Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menghadirkan ruang diskusi akademik melalui kegiatan Bedah Buku: Pemikiran Hukum dan Politik Mahfud MD yang diselenggarakan pada Senin (6/7) di Ruang Teatrikal Lantai 2 Gedung Kuliah Umum (GKU) Prof. Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII. Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 12.30 WIB tersebut menghadirkan penulis buku sekaligus mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Mahfud MD, dengan moderator Prof. Dr. rer. soc. Masduki, S.Ag., M.Si.. Turut menjadi pembedah buku ialah Prof. Dr. Suparman Marzuki, S.H., M.Si. dan Andi Widjajanto, S.Sos., M.Sc., Ph.D.
Acara diawali dengan sambutan Rektor UII, Prof. Dr. Ir. Hari Purnomo, M.T., IPU., ASEAN Eng., yang menegaskan bahwa kegiatan bedah buku tidak sekadar menjadi agenda seremonial, melainkan wadah akademik untuk menguji, mengkritisi, sekaligus memperkaya gagasan yang dituangkan penulis dalam sebuah karya ilmiah.
“Forum ini bukan hanya sekadar seremoni, melainkan ruang untuk menguji, mengkritisi, dan memperkaya gagasan penulis lewat diskusi. Banyak sekali konten dari buku ini yang perlu dipahami, khususnya oleh adik-adik mahasiswa Fakultas Hukum, sehingga nantinya dapat menjadi inspirasi bagaimana menulis sebuah buku yang berkualitas,” ujarnya.
Dalam sambutannya, Hari Purnomo juga membagikan pengalaman pribadinya mengenai pentingnya menulis buku sebagai kontribusi akademik. Ia menceritakan bahwa buku pertamanya yang berjudul Pengantar Teknik Industri pernah dikenal luas di berbagai perguruan tinggi di Indonesia dan menjadi salah satu karya monumental yang mengantarkannya meraih gelar guru besar.
“Kalau ingin dikenal, menulislah. Pengakuan atas kontribusi buku terhadap bidang keilmuan merupakan hal yang sangat penting,” pesannya kepada mahasiswa.
Pada sesi pemaparan, Mahfud MD menjelaskan bahwa buku yang dibedah merupakan kumpulan pemikirannya mengenai hukum dan politik yang lahir dari berbagai dinamika sosial-politik Indonesia. Salah satu tema yang cukup dominan dalam buku tersebut adalah pandangannya mengenai hubungan Islam, negara, dan demokrasi.
Menurut Mahfud, sejumlah tulisannya muncul sebagai respons terhadap berkembangnya berbagai gerakan yang mengusung gagasan pendirian negara Islam maupun sistem khilafah. Ia menegaskan bahwa perjuangan mendirikan negara berbasis khilafah merupakan pilihan politik yang boleh diperjuangkan dalam negara demokrasi, tetapi bukan merupakan kewajiban agama.
“Kalau dilihat dari daftar isinya, itu menyangkut zaman-zaman saya suka menulis ketika masih muncul banyak gerakan yang ingin mendirikan negara Islam, khilafah, dan sebagainya. Saya counter dengan tulisan bahwa tidak ada keharusan agama untuk mendirikan negara khilafah. Yang menjadi substansi Islam adalah keadilan, kerukunan, ketertiban, dan taat hukum. Itulah Islam,” jelas Mahfud.
Moderator diskusi, Prof. Masduki, menilai konsistensi Mahfud MD terlihat dari perhatian intelektualnya terhadap dua isu besar yang terus berkembang sepanjang perjalanan karier akademik maupun politiknya, yakni persoalan hukum dan keadilan, serta politik kebangsaan dan kenegaraan.
“Pak Mahfud itu konsisten dalam melihat dua isu besar, yaitu isu hukum, keadilan, hak asasi manusia, dan isu politik kebangsaan serta kenegaraan,” ungkapnya.
Masduki juga menyoroti perdebatan klasik dalam kajian hukum dan politik mengenai apakah politik menjadi faktor dominan yang membentuk hukum (politics over the law) atau justru hukum yang mengendalikan praktik politik (law manages the politics). Menurutnya, perdebatan tersebut menjadi salah satu tema sentral yang akan dikaji lebih jauh oleh para pembedah buku dari perspektif hukum maupun ilmu politik.
