Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Islam Swasta se-Indonesia (BKSPTIS) menyelenggarakan Lokakarya Peningkatan Kapasitas Pengelolaan Perguruan Tinggi di Universitas Islam Al-Azhar (Unizar), Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Senin (16/2). Kegiatan ini menjadi ruang berbagi praktik baik dan penguatan kapasitas pengelola perguruan tinggi Islam swasta (PTIS), terutama pada isu internasionalisasi dan penjaminan mutu.

Lokakarya ini diikuti puluhan peserta dari berbagai PTIS di NTB, termasuk di antaranya Universitas Hamzanwadi, Universitas Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat, Universitas Cordova, Universitas Nahdlatul Wathan Mataram, serta sejumlah sekolah tinggi dan institut seperti STIT Ispini, STIT Darussalimin NW Praya, STIS Haji Abdul Rasyid Lombok Tengah, dan STEI Hamzar Lombok Timur. Kehadiran lintas kampus ini mempertegas semangat kolaborasi untuk meningkatkan mutu tata kelola perguruan tinggi Islam di daerah.

Rektor Unizar Dr. Ir. Muh. Ansyar, M.P. dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kepercayaan BKSPTIS yang menjadikan Unizar sebagai tuan rumah. Ansyar menekankan pentingnya forum lintas kampus untuk memperkuat tata kelola kelembagaan, memperluas jejaring kolaborasi, serta mendorong peningkatan mutu yang lebih terarah dan berkelanjutan di lingkungan PTIS, khususnya di NTB.

Pada sesi awal juga dilakukan penandatanganan Implementation Agreement antara Universitas Islam Indonesia (UII) dan Unizar di bidang penjaminan mutu sebagai langkah konkret kerja sama antarperguruan tinggi.

Dalam sesi bertajuk peta jalan penguatan tata kelola perguruan tinggi Islam, Fathul Wahid menegaskan pentingnya merumuskan arah pengembangan institusi berdasarkan realitas nasional, bukan sekadar menyalin praktik luar negeri.

“Peta jalan perguruan tinggi perlu didasarkan pada kondisi faktual di Indonesia, dan tidak ‘mengekor’ praktik di negara/konteks lain,” ujar Fathul yang juga merupakan Rektor UII tersebut.

Fathul menekankan bahwa tata kelola perguruan tinggi harus dipahami sebagai sistem menyeluruh, bukan hanya urusan administratif, yang memastikan pengambilan keputusan kampus berjalan efektif, terbuka, partisipatif, dan dapat dipertanggungjawabkan, serta tetap berorientasi pada tujuan pendidikan secara utuh.

Fathul juga mengingatkan kampus agar tidak terjebak pada capaian yang tampak “internasional” tetapi tidak substantif, seraya menekankan keseimbangan antara idealisme dan penerimaan publik. 

Lokakarya dilanjutkan dengan sesi pendalaman internasionalisasi dan penguatan penjaminan mutu bersama Dr. Dian Sari Utami dan Dr. Rina Mulyati. Forum diharapkan dapat menghasilkan langkah tindak lanjut yang realistis dan dapat diterapkan di masing-masing PTIS. Dari Mataram, BKSPTIS menegaskan komitmen untuk memperluas jejaring dan menguatkan budaya mutu melalui kolaborasi yang berkelanjutan. (HF/AHR/RS)

Universitas Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat (UNU NTB) dan Universitas Islam Indonesia (UII) pada Senin (16/02) menandatangani Nota Kesepahaman tentang pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi di Kampus UNU NTB, Mataram.

Penandatanganan dilakukan oleh Rektor UNU NTB, Dr. Baiq Mulianah, M.Pd.I, dan Rektor UII, Prof. Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D, sebagai bagian dari komitmen bersama untuk memperkuat kolaborasi antar Perguruan Tinggi Islam Swasta (PTIS) dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi yang lebih solid, adaptif, dan berdaya saing.

Nota Kesepahaman ini akan memperluas kerja sama di bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta berbagai inisiatif strategis lain yang disepakati bersama. Kolaborasi ini diharapkan memperkuat kapasitas institusi, mendorong pertukaran praktik baik, serta memperluas kontribusi pendidikan tinggi Islam dalam pembangunan daerah dan nasional.

