Program Studi Program Profesi Insinyur (PSPPI) Universitas Islam Indonesia (UII) secara resmi menggelar upacara Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Profesi Insinyur Perdana pada Ahad, (28/06) di Gedung Kuliah Umum Prof. Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII. Momen bersejarah ini menandai kelulusan pertama bagi 88 insinyur profesional sejak program studi ini memperoleh izin penyelenggaraan pada tahun 2025 lalu. Dari total lulusan tersebut, sebanyak 84 orang mengikuti prosesi pengambilan sumpah pada periode ini, dengan rincian 79 orang hadir secara langsung di lokasi acara dan 5 orang mengikuti prosesi secara daring.
Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Kewirausahaan UII, Prof. Ir. Eko Siswoyo, S.T., M.Sc.ES., Ph.D., IPU dalam sambutannya menyampaikan bahwa momentum pelantikan ini bukan sekadar seremoni akademik biasa. Sumpah profesi yang diikrarkan merupakan peneguhan amanah profesional yang membawa tanggung jawab besar kepada masyarakat, bangsa, dan negara.
Prof. Eko juga memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh lulusan, khususnya kepada tiga wisudawan yang berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna 4.00, di mana dua di antaranya mengikuti sumpah pada periode ini, yaitu Aziz Noor, S.T. dan Miftahul Fauziah, S.T., M.T., Ph.D. yang juga merupakan Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) UII Terpilih Periode 2026-2030.
“Sumpah profesi insinyur merupakan peneguhan amanah untuk mengabdikan kompetensi, integritas, dan tanggung jawab bagi kemaslahatan masyarakat. Profesi insinyur memiliki peran strategis dalam pembangunan karena hampir seluruh kemajuan di bidang infrastruktur, energi, industri, teknologi, kesehatan, dan lingkungan lahir dari kontribusi para insinyur. Melalui ilmu pengetahuan dan rekayasa teknologi, insinyur menghadirkan solusi, inovasi, dan karya yang memberi manfaat nyata bagi kehidupan,”ungkap Prof. Eko.
Lebih lanjut, Prof. Eko mengingatkan bahwa tantangan global ke depan menuntut para insinyur untuk selalu inovatif, adaptif, dan mampu berkolaborasi. Beliau berharap para lulusan PSPPI UII mampu menjadi penggerak inovasi dan pelopor pembangunan berkelanjutan yang menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan bangsa.
Sementara itu, Plt. Dekan Fakultas Teknologi Industri (FTI) UII, Dr. Ir. Agus Mansur, S.T., M.Eng.Sc., IPU., dalam sambutannya menyampaikan rasa bangga atas keberhasilan PSPPI dalam mengantarkan para lulusan perdana ini dalam waktu yang relatif singkat sejak izin operasional diterima.
Agus juga menyoroti keunikan angkatan pertama ini yang memiliki sebaran asal daerah dari berbagai wilayah di Indonesia. Dalam pesannya, Agus menekankan pentingnya menjaga nama baik almamater serta komitmen mutlak untuk menjauhi praktik korupsi di dunia kerja.
“Pesan kami, sampaikan yang baik-baik tentang UII dan jadilah insan yang betul-betul memahami dan menjalankan sumpah yang tadi disampaikan.. Harapannya, Anda semua menjadi marketing-marketing kebaikan untuk branding UII menjadi universitas yang betul-betul menjadi kebanggaan umat Islam di dunia,” ujar Agus.
Perwakilan Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Wilayah DIY, Ir. Tri Budi Utama, M.T., PUSDA, IPU, ASEAN Eng., APEC Eng., memberikan apresiasi yang luar biasa atas capaian PSPPI UII yang langsung meluluskan banyak insinyur di angkatan perdananya. PII mengingatkan para insinyur baru bahwa gelar yang disandang hari ini membawa tanggung jawab moral, keselamatan publik, dan kompetensi yang besar. Di tengah era perkembangan teknologi yang melesat cepat seperti kehadiran Artificial Intelligence (AI), nilai-nilai islami dan integritas harus menjadi kompas utama agar ilmu yang dimiliki tidak berbalik menjadi petaka bagi masyarakat.
“Setinggi apapun ilmu yang kita punyai, tanpa nilai-nilai islami tadi, tanpa takut kepada Allah, maka ilmu yang kita dapat justru membahayakan, akan menjadi petaka bagi kita semua. Kualitas sebuah karya engineer itu bukan lagi pilihan, tapi keharusan. Dua hal yang harus dipegang yaitu adaptif agar tetap relevan dalam dunia yang berubah cepat, dan tetaplah berintegritas agar terus berumat serta menyelamatkan kehidupan manusia di seluruh dunia,” pungkas perwakilan PII.
Dengan terlaksananya pengambilan sumpah ini, PSPPI UII membuktikan komitmen nyatanya dalam mencetak menjadi insinyur profesional yang berintegritas. Upacara yang berlangsung dengan penuh rasa syukur ini menjadi tonggak sejarah penting bagi UII dalam terus berkontribusi melahirkan inovasi dan solusi nyata demi kemaslahatan umat dan bangsa. (AHR/RS)
Torehkan Sejarah, PSPPI UII Lantik 84 Insinyur pada Prosesi Pengambilan Sumpah Perdana
Program Studi Program Profesi Insinyur (PSPPI) Universitas Islam Indonesia (UII) secara resmi menggelar upacara Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Profesi Insinyur Perdana pada Ahad, (28/06) di Gedung Kuliah Umum Prof. Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII. Momen bersejarah ini menandai kelulusan pertama bagi 88 insinyur profesional sejak program studi ini memperoleh izin penyelenggaraan pada tahun 2025 lalu. Dari total lulusan tersebut, sebanyak 84 orang mengikuti prosesi pengambilan sumpah pada periode ini, dengan rincian 79 orang hadir secara langsung di lokasi acara dan 5 orang mengikuti prosesi secara daring.
Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Kewirausahaan UII, Prof. Ir. Eko Siswoyo, S.T., M.Sc.ES., Ph.D., IPU dalam sambutannya menyampaikan bahwa momentum pelantikan ini bukan sekadar seremoni akademik biasa. Sumpah profesi yang diikrarkan merupakan peneguhan amanah profesional yang membawa tanggung jawab besar kepada masyarakat, bangsa, dan negara.
Prof. Eko juga memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh lulusan, khususnya kepada tiga wisudawan yang berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna 4.00, di mana dua di antaranya mengikuti sumpah pada periode ini, yaitu Aziz Noor, S.T. dan Miftahul Fauziah, S.T., M.T., Ph.D. yang juga merupakan Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) UII Terpilih Periode 2026-2030.
“Sumpah profesi insinyur merupakan peneguhan amanah untuk mengabdikan kompetensi, integritas, dan tanggung jawab bagi kemaslahatan masyarakat. Profesi insinyur memiliki peran strategis dalam pembangunan karena hampir seluruh kemajuan di bidang infrastruktur, energi, industri, teknologi, kesehatan, dan lingkungan lahir dari kontribusi para insinyur. Melalui ilmu pengetahuan dan rekayasa teknologi, insinyur menghadirkan solusi, inovasi, dan karya yang memberi manfaat nyata bagi kehidupan,”ungkap Prof. Eko.
Lebih lanjut, Prof. Eko mengingatkan bahwa tantangan global ke depan menuntut para insinyur untuk selalu inovatif, adaptif, dan mampu berkolaborasi. Beliau berharap para lulusan PSPPI UII mampu menjadi penggerak inovasi dan pelopor pembangunan berkelanjutan yang menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan bangsa.
Sementara itu, Plt. Dekan Fakultas Teknologi Industri (FTI) UII, Dr. Ir. Agus Mansur, S.T., M.Eng.Sc., IPU., dalam sambutannya menyampaikan rasa bangga atas keberhasilan PSPPI dalam mengantarkan para lulusan perdana ini dalam waktu yang relatif singkat sejak izin operasional diterima.
Agus juga menyoroti keunikan angkatan pertama ini yang memiliki sebaran asal daerah dari berbagai wilayah di Indonesia. Dalam pesannya, Agus menekankan pentingnya menjaga nama baik almamater serta komitmen mutlak untuk menjauhi praktik korupsi di dunia kerja.
“Pesan kami, sampaikan yang baik-baik tentang UII dan jadilah insan yang betul-betul memahami dan menjalankan sumpah yang tadi disampaikan.. Harapannya, Anda semua menjadi marketing-marketing kebaikan untuk branding UII menjadi universitas yang betul-betul menjadi kebanggaan umat Islam di dunia,” ujar Agus.
Perwakilan Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Wilayah DIY, Ir. Tri Budi Utama, M.T., PUSDA, IPU, ASEAN Eng., APEC Eng., memberikan apresiasi yang luar biasa atas capaian PSPPI UII yang langsung meluluskan banyak insinyur di angkatan perdananya. PII mengingatkan para insinyur baru bahwa gelar yang disandang hari ini membawa tanggung jawab moral, keselamatan publik, dan kompetensi yang besar. Di tengah era perkembangan teknologi yang melesat cepat seperti kehadiran Artificial Intelligence (AI), nilai-nilai islami dan integritas harus menjadi kompas utama agar ilmu yang dimiliki tidak berbalik menjadi petaka bagi masyarakat.
“Setinggi apapun ilmu yang kita punyai, tanpa nilai-nilai islami tadi, tanpa takut kepada Allah, maka ilmu yang kita dapat justru membahayakan, akan menjadi petaka bagi kita semua. Kualitas sebuah karya engineer itu bukan lagi pilihan, tapi keharusan. Dua hal yang harus dipegang yaitu adaptif agar tetap relevan dalam dunia yang berubah cepat, dan tetaplah berintegritas agar terus berumat serta menyelamatkan kehidupan manusia di seluruh dunia,” pungkas perwakilan PII.
Dengan terlaksananya pengambilan sumpah ini, PSPPI UII membuktikan komitmen nyatanya dalam mencetak menjadi insinyur profesional yang berintegritas. Upacara yang berlangsung dengan penuh rasa syukur ini menjadi tonggak sejarah penting bagi UII dalam terus berkontribusi melahirkan inovasi dan solusi nyata demi kemaslahatan umat dan bangsa. (AHR/RS)
Temu Alumni Nasional FIAI UII: Ajang Merajut Kenangan dan Membangun Sinergi Strategis
Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) Universitas Islam Indonesia (UII) telah selesai menggelar acara Temu Alumni Nasional bertajuk “Pulang ke FIAI: Merajut Kenangan, Membangun Sinergi, Menyambung Persaudaraan” pada Sabtu (27/6) secara hybrid di Auditorium Gedung KH. Wahid Hasyim Lantai 5 FIAI UII dan zoom meeting. Acara ini dirancang sebagai wadah bagi para alumni FIAI UII untuk kembali merajut memori, bertukar wawasan serta memperkokoh tali silaturahmi antar alumni.
