Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menunjukkan kiprahnya di kancah nasional dengan menjadi tuan rumah penyelenggaraan Qatar Debate Indonesian Chapter 2026. Kegiatan ini berlangsung selama empat hari, mulai Jumat (10/4) hingga Senin (13/4), bertempat di Auditorium Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI), Kampus Terpadu UII, Jalan Kaliurang Km 14,5.
Acara ini diselenggarakan oleh El-Markazi, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) UII yang berfokus pada pengembangan minat dan bakat mahasiswa dalam bidang keislaman serta bahasa Arab. Penyelenggaraan ini sekaligus menjadi bentuk kepercayaan dari Qatar Debate kepada UII untuk menjadi tuan rumah seleksi delegasi Indonesia yang akan berlaga di ajang debat internasional di Qatar.
Ketua pelaksana kegiatan, Asiyah Azzahra, menjelaskan bahwa kompetisi ini bukan sekadar ajang lomba debat biasa, melainkan bagian dari proses seleksi nasional yang prestisius. “Lomba ini diselenggarakan di bawah naungan El-Markazi atas nama Qatar Debate Indonesia Chapter, yang mana ini adalah sebuah acara yang nantinya akan mendelegasikan Indonesia di Qatar Debate di tahun ini,” ujarnya.
Ia juga menyebutkan bahwa antusiasme peserta cukup tinggi. Tercatat sekitar 50 peserta dari 15 universitas di seluruh Indonesia turut ambil bagian dalam kompetisi ini. “Sekitar ada 50 peserta dari 15 universitas yang ada di seluruh Indonesia,” tambahnya.
Rangkaian kegiatan dimulai pada Jumat malam dengan workshop debat yang bertujuan membekali peserta dengan pemahaman dan strategi dalam berargumentasi secara kritis dan sistematis. Kegiatan ini menjadi fondasi penting sebelum memasuki kompetisi utama.
Memasuki hari kedua, acara dilanjutkan dengan opening ceremony yang berlangsung khidmat sekaligus meriah. Setelah itu, kompetisi resmi dimulai dengan babak penyisihan yang dilaksanakan selama dua hari, yakni Sabtu dan Minggu. Para peserta saling beradu argumen dalam bahasa Arab dengan berbagai mosi yang menuntut ketajaman berpikir, kemampuan analisis, serta keterampilan komunikasi yang baik.
Puncak acara berlangsung pada hari Senin dengan digelarnya babak semifinal dan final. Pada babak semifinal, Universitas Islam Indonesia harus berhadapan dengan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, sementara Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor bertemu dengan Universitas Trunojoyo Madura. Kedua pertandingan berlangsung sengit dengan masing-masing tim menunjukkan kemampuan terbaiknya.
Hasilnya, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan UNIDA Gontor berhasil melaju ke babak final setelah mengalahkan lawan-lawannya di semifinal. Sementara itu, Universitas Trunojoyo Madura dan Universitas Islam Indonesia harus puas bertanding untuk memperebutkan posisi ketiga dan keempat.
Pada babak final, persaingan antara UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan UNIDA Gontor berlangsung ketat. Kedua tim menampilkan performa yang solid dengan argumentasi yang kuat serta penguasaan bahasa Arab yang mumpuni. Namun, pada akhirnya UNIDA Gontor berhasil keluar sebagai juara pertama setelah unggul dalam penyampaian argumen dan strategi debat.
Dengan hasil tersebut, UNIDA Gontor menempati posisi juara pertama, disusul oleh UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai juara kedua. Posisi ketiga diraih oleh Universitas Trunojoyo Madura, sementara tuan rumah Universitas Islam Indonesia menempati posisi keempat.
Asiyah juga menegaskan bahwa kepercayaan yang diberikan kepada UII menjadi kebanggaan tersendiri sekaligus tanggung jawab besar. “Jadi, UII diberikan amanah dari Qatar Debate di Qatar untuk menjadi tuan rumah untuk penyelenggaraan Qatar Debate delegasi Indonesia untuk Qatar Debate,” jelasnya.
Lebih dari sekadar kompetisi, kegiatan ini menjadi wadah pengembangan kemampuan intelektual dan komunikasi mahasiswa, khususnya dalam bidang debat berbahasa Arab. Selain itu, ajang ini juga memperkuat jaringan antar mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia serta membuka peluang untuk tampil di tingkat internasional.
