Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menggelar kegiatan ziarah ke makam para pendiri dan tokoh UII pada Selasa (05/05). Kegiatan ini diikuti oleh pimpinan UII bersama dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, hingga purnatugas dalam rangka Milad ke-83 UII. Ziarah ini bertujuan untuk meneladani perjuangan serta nilai-nilai inspiratif para pendiri dan tokoh UII.
Ziarah dilaksanakan di sejumlah lokasi di antaranya Makam UGM Sawit Sari, Taman Makam Pahlawan Nasional Kusumanegara, Makam Bahoewinangun, Makam Boharen, hingga Makam Raja-Raja Imogiri.
Ketua Milad ke-83 UII, Dr. Rizqi Anfanni Fahmi, S.E.I., M.SI. dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat ikatan historis sekaligus meneladani perjuangan para pendiri universitas. “Ziarah makam pendiri dan tokoh UII merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Milad yang telah mulai dilaksanakan sejak awal tahun 2026,” ujarnya.
Rektor UII, Fathul Wahid dalam sambutannya saat pembukaan ziarah di Makam UII menekankan makna mendalam dari kegiatan tersebut. Menurutnya, ziarah bukan sekadar tradisi seremonial, melainkan bagian dari “ritual organisasional” yang menghubungkan kesadaran masa lalu dengan masa kini.
“Kegiatan ziarah merupakan wasilah untuk menyambungkan kesadaran masa lalu dengan kesadaran hari ini. Ini adalah bentuk penghormatan kita kepada para pendahulu, karena peradaban UII saat ini tidak mungkin terwujud tanpa kontribusi dan amal jariyah mereka,” kata Fathul Wahid.
Fathul Wahid juga menyebut sejumlah tokoh yang dimakamkan di Makam UII, seperti Mufti Abu Yazid yang pernah menjabat Wakil Rektor III pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an, Rasyid Baswedan yang juga pernah menjadi Wakil Rektor II, serta Syafaruddin Alwi yang dikenal memberikan banyak keteladanan. Selain itu, terdapat pula tokoh lain seperti Artidjo Alkostar, dan Luthfi Hasan yang turut dikenang jasanya.
Rektor menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi momentum untuk mendoakan para pendahulu. “Pada hari ini kita mempunyai kesempatan untuk mendoakan, semoga apa yang sudah mereka lakukan kepada UII diterima sebagai amal jariyah,” ujarnya.
Perjalanan berlanjut ke Makam UGM Sawit Sari, peserta berziarah ke makam Prof. Dr. H. Ace Partadireja, Prof. Dr. H. Zanzawi Soejoeti, dan Ir. R.H.A. Sahirul Alim yang pernah berkontribusi dalam kepemimpinan UII. Sementara di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara, peserta mengenang Prof. Dr. Sardjito yang berjasa dalam pengembangan UII melalui pembukaan fakultas di berbagai daerah.

“Kita bisa meneladani Prof. Sardjito dalam ketekunannya dalam berilmu hingga riset-risetnya mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tutur Fathul.
Ziarah kemudian dilanjutkan ke Makam Bahoewinangun untuk mengenang Prof. R.H.A. Kasmat Bahoewinangun, serta ke Makam Boharen sebagai tempat peristirahatan terakhir Prof. K.H.A. Kahar Mudzakkir, tokoh penting dalam sejarah UII sekaligus perumus Piagam Jakarta.
“Prof. Kahar merupakan sosok negarawan dengan visi yang melampaui zamannya dan memiliki jejaring internasional yang kuat sejak awal berdirinya UII,” tambahnya.
Perjalanan ditutup di Makam Raja-Raja Imogiri untuk mengenang GBPH Prabuningrat yang dikenal dengan kesederhanaannya selama menjabat sebagai Rektor UII. Di bawah kepemimpinannya, UII mengalami kemajuan signifikan, baik dalam pembangunan fasilitas maupun penguatan akademik.
Ziarah makam pendiri telah menjadi tradisi tahunan dalam rangka Milad UII. Kegiatan ini tidak hanya dimaksudkan sebagai bentuk penghormatan, tetapi juga sebagai sarana refleksi nilai-nilai perjuangan, integritas, dan dedikasi yang diwariskan oleh para pendiri kepada generasi penerus. (AHR/RS)
Pernyataan Sikap Universitas Islam Indonesia Terkait Penangkapan Relawan dan Jurnalis dalam Misi Kemanusiaan Global Sumud Flotilla
Universitas Islam Indonesia (UII) menyampaikan keprihatinan mendalam atas penangkapan sejumlah relawan kemanusiaan dan jurnalis dalam misi Global Sumud Flotilla yang menuju Gaza oleh Zionis Israel. Termasuk dalam rombongan itu adalah Bambang Noroyono, alumnus UII, yang bersama warga negara Indonesia lainnya.