Kegiatan Temu Alumni Nasional FIAI ini dihadiri oleh pembicara yang hadir dan merupakan alumni FIAI UII yang kini telah berkiprah di berbagai macam bidang profesi. Para pembicara tersebut adalah Dr. Iman Syukri, S.H.I., M.Hum selaku Anggota DPR-RI), Prof. Dr. Fahrurozi, S.Ag., M.Ag selaku Dosen UIN Walisongo, Dr. Achmad Fausi, S.H.I., M.Hum selaku Ketua Pengadilan Agama Probolinggo, Dr. Komaruzzaman, S.Pd.I., M.Pd selaku Pengasuh Pesantren Al-Itqon Banten), Ridwan MY selaku Konsultan dan Soya Sobya, S.E.I., M.M, selaku dosen FIAI UII.
Acara dimulai dengan Live Music dan penayangan kompilasi foto dan video. Sesi ini dirancang untuk memantik memori para alumni, sekaligus menghadirkan kembali atmosfer hangat masa-masa perkuliahan di lingkungan FIAI UII. Setelah acara dibuka secara resmi, Sabiqul Khair, S.HI.,M.Si sebagai Ketua Panitia Temu Alumni memberikan sambutan yang terasa begitu hangat. Ia menyapa para alumni secara interaktif dengan mengabsen kehadiran peserta berdasarkan tahun angkatan. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa acara temu alumni dirangkai menjadi tiga acara utama, yaitu sarasehan alumni, pelantikan Pengurus IKA FIAI UII, dan Camping Ground di Teras Merapi. Tiga kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk mempererat tali silaturahmi antara alumni dan almamater.
Wakil Dekan Bidang Sumber Daya FIAI UII, Dr. H. Nur Kholis, S.Ag., S.E.I., M.Sh.Ec. menyampaikan ahlan wa sahlan sebagai perwakilan dari keluarga FIAI UII kepada para alumni yang telah hadir. Dalam sambutannya, ia banyak bercerita mengenai sejarah fakultas yang dulunya memiliki nama Fakultas Syari’ah kini berubah menjadi Fakultas Ilmu Agama Islam. Dengan mencetak begitu banyak alumni yang berprestasi, FIAI UII kini telah membuka program Magister Hukum Islam dan Magister Pendidikan Agama Islam.
Berikutnya, sesi sarasehan yang dimoderatori oleh Edi Safitri, S.Ag., M.S.I berlangsung hangat. Para pembicara membawakan topik yang berbeda-beda. Pertama, terkait pentingnya sinergi dan pemetaan data, para pembicara menekankan perlunya database alumni yang komprehensif agar jejaring lulusan dapat diberdayakan secara maksimal untuk membantu adik-adik mahasiswa, baik dalam hal magang, mentoring, maupun informasi karier. Selain itu, terdapat pula usulan agar fakultas melakukan terobosan dengan membentuk laboratorium praktik atau pusat karier yang dapat menjembatani dunia kampus dengan kebutuhan dunia kerja nyata, sekaligus menjaga identitas serta ruh keilmuan fakultas di tengah berbagai tantangan perubahan struktural.
Beberapa diantaranya menyampaikan saran dan masukan untuk IKA FIAI UII. Mereka mengusulkan agar ikatan alumni tidak hanya berhenti pada pembentukan struktur organisasi formal, tetapi harus memiliki program kerja nyata yang dapat dieksekusi dengan baik dan berkelanjutan. Para peserta juga menyampaikan hal yang sama, yakni harapan besar agar diskusi hari ini menjadi momentum nyata untuk memperkuat sinergi antara fakultas dan alumni.
Acara sarasehan alumni kemudian ditutup dengan pemberian cinderamata kepada enam pembicara dan moderator yang diberikan langsung oleh Dr. Nurjihad, S.H., M.H., Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Keislaman, dan Kealumnian, dan juga Dekan FIAI UII, Dr. Drs. Asmuni, M.A. Melalui jejaring yang semakin solid dan sinergi yang terjalin, FIAI UII diharapkan mampu terus mencetak lulusan yang tidak hanya kompeten di bidangnya, tetapi juga memiliki daya saing tinggi, relevan dengan kebutuhan zaman, serta tetap membawa marwah keislaman ke mana pun mereka berkiprah di tengah masyarakat. (NKA/AHR/RS)
DPP IKA UII Lantik Pengurus IKA FIAI: Perkuat Sinergi dan Peran Strategis Alumni
Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Universitas Islam Indonesia (UII), sebuah wadah resmi bagi para lulusan UII untuk menjalin jejaring dan mempererat persaudaraan, telah selesai menyelenggarakan acara Pelantikan Pengurus IKA Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) UII pada Sabtu (27/06) di Auditorium Gedung KH. Wahid Hasyim Lantai 5 FIAI UII. Prosesi pelantikan ini menandai babak baru bagi kepengurusan IKA FIAI UII dalam memperkuat peran alumni sebagai jembatan strategis antara almamater dan masyarakat.