Di tengah dinamika dan tantangan pendidikan tinggi yang semakin kompleks, sinergi antar-PTIS menjadi faktor kunci untuk memastikan keberlanjutan dan relevansi institusi. Kemitraan ini mencerminkan pendekatan kolaboratif yang menempatkan kemajuan bersama sebagai prioritas.

Nota Kesepahaman berlaku selama lima tahun dan akan ditindaklanjuti melalui Perjanjian Kerja Sama (PKS) pada tingkat fakultas, lembaga, dan unit kerja terkait di kedua universitas.

“Penandatanganan Nota Kesepahaman ini merupakan langkah strategis bagi UNU NTB dalam memperluas jejaring akademik dan memperkuat kapasitas kelembagaan.” ungkap Dr. Baiq Mualianah.

Rektor UNU NTB meyakini bahwa kolaborasi dengan Universitas Islam Indonesia akan mendorong peningkatan kualitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, khususnya dalam penguatan peran perguruan tinggi di kawasan timur Indonesia

“Kemitraan ini adalah komitmen nyata untuk menghadirkan sinergi yang berkelanjutan demi kemaslahatan umat dan bangsa.” tegasnya.

Senada, Rektor UII, Prof. Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D menyatakan kerja sama ini merupakan wujud nyata kolaborasi antar Perguruan Tinggi Islam Swasta untuk saling menguatkan dan bertumbuh bersama.

“Dalam lanskap pendidikan tinggi yang semakin kompetitif, PTIS tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Sinergi menjadi fondasi bagi daya saing kolektif dan keberlanjutan institusi.” jelas Prof. Fathul Wahid.

Melalui kolaborasi yang setara dalam pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dapat memperkuat kontribusi pendidikan tinggi Islam bagi pembangunan bangsa. (HF/AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) bersama Dewan Perwakilan Wilayah Ikatan Alumni (DPW IKA) UII Nusa Tenggara Barat (NTB) menyelenggarakan kegiatan “UII Menyapa Lombok” di Holiday Resort Lombok, Ahad (15/02). Kegiatan ini menjadi ruang silaturahmi sekaligus forum dialog untuk memperkuat jejaring alumni, membangun sinergi, serta membuka peluang kolaborasi antara UII, alumni, dan para pemangku kepentingan di NTB, dengan kehadiran puluhan alumni dari berbagai program studi.

Dalam sambutannya, Wakil Rektor Bidang Pengembangan Akademik dan Riset UII, Prof. Dr. Jaka Nugraha, S.Si., M.Si., menyampaikan perkembangan terkini dan capaian kemajuan UII dalam beberapa waktu terakhir, baik dari sisi penguatan akademik, riset, maupun reputasi institusi. Prof. Jaka menegaskan bahwa capaian tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan turut ditopang oleh kontribusi alumni yang menjaga nama baik UII dan mengambil peran strategis di berbagai sektor. 

“Berbagai kemajuan yang dicapai UII hari ini tidak lepas dari kontribusi para alumni. Alumni adalah bagian penting dari ekosistem kemajuan UII,” ujar Prof. Jaka.

Prof. Jaka juga menyampaikan apresiasi atas kehadiran para alumni dan mendorong agar partisipasi alumni tidak berhenti pada masa kelulusan, melainkan berlanjut melalui kerja sama yang lebih luas, mulai dari jejaring profesional, penguatan komunitas alumni di daerah, hingga kolaborasi konkret yang mendukung langkah maju UII. 

“Kami berharap keterlibatan alumni tidak berhenti saat wisuda. Justru setelah lulus, ruang kolaborasi itu semakin luas, dan UII ingin terus terhubung melalui komunitas alumni di daerah,” tambahnya.

Selanjutnya, Ketua DPW IKA UII NTB, H. Muhammad Ramadhani, ST., M.Si., menekankan pentingnya forum silaturahmi sebagai pengikat jejaring alumni sekaligus penguat kontribusi nyata alumni di NTB. Ia menyambut baik inisiatif UII untuk hadir lebih dekat dengan alumni di daerah. 

“Kegiatan ini adalah momentum untuk menguatkan jejaring, membangun komunikasi, dan menghadirkan kontribusi alumni yang lebih nyata bagi daerah,” kata Muhammad Ramadhani yang juga merupakan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Mataram.