Perspektif hukum kemudian diperdalam oleh Prof. Suparman Marzuki. Ia membuka paparannya dengan mengutip pemikiran filsuf politik Montesquieu yang menyatakan bahwa kekuasaan harus membatasi kekuasaan untuk mencegah penyalahgunaan wewenang. Ia juga mengutip pandangan Hakim Agung Amerika Serikat, Louis Brandeis, yang menilai bahwa ketika pemerintah menjadi pelanggar hukum, maka negara turut merusak penghormatan masyarakat terhadap hukum.
“Buku beliau sarat dengan kritik yang sangat tajam dari aspek moral, etik, dan norma hukum. Inti buku ini bukan sekadar membahas hukum sebagai norma, tetapi hukum dalam relasinya dengan kekuasaan. Pak Mahfud mengingatkan bahwa hukum tidak hidup di ruang kosong. Hukum dibentuk, ditafsirkan, dan dijalankan dalam konfigurasi politik tertentu,” ujar Suparman.
Sementara itu, Andi Widjajanto memberikan tinjauan dari perspektif ilmu politik. Ia menilai buku Mahfud MD berhasil menggambarkan kompleksitas proses pembentukan hukum di Indonesia, terutama pada masa Reformasi.
Menurut Andi, reformasi politik menuntut perubahan menyeluruh terhadap sistem hukum agar mampu mengakomodasi nilai-nilai demokrasi yang sedang dibangun. Setelah hukum berhasil diperbarui, hukum diharapkan dapat berfungsi sebagai instrumen untuk menjaga keberlangsungan proses reformasi dan konsolidasi demokrasi.
“Buku Prof. Mahfud berhasil menangkap kompleksitas dari pembuatan hukum. Saat itu, untuk mengawal reformasi dan demokrasi, hukumnya harus dirombak total sehingga mampu mengakomodasi politik demokrasi sebagai variabel independen yang membentuk hukum. Setelah itu, hukum diharapkan dapat mengawal proses reformasi dan konsolidasi demokrasi,” jelasnya.
Melalui kegiatan ini, UII menghadirkan ruang dialog yang mempertemukan perspektif hukum, politik, dan akademik dalam membaca dinamika ketatanegaraan Indonesia. Diskusi tidak hanya membahas isi buku, tetapi juga mengajak peserta, khususnya mahasiswa, untuk memahami bagaimana hukum, politik, dan moralitas saling berkelindan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Bedah buku ini sekaligus menjadi pengingat bahwa karya akademik tidak berhenti pada proses penulisan, tetapi terus hidup melalui diskusi, kritik, dan pertukaran gagasan yang memperkaya perkembangan ilmu pengetahuan. Bagi mahasiswa, forum semacam ini menjadi kesempatan untuk belajar langsung dari para akademisi dan praktisi yang selama ini berkontribusi dalam pembentukan pemikiran hukum dan politik di Indonesia. (MFPS/AHR/RS)
UII Gelar Bedah Buku Mahfud MD, Angkat Dinamika Hukum dan Politik Nasional
Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menghadirkan ruang diskusi akademik melalui kegiatan Bedah Buku: Pemikiran Hukum dan Politik Mahfud MD yang diselenggarakan pada Senin (6/7) di Ruang Teatrikal Lantai 2 Gedung Kuliah Umum (GKU) Prof. Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII. Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 12.30 WIB tersebut menghadirkan penulis buku sekaligus mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Mahfud MD, dengan moderator Prof. Dr. rer. soc. Masduki, S.Ag., M.Si.. Turut menjadi pembedah buku ialah Prof. Dr. Suparman Marzuki, S.H., M.Si. dan Andi Widjajanto, S.Sos., M.Sc., Ph.D.
Acara diawali dengan sambutan Rektor UII, Prof. Dr. Ir. Hari Purnomo, M.T., IPU., ASEAN Eng., yang menegaskan bahwa kegiatan bedah buku tidak sekadar menjadi agenda seremonial, melainkan wadah akademik untuk menguji, mengkritisi, sekaligus memperkaya gagasan yang dituangkan penulis dalam sebuah karya ilmiah.
