Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan Kuliah Pakar MKWU Terpadu yang mengangkat tema “Hukum Islam di Ruang Publik: Dialektika Agama, Negara, dan Budaya dalam Masyarakat Indonesia” ini berlangsung pada Sabtu (6/6), bertempat di 2 Gedung Kuliah Umum Prof. Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII dan disiarkan secara daring melalui kanal Youtube UII. Kuliah pakar ini menghadirkan dosen Statistika FMIPA UII, Dr. Asyharul Muala, S.H.I., M.H.I. sebagai narasumber dengan dipandu oleh moderator Muhamad Syarif Hidayatulloh, Lc. M.A. 

Penerapan hukum di Indonesia perlu dilakukan melalui proses dialog dengan agama, budaya dan tradisi yang telah hidup di tengah masyarakat. Hal tersebut disampaikan Dr. Asyharul dalam pemaparannya, bahwa Nabi Muhammad saw dan Sunan Kalijaga adalah tokoh yang tidak serta-merta menghapus seluruh tradisi yang telah berkembang di masyarakat ketika menyebarkan ajaran Islam. Keduanya memilih untuk mempertahankan sejumlah tradisi dengan berbagai penyesuaian sehingga selaras dengan nilai-nilai Islam.

Menyoroti kondisi Indonesia yang memiliki keragaman budaya, suku, bahasa, dan sistem hukum adat. Dalam ruang sosial masyarakat Indonesia, terdapat tiga otoritas hukum yang berjalan secara bersamaan, yakni hukum negara, hukum agama, dan hukum adat. Kondisi tersebut dikenal sebagai pluralisme hukum. Selain membahas pluralisme hukum, Ia juga menyoroti pentingnya pendidikan pranikah bagi mahasiswa. Menurutnya, perguruan tinggi tidak hanya bertugas mempersiapkan mahasiswa menjadi tenaga profesional, tetapi juga membekali mereka dengan kesiapan membangun kehidupan rumah tangga. Menurutnya, rumah tangga yang harmonis dan sakinah dapat mendukung produktivitas dan profesionalisme seseorang dalam bekerja. Sebaliknya, konflik dalam keluarga berpotensi memengaruhi aktivitas akademik maupun pekerjaan.

Dalam pembahasannya mengenai hubungan antarsistem hukum, Dr. Asyharul menjelaskan bahwa hubungan tersebut dapat berbentuk harmonis, konflik, maupun dialektis. Hubungan harmonis terjadi ketika hukum agama, hukum adat, dan hukum negara berjalan beriringan tanpa menimbulkan pertentangan. Sementara itu, konflik muncul ketika terdapat perbedaan aturan antara satu sistem hukum dengan sistem hukum lainnya.

Salah satu contoh yang disampaikan adalah praktik poligami. Adapun hubungan yang bersifat dialektis terjadi ketika berbagai sistem hukum saling berinteraksi dan menghasilkan bentuk hukum baru yang dapat diterima bersama. Salah satu contohnya adalah konsep harta bersama (gono-gini). Dalam hukum Islam, harta yang diperoleh suami dan istri pada dasarnya merupakan hak masing-masing. Namun dalam hukum adat, kontribusi keduanya dipandang sebagai bagian dari kerja sama dalam rumah tangga. Interaksi kedua pandangan tersebut kemudian melahirkan konsep harta bersama yang diakui dalam sistem hukum nasional.

Contoh lain dapat ditemukan dalam hukum waris. Ia menjelaskan bahwa hukum Islam memiliki ketentuan tersendiri mengenai pembagian warisan, sementara hukum perdata dan hukum adat juga memiliki mekanisme yang berbeda. Salah satu contohnya adalah sistem Tunggu Tubang, anak perempuan tertua diberi amanah untuk mengelola harta pusaka keluarga. Tradisi ini menunjukkan adanya interaksi antara norma agama, hukum negara, dan hukum adat meskipun masing-masing memiliki perspektif yang berbeda mengenai hak waris.

Dr. Asyahrul juga menyebut bahwa konsep dialektika memiliki landasan dalam Al-Qur’an, salah satunya Q.S. Al-Hujurat ayat 13. Menurutnya, ayat tersebut tidak hanya mengajarkan manusia untuk saling mengenal (ta’aruf), tetapi juga mendorong terjadinya interaksi, komunikasi, dan dialog dalam kehidupan sosial. Begitupun praktik hukum yang berlaku di masyarakat pada dasarnya merupakan hasil negosiasi antara agama, negara, dan budaya. Sebagai contoh, sejumlah tradisi pernikahan Jawa seperti panggih manten, ngidak endok, dan kacar-kucur yang menunjukkan adanya interaksi antara nilai budaya dan ajaran agama. Menurutnya, tradisi-tradisi tersebut tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam dan justru memperkaya makna sosial dalam perkawinan.

“Budaya memberikan rasa dan simbol yang melengkapi aspek legalitas agama dan negara,” ujarnya.

Dr. Asyharul juga menguraikan teori dialektika sosial Peter L. Berger yang terdiri atas tiga tahap, yakni eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat dapat muncul melalui proses eksternalisasi, kemudian difasilitasi menjadi aturan negara melalui objektivasi, dan selanjutnya diterima oleh masyarakat melalui proses internalisasi. 