UII Kukuhkan Guru Besar Bidang Hukum HAM
Universitas Islam Indonesia (UII) kembali mengukuhkan guru besar dari Fakultas Hukum yaitu Prof. Dr. Suparman Marzuki, S.H., M.Si dalam bidang hukum hak asasi manusia. Prof. Suparman menyampaikan pidato pengukuhan pada Selasa (19/05) di Auditorium Prof. K.H. Abdul Kahar Muzakkir, Kampus Terpadu UII.
Lubang Hitam Keadilan: Melawan Amnesia Struktural dan Normalisasi Impunitas melalui Transformasi Berbasis Memori
Dalam pidato pengukuhan profesor, Prof. Dr. Suparman Marzuki menilai Indonesia masih belum serius menuntaskan pelanggaran HAM berat meski Reformasi telah berlangsung selama 25 tahun.
“Pelanggaran HAM yang tak tuntas telah menjelma menjadi ‘lubang hitam’ yang menyedot integritas moral hukum kita. Ia bukan sekadar masa lalu yang jauh, tetapi entitas aktif yang mengikis empati sosial dan menelan masa depan generasi mendatang,” ujar Suparman.
Ia mengatakan negara secara perlahan membentuk “amnesia struktural” melalui penggunaan eufemisme untuk melembutkan kekerasan, pengaburan posisi pelaku dan korban, hingga stigma terhadap pihak yang bersuara. “Bangsa tanpa ingatan yang jujur adalah bangsa yang berjalan dalam kegelapan,” katanya.
Prof. Suparman juga mengkritik praktik “keadilan parsial” yang dinilai hanya menjadi upaya simbolik tanpa keberanian menindak pelaku pelanggaran HAM. “Ketika negara mengakui adanya luka namun lumpuh menunjuk siapa yang melukai, hukum sebenarnya sedang melakukan pengkhianatan terhadap dirinya sendiri,” tegasnya.
Prof. Suparman menilai hukum saat ini kerap bergeser dari instrumen keadilan menjadi alat legitimasi kekuasaan. “Hukum yang seharusnya menjadi instrumen keadilan kini sering kali bergeser menjadi sekadar alat legitimasi kekuasaan. Aparat penegak hukum lebih memilih menjadi ‘juru bicara undang-undang’ daripada ‘juru bicara keadilan’,” ujarnya.
Prof. Suparman juga menyinggung kasus-kasus seperti tragedi 1965, Trisakti, Semanggi, Wasior, dan Wamena sebagai ujian bagi kematangan demokrasi Indonesia. Menurutnya, negara tidak bisa terus berlindung di balik alasan politik maupun prosedur birokrasi. “Kita tidak bisa terus berlindung di balik kedaulatan negara untuk melanggengkan impunitas,” katanya.
Prof. Suparman menegaskan perguruan tinggi, akademisi, dan jurnalis memiliki tanggung jawab moral sebagai “penjaga ingatan” agar sejarah pelanggaran HAM tidak dihapus dari kesadaran publik. “Memilih diam di hadapan ketidakadilan bukanlah sikap netral, melainkan bentuk partisipasi pasif dalam melanggengkan kekejaman,” ujar Suparman.
Menutup orasinya, ia mengingatkan bahwa masa depan bangsa tidak bisa dibangun di atas sejarah yang sengaja dilupakan. “Membangun masa depan di atas fondasi lupa adalah membangun di atas kerapuhan,” tutupnya. (AHR/RS)
Festival Seni Pertunjukan Islami 2026 Perkuat Harmoni dan Kreativitas Sivitas Akademika
Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menyelenggarakan Festival Seni Pertunjukan Islami 2026 sebagai bagian dari rangkaian Milad ke-83 UII dengan mengusung tema “Harmoni untuk Jejak Lestari”. Kegiatan yang berlangsung pada Selasa (12/05) di Auditorium Prof. K.H. Abdul Kahar Muzakkir UII ini menjadi ruang bersama bagi dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus memperkuat solidaritas sivitas akademika. Festival tersebut juga menjadi bagian dari komitmen UII dalam membangun peradaban yang berakar pada nilai keislaman, kebudayaan, dan keberlanjutan.