“Forum ini bukan hanya sekadar seremoni, melainkan ruang untuk menguji, mengkritisi, dan memperkaya gagasan penulis lewat diskusi. Banyak sekali konten dari buku ini yang perlu dipahami, khususnya oleh adik-adik mahasiswa Fakultas Hukum, sehingga nantinya dapat menjadi inspirasi bagaimana menulis sebuah buku yang berkualitas,” ujarnya.
Dalam sambutannya, Hari Purnomo juga membagikan pengalaman pribadinya mengenai pentingnya menulis buku sebagai kontribusi akademik. Ia menceritakan bahwa buku pertamanya yang berjudul Pengantar Teknik Industri pernah dikenal luas di berbagai perguruan tinggi di Indonesia dan menjadi salah satu karya monumental yang mengantarkannya meraih gelar guru besar.
“Kalau ingin dikenal, menulislah. Pengakuan atas kontribusi buku terhadap bidang keilmuan merupakan hal yang sangat penting,” pesannya kepada mahasiswa.
Pada sesi pemaparan, Mahfud MD menjelaskan bahwa buku yang dibedah merupakan kumpulan pemikirannya mengenai hukum dan politik yang lahir dari berbagai dinamika sosial-politik Indonesia. Salah satu tema yang cukup dominan dalam buku tersebut adalah pandangannya mengenai hubungan Islam, negara, dan demokrasi.
Menurut Mahfud, sejumlah tulisannya muncul sebagai respons terhadap berkembangnya berbagai gerakan yang mengusung gagasan pendirian negara Islam maupun sistem khilafah. Ia menegaskan bahwa perjuangan mendirikan negara berbasis khilafah merupakan pilihan politik yang boleh diperjuangkan dalam negara demokrasi, tetapi bukan merupakan kewajiban agama.
“Kalau dilihat dari daftar isinya, itu menyangkut zaman-zaman saya suka menulis ketika masih muncul banyak gerakan yang ingin mendirikan negara Islam, khilafah, dan sebagainya. Saya counter dengan tulisan bahwa tidak ada keharusan agama untuk mendirikan negara khilafah. Yang menjadi substansi Islam adalah keadilan, kerukunan, ketertiban, dan taat hukum. Itulah Islam,” jelas Mahfud.
Moderator diskusi, Prof. Masduki, menilai konsistensi Mahfud MD terlihat dari perhatian intelektualnya terhadap dua isu besar yang terus berkembang sepanjang perjalanan karier akademik maupun politiknya, yakni persoalan hukum dan keadilan, serta politik kebangsaan dan kenegaraan.
“Pak Mahfud itu konsisten dalam melihat dua isu besar, yaitu isu hukum, keadilan, hak asasi manusia, dan isu politik kebangsaan serta kenegaraan,” ungkapnya.
Masduki juga menyoroti perdebatan klasik dalam kajian hukum dan politik mengenai apakah politik menjadi faktor dominan yang membentuk hukum (politics over the law) atau justru hukum yang mengendalikan praktik politik (law manages the politics). Menurutnya, perdebatan tersebut menjadi salah satu tema sentral yang akan dikaji lebih jauh oleh para pembedah buku dari perspektif hukum maupun ilmu politik.
Perspektif hukum kemudian diperdalam oleh Prof. Suparman Marzuki. Ia membuka paparannya dengan mengutip pemikiran filsuf politik Montesquieu yang menyatakan bahwa kekuasaan harus membatasi kekuasaan untuk mencegah penyalahgunaan wewenang. Ia juga mengutip pandangan Hakim Agung Amerika Serikat, Louis Brandeis, yang menilai bahwa ketika pemerintah menjadi pelanggar hukum, maka negara turut merusak penghormatan masyarakat terhadap hukum.