Dalam pelantikan ini, sebanyak 39 (tiga puluh sembilan) pengurus dengan rincian 3 (tiga) Dewan Penasihat, 1 (satu) Ketua, 1 (satu) Ketua Harian, 1 (satu) Sekretaris, 2 (dua) Bendahara, 1 (satu) Bidang Kelembagaan & Alumni, 4 (empat) Bidang Humas, Komunikasi & Informasi, 1 (satu) Bidang Kajian & Riset, 3 (tiga) Bidang Dakwah, 1 (satu) Koordinator Bidang Ekonomi, 1 (satu) Koordinator Bidang Pendidikan Islam, 1 (satu) Koordinator Bidang Hukum Islam dan 19 (sembilan belas) Koordinator Wilayah IKA FIAI UII.
Melalui arahannya, Drs. Aden Wijdan Syarif Zaidan, M.Si., yang menjabat sebagai Wakil Ketua III DPP IKA UII, menyampaikan apresiasi atas sinergi yang terbangun. Ia menekankan bahwa pelantikan ini merupakan bukti konkret keseriusan alumni dalam mendukung pengembangan institusi.
”Ini adalah bukti betapa penting dan seriusnya peran alumni dalam penguatan serta pengembangan universitas. Alumni adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam melaksanakan kawasan kehebatan dan kebersamaan di lingkungan UII,” ujarnya.
Senada dengan hal tersebut, Dekan FIAI UII, Dekan FIAI UII Dr. Drs. Asmuni, M.A memberikan penekanan khusus mengenai posisi strategis IKA FIAI dalam ekosistem universitas. Ia mengibaratkan alumni sebagai hamzatul washli atau penghubung antara perguruan tinggi dan masyarakat luas. Menjelang satu abad usia UII, ia mengajak seluruh pengurus untuk mengubah paradigma dalam berkontribusi.
”Saya mengharapkan pada saat UII mencapai satu abad, fakultas-fakultas tidak lagi berbaris dari depan ke belakang, melainkan membentuk barisan melingkar. Dengan begitu, semuanya setara dan maju bersama. IKA FIAI tidak harus fokus pada margin finansial, melainkan harus tampil di depan untuk memberikan margin keilmuan dalam kerangka membangun peradaban yang kokoh sesuai pesan para pendiri UII,” tegasnya dalam sambutannya.
Dr. Nurjihad, S.H., M.H.. Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Keislaman, dan Kealumnian dalam sambutan selanjutnya menyampaikan apresiasi mendalam atas inisiatif penyelenggaraan kegiatan ini. Ia menekankan bahwa alumni adalah aset strategis yang keberadaannya tersebar di berbagai sektor krusial, mulai dari dakwah, pemerintahan, bisnis, hingga pemberdayaan masyarakat.
”Alumni adalah aset strategis universitas. Mereka yang tersebar di berbagai bidang ini merupakan modal sosial yang kuat. Melalui kegiatan ini, kita berharap terjalin sinergi yang lebih erat, lahir gagasan-gagasan baru, serta terbuka ruang kolaborasi yang lebih luas antara alumni, fakultas, dan universitas,” ujarnya.
Acara pelantikan yang berlangsung khidmat ini diakhiri dengan prosesi sumpah jabatan yang dipandu oleh perwakilan DPP IKA UII. Para pengurus yang dilantik berkomitmen untuk memegang teguh syariat Islam dan nilai-nilai ke-UII-an dalam menjalankan amanah organisasi selama periode jabatan ke depan. Dengan resmi dilantiknya kepengurusan ini, IKA FIAI UII diharapkan mampu menjadi kanal komunikasi peradaban sekaligus jantung spiritualitas yang memberikan kontribusi berkelanjutan bagi umat dan bangsa. (NKA/AHR/RS)
UII Wisuda 565 Lulusan, Bekali Alumni Hadapi Tantangan Masa Depan
Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar wisuda jenjang Doktor, Sarjana, dan Diploma Periode V Tahun Akademik 2025/2026 yang diselenggarakan pada Sabtu (27/06) di Auditorium Prof. K.H. Abdul Kahar Mudzakkir. Pada periode kali ini, UII mewisuda 565 wisudawan yang terdiri atas 7 lulusan program doktor, 101 magister, 452 sarjana, 4 sarjana terapan, dan 1 diploma. Dengan wisuda kali ini, UII telah meluluskan 137.931 alumni yang berkiprah dalam berbagai peran baik dalam negeri maupun mancanegara.
Dalam sambutannya, Rektor UII, Prof. Dr. Ir. Hari Purnomo, M.T., IPU., ASEAN Eng. mengucapkan selamat kepada seluruh wisudawan atas keberhasilan menyelesaikan pendidikan. Menurutnya, wisuda bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan awal perjalanan untuk terus bertumbuh dan memberikan manfaat bagi masyarakat. “Wisuda bukanlah garis akhir dari proses pembelajaran, melainkan titik awal dari perjalanan yang lebih luas. Gelar yang Saudara peroleh hari ini bukanlah garis akhir, melainkan amanah untuk terus belajar, beradaptasi, dan memberikan kontribusi terbaik bagi lingkungan di mana Saudara berada,” ujarnya.
Prof. Hari menambahkan bahwa lulusan UII akan menghadapi dunia yang terus berubah akibat perkembangan teknologi, kecerdasan buatan (AI), transformasi ekonomi, dan dinamika sosial global. Karena itu, ia mengajak para alumni untuk terus mengembangkan growth mindset, menjaga integritas, serta menjadikan nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan keilmuan sebagai pedoman dalam berkarya.
