,

Indonesia Masih Tertinggal dalam Hal Literasi

Akreditasi Unggul Prodi UII

Indonesia masih tertinggal dalam hal literasi bila dibandingkan dengan beberapa negara lain. “Indonesia itu, kalau kita bicara dari sudut literasi, di muka bumi ini adalah negara nomor dua paling terliterasi di dunia, dari belakang.” Begitu ucap Maman Suherman, penulis dan pegiat literasi kenamaan Indonesia kala menjadi pembicara Pesona Ta’aruf Universitas Islam Indonesia (Pesta UII) 2020, Kamis (10/9) secara daring.

Kang Maman, sapaan akrabnya, hadir di Pesta UII dalam rangka mengisi webinar bertajuk ‘Pentingnya Literasi bagi Mahasiswa’. Pria yang lama menjadi jurnalis ini begitu menekankan besarnya peran literasi di kehidupan. Dengan gamblang, ia memaparkan betapa eratnya kaitan tingkat literasi masyarakat dengan kemajuan negaranya.

Literasi sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai kemampuan menulis dan membaca, pengetahuan atau keterampilan dalam bidang atau aktivitas tertentu, serta kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup. Sedangkan, Kang Maman mendefinisikan literasi dengan mengutip pemikiran tokoh nasional Ki Hajar Dewantara.

“Literasi bukan sekadar baca tulis. Tapi literasi itu tiga, dalam Bahasa Jawa ngerti, ngrasa, nglakoni (mengerti, merasakan, dan melakukan). Kalau cuma ngerti, bisa baca, hari ini itu kalau saya buka data, Indonesia tahun 2019 yang buta huruf itu tinggal 1,78 persen,” paparnya.

Namun, meski angka buta huruf sudah tergolong rendah, tidak serta merta minat baca masyarakat Indonesia menjadi tinggi. “Indonesia itu, menurut data, rata-rata penduduknya cuma baca buku 1-3 buku per orang per tahun. Jadi anda bayangkan, satu orang baca buku rata-rata cuma satu sampai tiga. Minat baca orang Indonesia itu katanya cuma 0,001. Seribu orang berkumpul, yang suka baca cuma satu. Jadi kalau penduduk Indonesia jumlahnya 270 juta, yang suka baca cuma 270 ribu,” sebutnya

Berbeda jauh dengan Finlandia, negara literasi paling tinggi, tiap orang di sana rata-rata menghabiskan 40-50 buku tiap tahun. Bahkan, mirisnya, jumlah orang suka baca pun kalah dengan jumlah pengguna narkoba. Ia menyebut, jumlah pengguna narkoba di Indonesia mencapai 5,5 juta orang.

Kang Maman lalu membagikan tips kepada ribuan mahasiswa baru agar budaya literasi dapat terus jalan dan berkembang. “Satu, katakan pada dirimu tiada hari tanpa membaca, apa saja. Tulis ulang tentang apa yang kamu baca. Yang kedua, ajak sekitar kamu untuk juga menjadi terliterasi, bersama-sama,” ungkapnya.

Rangsangan visual menurutnya juga dapat membantu seseorang lebih suka membaca. “Biasakan kamu juga memandang buku. Di ruang tamu taruh buku, dimana-mana, sudut-sudut taruh buku, sehingga tiap hari buku menyapamu dan lama-lama kamu akan terpanggil. Itu cara jatuh cinta kepada buku. Kalau ngga pernah liat, bagaimana jatuh cinta?” tuturnya.

Ia lalu mengumpamakan rumah yang amat rapih tanpa buku-buku bergeletakan sebagai kuburan, dan kondisi sebaliknya sebagai rumah yang hidup. “Rumah yang terlalu rapih, tanpa buku, itu seperti kuburan. Tapi coba rumah yang dipenuhi orang yang mengaji, dimana-mana ada buku, dimana-mana ada kegiatan ibadah, dimana-mana terhampar sajadah, itu rumah yang hidup. Di sana cahaya dinyalakan,” tutupnya.
Pesta UII merupakan orientasi bagi mahasiswa baru UII jenjang Diploma dan Sarjana. Kehadiran pandemi menjadikan Pesta kali ini berbeda karena diadakan secara daring penuh. Media digital Youtube dan Zoom Meetings dimanfaatkan untuk menjangkau peserta, mahasiswa baru, yang tetap di kampung halaman masing-masing. (HR/RS)