Jurusan Farmasi Universitas Islam Indonesia (UII) meluncurkan Pusat Kolaborasi Riset (PKR) Mikroba Endofit bersama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Pusat Studi Inovasi dan Keunggulan Farmasi (Puspikfar) di Gedung Kuliah Umum Prof. Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII pada Selasa (23/06).
Acara peresmian ini dihadiri langsung oleh Rektor UII, Prof. Dr. Ir. Hari Purnomo, M.T., IPU., ASEAN Eng.) beserta jajaran wakil rektor, Deputi Bidang Fasilitasi Riset dan Inovasi BRIN, Prof. Dr. Eng. Agus Haryono, Direktur Pendanaan Riset dan Inovasi BRIN, Raden Arthur Ario Lelono, Ph.D., serta Kepala Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan BRIN, Dr. Andes Hamurabi Rozak, M.Sc.. Kegiatan ditandai dengan prosesi peresmian serta penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Kepala Divisi Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM-UII), Prof. Eko Siswoyo, S.T., M.Sc. ES, Ph.D. IPU. dan Kepala Pusat Riset Mikrobiologi Terapan BRIN, Dr. Ahmad Fathoni, M.Eng.
Kolaborasi ini tidak hanya melibatkan BRIN (melalui Pusat Riset Mikrobiologi Terapan, Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi, serta Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional), melainkan juga mempertemukan jejaring dari 8 perguruan tinggi mitra di seluruh penjuru Indonesia, mulai dari Institut Pertanian Bogor, Universitas Sumatera Utara, Universitas Mulawarman, Universitas Muammadiyah Kaltim, Universitas Nusa Cendana, STIKES Maluku Husada, hingga Universitas Papua.
Rektor UII, Prof. Dr. Ir. Hari Purnomo, M.T., IPU., ASEAN Eng., menyampaikan dalam sambutannya bahwa peresmian PKR Mikroba Endofit dan Puspikfar merupakan wujud komitmen untuk memperkuat riset dan inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Ia mengapresiasi kolaborasi yang terjalin antara UII, BRIN, serta berbagai mitra dalam mewujudkan inisiatif tersebut.
Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas yang sangat besar dan berpotensi menjadi sumber pengembangan ilmu pengetahuan serta inovasi kesehatan. “Peresmian ini bukan sekadar penambahan unit akademik, melainkan investasi intelektual untuk menghadirkan pengetahuan yang menjawab kebutuhan masyarakat serta mendukung kemajuan kesehatan dan kesejahteraan bangsa,” ujarnya.
Prof. Hari menambahkan, kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga riset, dan para peneliti menjadi langkah strategis untuk mempercepat lahirnya temuan yang bermanfaat. Melalui PKR Mikroba Endofit, potensi biodiversitas Indonesia diharapkan dapat dikembangkan menjadi sumber nilai tambah bagi bangsa sekaligus mendukung kemandirian bahan baku obat nasional.
Prof. Hari berharap PKR Mikroba Endofit dan Puspikfar dapat berkembang menjadi pusat rujukan yang menghasilkan inovasi dan temuan bermakna. “Saya berharap kedua pusat ini dapat berkontribusi bagi kemajuan kesehatan dan kefarmasian Indonesia serta memperluas manfaat biodiversitas Indonesia bagi masyarakat,” tuturnya.
Kemudian, Deputi Bidang Fasilitasi Riset dan Inovasi BRIN, Prof. Dr. Eng. Agus Karyono, mengapresiasi peresmian PKR Mikroba Endofit yang diinisiasi UII bersama para mitra. Menurutnya, kehadiran PKR menjadi langkah strategis dalam memperkuat kolaborasi riset antara perguruan tinggi, lembaga penelitian, industri, dan masyarakat. Ia berharap PKR Mikroba Endofit dapat terus berkembang dan menjadi pusat unggulan dalam pengembangan riset mikroba di Indonesia.
Agus menjelaskan bahwa BRIN mendorong setiap PKR untuk memiliki arah pengembangan yang jelas melalui penyusunan roadmap riset jangka panjang. Dengan demikian, kolaborasi yang terbangun tidak hanya menghasilkan jejaring penelitian, tetapi juga mampu memperkuat posisi Indonesia dalam pengembangan ilmu pengetahuan di tingkat regional maupun global. “Kami berharap PKR dapat menjadi pusat kolaborasi yang memiliki arah pengembangan jangka panjang dan menghasilkan dampak yang lebih luas,” ujarnya.
Lebih lanjut, Prof. Agus menegaskan bahwa hasil riset harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Karena itu, selain menghasilkan publikasi ilmiah dan kekayaan intelektual, PKR diharapkan mampu melahirkan inovasi dan produk yang dapat dimanfaatkan secara luas. BRIN juga membuka peluang penguatan pendanaan dan fasilitas riset guna mendukung produktivitas serta keberlanjutan pusat-pusat kolaborasi riset di perguruan tinggi.
