Pernyataan Sikap UII

Universitas Islam Indonesia (UII) menyampaikan keprihatinan mendalam atas penangkapan sejumlah relawan kemanusiaan dan jurnalis dalam misi Global Sumud Flotilla yang menuju Gaza oleh Zionis Israel. Termasuk dalam rombongan itu adalah Bambang Noroyono, alumnus UII, yang bersama warga negara Indonesia lainnya.

Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menegaskan komitmennya sebagai kampus pelopor pergerakan dan pemikiran kritis dengan menjadi tuan rumah untuk acara diskusi publik “Terus Terang Mahfud MD Goes to Campus: Edisi Khusus Reformasi” pada Selasa (19/05).

Diinisiasi oleh program Terus Terang, acara ini terselenggara melalui kolaborasi erat dengan Pusat Studi Hak Asasi Manusia (Pusham) dan Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PSAD) UII. Mengambil tempat di Pelataran Gedung Fakultas Hukum, Kampus Terpadu UII, acara yang berlangsung dari pukul 19.00 hingga 22.00 WIB ini dibanjiri oleh ratusan mahasiswa dan sivitas akademika yang antusias melakukan refleksi tajam atas 28 tahun berjalannya reformasi di Indonesia.

Acara ini menghadirkan diskursus tingkat tinggi dengan jajaran narasumber kaliber nasional, yakni Prof. Mahfud MD, akademisi Rocky Gerung, pakar hukum HAM Prof. Suparman Marzuki, sosiolog Okky Madasari, dan ketua BEM KM UGM Tiyo Ardianto.

Suasana reflektif sudah terasa sejak awal acara ketika Rektor UII, Fathul Wahid, membuka panggung dengan membacakan puisi karyanya yang menghentak berjudul “Republik Rem Blong”. Lewat puisinya, ia mengibaratkan negara ini bak bus yang dikemudikan secara ugal-ugalan oleh para elite, di mana rakyat kecil terus menjadi korban janji manis pemilu.

“Tetapi remnya tetap blong, dan setirnya selalu diperebutkan. Setiap lima tahun, kita diminta memilih sopir baru,” lantang Fathul Wahid, yang seketika memantik tepuk tangan riuh dari para hadirin.

Memasuki sesi diskusi interaktif, Prof. Mahfud MD langsung menyoroti kerusakan sistem tata negara yang dipicu oleh krisis penegakan hukum. Mantan Menkopolhukam ini memperingatkan bahaya fenomena autocratic legalism yang kini tengah menggerogoti demokrasi Indonesia, di mana hukum sengaja direkayasa untuk membenarkan tindakan-tindakan elite.

“Hukum itu dibuat misalnya untuk melegalkan korupsi. Jadi, orang korupsi itu menjadi sah karena aturannya dibuat lebih dulu. Itu yang sekarang dikhawatirkan orang,” tegas Mahfud. Ia juga mengingatkan bahwa ketidakpedulian penguasa terhadap hukum akan melahirkan distrust (ketidakpercayaan publik) yang jika dibiarkan dapat berujung pada disintegrasi bangsa.

Senada dengan kritik tajam tersebut, sosiolog Okky Madasari memberikan pernyataan menohok dengan mendeklarasikan bahwa cita-cita reformasi saat ini sebenarnya sudah mati. Kematian ini, menurutnya, ditandai dengan masifnya campur tangan militer di ruang sipil.

“Saya mengatakan (reformasi) sudah mati karena saya percaya bahwa salah satu agenda utama reformasi adalah penegakan supremasi sipil, sementara yang kita lihat sekarang adalah penegakan militerisme,” papar Okky. Ia mencontohkan mulai dari penempatan perwira militer di posisi strategis pemerintahan, intervensi di sektor BUMN, hingga ke ranah pendidikan.

Sementara itu, Rocky Gerung menganalisis kebuntuan demokrasi dari sudut pandang transisi politik. Ia menilai bahwa bangsa ini terjebak di tengah jalan, tidak berani sepenuhnya memeluk iklim demokrasi karena ketakutan-ketakutan yang terus diproduksi oleh kekuasaan.

“Kita baru keluar dari rumah otoritarianisme Orde Baru, belum berani masuk ke rumah demokrasi karena di depan kita lalu lalang tentara. Kita mengalami gejala creeping militarism,” ungkap Rocky. Ia mengajak forum kampus untuk kembali menghidupkan budaya argumen, bukan sekadar saling melempar sentimen.

