Universitas Islam Indonesia (UII) peringati Milad ke-83 dengan mengangkat tema Harmoni untuk Jejak Lestari. Disampaikan Rektor UII, Fathul Wahid dalam Media Gathering UII 2026 pada Selasa (13/01), tema ini sarat dengan makna yang mendalam. Menurutnya, harmoni merupakan fondasi keberlanjutan terlebih saat ini UII tengah menjalani berbagai proses pengembangan.

“Semua keputusan yang diambil hari ini kami yakini akan menjadi investasi berharga di masa depan. Fondasi yang telah dibangun akan terus diperkuat agar UII dapat tumbuh secara berkelanjutan,” ungkapnya.

Senada, Dekan Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) UII,  Dr. Drs. Asmuni, M.A. mengungkapkan tema milad kali ini memiliki makna yang sangat kuat terlebih untuk pengembangan keilmuan dan keislaman.

“Harmoni tersebut mencakup nilai spiritual, nilai keilmuan, dan nilai kemanusiaan. Nilai spiritual tercermin dalam konsep Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Nilai keilmuan diwujudkan melalui komitmen kampus dalam mengembangkan ilmu pengetahuan sebagai tugas utama perguruan tinggi,” tutur Dr. Asmuni.

Lebih lanjut, dalam pengembangan studi Islam di UII diterapkan dalam kerangka epistemologi tiga pilar yaitu tradisi keilmuan Islam klasik, keterbukaan terhadap modernitas dan ilmu pengetahuan global, serta konteks keindonesiaan. Ketiga pilar tersebut menjadi dasar pengembangan keilmuan Islam yang relevan dan kontekstual.

“Nilai kemanusiaan menjadi pilar ketiga yang menegaskan komitmen UII pada moderasi, kebangsaan, dan keberpihakan pada kemaslahatan bersama. Dengan demikian, harmoni yang dibangun tidak hanya bersifat konseptual, tetapi juga nyata dalam praktik kehidupan,” tegasnya.

Tak lupa, Dr. Asmuni juga memberikan pesan bahwa momentum milad ini menjadi pengingat akan jati diri UII. Ketika sebuah institusi melupakan nilai-nilai dasarnya, maka ia akan kehilangan arah. Oleh karena itu, pembaruan nilai-nilai UII menjadi pusat refleksi pada usia ke-83 ini. (AHR/RS)

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering memandang kebaikan sebagai sesuatu yang sederhana dan sesaat. Padahal, dalam pandangan iman, satu niat dapat melahirkan satu amal, satu amal dapat memengaruhi banyak orang, dan satu kebaikan dapat menjalar jauh melampaui waktu dan pelakunya. Inilah yang bisa kita sebut sebagai reaksi berantai kebaikan.

 

Meluruskan niat

Dalam Islam, kebaikan selalu dimulai dari niat. Amal yang sama, jika dilakukan dengan niat yang berbeda, akan melahirkan energi, semangat, dan dampak yang berbeda pula.

Ada sebuah kisah sederhana tentang seorang ibu yang menasihati anaknya setelah melihat seorang pemulung. Nasihat itu bisa berbunyi dengan dua cara yang sangat berbeda. “Sekolah yang rajin, supaya tidak seperti dia.” Atau, “Sekolah yang rajin, supaya kelak kamu bisa menolong dia.”

Keduanya sama-sama mendorong anak untuk belajar, tetapi lahir dari cara pandang yang berbeda. Yang pertama lahir dari rasa takut dan jarak, yang kedua dari empati dan kepedulian. Di sinilah niat membentuk arah batin sebuah perbuatan.

Hal yang sama terjadi di dunia kampus. Seorang mahasiswa bisa datang ke kelas dengan beragam niat: sekadar mengisi waktu, takut pada dosen, menjalankan amanah orang tua, mensyukuri kesempatan berkuliah yang hanya dinikmati sebagian kecil pemuda seusianya, atau menghadiri majelis ilmu sebagai ibadah. Secara fisik, tindakannya sama: duduk di kelas. Namun secara ruhani, nilainya bisa sangat berbeda.

Dosen pun demikian. Publikasi ilmiah bisa dilakukan sekadar menggugurkan kewajiban administratif, mengejar insentif, membangun kebanggaan diri yang berlebihan, memenuhi kebutuhan akreditasi, atau sebagai ikhtiar berkontribusi pada pengembangan ilmu dan menebar keberkahan pengetahuan. Perbedaannya bukan pada artikelnya, melainkan pada niat di baliknya.

Begitu pula dengan amanah jabatan. Ada yang memaknainya sebagai jalan memperkaya diri, ada yang menjalaninya sekadar karena tak terhindarkan, dan ada pula yang meniatkannya sebagai bentuk pengabdian—melayani sesama dengan kesadaran bahwa dipilih adalah kehormatan, dan kehormatan harus dibalas dengan pelayanan terbaik. Bahkan ada yang melihat amanah itu sebagai wasilah untuk memuliakan agama Allah, dengan memastikan lembaga pendidikan Islam maju dan tidak tertinggal.

Pertanyaannya sederhana namun mendalam: dari sekian banyak pilihan niat itu, niat mana yang paling memberi energi untuk menjalani peran kita; sebagai orang tua, mahasiswa, dosen, pegawai, pemimpin, dan sebagai orang beriman?

Islam memberikan bingkai yang kaya untuk menjawabnya. Dengan ilmu yang luas dan nurani yang terjaga, kita diajak memandang kehidupan dengan kacamata kebaikan. Rasulullah saw. mengingatkan bahwa amal tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan memperoleh sesuai dengan apa yang ia niatkan (Shahih Bukhari 1). Niat bukan sekadar pembuka amal, tetapi fondasi seluruh perjalanan kebaikan.

Namun, apakah niat saja cukup?

 

Menjaga akhir

Dalam tradisi akademik, niat bisa dianalogikan seperti proposal penelitian atau daftar isi buku. Ia penting, tetapi belum cukup. Amal tidak hanya dinilai dari awalnya, tetapi juga dari akhirnya.

Kita berdoa agar setiap ikhtiar berakhir dengan husnul khatimah, karena iman manusia tidak selalu stabil. Iman bisa bertambah dan berkurang. Niat yang baik hari ini bisa melemah esok hari jika tidak dijaga.

Karena itulah, Allah memerintahkan kita untuk saling menasihati dalam kebenaran, dalam kesabaran, dan dengan kasih sayang. Nasihat bukan untuk merasa lebih suci, tetapi untuk saling menjaga agar tetap berada di rel yang benar.

Ada satu godaan besar bagi orang yang merasa niat dan amalnya sudah baik, yaitu kesombongan. Ketika kebaikan melahirkan rasa superior, dan keberhasilan berubah menjadi alat merendahkan orang lain, di situlah bahaya mengintai. Padahal, amal juga sangat ditentukan oleh bagaimana ia diakhiri (Shahih Bukhari 6607).