Melalui PKR Mikroba Endofit dan Puspikfar, Jurusan Farmasi UII membuktikan komitmennya bahwa hasil riset tidak boleh berhenti di atas kertas atau di dalam laboratorium saja, melainkan harus dihilirisasi agar memberikan dampak ekonomi, kemandirian industri farmasi, dan kebermanfaatan nyata bagi kesehatan masyarakat Indonesia. (IR/AHR/RS)
Mengupas Potensi Inovasi Bahan Baku Obat dan Transformasi Pendidikan Farmasi
Jurusan Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Universitas Islam Indonesia (UII) telah selesai selenggarakan kuliah umum yang menghadirkan dua pakar terkemuka di bidang farmasi. Acara ini menampilkan Prof. Dr. Andria Agusta dari Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Prof. Dr. apt. Yandi Syukri, S.Si., M.Si., selaku Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Farmasi Indonesia (APTFI). Acara ini digelar pada Selasa (23/06) di Ruang Teatrikal Lt. 2 Gedung Kuliah Umum Dr. Sardjito UII dan dihadiri oleh 100 mahasiswa Farmasi UII.
Dalam sesi pertama, Prof. Andria menjelaskan mengenai potensi besar mikroba endofit sebagai sumber inovasi bahan baku obat masa depan. Mikroba endofit, yakni mikroorganisme yang hidup di dalam jaringan tumbuhan tanpa menimbulkan efek negatif pada inangnya, kini menjadi fokus utama riset penemuan obat. Dalam pemaparannya, Prof. Andria menjelaskan bahwa mikroba ini memproduksi metabolit sekunder sebagai senjata pertahanan diri untuk melawan patogen, yang berpotensi dikembangkan menjadi obat-obatan.
Mengenai fenomena tersebut, Prof. Andria menyatakan, “Ketika di daerah yang berlawanan dengan mikroba lain dia memproduksi sesuatu, ini adalah indikasi bahwa dia juga memproduksi chemical weapon yang berwarna yang mudah kita amati dengan mata biasa,” ungkapnya.
Penelitian tersebut telah membuahkan hasil nyata, di mana senyawa seperti episitoskirin dan bislunatin terbukti memiliki aktivitas antibakteri, antimalaria, hingga antikanker yang kuat. Melalui teknik biokonversi, Prof. Andria menegaskan bahwa pihaknya terus berupaya memperbaiki profil farmakologi senyawa tersebut agar lebih efektif dan dapat dimanfaatkan untuk kemandirian bahan baku obat nasional.
Selaras dengan paparan tersebut, Prof. Dr. Apt. Yandi Syukri, M.Si., menyoroti pentingnya transformasi pendidikan tinggi farmasi dalam menghadapi tantangan zaman, seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), dan tingginya ketergantungan impor bahan baku obat. Prof. Yandi menekankan bahwa kampus tidak boleh lagi sekadar menjadi tempat belajar, tetapi harus bertransformasi menjadi pusat inovasi dan penyedia solusi bagi ekosistem kesehatan nasional. Menurutnya, kolaborasi antara akademisi, industri, pemerintah, dan lembaga riset seperti BRIN sangat penting untuk memastikan riset yang dihasilkan dapat dihilirisasi menjadi produk yang bermanfaat bagi masyarakat.
Menutup paparannya, Prof. Yandi memberikan pesan inspiratif bagi para mahasiswa agar tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga peneliti muda, inovator, dan agen perubahan yang siap berkontribusi bagi bangsa. (NKA/AHR/RS)
FH UII Anugerahkan Penghargaan Artidjo Alkostar kepada Tiga Aktivis Inspiratif
Fakultas Hukum (FH) Universitas Islam Indonesia (UII) memberikan penganugerahan penghargaan Artidjo Alkostar kepada para aktivis inspiratif di berbagai bidang, pada Selasa (23/06) di Auditorium FH UII. Mereka yang mendapatkan penghargaan yaitu Lakso Anindito sebagai aktivis hukum dan anti korupsi, Eni Lestari sebagai aktivis buruh migran, dan Daniel Frits Maurits Tangkilisan Sebagai aktivis lingkungan penyelamatan Karimunjawa.
Dalam Sambutannya, Dekan FH UII, Prof. Dr. Budi Agus Riswandi, S.H., M.Hum., menyampaikan selamat atas para peraih penghargaan dan berkata momentum ini bukan sekedar simbolik saja tetapi sarat akan nilai, kita harus mencontoh nilai keteladanan seorang Artidjo Alkostar dan mengingat keadilan adalah tanggung jawab bersama.
“Bapak/Ibu sekalian, penghargaan ini kami dedikasikan kepada para penggiat masyarakat yang telah menunjukkan keteguhan, integritas, dan keberpihakan kepada nilai-nilai kemanusiaan. Di Tengah berbagai tantangan, Saudara-saudara sekalian menjadi cahaya, membuktikan bahwa keadilan masih diperjuangkan dengan Nurani,” ujar Budi.
Kegiatan dilanjutkan dengan persembahan drama berjudul “Museum Aktivis” dari salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di FH UII yaitu Sanggar Terpidana. Selanjutnya Ari Wibowo, S.HI., S.H., M.H., selaku ketua pelaksana menyampaikan laporan bahwa proses pemilihan para peraih berlangsung cukup panjang dimulai dari Oktober 2025.