Dari sisi penegakan Hak Asasi Manusia (HAM), Prof. Suparman Marzuki menggugat keras amnesia struktural negara terhadap dosa-dosa masa lalu. Ia menyoroti bagaimana kejahatan kemanusiaan terus diabaikan melalui skema crime by omission atau pembiaran oleh negara. “Kita tidak bisa hidup terus melangkah ke depan dengan meninggalkan hutang kemanusiaan yang begini berat. Kita jangan memanipulasi sejarah,” seru Prof. Suparman dengan nada tenang namun tegas.

Menutup rangkaian gagasan, Ketua BEM KM UGM Tiyo Ardianto membakar semangat mahasiswa yang hadir untuk kembali mengingat peran sentral mereka dalam pergerakan bangsa. Baginya, kaum intelektual memiliki utang besar kepada rakyat yang telah membiayai pendidikan tinggi mereka melalui pajak.

“Selama pendidikan dibiayai oleh pajak rakyat, maka selama itulah kaum terdidik punya hutang pada rakyat. Hari ini, kalau kita mau jujur mengakui, gerakan revolusi ke depan barangkali memang dimulai hari ini dan dimulai di sini, di UII!” seru Tiyo.

Dengan memfasilitasi Terus Terang Goes to Campus, UII membuktikan bahwa kegiatan akademik tidak hanya sebatas di ruang kelas. Acara ini menjadi bukti nyata komitmen kampus sebagai tuan rumah bagi dialog kritis yang membangun kesadaran sosiopolitik, serta konsisten menjadi garda terdepan dalam mengawal muruah reformasi dan demokrasi di Indonesia. (MFPS/AHR/RS)

 

Universitas Islam Indonesia (UII) kembali mengukuhkan guru besar dari Fakultas Hukum yaitu Prof. Dr. Suparman Marzuki, S.H., M.Si dalam bidang hukum hak asasi manusia. Prof. Suparman menyampaikan pidato pengukuhan pada Selasa (19/05) di Auditorium Prof. K.H. Abdul Kahar Muzakkir, Kampus Terpadu UII.

Lubang Hitam Keadilan: Melawan Amnesia Struktural dan Normalisasi Impunitas melalui Transformasi Berbasis Memori

Dalam pidato pengukuhan profesor, Prof. Dr. Suparman Marzuki menilai Indonesia masih belum serius menuntaskan pelanggaran HAM berat meski Reformasi telah berlangsung selama 25 tahun.

“Pelanggaran HAM yang tak tuntas telah menjelma menjadi ‘lubang hitam’ yang menyedot integritas moral hukum kita. Ia bukan sekadar masa lalu yang jauh, tetapi entitas aktif yang mengikis empati sosial dan menelan masa depan generasi mendatang,” ujar Suparman.

Ia mengatakan negara secara perlahan membentuk “amnesia struktural” melalui penggunaan eufemisme untuk melembutkan kekerasan, pengaburan posisi pelaku dan korban, hingga stigma terhadap pihak yang bersuara. “Bangsa tanpa ingatan yang jujur adalah bangsa yang berjalan dalam kegelapan,” katanya.

Prof. Suparman juga mengkritik praktik “keadilan parsial” yang dinilai hanya menjadi upaya simbolik tanpa keberanian menindak pelaku pelanggaran HAM. “Ketika negara mengakui adanya luka namun lumpuh menunjuk siapa yang melukai, hukum sebenarnya sedang melakukan pengkhianatan terhadap dirinya sendiri,” tegasnya.

Prof. Suparman menilai hukum saat ini kerap bergeser dari instrumen keadilan menjadi alat legitimasi kekuasaan. “Hukum yang seharusnya menjadi instrumen keadilan kini sering kali bergeser menjadi sekadar alat legitimasi kekuasaan. Aparat penegak hukum lebih memilih menjadi ‘juru bicara undang-undang’ daripada ‘juru bicara keadilan’,” ujarnya.

Prof. Suparman juga menyinggung kasus-kasus seperti tragedi 1965, Trisakti, Semanggi, Wasior, dan Wamena sebagai ujian bagi kematangan demokrasi Indonesia. Menurutnya, negara tidak bisa terus berlindung di balik alasan politik maupun prosedur birokrasi. “Kita tidak bisa terus berlindung di balik kedaulatan negara untuk melanggengkan impunitas,” katanya.

Prof. Suparman menegaskan perguruan tinggi, akademisi, dan jurnalis memiliki tanggung jawab moral sebagai “penjaga ingatan” agar sejarah pelanggaran HAM tidak dihapus dari kesadaran publik. “Memilih diam di hadapan ketidakadilan bukanlah sikap netral, melainkan bentuk partisipasi pasif dalam melanggengkan kekejaman,” ujar Suparman.