Dengan terselenggaranya Qatar Debate Indonesian Chapter 2026, diharapkan lahir delegasi-delegasi terbaik yang mampu membawa nama Indonesia di kancah global. UII melalui El-Markazi pun berhasil membuktikan kapasitasnya sebagai tuan rumah yang mampu menyelenggarakan ajang nasional dengan standar internasional. (MFPS/AHR/RS)
UII Sambut Mahasiswa SEA-Teacher Batch 11 dari Panpacific University Filipina
Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menerima mahasiswa inbound dalam program SEA-Teacher Program Batch 11 Gelombang Kedua, bekerja sama dengan Panpacific University di Gedung Kuliah Umum (GKU) Prof. Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII pada Jumat (17/04). Program ini diselenggarakan secara kolaboratif oleh Direktorat Kemitraan/Kantor Urusan Internasional (DK/KUI) dan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) UII.
Sebanyak tiga mahasiswa dari Panpacific University, yaitu Dana Vinuya Caronongan, Janelle Magpali Fabros, dan Ashley Nicole Cabornay, akan mengikuti program praktik mengajar di Afkaaruna Islamic School selama kurang lebih satu bulan.
Kegiatan penyambutan (welcoming program) dilaksanakan pada hari ini dengan dihadiri oleh Direktur DK/KUI, Dian Sari Utami, Kepala Divisi Mobilitas Internasional, Nihlah Ilhami, beserta tim. Dari Prodi PBI UII turut hadir Ketua Prodi, Puji Rahayu, serta dosen pembimbing yang akan mendampingi mahasiswa selama program berlangsung yaitu Ista Maharsi dan Adam Anshori.
Rangkaian kegiatan penyambutan meliputi sesi pengenalan lingkungan UII dan kehidupan di Yogyakarta, komunikasi lintas budaya dan konteks budaya Jawa, pembelajaran dasar Bahasa Indonesia untuk kebutuhan sehari-hari dan pengajaran, sesi informasi settlement, serta tur kampus.
Melalui program ini, mahasiswa diharapkan dapat mengembangkan kompetensi pedagogik, memperkuat kemampuan komunikasi lintas budaya, serta memperoleh pengalaman internasional dalam dunia pendidikan. Bagi UII, program ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan dalam memperkuat jejaring global dan mendukung internasionalisasi pendidikan tinggi. (NI/DS/AHR/RS)
UII Lantik 30 Arsitek Baru dalam Wisuda Profesi Arsitek Angkatan ke-17
Program Studi Profesi Arsitek (PPAr) Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menyelenggarakan Wisuda Pendidikan Profesi Arsitek Angkatan ke-17. Sebanyak 30 arsitek baru berhasil menuntaskan proses pembelajaran selama 1 tahun dengan 21 arsitek berpredikat Cumlaude dan 9 arsitek berpredikat sangat memuaskan secara resmi diambil sumpah pada Sabtu (18/04) di Auditorium Gedung KH. Mohammad Natsir FTSP UII.
Dalam laporan kelulusan, Ketua PPAr UII, Dr. Ar. Yulianto Purwono Prihatmanji, ST., MT., IPM., IAI menyampaikan Wisuda periode ini juga menjadi momen penting karena untuk pertama kalinya para lulusan menggunakan gelar pendidikan profesi baru, yaitu P.Ars (Profesi Arsitektur), sesuai kebijakan nasional. Selain itu, Mahasiswa PPAr UII belajar dengan beragam disiplin ilmu bersama para tenaga ahli dari bidang perancangan dengan kasus nyata hingga pengabdian masyarakat.
“Para lulusan tidak hanya menyelesaikan pendidikan secara akademik, tetapi juga telah terlibat dalam proyek riil bersama masyarakat, pemerintah, dan mitra profesional. Dengan bekal tersebut, kami optimis mereka siap berkontribusi sebagai arsitek profesional yang beretika dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat,” ungkap Ketua APTARI periode 2024-2027 ini.
Senada, Ketua UmumIkatan Arsitek Indonesia (IAI) menyampaikan bahwa lulusan Program Profesi Arsitek kini memiliki peluang lebih luas untuk mulai berpraktik melalui Sertifikat Kompetensi Kerja (SKK).
“Dengan adanya SKK sebagai asisten arsitek, lulusan sudah dapat mulai berprofesi sambil melanjutkan tahapan menuju arsitek penuh,” jelasnya.
Sementara itu, Rektor UII, Fathul Wahid dalam sambutannya menekankan pentingnya peran arsitek dalam merancang tidak hanya bangunan, tetapi pengalaman dan interaksi manusia di dalamnya. Ia mengingatkan setiap desain harus mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk pengguna, lingkungan, serta pihak-pihak lain dalam rantai konstruksi.
“Arsitek memiliki kebebasan dalam merancang, tetapi kebebasan itu harus diimbangi dengan empati terhadap pengguna dan seluruh ekosistem konstruksi,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ia menjelaskan bahwa desain arsitektur pada dasarnya menghadirkan “kemungkinan tindakan” bagi manusia. Oleh karena itu, lulusan diharapkan tidak hanya mengedepankan kreativitas, tetapi juga mampu menghadirkan solusi yang kontekstual, inklusif, dan berkelanjutan.