“Buku beliau sarat dengan kritik yang sangat tajam dari aspek moral, etik, dan norma hukum. Inti buku ini bukan sekadar membahas hukum sebagai norma, tetapi hukum dalam relasinya dengan kekuasaan. Pak Mahfud mengingatkan bahwa hukum tidak hidup di ruang kosong. Hukum dibentuk, ditafsirkan, dan dijalankan dalam konfigurasi politik tertentu,” ujar Suparman.
Sementara itu, Andi Widjajanto memberikan tinjauan dari perspektif ilmu politik. Ia menilai buku Mahfud MD berhasil menggambarkan kompleksitas proses pembentukan hukum di Indonesia, terutama pada masa Reformasi.
Menurut Andi, reformasi politik menuntut perubahan menyeluruh terhadap sistem hukum agar mampu mengakomodasi nilai-nilai demokrasi yang sedang dibangun. Setelah hukum berhasil diperbarui, hukum diharapkan dapat berfungsi sebagai instrumen untuk menjaga keberlangsungan proses reformasi dan konsolidasi demokrasi.
“Buku Prof. Mahfud berhasil menangkap kompleksitas dari pembuatan hukum. Saat itu, untuk mengawal reformasi dan demokrasi, hukumnya harus dirombak total sehingga mampu mengakomodasi politik demokrasi sebagai variabel independen yang membentuk hukum. Setelah itu, hukum diharapkan dapat mengawal proses reformasi dan konsolidasi demokrasi,” jelasnya.
Melalui kegiatan ini, UII menghadirkan ruang dialog yang mempertemukan perspektif hukum, politik, dan akademik dalam membaca dinamika ketatanegaraan Indonesia. Diskusi tidak hanya membahas isi buku, tetapi juga mengajak peserta, khususnya mahasiswa, untuk memahami bagaimana hukum, politik, dan moralitas saling berkelindan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Bedah buku ini sekaligus menjadi pengingat bahwa karya akademik tidak berhenti pada proses penulisan, tetapi terus hidup melalui diskusi, kritik, dan pertukaran gagasan yang memperkaya perkembangan ilmu pengetahuan. Bagi mahasiswa, forum semacam ini menjadi kesempatan untuk belajar langsung dari para akademisi dan praktisi yang selama ini berkontribusi dalam pembentukan pemikiran hukum dan politik di Indonesia. (MFPS/AHR/RS)
UII Dorong Produktivitas Publikasi Ilmiah Melalui Pelatihan Pemanfaatan Agentic AI
Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan Workshop Pemanfaatan Agentic AI untuk Mendukung Penulisan dan Publikasi Ilmiah bagi Dosen Peserta Percepatan Pengajuan Guru Besar Tahun 2026 di Auditorium Fakultas Hukum Lantai 4, Kampus Terpadu UII pada Kamis (2/7). Kegiatan ini menghadirkan Mukhammad Andri Setiawan, S.T., M.Sc., Ph.D selaku dosen Fakultas Teknologi Industri dan Kepala Badan Sistem Informasi (BSI) UII sebagai narasumber dan dihadiri dosen peserta program percepatan pengajuan guru besar. Workshop tersebut bertujuan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung produktivitas penulisan dan publikasi ilmiah. Read more
Hadirkan Teknologi LC-MS/MS Mutakhir, UII Gelar Workshop dan Resmikan Kolaborasi Industri
Laboratorium Terpadu Universitas Islam Indonesia (UII) bekerja sama dengan PT. Maja Bintang Indonesia dan PerkinElmer mengadakan acara seminar bertajuk “Comprehensive LC-MS/MS Workshop Theory Practical Skills and Data Interpretation” pada Kamis, (02/07) bertempat di Gedung Laboratorium Riset Jurusan Kimia, Kampus Terpadu UII. Read more
CILACS UII Jadi Rujukan UM Gresik dalam Pengembangan Tes Kompetensi Bahasa Arab
CILACS Universitas Islam Indonesia (UII) menerima kunjungan studi banding dari pengelola Pengembangan Bahasa Asing Universitas Muhammadiyah (UM) Gresik pada Rabu (1/7/2026) di Kantor CILACS UII, Unit Demangan, Yogyakarta. Kunjungan ini bertujuan mempelajari pengembangan program Bahasa Arab serta tes kompetensi Bahasa Arab yang telah dikembangkan CILACS UII.