Menutup orasinya, ia mengingatkan bahwa masa depan bangsa tidak bisa dibangun di atas sejarah yang sengaja dilupakan. “Membangun masa depan di atas fondasi lupa adalah membangun di atas kerapuhan,” tutupnya. (AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menyelenggarakan Festival Seni Pertunjukan Islami 2026 sebagai bagian dari rangkaian Milad ke-83 UII dengan mengusung tema “Harmoni untuk Jejak Lestari”. Kegiatan yang berlangsung pada Selasa (12/05) di Auditorium Prof. K.H. Abdul Kahar Muzakkir UII ini menjadi ruang bersama bagi dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus memperkuat solidaritas sivitas akademika. Festival tersebut juga menjadi bagian dari komitmen UII dalam membangun peradaban yang berakar pada nilai keislaman, kebudayaan, dan keberlanjutan.

Rektor UII Fathul Wahid menegaskan bahwa seni dan budaya memiliki peran penting dalam pembentukan manusia yang utuh di lingkungan kampus. Menurutnya, kampus tidak hanya berfungsi sebagai tempat mengembangkan logika dan ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang untuk merawat rasa, imajinasi, dan ekspresi kemanusiaan.

“Festival ini menjadi pengingat bahwa kampus tidak hanya tempat mengasah logika, tetapi juga ruang merawat rasa, imajinasi, dan ekspresi kemanusiaan,” ujar Fathul Wahid dalam sambutannya.

Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi antarsivitas akademika yang tercermin dari keterlibatan unsur pimpinan, dosen, dan tenaga kependidikan dalam setiap kelompok penampil. Menurutnya, seni mampu mencairkan hubungan formal dan memperkuat relasi antarmanusia di lingkungan kampus. Selain itu, seni juga memiliki kaitan erat dengan kreativitas dan inovasi.

“Kampus yang ingin melahirkan inovasi tidak boleh menjauh dari seni,” katanya.

Ketua Panitia Milad ke-83 UII, Dr. Rizqi Anfanni Fahmi, S.E.I., M.SI., menyampaikan bahwa Festival Seni Pertunjukan Islami 2026 menghadirkan ruang ekspresi yang mempertemukan seni dengan kesadaran sosial, spiritual, dan ekologis. Berbagai penampilan seni ditampilkan oleh unsur dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, hingga unit-unit di lingkungan UII dengan membawa pesan harmoni dalam keberagaman dan semangat menjaga kehidupan.

Festival ini juga menghadirkan penampilan spesial dari YKHC (YogyaKarta Hadroh Clan), Hadroh IKI UII, dan mahasiswa internasional yang semakin menambah suasana inklusif dan kolaboratif. Sebanyak 11 kelompok penampil turut berpartisipasi, di antaranya dari Fakultas Teknologi Industri, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Ilmu Agama Islam, Yayasan Badan Wakaf, Rektorat, Fakultas Ilmu Sosial Budaya, Fakultas Psikologi, Fakultas Bisnis dan Ekonomika, Fakultas Kedokteran, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, serta Fakultas Hukum.

Ketua Festival Seni Pertunjukan Islami 2026 Arif Wibisono, S.E., M.Sc. mengatakan bahwa tema tahun ini merupakan ajakan untuk terus bergerak maju tanpa meninggalkan akar nilai dan budaya. Melalui seni, menurutnya, festival ini diharapkan mampu menghadirkan kesadaran bersama bahwa setiap langkah manusia akan meninggalkan jejak yang harus memberi manfaat dan menjaga harmoni kehidupan.

Pada akhir acara, panitia memberikan penghargaan kepada para penampil terbaik sebagai bentuk apresiasi atas kreativitas dan kolaborasi yang ditampilkan selama festival berlangsung.

Fakultas Hukum (FH) berhasil meraih Juara I dengan penampilan yang memukau dewan juri dan penonton. Juara II diraih Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI), sementara Juara III diberikan kepada Yayasan Badan Wakaf. Penghargaan tersebut diharapkan dapat semakin memotivasi sivitas akademika UII untuk terus berkarya dan mengembangkan seni budaya di lingkungan kampus. (AZ/AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) menjadi tuan rumah dalam roadshow campus bertajuk Creative Workshop Vol. 4 yang diselenggarakan oleh PT. Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE). Mengangkat tema “Dari Ide Jadi Karya Penuh Cerita”, kegiatan ini berlangsung pada Selasa (5/5) bertempat di Gedung Kuliah Umum Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII. Kegiatan ini diikuti oleh kurang lebih 200 peserta yang sebagian besar terdiri dari mahasiswa UII sendiri dan juga siswa SMA sekitar kampus UII.