Rasulullah saw.  mengingatkan dengan sangat tegas bahwa seseorang bisa melakukan amal yang tampak seperti amal ahli surga, tetapi berakhir sebagai ahli neraka, dan sebaliknya (Shahih Bukhari 6607). Penilaian sejati ada pada penutup perjalanan, bukan sekadar tampilan di tengah jalan.

Pesan ini mengajarkan kehati-hatian sekaligus kerendahan hati. Kita tidak pernah tahu di titik mana ujian terberat datang. Maka, menjaga niat harus diiringi dengan menjaga istikamah, menghindari rasa paling benar, dan terus memohon pertolongan Allah agar akhir langkah kita tetap berada dalam kebaikan.

 

Kebaikan yang menjalar

Kebaikan tidak hanya berdampak pada saat ini, dan tidak berhenti pada diri pelakunya. Bahkan perbuatan yang tampak kecil dapat memicu dampak yang panjang dan luas.

Rasulullah saw. memberi gambaran yang sangat kuat: jika hari kiamat sudah di ambang, dan di tangan seseorang masih ada tunas tanaman, maka tanamlah (Al-Adab Al-Mufrad 27). Pesannya jelas, bahwa kebaikan tidak mengenal waktu. Tidak ada alasan untuk berhenti berbuat baik hanya karena merasa hasilnya tidak akan kita nikmati.

Dalam kehidupan sehari-hari, pesan ini sangat relevan. Jika seseorang sedang berada di akhir masa amanah, itu bukan alasan untuk bekerja seadanya atau melepaskan tanggung jawab. Justru di situlah integritas diuji. Kebaikan yang kita tanam hari ini mungkin tidak kita nikmati, tetapi akan menjadi bekal bagi generasi berikutnya.

Menanam pohon, dalam konteks kekinian, bisa bermakna lebih luas: merumuskan kebijakan yang adil, membangun institusi, memperkuat sistem layanan, atau menciptakan ekosistem yang memberi ruang bagi banyak orang untuk tumbuh. Dampaknya sering kali tidak kasat mata, karena bekerja melalui reaksi berantai.

Sebagai contoh, sebuah kebijakan sederhana yang tidak memonopoli layanan internal dapat membuka peluang bagi banyak pihak di luar institusi. Ketika kampus memilih bermitra dengan UMKM, manfaatnya tidak berhenti pada transaksi ekonomi. Ada pekerja yang mendapatkan penghasilan, ada keluarga yang tercukupi kebutuhannya, ada anak-anak yang bisa bersekolah dan memperoleh layanan kesehatan yang lebih baik. Rantai kebaikan itu terus menjalar, jauh melampaui keputusan awal yang tampak sederhana.

Bagi orang beriman, reaksi berantai ini bahkan tidak berhenti pada kehidupan dunia. Setiap manfaat yang terus mengalir menjadi sedekah yang pahalanya tidak terputus, selama kebaikan itu masih hidup dan memberi manfaat.

Di situlah letak keindahan ajaran Islam: kebaikan tidak pernah sia-sia. Ia selalu menemukan jalannya untuk tumbuh, menjalar, dan kembali kepada pelakunya, di dunia maupun di akhirat (QS Ar-Rahman 60).

Tidak ada seorang muslim pun yang menanam pohon kecuali dia mendapatkan pahala sedekah dari apa yang dimakan darinya; apa yang dicuri darinya, apa yang dimakan oleh binatang buas darinya, dan apa yang dimakan oleh burung darinya adalah sedekah baginya (Shahih Muslim 1552).

Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu meluruskan niat, menjaga akhir amal, dan menanam kebaikan yang dampaknya melampaui diri dan zaman. Semoga reaksi berantai kebaikan itu terus bergerak, melalui peran kecil maupun besar yang Allah titipkan kepada kita.

Elaborasi ringan dari khutbah Jumat di Masjid Ulil Albab Universitas Islam Indonesia, 9 Januari 2026.

Fathul Wahid

Rektor Universitas Islam Indonesia 2022-2026

Pusat Studi Pusat Inovasi Konstruksi Digital (PIKD) Universitas Islam Indonesia (UII) bekerja sama dengan Program Studi Pendidikan Profesi Arsitek (PPAr) UII dan Institut BIM Indonesia (IBIMI) menyelenggarakan kegiatan Yudisium Microcredential Building Information Modeling (BIM) pada Senin (29/12) di Auditorium Gedung Moh. Natsir Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), Kampus Terpadu UII.

Kegiatan ini merupakan puncak dari rangkaian program Microcredential BIM yang dirancang untuk meningkatkan kompetensi profesional arsitek dalam menghadapi transformasi digital industri konstruksi. Selama program berlangsung, para peserta memperoleh pemahaman mendalam mengenai penerapan BIM dalam praktik profesi arsitek, mencakup pengelolaan proyek, proses desain, serta kolaborasi lintas disiplin dalam lingkungan digital. Dekan FTSP UII, Prof. Dr.-Ing. Ar. Ilya Fadjar Maharika, M.A., IAI, dalam sambutannya menyampaikan bahwa penguasaan BIM merupakan kebutuhan strategis bagi arsitek masa depan. “Kolaborasi antara akademisi, profesi, dan industri menjadi kunci dalam menyiapkan sumber daya manusia yang adaptif terhadap perkembangan teknologi konstruksi digital,” ujarnya.

Ketua Program Studi PPAr UII, Dr. Ar. Yulianto P. Prihatmaji, S.T., M.T., IPM., IAI. menegaskan bahwa program microcredential ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan PPAr UII dalam memperkuat relevansi pendidikan profesi dengan kebutuhan praktik nyata. “BIM bukan lagi pilihan, melainkan kompetensi utama yang harus dimiliki arsitek profesional,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Pusat Studi PIKD UII, Ir. Vendie Abma, S.T., M.T., IPM, menyampaikan harapannya agar program Microcredential BIM ini dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan dan menjadi katalis inovasi. “Kami berharap seluruh pihak yang terlibat dapat terus berinovasi dan menjadi garda terdepan dalam adopsi teknologi BIM di Indonesia,” ungkapnya. Ketua IBIMI, Ar. M. Kharis Alfi S., S.T., M.T., IAI, turut menyampaikan apresiasi atas sinergi yang terbangun antara institusi pendidikan dan asosiasi profesi. Menurutnya, program ini menjadi contoh konkret penguatan ekosistem BIM nasional melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Kegiatan ini dikoordinasikan oleh Achmad Irsan selaku Koordinator Pengampu Kelas Kredensial Mikro BIM, yang memastikan proses pembelajaran berjalan efektif dan aplikatif sesuai kebutuhan praktik profesional. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Daerah Istimewa Yogyakarta, khususnya kepada Ketua IAI DIY Ar. Erlangga Winoto, IAI, AA, atas kehadiran dan dukungan terhadap terselenggaranya kegiatan ini.