Tak kalah penting, Komisi Akreditasi Pengurus Asosiasi Pendidikan Tinggi Arsitektur Indonesia, Dr. Ir. Agus Dwi Hariyanto, S.T., M.Sc menekankan bahwa profesi arsitek tidak hanya menuntut kemampuan teknis dan akademik, tetapi juga integritas serta tanggung jawab sosial yang tinggi.
“Menjadi arsitek bukan hanya soal kemampuan desain, tetapi juga menjaga integritas, tanggung jawab sosial, dan menghadirkan karya yang berkelanjutan,” ungkapnya.
Wisuda profesi pendidikan arsitek ini diharapkan tidak hanya meluluskan arsitek-arsitek yang andal dalam keterampilan desain dan konstruksi. Tetapi mampu berperan aktif dalam mewujudkan pembangunan Indonesia yang humanis dan berkelanjutan. (AHR/RS)
UII dan Universitas Darunnajah Jajaki Kerja Sama Penguatan Pendidikan Tinggi
Universitas Islam Indonesia (UII) terus berkomitmen dalam menguatkan jejaring kemitraan dengan berbagai perguruan tinggi yang ada di Indonesia. Pada kesempatan kali ini, UII menerima kunjungan kerja sama dari Universitas Darunnajah pada Jumat (17/04) di Gedung Kuliah Umum (GKU) Prof. Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII.
Lawatan kerja sama ini menjadi bagian dari upaya kedua universitas dalam mengoptimalkan pengelolaan perguruan tinggi yang mencakup bidang tpenelitian, pengajaran, dan pengabdian masyarakat khususnya dalam penguatan manajemen pondok pesantren.
Rektor UII, Fathul Wahid, dalam sambutannya menyambut baik lawatan kerja sama ini sebagai upaya memperkuat silaturahmi antar lembaga pendidikan Islam.
“Kami meyakini bahwa sinergi antara perguruan tinggi dan pesantren adalah kunci dalam menjawab tantangan zaman, tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman yang menjadi fondasi utama,” jelas Rektor UII.
Lebih lanjut, Fathul Wahid menegaskan bahwa UII selalu mendorong pendidikan yang tidak hanya berorientasi akademik, tetapi pembentukan karakter dan kepedulian sosial menjadi hal yang sangat penting, terlebih mahasiswa adalah bagian dari masyarakat.
“Mahasiswa tidak cukup hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga harus memiliki kepekaan sosial dan kemampuan berkontribusi di tengah masyarakat,” ujarnya.
Senada, Presiden Universitas Darunnajah, K.H. Hadiyanto Arief, S.H., M.Bs menyatakan bahwa kunjungan ini dilaksanakan dalam rangka mengadopsi praktik baik yang diterapkan oleh UII dalam pengelolaan pendidikan tinggi. Hadiyanto menambahkan bahwa Universitas Darunnajah yang baru berdiri tahun 2022 masih perlu banyak belajar serta menggali pengetahuan dari UII sebagai institusi yang telah lebih dahulu berkembang pesat.
“Kunjungan ini merupakan bagian dari ikhtiar kami untuk mencari pola pendidikan terbaik, khususnya dalam mengintegrasikan sistem pesantren dengan pendidikan tinggi,” kata Hariyanto.
Hadiyanto juga menilai bahwa UII menjadi salah satu contoh penting dalam pengembangan pendidikan Islam yang adaptif.“Tidak banyak institusi yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai pesantren dengan sistem perguruan tinggi secara optimal, dan UII menjadi salah satu rujukan bagi kami,” ungkapnya.
Selain itu, aspek pengelolaan pendidikan dan pengembangan berbasis nilai keislaman serta wakaf menjadi perhatian khusus dalam kunjungan ini. “Kami berharap silaturahmi ini dapat berlanjut menjadi kerja sama konkret yang memberikan manfaat bagi kedua institusi,” harapnya.
Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi kerja sama antara kedua universitas yang membahas peluang kolaborasi di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.. Lawatan ini diharapkan menjadi langkah strategis bagi UII dan Universitas Darunnajah untuk terus memperkuat kolaborasi dan meningkatkan semangat kerja sama akademik. (AHR/RS)
Dari UII ke Dunia: Qatar Debate Indonesian Chapter 2026 Siapkan Delegasi Indonesia
Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menunjukkan kiprahnya di kancah nasional dengan menjadi tuan rumah penyelenggaraan Qatar Debate Indonesian Chapter 2026. Kegiatan ini berlangsung selama empat hari, mulai Jumat (10/4) hingga Senin (13/4), bertempat di Auditorium Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI), Kampus Terpadu UII, Jalan Kaliurang Km 14,5.