Workshop ini merupakan bagian dari rangkaian JNE Content Competition 2026, yang memiliki tujuan mendorong mahasiswa dan anak muda agar mampu mengolah ide dan menghasilkan karya kreatif yang memiliki daya saing di era digital. Kegiatan ini menghadirkan para narasumber yang juga merupakan juri dalam JNE Content Competition 2026, yaitu Kang Maman (Penulis dan Pegiat Literasi), Martha Suherman (Photographer Profesional), Amir Mahmud (Juri Writing Competition) dan Raditya Mahendra Yasa (Juri Photo Competition). Kegiatan workshop ini dimoderatori oleh Nadia Wasta Utami, S.I.Kom., M.A. yang juga sekaligus Dosen Ilmu Komunikasi di UII.

Ir. Wiryono Raharjo, M.Arch., Ph.D. sebagai Wakil Rektor Bidang Kemitraan & Kewirausahaan UII memberikan arahan kepada mahasiswa yang hadir untuk bisa menjadi kreatif dan mampu mengerahkan ide-ide unik agar mampu bersaing di era industri kreatif saat ini. Ia mengucapkan terimakasih kepada JNE yang sudah memberikan kepercayaan kepada UII untuk menjadi tuan rumah dalam Workshop Creative ini. “Semoga acara ini dapat menguatkan kerjasama kita kedepan dan mudah-mudahan adek-adek sekalian ikut acara ini, mengirimkan karya, karena itu akan menjadi latihan untuk mengasah kreatif,” ungkapnya.

Menanggapi ungkapan terimakasih Ir. Wiryono, Head Regional DIY, Murah Lestari dalam sambutannya menyelipkan ucapan terimakasih kembali kepada UII yang telah mendukung dan bersedia menjalin kerja sama dalam penyelenggaraan JNE Content Competition 2026. JNE Content Competition 2026 kini mengusung tema “Bergerak Bersama, Beragam Cerita” yang searah dengan tagline JNE yakni “Connecting Happiness”. Telah hadir sejak tahun 2011, JNE Content Competition ini terus bertekad untuk memberikan inspirasi lebih banyak kepada masyarakat luas. “Kompetisi ini mengajak seluruh peserta untuk menghadirkan cerita-cerita nyata tentang perjalanan bersama JNE,” ujar Murah. 

Pengalaman yang Unik Adalah Kekuatan di Tengah Maraknya Penggunaan AI

Kang Maman, seorang Penulis dan Pegiat Literasi yang hadir sebagai pemateri pertama menyoroti pentingnya pengalaman pribadi sebagai kekuatan yang tidak bisa dijiplak maupun diplagiasi oleh Artificial Intelligence (AI) sekalipun. Ia memberikan contoh ide unik yang tidak dapat ditemukan di luar Jogja, seperti Salmon Lodeh dan Tuna Sambal Matah. Menurutnya, keunikan atau uniqueness adalah kata kunci untuk memenangkan hati para juri dalam lomba menulis. Di tengah maraknya penggunaan AI, Kang Maman menekankan bahwa AI memang bisa menulis, namun AI tidak bisa menghadirkan rasa dan pengalaman yang ada dalam ceritanya. “Cerita yang paling bagus bukan yang paling cepat, tapi cerita yang paling bagus adalah yang jujur,” ucapnya lugas. 

Menulis Itu Harus dengan Kegembiraan

Amir Mahmud, Juri Writing Competition 2026, sebagai pembicara kedua memantik sesi diskusi dengan pertanyaan penting, “Mengapa saya mengambil topik tentang kegembiraan menulis? Karena saya melihat disinilah titik awal dari upaya kita untuk membuat menulis bukan sebagai beban tapi justru sebuah kebutuhan,” ujarnya. Ia menggambarkan bahwa baginya, menulis itu adalah sebuah kebutuhan yang tidak dapat ia lewatkan setiap harinya. Ketika menulis, kreativitas untuk melihat berbagai sudut pandang sangat diperlukan untuk bisa menulis cerita yang menarik. 

Momen Sebagai Nyawa dari Fotografi 

Sebagai fotografer profesional, Martha Suherman secara langsung memberikan gambaran beragam foto project dengan berbagai konsep yang telah ia lakukan sebelumnya. Gambaran ini diberikan agar peserta dapat memahami bahwa dalam fotografi setiap detik adalah momentum berharga yang harus diabadikan. “Sebenarnya dalam fotografi, basicnya adalah bercerita,” ujar Martha. Meskipun menurutnya, fotografi tentu harus memiliki kekuatan cahaya yang menonjol selain narasi yang dibangun. Ia juga membagikan tips agar foto dapat bercerita melalui elemen tersirat yang terkandung dalam foto tanpa harus mencantumkan teks sebagai penguat narasinya. 