Pada akhir pemaparannya, Ia menegaskan bahwa penerapan hukum harus berorientasi pada kemaslahatan dan tidak boleh menimbulkan mudarat bagi diri sendiri maupun orang lain. Ia mengajak peserta untuk memahami hubungan antara hukum agama, hukum adat, dan hukum negara secara lebih komprehensif agar dapat melihat realitas hukum Indonesia secara utuh. (DHP/AHR/RS).

Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar kegiatan Jelajah Kampus sebagai puncak rangkaian peringatan Milad ke-83 UII pada Minggu (7/6). Kegiatan yang diikuti oleh ribuan sivitas akademika UII ini berlangsung meriah dengan mengusung tema “Harmoni untuk Jejak Lestari”, yang mencerminkan semangat kebersamaan dan keberlanjutan dalam membangun peradaban universitas.

Kegiatan dipusatkan di lingkungan Kampus Terpadu UII, Jalan Kaliurang Km 14,5, Sleman, Yogyakarta. Rute jelajah dimulai dari depan Auditorium K.H. Abdul Kahar Muzakkir, mengelilingi kawasan kampus dan wilayah sekitar UII, sebelum kembali finis di lokasi yang sama. Acara diawali dengan senam bersama yang diikuti peserta sejak pukul 06.15 WIB sebagai bentuk ajakan untuk menerapkan gaya hidup sehat di lingkungan kampus.

Usai senam, peserta diarahkan untuk mengikuti seremoni pembukaan yang diisi dengan laporan ketua panitia, pesan kebersamaan dari Rektor UII periode 2022–2026, hingga sambutan Rektor UII saat ini. Ketua Panitia Milad ke-83 UII, Dr. Rizqi Anfanni Fahmi, S.E.I., M.Si., dalam laporannya menjelaskan bahwa Jelajah Kampus merupakan penutup dari berbagai kegiatan yang telah dilaksanakan sepanjang peringatan milad tahun ini.

“Rangkaian Milad ke-83 di 2026 ini dimulai dari Pidato Puncak Milad pada bulan Januari, kemudian beberapa agenda lain, ada Safari Ramadhan, UII Ramadhan Fair, Bakti Sosial di Kapanewon Ngemplak dan Kapanewon Playen, Gunung Kidul. Kami juga telah menyelenggarakan rangkaian lomba olahraga seperti bola voli, bulu tangkis, tarik tambang, dan sepak bola. Selain itu, rangkaian kegiatan lain yaitu penanaman pohon yang ada di lingkungan embung,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa peringatan Milad ke-83 UII tidak hanya berfokus pada kegiatan seremonial, tetapi juga menyentuh aspek sosial, olahraga, serta kepedulian terhadap lingkungan. Berbagai program yang telah dilaksanakan menjadi wujud kontribusi nyata universitas dalam membangun hubungan yang lebih erat dengan masyarakat sekaligus memperkuat solidaritas internal sivitas akademika.

Dalam kesempatan yang sama, Rektor UII periode 2022–2026, Fathul Wahid, menyampaikan pesan tentang pentingnya kebersamaan dalam membangun masa depan universitas. Ia menyoroti keseragaman atribut yang dikenakan peserta sebagai simbol persatuan seluruh keluarga besar UII.

“Hari ini kita berkumpul dan ada yang berbeda dari tahun-tahun lalu, adalah seragam kita serupa, biru muda, meskipun saya tahu tafsiran semiotiknya berbeda-beda. Tetapi kita memiliki semangat yang sama, yaitu kita ingin nyawiji, ingin bersatu karena tema Milad ke-83 ini adalah Harmoni untuk Jejak Lestari. Mari kita rapatkan barisan karena peradaban Universitas Islam Indonesia tidak mungkin dibangun tanpa kebersamaan,” ungkapnya.

Pesan tersebut disambut antusias oleh peserta yang memenuhi area depan auditorium. Semangat “nyawiji” atau bersatu yang disampaikan Fathul Wahid sejalan dengan tema besar milad yang menekankan pentingnya harmoni dalam menjaga keberlanjutan dan kemajuan institusi.

Puncak seremoni pembukaan ditandai dengan pelepasan burung secara simbolis oleh jajaran pimpinan universitas. Pelepasan burung tersebut merepresentasikan tema “Harmoni untuk Jejak Lestari” yang diusung pada Milad ke-83 UII. Simbolisasi tersebut menggambarkan harapan agar UII terus melangkah secara harmonis dalam menciptakan jejak yang bermanfaat dan berkelanjutan bagi masyarakat, bangsa, dan lingkungan.

Setelah prosesi simbolis tersebut, Rektor UII, Prof. Dr. Ir. Hari Purnomo, M.T., IPU., ASEAN Eng., secara resmi melepas peserta Jelajah Kampus melalui pengibaran bendera start. Ribuan peserta kemudian memulai perjalanan menyusuri rute yang telah ditentukan di kawasan kampus dan sekitarnya.