Melalui kegiatan yudisium Microcredential BIM ini, diharapkan terbangun komitmen bersama antara perguruan tinggi, asosiasi profesi, dan lembaga pelatihan untuk terus mendorong transformasi digital dan meningkatkan daya saing arsitek Indonesia di tingkat nasional maupun global.(VA/AHR/RS)

Di momen berbahagia ini, izinkan saya mengajak Saudara memaknai wisuda bukan sebagai garis akhir perjalanan, melainkan gerbang awal petualangan kehidupan yang lebih luas terbentang.

Dunia yang terus berlari

Dunia di luar sana bergerak cepat, nyaris tanpa jeda. Teknologi berubah dalam hitungan bulan, pekerjaan yang hari ini ada, lima tahun mendatang bisa saja tinggal cerita.

Karena itu, keberhasilan sejati kini bukan semata tentang keahlian tunggal, melainkan tentang keluwesan beradaptasi di tengah perubahan yang dinamis. Adapasi adalah keberanian menjelajah wilayah baru tanpa gentar, dan keterbukaan untuk terus belajar, menyerap makna, memperbarui diri, seraya melangkah dengan rendah hati dan sekaligus percaya diri.

Kita hidup di zaman yang sangat bising, bukan hanya oleh suara, tetapi oleh banjir informasi, opini, dan tuntutan untuk selalu bereaksi cepat. Setiap hari kita digoda untuk segera merespons, menyimpulkan, dan mengambil posisi, seolah kecepatan adalah tanda kecerdasan. Padahal, seperti diingatkan Daniel Kahneman, manusia kerap keliru justru ketika merasa paling yakin. Kebijaksanaan tidak lahir dari reaksi spontan, melainkan dari kejernihan berpikir dan keberanian untuk melambat.

 

Jebakan berpikir cepat

Kahneman (2011), peraih Nobel Ekonomi, dalam bukunya Thinking, Fast and Slow, menjelaskan bahwa pikiran manusia bekerja melalui dua sistem. Sistem pertama bekerja cepat, otomatis, dan emosional; ia membantu kita bereaksi instan, tetapi juga rawan bias dan kesalahan. Sistem kedua bekerja lebih lambat, penuh usaha, dan analitis; ia memang melelahkan, tetapi di sanalah penilaian yang lebih jernih terbentuk. Masalahnya, dunia hari ini hampir selalu memaksa kita hidup dalam sistem pertama—cepat membaca judul, cepat menyimpulkan isi, cepat membagikan tanpa sempat memeriksa.

Bayangkan seseorang yang melihat tali di lantai dan seketika meloncat karena mengira itu ular. Reaksi cepat itu wajar dan bahkan berguna. Namun, bayangkan jika semua keputusan hidup diambil dengan logika yang sama: memilih pekerjaan hanya karena terlihat bergengsi, mengikuti arus opini karena takut tertinggal, atau mengambil keputusan besar hanya karena semua orang melakukannya. Di sinilah berpikir cepat menjadi jebakan.

Menjaga akal sehat berarti memberi ruang bagi sistem kedua untuk bekerja. Artinya, berani berhenti sejenak sebelum bereaksi, berani bertanya sebelum percaya, dan berani menimbang sebelum memutuskan. Kahneman menyebut salah satu jebakan terbesar manusia sebagai overconfidence—bias, atau kesalahan sistematis, karena rasa percaya diri berlebihan pada penilaian sendiri. Di sini ada ilusi pemahaman. Banyak kesalahan besar dalam hidup bukan lahir dari kurangnya informasi, tetapi dari keyakinan yang terlalu cepat dan tidak diuji.

Sebagai ilustrasi, kita bisa melihat bagaimana pilihan publik dalam demokrasi sering kali ditentukan oleh apa yang disebut sebagai demokrasi perasaan (democracy of feelings) (Davies, 2018). Dalam situasi ini, keputusan tidak lahir dari penimbangan yang jernih atas gagasan, rekam jejak, dan dampak jangka panjang, melainkan dari emosi sesaat: rasa takut, marah, bangga, atau harapan yang dibangkitkan lewat slogan dan simbol.

Ketika emosi diberi panggung utama, sistem berpikir cepat mengambil alih—kita merasa yakin telah “memahami”, padahal yang bekerja sering kali hanyalah ilusi pemahaman. Pilihan pun dijatuhkan dengan penuh percaya diri, meski tanpa pengujian yang memadai. Di sinilah kita belajar bahwa hak memilih saja tidak cukup; yang lebih penting adalah kualitas cara memilih. Tanpa keberanian untuk berhenti sejenak, bertanya, dan menimbang secara rasional, demokrasi—baik dalam politik maupun dalam kehidupan sehari-hari—mudah tergelincir menjadi sekadar ekspresi perasaan, bukan keputusan yang benar-benar disadari.

Ilustrasi lain yang lebih sederhana: ketika kita menyetir di jalan yang macet, klakson bisa membuat kita merasa bergerak lebih cepat, padahal kenyataannya tidak. Atau, bisa jadi kita  menggunakan bahu jalan sebagai jalur baru ketika kemacetan sedang terjadi. Kita merasa akan menyelesaikan masalah, tetapi tak jarang, keputusan cepat justru memperburuk kemacetan.

Demikian pula dalam hidup—bereaksi cepat sering memberi rasa puas sesaat, tetapi tidak selalu membawa kita lebih jauh. Justru mereka yang mampu menahan diri, menjaga kejernihan pikiran, dan memilih dengan sadar, biasanya melangkah lebih tepat.

 

Keberanian untuk melambat

Ilmu yang Saudara peroleh di bangku kuliah telah melatih logika dan nalar. Namun, kehidupan akan menguji sesuatu yang lebih dalam: kemampuan untuk tetap jernih ketika dunia menjadi gaduh, tetap tenang ketika tekanan datang bertubi-tubi, dan tetap berpegang pada nilai ketika pilihan terasa mudah tetapi menyesatkan.

Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat dan semakin gaduh, kejernihan akal menjadi kompas yang menuntun langkah. Ilmu pengetahuan melatih nalar, tetapi kebijaksanaan tumbuh dari kemampuan memilah, menimbang, dan menentukan arah dengan tenang. Masa depan bukan hanya milik mereka yang paling cepat bereaksi, melainkan milik mereka yang mampu berpikir jernih, bertindak bijak, dan tetap waras di tengah hiruk-pikuk zaman.

Pilihan-pilihan yang mempunyai implikasi penting dan jangka panjang, sudah seharusnya didasarkan pada sistem kedua: berpikir lambat.