Rombongan UM Gresik dipimpin oleh Kepala Pengembangan Bahasa Asing, Yanuar Pandu Negoro, S.T., M.LogSCM, didampingi Dr. Hasan Basri, S.Ag., M.Pd.I. selaku Dekan Fakultas Pendidikan Agama Islam dan Dr. Mohammad Ahyan Yusuf Sya’bani, S.Pd.I., M.Pd.I. dari Biro Al Islam dan Kemuhammadiyahan. Kehadiran rombongan disambut langsung oleh Kepala CILACS UII, Rr. Ratna Roostika, S.E., MAC., Ph.D., bersama jajaran manajemen CILACS UII.
Kunjungan ini dilatarbelakangi oleh rencana UM Gresik untuk mengembangkan tes kompetensi Bahasa Arab sebagai salah satu alternatif persyaratan kelulusan mahasiswa. Kebijakan tersebut muncul sebagai respons terhadap banyaknya mahasiswa yang memiliki latar belakang pendidikan pesantren sehingga memiliki kompetensi Bahasa Arab yang baik. Meski demikian, UM Gresik masih memerlukan referensi terkait model tes, standar asesmen, serta pengelolaan sumber daya manusia yang mendukung pelaksanaannya.
Dalam kesempatan tersebut, tim CILACS UII memaparkan perjalanan institusi, pengalaman dalam mengembangkan layanan tes bahasa, serta berbagai inovasi yang telah dilakukan. Diskusi berlangsung interaktif dengan membahas tantangan penyelenggaraan tes kompetensi bahasa, penyusunan instrumen asesmen, hingga strategi menjaga kualitas layanan.
Selain menjadi sarana berbagi praktik baik, pertemuan ini juga membuka peluang kerja sama antara CILACS UII dan UM Gresik, khususnya dalam pengembangan tes kompetensi Bahasa Arab, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta pengembangan layanan kebahasaan di lingkungan perguruan tinggi.
Melalui kunjungan ini, CILACS UII kembali menegaskan komitmennya sebagai pusat pengembangan bahasa yang tidak hanya memberikan layanan pendidikan dan pengujian bahasa, tetapi juga menjadi mitra strategis bagi berbagai institusi dalam menghadirkan sistem asesmen bahasa yang berkualitas dan relevan dengan kebutuhan pendidikan tinggi. (ANK/AHR/RS)
Seameo Biotrop Perkuat Kolaborasi Regional Untuk Mendorong Implementasi Circular Economy Melalui Pendidikan Dan Inovasi
SEAMEO BIOTROP bersama Universitas Islam Indonesia (UII) dan SEAMEO Regional Centre for QITEP in Mathematics (SEAQiM) menyelenggarakan National Training & Regional Seminar on Circular Economy bertema “Circular Economy for Sustainable Agriculture, Natural Resource Management, Nature-Based Tourism, and Education for Sustainable Development through STEM Integration” pada 30 Juni–3 Juli 2026 di Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta. Read more
UII Lantik Dekan dan Wakil Dekan Periode 2026–2030, Tekankan Penguatan Tata Kelola dan Adaptasi Zaman
Universitas Islam Indonesia (UII) resmi melantik jajaran Dekan dan Wakil Dekan untuk masa jabatan periode 2026–2030 pada Rabu (01/07) di Auditorium Prof. K.H. Abdul Kahar Muzakkir, Kampus Terpadu UII. Acara pelantikan ini menandai estafet kepemimpinan baru di tingkat fakultas yang diharapkan mampu membawa pembaruan demi memperkuat mutu akademik, riset, inovasi, hingga pengembangan sumber daya manusia. Upacara ini dihadiri oleh jajaran rektorat, pengurus yayasan, serta segenap sivitas akademika UII. Read more
Mahasiswa UII Berhasil Borong 5 Penghargaan Internasional di WISEC 2026
Tiga mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) sukses memborong lima penghargaan sekaligus dalam ajang internasional World Innovation for Sustainability Essay Competition (WISEC) 2026 di Yogyakarta, 27–28 Juni 2026.