Acara ini diselenggarakan oleh El-Markazi, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) UII yang berfokus pada pengembangan minat dan bakat mahasiswa dalam bidang keislaman serta bahasa Arab. Penyelenggaraan ini sekaligus menjadi bentuk kepercayaan dari Qatar Debate kepada UII untuk menjadi tuan rumah seleksi delegasi Indonesia yang akan berlaga di ajang debat internasional di Qatar.
Ketua pelaksana kegiatan, Asiyah Azzahra, menjelaskan bahwa kompetisi ini bukan sekadar ajang lomba debat biasa, melainkan bagian dari proses seleksi nasional yang prestisius. “Lomba ini diselenggarakan di bawah naungan El-Markazi atas nama Qatar Debate Indonesia Chapter, yang mana ini adalah sebuah acara yang nantinya akan mendelegasikan Indonesia di Qatar Debate di tahun ini,” ujarnya.
Ia juga menyebutkan bahwa antusiasme peserta cukup tinggi. Tercatat sekitar 50 peserta dari 15 universitas di seluruh Indonesia turut ambil bagian dalam kompetisi ini. “Sekitar ada 50 peserta dari 15 universitas yang ada di seluruh Indonesia,” tambahnya.
Rangkaian kegiatan dimulai pada Jumat malam dengan workshop debat yang bertujuan membekali peserta dengan pemahaman dan strategi dalam berargumentasi secara kritis dan sistematis. Kegiatan ini menjadi fondasi penting sebelum memasuki kompetisi utama.
Memasuki hari kedua, acara dilanjutkan dengan opening ceremony yang berlangsung khidmat sekaligus meriah. Setelah itu, kompetisi resmi dimulai dengan babak penyisihan yang dilaksanakan selama dua hari, yakni Sabtu dan Minggu. Para peserta saling beradu argumen dalam bahasa Arab dengan berbagai mosi yang menuntut ketajaman berpikir, kemampuan analisis, serta keterampilan komunikasi yang baik.
Puncak acara berlangsung pada hari Senin dengan digelarnya babak semifinal dan final. Pada babak semifinal, Universitas Islam Indonesia harus berhadapan dengan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, sementara Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor bertemu dengan Universitas Trunojoyo Madura. Kedua pertandingan berlangsung sengit dengan masing-masing tim menunjukkan kemampuan terbaiknya.
Hasilnya, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan UNIDA Gontor berhasil melaju ke babak final setelah mengalahkan lawan-lawannya di semifinal. Sementara itu, Universitas Trunojoyo Madura dan Universitas Islam Indonesia harus puas bertanding untuk memperebutkan posisi ketiga dan keempat.
Pada babak final, persaingan antara UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan UNIDA Gontor berlangsung ketat. Kedua tim menampilkan performa yang solid dengan argumentasi yang kuat serta penguasaan bahasa Arab yang mumpuni. Namun, pada akhirnya UNIDA Gontor berhasil keluar sebagai juara pertama setelah unggul dalam penyampaian argumen dan strategi debat.
Dengan hasil tersebut, UNIDA Gontor menempati posisi juara pertama, disusul oleh UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai juara kedua. Posisi ketiga diraih oleh Universitas Trunojoyo Madura, sementara tuan rumah Universitas Islam Indonesia menempati posisi keempat.
Asiyah juga menegaskan bahwa kepercayaan yang diberikan kepada UII menjadi kebanggaan tersendiri sekaligus tanggung jawab besar. “Jadi, UII diberikan amanah dari Qatar Debate di Qatar untuk menjadi tuan rumah untuk penyelenggaraan Qatar Debate delegasi Indonesia untuk Qatar Debate,” jelasnya.
Lebih dari sekadar kompetisi, kegiatan ini menjadi wadah pengembangan kemampuan intelektual dan komunikasi mahasiswa, khususnya dalam bidang debat berbahasa Arab. Selain itu, ajang ini juga memperkuat jaringan antar mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia serta membuka peluang untuk tampil di tingkat internasional.
Dengan terselenggaranya Qatar Debate Indonesian Chapter 2026, diharapkan lahir delegasi-delegasi terbaik yang mampu membawa nama Indonesia di kancah global. UII melalui El-Markazi pun berhasil membuktikan kapasitasnya sebagai tuan rumah yang mampu menyelenggarakan ajang nasional dengan standar internasional. (MFPS/AHR/RS)
UII Perkuat Kolaborasi dengan MPR RI, Dorong Penguatan Wawasan Kebangsaan
Universitas Islam Indonesia (UII) terus berkomitmen untuk menjalin kemitraan dengan berbagai pemangku kepentingan salah satunya lembaga tinggi negara. Kali ini UII menerima lawatan kerja sama dari Sekretariat Jenderal Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR-RI) pada Selasa (14/03) di Gedung Kuliah Umum Prof. Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII.