Agenda dilanjutkan dengan paparan Direktur Pemasaran UII, Nadia Wasta Utami, S.I.Kom., M.A., yang menekankan informasi praktis terkait jalur-jalur admisi UII. “UII menyediakan beberapa jalur admisi yang bisa dipilih sesuai kebutuhan dan kesiapan calon mahasiswa,” ungkap Nadia.

Sebagai puncak kegiatan, sesi sarasehan berlangsung dinamis dan interaktif. Para alumni menyampaikan pertanyaan, masukan, dan aspirasi, mulai dari peluang kolaborasi, penguatan peran alumni UII di NTB, hingga isu-isu pengembangan institusi. (HF/AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan Wisuda Doktor, Magister, Sarjana, dan Diploma Periode III Tahun Akademik 2025/2026 pada Sabtu (14/2) di Yogyakarta di Auditorium Prof.K.H. Abdul Kahar Mudzakkir, Kampus Terpadu UII. Pada periode ini, sebanyak 416 lulusan resmi dikukuhkan, terdiri dari 2 ahli madya, 7 sarjana terapan, 327 sarjana, 72 magister, dan 8 doktor. Sehingga, sampai saat ini tercatat lebih dari 132.206 alumni yang berkiprah dalam berbagai peran baik dalam negeri maupun mancanegara.

Rektor UII, Fathul Wahid, dalam sambutannya mengingatkan para wisudawan bahwa wisuda bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal pengabdian yang lebih luas bagi masyarakat.

“Izinkan saya menitipkan satu pesan utama hari ini: asahlah empati, jagalah kepekaan sosial,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa ilmu dan keterampilan profesional saja tidak cukup tanpa empati. Menurutnya, setiap keputusan yang kelak diambil para lulusan akan berdampak pada kehidupan banyak orang.

“Ilmu yang Saudara peroleh di kampus ini sangat penting. Tetapi tanpa empati, semua itu bisa kehilangan arah. Tanpa kepekaan sosial, kecerdasan bisa menjadi dingin,” ujarnya.

Rektor juga mengingatkan agar para lulusan tidak terjebak pada capaian personal semata, tetapi mampu memberi dampak kemanusiaan dalam setiap peran yang dijalani. “Semakin tinggi ilmu kita, semakin halus pula rasa kita. Semakin luas wawasan kita, semakin dalam pula kepedulian kita,” tambahnya.

Sementara itu, Wakil Alumni UII yang juga Head of Communications Grab Indonesia, Dimas Novriandi, menyampaikan pesan inspiratif dengan gaya yang ringan dan reflektif. Ia mengajak para wisudawan untuk tidak takut menghadapi fase baru kehidupan.

Mengutip pesan motivasional, ia menyampaikan, “Wisuda itu bukan garis finish, itu tanda kamu sanggup menyelesaikan. Bukan karena kamu tidak pernah capek, tapi karena kamu tetap jalan walau lelah.”

Dimas juga mengingatkan bahwa rasa takut memasuki dunia nyata adalah hal yang wajar. Namun, menurutnya, keberanian lahir dari langkah kecil yang konsisten.

“Takut itu manusiawi. Yang penting, kita tidak berhenti di sana,” katanya.

Dalam pesannya kepada para wisudawan, ia menekankan pentingnya integritas dan keandalan di dunia profesional. “Kamu tidak harus jadi yang paling cepat, tapi jadilah yang paling bisa dipercaya. Karena di dunia setelah kampus, banyak yang pintar. Tapi yang dicari adalah yang bisa diandalkan,” ujarnya.

Baik Rektor maupun wakil alumni sama-sama menegaskan bahwa keberhasilan akademik perlu diiringi karakter yang kuat dan kepedulian sosial. Wisuda kali ini tidak hanya menjadi seremoni akademik, tetapi juga momentum refleksi untuk melahirkan generasi profesional yang cemerlang secara intelektual dan hangat secara kemanusiaan. (AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menunjukkan komitmennya dalam memperluas jejaring internasional dengan berpartisipasi dalam World Education Expo 2026 yang diselenggarakan di Cebu, Filipina pada Kamis (05/02).  Kegiatan ini menjadi ajang strategis untuk memperkenalkan UII kepada calon mahasiswa internasional serta mitra pendidikan global.