Kelima penghargaan yang diraih adalah 4th Runner Up, Most Outstanding Team, Gold Medal Award (Subtema Circular Economy Empowerment), Best Essay, dan Best Presentation.
Tim lintas disiplin ini diketuai oleh Latifah Citra Mahkota (Program Studi Teknik Elektro Program Sarjana Angkatan 2023) sebagai perancang utama inovasi sistem Internet of Things (IoT). Maulana Fazlur Rahman Arif (Program Studi Hubungan Internasional Program Sarjana Angkatan 2024) mengambil peran sebagai Global Market Research Analyst dan Visual Designer yang mengkaji potensi pasar global serta merancang visual presentasi. Sementara itu, Akhsya Asyfa Azieda (Program Studi Ilmu Komunikasi Program Sarjana Angkatan 2023) bertugas menyempurnakan struktur naskah esai dan menyusun script presentasi agar lebih komunikatif.
Di balik prestasi gemilang tersebut, tim ternyata dihadapkan pada tantangan minimnya waktu persiapan akibat padatnya jadwal masing-masing anggota.
“Persiapan yang kami lalui tidaklah mudah. Kami memiliki kesibukan akademik dan organisasi yang berbeda, sehingga koordinasi dan latihan sering kali hanya bisa dilakukan secara daring pada malam hari. Kondisi ini membuat kami awalnya tidak menaruh ekspektasi tinggi,” ungkap Maulana selaku perwakilan tim.
Namun, kerja keras di tengah keterbatasan waktu itu terbayar lunas saat pengumuman pemenang. “Momen ini sangat membanggakan dan di luar ekspektasi kami. Pencapaian ini menjadi bukti bahwa kolaborasi lintas disiplin yang kuat, pembagian peran yang saling melengkapi, serta komitmen penuh mampu menghasilkan prestasi yang melampaui batas,” tambah Maulana.
Melalui kompetisi bertema From Local Ideas to Global Impact ini, inovasi yang digagas tim UII diharapkan mampu menjadi solusi nyata bagi tantangan keberlanjutan global, khususnya di sektor peternakan. (ZRM/AHR/RS)
Torehkan Sejarah, PSPPI UII Lantik 84 Insinyur pada Prosesi Pengambilan Sumpah Perdana
Program Studi Program Profesi Insinyur (PSPPI) Universitas Islam Indonesia (UII) secara resmi menggelar upacara Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Profesi Insinyur Perdana pada Ahad, (28/06) di Gedung Kuliah Umum Prof. Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII. Momen bersejarah ini menandai kelulusan pertama bagi 88 insinyur profesional sejak program studi ini memperoleh izin penyelenggaraan pada tahun 2025 lalu. Dari total lulusan tersebut, sebanyak 84 orang mengikuti prosesi pengambilan sumpah pada periode ini, dengan rincian 79 orang hadir secara langsung di lokasi acara dan 5 orang mengikuti prosesi secara daring. Read more
Temu Alumni Nasional FIAI UII: Ajang Merajut Kenangan dan Membangun Sinergi Strategis
Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) Universitas Islam Indonesia (UII) telah selesai menggelar acara Temu Alumni Nasional bertajuk “Pulang ke FIAI: Merajut Kenangan, Membangun Sinergi, Menyambung Persaudaraan” pada Sabtu (27/6) secara hybrid di Auditorium Gedung KH. Wahid Hasyim Lantai 5 FIAI UII dan zoom meeting. Acara ini dirancang sebagai wadah bagi para alumni FIAI UII untuk kembali merajut memori, bertukar wawasan serta memperkokoh tali silaturahmi antar alumni.
Kegiatan Temu Alumni Nasional FIAI ini dihadiri oleh pembicara yang hadir dan merupakan alumni FIAI UII yang kini telah berkiprah di berbagai macam bidang profesi. Para pembicara tersebut adalah Dr. Iman Syukri, S.H.I., M.Hum selaku Anggota DPR-RI), Prof. Dr. Fahrurozi, S.Ag., M.Ag selaku Dosen UIN Walisongo, Dr. Achmad Fausi, S.H.I., M.Hum selaku Ketua Pengadilan Agama Probolinggo, Dr. Komaruzzaman, S.Pd.I., M.Pd selaku Pengasuh Pesantren Al-Itqon Banten), Ridwan MY selaku Konsultan dan Soya Sobya, S.E.I., M.M, selaku dosen FIAI UII.
