Memperhatikan perkembangan mutakhir dalam praktik berbangsa dan bernegara, kami, warga Universitas Islam Indonesia (UII), menyesalkan sikap Pemerintah Republik Indonesia yang belum menunjukkan ketegasan yang memadai dalam menyikapi serangan militer Israel dan Amerika Serikat ke Republik Islam Iran.

Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menunjukkan komitmennya dalam penguatan jejaring global dengan berpartisipasi pada APAIE 2026 Conference and Exhibition yang diselenggarakan pada 23–27 Februari 2026 di Hong Kong. Tahun ini, APAIE mencatat angka tertinggi sejak berdiri, yaitu 3.592 peserta dari 72 negara/region, lebih dari 600 organisasi, serta 120 presentasi dan 3 plenary sessions dalam tiga hari konferensi utama.

Sebagai bagian dari Jejaring Perguruan Tinggi Nusantara (Nationwide University Network in Indonesia–NUNI), UII hadir sebagai exhibitor dan presenter, bergabung bersama 15 universitas terkemuka Indonesia dalam paviliun “Study in Indonesia.” Kehadiran UII diwakili oleh Dr. Joni Aldilla Fajri, S.T., M.Eng., Kepala Divisi Kemitraan Internasional, dan Rina Desitarahmi, S.Pd., M.Hum., Manajer Culture and Learning Centre. Melalui sinergi NUNI–Study in Indonesia, UII bersama 15 universitas Indonesia memperkuat promosi pendidikan tinggi Indonesia di panggung internasional serta memperluas peluang kemitraan global yang berdampak. Delegasi dari berbagai negara menunjukkan minat besar terhadap peluang kolaborasi akademik, program mobilitas, serta kekayaan ekosistem pendidikan tinggi Indonesia. Partisipasi UII dalam paviliun ini memperkuat positioning Indonesia sebagai destinasi yang semakin relevan dalam peta pendidikan internasional.

Dalam rangkaian kegiatan konferensi, UII berkolaborasi dengan Temasek Polytechnic, Singapura, menyampaikan presentasi bertajuk: “Empowering Global Learners: Sustaining Impactful Student Mobility through an Indonesia–Singapore Collaboration.” Presentasi ini dibawakan oleh Leslie Chan (Temasek Polytechnic) bersama Dr. Joni Aldilla Fajri dan Rina Desitarahmi.

Materi presentasi menunjukkan bahwa kolaborasi Indonesia–Singapura ini telah menghasilkan sejumlah capaian strategis. Kolaborasi tersebut menampilkan praktik terbaik dalam pembelajaran yang inklusif dan experiential, sekaligus menggambarkan bagaimana program mobilitas yang dirancang secara personal dapat menjawab kebutuhan beragam mahasiswa serta mendorong perkembangan holistik mereka.

Presentasi ini juga menegaskan bahwa kemitraan antara UII dan Temasek Polytechnic menjadi contoh nyata kolaborasi regional yang efektif dalam memperkuat global citizenship dan kompetensi interkultural dimana dua kemampuan ini penting bagi lulusan yang siap berkiprah di tingkat global. Selain itu, kerja sama ini turut berkontribusi pada pencapaian tujuan institusional dan nasional melalui pembukaan jalur baru untuk mobilitas mahasiswa dan pertukaran akademik yang semakin luas dan berdampak.

Keikutsertaan UII dalam APAIE 2026 mencerminkan komitmen berkelanjutan untuk memperluas jaringan global, memperdalam kerja sama lintas negara, dan menghadirkan pengalaman pembelajaran yang berskala internasional bagi mahasiswa. Melalui kolaborasi, presentasi, dan diskusi strategis yang dilakukan sepanjang konferensi, UII terus memperkuat perannya sebagai institusi pendidikan tinggi Indonesia yang aktif berkontribusi dalam lanskap pendidikan global. (RD/AHR/RS)

Direktorat Kemitraan/Kantor Urusan Internasional (DK/KUI) Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan International Ramadhan Fest 2026 di Gedung Kuliah Umum Prof. Dr. Sardjito pada Jumat (27/02). Acara ini mempertemukan mahasiswa dan akademisi dalam serangkaian kegiatan spiritual dan intelektual yang dirancang untuk mempererat tali silaturahmi global.