Sementara itu, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Keluarga Alumni (IKA) UII, Dr. Ari Yusuf Amir, S.H., M.H., mengingatkan bahwa wisuda merupakan awal perjalanan sebagai bagian dari keluarga besar alumni UII. Menurutnya, para lulusan saat ini memasuki dunia yang penuh tantangan sehingga dibutuhkan kemampuan untuk terus belajar, beradaptasi, dan menjaga karakter.
“Pada titik itu, karakter kita akan dibentuk sekaligus diuji. Apakah kita akan memilih pesimis atau maju sebagai pelopor perubahan. Sejarah mengajarkan kepada kita bahwa tidak ada generasi besar yang lahir dari masa-masa yang sepenuhnya nyaman. Justru dari situasi sulit itulah lahir para pemimpin, ilmuwan, ulama, pengusaha, dan tokoh-tokoh perubahan yang mengukir sejarah bangsanya,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Ari juga mengajak para alumni untuk terus membangun karakter, menjaga integritas, dan memperluas jejaring profesional melalui IKA UII yang kini telah hadir di 34 provinsi, 80 kabupaten/kota, 22 badan otonom, serta satu perwakilan di luar negeri. Menurutnya, jejaring alumni bukan sekadar organisasi, melainkan ekosistem kolaborasi yang dapat membuka peluang, saling menguatkan, dan menghadirkan kebermanfaatan bagi masyarakat.
Melalui prosesi wisuda ini, UII berharap para lulusan mampu menjadi insan pembelajar sepanjang hayat yang adaptif terhadap perubahan, berintegritas, serta terus menghadirkan kontribusi nyata bagi bangsa, masyarakat, dan kemanusiaan. (AHR/RS)
Serah Terima Kepala UII Press Tandai Regenerasi Kepemimpinan
Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan serah terima jabatan Kepala UII Press pada Kamis (25/6) di Ruang Sidang Lantai 3 Gedung GBPH. Prabuningrat, Kampus Terpadu UII. Pada kesempatan tersebut, Ajeng Yulianti Dwi Lestari, S.T., M.T., menyerahkan amanah Kepala UII Press kepada Dr. Listya Endang Artiani, S.E., M.Si.
Ajeng Yulianti Dwi Lestari telah memimpin UII Press selama dua periode, yaitu 2018–2022 dan 2022–2026. Serah terima jabatan ini menjadi bagian dari proses regenerasi kepemimpinan untuk melanjutkan pengembangan dan penguatan peran UII Press dalam mendukung kegiatan akademik di lingkungan UII.
Wakil Rektor Bidang Keuangan, Sumber Daya, dan Keberlanjutan UII, Prof. Rifqi Muhammad, S.E., M.Sc., Ph.D., menyampaikan apresiasi atas kontribusi yang telah diberikan selama masa kepemimpinan Ajeng Yulianti. Ia juga menekankan pentingnya inovasi layanan agar UII Press mampu menjawab kebutuhan sivitas akademika di tengah perkembangan teknologi dan dunia penerbitan yang terus berubah.
Sementara itu, Ajeng Yulianti Dwi Lestari memaparkan kondisi terkini UII Press serta berbagai perkembangan yang berhasil dicapai selama masa kepemimpinannya. Menanggapi hal tersebut, Kepala UII Press yang baru, Listya Endang Artiani, menyatakan komitmennya untuk melanjutkan dan menuntaskan berbagai program yang telah dirintis. Selain itu, ia juga berharap dapat menghadirkan sejumlah inovasi guna memperkuat layanan dan pengembangan UII Press pada masa mendatang.
Melalui pergantian kepemimpinan ini, UII berharap UII Press dapat terus meningkatkan kualitas layanan penerbitan dan memperkuat kontribusinya dalam mendukung diseminasi ilmu pengetahuan serta publikasi karya akademik di lingkungan universitas. (NA/AHR/RS)
FH UII Gelar Pelepasan dan Pembekalan Alumni Periode Juni 2026
Fakultas Hukum (FH)Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan acara Pelepasan dan Pembekalan Alumni Periode V Tahun Akademik 2025/2026 pada Kamis (25/6) di Auditorium Lantai 4 FH UII. Kegiatan ini mengusung tema “Konsisten Mencetak Profil Lulusan yang Unggul, Berintegritas, dan Berdaya Saing Global.”
Acara tersebut diikuti oleh para alumni dari tiga jenjang pendidikan di lingkungan FH UII, yaitu Program Studi Hukum Program Sarjana (PSHPS), Program Studi Hukum Program Magister (PSHPM), dan Program Studi Hukum Program Doktor (PSHPD).
Dalam sesi pembekalan, hadir tiga narasumber yang merupakan akademisi dan praktisi di lingkungan Fakultas Hukum UII. Pembicara pertama, Muhammad Hanif, S.H., M.H., alumni FH UII sekaligus founder partner Firmly Law Firm menyampaikan materi yang menekankan pentingnya integritas dan profesionalisme bagi lulusan hukum. “Jangan hinakan gelar yang teman-teman peroleh dengan melakukan tindakan yang bertentangan dengan hukum, bertentangan dengan etika, dan bertentangan dengan integritas,” ujarnya. Ia mengingatkan bahwa seorang sarjana hukum tidak hanya dituntut memiliki kemampuan akademik yang baik, tetapi juga harus menjunjung tinggi nilai-nilai etika dan tanggung jawab dalam menjalankan profesinya.
