tanpa meninggalkan akar nilai dan budaya. Melalui seni, menurutnya, festival ini diharapkan mampu menghadirkan kesadaran bersama bahwa setiap langkah manusia akan meninggalkan jejak yang harus memberi manfaat dan menjaga harmoni kehidupan.
Pada akhir acara, panitia memberikan penghargaan kepada para penampil terbaik sebagai bentuk apresiasi atas kreativitas dan kolaborasi yang ditampilkan selama festival berlangsung.
Fakultas Hukum (FH) berhasil meraih Juara I dengan penampilan yang memukau dewan juri dan penonton. Juara II diraih Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI), sementara Juara III diberikan kepada Yayasan Badan Wakaf. Penghargaan tersebut diharapkan dapat semakin memotivasi sivitas akademika UII untuk terus berkarya dan mengembangkan seni budaya di lingkungan kampus. (AZ/AHR/RS)
JNE Content Competition 2026: Ajak Mahasiswa UII Ubah Ide Jadi Karya Bercerita
Universitas Islam Indonesia (UII) menjadi tuan rumah dalam roadshow campus bertajuk Creative Workshop Vol. 4 yang diselenggarakan oleh PT. Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE). Mengangkat tema “Dari Ide Jadi Karya Penuh Cerita”, kegiatan ini berlangsung pada Selasa (5/5) bertempat di Gedung Kuliah Umum Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII. Kegiatan ini diikuti oleh kurang lebih 200 peserta yang sebagian besar terdiri dari mahasiswa UII sendiri dan juga siswa SMA sekitar kampus UII.
Workshop ini merupakan bagian dari rangkaian JNE Content Competition 2026, yang memiliki tujuan mendorong mahasiswa dan anak muda agar mampu mengolah ide dan menghasilkan karya kreatif yang memiliki daya saing di era digital. Kegiatan ini menghadirkan para narasumber yang juga merupakan juri dalam JNE Content Competition 2026, yaitu Kang Maman (Penulis dan Pegiat Literasi), Martha Suherman (Photographer Profesional), Amir Mahmud (Juri Writing Competition) dan Raditya Mahendra Yasa (Juri Photo Competition). Kegiatan workshop ini dimoderatori oleh Nadia Wasta Utami, S.I.Kom., M.A. yang juga sekaligus Dosen Ilmu Komunikasi di UII.
Ir. Wiryono Raharjo, M.Arch., Ph.D. sebagai Wakil Rektor Bidang Kemitraan & Kewirausahaan UII memberikan arahan kepada mahasiswa yang hadir untuk bisa menjadi kreatif dan mampu mengerahkan ide-ide unik agar mampu bersaing di era industri kreatif saat ini. Ia mengucapkan terimakasih kepada JNE yang sudah memberikan kepercayaan kepada UII untuk menjadi tuan rumah dalam Workshop Creative ini. “Semoga acara ini dapat menguatkan kerjasama kita kedepan dan mudah-mudahan adek-adek sekalian ikut acara ini, mengirimkan karya, karena itu akan menjadi latihan untuk mengasah kreatif,” ungkapnya.
Menanggapi ungkapan terimakasih Ir. Wiryono, Head Regional DIY, Murah Lestari dalam sambutannya menyelipkan ucapan terimakasih kembali kepada UII yang telah mendukung dan bersedia menjalin kerja sama dalam penyelenggaraan JNE Content Competition 2026. JNE Content Competition 2026 kini mengusung tema “Bergerak Bersama, Beragam Cerita” yang searah dengan tagline JNE yakni “Connecting Happiness”. Telah hadir sejak tahun 2011, JNE Content Competition ini terus bertekad untuk memberikan inspirasi lebih banyak kepada masyarakat luas. “Kompetisi ini mengajak seluruh peserta untuk menghadirkan cerita-cerita nyata tentang perjalanan bersama JNE,” ujar Murah.