Dalam sambutannya, Rektor Hari Purnomo menegaskan bahwa kegiatan gerak jalan ini memiliki makna yang lebih dalam dibanding sekadar aktivitas olahraga.

“Gerak jalan ini bukan semata-mata aktivitas fisik. Namun, gerak jalan ini merupakan langkah bersama kita, berjalan bersama seirama dalam rangka menuju Universitas Islam Indonesia yang unggul, bermartabat, dan berguna bagi nusa dan bangsa,” tuturnya.

Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa setiap langkah yang ditempuh peserta menjadi simbol perjalanan kolektif seluruh sivitas akademika dalam mewujudkan visi UII sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat.

Setelah seluruh peserta menyelesaikan rute jelajah dan kembali ke Auditorium K.H. Abdul Kahar Muzakkir, rangkaian acara dilanjutkan dengan berbagai kegiatan hiburan dan apresiasi. Unisi Music Community (UMC) tampil menghibur peserta melalui sejumlah pertunjukan musik yang menambah semarak suasana. Selain itu, panitia juga mengumumkan hasil kompetisi olahraga antarunit yang telah diselenggarakan dalam rangka Milad ke-83 UII, sekaligus menyerahkan piala kepada para juara.

Antusiasme peserta semakin meningkat saat sesi pengundian doorprize dimulai. Berbagai hadiah dibagikan melalui beberapa kategori undian hingga grand prize. Bahkan, peserta yang belum beruntung mendapatkan doorprize tetap memperoleh bingkisan sebagai bentuk apresiasi dari panitia.

Melalui kegiatan Jelajah Kampus ini, UII tidak hanya merayakan bertambahnya usia institusi yang telah menginjak 83 tahun, tetapi juga meneguhkan komitmen untuk terus membangun budaya kebersamaan, kepedulian sosial, dan keberlanjutan. Semangat harmoni yang digaungkan sepanjang peringatan milad diharapkan menjadi fondasi bagi perjalanan UII dalam mencetak generasi unggul serta memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa dan kemanusiaan. (MFPS/AHR/RS)

Takmir Masjid Ulil Albab Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menghadirkan layanan kesehatan gratis melalui kegiatan Ulil Albab Healthy Day (UHD) sebagai bagian dari rangkaian AdhaFest 1447 H. Kegiatan ini dilaksanakan pada Jumat (5/6) di Asrama Takmir Putra dan Putri serta Auditorium Abdul Kahar Mudzakkir, Kampus Terpadu UII.

Ulil Albab Healthy Day menghadirkan berbagai layanan kesehatan bagi jamaah dan masyarakat umum, mulai dari pemeriksaan kesehatan berupa cek asam urat, gula darah, dan kolesterol, donor darah, hingga terapi alternatif bekam (hijamah). Seluruh layanan tersebut diberikan secara gratis sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan masyarakat.

Ketua pelaksana Ulil Albab Healthy Day, Muhammad Ihya Ulumuddin, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian AdhaFest yang diselenggarakan oleh Takmir Masjid Ulil Albab UII dan menjadi agenda penutup dalam rangkaian tersebut. Ia menjelaskan bahwa pelaksanaan UHD di akhir acara dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan peserta setelah mengikuti berbagai rangkaian kegiatan AdhaFest.

Salah satu peserta donor darah, Ikbar Rijal Mustofa, mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut menjadi pengalaman pertamanya dalam melakukan donor darah. Ia mengaku sempat merasa penasaran sekaligus gugup, namun terdorong oleh keinginan untuk memberikan manfaat bagi orang lain.

“Alhamdulillah saya pertama kali ini donor darah. Jujur penasaran sekaligus deg-degan. Di sisi lain saya melihat kebermanfaatannya bagi orang lain dan tentunya bagi saya juga, karena saya jadi tahu kondisi tubuh saya. Kesannya menyenangkan dan seru, karena ada tantangan melawan ketakutan demi kebaikan orang lain,” ujarnya.

Selain donor darah, layanan bekam juga mendapat antusiasme dari peserta. Salah satu peserta bekam, Wilda, menyampaikan bahwa kegiatan ini memberikan pengalaman baru karena menjadi kesempatan pertamanya mencoba terapi bekam.

“Menurut saya kegiatan ini sangat bermanfaat. Kebetulan ini adalah pertama kalinya saya mencoba bekam. Sebenarnya saya sudah lama ingin mencobanya, tetapi belum tahu tempat yang tepat. Adanya layanan bekam pada acara Ulil Albab Health Day ini sangat membantu, terlebih karena diberikan secara gratis,” tuturnya.

Setelah mengikuti terapi bekam, Wilda merasakan manfaat berupa tubuh yang lebih ringan dan nyaman. Ia juga mengapresiasi edukasi yang diberikan oleh terapis terkait manfaat bekam serta frekuensi yang dianjurkan.