Dalam kesempatan tersebut, UII dan Setjen MPR-RI juga menyepakati kerjasama yang secara resmi ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman oleh Rektor UII, Fathul Wahid dan Plt Sekretaris Jenderal MPR RI, Siti Fauziah,S.E., M.M.
Dalam sambutannya, Plt Sekretaris Jenderal MPR RI, Siti Fauziah,S.E., M.M menegaskan bahwa kerja sama antara MPR RI dan Universitas Islam Indonesia (UII) merupakan langkah strategis dalam memperkuat demokrasi dan nilai-nilai kebangsaan. Siti Fauziah menyebut, kolaborasi ini tidak hanya berfokus pada kajian konstitusi, tetapi juga mencakup berbagai bidang lain yang relevan.
“Kerja sama ini tidak hanya pada kajian konstitusi, tetapi juga mencakup program magang mahasiswa, penguatan kehumasan, serta sosialisasi Empat Pilar MPR RI kepada generasi muda,” ujarnya.
Ia menambahkan, keterlibatan mahasiswa menjadi penting sebagai upaya menanamkan pemahaman kebangsaan sejak dini, mengingat generasi muda memiliki peran strategis dalam keberlanjutan bangsa.
Sementara itu, Rektor UII, Fathul Wahid, menyampaikan bahwa kerja sama ini sejalan dengan visi UII dalam mencetak pemimpin masa depan bangsa. Menurutnya, UII memiliki kesiapan untuk berkontribusi melalui berbagai disiplin ilmu yang dimiliki.
“UII siap berkontribusi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat untuk mendukung program-program kebangsaan,” ungkapnya.
Ia juga berharap kolaborasi ini dapat membuka ruang sinergi yang lebih luas antara perguruan tinggi dan lembaga negara dalam memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan pembangunan nasional.
Kegiatan ini juga diakhiri dengan sesi diskusi dan penandatanganan nota kesepahaman sebagai bentuk komitmen bersama dalam memperkuat kerja sama ke depan. Melalui kolaborasi ini, kedua belah pihak berharap dapat menghadirkan berbagai program yang berdampak, khususnya dalam penguatan wawasan kebangsaan, peningkatan kapasitas generasi muda, serta kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa. (AHR/RS)
CILACS UII Jadi Rujukan, UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe Kembangkan Unit Bahasa
Upaya penguatan layanan kebahasaan terus dilakukan berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Salah satunya ditunjukkan melalui kunjungan studi banding Unit Pengembangan Bahasa UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe, Aceh ke CILACS UII Yogyakarta pada Senin (13/4).
Kunjungan yang berlangsung di kantor CILACS UII, Unit Demangan, Yogyakarta ini bertujuan untuk menggali praktik terbaik dalam pengelolaan pusat bahasa, khususnya dalam pengembangan program pelatihan serta penyelenggaraan tes TOEFL ITP resmi yang kredibel dan terstandar untuk kebutuhan kelulusan maupun beasiswa mahasiswa.
Rombongan Unit Pengembangan Bahasa UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe dipimpin oleh Rizka Rivensky selaku Ketua, didampingi Elfiadi dari Fakultas Tarbiyah. Kehadiran mereka disambut hangat oleh Kepala CILACS UII, Rr. Ratna Roostika, SE., MAC., Ph.D., yang diwakili oleh jajaran manajemen antara lain Aditya Suci (Kepala Departemen Pemasaran), Suprihatin (Kepala Departemen Akademik), serta Sudharmanto (Kepala Departemen Layanan Tes).
Dalam pertemuan tersebut, tim CILACS UII memaparkan secara komprehensif perjalanan institusi, mulai dari pengembangan program, inovasi layanan, hingga sistem pengelolaan tes bahasa yang telah terstandarisasi. Paparan ini menjadi referensi penting bagi UIN Sultanah Nahrasiyah yang saat ini tengah mengembangkan unit layanan bahasa secara lebih optimal.
Rizka Rivensky menyampaikan bahwa saat ini Unit Pengembangan Bahasa di institusinya masih menghadapi sejumlah tantangan, baik dalam hal optimalisasi layanan maupun penyediaan tes TOEFL ITP resmi. Oleh karena itu, kunjungan ini diharapkan dapat memberikan gambaran konkret serta solusi aplikatif yang dapat diadaptasi.