Kriteria yang ditentukan oleh tim pelaksana sangat ketat, hingga akhirnya terpilih puluhan nama. Nama-nama tersebut kemudian dilakukan jajak pendapat di internal sivitas akademika FH UII, kemudian diberikan penilaian oleh tiga dewan juri yang memiliki memiliki rekam jejak panjang dalam aktivitas di bidang sosial kemasyarakatan. Para dewan juri yaitu, Dr. H.M. Busyro Muqoddas, S.H., M.Hum., Prof. Dr. Suparman Marzuki, S.H., M.Si., dan Prof. Dr. Sulistyowati Irianto, M.A.
Kemudian setiap peraih penghargaan diberikan kesempatan untuk menyampaikan pengalaman inspiratifnya, Dalam sesinya, Lakso menceritakan dia yang dulunya pegawai KPK harus dikeluarkan akibat revisi undang-undang KPK di tahun 2019. Menurutnya KPK sudah tidak independen lagi, dan dia bersama pegawai yang lain tidak mau tunduk hingga akhirnya disingkirkan. Namun perjuangan Lakso tidak berhenti, ia mendirikan Indonesia Memanggil Lima Tujuh (IM57+) Institute yang bergerak dalam edukasi publik soal antikorupsi.
Kisah inspiratif lainnya datang dari Eni Lestari, namanya pernah ramai karena menjadi perwakilan buruh yang berbicara di sidang umum PBB 2016. Ia menceritakan bahwa ia bermigrasi ke Hongkong pasca krisis moneter 1998, dan selama itu ia melihat banyak ketidakadilan terjadi terutama kepada pekerja perempuan seperti dia.
“Bagi saya, penghargaan ini Adalah hak dari teman-teman pejuang buruh migran, di luar negeri maupun di dalam negeri, yang seumur hidupnya konsisten di dalam isu yang selama ini banyak dilupakan atau bahkan disingkirkan” ujar Eni.
Sementara itu Daniel Tangkilisan membagikan pengalamannya ia pernah masuk dalam jeruji penjara karena upayanya untuk memperjuangkan ekosistem pesisir di Pulau Karimunjawa. Setelah ia memviralkan aktivitas pengrusakan lingkungan yang terjadi, banyak media lokal, nasional hingga masyarakat untuk ikut menyebarkan, hingga akhirnya perusahaan menghentikan perusakan itu. Menurutnya, perjuangan melawan kerusakan lingkungan bukan hanya perjuangan sendiri, tetapi merupakan perjuangan kolektif bersama masyarakat.
Setelah sesi pemaparan, para hadirin yang hadir diberikan kesempatan untuk bertanya kepada para peraih penghargaan. Kemudian pada kesempatan yang sama, Para juri menanggapi para peraih penghargaan dan menyampaikan kekagumannya atas aktivitas mereka dalam memperjuangkan keadilan.
Melalui penganugerahan ini diharapkan menjadi penyemangat dan akan lahir para penerus Artidjo Alkostar selanjutnya yang mampu memberikan teladan, tentang arti perjuangan tanpa henti untuk kebaikan. (AAK/AHR/RS)
UII dan BRIN Resmikan Pusat Kolaborasi Riset Mikroba Endofit dan Pusat Studi Farmasi
Jurusan Farmasi Universitas Islam Indonesia (UII) meluncurkan Pusat Kolaborasi Riset (PKR) Mikroba Endofit bersama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Pusat Studi Inovasi dan Keunggulan Farmasi (Puspikfar) di Gedung Kuliah Umum Prof. Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII pada Selasa (23/06).
Acara peresmian ini dihadiri langsung oleh Rektor UII, Prof. Dr. Ir. Hari Purnomo, M.T., IPU., ASEAN Eng.) beserta jajaran wakil rektor, Deputi Bidang Fasilitasi Riset dan Inovasi BRIN, Prof. Dr. Eng. Agus Haryono, Direktur Pendanaan Riset dan Inovasi BRIN, Raden Arthur Ario Lelono, Ph.D., serta Kepala Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan BRIN, Dr. Andes Hamurabi Rozak, M.Sc.. Kegiatan ditandai dengan prosesi peresmian serta penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Kepala Divisi Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM-UII), Prof. Eko Siswoyo, S.T., M.Sc. ES, Ph.D. IPU. dan Kepala Pusat Riset Mikrobiologi Terapan BRIN, Dr. Ahmad Fathoni, M.Eng.
Kolaborasi ini tidak hanya melibatkan BRIN (melalui Pusat Riset Mikrobiologi Terapan, Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi, serta Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional), melainkan juga mempertemukan jejaring dari 8 perguruan tinggi mitra di seluruh penjuru Indonesia, mulai dari Institut Pertanian Bogor, Universitas Sumatera Utara, Universitas Mulawarman, Universitas Muammadiyah Kaltim, Universitas Nusa Cendana, STIKES Maluku Husada, hingga Universitas Papua.