​Acara dibuka dengan lantunan suci ayat Al-Quran , dilanjutkan dengan sesi sambutan hangat dari Wakil Rektor Bidang Kemitraan dan Kewirausahaan UII, Ir. Wiryono Raharjo, M.Arch., Ph.D., yang hadir memberikan sambutan yang menekankan pentingnya integrasi nilai-nilai agama dalam ekosistem akademik modern.

​”Kegiatan ini bukan sekadar perayaan rutin, melainkan jembatan untuk memperkuat tali silaturahmi antarmahasiswa internasional dan lokal yang berlandaskan nilai Islam. Melalui International Ramadhan Fest, kita diingatkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan harus berjalan beriringan dengan keteguhan iman agar mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat global,” ujar Ir. Wiryono dalam sambutannya.

​Festival ini menghadirkan beragam agenda menarik yang memadukan kompetisi, seni, dan diskusi ilmiah: Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ): Kompetisi seni baca Al-Quran yang menampilkan bakat-bakat pembaca Al-Quran, tidak hanya dari lingkungan internal UII, melainkan juga dari beberapa universitas sahabat dari UIN Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri, Purwokerto dan UIN K.H. Abdurrahman Wahid, Pekalongan. Acara dilanjutkan dengan ​Academic Dialogue Session: Menghadirkan pembicara Farhan Abdul Majiid, S.Sos., M.A. (Dosen Hubungan Internasional) dengan topik menarik “Islam and Science: Harmony or Conflict?”. Diskusi ini membedah perspektif global mengenai keselarasan antara keyakinan agama dan temuan sains modern. Serta ​Eid Greeting Card Contest: Sesi kreatif di mana peserta mengekspresikan ucapan hari raya melalui desain kartu yang artistik.

Dalam sesi dialog akademik tersebut, pembahasan difokuskan pada relasi antara Islam dan sains dalam konteks peradaban modern. Diskusi menyoroti bagaimana tradisi keilmuan dalam Islam sejak awal telah menempatkan pencarian ilmu sebagai fondasi kemajuan, sekaligus menegaskan bahwa perkembangan sains tidak dapat dilepaskan dari kerangka etika dan nilai-nilai keagamaan.

Farhan Abdul Majid menjelaskan bahwa peradaban yang maju adalah peradaban yang menempatkan diri sebagai pencari pengetahuan dan mampu mengelola ilmu menjadi inovasi yang berdampak pada kemajuan ekonomi dan sosial. Ia menuturkan bahwa dalam perspektif Islam, wahyu pertama yang memerintahkan “Iqra’” merupakan legitimasi teologis atas pentingnya literasi dan riset. “Islam sejak awal tidak memposisikan ilmu dan agama sebagai dua kutub yang bertentangan, melainkan sebagai dua entitas yang saling melengkapi dalam membangun peradaban,” ujarnya.

Lebih lanjut, Farhan menguraikan bahwa sains berfungsi sebagai instrumen metodologis untuk memahami realitas empiris, sementara agama memberikan arah moral dan tujuan akhir dari pemanfaatan ilmu tersebut. Menurutnya, dikotomi antara sains dan agama sering kali lahir dari pembacaan sejarah Barat yang tidak sepenuhnya relevan dengan pengalaman intelektual Islam. “Science provides the tools, while religion provides the compass. Tanpa kompas moral, kemajuan teknologi berisiko kehilangan orientasi kemanusiaannya,” tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa umat Islam dan bangsa Indonesia perlu membangun budaya akademik yang kuat dengan menjadikan pengetahuan sebagai basis kebijakan, inovasi, dan pembangunan ekonomi. Integrasi antara nilai keislaman dan penguasaan sains, lanjutnya, merupakan prasyarat untuk melahirkan generasi yang kompetitif secara global namun tetap berakar pada identitas spiritual. “Kemajuan tidak cukup diukur dari pertumbuhan ekonomi semata, tetapi dari sejauh mana ilmu digunakan untuk kemaslahatan bersama,” tambahnya.

Selain Academic Dialogue Session, International Ramadan Fest 2025 turut diisi dengan tilawah Al-Qur’an, Musabaqah Tilawatil Qur’an Competition, lomba kartu ucapan Ramadan, serta ditutup dengan persiapan iftar bersama dan salat Magrib berjamaah. Rangkaian kegiatan ini diharapkan dapat mempererat kebersamaan mahasiswa internasional sekaligus memperkuat integrasi nilai akademik dan spiritual di lingkungan UII menjelang bulan suci Ramadan. (IMK/NI/DS/AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan Welcoming Program bagi sembilan mahasiswa dari Egyptian University of Islamic Culture Nur Mubarak, Kazakhstan, yang akan mengikuti program pertukaran mahasiswa (exchange) selama satu semester di UII pada Jumat (27/02).