Selanjutnya, sebagai pembicara kedua, Ali Rido, S.H., M.H., alumni FH UII sekaligus dosen Universitas Trisakti memberikan pandangan mengenai tantangan dunia kerja dan perkembangan profesi hukum di tengah dinamika masyarakat serta perkembangan teknologi, salah satunya adalah Artificial Intelligence (AI). “Kalau kita tidak punya perbendaharaan ilmu dan kemampuan analisis yang cukup, maka AI hanya akan memberikan informasi biasa. Kualitas pertanyaan menunjukkan kualitas cara berpikir kita,” ungkapnya. Di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI), ia menilai kemampuan berpikir kritis tetap menjadi modal utama yang tidak dapat digantikan teknologi.
Sementara itu, Direktur Pengembangan Karier dan Alumni UII, Allan Fatchan Gani Wardhana, S.H., M.H., menyoroti masih rendahnya angka partisipasi pendidikan tinggi di Indonesia. Ia menyebut hanya sekitar 10,8 persen masyarakat Indonesia yang berhasil menempuh pendidikan tinggi sehingga para lulusan perguruan tinggi memiliki tanggung jawab yang besar di tengah masyarakat. Ia juga mendorong para wisudawan untuk menjadi lulusan yang unggul dan profesional. Menurutnya, profesionalisme ditunjukkan melalui kemampuan bekerja melampaui ekspektasi. “Orang yang profesional adalah dia yang bisa bekerja melampaui ekspektasi orang lain,” ujarnya. Terakhir, Ia juga mengingatkan para lulusan agar mempersiapkan diri untuk bersaing di tingkat internasional dan menurutnya, negara-negara di kawasan Asia Tenggara, khususnya Singapura, dapat menjadi salah satu tujuan strategis untuk mengembangkan karier di tingkat global.
Kegiatan pelepasan dan pembekalan ini menjadi momentum penting bagi para lulusan sebelum memasuki dunia profesional maupun melanjutkan pengabdian di masyarakat. Acara ditutup dengan pesan kepada para alumni agar senantiasa menjaga nilai-nilai keislaman yang menjadi ciri khas lulusan UII dalam menjalankan profesi hukum. Fakultas Hukum UII berharap para alumni mampu menjadi insan hukum yang adaptif, berintegritas, dan berdaya saing global serta membawa nama baik almamater di tengah masyarakat. (JP/AHR/RS)
PAI UII Bedah Novel Sekolah Terakhir, Refleksikan Makna dan Masa Depan Pendidikan
Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar kegiatan Selasar Kontemplasi: Membedah Makna dan Masa Depan Pendidikan dengan membahas novel Sekolah Terakhir karya Prof. Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D., dosen sekaligus Guru Besar Jurusan Informatika UII. Kegiatan yang berlangsung pada Kamis (25/06) di Laboratorium Program Studi PAI, Gedung K.H.A. Wahid Hasyim, Kampus Terpadu UII, tersebut menghadirkan Kurniawan Dwi Saputra, Lc., M.Hum., dosen Program Studi PAI UII, sebagai pembahas dan diikuti oleh dosen, mahasiswa, serta sivitas akademika UII. Melalui forum ini, peserta diajak merefleksikan berbagai persoalan pendidikan sekaligus mendalami gagasan yang diangkat dalam novel tersebut.
Dalam paparannya, Prof. Fathul Wahid menjelaskan bahwa novel Sekolah Terakhir lahir dari kegelisahannya terhadap berbagai praktik pendidikan yang semakin berorientasi pada kompetisi dan capaian formal. Melalui novel tersebut, ia ingin menghadirkan alternatif cara pandang mengenai pendidikan yang lebih memanusiakan. “Kita mungkin tidak bisa mengubah semuanya, tetapi kita bisa melakukan perlawanan-perlawanan kecil dengan menyuntikkan nilai dan membingkai ulang praktik pendidikan. Saya percaya perubahan besar sering kali dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten,” ujarnya.
Fathul menambahkan bahwa berbagai tokoh dan peristiwa dalam novel banyak terinspirasi dari pengalaman, pengamatan, serta dialog dengan komunitas pendidikan. Menurutnya, pendidikan tidak semata-mata berlangsung di ruang kelas, tetapi juga tumbuh melalui interaksi sosial dan pengalaman hidup yang membentuk karakter seseorang.
Lebih lanjut, Kurniawan selaku pembahas menilai Sekolah Terakhir berhasil menghadirkan kritik terhadap pendidikan modern sekaligus memperluas makna belajar. “Novel ini merupakan kritik terhadap neoliberalisme pendidikan dan memperluas ruang pembelajaran, dari ruang kelas ke sawah, lapangan, hingga kehidupan sehari-hari. Novel ini mengingatkan kita bahwa belajar tidak selalu harus berlangsung dalam ruang-ruang formal yang selama ini dianggap sebagai satu-satunya tempat memperoleh pengetahuan,” ungkapnya.