Pengalaman yang Unik Adalah Kekuatan di Tengah Maraknya Penggunaan AI
Kang Maman, seorang Penulis dan Pegiat Literasi yang hadir sebagai pemateri pertama menyoroti pentingnya pengalaman pribadi sebagai kekuatan yang tidak bisa dijiplak maupun diplagiasi oleh Artificial Intelligence (AI) sekalipun. Ia memberikan contoh ide unik yang tidak dapat ditemukan di luar Jogja, seperti Salmon Lodeh dan Tuna Sambal Matah. Menurutnya, keunikan atau uniqueness adalah kata kunci untuk memenangkan hati para juri dalam lomba menulis. Di tengah maraknya penggunaan AI, Kang Maman menekankan bahwa AI memang bisa menulis, namun AI tidak bisa menghadirkan rasa dan pengalaman yang ada dalam ceritanya. “Cerita yang paling bagus bukan yang paling cepat, tapi cerita yang paling bagus adalah yang jujur,” ucapnya lugas.
Menulis Itu Harus dengan Kegembiraan
Amir Mahmud, Juri Writing Competition 2026, sebagai pembicara kedua memantik sesi diskusi dengan pertanyaan penting, “Mengapa saya mengambil topik tentang kegembiraan menulis? Karena saya melihat disinilah titik awal dari upaya kita untuk membuat menulis bukan sebagai beban tapi justru sebuah kebutuhan,” ujarnya. Ia menggambarkan bahwa baginya, menulis itu adalah sebuah kebutuhan yang tidak dapat ia lewatkan setiap harinya. Ketika menulis, kreativitas untuk melihat berbagai sudut pandang sangat diperlukan untuk bisa menulis cerita yang menarik.
Momen Sebagai Nyawa dari Fotografi
Sebagai fotografer profesional, Martha Suherman secara langsung memberikan gambaran beragam foto project dengan berbagai konsep yang telah ia lakukan sebelumnya. Gambaran ini diberikan agar peserta dapat memahami bahwa dalam fotografi setiap detik adalah momentum berharga yang harus diabadikan. “Sebenarnya dalam fotografi, basicnya adalah bercerita,” ujar Martha. Meskipun menurutnya, fotografi tentu harus memiliki kekuatan cahaya yang menonjol selain narasi yang dibangun. Ia juga membagikan tips agar foto dapat bercerita melalui elemen tersirat yang terkandung dalam foto tanpa harus mencantumkan teks sebagai penguat narasinya.
Fotografi Berawal dari Ide Keseharian
Raditya Mahendra Yasa, dalam sesi materi terakhirnya menyoroti pentingnya mengenali ide keseharian yang menjadi jiwa dalam fotografi. Yaitu sesuatu yang relate dan berhubungan dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Berbagai pendekatan dalam fotografi seperti Jurnalisme, Komersial, Konseptual dan Street harus ditentukan sejak awal agar bisa memahami sudut pandang suatu objek ketika memotret. Ia mengungkapkan bahwa JNE Content Competition ini juga membebaskan para pesertanya untuk berkreasi dan mengeksplorasi lebih banyak ide unik dan tidak menuntut para peserta untuk mencantumkan brand JNE yang identik dengan dunia logistik dan perkuriran. Hal ini ditujukan agar peserta mampu menghasilkan karya yang berkualitas dan memiliki nilai lebih di mata para juri.
Workshop berlangsung interaktif dengan banyaknya peserta yang melontarkan pertanyaan. Selain mendapatkan penjelasan mengenai garis besar JNE Content Competition 2026 ini, peserta juga mendapat e-sertifikat, goodie bag dan juga voucher belanja. Harapannya, kegiatan ini dapat memotivasi peserta untuk berani menuangkan ide unik mereka ke dalam JNE Content Competition 2026. Dengan memadukan teknik yang tepat dan kejujuran dalam bercerita, peserta lomba diharapkan mampu menghasilkan karya kreatif yang inspiratif dan berdaya saing di era digital. (NKA/AHR/RS)