Rektor UII Fathul Wahid menegaskan bahwa seni dan budaya memiliki peran penting dalam pembentukan manusia yang utuh di lingkungan kampus. Menurutnya, kampus tidak hanya berfungsi sebagai tempat mengembangkan logika dan ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang untuk merawat rasa, imajinasi, dan ekspresi kemanusiaan.
“Festival ini menjadi pengingat bahwa kampus tidak hanya tempat mengasah logika, tetapi juga ruang merawat rasa, imajinasi, dan ekspresi kemanusiaan,” ujar Fathul Wahid dalam sambutannya.
Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi antarsivitas akademika yang tercermin dari keterlibatan unsur pimpinan, dosen, dan tenaga kependidikan dalam setiap kelompok penampil. Menurutnya, seni mampu mencairkan hubungan formal dan memperkuat relasi antarmanusia di lingkungan kampus. Selain itu, seni juga memiliki kaitan erat dengan kreativitas dan inovasi.
“Kampus yang ingin melahirkan inovasi tidak boleh menjauh dari seni,” katanya.
Ketua Panitia Milad ke-83 UII, Dr. Rizqi Anfanni Fahmi, S.E.I., M.SI., menyampaikan bahwa Festival Seni Pertunjukan Islami 2026 menghadirkan ruang ekspresi yang mempertemukan seni dengan kesadaran sosial, spiritual, dan ekologis. Berbagai penampilan seni ditampilkan oleh unsur dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, hingga unit-unit di lingkungan UII dengan membawa pesan harmoni dalam keberagaman dan semangat menjaga kehidupan.
Festival ini juga menghadirkan penampilan spesial dari YKHC (YogyaKarta Hadroh Clan), Hadroh IKI UII, dan mahasiswa internasional yang semakin menambah suasana inklusif dan kolaboratif. Sebanyak 11 kelompok penampil turut berpartisipasi, di antaranya dari Fakultas Teknologi Industri, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Ilmu Agama Islam, Yayasan Badan Wakaf, Rektorat, Fakultas Ilmu Sosial Budaya, Fakultas Psikologi, Fakultas Bisnis dan Ekonomika, Fakultas Kedokteran, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, serta Fakultas Hukum.
Ketua Festival Seni Pertunjukan Islami 2026 Arif Wibisono, S.E., M.Sc. mengatakan bahwa tema tahun ini merupakan ajakan untuk terus bergerak maju tanpa meninggalkan akar nilai dan budaya. Melalui seni, menurutnya, festival ini diharapkan mampu menghadirkan kesadaran bersama bahwa setiap langkah manusia akan meninggalkan jejak yang harus memberi manfaat dan menjaga harmoni kehidupan.
Pada akhir acara, panitia memberikan penghargaan kepada para penampil terbaik sebagai bentuk apresiasi atas kreativitas dan kolaborasi yang ditampilkan selama festival berlangsung.
Fakultas Hukum (FH) berhasil meraih Juara I dengan penampilan yang memukau dewan juri dan penonton. Juara II diraih Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI), sementara Juara III diberikan kepada Yayasan Badan Wakaf. Penghargaan tersebut diharapkan dapat semakin memotivasi sivitas akademika UII untuk terus berkarya dan mengembangkan seni budaya di lingkungan kampus. (AZ/AHR/RS)
Milad ke-83, UII Gelar Ziarah untuk Kenang Jasa Pendiri
Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menggelar kegiatan ziarah ke makam para pendiri dan tokoh UII pada Selasa (05/05). Kegiatan ini diikuti oleh pimpinan UII bersama dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, hingga purnatugas dalam rangka Milad ke-83 UII. Ziarah ini bertujuan untuk meneladani perjuangan serta nilai-nilai inspiratif para pendiri dan tokoh UII.
Ziarah dilaksanakan di sejumlah lokasi di antaranya Makam UGM Sawit Sari, Taman Makam Pahlawan Nasional Kusumanegara, Makam Bahoewinangun, Makam Boharen, hingga Makam Raja-Raja Imogiri.
Ketua Milad ke-83 UII, Dr. Rizqi Anfanni Fahmi, S.E.I., M.SI. dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat ikatan historis sekaligus meneladani perjuangan para pendiri universitas. “Ziarah makam pendiri dan tokoh UII merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Milad yang telah mulai dilaksanakan sejak awal tahun 2026,” ujarnya.