Para mahasiswa tersebut akan melaksanakan studi pada Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Ilmu Sosial Budaya serta Program Studi Ahwal Al-Syakhshiyah, Fakultas Ilmu Agama Islam UII. Kegiatan penyambutan ini bertujuan untuk memberikan pembekalan awal terkait sistem akademik, budaya kampus, serta pengenalan lingkungan Universitas Islam Indonesia guna mendukung kelancaran proses adaptasi mahasiswa selama menjalani studi.

Acara dibuka secara resmi dengan sambutan Kepala Divisi Mobilitas Internasional – Nihlah Ilhami, yang menyampaikan apresiasi atas keberlanjutan kerja sama antara UII dan Egyptian University of Islamic Culture Nur Mubarak. Selain itu, beliau juga menekankan pentingnya komunikasi yang terbuka dan kolaboratif selama program berlangsung.

Agenda kegiatan dilanjutkan dengan sesi Pengenalan UII dan Bahasa Indonesia yang disampaikan oleh Ima Dyah Savitri dari Culture and Learning Center (CLC), serta pemaparan mengenai Budaya Akademik di UII oleh Ade Meirizal selaku Koordinator UIIGlobal. Kedua sesi tersebut memberikan gambaran komprehensif mengenai fasilitas kampus, pengenalan Bahasa Indonesia dasar, serta gambaran dinamika kehidupan akademik sebagai mahasiswa di UII.

Kegiatan juga mencakup sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif, finalisasi mata kuliah, serta perkenalan dengan mahasiswa pendamping akademik yang akan mendampingi mahasiswa selama masa studi. Acara ditutup dengan sesi foto bersama dan dilanjutkan dengan orientasi akademik di program studi masing-masing.

Melalui program ini, UII terus berkomitmen untuk memperkuat kerja sama internasional serta menghadirkan pengalaman akademik dan budaya yang bermakna bagi mahasiswa global. (NI/DS/AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) kembali mengadakan Refreshment Instrumen Akreditasi Perguruan Tinggi (IAPT) 4.1 dan Instrumen Akreditasi Program Studi (IAPS) 5.1 sebagai bagian dari upaya strategis dalam menyongsong kembali akreditasi ‘Unggul’ pada tahun 2027. Kegiatan ini  dilaksanakan pada Kamis (26/02) di Gedung Kuliah Umum Prof. Dr. Sardjito yang dihadiri oleh Wakil Rektor Bidang Pengembangan Akademik dan Riset UII, Prof. Dr. Jaka Nugraha, S.Si., M.Si beserta jajaran pimpinan fakultas, badan, direktorat, hingga program studi. Adapun narasumber utama adalah Prof. Dr. Slamet Wahyudi, S.T., M.T selaku Anggota Dewan Eksekutif Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT).

Dalam sambutannya, Prof. Jaka menegaskan bahwa proses akreditasi merupakan bagian integral dari sistem penjaminan mutu di lingkungan UII. Proses ini memastikan bahwa penyelenggaraan Pendidikan telah memenuhi standar internal yang ditetapkan dan selaras dengan dengan standar akreditasi nasional maupun internasional. “Akreditasi bukan sekadar penilaian administratif, tetapi merupakan upaya berkelanjutan untuk memastikan mutu pendidikan tinggi tetap terjaga dan relevan,” ungkap Guru Besar Statistika UII ini.

Selanjutnya, Prof. Slamet menekankan bahwa akreditasi berfungsi sebagai mekanisme penjaminan mutu eksternal yang secara objektif menilai kelayakan perguruan tinggi dan program studi. “Akreditasi merupakan sistem penjaminan mutu eksternal sebagai bagian dari sistem penjaminan mutu pendidikan tinggi,” ujar Guru Besar Teknik Mesin Universitas Brawijaya ini. Ia juga menambahkan bahwa proses akreditasi bertujuan melindungi kepentingan mahasiswa dan masyarakat melalui jaminan mutu yang terpenuhi baik dari aspek akademik maupun nonakademik. Dengan demikian, proses akreditasi menjadi instrumen penting dalam menjaga kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan tinggi.