Selain mengapresiasi gagasan yang diangkat, Kurniawan juga memberikan sejumlah masukan terkait pendalaman karakter dan eksplorasi konteks sosial budaya dalam cerita. Menurutnya, penguatan latar belakang tokoh serta kearifan lokal yang hidup di masyarakat dapat semakin memperkaya narasi dan memperluas perspektif pembaca mengenai pendidikan.
Melalui diskusi ini, peserta diajak melihat pendidikan tidak hanya sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai upaya membangun kesadaran sosial, karakter, dan kemanusiaan. Novel *Sekolah Terakhir* diharapkan dapat menjadi medium refleksi sekaligus membuka ruang dialog mengenai masa depan pendidikan Indonesia yang lebih inklusif dan berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan. (AHR/RS)
PBI Digital Inovatif UII Hadirkan Kalis Mardiasih, Bahas Karier dan Dampak Sosial Melalui Literasi
Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Digital Inovatif Universitas Islam Indonesia dalam acara PBI UII Connect 2026 menggelar talkshow interaktif berjudul “Beyond the Classroom: How Language, Literacy, and Communication Shape Careers and Social Impact” bersama penulis dan aktivis nasional, Kalis Mardiasih, yang dipandu oleh Banatul Murtafi’ah, S.Pd., M.Pd. pada Rabu (24/06) di Gedung Kuliah Umum Prof. Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII.
Dalam sesinya, Mbak Kalis, begitu panggilan akrab dari Kalis Mardiasih membedah pentingnya penguasaan bahasa, literasi, dan kemampuan berpikir kritis di era modern. Ia menegaskan bahwa keahlian lulusan PBI dalam mengembangkan kurikulum hingga merumuskan asesmen merupakan kompetensi bernilai tinggi yang selalu dibutuhkan oleh berbagai sektor industri berkelanjutan.
“Industri pendidikan itu salah satu industri yang enggak akan pernah mati sampai kapanpun karena dia adalah kebutuhan dasar kita sebagai manusia, kebutuhan dasar sebagai warga negara,” ujar Mbak Kalis dalam sesinya. Ia menekankan bahwa alumni PBI memiliki cakupan ilmu yang luas karena tidak hanya dibekali kemampuan bahasa, melainkan juga filosofi pendidikan hingga psikologi yang membuat peluang kariernya sangat terbuka lebar di berbagai sektor.
Suasana diskusi berjalan interaktif saat memasuki sesi tanya jawab bersama guru-guru dari sekolah mitra yang hadir. Beberapa poin krusial yang diangkat di antaranya adalah tantangan guru dalam memotivasi minat literasi siswa di tengah gempuran kecerdasan buatan (AI) yang mulai mengikis kemampuan berpikir kritis, hingga cara memberikan pemahaman kepada orang tua siswa mengenai luasnya potensi karier di bidang pendidikan bahasa Inggris demi mematahkan stigma kaku yang selama ini beredar di masyarakat.
Sebagai bentuk nyata perluasan jejaring, PBI Digital Inovatif UII juga melaksanakan prosesi penandatanganan kerja sama resmi oleh Dekan Fakultas Ilmu Sosial Budaya (FISB) UII, Prof. Dr.rer.soc. Masduki, S.Ag., M.Si bersama para mitra strategis. Beberapa pimpinan instansi yang hadir secara langsung untuk pengesahan di antaranya adalah Bapak Alvan Bastoni Nuradilla dari PT PeMad International Transearch, Bapak Rudi Haryanto dari MAN 3 Sleman, serta Bapak Dwi Handoko Arthanto, S.T., M.T. dari Dinas Pariwisata DIY.
Selain kerja sama tersebut, PBI Digital Inovatif UII ke depan juga berencana untuk memperluas kemitraan formal melalui MoU dengan instansi kedinasan lainnya, termasuk Dinas Pendidikan wilayah Sleman. Seluruh rangkaian PBI UII Connect 2026 ini kemudian ditutup dengan ramah tamah dan agenda Candi Tour di Gedung Mohammad Hatta, Perpustakaan dan Museum UII. (KS/AHR/RS)
PBI UII Luncurkan Jenama Baru sebagai Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Digital Inovatif
Jurusan/Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Universitas Islam Indonesia (UII) resmi meluncurkan identitas baru sebagai Pendidikan Bahasa Inggris Digital Inovatif dalam acara PBI UII Connect 2026 yang digelar pada Rabu (24/06) di Gedung Kuliah Umum Prof. Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII. Penjenamaan ulang (rebranding) ini menjadi bagian dari upaya PBI UII untuk memperkuat relevansi pendidikan bahasa Inggris di tengah perkembangan teknologi digital dan perubahan kebutuhan dunia kerja yang semakin dinamis.
Dekan Fakultas Ilmu Sosial Budaya (FISB) UII, Prof. Dr. rer. soc. Masduki, S.Ag., M.Si. menyampaikan bahwa penjenamaan ulang tersebut merupakan langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan dan kematangan program studi. Menurutnya, terdapat tiga aspek utama yang harus terus dijaga oleh institusi pendidikan, yakni kualitas, integritas, dan relevansi. “Hari ini kami memulai sesuatu yang baru. PBI harus terus menjaga kualitas, integritas akademik, dan relevansi agar mampu menjawab kebutuhan dunia yang terus berubah,” ujarnya.
Prof. Masduki menambahkan bahwa PBI UII tidak hanya berfokus pada penguatan kompetensi akademik mahasiswa, tetapi juga pembentukan karakter, etika, dan integritas sebagai bekal menghadapi masa depan.