“Pesan saya, semoga kegiatan bekam seperti ini dapat terus diadakan karena memberikan manfaat yang besar bagi peserta,” tambahnya. (AA/AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) tahun ini sukses meraih gelar sebagai kampus swasta tertinggi yang menerima pendanaan sebanyak lima proposal dalam Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) di wilayah Yogyakarta. PPK Ormawa adalah program penguatan kapasitas ormawa melalui serangkaian proses pembinaan ormawa oleh Perguruan Tinggi (PT) yang diimplementasikan dalam program pengabdian dan pemberdayaan masyarakat.

Dalam rangka mendukung keberhasilan program tersebut, Student Achievement Mobility Center (SAMC) sebagai operator PT menyelenggarakan acara Pelepasan dan Pembekalan Tim Delegasi PPK Ormawa UII 2026 dengan mengangkat tema “Menguatkan Kolaborasi, Menghadirkan Dampak, Menuju Abdidaya 2026”. Acara ini diselenggarakan di Auditorium Gedung K.H. Mas Mansur, Fakultas Teknologi Industri (FTI) UII, pada Jum’at (05/06).

Arif Fajar Wibisono, S.E., M.Sc., Direktur Direktorat Pembinaan Kemahasiswaan dalam sambutannya mengaku bangga dengan raihan prestasi ormawa, ia menyebut UII berhasil masuk dalam kategori tiga besar di tingkat nasional, “Dan ini harus kita syukuri karena PPK Ormawa itu program prestisius, prosesnya juga panjang selama 4 bulan,” ucapnya. Ia memberikan motivasi kepada para mahasiswa untuk meraih perhargaan tertinggi bagi program ini yaitu Abdidaya. Anugerah Abdidaya Ormawa ini hadir sebagai puncak apresiasi bagi pihak yang berpengaruh dalam PPK Ormawa. Ia juga menyebut pihak kampus siap memfasilitasi dan mendukung penuh program pemberdayaan ini dengan memberikan kesempatan konversi Kuliah Kerja Nyata (KKN) bagi mahasiswa yang terlibat. 

Pembahasan lanjutan mengenai konversi KKN, Kepala Pusat KKN, dr. Raden Edi Fitriyanto, M.Gizi. menegaskan bahwa pihak Pusat KKN siap mengapresiasi kontribusi tersebut melalui konversi nilai KKN setara 2 SKS (120 jam lapangan). Ia menjelaskan bahwa konversi ini bersifat opsional dan tidak menghilangkan hak mahasiswa untuk tetap menempuh KKN reguler, namun seluruh penilaiannya wajib bertumpu pada standar kompetensi yang kuat, “bukan menggunakan semua kegiatan, kita membersihkan kita apresiasi dengan nilai KKN, tapi harus ada aspek akademisnya” tegasnya. Ia juga menyatakan komitmen penuh Pusat KKN untuk memberikan full support bagi tim delegasi agar mampu menghadirkan dampak nyata di masyarakat.

Setelah prosesi pelepasan secara simbolis dengan pemakaian jas almamater dari Dosen Pembimbing kepada Ketua Pelaksana PPK Ormawa, acara kemudian ditutup dengan harapan besar agar seluruh tim delegasi mampu menunjukkan performa terbaik mereka di lapangan.

“Pelepasan ini menjadi simbol bahwa mahasiswa siap diterjunkan ke masyarakat, siap melakukan kegiatan yang disusun dengan baik, dan melaksanakan dengan seoptimal mungkin agar capaian terbaik yang kita dapatkan.” pungkas Arif selaku Direktur DPK menutup acara. (NKA/AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) mengundang calon mahasiswa dari berbagai daerah melalui program UII Menyapa yang diselenggarakan di Gedung Prof. Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII, pada Rabu (3/6). Kegiatan ini menarik 294 pendaftar, dengan 190 peserta mengikuti rangkaian acara yang menghadirkan informasi seputar perkuliahan, pengembangan diri, dan peluang studi di UII.

Peserta berasal dari sejumlah wilayah, antara lain Banjarmasin, Batam, Pelalawan, Rokan Hilir, Lombok Tengah, Lombok Timur, Kota Bengkulu, Bone, Palopo, Pringsewu, Kendari, Buton Utara, Pasangkayu, Sumba Timur, dan Ogan Komering Ulu Timur.

Kegiatan ini dihadiri Rektor UII, Prof. Dr. Ir. Hari Purnomo, M.T., IPU., ASEAN Eng., Wakil Rektor Bidang Keuangan, Sumber Daya, dan Keberlanjutan UII Prof. Rifqi Muhammad, S.E., M.Sc., Ph.D., Direktur Pemasaran UII Nadia Wasta Utami, S.I.Kom., M.A., serta jajaran Direktorat Pemasaran dan PIC pemasaran fakultas di lingkungan UII.

Dalam sesi utama, peserta memperoleh informasi mengenai kehidupan perkuliahan, peluang pengembangan diri, kesempatan internasional, serta berbagai jalur Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) UII Tahun Akademik 2026/2027.”

Narasumber kegiatan, Ganjar Fadillah, S.Si., M.Si., Ph.D., dosen Program Studi D3 Analisis Kimia UII sekaligus Kepala Bidang Admisi, mengajak peserta melihat perguruan tinggi sebagai ruang untuk mengembangkan kompetensi, jejaring, dan masa depan.