Menurut Prof. Slamet, capaian akreditasi Unggul tidak boleh dipandang sebagai tujaun akhir, tetapi harus menjadi bagian dari budaya mutu yang dikembangkan secara berkelanjutan. Melalui pemahaman ini, seluruh sivitas akademika diharapkan mampu memperkuat implementasi sistem penjaminan mutu, baik internal maupun eksternal secara berkelanjutan sebagai fondasi untuk mencapai dan mempertahankan akreditasi Unggul pada tahun 2027.

Kegiatan refreshment ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman seluruh unit kerja di UII mengenai instrument akreditasi terbaru serta memperkuat kolaborasi lintas fakultas, badan, dan direktorat dalam upaya peningkatan kualitas institusi. (RM/AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) melanjutkan tahapan suksesi kepemimpinan rektor periode 2026 – 2030 melalui Rapat Senat Universitas yang digelar pada Jumat 20 Februari 2026 di Gedung Prof. Dr. dr. M. Sardjito, MD., MPH., Kampus Terpadu UII, Jalan Kaliurang Km 14,5. Dalam agenda tersebut, anggota senat melaksanakan pemilihan terhadap enam calon rektor yang sebelumnya telah melalui proses seleksi dan pemaparan rencana aksi.

Rapat senat dipimpin Ketua Senat Universitas, Prof. Ir. Suparwoko, MURP., Ph.D. Dari total 60 anggota senat yang memiliki hak suara, sebanyak 58 anggota hadir mengikuti pemungutan suara, sementara dua anggota lainnya izin tidak dapat hadir. Dari proses tersebut, 56 surat suara dinyatakan sah dan 2 surat suara tidak sah.

Setelah dilakukan penghitungan, perolehan suara masing-masing calon adalah Prof. Dr. Ir. Hari Purnomo, M.T., IPU., mendapatkan 21 suara atau 37,50 persen; Prof. Dr.-Ing. Ar. Ilya Fadjar Maharika, M.A., I.A.I., mendapatkan 18 suara atau 32,14 persen; Prof. Dr. rer. soc. Masduki, S.Ag., M.Si. memperoleh 6 suara atau 10,71 persen; Prof. Rifqi Muhammad, S.E., S.H., M.Sc. Ph.D., SAS., ASPM meraih 5 suara atau 8,93 persen; Prof. Nandang Sutrisno, S.H., LL.M., M.Hum., Ph.D memperoleh 4 suara atau 7,14 persen; dan Prof. Dr. Zaenal Arifin, M.Si., memperoleh 2 suara atau 3,57 persen.

Berdasarkan perolehan suara di atas, pada Senin 23 Februari 2026, Panitia Pemilihan Rektor menetapkan hasil pemilihan dalam rapat Senat Universitas tersebut melalui Ketetapan Panitia Pemilihan Rektor Universitas Islam Indonesia Periode 2026–2030 Nomor: 06/SK-PP/XII/2026 tentang Calon Rektor Terpilih Universitas Islam Indonesia Periode 2026-2030. Tiga Calon Rektor Terpilih adalah (1) Prof. Dr. Ir. Hari Purnomo, M.T., IPU., (2) Prof. Dr.-Ing. Ar. Ilya Fadjar Maharika, M.A., I.A.I., dan (3) Prof. Dr. rer. soc. Masduki, S.Ag., M.Si.

“Penetapan ini menjadi tahapan penting dalam rangkaian suksesi kepemimpinan UII. Tiga calon dengan perolehan suara terbanyak selanjutnya akan melanjutkan proses menuju tahap akhir penetapan rektor, yakni pemaparan Rencana Strategis oleh tiga Calon Rektor Terpilih di hadapan Pengurus Yayasan Badan Wakaf UII. Forum tersebut juga akan dihadiri Ketua Pembina dan Ketua Pengawas Yayasan,” ungkap Eko Riyadi selaku Ketua Panitia Pemilihan Rektor UII Periode 2026-2030.

Berdasarkan pemaparan serta pertimbangan menyeluruh, Pengurus Yayasan Badan Wakaf UII akan menetapkan Rektor Universitas Islam Indonesia periode 2026–2030 melalui mekanisme musyawarah mufakat. Penetapan dijadwalkan berlangsung pada 6 Maret 2026.