Pada kesempatan tersebut, UII diwakili oleh Nihlah Ilhami selaku Kepala Divisi Mobilitas Internasional dan Tria Rejeki Sholikhah selaku Koordinator Akomodasi dan Asuransi dari Direktorat Kemitraan/Kantor Urusan Internasional (DK/KUI) UII. Kehadiran delegasi UII menegaskan peran aktif universitas dalam mendukung internasionalisasi pendidikan tinggi Indonesia.

World Education Expo 2026 Cebu diikuti oleh berbagai institusi pendidikan dari sejumlah negara, antara lain Malaysia, Rusia, Prancis, dan Australia. Masing-masing institusi mempresentasikan profil, program akademik, serta peluang kolaborasi internasional kepada pengunjung expo.

Dalam sesi presentasi, UII memperkenalkan profil universitas, program akademik unggulan, serta peluang studi bagi mahasiswa internasional. Selain itu, UII juga memaparkan dua skema beasiswa yang sedang dibuka, yaitu Future Global Leaders Scholarship (FGLS) dan Kemitraan Negara Berkembang (KNB). Informasi ini disampaikan kepada para hadirin pameran yang terdiri atas staf pengajar dan siswa di wilayah Cebu, dengan jumlah total pengunjung lebih dari 200 peserta.

Partisipasi UII semakin diperkuat dengan kunjungan Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Manila, Prof. Nina Yulianti, Ph.D., ke booth UII. Selain itu, perwakilan dari Commission on Higher Education (CHED) Regional Office VII Cebu, Filipina, juga turut hadir dan berdiskusi mengenai peluang kerja sama pendidikan tinggi antara Indonesia dan Filipina.

Keikutsertaan UII dalam World Education Expo 2026 ini menjadi langkah strategis dalam meningkatkan visibilitas global universitas, menarik minat mahasiswa internasional, serta membuka peluang kolaborasi akademik lintas negara. Melalui kegiatan ini, UII terus memperkuat posisinya sebagai universitas yang berorientasi global dan berdaya saing internasional. (NI/DS/AHR/RS)

Program Profesi Arsitek (PPAr) Universitas Islam Indonesia (UII) sebagai mitra Pemerintah Kota Yogyakarta dalam pembangunan kawasan layak huni di Kota Yogyakarta menghadiri peresmian Pembangunan Baru Rumah Terdampak Penataan Konsolidasi Lahan Pemukiman pada Senin (09/02) di Kampung Lampion RT. 18 RW 04, Terban, Kota Yogyakarta.

Kawasan RT 18 RW 04 Kampung Lampion di Kelurahan Kotabaru merupakan salah satu wilayah strategis yang terletak di pusat Kota Yogyakarta yang berada dibantaran Sungai Code. Lokasi ini menjadi fokus perhatian karena menghadapi sejumlah permasalahan yang berkaitan dengan kondisi permukiman, potensi bencana, serta tantangan dalam penyediaan infrastruktur dasar.

Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Kotabaru, Drs. Soegiarto melaporkan bahwa pembangunan kawasan bantaran sungai Code ini dilakukan dengan skema swakelola yang mengedepankan transparansi dan pengawasan.

“Dalam penataan kawasan bantaran sungai tahap pertama tahun 2025 terbangun 10 rumah yaitu enam rumah melalui mekanisme APBD dan 4 rumah lagi melalui mekanisme CSR SPARC-SPEAK yang difasilitasi jejaring UII,” jelas Soegiarto.

Skema swakelola dipilih agar proses perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasan dapat berjalan maksimal sekaligus mendorong partisipasi aktif masyarakat. Program ini disambut positif oleh masyarakat karena pemangku kepentingan dinilai mampu mewujudkan hunian yang sehat dan aman.

Lebih lanjut, Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) UII, Prof. Prof. Dr.-Ing. Ir. Ilya Fadjar Maharika, MA., IAI.dalam sambutannya menegaskan keterlibatan perguruan perguruan tinggi dalam program ini merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat sekaligus pembelajaran langsung bagi mahasiswa.