 

Referensi

Davies, W. (2018). Nervous states: How feeling took over the world. Random House.

Kahneman, D. (2011). Thinking, fast and slow. Farrar, Straus and Giroux.

Sambutan pada acara wisuda Universitas Islam Indonesia, 27 dan 28 Desember 2025.

Fathul Wahid

Rektor Universitas Islam Indonesia 2022-2026

Barus bukanlah daerah biasa, wilayah pesisir Tapanuli Tengah ini mendapat julukan “Kota Para Aulia” karena sejarahnya. Barus adalah pusat perdagangan internasional sejak abad ke-7 yang memperkenalkan kapur barus dan rempah ke dunia, sekaligus menjadi gerbang fajar Islam di Nusantara. Namun, di penghujung tahun 2025, narasi kejayaan itu tertutup lumpur pekat.

Data menunjukkan bahwa bencana ini bukan sekadar luapan air, tercatat delapan orang meninggal dunia, 58 luka-luka, dan 2.851 jiwa terpaksa mengungsi. Kerusakan infrastruktur mencakup 8 rumah hanyut dan 29 rusak berat. Dampak pada fasilitas publik juga dirasakan sangat signifikan. Di Desa Ujung Batu, sarana pendidikan seperti SDN 155704 Ujung Batu dan Pesantren Tahfidz Darussalam lumpuh akibat timbunan lumpur dan kerusakan sarana pendidikan dan struktur bangunan. Sementara itu, fungsi sosial keagamaan terganggu dengan tidak beroperasinya Masjid Al-Hidayah, yang kini beralih fungsi menjadi posko darurat pengungsi.

Merespons kondisi ini, UII merancang program pengabdian masyarakat yang tidak hanya bersifat charity (bantuan darurat), tetapi juga menyentuh aspek pemulihan jangka menengah dan panjang melalui kegiatan kolaboratif. Misi kemanusiaan di Barus, Tapanuli Tengah merupakan kolaborasi antara Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdikdisaintek), UII Peduli, Fakultas Kedokteran UII dan MAPALA UII, yang diketuai oleh Dr. dr. Yaltafit Abror Jeem, MPH.

Misi kemanusiaan ini diawali dengan pergerakan Tim MAPALA UNISI yang melakukan pioneer work dengan membuka akses jalan yang terputus, melakukan evakuasi, dan mengidentifikasi masalah lapangan. Estafet perjuangan kemudian dilanjutkan oleh Tim Medis UII yang tiba pada Jumat (19/12).  Berdasarkan rencana strategis, intervensi dibagi dalam dua gelombang. Minggu pertama difokuskan pada observasi dan layanan kesehatan dasar di Desa Ujung Batu oleh Tim 1, yang kemudian diperluas ke Desa Kinali dan Pasar Terandam dan layanan kesehatan lanjut oleh Tim 2 pada minggu berikutnya.

Posko Utama Tim Medis bertempat di SDN 155704 Desa Ujung Batu, personel tim medis pertama adalah dr. R Edi Fitriyanto, M.Gizi., dr. Fit Anastyo, dr. Mellody Yudhasinta Putri Cahyono, dan dr. Annisa Sofiana.

Kegiatan Layanan Kesehatan

Hasil asesmen kesehatan dari pemeriksaan terhadap 53 pasien ditemukan sepuluh penyakit terbanyak yaitu:

  1. ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut)
  2. Cefalgia (Sakit kepala akibat stres/kelelahan)
  3. Dispepsia (Gangguan lambung akibat pola makan tidak teratur)
  4. Vulnus (Luka terbuka akibat material banjir)
  5. Mialgia (Nyeri otot)
  6. Hipertensi (Peningkatan tekanan darah sistemik)
  7. Ginggivitis & Stomatitis (Masalah oral akibat higiene buruk)
  8. Rinitis & Bronkopneumonia (Gangguan pernapasan akibat kelembaban tinggi)

“Sebagian besar kasus berkaitan erat dengan paparan lingkungan yang lembap dan penurunan imunitas akibat masa pengungsian yang tidak ideal,” jelas dr. Fit Anastyo.

Sanitasi dan Perbaikan Lingkungan

Tim UII Peduli mengambil langkah strategis dengan melakukan revitalisasi terhadap 17 sumur warga yang terkontaminasi banjir. Proses ini meliputi pengurasan air terkontaminasi lumpur, pembersihan material sedimen, dan penjernihan air (klorinasi terkontrol). Sebelum masyarakat dapat menggunakan air sumur sebagai sumber air bersih, tim mendistribusikan air minum kemasan. Selain itu tim membagikan 200 paket higiene (sabun, sikat gigi, handuk) dan melakukan edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Trauma Healing Mengobati Luka Tak Kasat Mata

Bencana banjir di Barus menyisakan memori traumatis, terutama bagi anak-anak yang menyaksikan rumah dan sekolah mereka hancur. Pada 21 Desember 2025, program Trauma Healing dilaksanakan melalui pendekatan psikososial persuasif. Aktivitas kelompok dan permainan edukatif digunakan sebagai instrumen untuk menurunkan regulasi emosi yang negatif. Hasilnya terlihat pada antusiasme anak-anak yang mulai mampu mengekspresikan kegembiraan, sebuah indikator penting dalam pemulihan daya coping (mekanisme adaptasi) individu.

 

Dukungan Pangan Darurat

Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bukan sekadar distribusi pangan, melainkan upaya mitigasi gangguan pertumbuhan. “PMT berfungsi sebagai komplemen asupan harian untuk menjamin kebutuhan mikronutrien tetap terpenuhi. Di tengah krisis, kekurangan gizi dapat menghambat kognisi anak dan menurunkan efektivitas sistem imun mereka,” pungkas dr. R Edi Fitriyanto, M Gizi.

Menjaga Peradaban Barus Tetap Berdiri

Program UII Peduli di Tapanuli Tengah adalah manifestasi “Islam yang memberi manfaat” sebuah misi medis yang berlandaskan nilai Rahmatan Lil ‘Alamin. Melalui kegiatan ini, diharapkan peradaban yang telah bertahan sejak abad ke-7 ini dapat segera pulih, seiring dengan mengalirnya kembali air bersih dan pulihnya tawa anak-anak di tanah sejarah tersebut. (REF/AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) menerima bantuan lima pohon kelengkeng dari Telaga Nursery yang kemudian ditanam di lingkungan kampus UII pada Rabu (24/12). Kegiatan ini menjadi momentum silaturahmi sekaligus penguatan kolaborasi antara UII dan Telaga Nursery yang selama ini telah terjalin dalam kegiatan pembekalan purna tugas pegawai.