Tahapan Berjenjang

Pemilihan Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) dilaksanakan berdasarkan Peraturan Pengurus Yayasan Badan Wakaf UII Nomor 8 Tahun 2025 tentang Tata Cara Pemilihan Rektor UII. Regulasi tersebut menetapkan bahwa calon rektor harus berstatus dosen, berusia minimal 40 tahun, bergelar doktor (S-3), serta memiliki jabatan akademik Guru Besar. Selain syarat formal, calon juga dituntut memiliki jejaring akademik dan sosial yang luas, kemampuan manajerial yang kuat, serta karakter kepemimpinan yang cepat, bersih, dan solutif.

Berdasarkan ketentuan tersebut, Panitia Pemilihan menjaring 36 bakal calon dari seluruh fakultas. Dari proses tersebut, terpilih 13 bakal calon rektor, yakni Prof. Akhmad Fauzy, S.Si., M.Si., Ph.D.; Prof. Dr. Budi Agus Riswandi, S.H., M.Hum.; Prof. Ir. Eko Siswoyo, S.T., M.Sc.ES., Ph.D., IPU.; Prof. Dr. Ir. Hari Purnomo, M.T., IPU.; Prof. Dr.-Ing. Ar. Ilya Fadjar Maharika, M.A., IAI.; Prof. Dr. Jaka Nugraha, S.Si., M.Si.; Prof. Jaka Sriyana, S.E., M.Si., Ph.D.; Prof. Dr. rer. soc. Masduki, S.Ag., M.Si.; Prof. Nandang Sutrisno, S.H., LL.M., M.Hum., Ph.D.; Prof. Rifqi Muhammad, S.E., S.H., M.Sc., Ph.D.; Prof. Riyanto, S.Pd., M.Si., Ph.D.; Prof. Dr. Sri Kusumadewi, S.Si., M.T.; serta Prof. Dr. Zaenal Arifin, M.Si.

Eko Riyadi memaparkan sebanyak 13 bakal calon rektor telah menyampaikan rencana aksi (action plan) pada 27 Januari 2026 sebagai bagian dari pemaparan visi, strategi, dan program kepemimpinan apabila terpilih memimpin UII. Pemaparan tersebut dilakukan di hadapan Tim Seleksi Pemilihan Rektor yang beranggotakan unsur akademisi dan profesional dari berbagai bidang.

Adapun Tim Seleksi Pemilihan Rektor terdiri atas Drs. Syafaruddin Alwi, M.S., Anggota Pembina Yayasan Badan Wakaf UII; Dr. M. Busyro Muqoddas, S.H., M.Hum., Dosen Fakultas Hukum UII; Prof. Mohammad Mahfud MD, Guru Besar Hukum Tata Negara; Dr. Halim Alamsyah, Wakil Presiden Komisaris PT Bank Danamon Indonesia (MUFG Group, Jepang); serta Prof. Rofikoh Rokhim, S.E., SIP., DEA., Ph.D., pakar di bidang perbankan, keuangan, manajemen risiko, pasar modal, tata kelola, dan keuangan pembangunan.

“Tim seleksi bertugas menilai secara komprehensif visi kepemimpinan, kapasitas manajerial, serta kemampuan kandidat dalam menjawab tantangan pengelolaan perguruan tinggi di tingkat nasional maupun global. Berdasarkan hasil penilaian tersebut, enam nama ditetapkan sebagai Calon Rektor dan diajukan kepada Senat Universitas untuk dipilih melalui mekanisme pemungutan suara,” jelasnya.

Dalam tahapan Seleksi Bakal Calon Rektor Terpilih oleh Tim Seleksi pada 28-29 Januari 2026 di Gedung Prof. Dr. dr. M. Sardjito, MD., MPH., terpilih enam calon rektor. Penetapan Calon Rektor Terpilih selanjutnya dituangkan dalam Ketetapan Panitia Pemilihan Rektor Universitas Islam Indonesia Periode 2026–2030 Nomor 05/SK-PP/XII/2026 tentang Calon Rektor Universitas Islam Indonesia Periode 2026–2030.