Fotografi Berawal dari Ide Keseharian

Raditya Mahendra Yasa, dalam sesi materi terakhirnya menyoroti pentingnya mengenali ide keseharian yang menjadi jiwa dalam fotografi. Yaitu sesuatu yang relate dan berhubungan dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Berbagai pendekatan dalam fotografi seperti Jurnalisme, Komersial, Konseptual dan Street harus ditentukan sejak awal agar bisa memahami sudut pandang suatu objek ketika memotret. Ia mengungkapkan bahwa JNE Content Competition ini juga membebaskan para pesertanya untuk berkreasi dan mengeksplorasi lebih banyak ide unik dan tidak menuntut para peserta untuk mencantumkan brand JNE yang identik dengan dunia logistik dan perkuriran. Hal ini ditujukan agar peserta mampu menghasilkan karya yang berkualitas dan memiliki nilai lebih di mata para juri. 

Workshop berlangsung interaktif dengan banyaknya peserta yang melontarkan pertanyaan. Selain mendapatkan penjelasan mengenai garis besar JNE Content Competition 2026 ini, peserta juga mendapat e-sertifikat, goodie bag dan juga voucher belanja. Harapannya, kegiatan ini dapat memotivasi peserta untuk berani menuangkan ide unik mereka ke dalam JNE Content Competition 2026. Dengan memadukan teknik yang tepat dan kejujuran dalam bercerita, peserta lomba diharapkan mampu menghasilkan karya kreatif yang inspiratif dan berdaya saing di era digital. (NKA/AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menggelar kegiatan ziarah ke makam para pendiri dan tokoh UII pada Selasa (05/05). Kegiatan ini diikuti oleh pimpinan UII bersama dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, hingga purnatugas dalam rangka Milad ke-83 UII. Ziarah ini bertujuan untuk meneladani perjuangan serta nilai-nilai inspiratif para pendiri dan tokoh UII.

Ziarah dilaksanakan di sejumlah lokasi di antaranya Makam UGM Sawit Sari, Taman Makam Pahlawan Nasional Kusumanegara, Makam Bahoewinangun, Makam Boharen, hingga Makam Raja-Raja Imogiri.

Ketua Milad ke-83 UII, Dr. Rizqi Anfanni Fahmi, S.E.I., M.SI. dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat ikatan historis sekaligus meneladani perjuangan para pendiri universitas. “Ziarah makam pendiri dan tokoh UII merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Milad yang telah mulai dilaksanakan sejak awal tahun 2026,” ujarnya.

Rektor UII, Fathul Wahid dalam sambutannya saat pembukaan ziarah di Makam UII menekankan makna mendalam dari kegiatan tersebut. Menurutnya, ziarah bukan sekadar tradisi seremonial, melainkan bagian dari “ritual organisasional” yang menghubungkan kesadaran masa lalu dengan masa kini.

“Kegiatan ziarah merupakan wasilah untuk menyambungkan kesadaran masa lalu dengan kesadaran hari ini. Ini adalah bentuk penghormatan kita kepada para pendahulu, karena peradaban UII saat ini tidak mungkin terwujud tanpa kontribusi dan amal jariyah mereka,” kata Fathul Wahid.

Fathul Wahid juga menyebut sejumlah tokoh yang dimakamkan di Makam UII, seperti Mufti Abu Yazid yang pernah menjabat Wakil Rektor III pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an, Rasyid Baswedan yang juga pernah menjadi Wakil Rektor II, serta Syafaruddin Alwi yang dikenal memberikan banyak keteladanan. Selain itu, terdapat pula tokoh lain seperti Artidjo Alkostar, dan Luthfi Hasan yang turut dikenang jasanya.

Rektor menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi momentum untuk mendoakan para pendahulu. “Pada hari ini kita mempunyai kesempatan untuk mendoakan, semoga apa yang sudah mereka lakukan kepada UII diterima sebagai amal jariyah,” ujarnya.

Perjalanan berlanjut ke Makam UGM Sawit Sari, peserta berziarah ke makam Prof. Dr. H. Ace Partadireja, Prof. Dr. H. Zanzawi Soejoeti, dan Ir. R.H.A. Sahirul Alim yang pernah berkontribusi dalam kepemimpinan UII. Sementara di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara, peserta mengenang Prof. Dr. Sardjito yang berjasa dalam pengembangan UII melalui pembukaan fakultas di berbagai daerah.