Rektor UII, Fathul Wahid dalam sambutannya saat pembukaan ziarah di Makam UII menekankan makna mendalam dari kegiatan tersebut. Menurutnya, ziarah bukan sekadar tradisi seremonial, melainkan bagian dari “ritual organisasional” yang menghubungkan kesadaran masa lalu dengan masa kini.
“Kegiatan ziarah merupakan wasilah untuk menyambungkan kesadaran masa lalu dengan kesadaran hari ini. Ini adalah bentuk penghormatan kita kepada para pendahulu, karena peradaban UII saat ini tidak mungkin terwujud tanpa kontribusi dan amal jariyah mereka,” kata Fathul Wahid.
Fathul Wahid juga menyebut sejumlah tokoh yang dimakamkan di Makam UII, seperti Mufti Abu Yazid yang pernah menjabat Wakil Rektor III pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an, Rasyid Baswedan yang juga pernah menjadi Wakil Rektor II, serta Syafaruddin Alwi yang dikenal memberikan banyak keteladanan. Selain itu, terdapat pula tokoh lain seperti Artidjo Alkostar, dan Luthfi Hasan yang turut dikenang jasanya.
Rektor menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi momentum untuk mendoakan para pendahulu. “Pada hari ini kita mempunyai kesempatan untuk mendoakan, semoga apa yang sudah mereka lakukan kepada UII diterima sebagai amal jariyah,” ujarnya.
Perjalanan berlanjut ke Makam UGM Sawit Sari, peserta berziarah ke makam Prof. Dr. H. Ace Partadireja, Prof. Dr. H. Zanzawi Soejoeti, dan Ir. R.H.A. Sahirul Alim yang pernah berkontribusi dalam kepemimpinan UII. Sementara di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara, peserta mengenang Prof. Dr. Sardjito yang berjasa dalam pengembangan UII melalui pembukaan fakultas di berbagai daerah.
“Kita bisa meneladani Prof. Sardjito dalam ketekunannya dalam berilmu hingga riset-risetnya mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tutur Fathul.
Ziarah kemudian dilanjutkan ke Makam Bahoewinangun untuk mengenang Prof. R.H.A. Kasmat Bahoewinangun, serta ke Makam Boharen sebagai tempat peristirahatan terakhir Prof. K.H.A. Kahar Mudzakkir, tokoh penting dalam sejarah UII sekaligus perumus Piagam Jakarta.
“Prof. Kahar merupakan sosok negarawan dengan visi yang melampaui zamannya dan memiliki jejaring internasional yang kuat sejak awal berdirinya UII,” tambahnya.
Perjalanan ditutup di Makam Raja-Raja Imogiri untuk mengenang GBPH Prabuningrat yang dikenal dengan kesederhanaannya selama menjabat sebagai Rektor UII. Di bawah kepemimpinannya, UII mengalami kemajuan signifikan, baik dalam pembangunan fasilitas maupun penguatan akademik.
Ziarah makam pendiri telah menjadi tradisi tahunan dalam rangka Milad UII. Kegiatan ini tidak hanya dimaksudkan sebagai bentuk penghormatan, tetapi juga sebagai sarana refleksi nilai-nilai perjuangan, integritas, dan dedikasi yang diwariskan oleh para pendiri kepada generasi penerus. (AHR/RS)
UII Perkuat Jejaring Global Melalui Program Pertukaran Pemuda Indonesia–Türkiye
Universitas Islam Indonesia (UII) terus memperkuat jejaring internasional melalui kolaborasi dengan berbagai institusi luar negeri, salah satunya bersama mitra dari Türkiye melalui program Bridge of the Heart: Türkiye–Indonesia Youth Exchange Program. Program ini dikoordinatori oleh Direktorat Kemitraan/Kantor Urusan Internasional (DK/KUI) UII bekerja sama dengan Program Studi Teknik Lingkungan dan Program Studi Informatika, serta berkolaborasi dengan Pemerintah Türkiye melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga Türkiye. Program ini dirancang sebagai ruang interaksi antara diaspora Türkiye dan pemuda Indonesia, khususnya di Yogyakarta, guna memperkuat pertukaran budaya, ide, dan pengalaman dalam pengembangan kepemudaan yang berdampak.
Sebanyak 10 peserta dari Türkiye mengikuti program yang resmi dibuka pada Selasa (05/05) di Gedung Fakultas Hukum UII. Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam mempererat kolaborasi pemuda lintas negara sekaligus memperkuat hubungan Indonesia dan Türkiye melalui diplomasi budaya dan pendidikan.