Adapun enam calon rektor yang ditetapkan adalah Prof. Dr. Ir. Hari Purnomo, M.T., IPU.; Prof. Dr.-Ing. Ar. Ilya Fadjar Maharika, M.A., IAI.; Prof. Dr. rer. soc. Masduki, S.Ag., M.Si.; Prof. Nandang Sutrisno, S.H., LL.M., M.Hum.; Prof. Rifqi Muhammad, S.E., S.H., M.Sc.; serta Prof. Dr. Zaenal Arifin, M.Si. Selanjutnya, keenam nama tersebut mengikuti proses pemilihan oleh Senat Universitas pada 20 Februari 2026.

Adapun informasi lengkap mengenai setiap tahapan pemilihan dapat diakses melalui laman www.uii.ac.id/uiimemilih2026.

Rangkaian pemilihan ini merupakan kelanjutan dari proses penjaringan sebelumnya yang melibatkan partisipasi publik melalui penyampaian usulan pertanyaan dan penelusuran rekam jejak calon, sebagai bagian dari upaya menjaga transparansi dan akuntabilitas dalam proses suksesi kepemimpinan universitas. (ER/AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar Diskusi Intelektual Muslim #1 bertajuk “Benteng Moral Bangsa: Menjaga Integritas Bangsa di Tengah Arus Perubahan Zaman” dengan menghadirkan Anies Baswedan sebagai narasumber utama pada Jumat (20/02), di Masjid Ulil Albab Kampus Terpadu UII. Kegiatan ini menjadi ruang dialog reflektif bagi kalangan akademisi, mahasiswa, dan masyarakat umum untuk membahas tantangan moral serta integritas bangsa di era perubahan sosial, politik, dan teknologi yang berlangsung begitu cepat.

Acara ini diselenggarakan sebagai upaya menghadirkan forum intelektual yang tidak hanya membahas isu-isu keislaman, tetapi juga persoalan kebangsaan yang relevan dengan kondisi kontemporer. Diskusi ini berlangsung dengan antusiasme tinggi dari peserta yang memenuhi area masjid.

Rektor UII, Fathul Wahid, dalam sambutannya menegaskan bahwa forum intelektual seperti ini merupakan momentum penting untuk memperkuat arah nilai kebangsaan di tengah perubahan zaman. Ia menyampaikan bahwa sivitas akademika memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga nilai-nilai integritas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. “Ini adalah kesempatan mengasah kompas moral menjadi lebih positif,” ujarnya menekankan pentingnya peran kampus sebagai pusat pengembangan karakter dan etika publik.

Dalam pemaparannya, Anies Baswedan menekankan bahwa integritas bukan sekadar persoalan kejujuran, melainkan kesatuan utuh antara pikiran, perbuatan, dan nilai-nilai yang diyakini kebenarannya. Ia menjelaskan bahwa seseorang baru dapat disebut berintegritas ketika apa yang dipikirkan, diucapkan, dan dilakukan berjalan selaras. Menurutnya, integritas menjadi pondasi utama dalam membangun kepercayaan publik sekaligus menjaga arah moral bangsa di tengah derasnya arus perubahan zaman. “Jujur saja tidak cukup tanpa integritas,” tegasnya di hadapan peserta diskusi.

Diskusi berlangsung interaktif melalui sesi tanya jawab yang mengangkat berbagai isu aktual, mulai dari tantangan etika di ruang digital, krisis keteladanan publik, hingga pentingnya kepemimpinan berintegritas dalam menjaga kepercayaan masyarakat. Para peserta juga diajak merefleksikan kontribusi individu dalam membangun budaya integritas, baik di lingkungan akademik, profesional, maupun kehidupan bermasyarakat.

Melalui penyelenggaraan Diskusi Intelektual Muslim #1 ini, harapannya nilai-nilai moral dan integritas dapat terus diperkuat sebagai benteng bangsa dalam menghadapi perubahan zaman. Forum ini diharapkan menjadi ruang berkelanjutan yang mendorong lahirnya generasi intelektual Muslim yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kokoh dalam integritas. (ELKN/AHR/RS)

Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Islam Swasta se-Indonesia (BKSPTIS) menyelenggarakan Lokakarya Peningkatan Kapasitas Pengelolaan Perguruan Tinggi di Universitas Islam Al-Azhar (Unizar), Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Senin (16/2). Kegiatan ini menjadi ruang berbagi praktik baik dan penguatan kapasitas pengelola perguruan tinggi Islam swasta (PTIS), terutama pada isu internasionalisasi dan penjaminan mutu.