Rektor UII, Prof. Dr. Ir. Hari Purnomo, M.T., IPU., ASEAN Eng., menyampaikan dalam sambutannya bahwa peresmian PKR Mikroba Endofit dan Puspikfar merupakan wujud komitmen untuk memperkuat riset dan inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Ia mengapresiasi kolaborasi yang terjalin antara UII, BRIN, serta berbagai mitra dalam mewujudkan inisiatif tersebut.
Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas yang sangat besar dan berpotensi menjadi sumber pengembangan ilmu pengetahuan serta inovasi kesehatan. “Peresmian ini bukan sekadar penambahan unit akademik, melainkan investasi intelektual untuk menghadirkan pengetahuan yang menjawab kebutuhan masyarakat serta mendukung kemajuan kesehatan dan kesejahteraan bangsa,” ujarnya.
Prof. Hari menambahkan, kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga riset, dan para peneliti menjadi langkah strategis untuk mempercepat lahirnya temuan yang bermanfaat. Melalui PKR Mikroba Endofit, potensi biodiversitas Indonesia diharapkan dapat dikembangkan menjadi sumber nilai tambah bagi bangsa sekaligus mendukung kemandirian bahan baku obat nasional.
Prof. Hari berharap PKR Mikroba Endofit dan Puspikfar dapat berkembang menjadi pusat rujukan yang menghasilkan inovasi dan temuan bermakna. “Saya berharap kedua pusat ini dapat berkontribusi bagi kemajuan kesehatan dan kefarmasian Indonesia serta memperluas manfaat biodiversitas Indonesia bagi masyarakat,” tuturnya.
Kemudian, Deputi Bidang Fasilitasi Riset dan Inovasi BRIN, Prof. Dr. Eng. Agus Karyono, mengapresiasi peresmian PKR Mikroba Endofit yang diinisiasi UII bersama para mitra. Menurutnya, kehadiran PKR menjadi langkah strategis dalam memperkuat kolaborasi riset antara perguruan tinggi, lembaga penelitian, industri, dan masyarakat. Ia berharap PKR Mikroba Endofit dapat terus berkembang dan menjadi pusat unggulan dalam pengembangan riset mikroba di Indonesia.
Agus menjelaskan bahwa BRIN mendorong setiap PKR untuk memiliki arah pengembangan yang jelas melalui penyusunan roadmap riset jangka panjang. Dengan demikian, kolaborasi yang terbangun tidak hanya menghasilkan jejaring penelitian, tetapi juga mampu memperkuat posisi Indonesia dalam pengembangan ilmu pengetahuan di tingkat regional maupun global. “Kami berharap PKR dapat menjadi pusat kolaborasi yang memiliki arah pengembangan jangka panjang dan menghasilkan dampak yang lebih luas,” ujarnya.
Lebih lanjut, Prof. Agus menegaskan bahwa hasil riset harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Karena itu, selain menghasilkan publikasi ilmiah dan kekayaan intelektual, PKR diharapkan mampu melahirkan inovasi dan produk yang dapat dimanfaatkan secara luas. BRIN juga membuka peluang penguatan pendanaan dan fasilitas riset guna mendukung produktivitas serta keberlanjutan pusat-pusat kolaborasi riset di perguruan tinggi.
Melalui PKR Mikroba Endofit dan Puspikfar, Jurusan Farmasi UII membuktikan komitmennya bahwa hasil riset tidak boleh berhenti di atas kertas atau di dalam laboratorium saja, melainkan harus dihilirisasi agar memberikan dampak ekonomi, kemandirian industri farmasi, dan kebermanfaatan nyata bagi kesehatan masyarakat Indonesia. (IR/AHR/RS)
Mahasiswa UII Kembali Raih Medali Emas pada Kejuaraan Taekwondo
Mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menorehkan prestasi di bidang olahraga dengan meraih medali emas pada ajang kejuaraan taekwondo. Adit Dzulfikri Hanifa Triyono berhasil menyabet juara satu dan membawa pulang medali emas Kyorugi U-54 Senior Putra dalam ajang Kejuaraan International Ksatria Nusantara PBTI Series Taekwondo Championship 2026 di GOR Joyoboyo, Kediri (5-7/6). Prestasi ini semakin mengukuhkan tradisi juara yang dimiliki oleh kontingen Taekwondo UII. Read more
DPKA Gelar Kelas Karier, Bahas Peluang Menjadi Content Creator
Direktorat Pengembangan Karier dan Alumni (DPKA) Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan Kelas Karier #1 dengan tema Content Creator Starter Pack: Branding, Skill, dan Strategi Bertumbuh. Kegiatan yang dilaksanakan pada Kamis (18/6) di Ruang Teatrikal Timur Lantai 2, Gedung Prof. Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII ini menjadi langkah awal DPKA UII dalam menghadirkan rangkaian kelas karier yang relevan bagi mahasiswa.
Kegiatan ini menghadirkan Muhammad Alfian, S.I.Kom., alumni Program Studi Ilmu Komunikasi Program Sarjana Angkatan 2017 sekaligus Content Creator @coffeemarket__, sebagai pemateri. Kelas Karier ini dimoderatori oleh Fitrur Rahman Albalbi Umam selaku Career Buddy DPKA UII.