Wakil Rektor Bidang Kemitraan dan Kewirausahaan UII, Ir. Wiryono Raharjo, M.Arch., Ph.D., dalam sambutannya menyampaikan bahwa UII yang berdiri sejak 1945 telah memiliki sekitar 30 ribu mahasiswa dan menjalin kerja sama dengan berbagai universitas dunia, termasuk di Türkiye.
Menurutnya, kolaborasi tersebut diwujudkan melalui berbagai program pertukaran akademik seperti Erasmus dan kegiatan bersama lintas disiplin. “Kami juga terlibat dalam program pertukaran akademik dan joint activity, termasuk di bidang arsitektur dan hukum,” ujarnya.
Ia menambahkan, kerja sama yang telah terjalin sebelumnya juga mencakup program pertukaran mahasiswa selama satu bulan antara UII dan universitas di Türkiye yang tidak hanya berfokus pada pembelajaran akademik, tetapi juga penguatan pemahaman budaya. UII berharap kolaborasi internasional ini dapat terus berkembang dan membuka peluang yang lebih luas bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman global.
Sementara itu, perwakilan diaspora Türkiye, Serdar Güner, memperkenalkan Altındağ Youth Center sebagai institusi yang berfokus pada pengembangan potensi generasi muda melalui pendidikan, seni, dan kegiatan sosial. “Kami percaya bahwa pemuda adalah kekuatan terbesar sebuah negara, sehingga perlu didukung melalui berbagai program pengembangan,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan harapannya agar kolaborasi dengan Indonesia dapat memperkuat pertukaran pengalaman, khususnya di bidang pendidikan, lingkungan, dan pengembangan digital.
Selama program berlangsung, peserta mengikuti berbagai kegiatan edukatif dan interaktif, mulai dari kunjungan ke Pemerintah Kabupaten Sleman dan Dinas Koperasi serta UMKM Kabupaten Sleman, diskusi mengenai pemberdayaan pemuda dan kewirausahaan, hingga pengenalan praktik keberlanjutan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat berbasis komunitas.
Melalui program ini, diharapkan tercipta jejaring internasional yang lebih kuat antara pemuda Türkiye dan Indonesia serta lahir berbagai inisiatif kolaboratif di bidang zero waste, digital volunteerism, dan kewirausahaan pemuda. Program ini menjadi bukti nyata pentingnya peran generasi muda dalam membangun hubungan antarbangsa yang inklusif, berkelanjutan, dan berdampak positif bagi masyarakat global. (NI/DS/AHR/RS)
UII Kembali Jadi Tuan Rumah Campus League 2026 Regional Yogyakarta
Universitas Islam Indonesia (UII) kembali dipercaya menjadi tuan rumah dalam ajang Campus League 2026 regional Yogyakarta. Setelah pada tahun 2025 mempertandingkan cabang olahraga futsal, tahun ini kompetisi berfokus pada cabang olahraga bola basket.
Campus League merupakan organisasi independen yang berfokus pada pengembangan potensi mahasiswa melalui kecakapan dan kompetisi olahraga. Ajang ini tidak hanya menjadi ruang bagi mahasiswa untuk berprestasi di bidang olahraga, tetapi juga sebagai sarana pembentukan karakter.
Kompetisi ini diselenggarakan di Gedung Olahraga (GOR) Ki Bagoes Hadikoesoemo, Kampus Terpadu UII selama tujuh hari mulai tanggal 30 April hingga 7 Mei. Sebanyak 12 kontingen dari perguruan tinggi di wilayah Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan Jawa Timur turut ambil bagian dalam ajang ini.
Rektor UII, Fathul Wahid dalam sambutannya menekankan pentingnya sportivitas, keseimbangan akademik, serta empati dalam kegiatan olahraga yang melibatkan mahasiswa. Menurutnya, olahraga tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana membangun karakter dan nilai kemanusiaan.
Ia menyampaikan bahwa olahraga memiliki peran penting dalam membentuk sikap saling menghargai dan menjaga etika. “Di dalam olahraga ada nilai sportivitas, saling menghargai, dan kemampuan menerima hasil. Ketika nilai itu hilang, yang muncul justru sikap saling menjatuhkan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara aktivitas akademik dan non-akademik. Selain itu, empati dan sensitivitas dinilai menjadi hal yang tidak kalah penting dalam membentuk pribadi yang utuh. “Sensitivitas adalah kemampuan untuk melihat yang tidak terlihat dan memahami situasi orang lain, dan ini perlu terus diasah,” tambahnya.