Lokakarya ini diikuti puluhan peserta dari berbagai PTIS di NTB, termasuk di antaranya Universitas Hamzanwadi, Universitas Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat, Universitas Cordova, Universitas Nahdlatul Wathan Mataram, serta sejumlah sekolah tinggi dan institut seperti STIT Ispini, STIT Darussalimin NW Praya, STIS Haji Abdul Rasyid Lombok Tengah, dan STEI Hamzar Lombok Timur. Kehadiran lintas kampus ini mempertegas semangat kolaborasi untuk meningkatkan mutu tata kelola perguruan tinggi Islam di daerah.

Rektor Unizar Dr. Ir. Muh. Ansyar, M.P. dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kepercayaan BKSPTIS yang menjadikan Unizar sebagai tuan rumah. Ansyar menekankan pentingnya forum lintas kampus untuk memperkuat tata kelola kelembagaan, memperluas jejaring kolaborasi, serta mendorong peningkatan mutu yang lebih terarah dan berkelanjutan di lingkungan PTIS, khususnya di NTB.

Pada sesi awal juga dilakukan penandatanganan Implementation Agreement antara Universitas Islam Indonesia (UII) dan Unizar di bidang penjaminan mutu sebagai langkah konkret kerja sama antarperguruan tinggi.

Dalam sesi bertajuk peta jalan penguatan tata kelola perguruan tinggi Islam, Fathul Wahid menegaskan pentingnya merumuskan arah pengembangan institusi berdasarkan realitas nasional, bukan sekadar menyalin praktik luar negeri.

“Peta jalan perguruan tinggi perlu didasarkan pada kondisi faktual di Indonesia, dan tidak ‘mengekor’ praktik di negara/konteks lain,” ujar Fathul yang juga merupakan Rektor UII tersebut.

Fathul menekankan bahwa tata kelola perguruan tinggi harus dipahami sebagai sistem menyeluruh, bukan hanya urusan administratif, yang memastikan pengambilan keputusan kampus berjalan efektif, terbuka, partisipatif, dan dapat dipertanggungjawabkan, serta tetap berorientasi pada tujuan pendidikan secara utuh.

Fathul juga mengingatkan kampus agar tidak terjebak pada capaian yang tampak “internasional” tetapi tidak substantif, seraya menekankan keseimbangan antara idealisme dan penerimaan publik. 

Lokakarya dilanjutkan dengan sesi pendalaman internasionalisasi dan penguatan penjaminan mutu bersama Dr. Dian Sari Utami dan Dr. Rina Mulyati. Forum diharapkan dapat menghasilkan langkah tindak lanjut yang realistis dan dapat diterapkan di masing-masing PTIS. Dari Mataram, BKSPTIS menegaskan komitmen untuk memperluas jejaring dan menguatkan budaya mutu melalui kolaborasi yang berkelanjutan. (HF/AHR/RS)

Universitas Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat (UNU NTB) dan Universitas Islam Indonesia (UII) pada Senin (16/02) menandatangani Nota Kesepahaman tentang pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi di Kampus UNU NTB, Mataram.

Penandatanganan dilakukan oleh Rektor UNU NTB, Dr. Baiq Mulianah, M.Pd.I, dan Rektor UII, Prof. Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D, sebagai bagian dari komitmen bersama untuk memperkuat kolaborasi antar Perguruan Tinggi Islam Swasta (PTIS) dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi yang lebih solid, adaptif, dan berdaya saing.

Nota Kesepahaman ini akan memperluas kerja sama di bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta berbagai inisiatif strategis lain yang disepakati bersama. Kolaborasi ini diharapkan memperkuat kapasitas institusi, mendorong pertukaran praktik baik, serta memperluas kontribusi pendidikan tinggi Islam dalam pembangunan daerah dan nasional.

Di tengah dinamika dan tantangan pendidikan tinggi yang semakin kompleks, sinergi antar-PTIS menjadi faktor kunci untuk memastikan keberlanjutan dan relevansi institusi. Kemitraan ini mencerminkan pendekatan kolaboratif yang menempatkan kemajuan bersama sebagai prioritas.

Nota Kesepahaman berlaku selama lima tahun dan akan ditindaklanjuti melalui Perjanjian Kerja Sama (PKS) pada tingkat fakultas, lembaga, dan unit kerja terkait di kedua universitas.