Acara dimulai dengan Live Music dan penayangan kompilasi foto dan video. Sesi ini dirancang untuk memantik memori para alumni, sekaligus menghadirkan kembali atmosfer hangat masa-masa perkuliahan di lingkungan FIAI UII. Setelah acara dibuka secara resmi, Sabiqul Khair, S.HI.,M.Si sebagai Ketua Panitia Temu Alumni memberikan sambutan yang terasa begitu hangat. Ia menyapa para alumni secara interaktif dengan mengabsen kehadiran peserta berdasarkan tahun angkatan. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa acara temu alumni dirangkai menjadi tiga acara utama, yaitu sarasehan alumni, pelantikan Pengurus IKA FIAI UII, dan Camping Ground di Teras Merapi. Tiga kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk mempererat tali silaturahmi antara alumni dan almamater.
Wakil Dekan Bidang Sumber Daya FIAI UII, Dr. H. Nur Kholis, S.Ag., S.E.I., M.Sh.Ec. menyampaikan ahlan wa sahlan sebagai perwakilan dari keluarga FIAI UII kepada para alumni yang telah hadir. Dalam sambutannya, ia banyak bercerita mengenai sejarah fakultas yang dulunya memiliki nama Fakultas Syari’ah kini berubah menjadi Fakultas Ilmu Agama Islam. Dengan mencetak begitu banyak alumni yang berprestasi, FIAI UII kini telah membuka program Magister Hukum Islam dan Magister Pendidikan Agama Islam.
Berikutnya, sesi sarasehan yang dimoderatori oleh Edi Safitri, S.Ag., M.S.I berlangsung hangat. Para pembicara membawakan topik yang berbeda-beda. Pertama, terkait pentingnya sinergi dan pemetaan data, para pembicara menekankan perlunya database alumni yang komprehensif agar jejaring lulusan dapat diberdayakan secara maksimal untuk membantu adik-adik mahasiswa, baik dalam hal magang, mentoring, maupun informasi karier. Selain itu, terdapat pula usulan agar fakultas melakukan terobosan dengan membentuk laboratorium praktik atau pusat karier yang dapat menjembatani dunia kampus dengan kebutuhan dunia kerja nyata, sekaligus menjaga identitas serta ruh keilmuan fakultas di tengah berbagai tantangan perubahan struktural.
Beberapa diantaranya menyampaikan saran dan masukan untuk IKA FIAI UII. Mereka mengusulkan agar ikatan alumni tidak hanya berhenti pada pembentukan struktur organisasi formal, tetapi harus memiliki program kerja nyata yang dapat dieksekusi dengan baik dan berkelanjutan. Para peserta juga menyampaikan hal yang sama, yakni harapan besar agar diskusi hari ini menjadi momentum nyata untuk memperkuat sinergi antara fakultas dan alumni.
Acara sarasehan alumni kemudian ditutup dengan pemberian cinderamata kepada enam pembicara dan moderator yang diberikan langsung oleh Dr. Nurjihad, S.H., M.H., Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Keislaman, dan Kealumnian, dan juga Dekan FIAI UII, Dr. Drs. Asmuni, M.A. Melalui jejaring yang semakin solid dan sinergi yang terjalin, FIAI UII diharapkan mampu terus mencetak lulusan yang tidak hanya kompeten di bidangnya, tetapi juga memiliki daya saing tinggi, relevan dengan kebutuhan zaman, serta tetap membawa marwah keislaman ke mana pun mereka berkiprah di tengah masyarakat. (NKA/AHR/RS)
DPP IKA UII Lantik Pengurus IKA FIAI: Perkuat Sinergi dan Peran Strategis Alumni
Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Universitas Islam Indonesia (UII), sebuah wadah resmi bagi para lulusan UII untuk menjalin jejaring dan mempererat persaudaraan, telah selesai menyelenggarakan acara Pelantikan Pengurus IKA Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) UII pada Sabtu (27/06) di Auditorium Gedung KH. Wahid Hasyim Lantai 5 FIAI UII. Prosesi pelantikan ini menandai babak baru bagi kepengurusan IKA FIAI UII dalam memperkuat peran alumni sebagai jembatan strategis antara almamater dan masyarakat.