Lebih lanjut, Ketua Jurusan/ Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris UII, Puji Rahayu, S.Pd., MLST., Ph.D.menjelaskan bahwa identitas Digital Inovatif dipilih berdasarkan rekam jejak pengembangan akademik, penelitian, dan kiprah alumni yang banyak berkecimpung di bidang pendidikan serta teknologi digital.
Puji menjelaskan bahwa kurikulum yang diterapkan di PBI UII berbasis capaian pembelajaran (outcome-based education) dan didukung berbagai program internasional, seperti praktik mengajar di negara-negara ASEAN, pertukaran mahasiswa, serta kolaborasi dengan perguruan tinggi di dalam dan luar negeri. “Kami ingin mempersiapkan mahasiswa sebagai global educator yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat global,” jelas Puji.
Berbagai capaian juga telah diraih PBI UII selama lebih dari satu dekade perjalanan program studi. Saat ini PBI UII telah meraih akreditasi Unggul, didukung dosen dengan reputasi nasional dan internasional, serta menghasilkan puluhan publikasi ilmiah dan karya akademik. Mahasiswa dan alumninya juga memiliki pengalaman global melalui program internasional di berbagai negara, serta berhasil melanjutkan studi dan berkarier di institusi nasional maupun internasional.
Beragam kegiatan turut memeriahkan PBI Connect 2026, di antaranya talkshow bersama Kalis Mardiasih, penandatanganan MoA dengan mitra strategis, pertunjukan fragmen teater dan storytelling, pameran karya mahasiswa, serta demonstrasi AI untuk pembelajaran. Acara kemudian ditutup dengan Candi Tour ke sejumlah ikon Kampus Terpadu UII, seperti Gedung Mohammad Hatta, Perpustakaan, dan Museum UII.
Melalui identitas baru tersebut, PBI UII berharap dapat memperkuat posisinya sebagai program studi yang adaptif terhadap perkembangan zaman sekaligus tetap berakar pada kualitas akademik yang kuat. Dengan mengusung semangat digital dan inovasi, PBI UII berkomitmen untuk terus menghadirkan pendidikan bahasa Inggris yang relevan, berdampak, dan mampu melahirkan lulusan yang siap berkontribusi di tingkat nasional maupun global. (AHR/RS)
Mengupas Potensi Inovasi Bahan Baku Obat dan Transformasi Pendidikan Farmasi
Jurusan Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Universitas Islam Indonesia (UII) telah selesai selenggarakan kuliah umum yang menghadirkan dua pakar terkemuka di bidang farmasi. Acara ini menampilkan Prof. Dr. Andria Agusta dari Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Prof. Dr. apt. Yandi Syukri, S.Si., M.Si., selaku Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Farmasi Indonesia (APTFI). Acara ini digelar pada Selasa (23/06) di Ruang Teatrikal Lt. 2 Gedung Kuliah Umum Dr. Sardjito UII dan dihadiri oleh 100 mahasiswa Farmasi UII.
Dalam sesi pertama, Prof. Andria menjelaskan mengenai potensi besar mikroba endofit sebagai sumber inovasi bahan baku obat masa depan. Mikroba endofit, yakni mikroorganisme yang hidup di dalam jaringan tumbuhan tanpa menimbulkan efek negatif pada inangnya, kini menjadi fokus utama riset penemuan obat. Dalam pemaparannya, Prof. Andria menjelaskan bahwa mikroba ini memproduksi metabolit sekunder sebagai senjata pertahanan diri untuk melawan patogen, yang berpotensi dikembangkan menjadi obat-obatan.
Mengenai fenomena tersebut, Prof. Andria menyatakan, “Ketika di daerah yang berlawanan dengan mikroba lain dia memproduksi sesuatu, ini adalah indikasi bahwa dia juga memproduksi chemical weapon yang berwarna yang mudah kita amati dengan mata biasa,” ungkapnya.
Penelitian tersebut telah membuahkan hasil nyata, di mana senyawa seperti episitoskirin dan bislunatin terbukti memiliki aktivitas antibakteri, antimalaria, hingga antikanker yang kuat. Melalui teknik biokonversi, Prof. Andria menegaskan bahwa pihaknya terus berupaya memperbaiki profil farmakologi senyawa tersebut agar lebih efektif dan dapat dimanfaatkan untuk kemandirian bahan baku obat nasional.
Selaras dengan paparan tersebut, Prof. Dr. Apt. Yandi Syukri, M.Si., menyoroti pentingnya transformasi pendidikan tinggi farmasi dalam menghadapi tantangan zaman, seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), dan tingginya ketergantungan impor bahan baku obat. Prof. Yandi menekankan bahwa kampus tidak boleh lagi sekadar menjadi tempat belajar, tetapi harus bertransformasi menjadi pusat inovasi dan penyedia solusi bagi ekosistem kesehatan nasional. Menurutnya, kolaborasi antara akademisi, industri, pemerintah, dan lembaga riset seperti BRIN sangat penting untuk memastikan riset yang dihasilkan dapat dihilirisasi menjadi produk yang bermanfaat bagi masyarakat.
Menutup paparannya, Prof. Yandi memberikan pesan inspiratif bagi para mahasiswa agar tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga peneliti muda, inovator, dan agen perubahan yang siap berkontribusi bagi bangsa. (NKA/AHR/RS)