Prof. Ilya menjelaskan bahwa dukungan yang hadir bukan sekadar tanggung jawab sosial kampus, melainkan hibah dari jejaring filantropi internasional SPARC SPEAK. “UII dengan jejaring yang dimiliki mendapatkan hibah dari yayasan internasional yang fokus pada peningkatan kualitas rumah dan permukiman,” jelasnya

Menurutnya, kawasan tersebut menjadi living laboratory bagi mahasiswa lintas disiplin. “Lokasi seperti kampung ini menjadi laboratorium hidup bagi mahasiswa untuk bekerja langsung bersama masyarakat,” katanya

Ia menambahkan, hibah yang diberikan berfungsi sebagai katalis agar muncul inisiatif lokal serta kolaborasi berkelanjutan antara warga, pemerintah, dan perguruan tinggi.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta menilai program penataan permukiman di bantaran sungai tidak hanya berdampak pada kualitas hunian, tetapi juga berpotensi memperkuat daya tarik kawasan berbasis kearifan lokal.

Ia menyampaikan bahwa pembangunan rumah layak merupakan bagian dari upaya meningkatkan taraf hidup masyarakat melalui kolaborasi lintas sektor. “Kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup warga,” ujarnya

Ia juga melihat kawasan bantaran yang telah ditata berpotensi dikembangkan sebagai kampung wisata. “Dengan penataan dan keterlibatan warga, kawasan bantaran sungai bisa menjadi destinasi yang menonjolkan kearifan lokal,” tambahnya

Penataan kawasan RT 18 RW 04 Kampung Lampion Kelurahan Kotabaru merupakan wujud nyata dari komitmen Pemerintah Kota Yogyakarta dalam mengurangi kawasan kumuh sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Melalui pendekatan yang menyeluruh dan kolaboratif, kegiatan ini tidak hanya menjawab kebutuhan lokal, tetapi juga merefleksikan semangat global untuk mewujudkan hunian yang adil, inklusif, dan berkelanjutan.

Dukungan dari berbagai pemangku kepentingan, seperti Universitas Islam Indonesia dan SPARC India, memperkuat pelaksanaan kegiatan melalui sinergi yang saling melengkapi. Kolaborasi ini diharapkan mampu menghadirkan sebuah model penanganan permukiman kumuh yang terintegrasi dengan pengembangan kawasan kota serta pelestarian lingkungan, khususnya di bantaran sungai. (AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menunjukkan komitmennya dalam memperluas jejaring internasional dengan berpartisipasi dalam World Education Expo 2026 yang diselenggarakan di Cebu, Filipina pada Kamis (05/02). Kegiatan ini menjadi ajang strategis untuk memperkenalkan UII kepada calon mahasiswa internasional serta mitra pendidikan global.

Pada kesempatan tersebut, UII diwakili oleh Nihlah Ilhami selaku Kepala Divisi Mobilitas Internasional dan Tria Rejeki Sholikhah selaku Koordinator Akomodasi dan Asuransi dari Direktorat Kemitraan/Kantor Urusan Internasional (DK/KUI) UII. Kehadiran delegasi UII menegaskan peran aktif universitas dalam mendukung internasionalisasi pendidikan tinggi Indonesia.

World Education Expo 2026 Cebu diikuti oleh berbagai institusi pendidikan dari sejumlah negara, antara lain Malaysia, Rusia, Prancis, dan Australia. Masing-masing institusi mempresentasikan profil, program akademik, serta peluang kolaborasi internasional kepada pengunjung expo.

Dalam sesi presentasi, UII memperkenalkan profil universitas, program akademik unggulan, serta peluang studi bagi mahasiswa internasional. Selain itu, UII juga memaparkan dua skema beasiswa yang sedang dibuka, yaitu Future Global Leaders Scholarship (FGLS) dan Kemitraan Negara Berkembang (KNB). Informasi ini disampaikan kepada para hadirin pameran yang terdiri atas staf pengajar dan siswa di wilayah Cebu, dengan jumlah total pengunjung lebih dari 200 peserta.

Partisipasi UII semakin diperkuat dengan kunjungan Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Manila, Prof. Nina Yulianti, Ph.D., ke booth UII. Selain itu, perwakilan dari Commission on Higher Education (CHED) Regional Office VII Cebu, Filipina, juga turut hadir dan berdiskusi mengenai peluang kerja sama pendidikan tinggi antara Indonesia dan Filipina.