Pohon kelengkeng yang ditanam merupakan jenis kelengkeng Itoh Super, varietas unggulan kelengkeng dataran rendah yang dikenal memiliki kualitas buah premium. Kelengkeng Itoh Super memiliki daging buah tebal, biji relatif kecil, serta rasa manis legit dengan aroma khas. Varietas ini juga dikenal adaptif dan produktif, sehingga banyak dikembangkan di berbagai perkebunan kelengkeng di Indonesia sebagai tanaman bernilai edukatif, ekonomis, dan berkelanjutan.

Perkebunan kelengkeng Itoh Super yang dikelola Telaga Nursery memiliki rekam jejak sebagai lokasi pembelajaran dan pembekalan, termasuk dimanfaatkan oleh Universitas Islam Indonesia dalam kegiatan pembekalan purna tugas. Melalui pemanfaatan tersebut, peserta pembekalan tidak hanya memperoleh wawasan praktis, tetapi juga nilai reflektif tentang keberlanjutan, produktivitas, dan keseimbangan pasca purna tugas.

Dalam kegiatan ini, pihak UII diwakili oleh staf Direktorat Sumber Daya Manusia/Sekolah Kepemimpinan, sedangkan dari Telaga Nursery hadir Isto Suwarno selaku Owner Telaga Nursery dan Faizal Wahyu selaku Pengelola Umum Telaga Nursery. Bantuan pohon kelengkeng ini diberikan sebagai ungkapan terima kasih sekaligus bentuk apresiasi atas kerja sama dan hubungan baik yang telah terjalin.

Penanaman pohon dilakukan di area kampus UII, tepatnya di sisi utara sebelah barat Rusun Putri UII. Penyerahan bantuan dilakukan secara simbolis dan dilanjutkan dengan penanaman bersama sebagai wujud komitmen kebersamaan, silaturahmi, dan kolaborasi yang berkelanjutan antara kedua belah pihak.

Melalui kegiatan ini, Universitas Islam Indonesia menyambut baik inisiatif Telaga Nursery dan berharap pohon kelengkeng yang ditanam dapat tumbuh subur serta memberikan manfaat jangka panjang, baik sebagai bagian dari ruang hijau kampus maupun sebagai simbol sinergi dan kolaborasi yang terus terjaga. Inisiatif ini juga selaras dengan tema Milad ke-82 UII, “UII Mengerti Bumi”, sebagai wujud kepedulian terhadap kelestarian lingkungan dan komitmen universitas dalam mendukung keberlanjutan. (NSS/AHR/RS)

Kehadiran para doktor baru ini akan memperkuat posisi UII dalam ekosistem pendidikan tinggi—baik di tingkat nasional maupun global—melalui kontribusi akademik yang lebih bermakna, relevan, dan berguna bagi masyarakat luas.

Hingga akhir tahun 2025, UII tercatat memiliki 254 dosen bergelar doktor, atau 32,60% dari total 779 dosen yang mengabdi di universitas ini. Angka ini bukan hanya sebuah statistik, tetapi bukti konsistensi UII dalam membangun fondasi akademik yang kuat.

Selain itu, saat ini terdapat 202 dosen UII yang sedang menempuh studi doktoral di berbagai perguruan tinggi bergengsi, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Berdasarkan proyeksi yang realistis, jumlah dosen berpendidikan doktor di UII ke depan berpotensi mencapai 456 orang, atau sekitar 58,54% dari total dosen.

Pertumbuhan ini menunjukkan dua hal penting: pertama, komitmen institusi untuk terus berinvestasi pada pengembangan sumber daya manusia akademik; dan kedua, kesungguhan para dosen untuk meningkatkan kapasitas diri sebagai ilmuwan dan pendidik.

Dengan bertambahnya jumlah doktor, UII semakin memiliki modal intelektual yang kuat untuk mendorong riset bermutu, memperluas jejaring akademik, dan menghasilkan inovasi yang relevan bagi masyarakat.

 

Keragaman tradisi

UII dengan penuh rasa syukur menyambut 33 doktor baru yang telah berhasil menuntaskan studi S3 di berbagai perguruan tinggi, baik di dalam maupun di luar negeri. Selain dari beragam perguruan tinggi di Indonesia, sebagian doktor lulusan tahun 2025 ini juga menempuh pendidikan di beragam kawasan dunia—mulai dari Australia, Brunei Darussalam, Estonia, Jepang, Korea, Malaysia, Swedia, Turki, hingga Inggris—yang semuanya memberikan pengayaan perspektif dan pengalaman akademik yang sangat berharga.

Dari 33 doktor baru tersebut, 16 dosen menyelesaikan studi di universitas dalam negeri, sementara 17 lainnya meraih gelar doktor dari perguruan tinggi luar negeri.

Keberagaman lintasan akademik para doktor baru ini sungguh mencerminkan keluasan orientasi intelektual UII serta keterbukaan kita terhadap kolaborasi dan pertumbuhan nasional dan global. Para doktor baru kembali dengan pengalaman belajar yang beragam, dengan perspektif yang dibentuk oleh dialog lintas negara, lintas budaya, dan lintas tradisi keilmuan.

Dalam banyak hal, keberagaman ini dapat kita ibaratkan seperti hutan multikultur—sebuah ekosistem yang terdiri atas pepohonan dari berbagai jenis, yang tumbuh berdampingan, saling menguatkan, dan menciptakan ketahanan yang jauh lebih kokoh dibandingkan hutan monokultur.

Hutan multikultur mampu menahan badai lebih baik, memulihkan diri lebih cepat, memberikan manfaat ekologis yang lebih luas, dan menjadi sumber kehidupan bagi lebih banyak makhluk.

Demikian pula UII: keberagaman keilmuan, latar pendidikan, dan pengalaman nasional dan internasional para doktor baru menjadikan universitas ini lebih resilien, lebih subur secara intelektual, dan lebih siap menghadapi tantangan zaman.

Saya meyakini bahwa ragam latar belakang pendidikan tersebut tidak hanya memperkaya pandangan keilmuan di lingkungan UII, tetapi juga membuka jalan bagi jejaring kolaborasi yang semakin luas dan strategis.

Perjalanan untuk mencapai gelar doktor tidak hanya menuntut ketekunan, tetapi juga kedewasaan intelektual. Gelar ini menandai kesiapan para doktor baru untuk menjadi penjaga nalar publik dan penggerak transformasi di lingkungan akademik maupun masyarakat luas.

 

Dampak riset

Dalam beberapa tahun terakhir, kita melihat kuatnya dorongan nasional untuk menilai dampak riset terutama melalui hilirisasi—komersialisasi, penciptaan produk, atau kontribusi ekonomi. Hilirisasi tentu penting, namun jangan sampai kita justru menyempitkan makna riset.

Terdapat empat alasan mendasar mengapa pendekatan tersebut tidak memadai.