Dengan adanya Campus League 2026 ini, diharapkan tercipta semangat baru bagi mahasiswa untuk terus berkembang, tidak hanya dalam bidang akademik tetapi juga dalam sportivitas dan kepemimpinan. Ajang ini menjadi bukti nyata kolaborasi antarperguruan tinggi dalam mencetak generasi muda yang unggul, berdaya saing, dan berkarakter.
Sebagai tuan rumah, UII berkomitmen untuk terus mendukung berbagai kegiatan positif yang dapat memperkuat ekosistem pembinaan mahasiswa, baik dalam bidang olahraga maupun pengembangan diri secara menyeluruh. (AHR/RS)
DK/KUI UII Selenggarakan Info Session “Study in Taiwan” Bersama Taiwan Education Center
Direktorat Kemitraan/Kantor Urusan Internasional (DK/KUI) Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan kegiatan Info Session Study in Taiwan pada Selasa (28/04), sebagai upaya memperluas wawasan internasional mahasiswa terkait peluang studi dan beasiswa di luar negeri, khususnya di Taiwan.
Kegiatan ini menghadirkan perwakilan dari Taiwan Education Center (TEC) Indonesia Yogyakarta Regional Office, M. Bima Aoron Hafiz selaku Manager TEC Indonesia, sebagai narasumber utama. Dalam sesi tersebut, peserta memperoleh informasi mengenai sistem pendidikan tinggi di Taiwan, peluang beasiswa, program pertukaran, hingga kesempatan magang internasional melalui Taiwan Experience Education Program (TEEP).
Dalam pemaparannya, M. Bima Aoron Hafiz menjelaskan bahwa Taiwan menjadi salah satu destinasi studi internasional yang semakin diminati mahasiswa Indonesia karena menawarkan kualitas pendidikan tinggi, lingkungan yang aman, biaya hidup yang relatif terjangkau, serta dukungan kuat bagi mahasiswa internasional. Selain itu, Taiwan juga dikenal unggul dalam bidang teknologi, semikonduktor, inovasi, dan riset global.
Peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai berbagai jenis beasiswa yang tersedia, seperti Ministry of Education (MOE) Taiwan Scholarship, Huayu Enrichment Scholarship (HES), serta berbagai skema beasiswa universitas di Taiwan. Selain itu, dipaparkan pula tahapan pendaftaran, persyaratan dokumen, peluang program berbahasa Inggris, hingga kesempatan belajar bahasa Mandarin secara langsung di Taiwan.
Tidak hanya membahas akademik, sesi ini juga memberikan gambaran mengenai kehidupan mahasiswa internasional di Taiwan, termasuk fasilitas transportasi publik, lingkungan ramah Muslim, peluang kerja paruh waktu, serta prospek karier setelah lulus. Program TEEP turut diperkenalkan sebagai salah satu peluang magang internasional yang memungkinkan mahasiswa memperoleh pengalaman riset, industri, dan budaya di Taiwan.
Melalui kegiatan ini, DK/KUI UII berharap mahasiswa semakin termotivasi untuk memanfaatkan peluang studi internasional dan memperluas jejaring global. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari komitmen UII dalam mendukung internasionalisasi pendidikan serta mempersiapkan mahasiswa agar mampu bersaing di tingkat global. (NI/DS/AHR/RS)
UII Lantik 6 Dokter Baru, Dorong Empati dan Nilai Kemanusiaan
Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Islam Indonesia (UII) kembali melantik 6 dokter baru dalam acara Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Dokter Periode 71 yang diselenggarakan pada Rabu (21/01) di Auditorium Prof. K.H. Abdul Kahar Muzakkir, Kampus Terpadu UII. Hingga periode ini, FK UII telah melantik sebanyak 2.674 dokter yang menegaskan peran UII dalam pengembangan dan peningkatan kualitas bidang kesehatan.
Dalam laporan sumpah dokter yang disampaikan oleh Ketua Program Studi Profesi Dokter UII, dr. Ana Fauziyati, M.Sc., Sp.PD, para dokter baru berasal dari berbagai provinsi di pulau Jawa dari DKI Jakarta hingga Jawa Timur. Tak kalah membanggakan, waktu tempuh pendidikan tercepat diraih dalam waktu 2 tahun 1 bulan 24 hari. Keberhasilan ini juga tidak lepas dari dukungan rumah sakit tempat pendidikan klinik yang tersebar di tiga provinsi yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Rektor UII, Fathul Wahid dalam sambutannya menegaskan pentingnya empati dan sensitivitas dalam prosesi pengambilan sumpah dokter. Ia menyebut sumpah dokter bukan sekadar seremoni, melainkan peristiwa etis yang membawa tanggung jawab besar terhadap kepercayaan pasien dan masyarakat.