Rektor UII Prof. Dr. Ir. Hari Purnomo, M.T., IPU., ASEAN Eng., dalam sambutannya menyampaikan UII merupakan perguruan tinggi swasta tertua di Indonesia. Dari segi kualitas UII siap bersaing, dan bahkan banyak mahasiswa UII yang mengambil ouble degree.

“Kemarin kami mengirimkan mahasiswa ke Nanjing University. Artinya apa, Universitas Islam Indonesia mendidik anak bangsa dengan sungguh sungguh, untuk bersaing di kancah dunia,” tuturnya.

Melalui UII Menyapa, UII berupaya menghadirkan informasi yang lebih dekat dan mudah diakses oleh calon mahasiswa. Program ini sekaligus menjadi sarana untuk memperkenalkan keunggulan akademik, fasilitas, serta berbagai peluang yang dapat diraih selama menempuh pendidikan di UII. (FH/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) melanjutkan amanah kepemimpinan institusi untuk periode 2026–2030. Prof. Dr. Ir. Hari Purnomo, M.T., IPU., ASEAN Eng. resmi dilantik sebagai Rektor UII dalam prosesi yang berlangsung di Auditorium Prof. K.H. Abdul Kahar Mudzakkir, Kampus Terpadu UII, Selasa (02/06). Pelantikan tersebut dipimpin oleh Ketua Pengurus Yayasan Badan Wakaf UII (YBW UII), Prof. Dr. Suparman Marzuki, S.H., M.Si., sebagai bagian dari proses keberlanjutan kepemimpinan institusi.

Pelantikan tersebut menandai berakhirnya masa kepemimpinan Prof. Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D. yang telah memimpin UII selama dua periode, yakni 2018–2022 dan 2022–2026. Dengan amanah baru tersebut, Hari Purnomo menjadi Rektor ke-13 dalam perjalanan sejarah UII sejak didirikan pada tahun 1945.

Prof. Hari Purnomo dalam sambutannya meyakini kepemimpinan di perguruan tinggi bukanlah perjalanan seorang diri, melainkan ikhtiar bersama yang menuntut kebijaksanaan, ketulusan, dan kesediaan untuk senantiasa menempatkan kepentingan institusi di atas kepentingan pribadi maupun golongan.

“Universitas di dalamnya terhimpun cita-cita para mahasiswa, dedikasi para dosen, ketekunan tenaga kependidikan, serta harapan masyarakat yang menaruh kepercayaan besar kepada dunia pendidikan tinggi. Oleh karena itu, kepemimpinan yang saya emban diarahkan untuk memperkuat mutu akademik, memperluas kemanfaatan riset, meneguhkan tata kelola yang baik, serta memastikan bahwa Universitas Islam Indonesia terus hadir sebagai pilar peradaban yang memberi jawaban atas tantangan zaman,” tutur Prof. Hari.

Prof Hari mengemukakan tantangan yang akan dihadapi oleh perguruan tinggi kedepan mencakup banyak bidang dari ilmu pengetahuan hingga budaya. Sehingga perlu tindakan yang tidak hanya adaptif, tetapi juga visioner untuk membangun ekosistem akademik yang unggul, berkarakter, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

“Universitas perlu menyiapkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral, kuat dalam integritas, serta mampu menghadirkan solusi yang bernilai bagi bangsa dan kemanusiaan.  Saya mengajak kepada seluruh sivitas akademika agar melangkah bersama dalam semangat pembaruan yang berakar pada nilai-nilai luhur Universitas Islam Indonesia,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Ketua Umum Yayasan Badan Wakaf (YBW) UII, Prof. Dr. Suparman Marzuki, S.H., M.Si dalam sambutannya mengingatkan kepada Rektor dan Wakil Rektor baru bahwa amanah ini bukanlah sekadar jabatan, melainkan tanggung jawab besar untuk membawa UII sebagai pusat keunggulan. Suparman meminta untuk memberikan fokus yang terbaik pada penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas.

”Dunia pendidikan tinggi hari ini bergerak sangat dinamis. Kita tidak bisa lagi merasa cukup dengan pencapaian masa lalu. Saya meminta Saudara untuk segera membenahi berbagai aspek internal akademik. Identifikasi setiap simpul yang menghambat, perbaiki tata kelola kurikulum, dan tingkatkan mutu riset. Kita harus bergerak cepat untuk mengejar ketertinggalan dan memastikan UII tetap menjadi lokomotif pendidikan Islam di Indonesia,” ungkap Suparman.

Terpilihnya Hari Purnomo merupakan hasil dari rangkaian proses penjaringan dan seleksi yang berlangsung sejak akhir 2025. Proses tersebut melibatkan berbagai unsur universitas, mulai dari dosen, Senat Universitas, Tim Seleksi, hingga Pengurus Yayasan Badan Wakaf UII sebagai badan penyelenggara universitas. Seluruh tahapan dilaksanakan untuk memastikan terpilihnya pemimpin yang mampu membawa UII terus berkembang di tengah dinamika pendidikan tinggi yang semakin kompleks dan kompetitif.