“Kita bisa meneladani Prof. Sardjito dalam ketekunannya dalam berilmu hingga riset-risetnya mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tutur Fathul.

Ziarah kemudian dilanjutkan ke Makam Bahoewinangun untuk mengenang Prof. R.H.A. Kasmat Bahoewinangun, serta ke Makam Boharen sebagai tempat peristirahatan terakhir Prof. K.H.A. Kahar Mudzakkir, tokoh penting dalam sejarah UII sekaligus perumus Piagam Jakarta.

“Prof. Kahar merupakan sosok negarawan dengan visi yang melampaui zamannya dan memiliki jejaring internasional yang kuat sejak awal berdirinya UII,” tambahnya.

Perjalanan ditutup di Makam Raja-Raja Imogiri untuk mengenang GBPH Prabuningrat yang dikenal dengan kesederhanaannya selama menjabat sebagai Rektor UII. Di bawah kepemimpinannya, UII mengalami kemajuan signifikan, baik dalam pembangunan fasilitas maupun penguatan akademik.

Ziarah makam pendiri telah menjadi tradisi tahunan dalam rangka Milad UII. Kegiatan ini tidak hanya dimaksudkan sebagai bentuk penghormatan, tetapi juga sebagai sarana refleksi nilai-nilai perjuangan, integritas, dan dedikasi yang diwariskan oleh para pendiri kepada generasi penerus. (AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) terus memperkuat jejaring internasional melalui kolaborasi dengan berbagai institusi luar negeri, salah satunya bersama mitra dari Türkiye melalui program Bridge of the Heart: Türkiye–Indonesia Youth Exchange Program. Program ini dikoordinatori oleh Direktorat Kemitraan/Kantor Urusan Internasional (DK/KUI) UII bekerja sama dengan Program Studi Teknik Lingkungan dan Program Studi Informatika, serta berkolaborasi dengan Pemerintah Türkiye melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga Türkiye. Program ini dirancang sebagai ruang interaksi antara diaspora Türkiye dan pemuda Indonesia, khususnya di Yogyakarta, guna memperkuat pertukaran budaya, ide, dan pengalaman dalam pengembangan kepemudaan yang berdampak.

Sebanyak 10 peserta dari Türkiye mengikuti program yang resmi dibuka pada Selasa (05/05) di Gedung Fakultas Hukum UII. Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam mempererat kolaborasi pemuda lintas negara sekaligus memperkuat hubungan Indonesia dan Türkiye melalui diplomasi budaya dan pendidikan.

Wakil Rektor Bidang Kemitraan dan Kewirausahaan UII, Ir. Wiryono Raharjo, M.Arch., Ph.D., dalam sambutannya menyampaikan bahwa UII yang berdiri sejak 1945 telah memiliki sekitar 30 ribu mahasiswa dan menjalin kerja sama dengan berbagai universitas dunia, termasuk di Türkiye.

Menurutnya, kolaborasi tersebut diwujudkan melalui berbagai program pertukaran akademik seperti Erasmus dan kegiatan bersama lintas disiplin. “Kami juga terlibat dalam program pertukaran akademik dan joint activity, termasuk di bidang arsitektur dan hukum,” ujarnya.

Ia menambahkan, kerja sama yang telah terjalin sebelumnya juga mencakup program pertukaran mahasiswa selama satu bulan antara UII dan universitas di Türkiye yang tidak hanya berfokus pada pembelajaran akademik, tetapi juga penguatan pemahaman budaya. UII berharap kolaborasi internasional ini dapat terus berkembang dan membuka peluang yang lebih luas bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman global.

Sementara itu, perwakilan diaspora Türkiye, Serdar Güner, memperkenalkan Altındağ Youth Center sebagai institusi yang berfokus pada pengembangan potensi generasi muda melalui pendidikan, seni, dan kegiatan sosial. “Kami percaya bahwa pemuda adalah kekuatan terbesar sebuah negara, sehingga perlu didukung melalui berbagai program pengembangan,” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan harapannya agar kolaborasi dengan Indonesia dapat memperkuat pertukaran pengalaman, khususnya di bidang pendidikan, lingkungan, dan pengembangan digital.

Selama program berlangsung, peserta mengikuti berbagai kegiatan edukatif dan interaktif, mulai dari kunjungan ke Pemerintah Kabupaten Sleman dan Dinas Koperasi serta UMKM Kabupaten Sleman, diskusi mengenai pemberdayaan pemuda dan kewirausahaan, hingga pengenalan praktik keberlanjutan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat berbasis komunitas.