Ia menekankan bahwa seorang dokter tidak cukup hanya mengandalkan ilmu medis semata. “Ilmu saja tidak cukup, harus diimbangi dengan kepekaan. Dokter perlu memahami bukan hanya penyakitnya, tetapi juga perasaan, kondisi sosial, dan situasi yang dihadapi pasien,” ujarnya.
Tak lupa, Ia juga mengingatkan bahwa empati harus terus dirawat di tengah tekanan kerja yang tinggi. “Empati bukan sesuatu yang otomatis, tetapi harus terus diasah. Tantangan di lapangan bisa membuat kita kehilangan kepekaan, sehingga penting untuk terus melakukan refleksi diri,” tambahnya.
Di akhir sambutannya, Rektor UII berharap para dokter dapat menjadi tenaga medis yang tidak hanya kompeten, tetapi juga berempati. Dengan demikian, pelayanan yang diberikan tidak hanya berfokus pada penyembuhan, tetapi juga memuliakan kehidupan pasien.
Senada, Dekan FK UII, Dr. dr. Isnatin Miladiyah, M.Kes menegaskan bahwa prosesi Sumpah Dokter ini bukan sekadar seremoni, melainkan momen reflektif yang menandai awal tanggung jawab besar sebagai tenaga medis. Ia menyampaikan bahwa meski jumlah dokter baru hanya enam orang, suasana yang tercipta justru lebih mendalam dan sarat makna.
Isnatin mengingatkan bahwa profesi dokter tidak hanya bertumpu pada ilmu, tetapi juga kepercayaan dan nilai kemanusiaan. Para dokter, menurutnya, akan dihadapkan pada berbagai situasi yang menuntut keputusan tidak hanya tepat secara medis, tetapi juga bijak secara manusiawi.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga empati di tengah perkembangan teknologi dan kompleksitas sistem kesehatan. “Yang akan membedakan Anda bukanlah siapa yang paling pintar, tetapi siapa yang paling mampu tetap hadir sebagai manusia,” ujarnya.
Selain itu, ia menitipkan tiga pesan utama bagi para dokter baru. “Pertama, jangan pernah kehilangan rasa ingin tahu. Kedua, jaga empati Anda seperti menjaga kompetensi. Dan ketiga, ingatlah bahwa kita bukan penyembuh sejati, melainkan perantara,” tegasnya. Ia berharap para lulusan mampu menjadi dokter yang tidak hanya kompeten, tetapi juga berempati dan berintegritas. (AHR/RS)
Perkuat Jejaring Kemitraan, UII dan UHS Resmi Jalin Kerja Sama
Universitas Islam Indonesia (UII) terus berkomitmen dalam menguatkan jejaring kemitraan dengan berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Pada kesempatan kali ini, UII menerima kunuungan kerja sama dari Universitas Halim Sanusi (UHS) pada Selasa (28/04) di Gedung Kuliah Umum (GKU) Prof. Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII. Dalam kunjungan ini juga menyepakati kerja sama yang secara resmi ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman oleh Rektor UII, Fathul Wahid dan Rektor UHS, Ir. Setiadi Yazid, M.Sc., Ph.D.
Fathul Wahid menyampaikan dalam sambutannya bahwa kekuatan institusi tidak lepas dari nilai-nilai yang diwariskan para pendiri sejak awal berdiri. Nilai tersebut, menurutnya, menjadi fondasi dalam menjaga arah dan perkembangan kampus. “Nilai-nilai yang diwariskan para pendiri itulah yang terus kami jaga dan rawat, bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk diamalkan,” ujar Rektor UII ini.
Ia menambahkan, dalam beberapa tahun terakhir UII terus mendorong pertumbuhan yang tidak hanya berorientasi pada jumlah, tetapi juga kualitas. Hal ini diwujudkan melalui penguatan SDM serta perluasan peran global, termasuk program pemberdayaan perempuan dari Afghanistan sebagai bagian dari kontribusi internasional.
Sementara itu, Ir. Setiadi Yazid, M.Sc., Ph.D. menyoroti pentingnya ketahanan institusi dalam menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan sumber daya hingga dampak pandemi. Ia menegaskan bahwa keberhasilan bertahan tidak lepas dari semangat bersama dan kerja sama berbagai pihak. “Dengan semangat dan kolaborasi, kita tetap mampu bertahan dan berkembang,” katanya.