Diskusi berlangsung dalam suasana santai namun produktif, ditandai dengan sesi tanya jawab interaktif terkait berbagai kendala yang dihadapi serta strategi penyelesaiannya. Selain itu, kedua belah pihak juga membuka peluang kerja sama ke depan, khususnya dalam penguatan layanan tes dan pengembangan program kebahasaan.
Melalui kegiatan ini, diharapkan terjadi transfer pengetahuan dan pengalaman yang dapat mendorong peningkatan kualitas layanan bahasa di lingkungan UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe, sekaligus memperkuat jejaring antar lembaga pengembangan bahasa di Indonesia. (ANK/AHR/RS)
Sinergi Praktisi dan Akademisi, Program Studi Hukum Keluarga UII Bahas Jalur Karier Hakim dan Riset Hukum Berbasis Praktik
Program Studi Hukum Keluarga (Ahwal Syakhsiyah), Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar seminar Sinergi Praktisi dan Akademisi: Membedah Jalur Karier Hakim serta Metodologi Riset Hukum Berbasis Praktik pada Senin (13/04) di Gedung K.H. Wahid Hasyim FIAI UII.
Seminar ini diisi langsung oleh dua hakim lulusan program studi Ahwal Syakhsiyah yang memiliki pengalaman luas di dunia peradilan yaitu Dr. M. Khusnul Khuluq S.Sy., S.H., M.H selaku Hakim Yustisial Badan Urusan Administrasi Mahkamah Agung RI dan Samsul Zakaria, S.Sy., M.H selaku Hakim Pratama Madya PA Soreang Kelas 1B. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa program studi Hukum Keluarga dari jenjang sarjana hingga doktoral.
Kegiatan diawali dengan sambutan Dekan FIAI UII, Dr. Drs. Asmuni, M.A yang mengatakan bahwa karier seorang hakim di bidang peradilan Islam memiliki kekayaan dan kompleksitas tersendiri. Posisi hakim bukan hanya sekadar jabatan, tetapi merupakan amanah besar yang membutuhkan kompetensi, integritas, serta kapasitas keilmuan yang terus ditingkatkan.
“Saat ini, pengembangan karier hakim tidak bisa dilepaskan dari jenjang pendidikan. Mulai dari pendidikan sarjana hingga doktoral, semua memiliki peran penting dalam membentuk kualitas seorang hakim. Oleh karena itu, peningkatan kualifikasi akademik menjadi salah satu aspek penting dalam mendukung profesionalitas di bidang peradilan,” ungkap Asmuni.
Lebih lanjut, seorang hakim memiliki tanggung jawab besar dalam memutus perkara secara adil dan bijaksana. Oleh karena itu, diperlukan keseimbangan antara kemampuan praktis dan kedalaman akademik. “Di sinilah pentingnya sinergi antara dunia akademik dan praktik hukum agar dapat saling menguatkan,” harapnya.
Salah satu bahasan utama dalam seminar ini adalah upaya meluruskan persepsi publik mengenai statistik perceraian yang sering kali dianggap sebagai krisis sosial. Sebagai praktisi, Samsul Zakaria menjelaskan bahwa angka 8.400 perkara di PA Soreang tidak bisa ditelan mentah-mentah sebagai angka perceraian semata, karena mencakup berbagai jenis perkara hukum keluarga lainnya sesuai amanat undang-undang.
Penting bagi masyarakat dan akademisi untuk melihat korelasi antara padatnya populasi dengan jumlah perkara yang masuk. Melalui paparan “Beyond Divorce Statistics”, ditekankan perlunya sikap bijak dalam menafsirkan data pengadilan, yakni dengan strategi “Membaca data Pengadilan Agama dengan akal sehat dan empati,” tegasnya
Diskusi kemudian berkembang pada dekonstruksi konsep nafkah dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang dinilai perlu kontekstualisasi agar lebih adil bagi perempuan di era modern. Dr. Khusnul Khuluq memaparkan bahwa teks hukum yang menempatkan suami sebagai pencari nafkah tunggal sering kali berbenturan dengan realitas kolaborasi ekonomi keluarga saat ini. Hakim didorong untuk melakukan ijtihad sosiologis guna memastikan keadilan bagi istri yang juga berperan aktif di ruang publik agar tidak memikul beban ganda.
Peninjauan ulang ini krusial karena sifat hukum yang dinamis, sebagaimana ditegaskan dalam materi tersebut bahwa “KHI adalah ‘hukum Islam khas Indonesia’. Sebagai produk konsensus dan politik masa lalu, ia terbuka untuk terus dikritisi dan dikontekstualisasikan ulang,” ungkapnya.