Keikutsertaan UII dalam World Education Expo 2026 ini menjadi langkah strategis dalam meningkatkan visibilitas global universitas, menarik minat mahasiswa internasional, serta membuka peluang kolaborasi akademik lintas negara. Melalui kegiatan ini, UII terus memperkuat posisinya sebagai universitas yang berorientasi global dan berdaya saing internasional. (NI/DS/AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) melalui Kantor Urusan Internasional menyelenggarakan Welcoming Program bagi mahasiswa ACICIS (Australian Consortium for In-Country Indonesian Studies) yang akan menempuh studi di Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE) UII) pada Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026, Selasa (27/01).

Pada periode ini, UII menerima tiga mahasiswa ACICIS yang akan mengikuti perkuliahan pada Program Studi Manajemen dan Akuntansi. Kehadiran mahasiswa internasional ini merupakan bagian dari komitmen UII dalam memperkuat internasionalisasi kampus serta menciptakan lingkungan akademik yang inklusif dan berdaya saing global.

Welcoming Program dilaksanakan sebagai kegiatan orientasi awal untuk memfasilitasi adaptasi mahasiswa terhadap budaya akademik di kampus UII. Rangkaian kegiatan diawali dengan sambutan oleh Ibu Dian Sari Utami selaku Direktur Kemitraan/Kantor Urusan Internasional. Selanjutnya, peserta mengikuti sesi Pengenalan Budaya Akademik yang memberikan pemahaman mengenai budaya komunikasi dan interaksi di lingkungan kampus UII. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penjelasan pengambilan mata kuliah yang ditawarkan di FBE pada semester genap tahun akademik 2025/2026 mendatang.

Melalui kegiatan ini, UII berharap mahasiswa ACICIS dapat menjalani proses akademik secara optimal serta memperoleh pengalaman belajar yang bermakna. Selain meningkatkan kompetensi akademik, program ini juga diharapkan memperkuat pemahaman lintas budaya dan mempererat hubungan kerja sama antara UII dan ACICIS. (NI/DS/AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) kembali memulai tahapan suksesi kepemimpinan Rektor untuk periode 2026–2030. Proses ini menjadi momentum strategis untuk memastikan arah pengembangan UII tetap sejalan dengan nilai keislaman, keilmuan, dan kebangsaan. Tema pemilihan kali ini adalah “Amanah Demi UII”, sebuah penegasan komitmen terhadap kepemimpinan sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan demi kemajuan universitas.

Pada acara Pengujian Rencana Aksi Bakal Calon Rektor Terpilih yang diselenggarakan pada Selasa (27/01) di Auditorium Prof. K.H. Abdul Kahar Muzakkir, Kampus Terpadu UII, Ketua Umum Yayasan Badan Wakaf (YBW) UII, Prof. Dr. Suparman Marzuki, S.H., M.Si dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan tersebut tidak sekadar merupakan rutinitas administratif, melainkan dimaknai sebagai estafet kepemimpinan yang sangat penting bagi masa depan Universitas Islam Indonesia.

“Kita tidak hanya mencari sosok yang handal tapi visioner untuk menerjemahkan nilai-nilai luhur UII, sekaligus bisa membuat UII berlari kencang di tengah disrupsi global menantang sekarang ini. Oleh karena itu, mari kita itu proses ini dengan baik dengan khidmat,” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh calon rektor yang telah berpartisipasi dalam proses tersebut. “Terima kasih kepada para calon rektor atas partisipasinya. Ini adalah proses yang penting. Bapak dan Ibu merupakan orang-orang terbaik yang telah meluangkan waktu dan pemikiran untuk memimpin UII di masa depan. Siapapun yang terpilih, harapannya institusi ini dapat terus berkembang dengan baik,” tambahnya.

Ketua Panitia Pemilihan Rektor, Dr. Eko Riyadi, S.H., M.H menjelaskan bahwa Pemilihan Rektor UII dilaksanakan berdasarkan Peraturan Pengurus Yayasan Badan Wakaf UII Nomor 8 Tahun 2025 tentang Tata Cara Pemilihan Rektor Universitas Islam Indonesia. Peraturan ini mempersyaratkan calon Rektor adalah dosen yang berusia sekurang-kurangnya 40 tahun, memiliki gelar doktor (S-3) dengan jabatan akademik Guru Besar. Selain syarat formal tersebut, calon Rektor harus seseorang yang memiliki jejaring akademik dan sosial yang luas, kemampuan manajerial yang mumpuni, serta karakter kepemimpinan yang kuat, cepat, bersih, dan solutif.