Kepala Divisi Pemberdayaan Alumni DPKA UII, Mujiati Dwi Kartikasari, S.Si., M.Sc. dalam sambutannya menyampaikan bahwa pengembangan karier mahasiswa tidak hanya bergantung pada pencapaian akademik, tetapi juga kemampuan profesional yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.
Ia menjelaskan bahwa kemampuan membangun personal branding di ruang digital menjadi salah satu keterampilan penting yang perlu dimiliki mahasiswa. Melalui berbagai program pengembangan karier, DPKA UII berupaya menghadirkan wadah pembelajaran yang dapat menjadi penghubung antara mahasiswa, alumni, dan praktisi dengan pengalaman serta keahlian di bidang tertentu.
Sebagai pemateri, Muhammad Alfian membagikan pengalamannya sebagai seorang content creator melalui pendekatan storytelling. Ia menyusun materi ke dalam tiga babak perjalanan yang menggambarkan proses membangun karier di dunia kreatif, mulai dari tantangan awal hingga strategi untuk terus berkembang.
Pada sesi pertama membahas tantangan yang dihadapi Alfian ketika memulai perjalanan sebagai content creator. Ia menceritakan bahwa tantangan terbesar yang dihadapinya bukan hanya berkaitan dengan proses membuat konten, tetapi juga bagaimana meyakinkan orang-orang di sekitarnya mengenai pilihan karier tersebut. Pada awal perjalanannya, ia sempat menghadapi keraguan dari lingkungan sekitar yang belum sepenuhnya melihat profesi kreator konten sebagai bidang yang menjanjikan.
Memasuki sesi kedua, Alfian mengajak peserta memahami berbagai hal yang sering terlewatkan dalam proses pembuatan konten, khususnya mengenai bagaimana membangun cerita yang mampu diterima oleh audiens. Dalam sesi ini, ia membagikan story brand framework yang mengacu pada konsep dalam buku Building a StoryBrand karya Donald Miller.
Melalui pendekatan tersebut, peserta diperkenalkan pada tujuh alur storytelling yang dapat membantu kreator menyusun pesan secara lebih terarah agar mudah dipahami oleh audiens. Alfian juga menekankan bahwa sebuah konten tidak hanya bertujuan untuk mendapatkan perhatian, tetapi juga harus memiliki nilai dan manfaat bagi orang lain.
Pada babak ketiga, Alfian membagikan pengalaman mengenai titik terendah yang pernah ia hadapi selama membangun karier sebagai kreator konten. Ia mengajak peserta untuk memahami bahwa perjalanan di dunia digital membutuhkan konsistensi, keberanian menghadapi tantangan, serta kemauan untuk terus belajar dan beradaptasi. Menurutnya, setiap proses memiliki tantangan tersendiri sehingga seseorang perlu memiliki ketekunan dan tidak mudah menyerah dalam mengembangkan potensi serta mencapai tujuan yang ingin diraih.
Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi interaktif. Dalam sesi tersebut, Alfian menjawab berbagai pertanyaan dari peserta sekaligus membagikan tips dan trik berdasarkan pengalamannya sebagai content creator, khususnya dalam membangun konten dan mengembangkan personal branding di era digital.
Salah satu peserta, Adelia Putri Girindani, menyampaikan bahwa UII Career memberikan pengalaman yang lebih dari sekadar kegiatan pengembangan karier. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi wadah yang memberikan motivasi serta wawasan mengenai persiapan menghadapi dunia profesional setelah lulus.
“Menurut saya, UII Career bukan sekadar acara biasa, tetapi merupakan paket lengkap yang memberikan pengalaman, motivasi, serta insight mengenai persiapan karier setelah lulus. Lewat acara ini, saya mendapatkan banyak pengingat berharga, salah satunya untuk terus konsisten mencoba dan pantang menyerah dalam berproses,” ungkapnya. (AA/AHR/RS)
Alumni FBE UII yang Kini Jadi Wali Kota Pekalongan Berbagi Kisah Perjalanan Karier
Kehadiran Wali Kota Pekalongan Achmad Afzan Arslan Djunaid, S.E., M.M. menjadi salah satu perhatian dalam kegiatan GOWES FBE UII 2026 yang digelar Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE) Universitas Islam Indonesia (UII), Sabtu (20/6). Alumni FBE UII angkatan 1998 tersebut membagikan refleksi perjalanan hidupnya sejak menjadi mahasiswa hingga dipercaya memimpin Kota Pekalongan.
Dalam sambutannya, Afzan mengenang masa-masa aktif sebagai mahasiswa yang kerap terlibat dalam berbagai aksi demonstrasi. Dengan gaya santai, ia menceritakan bagaimana perannya kini justru berbalik setelah menjabat sebagai kepala daerah.
“Dulu saya ikut demonstrasi, sekarang saya yang didemo,” ujarnya yang disambut gelak tawa peserta.
Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa kehidupan terus bergerak dan menghadirkan berbagai peran yang berbeda. Karena itu, setiap orang perlu mempersiapkan diri dengan baik untuk menghadapi berbagai tanggung jawab yang mungkin datang di masa depan.