Seminar ini tidak hanya menumbuhkan semangat mahasiswa untuk meniti karier sebagai hakim di masa depan, tetapi juga memperluas wawasan mereka dalam memahami dinamika penyelesaian persoalan keluarga di ranah peradilan. Melalui pemaparan langsung dari para praktisi, mahasiswa memperoleh gambaran nyata mengenai tantangan, tanggung jawab, serta kompleksitas perkara yang dihadapi dalam praktik peradilan agama.
Selain itu, kegiatan ini turut mendorong mahasiswa untuk lebih kritis dalam merespons berbagai persoalan hukum keluarga yang berkembang di masyarakat. Dengan mengintegrasikan perspektif akademik dan pengalaman praktis, seminar ini diharapkan mampu membekali mahasiswa dengan pemahaman yang komprehensif serta kesiapan dalam menghadapi dunia profesional di bidang hukum keluarga. (AHR/RS)
UII Berperan Aktif Bersama Pemkot Yogyakarta Lanjutkan Program Rumah Layak Huni
Pemerintah Kota Yogyakarta melanjutkan program pembangunan rumah layak huni berbasis komunitas ke tahap kedua dengan dukungan berbagai pihak, termasuk Universitas Islam Indonesia (UII). Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis (09/04) di Kampung Lampion, Kelurahan Kotabaru, Kota Yogyakarta.
Dalam sambutannya, Dr. (H.C) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) menyampaikan apresiasi atas kontribusi UII dalam mendukung perencanaan dan pelaksanaan program tersebut. “Kami mengucapkan terima kasih kepada UII, Pak Rektor, Pak Dekan, dan seluruh sivitas akademika yang telah membantu dengan luar biasa,” ujar dr. Hasto
Program ini tidak hanya membangun rumah, tetapi juga menata lingkungan bantaran sungai agar lebih bersih dan sehat. Masyarakat pun diimbau untuk menjaga kebersihan dan tidak membuang sampah ke sungai.
Lebih lanjut, Wakil Rektor Bidang Kemitraan dan Kewirausahaan UII, Ir. Wiryono Raharjo, M.Arch., Ph.D menegaskan komitmen kampus dalam mendukung penataan pemukiman kumuh di Kota Yogyakarta
Dalam hal ini kami (UII-red) bekerjasama dengan NGO dalam payung Pengabdian dan Kolaborasi International untuk mencari Hibah dan Support Pendanaan terkait program permukiman Kumuh di DIY. Salah satunya melalui program Roof Over Our Head dengan SPARC India yang sudah dilaksanakan program nya dalam wujud Penataan Permukiman Kumuh di Kampung Lampion Yogyakarta pada 2025,” ungkapnya.
Selain itu, pemerintah menargetkan pembangunan infrastruktur pendukung seperti akses jalan di sepanjang sungai yang pada tahun ini difokuskan di beberapa titik, sebagai bagian dari upaya menghubungkan kawasan bantaran sungai dari hulu hingga hilir dalam empat tahun ke depan.
Tahap pertama telah menghasilkan 38 unit rumah. Dengan dimulainya tahap kedua, diharapkan pembangunan dapat berjalan lebih cepat dan memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat.
“Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, maka kita mulai tahap dua,” pungkas dr. Hasto Wardoyo. (AHR/RS)
IKI UII Gelar Halalbihalal dan Lepas Calon Jamaah Haji 1447 H
Halalbihalal dan pelepasan jamaah calon haji 1447 H yang diselenggarakan oleh Keluarga Besar Ikatan Keluarga Ibu-Ibu (IKI) Universitas Islam Indonesia (UII) berlangsung pada Rabu (08/04) di Auditorium Prof. K.H. Abdul Kahar Muzakkir, Kampus Terpadu UII. Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran pengurus IKI UII, keluarga besar UII, serta para calon jamaah haji, dengan rangkaian acara dari registrasi, penampilan hadroh, sambutan, hingga tausiyah.
Momentum ini menjadi ruang silaturahmi pasca-Ramadan sekaligus penguatan spiritual bagi calon jamaah haji. Selain itu, kegiatan ini juga menghadirkan refleksi bersama mengenai keberlanjutan nilai ibadah dalam kehidupan sehari-hari.
Ketua IKI UII, Prof. Nurul Indarti, Sivilokonom., Cand.Merc., Ph.D. , mengajak peserta untuk menjaga kesinambungan nilai Ramadan dalam kehidupan sehari-hari, tidak berhenti pada momentum semata.
“Momen berkumpulnya kita hari ini tidak hanya untuk saling lepas rindu saja, namun juga merawat jejak jejak kebaikan yang telah kita buat selama bulan ramadhan, agar tetap hidup dan berlanjut dalam keseharian kita.”