Berdasarkan persyaratan tersebut, Panitia Pemilihan mendapatkan 36 orang bakal calon untuk dijaring di seluruh Fakultas. Proses penjaringan ini mendapatkan 13 Bakal Calon Rektor Terpilih antara lain Prof. Akhmad Fauzy, S.Si., M.Si., Ph.D.; Prof. Dr. Budi Agus Riswandi, S.H., M.Hum.; Prof. Ir. Eko Siswoyo, S.T., M.Sc.ES., Ph.D., I.P.U.; Prof. Dr. Ir. Hari Purnomo, M.T., IPU.; Prof.Dr.-Ing. Ar. Ilya Fadjar Maharika, M.A., I.A.I.; Prof. Dr. Jaka Nugraha, S.Si., M.Si.; Prof. Jaka Sriyana, S.E., M.Si., Ph.D.; Prof. Dr. rer. soc. Masduki, S.Ag., M.Si.; Prof. Nandang Sutrisno, S.H., LL.M., M.Hum., Ph.D.; Prof. Rifqi Muhammad, S.E., S.H., M.Sc., Ph.D.; Prof. Riyanto, S.Pd., M.Si., Ph.D.; Prof. Dr. Sri Kusumadewi, S.Si., M.T.; dan Prof. Dr. Zaenal Arifin, M.Si.

“Dalam tahapan selanjutnya, Panitia Pemilihan Rektor membuka ruang partisipasi publik dengan mengajak seluruh warga UII untuk menyampaikan usulan pertanyaan kepada para Bakal Calon Rektor Terpilih. Pengujian rencana aksi ini menjadi forum strategis untuk menggali visi, rencana, serta komitmen calon terhadap arah pengembangan UII ke depan,” ungkap Eko.

Sejalan dengan upaya menjaga integritas proses seleksi, Panitia Pemilihan Rektor juga membuka kanal Penelusuran Rekam Jejak Bakal Calon Rektor Terpilih. Kanal ini dibuka bagi warga UII—dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa—serta masyarakat umum sebagai ruang partisipasi dalam menyampaikan informasi yang relevan, baik terkait prestasi maupun dugaan pelanggaran, sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Informasi rekam jejak dapat disampaikansecara daring melalui laman https://uii.id/rekamjejak.

Para calon tersebut selanjutnya menyampaikan rencana aksi (action plan) pada 27 Januari 2026 sebagai pemaparan visi, strategi, dan program kepemimpinan apabila dipercaya memimpin UII. Pemaparan action plan dilakukan di hadapan Tim Seleksi Pemilihan Rektor yang terdiri atas Drs. Syafaruddin Alwi, M.S., Anggota Pembina Yayasan Badan Wakaf UII; Dr. M. Busyro Muqoddas, S.H., M.Hum., Dosen Fakultas Hukum UII; Prof. Mohammad Mahfud MD, Guru Besar Hukum Tata Negara; Dr. Halim Alamsyah, Wakil Presiden Komisaris PT Bank Danamon Indonesia (MUFG Group, Jepang); serta Prof. Rofikoh Rokhim, S.E., SIP., DEA., Ph.D., ahli di bidang perbankan, keuangan, manajemen risiko, pasar modal, tata kelola, dan keuangan pembangunan.

“Tim Seleksi bertugas menilai secara komprehensif terhadap visi kepemimpinan, kapasitas manajerial, serta kemampuan menjawab tantangan pengelolaan perguruan tinggi di tingkat nasional dan global. Berdasarkan hasil penilaian tersebut, Tim Seleksi menetapkan enam Calon Rektor. Penetapan dilakukan melalui musyawarah mufakat dengan mengedepankan objektivitas dan kepentingan institusi. Enam calon ini kemudian diajukan kepada Senat Universitas untuk dipilih menjadi tiga Calon Rektor Terpilih,” jelasnya.