Dalam pelantikan ini, sebanyak 39 (tiga puluh sembilan) pengurus dengan rincian 3 (tiga) Dewan Penasihat, 1 (satu) Ketua, 1 (satu) Ketua Harian, 1 (satu) Sekretaris, 2 (dua) Bendahara, 1 (satu) Bidang Kelembagaan & Alumni, 4 (empat) Bidang Humas, Komunikasi & Informasi, 1 (satu) Bidang Kajian & Riset, 3 (tiga) Bidang Dakwah, 1 (satu) Koordinator Bidang Ekonomi, 1 (satu) Koordinator Bidang Pendidikan Islam, 1 (satu) Koordinator Bidang Hukum Islam dan 19 (sembilan belas) Koordinator Wilayah IKA FIAI UII.
Melalui arahannya, Drs. Aden Wijdan Syarif Zaidan, M.Si., yang menjabat sebagai Wakil Ketua III DPP IKA UII, menyampaikan apresiasi atas sinergi yang terbangun. Ia menekankan bahwa pelantikan ini merupakan bukti konkret keseriusan alumni dalam mendukung pengembangan institusi.
”Ini adalah bukti betapa penting dan seriusnya peran alumni dalam penguatan serta pengembangan universitas. Alumni adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam melaksanakan kawasan kehebatan dan kebersamaan di lingkungan UII,” ujarnya.
Senada dengan hal tersebut, Dekan FIAI UII, Dekan FIAI UII Dr. Drs. Asmuni, M.A memberikan penekanan khusus mengenai posisi strategis IKA FIAI dalam ekosistem universitas. Ia mengibaratkan alumni sebagai hamzatul washli atau penghubung antara perguruan tinggi dan masyarakat luas. Menjelang satu abad usia UII, ia mengajak seluruh pengurus untuk mengubah paradigma dalam berkontribusi.
”Saya mengharapkan pada saat UII mencapai satu abad, fakultas-fakultas tidak lagi berbaris dari depan ke belakang, melainkan membentuk barisan melingkar. Dengan begitu, semuanya setara dan maju bersama. IKA FIAI tidak harus fokus pada margin finansial, melainkan harus tampil di depan untuk memberikan margin keilmuan dalam kerangka membangun peradaban yang kokoh sesuai pesan para pendiri UII,” tegasnya dalam sambutannya.
Dr. Nurjihad, S.H., M.H.. Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Keislaman, dan Kealumnian dalam sambutan selanjutnya menyampaikan apresiasi mendalam atas inisiatif penyelenggaraan kegiatan ini. Ia menekankan bahwa alumni adalah aset strategis yang keberadaannya tersebar di berbagai sektor krusial, mulai dari dakwah, pemerintahan, bisnis, hingga pemberdayaan masyarakat.
”Alumni adalah aset strategis universitas. Mereka yang tersebar di berbagai bidang ini merupakan modal sosial yang kuat. Melalui kegiatan ini, kita berharap terjalin sinergi yang lebih erat, lahir gagasan-gagasan baru, serta terbuka ruang kolaborasi yang lebih luas antara alumni, fakultas, dan universitas,” ujarnya.
Acara pelantikan yang berlangsung khidmat ini diakhiri dengan prosesi sumpah jabatan yang dipandu oleh perwakilan DPP IKA UII. Para pengurus yang dilantik berkomitmen untuk memegang teguh syariat Islam dan nilai-nilai ke-UII-an dalam menjalankan amanah organisasi selama periode jabatan ke depan. Dengan resmi dilantiknya kepengurusan ini, IKA FIAI UII diharapkan mampu menjadi kanal komunikasi peradaban sekaligus jantung spiritualitas yang memberikan kontribusi berkelanjutan bagi umat dan bangsa. (NKA/AHR/RS)