Melalui program ini, diharapkan tercipta jejaring internasional yang lebih kuat antara pemuda Türkiye dan Indonesia serta lahir berbagai inisiatif kolaboratif di bidang zero waste, digital volunteerism, dan kewirausahaan pemuda. Program ini menjadi bukti nyata pentingnya peran generasi muda dalam membangun hubungan antarbangsa yang inklusif, berkelanjutan, dan berdampak positif bagi masyarakat global. (NI/DS/AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) kembali dipercaya menjadi tuan rumah dalam ajang Campus League 2026 regional Yogyakarta. Setelah pada tahun 2025 mempertandingkan cabang olahraga futsal, tahun ini kompetisi berfokus pada cabang olahraga bola basket.

Campus League merupakan organisasi independen yang berfokus pada pengembangan potensi mahasiswa melalui kecakapan dan kompetisi olahraga. Ajang ini tidak hanya menjadi ruang bagi mahasiswa untuk berprestasi di bidang olahraga, tetapi juga sebagai sarana pembentukan karakter.

 Kompetisi ini diselenggarakan di Gedung Olahraga (GOR) Ki Bagoes Hadikoesoemo, Kampus Terpadu UII selama tujuh hari mulai tanggal 30 April hingga 7 Mei. Sebanyak 12 kontingen dari perguruan tinggi  di wilayah Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan Jawa Timur turut ambil bagian dalam ajang ini.

Rektor UII, Fathul Wahid dalam sambutannya menekankan pentingnya sportivitas, keseimbangan akademik, serta empati dalam kegiatan olahraga yang melibatkan mahasiswa. Menurutnya, olahraga tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana membangun karakter dan nilai kemanusiaan.

Ia menyampaikan bahwa olahraga memiliki peran penting dalam membentuk sikap saling menghargai dan menjaga etika. “Di dalam olahraga ada nilai sportivitas, saling menghargai, dan kemampuan menerima hasil. Ketika nilai itu hilang, yang muncul justru sikap saling menjatuhkan,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara aktivitas akademik dan non-akademik. Selain itu, empati dan sensitivitas dinilai menjadi hal yang tidak kalah penting dalam membentuk pribadi yang utuh. “Sensitivitas adalah kemampuan untuk melihat yang tidak terlihat dan memahami situasi orang lain, dan ini perlu terus diasah,” tambahnya.

Dengan adanya Campus League 2026 ini, diharapkan tercipta semangat baru bagi mahasiswa untuk terus berkembang, tidak hanya dalam bidang akademik tetapi juga dalam sportivitas dan kepemimpinan. Ajang ini menjadi bukti nyata kolaborasi antarperguruan tinggi dalam mencetak generasi muda yang unggul, berdaya saing, dan berkarakter.

Sebagai tuan rumah, UII berkomitmen untuk terus mendukung berbagai kegiatan positif yang dapat memperkuat ekosistem pembinaan mahasiswa, baik dalam bidang olahraga maupun pengembangan diri secara menyeluruh. (AHR/RS)

Direktorat Kemitraan/Kantor Urusan Internasional (DK/KUI) Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan kegiatan Info Session Study in Taiwan pada Selasa (28/04), sebagai upaya memperluas wawasan internasional mahasiswa terkait peluang studi dan beasiswa di luar negeri, khususnya di Taiwan.

Kegiatan ini menghadirkan perwakilan dari Taiwan Education Center (TEC) Indonesia Yogyakarta Regional Office, M. Bima Aoron Hafiz selaku Manager TEC Indonesia, sebagai narasumber utama. Dalam sesi tersebut, peserta memperoleh informasi mengenai sistem pendidikan tinggi di Taiwan, peluang beasiswa, program pertukaran, hingga kesempatan magang internasional melalui Taiwan Experience Education Program (TEEP).

Dalam pemaparannya, M. Bima Aoron Hafiz menjelaskan bahwa Taiwan menjadi salah satu destinasi studi internasional yang semakin diminati mahasiswa Indonesia karena menawarkan kualitas pendidikan tinggi, lingkungan yang aman, biaya hidup yang relatif terjangkau, serta dukungan kuat bagi mahasiswa internasional. Selain itu, Taiwan juga dikenal unggul dalam bidang teknologi, semikonduktor, inovasi, dan riset global.

Peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai berbagai jenis beasiswa yang tersedia, seperti Ministry of Education (MOE) Taiwan Scholarship, Huayu Enrichment Scholarship (HES), serta berbagai skema beasiswa universitas di Taiwan. Selain itu, dipaparkan pula tahapan pendaftaran, persyaratan dokumen, peluang program berbahasa Inggris, hingga kesempatan belajar bahasa Mandarin secara langsung di Taiwan.

