Semakin kuatnya penetrasi digital di tengah masyarakat telah melahirkan berbagai kemudahan. Salah satunya yakni dengan kemudahan mengakses layanan perbankan dan keuangan lewat aplikasi mobile. Berbagai transaksi keuangan yang sebelumnya harus dilakukan di bank atau lembaga keuangan kini bisa diakses lewat perangkat gawai. Era fintech atau teknologi finansial ini hendaknya juga dimanfaatkan oleh lembaga keuangan syariah. Dengan memaksimalkan hal itu, lembaga keuangan syariah dapat menjangkau lebih luas pasar potensial di masyarakat.

Demikian seperti tergambar dalam acara “Konferensi Pengenalan Ekonomi dan Keuangan Syariah” yang diadakan oleh IndonesiaX bekerjasama dengan UGM dan UII. Bertempat di Ruang A, Grha Sabha Pramana UGM, konferensi diikuti oleh berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, dosen, karyawan, hingga ASN. Acara yang dimoderatori oleh Lucy Pandjaitan Mangoendipoero (Founder & CEO IndonesiaX) ini menghadirkan beberapa pembicara, antara lain Rahmatina A. Kasri, MIDEC, MBA, Ph.D (UI), Drs. Achmad Tohirin, MA, Ph.D (UII), dan Dr. Fuad Mas’ud, MIR (UNDIP).

Rektor UII, Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D dalam keynote speechnya mengapresiasi platform IndonesiaX yang berinisiatif mengenalkan ekonomi dan keuangan syariah melalui skema kuliah online (massive open online course). “Terlebih IndonesiaX juga menggandeng UII, kami juga ingin ambil bagian dalam menebar manfaat”, tuturnya. Hadirnya MOOC hendaknya menjadi refleksi bagi perguruan tinggi untuk semakin berbenah dan lebih mendekatkan diri kepada masyarakat lewat teknologi.

Platform tersebut menurutnya sangat ideal menjembatani disparitas pendidikan yang terjadi di Indonesia. Sehingga masyarakat umum pun yang tidak dapat mengakses bangku kuliah pun tetap dapat memperoleh konten ilmu berkualitas.

Senada Rektor UGM Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng juga mengungkapkan kemajuan bangsa erat kaitannya dengan pendidikan. Ia mengutip Nelson Mandela yang mengatakan bahwa pendidikan merupakan senjata paling utama untuk merubah dunia. Hancurnya pendidikan berarti juga hancurnya peradaban. “IndonesiaX berusaha memperluas platform pendidikan dan menjawab rendahnya angka partisipasi kasar pendidikan kita yang masih berada di angka 32%”, imbuhnya.

Terkait dengan ekonomi syariah, ia berpendapat rendahnya market share bank syariah yang masih di kisaran 5% menandakan bahwa masyarakat perlu mendapat edukasi dari manfaat diterapkannya ekonomi syariah. “Bank syariah juga harus menyesuaiakan diri dengan teknologi seperti penggunaan fintech. Jangan sampai tertinggal dengan lembaga perbankan konvensional lainnya”, katanya.

Sementara itu, pembicara Drs. Achmad Tohirin, MA, Ph.D menyampaikan potensi besar dari wakaf tunai yang belum banyak dilirik. Menurutnya diperlukan regulasi yang jelas dan sentralisasi zakat agar potensinya dapat dimanfaatkan secara optimal.

Ia juga memaparkan dilema yang dihadapi bank syariah yang kerap dituding belum menerapkan prinsip ekonomi syariah secara kaffah. “Masyarakat berilah waktu kepada mereka untuk terus berbenah, karena ini butuh proses panjang, di samping bank syariah juga harus bertahan di tengah biaya operasional yang tidak sedikit”, ujarnya.