Perwakilan jamaah calon haji, Dr. Noor Fitri, menekankan bahwa ibadah haji adalah perjalanan yang menuntut kesiapan lahir dan batin, sehingga membutuhkan dukungan doa dari lingkungan sekitar.
“Kami memohon doa dari bapak ibu sekalian, karena kami tahu haji bukan hanya perjalanan fisik saja, tetapi juga proses pembelajaran dan evaluasi diri yang menuntut pengetahuan, kesabaran, serta ketawakkalan kepada Allah SWT dalam setiap tahapnya.”
Kegiatan dilanjutkan dengan tausiyah yang dibawakan oleh Ustadz Prof. drh. Agung Budiyanto, M.P., Ph.D. tentang kemuliaan peran istri dalam rumah tangga sebagai bentuk ketaatan. “Menjadi istri itu adalah bentuk ketaatan yang mulia; ketika ia mampu menenangkan, meneduhkan, dan menghadirkan kesejukan dalam rumah tangga, di situlah ia meneladani kemuliaan Khadijah binti Khuwailid sebagai penopang bagi suaminya.”
Prof. Agung kemudian mengaitkan peran tersebut dengan praktik keseharian, khususnya selama Ramadan yang sarat dengan pengorbanan.“Apalagi di bulan Ramadan, setiap lelah bangun sahur, menyiapkan kebutuhan keluarga, hingga mengorbankan waktu dan tenaga, semua itu bernilai ibadah dan menjadi bukti nyata ketaatan seorang istri di hadapan Allah.”
Sebagai penegasan, Prof. Agung menutup dengan menekankan bahwa nilai utama terletak pada niat dan keikhlasan dalam setiap peran yang dijalankan. “Maka keistimewaan seorang istri tidak hanya terletak pada perannya, tetapi pada niat dan keikhlasan yang menjadikan setiap aktivitasnya bernilai pahala di sisi-Nya.”
Kegiatan ini pun menegaskan bahwa halalbihalal tidak sekadar tradisi silaturahmi, tetapi juga menjadi ruang penguatan nilai, doa, dan kesiapan spiritual dalam menyambut ibadah haji. (IMK/AHR/RS)
FTI Expo 2026 Perkuat Sinergi Akademik dan Inovasi
Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menyelenggarakan FTI Expo 2026 pada Rabu-Minggu (08-12/04) di Pakuwon Mall Jogja. Kegiatan ini menjadi ruang ruang kolaborasi antara dunia pendidikan, kreativitas, dan industri dalam satu rangkaian acara yang interaktif dan inspiratif.
FTI Expo 2026 dikemas dalam bentuk pameran terbuka yang menampilkan inovasi, kreativitas, serta potensi akademik mahasiswa dari delapan program studi di lingkungan FTI UII. Dengan lokasi penyelenggaraan di pusat perbelanjaan yang memiliki tingkat kunjungan yang tinggi, kegiatan ini diharapkan mampu menjangkau siswa SMA/SMK, orang tua calon mahasiswa, komunitas, dan masyarakat umum secara lebih luas.
Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Keagamaan, dan Alumni FTI UII, Dr. Arif Hidayat, S.T., M.T dalam sambutannya mengatakan bahwa kegiatan ini untuk membuktikan bahwa FTI tidak hanya berfokus pada bidang akademik. Tetapi, juga mampu memberikan ruang yang luas bagi mahasiswa dalam mengembangkan minat, bakat, dan kreativitas.
Lebih lanjut, Arif menjelaskan FTI Expo tahun ini menampilkan pameran interaktif dari delapan program studi di lingkungan FTI UII. Setiap program studi menampilkan stan yang berisi informasi akademik, karya inovasi mahasiswa, prototype teknologi, serta demonstrasi alat dan sistem yang telah dikembangkan.
“Selain itu, akan diselenggarakan talkshow dari masing-masing program studi. Kami juga menyelenggarakan berbagai perlombaan bagi siswa SMA di wilayah DIY, seperti lomba storytelling, lomba vokal, dan lomba tari saman di hari terakhir. Hal ini menunjukkan bahwa di FTI, tidak hanya aspek akademik yang dikembangkan, tetapi juga minat dan bakat mahasiswa serta pelajar.” jelas Arif.
Melalui kegiatan ini, FTI UII berupaya inovasi, kreativitas, dan potensi mahasiswa dari tujuh program studi, sekaligus membuka akses informasi dan layanan pendaftaran mahasiswa baru secara langsung di lokasi acara. Diharapkan, FTI Expo 2026 dapat menjadi wadah yang mempertemukan ide, bakat, teknologi, dan peluang masa depan dalam satu pengalaman yang edukatif sekaligus menghibur. (AHR/RS)