Pemilihan oleh Senat Universitas dilakukan melalui rapat senat dengan mekanisme pemungutan suara. Setiap anggota Senat Universitas yang hadir memberikan satu suara untuk memilih satu nama calon Rektor. Dari proses tersebut, ditetapkan tiga Calon Rektor Terpilih berdasarkan perolehan suara terbanyak.

Tahap akhir rangkaian suksesi kepemimpinan ini ditandai dengan pemaparan Rencana Strategis tiga Calon Rektor Terpilih di hadapan Pengurus Yayasan Badan Wakaf UII. Kegiatan tersebut juga akan dihadiri Ketua Pembina dan Ketua Pengawas Yayasan. Berdasarkan pemaparan serta pertimbangan yang menyeluruh, Pengurus Yayasan Badan Wakaf UII menetapkan Rektor Terpilih melalui mekanisme musyawarah mufakat. Penetapan Rektor Universitas Islam Indonesia periode 2026–2030 dijadwalkan berlangsung pada 6 Maret 2026.

Adapun informasi lengkap mengenai setiap tahapan pemilihan dapat diakses melalui laman www.uii.ac.id/uiimemilih2026.

Melalui proses yang berjenjang, partisipatif, dan berlandaskan regulasi yang jelas ini, UII menegaskan komitmennya untuk menghadirkan kepemimpinan yang amanah, berintegritas, serta mampu membawa universitas terus berkontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan, masyarakat, dan bangsa. (ER/AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) secara resmi melepas mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Angkatan ke-72 Semester Genap TA 2025/2026 pada Jumat (23/01) di Halaman Belakang Gedung Auditorium Prof. K.H. Abdul Kahar Muzakkir, Kampus Terpadu UII.

Kepala Pusat KKN Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) UII, dr. Raden Edi Fitriyanto, M.Gizi dalam laporannya menyampaikan jumlah peserta KKN angkatan kali ini mencapai 723 mahasiswa yang diterjunkan pada dua provinsi yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Lebih lanjut, dr. Edi menjelaskan pelaksanaan KKN UII terbagi dalam dua model yaitu KKN Tematik Pengelolaan Sampah dan KKN Reguler. KKN Tematik Pengelolaan Sampah berfokus pada pemberdayaan sampah, melanjutkan tahap pemetaan permasalahan yang telah dilakukan pada periode sebelumnya.

“Pada periode ini kami harapkan mahasiswa dapat melakukan pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sampah, terutama yang telah difasilitasi oleh pemerintah setempat. Harapannya pada periode berikutnya ada implementasi dari teknologi tepat guna terkait dengan permasalahan sampah,” ungkap dr. Edi.

Sementara itu, KKN Reguler dilaksanakan di Magelang, Jawa Tengah yang juga sebagai tindak lanjut dari kegiatan yang dijalankan pada periode sebelumnya. Hal ini menjadi penegasan bahwa program KKN UII dilakukan secara berkelanjutan dan tidak sporadis.

Lebih lanjut, Rektor UII, Fathul Wahid dalam sambutannya mengatakan bahwa KKN ini menjadi penting dalam proses pendidikan mahasiswa. Fathul Wahid memaparkan tujuan pendidikan yang tidak hanya untuk meningkatkan kualifikasi diri, tetapi ada fungsi sosialisasi agar mahasiswa mampu memahami perannya sebagai makhluk sosial serta fungsi subjektifikasi yang mendorong mahasiswa menjadi individu yang berperan di tengah masyarakat

Sehingga dengan KKN ini, akan membuka peluang-peluang itu. Saudara dihadapkan pada masalah nyata di lapangan, kemudian mulai berpikir, terlibat diskusi, mengusulkan solusi dan lain-lain, artinya apa? Saudara menjadi aktor, menjadi subjek dalam konteks nyata di lapangan,” ungkapnya.

Tak lupa, Rektor juga mengimbau seluruh mahasiswa KKN UII Angkatan 72 untuk selalu menjaga keselamatan selama perjalanan maupun pelaksanaan kegiatan di lokasi KKN masing-masing.

Rangkaian acara pelepasan ditutup dengan pemakaian secara simbolis jas almamater kepada perwakilan mahasiswa dan penyerahan kepersetaan BPJS Ketenagakerjaan sebagai bentuk perlindungan bagi mahasiswa selama menjalankan program KKN. (AHR/RS)