Tidak hanya membahas akademik, sesi ini juga memberikan gambaran mengenai kehidupan mahasiswa internasional di Taiwan, termasuk fasilitas transportasi publik, lingkungan ramah Muslim, peluang kerja paruh waktu, serta prospek karier setelah lulus. Program TEEP turut diperkenalkan sebagai salah satu peluang magang internasional yang memungkinkan mahasiswa memperoleh pengalaman riset, industri, dan budaya di Taiwan.

Melalui kegiatan ini, DK/KUI UII berharap mahasiswa semakin termotivasi untuk memanfaatkan peluang studi internasional dan memperluas jejaring global. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari komitmen UII dalam mendukung internasionalisasi pendidikan serta mempersiapkan mahasiswa agar mampu bersaing di tingkat global. (NI/DS/AHR/RS)

Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Islam Indonesia (UII) kembali melantik 6 dokter baru dalam acara Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Dokter Periode 71 yang diselenggarakan pada Rabu (21/01) di Auditorium Prof. K.H. Abdul Kahar Muzakkir, Kampus Terpadu UII. Hingga periode ini, FK UII telah melantik sebanyak 2.674 dokter yang menegaskan peran UII dalam pengembangan dan peningkatan kualitas bidang kesehatan.

Dalam laporan sumpah dokter yang disampaikan oleh Ketua Program Studi Profesi Dokter UII, dr. Ana Fauziyati, M.Sc., Sp.PD, para dokter baru berasal dari berbagai provinsi di pulau Jawa dari DKI Jakarta hingga Jawa Timur. Tak kalah membanggakan, waktu tempuh pendidikan tercepat diraih dalam waktu 2 tahun 1 bulan 24 hari. Keberhasilan ini juga tidak lepas dari dukungan rumah sakit tempat pendidikan klinik yang tersebar di tiga provinsi yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Rektor UII, Fathul Wahid dalam sambutannya menegaskan pentingnya empati dan sensitivitas dalam prosesi pengambilan sumpah dokter. Ia menyebut sumpah dokter bukan sekadar seremoni, melainkan peristiwa etis yang membawa tanggung jawab besar terhadap kepercayaan pasien dan masyarakat.

Ia menekankan bahwa seorang dokter tidak cukup hanya mengandalkan ilmu medis semata. “Ilmu saja tidak cukup, harus diimbangi dengan kepekaan. Dokter perlu memahami bukan hanya penyakitnya, tetapi juga perasaan, kondisi sosial, dan situasi yang dihadapi pasien,” ujarnya.

Tak lupa, Ia juga mengingatkan bahwa empati harus terus dirawat di tengah tekanan kerja yang tinggi. “Empati bukan sesuatu yang otomatis, tetapi harus terus diasah. Tantangan di lapangan bisa membuat kita kehilangan kepekaan, sehingga penting untuk terus melakukan refleksi diri,” tambahnya.

Di akhir sambutannya, Rektor UII berharap para dokter dapat menjadi tenaga medis yang tidak hanya kompeten, tetapi juga berempati. Dengan demikian, pelayanan yang diberikan tidak hanya berfokus pada penyembuhan, tetapi juga memuliakan kehidupan pasien.

Senada, Dekan FK UII, Dr. dr. Isnatin Miladiyah, M.Kes menegaskan bahwa prosesi Sumpah Dokter ini bukan sekadar seremoni, melainkan momen reflektif yang menandai awal tanggung jawab besar sebagai tenaga medis. Ia menyampaikan bahwa meski jumlah dokter baru hanya enam orang, suasana yang tercipta justru lebih mendalam dan sarat makna.

Isnatin mengingatkan bahwa profesi dokter tidak hanya bertumpu pada ilmu, tetapi juga kepercayaan dan nilai kemanusiaan. Para dokter, menurutnya, akan dihadapkan pada berbagai situasi yang menuntut keputusan tidak hanya tepat secara medis, tetapi juga bijak secara manusiawi.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga empati di tengah perkembangan teknologi dan kompleksitas sistem kesehatan. “Yang akan membedakan Anda bukanlah siapa yang paling pintar, tetapi siapa yang paling mampu tetap hadir sebagai manusia,” ujarnya.

Selain itu, ia menitipkan tiga pesan utama bagi para dokter baru. “Pertama, jangan pernah kehilangan rasa ingin tahu. Kedua, jaga empati Anda seperti menjaga kompetensi. Dan ketiga, ingatlah bahwa kita bukan penyembuh sejati, melainkan perantara,” tegasnya. Ia berharap para lulusan mampu menjadi dokter yang tidak hanya kompeten, tetapi juga berempati dan berintegritas. (AHR/RS)