Hari Purnomo merupakan sosok akademisi yang tumbuh dan berkembang bersama almamaternya. Sebagai alumni sekaligus dosen Program Studi Teknik Industri UII, ia menekuni bidang ergonomi, teknik industri, kesehatan dan keselamatan kerja (K3), serta makroergonomi. Pengalaman akademik dan profesional yang panjang menjadikannya salah satu figur yang memiliki pemahaman mendalam terhadap perjalanan, budaya, serta tantangan strategis yang dihadapi UII.

Dalam perjalanan pengabdiannya, Hari Purnomo telah mengemban berbagai amanah strategis di lingkungan universitas, antara lain sebagai Ketua Jurusan Teknik Industri, Kepala Badan Perencanaan, dan Dekan Fakultas Teknologi Industri. Selain itu, ia juga aktif berkontribusi dalam organisasi profesi di tingkat nasional, di antaranya sebagai Ketua Majelis Akreditasi Lembaga Akreditasi Mandiri Teknik (LAM Teknik) dan Dewan Pakar Perhimpunan Ergonomi Indonesia.

Empat Wakil Rektor Perkuat Kepemimpinan UII

Usai dilantik sebagai Rektor, Hari Purnomo melantik empat Wakil Rektor yang akan mendampinginya dalam menjalankan roda kepemimpinan universitas selama periode 2026–2030. Keempatnya diharapkan dapat memperkuat sinergi lintas bidang sekaligus mengakselerasi berbagai agenda strategis universitas dalam bidang akademik, riset, kemahasiswaan, tata kelola, hingga penguatan jejaring kemitraan.

Empat Wakil Rektor yang dilantik terdiri atas Prof. Riyanto, S.Pd., M.Si., Ph.D. sebagai Wakil Rektor Bidang Akademik, Rekognisi, Riset, Inovasi, dan Kewirausahaan; Prof. Rifqi Muhammad, S.E., M.Sc., Ph.D. sebagai Wakil Rektor Bidang Keuangan, Sumber Daya, dan Keberlanjutan; Dr. Nurjihad, S.H., M.H. sebagai Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Keislaman, dan Kealumnian; serta Prof. Ir. Eko Siswoyo, S.T., M.Sc.ES., Ph.D., IPU. sebagai Wakil Rektor Bidang Kemitraan, Admisi, dan Komunikasi Strategis.

Dengan kepemimpinan baru tersebut, UII diharapkan mampu melanjutkan berbagai capaian yang telah diraih selama ini sekaligus memperkuat posisinya sebagai perguruan tinggi yang unggul, berintegritas, dan berdaya saing global. Melalui kolaborasi seluruh sivitas akademika dan para pemangku kepentingan, UII berkomitmen untuk terus menghadirkan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa, pengembangan ilmu pengetahuan, serta masyarakat luas. (KU/AHR/RS)

Acara Adha Fest 1447 H kembali diadakan oleh Takmir Masjid Ulil Albab (TMUA) Universitas Islam Indonesia (UII) dengan menggelar kajian Spesial Sate Qurban di pelataran Auditorium Prof. K.H. Abdul Kahar Muzakkir, Kampus Terpadu UII pada Minggu (31/5). Acara yang mengangkat tema “Menata Asupan, Menguatkan Kebersamaan, Mewujudkan Kebermanfaatan” mengundang dr. Veby Novri Yendri Sp.THT-KL, Dosen Fakultas Kedokteran UII yang dihadiri peserta dari berbagai latar belakang, baik mahasiswa maupun masyarakat umum.

Pada kajian ini, dr. Veby memaparkan bahwa manusia tidak hanya butuh asupan nutrisi untuk menjaga kesehatan tubuh, tetapi juga asupan batin yang diperoleh melalui ibadah, beramal, dan menuntut ilmu. Menurutnya rezeki yang diberikan oleh Allah SWT bertujuan untuk menjadikan manusia menjadi hamba yang penuh rasa syukur. Serta ia menjelaskan pentingnya mensyukuri kesehatan dengan fisik digunakan untuk melakukan hal-hal yang diridhai Allah, seperti melangkahkan kaki ke masjid dan mendengarkan nasihat agama.

Veby juga menekankan pentingnya mengonsumsi makanan yang halal dan thayyib atau baik bagi kesehatan, sebagaimana diperintahkan dalam Al-Qur’an pada QS. Al-Baqarah ayat 168, يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوۡا مِمَّا فِى الۡاَرۡضِ حَلٰلًا طَيِّبًا . Ia juga mengajak peserta untuk menerapkan pola makan yang diajarkan Rasulullah SAW, yaitu makan secukupnya dan tidak berlebihan.

Dalam kesempatan tersebut, adapun kutipan riwayat dari Siti Aisyah RA yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah kenyang dua kali dalam sehari.  Ia mengingatkan anjuran Nabi agar lambung diisi sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk udara. Serta makan berlebihan dapat berdampak buruk bagi kesehatan serta menurunkan semangat beribadah. Karena itu, peserta diajak menikmati hidangan kurban dengan penuh syukur tanpa berlebihan, sejalan dengan firman Allah SWT yang melarang sikap berlebih-lebihan dalam makan dan minum dalam QS. Al- Araf ayat 31, وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ .

Di akhir kajian, ia mengajak peserta menerapkan pola hidup sehat sesuai ajaran Islam dan mengajak peserta menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama dengan meneladani sahabat Abu Bakar RA yang dikenal gemar bersedekah dan membantu orang lain. Menurutnya, rasa syukur atas nikmat kesehatan, keamanan, dan rezeki dapat diwujudkan melalui amal serta kontribusi positif kepada masyarakat.

Talitha Syifa Al Fath, mahasiswa Program Studi Sistem Informasi UPN Veteran Yogyakarta angkatan 2025, salah satu peserta kajian turut memberikan kesannya terhadap kajian ini. “Materi yang disampaikan menarik karena memadukan perspektif Islam dan sains dengan bahasa yang mudah dipahami. Kajian tersebut memberikan pemahaman mengenai pentingnya menjaga kondisi fisik dan mental sebagai penunjang aktivitas sehari-hari dan ibadah. Dengan menjaga pola hidup yang seimbang, seseorang dapat menjalankan aktivitas dengan lebih optimal, berpikir lebih positif, serta melaksanakan ibadah dengan lebih baik,” katanya.

Setelah kajian, rangkaian kegiatan diakhiri dengan makan sate kurban bersama yang diikuti seluruh peserta. Kajian Spesial Sate Qurban ini diharapkan mampu memberikan pembelajaran kepada peserta untuk meningkatkan rasa syukur baik dengan menjaga kesehatan fisik hingga mendekatkan diri kepada Allah. (DHP/AHR/RS)

Dalam rangka menyemarakkan perayaan Milad ke-83 Universitas Islam Indonesia (UII), UII sukses selenggarakan Gema Sholawat: Festival Lomba Hadroh Banjari tingkat nasional untuk jenjang MA/SMA/SMK sederajat. Berpusat di Auditorium Gedung K.H. Ahmad Wahid Hasyim, Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) UII pada Jum’at (29/5), acara puncak ini mempertemukan 13 finalis terbaik dari berbagai daerah di Indonesia dalam suasana kompetisi yang penuh dengan syiar Islam dan harmoni.

Penilaian kompetisi dilakukan oleh dewan juri di bidang Hadrah, yaitu Muhammad Najib Machasin (komposer qasidah sekaligus Dewan Juri Hadrah dan Nasyid DIY) serta Imam Fatawi (vokalis Kiai Kanjeng dan praktisi seni lukis).

​Ketua Panitia Milad ke-83 UII, Rizki Anfanni Fahmi, S.E.I., M.Si., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi mendalam atas dedikasi para peserta yang bersedia menempuh perjalanan jauh demi menggemakan sholawat di kampus UII. ​”Alhamdulillah, senandung sholawat bergema di kampus UII pada hari Jumat yang berkah ini. Kami kedatangan total 13 finalis, dengan peserta terjauh berasal dari Bengkulu dan Lampung,” ungkapnya. Ia juga berharap acara ini dapat terus konsisten dilaksanakan pada tahun-tahun mendatang sebagai salah satu contoh syiar Islam di lingkungan UII.

Pembukaan festival ini bertepatan dengan hari terakhir masa jabatan Fathul Wahid sebagai Rektor UII. Dalam sambutannya, ia mengaku sangat bahagia sekaligus terharu karena momen perpisahannya dilepas dengan lantunan sholawat dari generasi muda islami. Ia juga berpesan agar umat Islam selalu menghadirkan wajah beragama yang ramah dan menyenangkan. ​”Agama itu harus disiarkan dengan membahagiakan (nyenengke). Kita diminta untuk selalu mempermudah, bukan mempersulit. Melalui gema sholawat ini, mari kita bangun suasana beragama yang menyenangkan dan membentuk pribadi-pribadi yang membawa ketentraman bagi sekitarnya,” tutur Rektor UII sebelum membuka acara secara resmi.

Salah satu rangkaian acara Gema Sholawat ini, panitia juga menyediakan Campus Tour oleh mahasiswa FIAI UII. Para finalis diajak berkeliling untuk melihat langsung berbagai fasilitas akademik unggulan di FIAI UII. Melalui kegiatan ini, UII menegaskan komitmennya untuk terus menjadi wadah integrasi nilai keilmuan dan keislaman demi merawat jejak lestari peradaban bangsa. (NKA/AHR/RS)

Takmir Masjid Ulil Albab Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menggelar pelaksanaan Salat Idul Adha 1447 Hijriah pada hari Rabu (27/5) dengan penuh kekhidmatan di pelataran Gedung Fakultas Hukum (FH) UII. Ribuan jamaah dari sivitas akademika dan masyarakat sekitar memadati saf yang telah disediakan.

Bertindak sebagai khatib Ir. Risdiyono S.T., M. Eng.,PhD., IPM dan imam sholat oleh Ustadz Tantan Qital Barozi, S.Ag. Pada kesempatan kali ini,  di tengah situasi bangsa yang dinilai sedang menghadapi berbagai tantangan besar, mulai dari sektor ekonomi, politik, dan moralitas, momentum Idul Adha tahun ini dijadikan sebagai refleksi mendalam bagi seluruh jamaah untuk memperkuat ketaqwaan dan keteguhan mental.