Pertama, riset menghasilkan dampak yang jauh lebih luas daripada komersialisasi. Ada dampak ilmiah yang memperkuat teori dan pengetahuan; dampak sosial yang mengubah praktik dan perilaku; dampak kebijakan yang memperbaiki regulasi; hingga dampak budaya dan lingkungan yang menjaga keberlanjutan kehidupan. Jika hanya dilihat dari hilirisasinya, kita mengabaikan kontribusi riset lain yang tidak kalah penting bagi masyarakat.

Kedua, pendekatan hilirisasi tidak adil bagi banyak disiplin ilmu. Humaniora, ilmu sosial, hukum, pendidikan, dan studi keagamaan tidak selalu berujung pada produk industri, tetapi memberikan kontribusi besar melalui pemikiran kritis, transformasi sosial, dan penguatan moral masyarakat. Jika kita memaksakan hilirisasi sebagai satu-satunya indikator, kita justru meminggirkan banyak disiplin.

Ketiga, hilirisasi lebih menekankan output jangka pendek—prototipe, paten, atau produk. Padahal banyak dampak riset yang bersifat outcome jangka panjang: perubahan sistem, peningkatan kualitas institusi, penguatan kapasitas masyarakat, dan perbaikan tata kelola. Dampak semacam ini tidak dapat direkam oleh indikator hilirisasi  tetapi tetap menjadi kontribusi penting.

Keempat, perguruan tinggi bukanlah pabrik inovasi komersial. Universitas adalah rumah pencarian kebenaran, ruang dialog intelektual, dan tempat menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan. Jika dampak riset direduksi hanya pada hilirisasi, universitas dapat kehilangan orientasi dasar sebagai institusi pengetahuan yang melayani kepentingan publik. Kita harus memastikan bahwa inovasi tidak menggeser integritas, dan bahwa perkembangan teknologi tetap berpijak pada nilai-nilai perenial, kemanusiaan, dan kebangsaan.

Empat argumen tersebut bukan hanya kerangka pikir, tetapi penanda tanggung jawab. Para doktor baru telah memasuki fase baru pengabdian ilmiah. Saya berharap para doktor baru menjadi ilmuwan yang mampu melihat dampak riset secara utuh—yang tidak hanya mengejar produk, tetapi juga mengejar perubahan sosial, memperkuat nilai, dan membangun masa depan bangsa.

Keragaman perspektif ini, menurut saya, diperlukan untuk tetap menjaga akal sehat lembaga pendidikan tinggi. Tentu, perspektif yang baru saja saya sampaikan tidak lantas mengerdilkan arti penting hilirisasi.

Saya berharap, para doktor baru akan memajukan ilmu pengetahuan tanpa kehilangan orientasi kemaslahatan; yang menghadirkan inovasi tanpa melupakan integritas; dan yang memadukan keunggulan akademik dengan kepedulian terhadap sesama.

UII berharap kehadiran para doktor baru akan memperkuat ekosistem riset yang inklusif, berakar pada nilai, dan berdampak luas bagi masyarakat. Selamat pulang kampus di Universitas Islam Indonesia.

Semoga Allah Swt. meridai setiap langkah kita dalam memajukan ilmu dan memuliakan kehidupan.

Sambutan pada acara penyambutan doktor baru Universitas Islam Indonesia, 11 Desember 2025

Fathul Wahid

Rektor Universitas Islam Indonesia 2022-2026

Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PSAD) Universitas Islam Indonesia (UII) rmenyelenggarakan School of Democracy and Diversity (SDD) edisi ketiga pada Jumat-Sabtu (19-20/12) di Sokkyo Homestay, sebagai upaya memperkuat kesadaran demokratis di tengah keragaman bangsa. Kegiatan yang diikuti oleh 25 aktivis mahasiswa lintas agama dan suku ini menghadirkan tokoh-tokoh nasional serta akademisi terkemuka untuk mendiskusikan peran agama dalam harmoni sosial serta tantangan politik identitas di era modern. Melalui pelatihan intensif selama dua hari, para peserta diharapkan mampu menjadi pionir dalam membangun masyarakat Indonesia yang lebih inklusif, toleran, dan damai.

Sesi pertama diawali dengan pemaparan materi mengenai pengetahuan fundamental (fundamental knowledge) oleh Hangga Fathana, S.IP., B.Int.St., M.A., peneliti PSAD UII. Dalam sesi ini, Ia memberikan pengantar mendalam mengenai konsep demokrasi dan keberagaman sebagai landasan utama kegiatan. Materi tersebut menyoroti potret demokrasi di Indonesia yang menghadapi tantangan substantif seperti polarisasi sosial dan konflik antar kelompok pasca-reformasi. Sesi ini dirancang interaktif agar aktivis mahasiswa dapat membangun kesadaran kritis dalam bingkai keberagaman. Diskusi mengalir dengan berbagai pembahasan, seperti pertimbangan dampak pendidikan terhadap nilai moral, pengaruh media terhadap opini publik dan ketidaksetaraan sosial dan demokrasi.

Memasuki sesi kedua, diskusi semakin mendalam dengan pembahasan mengenai prinsip dan urgensi demokrasi yang disampaikan oleh Prof. Dr. Moh. Mahfud MD, S.H., S.U., M.I.P. Prof Mahfud yang kebetulan berhalangan hadir memberikan sesi materi melalui video yang direkam dan ditampilkan kepada peserta lewat proyektor. Pada sesi ini, Prof. Mahfud menekankan tidak perlu perdebatan apakah demokrasi itu hal yang baik atau buruk.

“Urusan baik atau buruk, tepat atau salah, demokrasi itu sudah diputuskan melalui diskusi yang panjang penuh retorik serta argumentatif dulu oleh para pendiri kita,” ucap Prof Mahfud membuka sesi diskusi. Selain membedah sejarah demokrasi, sesi ini mengidentifikasi berbagai problem aktual yang membayangi praktik demokrasi di Indonesia guna memberikan pemahaman kepada peserta bahwa demokrasi merupakan kebutuhan mendesak bagi bangsa yang plural.

Pada sesi ketiga, pembahasan berlanjut dengan fokus pada sejarah dan kontekstualisasi perjalanan demokrasi di Indonesia oleh Prof. Dr. Ni’matul Huda, S.H., M.Hum. Prof Ni’matul menguraikan linimasa perkembangan demokrasi tanah air serta membedah berbagai mazhab, mulai dari liberal hingga transisi (flawed). Prof. Ni’matul juga menyoroti tantangan nyata dalam praktik pemilihan umum daerah di Indonesia. Melalui perspektif hukum tata negara, peserta diajak memahami bahwa demokrasi adalah proses yang dinamis dan terus menghadapi ujian sesuai konteks sosiopolitik yang ada.