Menurutnya, ke depan perguruan tinggi harus semakin adaptif terhadap perubahan. Peningkatan kualitas SDM menjadi kunci agar mampu bersaing dan terus berkembang di tengah dinamika yang cepat.
Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi kerja sama antara kedua universitas yang membahas peluang kolaborasi di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, serta pengembangan SDM. Keduanya sepakat bahwa masa depan pendidikan tinggi sangat ditentukan oleh kemampuan institusi dalam menjaga nilai, memperluas kolaborasi, dan menyiapkan SDM yang unggul serta berintegritas. (AHR/RS)
UII Gelar Bedah Buku Filsafat Ilmu dan Epistemologi: Studi Islam Integratif-Inklusif
Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar kegiatan Bedah Buku karya dosen Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) UII berjudul Filsafat Ilmu dan Epistemologi: Studi Islam Integratif-Inklusif sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Milad ke-83 UII yang dilaksanakan pada Senin (27/04) di Auditorium Gedung K.H.A Wahid Hasyim, Kampus Terpadu UII.
Kegiatan bedah buku ini menghadirkan narasumber, yaitu Fathul Wahid selaku Rektor UII, Prof. Dr. Amin Abdullah, M.A. selaku Guru Besar Ilmu Filsafat UIN Sunan Kalijaga, dan Prof. Dr. Yusdani, M.Ag selaku Guru Besar Hukum Perdata Islam UII. Kegiatan ini diikuti oleh berbagai sivitas akademika, mulai dari dosen hingga mahasiswa.
Dalam sambutannya, Koordinator Bidang Kajian Ilmiah Akademis Milad ke-83 UII, Allan Fatchan Gani Wardhana, S.H., M.H menyatakan kegiatan ini dilakukan sebagai upaya mengenalkan dan menyebarluarkan karya-karya akademik dosen kepada seluruh sivitas akademika dan masyarakat luas.
“Karya-karya dosen perlu terus disebarluaskan agar gagasan dan kontribusi akademiknya dapat memberi manfaat yang lebih luas,” ujarnya.
Allan berharap kegiatan bedah buku ini dapat berjalan lancar, memberikan ruang diskusi yang produktif, serta menjadi inspirasi bagi lahirnya karya-karya akademik lainnya di lingkungan UII.
Dalam pemaparannya, Prof. Amin Abdullah menekankan bahwa filsafat perlu mendapat ruang lebih besar di dunia akademik Indonesia. Menurutnya, filsafat menjadi instrumen penting untuk membangun kemampuan berpikir kritis dan analitis, sekaligus mencegah kemiskinan gagasan dalam dunia pendidikan tinggi.
“Tidak mengenal filsafat adalah bunuh diri intelektual, karena filsafat melahirkan semangat berpikir kritis dan ide-ide baru yang sangat penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan,” ungkapnya.
Sementara itu, Prof. Yusdani menjelaskan bahwa epistemologi studi Islam integratif-inklusif menekankan keterbukaan terhadap tradisi Islam, modernitas, dan pengetahuan lokal secara bersamaan. Pendekatan ini disebut sebagai epistemologi “Islam Tiga Kaki” yang bertumpu pada turas, modernitas, dan kearifan lokal.
“Kita harus tetap mengakar pada tradisi intelektual Islam, tetapi juga terbuka dan kritis terhadap modernitas serta pengetahuan lokal agar studi Islam tetap relevan dengan tantangan zaman,” jelasnya.
Lebih lanjut, Fathul Wahid menekankan pentingnya untuk terus belajar dari turas atau khazanah keilmuan Islam klasik, sekaligus membuka diri terhadap pendekatan multidisiplin. Menurutnya, pengembangan keilmuan Islam tidak cukup hanya bertumpu pada satu disiplin, tetapi perlu dialog dengan berbagai bidang ilmu agar tetap relevan dengan perkembangan zaman. Ia menilai buku yang dibedah dalam kegiatan ini menjadi salah satu wujud nyata dari semangat tersebut.
“Kita harus tetap belajar dari turas, tetapi juga mampu berdialog dengan berbagai disiplin ilmu agar keilmuan Islam terus berkembang dan relevan dengan tantangan zaman,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, UII berharap lahir ruang dialog akademik yang lebih luas dalam memperkuat tradisi keilmuan Islam yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Bedah buku ini juga menjadi bagian dari upaya kampus dalam membangun budaya intelektual yang kritis, inklusif, dan berorientasi pada kemaslahatan masyarakat. (AHR/RS)