Ia juga berpesan kepada mahasiswa agar tidak hanya berfokus pada capaian akademik. Menurutnya, karakter, jejaring pertemanan, kerja keras, dan kemampuan beradaptasi merupakan faktor penting yang turut menentukan keberhasilan seseorang.
Afzan kemudian menceritakan perjalanan kariernya hingga dipercaya menjadi Wali Kota Pekalongan. Ia menilai keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh nilai akademik, tetapi juga kemampuan membangun relasi, menjaga integritas, dan memanfaatkan peluang secara optimal.
Dalam kesempatan tersebut, Afzan mengungkapkan kedekatan emosional yang kuat dengan UII, khususnya FBE. Tidak hanya dirinya yang menjadi alumni UII, tetapi juga sejumlah anggota keluarganya.
Menurut dia, kedekatan tersebut melahirkan tanggung jawab moral untuk menjaga nama baik almamater dalam setiap amanah yang diemban.
“Sebagai alumni, saya membawa nama baik UII. Saya berharap dapat menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya dan mengakhiri masa jabatan pada 2029 dengan rekam jejak yang baik,” ujarnya.
Kehadiran Afzan dalam GOWES FBE UII 2026 menjadi simbol kuatnya hubungan antara almamater dan alumni. Melalui kegiatan tersebut, FBE UII berharap jejaring alumni yang telah terbangun dapat terus memberikan kontribusi positif bagi masyarakat, dunia usaha, maupun pembangunan daerah. (RS)
GOWES FBE UII 2026 Pererat Ukhuwah dan Perluas Jejaring Alumni
Sebanyak sekitar 360 peserta mengikuti GOWES FBE UII 2026 yang diselenggarakan Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE) Universitas Islam Indonesia (UII), Sabtu (20/6). Mengusung tema Menjalin Ukhuwah, Memperluas Jejaring, kegiatan yang memasuki penyelenggaraan keempat ini menjadi ajang mempererat silaturahmi antara sivitas akademika, alumni, dan masyarakat melalui olahraga bersama.
Peserta yang terdiri atas dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni UII, serta masyarakat umum menempuh rute sepanjang kurang lebih 23 kilometer. Perjalanan bersepeda menyusuri kawasan permukiman warga, hamparan persawahan, hingga jalur Selokan Mataram yang menjadi salah satu ikon kawasan Yogyakarta.
Tidak hanya menawarkan pengalaman berolahraga, kegiatan tersebut juga mengajak peserta menikmati kekayaan sejarah dan budaya. Sepanjang rute, peserta melintasi dan mengunjungi sejumlah situs cagar budaya di Kabupaten Sleman, di antaranya Candi Sambisari, Candi Sari, dan Candi Kedulan.
Kegiatan diawali dengan pelepasan peserta yang ditandai pengibaran bendera start oleh Ketua Panitia Arif Fajar Wibisono, S.E., M.Sc. Dalam sambutannya, Dekan FBE UII Prof. Johan Arifin, S.E., M.Si., Ph.D. mengatakan bahwa GOWES FBE UII merupakan bagian dari upaya membangun budaya hidup sehat sekaligus memperkuat hubungan antara kampus, alumni, dan masyarakat.
Menurut Johan, kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi sarana menjaga kebugaran fisik, tetapi juga ruang untuk mempererat silaturahmi dan memperluas jejaring antarsesama anggota keluarga besar FBE UII.
“Kita berkumpul pada pagi hari ini untuk bergembira bersama, menjaga kesehatan, dan mempererat silaturahmi. Semoga kebersamaan ini terus terjaga dan memberikan manfaat bagi kita semua,” ujarnya.
Ia menambahkan, konsistensi penyelenggaraan GOWES FBE UII hingga tahun keempat menunjukkan komitmen fakultas dalam menghadirkan ruang interaksi yang inklusif bagi sivitas akademika, alumni, dan masyarakat.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah V Prof. Setyabudi Indartono, M.M., Ph.D., Rektor UII Prof. Dr. Ir. Hari Purnomo, M.T., IPU., ASEAN Eng., serta sejumlah alumni dan mitra FBE UII.
Kegiatan GOWES FBE UII 2026 ditutup dengan pengundian 144 hadiah yang disambut antusias peserta. Beragam hadiah dibagikan, mulai dari sepeda, televisi, kulkas, mesin cuci, telepon genggam, hingga hadiah menarik lainnya. (RS)
Penggunaan AI di Dunia Akademik Perlu Transparansi
Pemanfaatan artificial intelligence (AI) dalam dunia akademik terus meningkat, terutama untuk mendukung kegiatan riset dan penulisan ilmiah. Namun, perkembangan tersebut juga memunculkan perhatian terhadap batas etis penggunaannya.
Sorotan terhadap isu ini menguat setelah muncul dugaan pemalsuan dan fabrikasi riset oleh peserta asal Indonesia dalam konferensi internasional International Society of Pneumonia and Pneumococcal Disease (ISPPD) di Kopenhagen, Denmark, yang diberitakan Antara pada Mei 2026. Kasus tersebut dinilai mencederai integritas ilmu pengetahuan sekaligus merugikan kredibilitas karya ilmiah Indonesia di forum internasional.