Penyelenggaraan SDD #3 ini kembali menegaskan komitmen Pusat Studi Agama dan Demokrasi UII dalam mengawal narasi demokrasi yang sehat di Indonesia. Dengan mempertemukan mahasiswa dari berbagai latar belakang, kegiatan ini menjadi tempat bertukar pikiran guna menyatukan perbedaan. PSAD UII berharap inisiatif ini dapat terus berkelanjutan guna mencetak pemimpin masa depan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki empati sosial dalam menjaga harmoni di tengah keberagaman bangsa. (NKA/AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) kembali mengukuhkan tiga guru besar terdiri atas dua dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) yaitu Prof. Dr. apt. Vitarani Dwi Ananda Ningrum, S.Si., M.Si dalam bidang Farmasi Klinis dan Farmakoterapi dan Prof. apt. Suci Hanifah, S.F., M.Si., Ph.D dalam bidang Farmasi Klinis serta satu dari Fakultas Teknologi Industri yaitu Prof. Dr. Sri Kusumadewi, S.Si., M.T dalam bidang Sistem Pendukung Keputusan Klinis. Ketiganya menyampaikan pidato pengukuhan pada Kamis (18/12) di Auditorium Prof. K.H. Abdul Kahar Muzakkir, Kampus Terpadu UII.


Pengobatan Presisi: Translasi Bench to Bedside  untuk Meningkatkan Keselamatan Pasien
Dalam pidato pengukuhannya bertajuk “Pengobatan Presisi: Translasi Bench to Bedside  untuk Meningkatkan Keselamatan Pasien”, Prof. Vitarani menyinggung tentang pengobatan presisi yang merupakan upaya pengobatan yang lebih menekankan pada keselamatan pasien jika dibandingkan dengan pengobatan yang konvensional atau pendekatan “satu ukuran untuk semua” (one-size-fits-all).

“Pendekatan one-size-fits-all yang terjadi akibat keterbatasan pengetahuan dan teknologi telah ditinggalkan menuju ke pengobatan presisi. Istilah pengobatan presisi (precision medicine) sendiri mulai dikenalkan melalui Human Genome Project (HGP) yang resmi diluncurkan pada tahun 1990 yang menekankan keutamaan pertimbangan variabilitas individu dalam gen, lingkungan, dan gaya hidup dalam keputusan pengobatan,” jelasnya.

Dari hal ini, Prof. Vitarani menekankan pengobatan presisi ini penting untuk didukung pemerintah melalui program nasional  dengan melibatkan semua fasilitas kesehatan yang lengkap dan kapasitas SDM yang handal. Menurutnya, pengobatan presisi ini perlu diberlakukan untuk semua warga negara Indonesia dengan tetap menjunjung tinggi prinsip etik, berkeadilan serta berorientasi pada kemaslahatan.

“Melalui integrasi pengobatan presisi dengan akal imitasi (AI) di Indonesia melalui Healthcare AI Hackathon 2025 diharapkan dapat menyediakan algorime prediksi keamanan dan efektivitas penggunaan obat berbasis maha data pasien yang memerlukan komitmen bersama dalam mewujudkannya,” harap Prof. Vitarani.

Apoteker dan Keamanan Terapi Parenteral pada Perawatan Kritis
Dalam kesempatan yang sama, Prof. Suci Hanifah memberikan pidato pengukuhannya bertajuk “Apoteker dan Keamanan Terapi Parenteral pada Perawatan Kritis” menekankan pentingnya peran apoteker dalam menjamin keamanan dan efektivitas terapi parenteral, khususnya pada pasien dengan kondisi kritis.

Prof. Suci menjelaskan bahwa terapi parenteral merupakan fondasi utama perawatan pasien kritis di unit perawatan intensif (ICU) dimana hampir seluruh intervensi farmakologis pada pasien dengan kondisi mengancam nyawa diberikan melalui jalur ini karena cepat, invasif, dan tanpa toleransi terhadap kesalahan, Namun memiliki risiko  tinggi jika tidak dikelola dengan tepat. “Terapi parenteral bukan semata persoalan teknis pemberian obat, tetapi persoalan etik dan sistemik yang menuntut perhatian serius karena berdampak langsung pada keselamatan pasien,” ujarnya.

Menurut Prof. Suci, kompleksitas terapi pada pasien kritis diperparah oleh perubahan fisiologis yang ekstrem serta penggunaan banyak obat intravena secara bersamaan, sehingga meningkatkan potensi kesalahan farmakoterapi dan inkompatibilitas obat.

Oleh karena itu, Ia menegaskan pentingnya keterlibatan apoteker secara aktif dalam tim perawatan kritis. “Apoteker harus hadir sebagai penjaga rasionalitas terapi dan keamanan sistem, bukan hanya sebagai penyedia obat,” tegasnya.

Mewujudkan Layanan Kesehatan Primer Cerdas dan Inklusif Melalui Sistem Pendukung Keputusan Berbasis Data

Dalam pidato pengukuhannya bertajuk «Mewujudkan Layanan Kesehatan Primer Cerdas dan Inklusif Melalui Sistem Pendukung Keputusan Berbasis Data», Prof. Sri Kusumadewi, menekankan pentingnya pemanfaatan Sistem Pendukung Keputusan Klinis (SPKK) berbasis data dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan, khususnya pada layanan kesehatan primer yang inklusif dan berkelanjutan.

Ia menjelaskan bahwa SPKK dirancang untuk membantu tenaga kesehatan dalam pengambilan keputusan medis, mulai dari diagnosis, pemilihan terapi, hingga pemantauan pasien. “Sistem pendukung keputusan klinis dapat memberikan rekomendasi yang informatif dan tepat untuk mendukung keputusan medis yang bersifat kritis,” jelasnya.

Menurut Prof. Cici, begitu sapaan akrab dari Prof. Sri Kusumadewi, pengembangan SPKK di Indonesia sejalan dengan transformasi layanan kesehatan melalui Program Integrasi Layanan Primer (ILP) dan platform SatuSehat yang memungkinkan interoperabilitas data kesehatan lintas fasilitas. Dengan integrasi tersebut, deteksi dini penyakit dan pemantauan kelompok rentan seperti balita, ibu hamil, dan lansia dapat dilakukan secara lebih sistematis dan berbasis data.