Risdiyono menyampaikan pesan mendalam mengenai esensi ketakwaan serta pentingnya membangun ketangguhan mental dengan meneladani keluarga Nabi Ibrahim AS. Ia menegaskan bahwa taqwa merupakan pondasi utama yang menentukan derajat kemuliaan seorang hamba di sisi Allah SWT. Menukil perkataan ulama tabi’in Thalaq bin Habib, khatib menjelaskan hakikat taqwa yang sesungguhnya, 

Yang namanya takwa adalah engkau beramal dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas cahaya, di atas petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala karena kita mengharapkan ganjaran pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan kita meninggalkan maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas cahaya Allah, di atas petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala karena kita takut akan balasan siksa dari Allah Subhanahu wa Ta’ala,imbuhnya.

Selain itu, Risdiyono menyampaikan tiga hal yang dapat dipelajari tentang mentalitas dari Nabi Ibrahim. Pertama, kuatnya iman, aqidah dan tauhid kita sebab hal ini telah langsung dicontohkan oleh Nabi Ibrahim saat berhadapan dengan api. Kedua, semangat ikhtiar yang maksimal yang telah dicontohkan oleh Siti Hajar ketika mencari air untuk putranya. Ketiga, mudah untuk menerima takdir yang telah ditentukan oleh yang maha kuasa.

Melalui momentum Hari Raya Idul Adha ini, UII mengajak seluruh masyarakat untuk merefleksikan kembali makna pengorbanan yang sesungguhnya. Dengan pondasi keimanan yang kokoh, semangat ikhtiar yang tinggi, serta keikhlasan terhadap takdir, setiap Muslim mempunyai harapan bangkit dari kegagalan dan menjadi pribadi yang lebih tangguh di masa depan.(RMD/AHR/RS)

Dalam rangka meramaikan Hari Raya Idul Adha 1447 H, Takmir Masjid Ulil Albab Universitas Islam Indonesia (TMUA UII) selenggarakan Pengajian Sore dan Buka Bersama (Pesbukers) di Pelataran Auditorium Prof. Dr. K.H. Abdulkahar Muzakir UII pada Selasa (26/5). Dengan mengangkat tema “Ketika Cinta Bertemu Ketaatan”, acara ini hadirkan Habib Ja’far Al Jufri dan Ustadz Hanif Kertasari sebagai pemateri. Acara diikuti oleh kurang lebih 300 jamaah dari mahasiswa UII dan masyarakat sekitar. 

Idul Adha identik dengan kisah cinta Nabi Ismail kepada Allah. Dari kisah tersebut, Habib Ja’far memaparkan bahwa ketaatan tertinggi lahir dari rasa cinta yang mendalam kepada Sang Pencipta. Ia menjelaskan bagaimana Nabi Ibrahim harus melewati ujian berat setelah menanti kehadiran seorang putra selama 120 tahun. Ketika kebahagiaan itu akhirnya hadir, Allah SWT justru mengujinya melalui sebuah mimpi untuk menyembelih Nabi Ismail.

Secara mendalam, Habib Ja’far mengulas pilihan redaksi Q.S As-Saffat: 102 yang menggunakan kalimat اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ (Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi). Penggunaan bentuk kata kerja masa kini “الفِعْلُ الْمُضَارِعِ” menunjukkan betapa nyatanya mimpi tersebut hingga terus terbayang jelas di benak Nabi Ibrahim. Di sisi lain, kepatuhan luar biasa dari Nabi Ismail tidak lepas dari peran besar Ibunda Hajar yang mendidiknya dengan ketauhidan yang matang selama belasan tahun tanpa figur ayah di sisinya.

Melanjutkan pemaparan tersebut, Ustadz Hanif Kartasari mengupas Q.S As-Saffat: 99 yang mengisahkan awal mula hijrah Nabi Ibrahim. Ungkapan اِنِّيْ ذَاهِبٌ اِلٰى رَبِّيْ سَيَهْدِيْنِ menegaskan komitmen Nabi Ibrahim untuk menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya arah dan tujuan hidup, terlepas dari ke mana pun kaki melangkah atau seberapa berat rintangan dakwah yang dihadapi.

Ustadz Hanif juga menyoroti bahwa ujian penyembelihan datang justru saat Nabi Ismail mencapai usia di mana ketika seorang anak sudah bisa membantu dan bekerja bersama ayahnya. Di titik puncak kelekatan emosional itulah kadar cinta Nabi Ibrahim diuji, apakah ia lebih mencintai karunia (Nabi Ismail) atau Sang Pemberi Karunia (Allah Swt).

Menjelang waktu berbuka puasa arafah, acara Pesbukers ini ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Habib Ja’far Al Jufri. Setelah mengumandangkan adzan Maghrib, panitia membagikan hidangan takjil dan iftar kepada seluruh jamaah yang hadir secara tertib di pelataran auditorium. (NKA/AHR/RS)