Data Human-Centered Artificial Intelligence Stanford University pada 2024 menunjukkan sekitar 17,5 persen publikasi di bidang ilmu komputer dan disiplin terkait ditulis dengan bantuan AI. Temuan ini mendorong pentingnya transparansi dalam penggunaan teknologi tersebut.
Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII), Desmalinda, menilai penggunaan AI dalam ruang akademik sah dilakukan selama berfungsi sebagai alat bantu, bukan pengganti proses berpikir.
“Dalam konteks akademik lagi-lagi either itu dosen atau mahasiswa menggunakan tools ini sebagai alat yang digunakan untuk membantu mengelaborasi ide atau mungkin membantu kita memahami fenomena menjadi konkret lagi,” ucap Desmalinda.
Menurutnya, AI dapat membantu meningkatkan efektivitas kerja akademik, termasuk dalam pencarian referensi ilmiah. Meski demikian, hasil yang diperoleh tetap perlu diverifikasi secara berulang.
“Saya sering sekali menggunakan AI namanya consensus dimana itu memudahkan kita dalam mencari referensi berbasis ilmiah,” tambahnya.
Hingga kini, Indonesia belum memiliki regulasi khusus berbentuk undang-undang yang mengatur penggunaan AI dalam konteks akademik. Pedoman yang tersedia masih mengacu pada Surat Keputusan Bersama (SKB) Tujuh Kementerian yang menekankan prinsip transparansi serta pencegahan plagiarisme dalam penulisan dan publikasi ilmiah.
“Kalau aturan belum ada berbasis undang-undang yang secara resmi memang bisa digunakan untuk basis hukum ketika ada pelanggaran. Tapi dalam konteks penggunaan AI itu masih berbasis Surat Keputusan Bersama dari 7 kementerian. Aturannya masih berbasis menyertakan transparansi,” tandasnya.
Desmalinda menegaskan bahwa AI dapat menjadi sarana yang membantu proses pembelajaran dan penelitian, selama penggunaannya dilakukan secara bertanggung jawab serta tetap menjunjung tinggi integritas akademik. (MS/AHR/RS)
Ngaji Dunia Akhirat: Bahas Hukum Paylater, Flash Sale, dan Self-Reward dalam Islam
Fenomena paylater, flash sale, dan tren self-reward yang semakin dekat dengan kehidupan generasi muda menjadi pembahasan dalam kajian akidah Ngaji Dunia Akhirat yang diselenggarakan Takmir Masjid Ulil Albab Universitas Islam Indonesia (UII), Kamis (18/6). Kajian yang berlangsung ba’da Magrib hingga Isya tersebut menghadirkan Mudir Pondok Pesantren Putri UII, Tajul Muluk, S.Ud., M.Ag., sebagai pemateri.
Mengawali kajian, Tajul Muluk mengajak jamaah untuk senantiasa bersyukur atas nikmat dan rahmat Allah Swt. yang telah diberikan. Ia juga mendoakan agar seluruh peserta selalu berada dalam lindungan dan keberkahan Allah dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, tema yang diangkat sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini, khususnya mahasiswa dan generasi muda yang hidup di tengah perkembangan teknologi digital. Berbagai layanan keuangan dan promosi belanja menawarkan kemudahan yang belum pernah ditemui pada masa sebelumnya, namun di balik itu terdapat tantangan yang memerlukan pemahaman agama sebagai landasan dalam mengambil keputusan.
Tajul Muluk menjelaskan bahwa dalam perspektif fikih klasik, mahasiswa atau anak kos yang merantau untuk menuntut ilmu dapat dikategorikan sebagai ibnu sabil. Bahkan dalam kondisi tertentu, mereka dapat termasuk golongan fakir atau miskin apabila mengalami keterbatasan ekonomi. Oleh karena itu, secara finansial mereka lebih dekat pada posisi sebagai penerima manfaat (mustahik) dibandingkan pembayar zakat (muzakki).
“Realitas yang dihadapi mahasiswa hari ini tidak hanya persoalan keterbatasan finansial, tetapi juga godaan berbagai fasilitas konsumsi yang tersedia secara instan. Di sinilah fikih muamalah perlu hadir sebagai panduan agar seseorang tidak terjebak dalam praktik yang merugikan dirinya sendiri,” ujarnya.
Ia menilai layanan paylater dan berbagai bentuk pinjaman digital sering kali menawarkan kemudahan yang dapat mendorong seseorang berbelanja melebihi kemampuan finansialnya. Kondisi tersebut diperparah oleh strategi pemasaran seperti flash sale yang mendorong konsumen mengambil keputusan secara cepat tanpa pertimbangan yang matang.
Dalam kesempatan itu, Tajul Muluk juga mengingatkan pentingnya sikap rendah hati dalam memahami ajaran agama. Ia menegaskan bahwa seseorang tidak boleh menempatkan dirinya sebagai pihak yang paling memahami syariat tanpa didasari ilmu yang memadai.