Lebih lanjut, Prof. Sri menegaskan bahwa penerapan SPKK juga mendukung pendekatan promotif dan preventif melalui deteksi dini berbagai kondisi kesehatan, serta membantu tenaga kesehatan menyesuaikan intervensi secara lebih adaptif dan berbasis data. “Pemanfaatan sistem pendukung keputusan klinis memungkinkan layanan kesehatan menjadi lebih responsif, terintegrasi, dan berorientasi pada kebutuhan pasien,” ujarnya. menambahkan bahwa pengembangan dan implementasi SPKK oleh UII telah dimanfaatkan dalam layanan kesehatan berbasis masyarakat di Tirtorahayu, Galur, Kulon Progo serta pada kegiatan Posbindu sivitas akademika FTI UII. (AHR/RS)

Sekretariat Pimpinan (SP) Universitas Islam Indonesia (UII) mengadakan Pelatihan Penanganan Perkara di Lingkungan UII dalam rangka penguatan kompetensi dan peningkatan etos layanan, pada Rabu (17/12) di Gedung Kuliah Umum Prof. Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII. Pelatihan ini menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai bidang, yakni Kepala Badan Etika dan Hukum UII Anang Zubaidy, S.H., M.H.; dosen Jurusan Psikologi UII Dr. Retno Kumolohadi, S.Psi., M.Si., Psikolog dan Rr. Indahria Sulistya Rini, S.Psi., M.A., Psikolog; serta dosen Fakultas Hukum (FH) UII sekaligus Ketua DPC PERADI Kota Yogyakarta Dr. Ariyanto, S.H., C.N., M.H.

Sekretaris Eksekutif UII, Hangga Fathana, S.IP., B.Int.St., M.A., menyampaikan bahwa pelatihan ini menjadi momentum penting karena perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai penghasil pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang pembentukan nilai-nilai etika. “Setiap proses di lingkungan perguruan tinggi perlu dijaga agar tetap stabil, andal, dan bermanfaat bagi banyak pihak,” ungkapnya.

Ia berharap pelatihan ini dapat meningkatkan pemahaman dan kesadaran akan pentingnya prosedur penanganan perkara yang tepat di lingkungan universitas. “Kegiatan ini tidak hanya memberikan pemahaman teknis, tetapi juga menumbuhkan kepercayaan dalam menjalankan layanan yang profesional dan berintegritas,” harap Hangga.

Menjaga Kerahasiaan, Netralitas, dan Praduga Tidak Bersalah
Materi pertama dibawakan oleh Dr. Ariyanto, S.H., C.N., M.H. yang menegaskan pentingnya prinsip kerahasiaan, inparsialitas, dan praduga tidak bersalah dalam setiap proses penanganan perkara. Prinsip-prinsip ini dinilai sebagai fondasi etika dan hukum agar proses berjalan adil bagi semua pihak.

Ariyanto menyampaikan bahwa kerahasiaan bertujuan melindungi martabat dan keamanan korban. “Identitas korban harus dijaga untuk mencegah trauma berulang dan stigma sosial,” sebagaimana ditekankan dalam prinsip penanganan perkara berbasis korban dan hak asasi manusia.

Selain itu, aparat penegak disiplin kampus dituntut bersikap objektif dan tidak memihak. Inparsialitas diperlukan agar setiap keputusan benar-benar didasarkan pada fakta dan aturan yang berlaku, bukan tekanan internal maupun eksternal.

Terkait praduga tidak bersalah, pemateri menegaskan bahwa setiap terlapor tetap memiliki hak hukum. “Setiap orang dianggap tidak bersalah sampai ada putusan yang berkekuatan hukum tetap. Prinsip ini adalah benteng terakhir perlindungan hak individu,” tegasnya.

Pendekatan Berbasis Korban sebagai Paradigma Penanganan Perkara
Selain aspek regulasi, pelatihan juga menyoroti pentingnya pendekatan berbasis korban (victim-centered approach) dalam penanganan perkara di lingkungan kampus. Pendekatan ini menempatkan korban sebagai subjek utama yang kebutuhannya harus diprioritaskan sejak tahap pelaporan hingga pemulihan.

Dr. Retno Kumolohadi, S.Psi., M.Si., Psikolog menjelaskan bahwa pendekatan berbasis korban bertujuan mencegah reviktimisasi. “Korban tidak hanya membutuhkan keadilan hukum, tetapi juga rasa aman, pengakuan, dan pemulihan psikologis,” jelasnya dalam sesi pelatihan.

Ia menekankan bahwa kasus perundungan, pelanggaran etika akademik, dan kekerasan seksual dapat menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan mental korban. Dampak tersebut meliputi kecemasan, depresi, hingga gangguan stres pascatrauma yang berpengaruh langsung pada keberlanjutan pendidikan korban.

“Pendekatan ini mengajak korban berpartisipasi aktif dalam pengambilan keputusan yang menyangkut dirinya,” kata Retno. Menurutnya, layanan penanganan harus bersifat holistik, mencakup aspek psikologis, sosial, dan hukum secara terintegrasi.

Pendalaman Regulasi Penanganan Kekerasan di Lingkungan Kampus
Lebih lanjut, Anang Zubaidy sebagai narasumber ketiga menekankan pentingnya pemahaman regulasi nasional dan internal kampus dalam menangani berbagai bentuk kekerasan. Salah satu regulasi utama yang dibahas adalah Permendikbudristek Nomor 55 Tahun 2024 tentang pencegahan dan penanganan kekerasan di perguruan tinggi.

Anang menjelaskan bahwa peningkatan kesadaran hukum di kampus berbanding lurus dengan meningkatnya pelanggaran disiplin. Oleh karena itu, perguruan tinggi dituntut memiliki sistem penanganan yang jelas, adil, dan berorientasi pada perlindungan seluruh warga kampus.

Dalam regulasi tersebut, kekerasan didefinisikan secara luas, mulai dari kekerasan fisik, psikis, perundungan, kekerasan seksual, hingga kebijakan yang mengandung unsur kekerasan. “Penanganan kasus tidak boleh parsial, tetapi harus berpijak pada prinsip kepastian hukum dan keadilan substantif,” tegas Anang dalam paparannya.

Ia juga menambahkan bahwa regulasi internal UII telah diselaraskan dengan kebijakan nasional. “UII memiliki aturan disiplin pegawai dan mahasiswa yang secara tegas mengatur mekanisme penanganan, sanksi, dan perlindungan korban,” ujarnya.

Pelatihan dilanjutkan dengan diskusi kelompok yang dipimpin oleh Rr. Indahria Sulistya Rini, S.Psi., M.A., Psikolog. Dalam sesi ini, setiap kelompok diberikan studi kasus untuk dianalisis menggunakan sejumlah indikator pemecahan masalah, mulai dari identifikasi permasalahan hingga penentuan tindak lanjut yang tepat.

Melalui pelatihan ini, dosen dan tenaga kependidikan di lingkungan Sekretariat Pimpinan UII diharapkan menjadi lebih peka, responsif, dan profesional dalam menangani berbagai persoalan di lingkungan kerja, khususnya yang berkaitan dengan etika, disiplin, dan penanganan perkara secara adil serta berintegritas. (AHR/RS)