Evaluasi dampak riset perlu dilakukan secara komprehensif, baik di bidang akademik maupun non-akademik. Dalam konteks tersebut, instrumen yang digunakan perguruan tinggi untuk mengevaluasi dampak riset harus mampu menangkap gambaran luas sejauh mana aktivitas riset perguruan tinggi mampu berkontribusi terhadap berbagai pemangku kepentingan.

Demikian disampaikan Associate Professor Dr. Tan Peck Leong pada paparan dalam sesi final Management Meeting and Workshop on the Development of the System of the Assessment of Research Impact, SGH Warsaw School of Economics, Warsawa, Polandia, Jumat (8/3). Hadir dalam pertemuan ini, Rektor Universitas Islam Indonesia (UII), Fathul Wahid, S.T., M.Sc., PhD. dan Direktur Kemitraan UII, Hangga Fathana, MA.

Pertemuan ini adalah bagian dari partisipasi UII sebagai anggota konsorsium Repesea Erasmus+ yang bertujuan meningkatkan reputasi dan kualitas riset universitas di kawasan Asia Tenggara. Konsorsium ini terdiri atas 11 universitas dari 7 negara, mencakup Indonesia, Malaysia, Thailand, Prancis, Slovakia, Polandia, dan Inggris.

Salah satu luaran dari konsorsium Repesea Erasmus+ mencakup instrumen evaluasi dampak riset bernama System for Assessing Impact and Quality of Research (SAIQoR). Instrumen ini disusun sejak tahun 2018 dan terus disempurnakan agar mampu menggambarkan dampak riset secara menyeluruh.

Ditambahkan Tan, SAIQoR terdiri atas lima kriteria utama: research environment, underlying research, publication, impact, dan research capacity building. “Pada kriteria research environment, perguruan tinggi perlu menjelaskan secara kualitatif mengenai relevansi visi dan misi terhadap aktivitas riset serta penyediaan infrastruktur untuk mendukung pengembangan riset”, ungkap Tan.

Narasi dalam research environment menjadi basis perguruan tinggi dalam pengisian kuantitatif empat kriteria utama lainnya. Secara lebih rinci, kriteria impact terbagi atas empat kriteria elektif: pemerintah, bisnis, lingkungan, cagar budaya, dan masyarakat luas. “Perguruan tinggi dapat memilih sebagian maupun seluruh kriteria elektif ini sesuai dengan arah pengembangan riset yang sedang diterapkan,” tambah Tan.

Disampaikan Fathul, selain SAIQoR, ragam luaran konsorsium Repesea Erasmus+ juga meliputi monograf, policy paper, dan modul pelatihan. “Modul tersebut digunakan sebagai materi pelatihan untuk peningkatan kapasitas riset ya ng diselenggarakan beberapa waktu pada bulan Maret hingga Juni 2019,” ungkap Fathul.

Pada tahun 2019, konsorsium Repesea Erasmus+ telah memasuki tahun final dan akan diakhiri dengan konferensi yang akan diselenggarakan bulan September bertempat di Universitas Islam Indonesia dan Universitas Gadjah Mada. (HF/FW)