Mengutip hadis Nabi Muhammad saw, ia menjelaskan bahwa obat dari kebodohan adalah bertanya kepada orang yang memiliki pengetahuan. Prinsip tersebut juga sejalan dengan firman Allah Swt. dalam Surah An-Nahl ayat 43 yang memerintahkan umat untuk bertanya kepada ahlinya apabila tidak mengetahui suatu perkara.
“Di era media sosial, banyak orang mencari pembenaran atas apa yang ingin dilakukan, bukan mencari kebenaran berdasarkan ilmu. Padahal, dalam urusan agama, otoritas keilmuan harus tetap menjadi rujukan,” katanya.
Selain membahas aspek finansial, kajian ini turut mengangkat keterkaitan antara pengelolaan keuangan dan kesehatan mental. Tajul Muluk menjelaskan bahwa tekanan ekonomi akibat utang atau perilaku konsumtif dapat berdampak pada kondisi psikologis seseorang. (AHR/RS)
Kajian Bulughul Maram Bahas Hukum Suami Memandikan Istri yang Meninggal
Kajian rutin Kitab Bulughul Maram kembali digelar di Masjid Ulil Albab Universitas Islam Indonesia (UII), Selasa (16/6). Pada kesempatan tersebut, Ammi Nur Baits membahas hadis-hadis terkait hukum memandikan jenazah, khususnya mengenai kebolehan suami memandikan istri yang meninggal dunia.
Kajian yang diikuti oleh jamaah dari sivitas akademika UII dan masyarakat umum itu mengupas hadis ke-552 dalam Kitab Bulughul Maram. Hadis tersebut meriwayatkan dialog antara Nabi Muhammad saw dengan Aisyah RA, ketika Rasulullah saw menyampaikan bahwa apabila Aisyah wafat terlebih dahulu, beliau sendiri yang akan memandikan, mengafani, menyalatkan, dan memakamkannya.
Dalam pemaparannya, Ammi Nur Baits menjelaskan bahwa hadis tersebut menjadi salah satu landasan utama yang digunakan para ulama untuk membahas hukum suami dan istri saling memandikan setelah salah satu meninggal dunia. Ia juga mengutip riwayat tentang Fatimah RA yang berwasiat agar jenazahnya dimandikan oleh suaminya, Ali bin Abi Thalib RA.
Menurut Ammi Nur Baits, mayoritas ulama atau jumhur berpendapat bahwa suami dan istri diperbolehkan saling memandikan ketika salah satu wafat. Pendapat tersebut dianut oleh Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad dalam riwayat yang masyhur, serta sejumlah ulama salaf. Dasarnya adalah hubungan pernikahan yang membuat keduanya tidak memiliki batas aurat satu sama lain, baik ketika hidup maupun setelah meninggal dunia.
“Hadis ini merupakan dalil bolehnya suami istri saling memandikan. Suami boleh memandikan istrinya sebagaimana istri juga boleh memandikan suaminya,” jelasnya.
Meski demikian, ia menjelaskan adanya pendapat lain yang dikemukakan sebagian ulama, di antaranya Imam Abu Hanifah dan Ats-Tsauri. Kelompok ini berpendapat bahwa suami tidak diperbolehkan memandikan istrinya yang telah meninggal karena kematian dianggap mengakhiri ikatan pernikahan. Dengan berakhirnya akad nikah, maka hubungan yang sebelumnya membolehkan melihat dan menyentuh aurat dianggap tidak lagi berlaku.
Ammi Nur Baits menegaskan bahwa perbedaan pendapat tersebut menunjukkan keluasan khazanah fikih Islam dalam memahami dalil-dalil syariat. Oleh karena itu, masyarakat perlu memahami dasar argumentasi masing-masing pandangan agar dapat menyikapi perbedaan secara bijak dan proporsional.
Selain membahas hukum memandikan jenazah, kajian juga menyinggung hadis mengenai seorang perempuan dari Bani Ghamid yang mengakui perbuatan zina kepada Rasulullah saw dan meminta agar dirinya disucikan melalui penegakan hukuman rajam. Melalui kisah tersebut, Ammi Nur Baits menjelaskan sejumlah pelajaran fikih terkait penegakan hukum dalam Islam, termasuk prinsip kehati-hatian, perlindungan hak anak, serta mekanisme pembuktian dalam perkara pidana syariat.
Ia menjelaskan bahwa Rasulullah saw tidak serta-merta menjatuhkan hukuman, melainkan memberikan kesempatan kepada perempuan tersebut hingga melahirkan dan menyapih anaknya. Sikap tersebut menunjukkan perhatian Islam terhadap hak-hak anak yang tidak boleh terabaikan meskipun orang tuanya melakukan kesalahan.
Melalui kajian Kitab Bulughul Maram ini, Masjid Ulil Albab UII terus menghadirkan ruang pembelajaran Islam yang mendalam dan berbasis dalil. Pembahasan yang disampaikan tidak hanya memperkaya pemahaman fikih ibadah dan muamalah, tetapi juga membantu jamaah memahami bagaimana para ulama menggali hukum dari hadis-hadis Nabi Muhammad saw untuk menjawab berbagai persoalan kehidupan. (AAK/AHR/RS)