Pada 1664, Pulau Manhattan, di mana Kota New York (yang dulunya bernama New Amsterdam) berada di sisi paling selatannya, diambil alih Inggris. Penguasa sebelumnya adalah Belanda. Belanda bersepakat memberikannya kepada Inggris sebagai imbal balik atas sebuah pulau kecil lain. Pulau yang merupakan penghasil rempah-rempah ini diberikan kepada Inggris kepada Belanda.

Pulai kecil ini bernama Run, yang terletak di sebelah selatan Pulau Seram dan sebelah barat Pulau Banda. Meski hanya seluas 3 km persegi, pulai ini dipertukarkan dengan Pulau Manhanttan yang luasnya hampir 20 kali lipat. Saat ini, Pulau Run masuk dalam wilayah Provinsi Maluku.

Pulau yang diklaim oleh Belanda melalui Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), ingin direbut kembali oleh Inggris yang  saat itu dipimpin oleh Nathaniel Courthope. Kesepakatan “tukar guling” tersebut terjadi setelah melalui pertempuran, pengepungan, dan perundingan.

Apa hubungan cerita di atas dengan tema seminar kali ini, tentang obat herbal Indonesia yang didiskusikan ketika pandemi?

Pala, salah satu herba, pada saat itu dipercaya sebagai obat ampuh, ketika pandemi menyerang London pada paruh kedua abad ke-17. Sekitar 20% warga London meninggal dunia. Nah, ketika itu, 10 pon (sekitar 4,54 kg) pala yang di Pulau Run seharga 1 penny, berganti harga menjadi 50 shilling di London, alias naik 600 kali.

Apoteker meraih untung yang luar biasa pada saat itu. Seorang apoteker menyatakan, bahwa pala tersebut mahal, tetapi menjadi obat yang murah ketika kematian mendekat.

Pala, saat itu, hanya ditemukan di Pulau Run dan sekitarnya. Ketika Inggris kembali menguasai Pulau Banda Neira pada 1810, pohon pala dibawa Inggris ke daerah koloninya, seperti Sri Lanka dan Singapura. Itulah awal keruntuhan dominasi Belanda dalam perdagangan rempah-rempah.

Cerita tersebut terekam dalam sebuah buku yang ditulis oleh Milton (1999) yang berjudul Nathaniel’s Nutmeg, Or, The True and Incredible Adventures of the Spice Trader who Changed the Course of History. Perjalanan Nathaniel Courthope, seorang petualang Inggris dan arti penting tanaman herba pala kala itu, dan konflik dagang yang menyertainya, terekam dengan apik dalam buku ini.

Pada 2017, sebuah film dokumenter berjudul Banda: The Dark Forgotten Trail dibuat oleh sutradara JaySubiyakto, untuk menceritakan sisi gelap perdagangan pala kala itu.

Ada beberapa moral cerita yang dipantik oleh cerita singkat di atas.

Pertama, herba sejak dahulu dipercaya menjadi salah satu bahan obat. Literatur merekam bahwa perabadan awal manusia menggunakan tumbuh-tumbuhan sebagai obat (e.g.  Vickers & Zollman, 1999; Tulchinsky & Varavikova, 2014). Saat ini, perhatian saintis terhadap obat-obatan herbal juga sangat tinggi (e.g. Kamboj, 2000; Li & Weng, 2017).

Pencarian saya dengan kata kunci “herbal medicine” di Google Scholar memperkuat klaim ini. Sejak 2000, misalnya, terdapat 297.000 artikel yang membahas obat herbal. Cacah artikel tentang obat herbal yang terpublikasi pada awal 2021 ini saja, sudah mencapai 1.860. Pada 2020, sebanyak 18.900 artikel ditulis dan pada 2019 terdapat 22.200 artikel. Bandingkan dengan misalnya pada 2000 (21 tahun lalu) yang hanya merekam 3.370 artikel.

Kedua, pandemi mendorong kita untuk mencari beragam cara mengatasinya, dari beragam sisi, termasuk manajemen mobilitas fisik, pengembangan vaksin, sampai dengan penemuan obat. Tentu, sesuai dengan tema seminar kali ini, penemuan obat memerlukan riset yang mendalam dan pengujian yang hati-hati.

Beragam aspek menjadi perhatian, termasuk bahan herba sampai sisi kehalalan. Pandemi “hanya” menjadi pemantik, tetapi masalah kesehatan manusia dan pengobatan menjadi kajian sepanjang peradaban manusia masih ada (Tulchinsky & Varavikova, 2014).

Ketiga, fokus pada tanaman herba khas Indonesia akan meningkatkan kebermanfaatannya. Tradisi lampau yang sudah berkembang di kalangan masyarakat di Indonesia dapat divalidasi dan dikuatkan dengan riset yang mendalam (cf. Li & Weng, 2017). Potensi obat herbal khas Indonesia ini perlu terus digali.

Pengembangan obat dari herba Indonesia akan membuka beragam kemungkinan lain. Di sisi hilir akan terjadipenguatan sektor industri obat herbal yang lebih ramah dengan tubuh manusia. Di sisi hulu, budi daya tanaman herba sebagai bahan baku dapat menggerakkan banyak orang. Kisah pembuka sambutan ini memberi ilustrasi, bahwa herba mempunyai banyak potensi yang dapat dikembangkan.

 

Referensi

Kamboj, V. P. (2000). Herbal medicine. Current Science78(1), 35-39.

Li, F. S., & Weng, J. K. (2017). Demystifying traditional herbal medicine with modern approach. Nature Plants3(8), 1-7

Milton, G. (1999). Nathaniel’s Nutmeg, Or, The True and Incredible Adventures of the Spice Trader who Changed the Course of History. New York: Penguin Books.

Tulchinsky, T. H., & Varavikova, E. A. (2014). The New Public Health. Cambridge, MA: Academic Press.

Vickers, A., & Zollman, C. (1999). Herbal medicine. BMJ319(7216), 1050-1053.

 

Sari sambutan pada pembukaan Seminar Nasional Obat Herbal Indonesia ke-2, yang diselenggarakan oleh Departemen Mikrobiologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Indonesia 19-21 Februari 2021.