Sebagian orang menikmati hidup yang berjalan linier. Sebagian lain menyukai hentakan tak terduga. Yang pertama mengasumsikan perubahan perlahan, yang kedua memaksa kita untuk menyiapkan diri menghadapi kejutan. Tidak selalu mengenakkan, tetapi juga tidak selamanya menyakitkan. Tidak jarang kejutan ini memicu titik balik.

Titik balik dalam hidup tidak selalu dirangsang oleh peristiwa besar. Tidak jarang peristiwa kecil mempunyai efek yang dahsyat. Unsur kejutan di saat yang pas menjadi penentu. Unsur anti kelaziman dan anti serba intuitif sangat penting. Mirip dengan konsep angsa hitam yang dibahas oleb Nassim Nicholas Taleb dalam bukunya yang berjudul The Black Swan. Kejutan ini muncul persis ketika sebagian kita mencari angsa putih dan justru menemukan angsa hitam. Berkah atau musibah?

Atau, tentang melihat dari perspektif lain yang dibahas oleh Malcolm Gladwell dalam bukunya What the Dog Saw. Kita tanpa sadar terlalu sering menjebakkan diri dalam bingkai kelaziman yang kita buat sendiri. Untuk membongkar bingkai ini, diperlukan kejutan. Sesuatu yang membangunkan kita dari tidur panjang, sesuatu pemahaman yang dianggap mapan tanpa bisa diganggu gugat. Mudahkah? Tidak selalu. Kejutan adalah misterinya.

Hal yang sama ketika dipaparkan kepada orang yang berbeda bisa jadi menghadirkan unsur magnitudo kejutan yang tidak serupa. Banyak faktor saling berkelindan. Ekspektasi dan pengalaman lampau kita mungkin mempengaruhi. Gaya hadir atau waktu hadirnya pesan yang berpotensi mempunyai daya kejut, bisa juga mempunyai andil.

Berikut beberapa ilustrasi ringan yang melintasi lini masa hidup saya.

Beberapa tahun lalu saya termasuk sering menghindar jika diminta untuk memberikan ceramah, terutama tentang agama. Apa pasal? Banyak sekali pertimbangan. Salah satunya, adalah kekhawatiran akut belum bisa menjalankan apa yang diceramahkan. Orang Jawa dengan berseloroh sering menyebutnya: jarkoni, “iso ngajar, ora iso ngelakoni”, “bisa mengajarkan, tetapi tidak bisa menjalankan”.

Kejutan hadir tanpa diduga ketika saya berdiskusi ringan dengan kolega di kantor. Mas Kholid Haryono, mengatakan ke saya, “Pak Fathul, ilmu yang tidak ditularkan belum dianggap ilmu yang bermanfaat”. Teng. Pesan sederhana yang mungkin sudah dilupakan oleh pengucapnya ini memberikan daya kejut ribuan volt. Akhirnya, perlahan, ketika saya diminta memberikan ceramah, pesan berdaya kejut itu selalu teringat. Memang tidak semua permintaan saya terima. Alasan penolakan selama ini cenderung teknis: soal waktu.

Apakah saya selalu nyaman ketika berceramah? Tidak selalu. Saya nampaknya memerlukan kejutan lain. Kejutan itu datang di waktu lain. Terjadi selepas Salat Zuhur di Masjid Ulil Albab.

Setiap Senin sebulan sekali, insyaallah Gus Baha’ (K.H. Ahmad Bahaudiddin Nursalim), yang sangat mumpuni dalam ilmu tafsir dan fikih itu, mengisi ceramah di masjid kampus Universitas Islam Indonesia. Jika waktu memungkinkan, sehabis salat, saya akan menunggu Gus Baha’ di ruang takmir untuk transit sebelum ceramah dimulai. Siang itu Allah memberikan kesempatan kepada saya.

Dalam pertemuan yang singkat tersebut, saya minta nasehat kepada Gus Baha’. “Gus, saya ini ilmunya belum dalam, tetapi kadang diminta ceramah agama. Menurut Gus Baha’, sikap saya sebaiknya seperti apa?” Ini permintaan nasehat yang tulus. Jawaban anti kelaziman dari Gus Baha’ memberikan kejutan, “Itu supaya Pak Rektor terus belajar!”. Teng. Singkat, padat, mengena. Berdaya kejut.

Terima kasih Gus untuk nasehatnya! Insyaallah saya terus belajar, ikhtiar memantaskan diri untuk berceramah, meningkatkan kebermanfaatan ilmu.

Renungan ringan ini ditulis dalam penerbangan Makassar-Yogyakarta, 20 Februari 2020.