,

Mahasiswa FTI Torehkan Prestasi di Tingkat Nasional

Mahasiswa UII kembali menorehkan prestasi di kancah nasional. Dalam kompetisi INPACT (Industrial Paper and Action) yang diadakan oleh Fakultas Teknik USU (Universitas Sumatera Utara) dan HIMTI USU pada 17-20 Maret itu, tiga mahasiswa Fakultas Teknologi Industri (FTI) prodi Teknik Industri yang terdiri dari Muhammad Naufal Alfareza, Zakka Ugih Rizqi, dan Juniardo Akmal Hadi berhasil menyabet juara III.

Sebelumnya, mereka mengikuti seleksi awal dengan membuat paper terlebih dahulu. Tim ini berhasil lolos 10 besar di mana juga ada 2 tim lainnya yang berasal dari UII. Dikatakan oleh Naufal, mereka melakukan studi kasus untuk menyelesaikan masalah yang ada. “Jadi kita di Sumatera Utara mengunjungi perusahaan kelapa sawit dan diberikan studi kasus untuk menyelesaikan masalah di sana”.

“Tahap selanjutnya yaitu ada sesi presentasi dan debat. Materi presentasinya yaitu paper awal yang kita buat dan disampaikan dengan menggunakan bahasa Inggris dan materi debatnya merupakan hasil dari penyelesaian studi kasus pada perusahaan kelapa sawit yang kita kunjungi.”

Diketahui paper tersebut memiliki manfaat yang besar untuk pihak perusahaan karena dapat memberi solusi dari kekosongan stock yang ada di perushaan. “Tujuan paper ini itu untuk memiih supplier agar perusahaan jangan sampai mengalami stockout. Untuk metode yang digunakan yaitu AHP (Analytical Hierarchy Process) dan Monte Carlo Simulation”, imbuhnya.

Metode AHP digunakan untuk menentukan prioritas kriteria yang dipakai untuk memilih supplier. Selanjutnya kriteria tersebut digunakan sebagai variabel di Monte Simulation. “Monte ini mensimulasikan kinerja supplier dengan demand dan lead time yang ada di mana dapat dipilah mana supplier yang paling baik agar perusahaan tidak mengalami stockout.”, ujarnya lagi.

Mahasiswa asli Yogyakarta ini juga memberikan tips dan triknya dalam mengikuti perlombaan semacam ini. “Ketika presentasi ya kita menyiapkan pemahaman materi dan penguasaan bahasa yang baik karena presentasinya menggunakan bahasa Inggris. Untuk debat dan studi kasus akan lebih baik jika kita mengetahui sisi lemah kita sehingga apabila ada tim lain yang menanyakan bisa dijawab tanpa ragu dan diperkuat dengan sumbernya.” jawabnya.

Ia berharap di tahun berikutnya dapat mengikuti kompetisi serupa dan mendapatkan hasil yang lebih baik dari kompetisi di tahun ini. (DRD/ESP)