“Penandatanganan Nota Kesepahaman ini merupakan langkah strategis bagi UNU NTB dalam memperluas jejaring akademik dan memperkuat kapasitas kelembagaan.” ungkap Dr. Baiq Mualianah.

Rektor UNU NTB meyakini bahwa kolaborasi dengan Universitas Islam Indonesia akan mendorong peningkatan kualitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, khususnya dalam penguatan peran perguruan tinggi di kawasan timur Indonesia

“Kemitraan ini adalah komitmen nyata untuk menghadirkan sinergi yang berkelanjutan demi kemaslahatan umat dan bangsa.” tegasnya.

Senada, Rektor UII, Prof. Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D menyatakan kerja sama ini merupakan wujud nyata kolaborasi antar Perguruan Tinggi Islam Swasta untuk saling menguatkan dan bertumbuh bersama.

“Dalam lanskap pendidikan tinggi yang semakin kompetitif, PTIS tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Sinergi menjadi fondasi bagi daya saing kolektif dan keberlanjutan institusi.” jelas Prof. Fathul Wahid.

Melalui kolaborasi yang setara dalam pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dapat memperkuat kontribusi pendidikan tinggi Islam bagi pembangunan bangsa. (HF/AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) bersama Dewan Perwakilan Wilayah Ikatan Alumni (DPW IKA) UII Nusa Tenggara Barat (NTB) menyelenggarakan kegiatan “UII Menyapa Lombok” di Holiday Resort Lombok, Ahad (15/02). Kegiatan ini menjadi ruang silaturahmi sekaligus forum dialog untuk memperkuat jejaring alumni, membangun sinergi, serta membuka peluang kolaborasi antara UII, alumni, dan para pemangku kepentingan di NTB, dengan kehadiran puluhan alumni dari berbagai program studi.

Dalam sambutannya, Wakil Rektor Bidang Pengembangan Akademik dan Riset UII, Prof. Dr. Jaka Nugraha, S.Si., M.Si., menyampaikan perkembangan terkini dan capaian kemajuan UII dalam beberapa waktu terakhir, baik dari sisi penguatan akademik, riset, maupun reputasi institusi. Prof. Jaka menegaskan bahwa capaian tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan turut ditopang oleh kontribusi alumni yang menjaga nama baik UII dan mengambil peran strategis di berbagai sektor. 

“Berbagai kemajuan yang dicapai UII hari ini tidak lepas dari kontribusi para alumni. Alumni adalah bagian penting dari ekosistem kemajuan UII,” ujar Prof. Jaka.

Prof. Jaka juga menyampaikan apresiasi atas kehadiran para alumni dan mendorong agar partisipasi alumni tidak berhenti pada masa kelulusan, melainkan berlanjut melalui kerja sama yang lebih luas, mulai dari jejaring profesional, penguatan komunitas alumni di daerah, hingga kolaborasi konkret yang mendukung langkah maju UII. 

“Kami berharap keterlibatan alumni tidak berhenti saat wisuda. Justru setelah lulus, ruang kolaborasi itu semakin luas, dan UII ingin terus terhubung melalui komunitas alumni di daerah,” tambahnya.

Selanjutnya, Ketua DPW IKA UII NTB, H. Muhammad Ramadhani, ST., M.Si., menekankan pentingnya forum silaturahmi sebagai pengikat jejaring alumni sekaligus penguat kontribusi nyata alumni di NTB. Ia menyambut baik inisiatif UII untuk hadir lebih dekat dengan alumni di daerah. 

“Kegiatan ini adalah momentum untuk menguatkan jejaring, membangun komunikasi, dan menghadirkan kontribusi alumni yang lebih nyata bagi daerah,” kata Muhammad Ramadhani yang juga merupakan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Mataram.

Agenda dilanjutkan dengan paparan Direktur Pemasaran UII, Nadia Wasta Utami, S.I.Kom., M.A., yang menekankan informasi praktis terkait jalur-jalur admisi UII. “UII menyediakan beberapa jalur admisi yang bisa dipilih sesuai kebutuhan dan kesiapan calon mahasiswa,” ungkap Nadia.

Sebagai puncak kegiatan, sesi sarasehan berlangsung dinamis dan interaktif. Para alumni menyampaikan pertanyaan, masukan, dan aspirasi, mulai dari peluang kolaborasi, penguatan peran alumni UII di NTB, hingga isu-isu pengembangan institusi. (HF/AHR/RS)